Kurikulum Berbasis Kompetensi:
4. Belajar dari Kegagalan Link and Match
"Bersaing". Itulah konsep baru yang merambah dunia pen-didikan nasional sejak dua dekade terakhir. Konsep itu tidak pernah muncul sebelumnya, terlebih pada masa-masa awal kemerdekaan. Konsep pendidikan yang dimunculkan oleh Ki Hadjar Dewantara adalah pendidikan yang memerdekakan. Kalangan LSM sejak awal dekade 1970-an memperkenalkan pemi-kiran Paulo Freire, seorang tokoh pendidikan dari Brasil, mengenai pendidikan yang membebaskan. Kedua konsep itu muncul dari latar belakang sosial yang hampir sama, yaitu dari masyarakat yang tertindas. Hanya saja aktornya saja yang berbeda. Ki Hadjar Dewantara mengeluarkan konsep tersebut saat bangsa Indone-sia dijajah oleh Belanda, sedangkan Paulo Freire mengemukakan konsepnya itu ketika masyarakat Brasil dijajah oleh penguasa yang otoriter dan represif. Keduanya memiliki substansi yang sama, yaitu pendidikan seharusnya membuat orang menjadi lebih otonom, tidak tergantung pada orang lain. Orang lain hadir bukan sebagai ordinat atau subordinat, atau sebagai kompetitor, tapi sebagai individu yang saling memerlukan satu dan lainnya. Relasi yang mereka bangun adalah relasi antarpersonal.
Ki Hadjar Dewantara melukiskan, bahwa seorang pemuda yang karena berpendidikan rendah lalu dengan sadar memilih menjadi penjual es dawet, jauh lebih merdeka daripada seorang
sarjana yang ke mana-mana menenteng stopmap berisi surat lamaran kerja, hanya karena dia malu melakukan pekerjaan lain di luar kantor.
Tapi sejak konsep globalisasi dipopulerkan oleh John Naisbitt pada akhir dekade 1980-an melalui bukunya Megatrend
2000, konsep "persaingan" telah merambah dan menjadi idiom dalam institusi pendidikan nasional, tanpa pernah dikritisi. Iro-nisnya, kata itu malah masuk ke dalam dokumen-dokumen resmi pendidikan, misalnya UU Sistem Pendidikan Nasional. Betulkah anak-anak kita harus bersaing? Jika betul, bersaing dengan siapa, di mana, kapan, dan untuk apa? Bila jawabannya adalah bersaing dengan negara-negara lain, di Indonesia khususnya dan dunia pada umumnya, terutama setelah globalisasi untuk mempere-butkan lapangan pekerjaan, maka pertanyaan berikutnya, betul-kah bahwa sekadar untuk mendapatkan pekerjaan saja anak-anak Indonesia harus bersaing di negerinya sendiri dengan orang-orang dari luar negeri? Atau bersaing untuk mendapatkan sumber daya ekonomi lainnya? Bila semuanya itu betul, maka sungguh mengenaskan nasib generasi mendatang, sebagai akibat dari kebodohan generasi tuanya.
Paulo Freire selalu mengingatkan bahwa pendidikan kritis bukanlah sebuah metode, melainkan suatu ideologi. Karena bukan metode, maka salah besar bila orang ingin memperoleh metode pendidikan kritis. Kritis itu tercermin dari substansi yang disampaikan. Sebab, metode pendidikan kaum dewasa (andragogi) pun belum tentu melahirkan masyarakat yang kritis bila substansi yang disampaikannya adalah substansi yang men-dukung neoliberalisme.
Analog dengan pandangan Freire tersebut, penulis percaya bahwa KBK akan berhasil bila tidak diperlakukan sebagai metode, melainkan sebagai ideologi pendidikan. Sebagai ideologi, ia akan menjiwai atau menjadi roh dari seluruh sistem pendidikan nasi-onal, sehingga ia akan masuk ke seluruh pori-pori pendidikan nasional melalui setiap materi pelajaran yang diberikan di
seko-lah. Dengan kata lain, KBK sebetulnya hanya sebuah perspektif saja, bukan sebagai metode khusus.
