• Tidak ada hasil yang ditemukan

Metode Analisis

Dalam dokumen KATA PENGANTAR. Ismed Saputra (Halaman 102-0)

Bab VI ANALISIS TEMATIK

6.1.3 Metode Analisis

Metode yang digunakan untuk menganalisis menggunakan pendekatan kuantitatif. Pendekatan tersebut meliputi statistika deskriptif dan analisis regresi linear sederhana/ordinary least square (OLS). Statistika deskriptif untuk menjelaskan suatu fakta atau fenomena dengan cara mengumpulkan dan menyajikan data. Sedangkan analisis OLS untuk menemukan koefisien dan signifikansi pengaruh belanja fiskal terhadap IPM.

Analisis pada bab ini menggunakan data panel pada level kabupaten/kota sebagai unit observasi. Terdapat 23 kabupaten/kota di Provinsi Aceh selama kurun waktu 2017-2021 sebagai individu observasi. Variabel dependen meliputi IPM dengan data series selama 2017-2021. Variabel independen meliputi realisasi DAU dan DBH serta belanja berdasarkan fungsi (pendidikan, kesehatan, ekonomi) dengan data series pada periode 2015-2021. Perbedaan waktu tersebut disebabkan adanya jeda waktu (time lag) di mana suatu variabel independen tidak dapat langsung memengaruhi variabel dependen di satu waktu yang sama. Variabel-variabel yang digunakan mengacu pada penelitian sebelumnya tentang dampak mandatory spending pemerintah terhadap IPM oleh (Sidiq, 2015).

Fungsi persamaan umum dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

𝐼𝑃𝑀𝑖𝑑 = π‘Ž + 𝐡1π‘‘π‘β„Žπ‘–π‘‘βˆ’1+ 𝐡2π‘‘π‘Žπ‘’π‘–π‘‘βˆ’1+ 𝐡3π‘‘π‘Žπ‘˜π‘–π‘‘βˆ’1+ 𝐡4π‘‘π‘–π‘‘π‘–π‘‘βˆ’1+ 𝐡5π‘‘π‘‘π‘–π‘‘βˆ’1 + 𝐡6π‘π‘‘π‘Ÿπ‘π‘˜π‘Žπ‘π‘–π‘‘βˆ’1+ πœ€π‘–π‘‘

Keterangan:

𝐼𝑃𝑀𝑖𝑑 = Indeks Pembagunan Manusia

π‘‘π‘β„Ž = Realisasi DBH yang diterima kabupaten/kota π‘‘π‘Žπ‘’ = Realisasi DAU yang diterima kabupaten/kota π‘‘π‘Žπ‘˜ = Realisasi DAK yang diterima kabupaten/kota 𝑑𝑖𝑑 = Realisasi DID yang diterima kabupaten/kota 𝑑𝑑 = Realisasi dana desa yang diterima kabupaten/kota π‘π‘‘π‘Ÿπ‘π‘˜π‘Žπ‘ = PDRB per kapita kabupate/kota

81 6.2 Perkembangan IPM dan Belanja Pemerintah

6.2.1 Indeks Pembangunan Manusia

Perkembangan IPM di Aceh selalu mengalami peningkatan setiap tahunnya.

Pada tahun 2021 IPM Aceh sebesar 72,18 yang dapat dikategorikan sebagai IPM berkategori tinggi. Jika dilihat

tren dalam 5 tahun terakhir, IPM Aceh selalu melebihi targetnya kecuali tahun 2021. Hal ini dikarenakan target IPM Aceh pada tahun 2021 yang tertuang di RPJMA 2017-2022 masih merupakan target dalam keadaan sebelum pandemi COVID-19. IPM Aceh juga

tidak jauh bila dibandingkan dengan IPM Nasional, bahkan pada tahun 2020 IPM Aceh sebesar 71,99 lebih tinggi dibandingkan dengan IPM Nasional sebesar 71,94.

Apabila dilihat dari persebaran kabupaten/kota masih terdapat ketimpangan IPM antar daerah. Dari 23 kabupaten/kota, terdapat 12 daerah berkategori sedang, 11 daerah berkategori tinggi, dan 1 daerah berkategori sangat tinggi. Banda Aceh menduduki posisi pertama dalam perolehan IPM sebesar 85,71 (sangat tinggi).

