• Tidak ada hasil yang ditemukan

C) pada bulan Januari, Maret, Agustus dan Oktober 2010 di perairan Kabupaten Kepulauan Aru.

4.3.3 Ekosistem Pulau 1) Letak dan dimensi pulau

Kawasan konservasi Aru Tenggara dengan luas 114.000 ha tercakup di dalamnya 7 pulau kecil yakni Pulau Enu, P. Karang , P. Kultubai Selatan, P. Jeh, P. Mar, P. Jeudin dan P. Marjinjin (Gambar 27). Tiga pulau diantaranya merupakan pulau kecil terluar (perbatasan) dari 8 pulau perbatasan yang ada di Kabupaten Kepulauan Aru, termasuk dalam wilayah administratif Kecamatan Aru Tengah Selatan dan Kecamatan Aru Selatan Timur. Sesuai dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia nomor 78 tahun 2005 tentang Pulau-pulau Perbatasan, maka Pulau Enu, P. Karang dan P. Kultubai Selatan merupakan bagian dari 92 pulau-pulau yang termasuk ke dalam kategori pulau-pulau perbatasan antara Indonesia dengan Australia, dengan demikian nilai kepentingan negara atas keberadaan teritorial negara di pulau-pulau ini harus dijaga dan dilindungi dari kerusakannya karena akan berakibat terhadap berkurangnya batas kedaulatan negara jika pulau-pulau ini mengalami degradasi.

Berdasarkan ukuran pulau maka berdasarkan defenisi pulau pulau kecil dalam Pedoman Umum Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil (Kepmen No. 41 tahun 2000) mendefinisikan pulau kecil sebagai kumpulan pulau-pulau yang secara fungsional saling berinteraksi dari sisi ekologis, ekonomi, sosial, dan budaya, baik

secara individual maupun secara sinergis dapat meningkatkan skala ekonomi dari pengelolaan sumber dayanya.

Sesuai pedoman itu, batasan dan karakteristik pulau-pulau kecil di kawasan konservasi Aru Tenggara dapat dijelaskan sebagai berikut:

(1) Pulau yang secara operasional ukuran luasnya kurang atau sama dengan 2.000 km2. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pulau-pulau di kawasan ini adalah pulau-pulau dengan ukuran sangat kecil karena luasan pulau terbesar di kawasan ini adalah Pulau Jeudin yakni sebesar 16,18 km2 atau 0,81% dari besaran luas dari defenisi pulau kecil.

(2) Secara ekologis pulau-pulau di kawasan konservasi Aru Tenggara terpisah dari pulau induknya (mainland island), memiliki batas fisik yang jelas, dan terpencil dari habitat pulau induk sehingga bersifat insular.

(3) Mempunyai sejumlah besar jenis endemik dan keanekaragaman yang tipikal dan bernilai tinggi yakni penyu, dugong, buaya, kus-kus berkantong, kima dan berbagai jenis hewan endemik lainnya.

(4) Daerah tangkapan air (catchment area) relatif kecil sehingga sebagian besar aliran air permukaan dan sedimen masuk ke laut.

(5) Karena pulau-pulau di kawasan ini tidak berpenghuni, sedangkan masyarakat yang mengakses sumber daya ini berada pada pulau induk, sehingga memiliki karakter yang relatif sama dengan masyarakat sekitarnya. Hal ini sejalan dengan pandangan menurut (Bengen, 2002), yang secara umum pulau kecil memiliki karakteristik biogeofisik yang menonjol yakni:

(1) Terpisah dari habitat pulau induk (mailand island), sehingga bersifat insular. (2) Memiliki sumber daya air tawar yang terbatas baik air permukaan maupun air tanah, dengan daerah tangkapan airnya relatif kecil sehingga sebagian besar aliran air permukaan dan sedimen masuk ke laut.

(3) Peka dan rentan terhadap pengaruh eksternal baik alami maupun akibat kegiatan manusia, misalnya badai dan gelombang besar, serta pencemaran.

(4) Memiliki jumlah jenis endemik yang bernilai ekologis tinggi. Area perairannya lebih luas dari area daratannya dan relatif terisolasi dari daratan utamanya (benua atau pulau besar).

(5) Tidak mempunyai hinterland yang jauh dari pantai.

Persebaran dari pulau-pulau ini sangat berdekatan satu dengan yang lainnya, kecuali Pulau Enu dan Karang yang relatif jauh dari permukiman penduduk. Letak geografis, luas pulau dan panjang garis pantai secara rinci dapat diperlihatkan pada Tabel 8. Secara keseluruhan luas ke-7 pulau di kawasan ini adalah sebesar 48,94 km2 dengan panjang garis pantai sejauh 138,37 km2, yang mana pulau dengan luasan terbesar adalah Pulau Jeudin dengan luas 16,18 km2 dengan panjang garis pantai ada sejauh 42,28 km2, sedangkan luasan pulau terkecil dijumpai pada Pulau Kultubai Selatan sebesar 0,82 km2 dengan panjang garis pantai sejauh 6,67 km2.