Sebagai perspektif, maka implementasinya tidak secara khu-sus, tapi merasuk ke dalam seluruh materi pelajaran. Agar per-spektif itu dapat tercapai, semua isi buku pelajaran di sekolah hendaknya dapat menggambarkan kondisi lingkungan geografis, ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat tempat murid itu ber-ada. Konsekuensi dari pandangan semacam itu adalah bahwa desentralisasi pengadaan buku-buku pelajaran menjadi sangat penting, agar buku-buku pelajaran di sekolah tidak bias Jawa,
bias kota, bias kelas menengah, dan bias petani saja, melainkan sebaliknya dapat menggambarkan situasi geografis, ekonomi, sosial, dan budaya dari masing-masing daerah asal murid ter-sebut. Materi pelajaran yang dapat disusun oleh pusat cukup untuk Matematika, IPA, Tata Bahasa Indonesia maupun Inggris, Ilmu Bumi Indonesia dan Dunia, Kewarganegaraan, maupun Sejarah Nasional dan Sejarah Dunia. Tapi materi sejarah lokal, ilmu bumi lokal, kesenian, bacaan Bahasa Inggris maupun Indonesia, dan keterampilan lebih baik diusahakan oleh setiap daerah. Kebijakan ini, selain memperkenalkan basis kompetensi kepada setiap murid sejak dini, juga menciptakan pemerataan dalam penggunaan anggaran pendidikan ke semua daerah, tidak hanya menumpuk di Jawa saja, utamanya di Jabodetabek saja. Luar Jawa berhak memperoleh dukungan dana dari pemerintah untuk melahirkan penulis-penulis baru dan mengembangkan industri penerbitannya sendiri.
Menjadikan KBK sebagai metode adalah berbahaya, karena pada tingkat implementasinya dalam bentuk kurikulum baru cenderung mereduksi makna pendidikan. Ini seperti yang terjadi pada konsep pendidikan link and match, yang cenderung mere-duksi pendidikan sebagai tempat untuk melahirkan tukang-tu-kang bagi kepentingan industri saja.
Selain terjadi reduksi terhadap makna pendidikan, kega-galan link and match juga terletak pada ketergantungan sistem
itu terhadap sektor industri. Baik link maupun match-nya meng-acu pada perusahaan-perusahaan multinasional, bukan pada kesesuaian dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat setempat. Akibatnya, ketika sistem pendukung tersebut roboh, keberadaan pendidikan link and match itu pun turut runtuh, karena secara konseptual sistem ini memiliki ketergantungan terhadap sistem di luarnya, seperti sistem ekonomi makro, sehingga tidak bisa otonom.
Bila dicermati wacana yang berkembang di masyarakat, dapat dikatakan bahwa munculnya konsep KBK sebetulnya tidak jauh berbeda dengan munculnya konsep link and match. Yaitu, bagaimana mendorong agar sistem pendidikan nasional mampu menciptakan manusia-manusia yang memiliki kompetensi dasar tertentu, sehingga mereka dapat memasuki pasaran kerja glo-bal, terlebih mampu bersaing dengan tenaga-tenaga kerja dari luar. Maka, implementasi konsep KBK adalah mengembangkan bidang-bidang yang diperlukan untuk bersaing di pasaran tenaga kerja global sedini mungkin. Sekali lagi, itu tidak salah, tapi mungkin kurang tepat, sehingga perlu dicari agar secara metodis benar, tapi secara empiris juga tepat sasaran.
Jika kita menerima konsep KBK sebagai perspektif baru dalam pendidikan, maka kegamangan para guru soal penyusunan silabus, pengembangan metode dan materi, kesiapan para guru tersebut tidak terlalu merisaukan. Semua akan berjalan sesuai dengan proses. Yang diperlukan oleh DPN adalah orang-orang yang mampu menyusun materi pelajaran secara cerdas dan peka terhadap situasi sekitar.
Kecuali itu, yang tak kalah penting untuk diperhatikan bila KBK diperlakukan sebagai metode adalah di mana posisi KBK sebagai metode tersebut di dalam Undang-Undangan Sistem Pendidikan Nasional (SPN) yang baru? Hal itu mengingat begitu banyak mata pelajaran diamanatkan oleh UU SPN yang harus diberikan kepada murid. Masihkah tersedia ruang terbuka untuk pelaksanaan KBK secara khusus? Kurikulum KBK itu sendiri di
tingkat Departemen Pendidikan Nasional sebetulnya masih tetap menjadi perdebatan antara yang pro dan kontra. Menteri Pen-didikan Nasional (Agustus 2001-September 2004) Malik Fajar, misalnya, menolak menandatangani Kurikulum 2004 sebagai bukti k e t i d a k s e t u j u a n n y a . Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Indra Djati Sidhi dalam beberapa kesempatan selalu menyatakan, bahwa KBK paling cepat dapat dilaksanakan di seluruh Indonesia tiga tahun mendatang, tapi paling lambat enam tahun lagi. Pernyataan itu menandakan bahwa KBK memang belum clcar pada tataran konsep dan kebijakan. Karena belum
clcar, maka sebetulnya para guru atau pengelola sekolah tidak perlu resah kalau belum memahami KBK. Jangankan Anda para guru dan pengelola sekolah, pembuat kebijakan pun masih bi-ngung, sehingga tidak ada yang keliru bila sebagian guru masih tetap berjalan dengan berpedoman pada Kurikulum 1994. Anda tidak perlu merasa bersalah bila masih memakai Kurikulum 1994 karena belum memahami KBK. Kesalahan memang bukan pada para guru, tapi pada pembuat kebijakan yang tidak clcar alias bingung sendiri.