Kedudukan Banda Aceh sebagai wilayah perkotaan dan ibukota provinsi menjadi faktor penting dalam pencapaian tersebut.

Tabel 6. 1 IPM Kabupaten/Kota di Provinsi Aceh Tahun 2010 dan 2021

Kabupaten/Kota 2010 2021

IPM Kategori IPM Kategori

Sumber: BPS Aceh dan Nasional dan RPJMA, diolah (2022)

Sumber: BPS Aceh dan Nasional dan RPJMA, diolah (2022) Grafik 6. 1 Target dan Realisasi IPM Aceh Tahun 2017-2021

Grafik 6. 2 Target dan Realisasi IPM Aceh Tahun 2017-2021

82

Gayo Lues 63,22 Sedang 67,56 Sedang

Aceh Utara 65,56 Sedang 69,46 Sedang

Nagan Raya 65,23 Sedang 69,31 Sedang

Aceh Jaya 66,92 Sedang 69,84 Sedang

Bener Meriah 69,74 Sedang 73,27 Tinggi

Pidie Jaya 69,26 Sedang 73,6 Tinggi

Banda Aceh 81,84 Sangat tinggi 85,71 Sangat tinggi

Sabang 71,07 Tinggi 76,11 Tinggi

Langsa 73,4 Tinggi 77,44 Tinggi

Lhokseumawe 74,13 Tinggi 77,57 Tinggi

Subulussalam 60,11 Sedang 65,27 Sedang

Sumber: BPS, diolah (2022)

Selama 12 tahun pemberlakuan perhitungan IPM metode baru, Kota Subulussalam menjadi daerah dengan pertumbuhan IPM tertinggi sebesar 8,58 persen.

Kemudian disusul Aceh Selatan tumbuh sebesar 8,30 persen dan Simeulue sebesar 7,67 persen.Terdapat 5 daerah yang dapat naik dari kategori sedang ke kategori tinggi.

Kelimanya yaitu Aceh Barat, Pidie, Bireun, Bener Meriah, dan Pidie Jaya. Pidie Jaya dan Aceh Barat memiliki rata-rata pertumbuhan IPM tertinggi sebesar 0,69 persen per tahunnya.

6.2.2 Belanja Pemerintah untuk Meningkatkan IPM

Terdapat tiga fungsi yang berperan penting dalam peningkatan IPM daerah yaitu pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Belanja fungsi pendidikan memengaruhi harapan lama sekolah (HLS) dan rata-rata lama sekolah (RLS). Belanja fungsi kesehatan menjadi faktor dalam umur harapan hidup (UHH). Belanja fungsi ekonomi dapat mendorong pengeluaran per kapita. Belanja pendidikan memiliki porsi terbesar dibandingkan dengan dua fungsi lainnya. Tahun 2021 realisasi belanja pendidikan sebesar Rp4.147 miliar, belanja kesehatan sebesar Rp241 miliar, dan belanja ekonomi Rp2.967 miliar.

Belanja pendidikan memiliki proporsi terbesar dari ketiga belanja tersebut. Dari tahun 2019-2021 proporsinya antara 18,10 persen hingga 18,85 persen dari total belanja negara di Aceh.

a. Belanja Pusat Menurut Fungsi Pendidikan, Kesehatan, Ekonomi

Total belanja pusat yang dialokasikan untuk fungsi pendidikan, kesehatan, dan ekonomi sebesar Rp7,35 triliun. Angka tersebut mengalami peningkatan sebesar 15,07 persen dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp6,39 triliun. Tahun 2021 realisasi belanja pendidikan sebesar Rp4.147 miliar, belanja kesehatan sebesar Rp241 miliar, dan belanja ekonomi Rp2.967 miliar. Belanja pendidikan memiliki proporsi terbesar dari ketiga belanja tersebut. Dari tahun 2019-2021 proporsinya antara 18,10 persen hingga 18,85 persen dari total belanja negara di Aceh.