Tabel 8 Letak geografis, luas pulau dan panjang pantai dari 7 pulau di kawasan konservasi Aru Tenggara

Pulau Posisi Luas Pulau

(Km2) Panjang Garis Pantai (Km2) Lintang Bujur P. Enu 07º 06 ’14“ LS 134º 11’ 38“ BT 14,38 26,39 P. Karang 07o 01’ 08” LS 134o 41’ 26” BT 3,30 7,78 P. K.Selatan 06o 49’ 54” LS 134o 47’ 14” BT 0,82 6,61 P. Jeh 06o 51’ 16” LS 134o 45’ 18” BT 6,77 18,67 P. Mar 06o 55’ 19” LS 134o 33’ 50” BT 1,79 10,97 P. Jeudin 06o 49’ 56” LS 134o 47’ 16” BT 16,18 42,28 P.Marjinjin 06o 49’ 55” LS 134o 47’ 15” BT 5,69 25,68 Total 48,94 138,37

Berdasarkan sejarah kepemilikan pulau maka Pulau Enu (Gambar 28) dan Pulau Karang (Gambar 29) dianggap sebagai pulau sejarah bagi seluruh masyarakat asli Kepulauan Aru, sedangkan ke-5 pulau lainnya merupakan pulau- pulau yang status kepemilikannya tidak jelas. Ketidak jelasan kepemilikan pulau ini menyebabkan sering terjadi perselisihan dan atau perkelahian antar desa-desa sekitar terutama untuk desa Karei dan Longgar Apara, dan desa Bemun serta desa Longgar dan Apara.

Sebagi konsekwensi dari keberadaan pulau-pulau ini yang tidak berpenghuni serta status kepemilikian yang tidak jelas, menyebabkan akses pemanfaatan sumber daya pada pulau-pulau dimaksud sulit untuk dihindari,

bahkan justru menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat kawasan karena sering terjadi perkelahian, juga terhadap sumber daya dan lingkungan sebagai akibat dari pemanfaatan sumber daya yang merusak.

Aktivitas masyarakat yang berlangsung di ekosistem pulau ini bermacam- macam mulai dari aktivitas pertanian khusus untuk Pulau Jeh, pemanfaatan lahan hutan baik untuk pembangunan rumah maupun kayu api serta penangkapan fauna darat seperti kus-kus dan burung pada Pulau Kultubai Selatan, Pulau Jeudin dan Pulau Marjinjin), kegiatan pengambilan pasir pantai dan batu karang untuk pembangunan pada Pulau Jeh, Mar, Jeudin, Marjinjin dan Kultubai Selatan. Aktivitas lainnya adalah penangkapan dan pengambilan telur penyu pada saat musim bertelur terutama pada Pulau Enu dan Karang (Tabel 9)

Terdapat 6 jenis aktivitas pemanfaatan pada pulau-pulau kecil di kawasan konservasi Aru Tenggara, 3 aktivitas diantaranya selalu dilaksanakan pada seluruh pulau diantaranya aktivitas penangkapan penyu, pengambilan telur penyu dan penangkapan fauna darat, sedangkan aktivitas perkebunan/pertanian hanya berlangsung di Pulau Jeh, karena pada pulau ini memiliki kesuburan tanah yang cocok untuk kegiatan pertanian. Pada pulau ini juga ditemukan sumber air bersih yang selalui dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar kawasan.

Tabel 9 Aktivitas pemanfaatan pada ekosistem pulau di kawasan konservasi Aru Tenggara.

1 2 3 4 5 6 7

1 Pertanian/Perkebunan  1 14,29

2 Penebangan Kayu        5 71,43

3 Pengambilan Pasir      5 71,43

4 Penangkapan penyu        7 100,00

5 Pengambilan telur penyu        7 100,00

6 Penangkapan fauna darat        7 100,00

Total 4 4 4 6 5 4 5 6 Persentase (%) 66,67 66,67 66,67 100,00 83,33 66,67 83,33 7 76,19 Pulau Aktivitas Pemanfaatan No Total % Keterangan :

1 = P. Enu 3 = P. K. Selatan 5 = P. Mar 7 = P. Marjinjin 2 = P. Karang 4 = P. Jeh 6 = P. Jeudin

Pulau Jeh merupakan satu-satunya pulau dengan aktivitas pemanfaatan tertinggi yakni sebanyak 6 aktivitas (100%), sedangkan aktivitas tersedikit ditemukan pada Pulau Enu dan Pulau karang dengan jumlah aktivitas sebanyak 4

aktivitas (66,67%). Pulau-pulau kecil lainnya di kawasan konservasi Aru Tenggara memiliki beberapa sub-sistem seperti sub sistem ekonomi, masyarakat, demografi, budaya, dan sub-sistem ekologi (Lin, 2005). Sub-sistem tersebut saling berinteraktif, yang mendefinisikan perilaku dan keberlanjutan sebuah pulau dalam menghadapi pengaruh eksternal dan penyesuaian internal. Sebuah keseimbangan yang berkelanjutan dapat dicapai jika setiap sub-sistem dapat diterima, serta dapat memberikan peningkatan pendapatan masyarakat, kesehatan sumber daya, keanekaragaman hayati, dan memelihara kehidupan ekologis (Bass dan Dalal- Clayton, 1995).

2) Lingkungan biofisik