Belanja APBN berdasarkan fungsi Pendidikan : Rp4.136 M Kesehatan : Rp252 M Ekonomi : Rp3.062 M

83

Grafik 6. 3 Realisasi Belanja Negara Berdasarkan Fungsi Tahun 2019-2021

Sumber: MEBE, diolah (2022)

Proporsi terbesar masih terdapat pada belanja pendidikan yang sebesar 56,35 persen. Diikuti oleh belanja ekonomi yang sebesar 40,34 persen. Belanja fungsi ekonomi diarahkan untuk mendukung berbagai kegiatan pemerintah dalam pembangunan ekonomi, terutama untuk menangani pengentasan kemiskinan yang tinggi di Aceh.

Jika dilihat pertumbuhannya, pertumbuhan tertinggi pada tahun 2021 terdapat pada fungsi ekonomi yang mencapai 32,24 persen dibanding tahun 2020. Diikuti oleh belanja kesehatan yang mengalami pertumbuhan sebesar 9,62 persen, dan belanja pendidikan yang hanya mengalami pertumbuhan sebesar 5,56 persen.

Pada tahun 2021 belanja pendidikan sebagian besar digunakan untuk pelaksanaan Program Dukungan Manajemen yang mencapai Rp2.914,12 miliar (70,28 persen dari total). Kemudian Program Pendidikan Tinggi sebesar Rp795,43 miliar dan Program PAUD dan Wajib Belajar 12 Tahun sebesar Rp220,55 miliar. Belanja kesehatan juga didominasi oleh Program Dukungan Manajemen sebesar 181 miliar (77,49 persen dari total). Kemudian diikuti Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan dan Keluarga Berencana sebesar Rp24,07 miliar dan Program Pengawasan Obat dan Makanan sebesar Rp16,97 miliar. Sementara itu, belanja ekonomi sebagian besar dibelanjakan untuk Program Infrastruktur Konektivitas sebesar Rp1.158,07 miliar kemudian diikuti Program Ketahanan Sumber Daya Air sebesar Rp934,75 miliar dan Program Dukungan Manajemen sebesar Rp502,71 miliar.

4.347 3.928 4.147

271 220 241

2.917

2.244

2.967

1.000 2.000 3.000 4.000 5.000 6.000 7.000 8.000

2019 2020 2021

Miliar Rp

Realisasi F. Pendidikan Realisasi F. Kesehatan Realisasi F. Ekonomi

84

b. Belanja Daerah Menurut Fungsi Pendidikan, Kesehatan, dan Ekonomi

Belanja daerah juga menerapkan belanja berdasarkan fungsi seperti belanja negara. Tahun 2021 realisasi belanja pendidikan sebesar Rp9.619 miliar, belanja kesehatan sebesar Rp7.152 miliar, dan belanja ekonomi sebesar Rp2.573 miliar.

Belanja pendidikan memiliki proporsi terbesar dari ketiga belanja tersebut.

Grafik 6. 4 Realisasi Belanja Daerah Berdasarkan Fungsi Tahun 2019-2021

Sumber: GFS, diolah (2022)

Belanja pendidikan memiliki proporsi terbesar dari ketiga belanja tersebut yang sebesar 50,65 persen. Diikuti belanja kesehatan sebesar 32,70 persen. Belanja fungsi kesehatan di Aceh turut memberikan dampak yang nyata terhadap perkembangan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD). Pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota turut serta mendorong untuk meningkatkan kelas kualitas rumah sakit daerah dengan pemberian bantuan berupa dukungan sarana dan prasarana.

Jika dilihat pertumbuhannya, pertumbuhan tertinggi pada tahun 2021 terdapat pada fungsi ekonomi yang mencapai 36,13 persen dibanding tahun 2020. Hal ini menjadi fokus pemerintah Aceh untuk dapat menguatkan perekonomian dengan mempertahankan daya beli masyarakat.

6.3 Analisis dan Pembahasan

6.1 Perbandingan Belanja Pemerintah dan IPM

Belanja pemerintah di bidang pendidikan merupakan pengeluaran pemerintah yang sangat mendasar dalam pembangunan manusia. Pendidikan memainkan peranan penting dalam mengembangkan kapasitas dalam rangka mewujudkan pertumbuhan dan pembangunan yang berkesinambungan (sustainable growth). Pendidikan menjadi modal dasar dalam pertumbuhan ekonomi maupun pembangunan bangsa. Alokasi

9.241 9.619 10.654

7.100 7.152 6.879

3.651 2.573 3.503

5.000 10.000 15.000 20.000 25.000

2019 2020 2021

Miliar Rp

Fungsi Pendidikan Fungsi Kesehatan Realisasi F. Ekonomi

85 belanja pada sektor pendidikan akan digunakan untuk membangun sarana dan prasarana pendidikan serta melakukan investasi dalam membentuk modal manusia (human capital).

Dalam konteks pembangunan, pendidikan dan kesehatan memiliki kaitan yang erat. Investasi pemerintah di bidang kesehatan dapat berupa alokasi anggaran untuk membiayai pengadaan dan pemeliharaan sarana fisik dan nonfisik untuk di bidang kesehatan. Pemerintah membangun sarana dan prasarana publik sehingga masyarakat mendapatkan kemudahan akses terhadap pelayanan di sektor kesehatan. Dengan kemudahan masyarakat mendapat akses terhadap layanan kesehatan, maka kebutuhan dasar masyarakat akan kesehatan dapat dipenuhi sehingga kualitas kehidupan masyarakat menjadi meningkat. Dengan mengoptimalkan pengeluaran pemerintah, dalam hal ini khususnya pengeluaran untuk kepentingan kesehatan, maka kualitas kesehatan yang lebih baik dapat dihasilkan sehingga produktivitas yang tinggi akan lebih mudah dicapai.

Mandatory spending adalah belanja atau pengeluaran negara yang sudah diatur oleh Undang-Undang. Tujuan mandatory spending ini adalah untuk mengurangi masalah ketimpangan sosial dan ekonomi daerah. Untuk APBN, alokasi mandatory spending adalah alokasi belanja pendidikan sebesar 20 persen dan belanja kesehatan sebesar 5 persen dari alokasi Belanja APBN.

Tabel 6. 2 Pagu dan Realisasi Mandatory Spending Fungsi Pendidikan (dalam miliar rupiah)

No Satker Output Pagu Realisasi %

1 Kementerian Agama 18 2.682,78 2.789,96 103,99%

2 Kementerian Kelautan Dan Perikanan 5 4,32 4,20 97,18%

3 Kementerian Kesehatan 15 38,86 33,00 84,92%

4 Kementerian Ketenagakerjaan 8 40,76 39,89 97,86%

5 Kementerian Pekerjaan Umum Dan Perumahan Rakyat 3 16,21 16,05 99,01%

6 Kementerian Pemuda Dan Olahraga 1 2,00 1,81 90,24%

7 Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, Dan Teknologi 19 1.311,50 1.222,73 93,23%

8 Kementerian Perhubungan 6 24,09 23,47 97,40%

9 Kementerian Perindustrian 5 15,19 15,06 99,15%

10 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia 1 0,45 0,36 78,41%

81 Capaian Output 4.136,16 4.146,51 100,25%

Sumber: MEBE, 2022 (diolah)

Mandatory spending sektor pendidikan di Aceh dialokasikan pada 10 K/L, dengan total pagu mencapai Rp4,14 triliun dan telah terealisasi sebesar Rp4,15 triliun atau 100,25 persen dari pagu. Dalam alokasi ini terdapat kegiatan satker yang masuk sebagai prioritas nasional Meningkatkan Sumber Daya Manusia Berkualitas dan Berdaya Saing.

Kegiatan ini salah satunya dialokasikan pada Kementerian Agama, berupa kegiatan Peningkatan Akses, Mutu, Relevansi, dan Daya Saing Pendidikan Tinggi

86

Keagamaan Islam serta Peningkatan Kompetensi dan Profesionalitas Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah. Alokasi kegiatan sebagai bagian dari prioritas nasional pada satuan kerja Kementerian Agama di Aceh ini mencapai Rp263,25 miliar dengan realisasi mencapai Rp249,72 miliar atau 94,86 persen dari alokasinya.

Tabel 6. 3 Pagu dan Realisasi Mandatory Spending Fungsi Kesehatan (dalam miliar rupiah)

No Satker Output Pagu Realisasi %

1 Badan Kependudukan Dan Keluarga Berencana Nasional (Bkkbn) 12 96,92 95,26 98,29%

2 Badan Pengawas Obat Dan Makanan 12 34,78 34,60 99,48%

3 Kementerian Kesehatan 31 119,81 111,15 92,76%

55 Capaian Output 251,52 241,01 95,82%

Sumber: MEBE, 2022 (diolah)

Mandatory Spending sektor Kesehatan di Aceh dialokasikan pada tiga K/L, dengan total pagu mencapai Rp251,52 miliar dan telah terealisasi sebesar Rp241,01 miliar atau 95,82 persen dari pagu. Sama halnya dengan sektor pendidikan, untuk alokasi sektor kesehatan di Aceh ini juga terdapat program Prioritas Nasional. Program Meningkatkan Sumber Daya Manusia Berkualitas dan Berdaya Saing sebesar Rp31,42 miliar dengan realisasi sebesar Rp21,87 miliar atau 88,68 persen.

Kegiatan-kegiatan yang masuk sebagai prioritas ini terdapat pada ketiga K/L di atas. Satker BKKBN dengan kegiatan Pengelolaan Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana dengan alokasi sebesar Rp95,26 miliar, Satker BPOM berupa kegiatan Pengawasan Obat dan Makanan di seluruh Indonesia sebesar Rp34,60 miliar serta Satker Kementerian Kesehatan sebesar Rp111,15 milar.

Tabel 6. 4 Belanja Fungsi Pendidikan terhadap HLS dan RLS (Indeks Pendidikan)

Sumber: MEBE, Kanwil DJPb Provinsi Aceh, dan BPS, 2022 (diolah)

Jika dilihat pada grafik diatas, antara belanja fungsi pendidikan baik pusat maupun daerah dengan Angka Harapan Lama Sekolah (HLS) dan Rata-Rata Lama Sekolah (RLS) memiliki korelasi yang positif. Semakin besar belanja yang diberikan pemerintah pada fungsi pendidikan setiap tahunnya, semakin meningkat nilai HLS dan RLS. Pada tahun 2021 total belanja pada fungsi pendidikan adalah sebesar Rp14,8 triliun, meningkat dibandingkan tahun 2020 yang sebesar 9,25 persen dibandingkan tahun 2020 yang sebesar Rp13,55 triliun. Berbanding lurus dengan angka HLS yang

B. Pusat Pendidikan B. Daerah Pendidikan HLS RLS

87 sebesar 14,36 dan RLS yang sebesar 9,37, masing-masing meningkat dibandingkan tahun 2020 yang sebesar 14,31 dan 9,33.

Belanja daerah lebih memiliki pengaruh terhadap HLS dan RLS dibandingkan dengan belanja pusat. Jika dilihat pada tahun 2020, belanja pusat mengalami penurunan dari Rp4,35 triliun pada tahun 2019 menjadi Rp3,98 triliun pada tahun 2020. Namun hal ini tidak berpengaruh negatif terhadap angka HLS dan RLS. Hal ini karena belanja daerah tetap meningkat dari Rp8,32 triliun pada tahun 2019 menjadi Rp9,62 triliun pada tahun 2020.

Tabel 6. 5 Belanja Fungsi Kesehatan terhadap UHH (Indeks Kesehatan)

Sumber: MEBE, Kanwil DJPb Provinsi Aceh, dan BPS, 2022 (diolah)

Jika dilihat pada grafik diatas, antara belanja fungsi kesehatan baik pusat maupun daerah dengan Umur Harapan Hidup saat Lahir (UHH) memiliki korelasi yang positif. Semakin besar belanja yang diberikan pemerintah pada fungsi kesehatan setiap tahunnya, semakin meningkat nilai UHH. Total belanja pemerintah pada fungsi kesehatan tahun 2021 sebesar Rp7,12 triliun, angka ini menurun dibandingkan tahun 2020 yang sebesar Rp7,37 triliun.

Belanja daerah lebih memiliki pengaruh terhadap UHH dibandingkan dengan belanja pusat. Jika dilihat pada tahun 2020, belanja pusat mengalami penurunan dari Rp271 miliar pada tahun 2019 menjadi Rp220 miliar pada tahun 2020. Namun hal ini tidak berpengaruh negatif terhadap angka UHH. Hal ini karena belanja daerah tetap meningkat dari Rp5,99 triliun pada tahun 2019 menjadi Rp7,15 triliun pada tahun 2020.

Belanja daerah pada fungsi kesehatan mengalami penurunan sebesar Rp272,84 miliar pada tahun 2021, namun hal ini tidak mempengaruhi penurunan pada UHH.

Artinya penurunan yang tidak terlalu signifikan pada belanja daerah tidak menyebabkan penurunan pada UHH dan tetap mengalami peningkatan meskipun tidak setinggi peningkatan pada tahun sebelumnya.

271 220 241

B. Pusat Kesehatan B. Daerah Kesehatan UHH

88

Grafik 6. 5 Belanja Fungsi Ekonomi terhadap Pengeluaran per Kapita (Indeks Ekonomi)

Sumber: MEBE, Kanwil DJPb Provinsi Aceh, dan BPS, 2022 (diolah)

Jika dilihat pada grafik diatas, antara belanja fungsi ekonomi baik pusat maupun daerah dengan pengeluaran per kapita memiliki korelasi yang positif. Apabila belanja fungsi ekonomi mengalami penurunan, maka pengeluaran per kapita pun mengalami penurunan, dan sebaliknya. Pada tahun 2021 total belanja pada fungsi ekonomi adalah sebesar Rp6,47 triliun, meningkat dibandingkan tahun 2020 yang sebesar 34,32 persen dibandingkan tahun 2020 yang sebesar Rp4,82 triliun. Berbanding lurus dengan angka pengeluaran per kapita yang sebesar Rp9.572, meningkat dibandingkan tahun 2020 yang sebesar Rp9.492.

Berbeda dengan fungsi pendikan dan ekonomi, belanja daerah maupun belanja pusat memiliki proporsi dan pengaruh yang hampir sama terhadap pengeluaran per kapita. Jika dilihat pada tahun 2020, belanja fungsi ekonomi mengalami penurunan baik pada belanja pusat maupun daerah. Sehingga mengakibatkan terjadinya penurunan pada pendapatan per kapita. Begitu juga dengan tahun 2021 yang mana belanja pusat maupun belanja daerah pada fungsi ekonomi mengalami kenaikan, maka pendapatan per kapita juga mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya.

6.2 Analisis dan Pembahasan

Dalam analisis regresi diuji beberapa model yang terdiri dari beberapa variabel dependen. Berdasarkan hasil estimasi regresi OLS diperoleh hasil sebagai berikut:

2.916,87

B. Pusat Ekonomi B. Daerah Ekonomi Pengeluaran

89

Tabel 6. 6 Hasil Analisis Regresi Pengaruh Belanja Fiskal terhadap IPM

Variabel Independen Variabel Dependen: IPM

(1) (2) (3)

lDBH_lag1 -0,005 -0,011 -

lDAU_lag1 0,010 0,090 0,093*

lDAK_lag1 0,043 0,017 -

lDID_lag1 0,010 - -

lDD_lag1 -0,027 0,037 -0,035*

lPDRBperkap_lag1 0,13*** 0,132*** 0,124***

R squared 60,88 60,12 58,68

Adjusted R squared 55,29 56,96 56,77

*signifikan pada level 0,05 **signifikan pada level 0,01 **signifikan pada level 0,001

Sumber: Olahan Penulis (2022)

Model yang memiliki lebih banyak variabel yang signifikan yaitu model (3). Belanja yang berpengaruh secaera signifikan yaitu DAU dan dana desa. DAU memiliki koefisien sebesar 0,093, artinya setiap kenaikan belanja DAU sebesar 1 persen akan meningkatkan 0,093 persen IPM. Menariknya, dana desa memiliki korelasi negatif dengan IPM sebesar -0,035. Hal tersebut dapat terjadi disebabkan oleh limitasi series data. Selama ini dana desa memiliki formula tersendiri untuk pembagian lebih adil di setiap daerah dan tidak mempertimbangkan indikator IPM. PDRB per kapita secara konsisten berpegaruh positif terhadap IPM. Koefisiennya sebesar 0,124, artinya peningkatan PDRB per kapita sebesar 1 persen akan meningkat IPM sebesar 0,124 persen.

6.4 Kesimpulan dan Rekomendasi

Perhatian pemerintah pusat terhadap perkembangan daerah telah ditunjukkan dalam alokasi transfer daerah. Alokasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Indikator IPM menjadi salah satu indikator untuk mengetahui perkembangan kesehteraan masyarakat melalui rata-rata lama sekolah (RLS), umur harapan hidup (UHH), dan pengeluaran per kapita. Indikator tersebut dapat dikaitkan dengan belanja negara atau daerah serta belanja berdasarkan fungsi.

Baik pemerintah pusat dan daerah telah mengalokasikan belanja fungsi pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Pemerintah pusat merealisasikan belanja pendidikan sebesar Rp4.147 miliar, belanja kesehatan sebesar Rp241 miliar, dan belanja ekonomi Rp2.967 miliar. Sementara itu, pemerintah daerah merealisasikan belanja pendidikan sebesar Rp9.619 miliar, belanja kesehatan sebesar Rp7.152 miliar, dan belanja ekonomi sebesar Rp2.573 miliar.

DAU dan PDRB per kapita berpengaruh positif secara signifikan terhadap IPM

90

Terdapat belanja transfer daerah yang memiliki pengaruh signifikan terhadap pertumbuhan IPM yaitu DAU dan dana desa. Peningkatan DAU dapat meningkatkan IPM secara signfikan. Sedangkan dana desa berkorelasi negatif yang menandakan dana desa belum memiliki pengaruh yang diharapkan atau perlu dilakukan penelitian lebih lanjut. Indikator PDRB per kapita konsisten berpengaruh positif terhadap pertumbuhan IPM.

91

91

BAB VII KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

7.1 Kesimpulan

Dari uraian bab-bab sebelumnya dapat disampaikan kesimpulan KFR Tahunan (annual report) Provinsi Aceh sebagai berikut:

7.1.1 Kinerja perekonomian di Aceh masa pandemi

β€’ Pertumbuhan ekonomi Aceh pada tahun 2021 berada di level 2,79 persen.

Mengalami pertumbuhan positif atau meningkat dibanding tahun sebelumnya yang mengalami pertumbuhan negatif sebesar -0,37 persen pada tahun 2020.

β€’ Meningkatnya pertumbuhan ekonomi dengan komponen migas lebih tinggi jika dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi tanpa migas sebesar 2,02 persen.

β€’ Inflasi y-on-y Aceh berada pada level 2,24 persen, lebih tinggi dari inflasi nasional yang sebesar 1,87 persen pada tahun 2021. Inflasi tahunan Aceh mengalami penurunan sebesar 136 basis poin dari tahun 2020 yang mengalami inflasi sebesar 3,59 persen.

7.1.2 Indikator kesejahteraan di Aceh

β€’ IPM Aceh sampai dengan tahun 2021 berada di level 72,48. Artinya IPM Aceh mencapai kategori IPM tinggi. IPM tertinggi dicapai oleh kota Banda Aceh yaitu sebesar 85,71 yang mana angka ini termasuk kategori IPM Sangat Tinggi. IPM terendah terdapat di Kota Subulussalam sebesar 65,27, yang mana angka ini termasuk dalam kategori IPM sedang.

β€’ Tingkat kemiskinan tahun 2021 tercatat sebesar 15,53 persen, meningkat dari tahun 2020 sebesar 15,33 persen. Sejauh ini tingkat kemiskinan perdesaan masih lebih tinggi daripada perkotaan. Per Maret 2021 tingkat kemiskinan di perdesaaan sebesar 17,78 persen sedangkan di perkotaan sebesar 10,46 persen.

β€’ Rasio gini tahun 2021 berada di angka 0,324, lebih rendah tinggi daripada rasio Gini bulan September 2020 sebesar 0,319. Angka tersebut masih lebih rendah bila dibandingkan rasio Gini nasional. Aceh menempati urutan ke-12 rasio Gini terendah dari seluruh provinsi se-Indonesia. Berdasarkan daerah, rasio Gini di daerah perkotaan lebih tinggi daripada rasio Gini di daerah perdesaan. Hal tersebut menunjukkan ketimpangan di daerah perkotaan lebih tinggi daripada daerah perdesaan

β€’ Pengangguran di Aceh per Agustus 2021 sebanyak 159 ribu orang, menurun jika dibandingkan jumlah pengangguran pada periode Februari 2021 sebanyak 161

92

ribu orang. Tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Provinsi Aceh pada Agustus 2021 sebesar 6,30 persen, tidak berubah dibandingkan dengan periode Februari 2021 yang mencapai 6,30 persen.

7.1.3 Kinerja APBN

β€’ Realisasi Pendapatan APBN di Aceh pada tahun 2021 sebesar Rp5.518,73 miliar terdiri dari pendapatan perpajakan sebesar Rp4.472,97 miliar dan PNBP sebesar Rp1.045,76 miliar. Total pendapatan tahun 2021 meningkat Rp642,48 miliar (13,18 persen y-o-y) dari tahun 2020 yang sebesar Rp4.876,24 miliar.

Pendapatan perpajakan masih didominasi oleh PPh sebesar Rp2.325,56 miliar, berkontribusi sebesar 51,99 persen dari total pendapatan perpajakan.

β€’ Sementara itu, realisasi PNBP mencapai Rp1.045,76 miliar (184,83 persen dari pagu). Realisasi tersebut didominasi oleh komponen PNBP Lainnya sebesar 523,68 triliun, berkontribusi sebesar 50,08 persen. Bila dilihat dari sisi pertumbuhan, komponen PNBP BLU mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 29,87 persen y-o-y.

β€’ Realisasi belanja APBN di Aceh tahun 2021 mencapai Rp13.999,12 miliar yang terdiri dari belanja pegawai (Rp6,981,13 miliar), belanja barang (Rp4.475,47 miliar), belanja modal (Rp2.503,89 miliar), dan belanja bansos (Rp38,64 miliar).

Belanja pegawai masih mendominasi dengan persentase sebesar 49,87 persen kemudian diikuti belanja barang sebesar 31,97 persen dan belanja modal sebesar 17,89 persen. Apabila dibandingkan dengan realisasi tahun 2020 maka belanja modal mengalami peningkatan tertinggi sebesar 21,82 persen dibandingkan komponen belanja pegawai dan belanja barang yang tumbuh masing-masing sebesar 5,85 persen dan 14,93 persen. Sementara itu, belanja bansos terkonstraksi sebesar 8,39 persen.

β€’ Per 31 Desember 2021 realisasi DAK fisik dan dana desa masing-masing sebesar Rp2.387,89miliar (94,36 persen dari pagu) dan Rp4.982,54 miliar (99,92 persen dari pagu). Nilai realisasi DAK fisik tertinggi dimiliki oleh Provinsi Aceh sebesar Rp288,20 miliar sedangkan persentase realisasi tertinggi dimiliki oleh Kabupaten Pidie Jaya sebesar 98,55 persen. Sementara itu, realisasi dana desa tertinggi berada di Kabupaten Aceh Utara dengan nilai sebesar Rp626,07 miliar.

β€’ Peran Fiskal Dalam Upaya Peningkatan Kualitas Sumber Daya Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia: Analisis Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

Metode analisis menggunakan pendekatan Statistika Deskriptif dan Analisis

93 Regresi Linear sederhana/ordinary least square (OLS) dengan data panel pada level kabupaten/kota sebagai unit observasi. Peningkatan DAU dapat meningkatkan IPM secara signifikan. Sedangkan Dana Desa berkorelasi negatif yang menunjukkan bahwa Dana Desa belum memiliki pengaruh yang diharapkan atau perlu dilakukan penelitian lebih lanjut. Indikator PDRB per kapita konsisten berpengaruh positif terhadap pertumbuhan IPM.

7.1.4 Kinerja APBD

β€’ Pada tahun anggaran 2021, pendapatan negara tingkat Provinsi Aceh ditargetkan sebesar Rp5,3 triliun dan terealisasi sebesar Rp5,5 triliun atau 104,81 persen. Realisasi tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya yang mencapai angka Rp4,8 triliun atau sebesar 75,94 persen pada tahun 2020 dan Rp5,5 triliun atau sebesar 93,19 persen pada tahun 2019.

Sedangkan target pendapatan negara di bidang Perpajakan di Provinsi Aceh menurun sebagai akibat pendemi COVID-19 yang masih berlangsung. Aceh mengalami penurunan dari tahun anggaran 2020 yang sebesar Rp5,8 triliun

Sedangkan target pendapatan negara di bidang Perpajakan di Provinsi Aceh menurun sebagai akibat pendemi COVID-19 yang masih berlangsung. Aceh mengalami penurunan dari tahun anggaran 2020 yang sebesar Rp5,8 triliun

Dalam dokumen KATA PENGANTAR. Ismed Saputra (Halaman 102-0)