• Tidak ada hasil yang ditemukan

Harmonisasi Belanja K/L dengan DAK Fisik DAK Nonfisik, dan Dana Desa . 67

Dalam dokumen KATA PENGANTAR. Ismed Saputra (Halaman 89-101)

BAB V ANALISIS HARMONISASI BELANJA PEMERINTAH PUSAT DAN

5.2 Harmonisasi Belanja K/L dengan DAK Fisik DAK Nonfisik, dan Dana Desa . 67

DAK Fisik adalah dana yang dialokasikan dalam APBN kepada daerah tertentu dengan tujuan untuk mendanai kegiatan khusus fisik yang merupakan urusan daerah dan sesuai dengan prioritas nasional. DAK Fisik bertujuan untuk mendorong penyediaan sarana dan prasarana pelayanan dasar publik, pemenuhan SPM, pencapaian Prioritas Nasional RKP tahun 2021, serta percepatan pembangunan daerah dan kawasan. Pagu DAK Fisik awal untuk wilayah Provinsi Aceh Tahun 2021 adalah sebesar Rp2.567,62 miliar, kemudian mengalami beberapa revisi anggaran sampai akhir tahun 2021 menjadi Rp2.530,64 miliar. Adapun realisasi selama Tahun 2021 telah terealisasi sebesar Rp2.387,89 miliar atau 94,36 persen.

Secara persentase, penyaluran tertinggi terdapat pada Kab. Pidie Jaya yang mencapai Rp71,97 miliar atau 98,55 persen dari pagu Rp74,03 miliar. Sedangkan penyaluran terendah terdapat pada Kab. Aceh Barat Daya yang hanya menyalurkan sebesar Rp57,91 miliar atau 84,40 persen dari pagu Rp68,67 miliar. Hal ini dikarenakan terdapat empat kontrak yang tidak dapat disalurkan. Satu kontrak pada Subbidang Pelayanan Rujukan sebesar Rp420,49 juta karena adanya perekaman ganda data kontrak, dan tiga kontrak pada Subbidang Pelayanan Kefarmasian dan Bahan Habis Pakai senilai Rp56,44 juta karena pihak ketiga tidak dapat memenuhi barang yang dipesan (gagal BAST).

Jika dilihat realisasi per bidang, Bidang Pendidikan menjadi bidang dengan pagu terbesar yaitu Rp819,80 miliar diikuti oleh Bidang Kesehatan dan Keluarga Berencana

68

dengan pagu sebesar Rp619,80 miliar. Sedangkan Bidang Lingkungan Hidup dan Kehutanan menjadi bidang dengan pagu terkecil. Jika dilihat berdasarkan persentase, penyaluran terbesar pada Bidang Sanitasi yang telah terealisasi sebesar 99,13 persen dari pagu Rp82,75 miliar. Adapun persentase terkecil yaitu pada Bidang Transportasi dan Pedesaan terealisasi sebesar 81,72 persen dari pagu Rp31,71 miliar.

(a) DAK Fisik Reguler

Penyaluran DAK Fisik Reguler Tahun 2021 secara total sudah terealisasi sebesar Rp1.575,21 miliar atau 93,43 persen dari total pagu Rp1.685,90 miliar.

Berdasarkan Data OMSPAN pada Desember 2021, data menunjukkan persentase penyaluran DAK Fisik Reguler tertinggi terdapat pada Kab. Aceh Utara yaitu sebesar 98,49 persen. Sedangkan persentase penyaluran terendah terdapat pada Kab. Aceh Barat Daya hanya sebesar 81,06 persen.

(b) DAK Fisik Penugasan

Penyaluran DAK Fisik Penugasan Tahun 2021 secara total adalah sebesar Rp812,68 miliar atau 95,71 persen dari total pagu yang sebesar Rp849,12 miliar. Kab.

Aceh Singkil memiliki persentase penyaluran terbesar yaitu sebesar 99,36 persen.

Sedangkan persentase penyaluran terendah terdapat pada Kab. Aceh Besar sebesar 86,24 persen. Terdapat 11 bidang pada DAK Fisik Penugasan Tahun 2021 di Aceh.

Bidang Irigasi menjadi bidang dengan pagu yang paling besar yaitu Rp141,41 miliar dengan realisasi mencapai 95,55 persen atau sebesar Rp7,78 miliar, dan Bidang Lingkungan Hidup menjadi bidang dengan pagu paling kecil yaitu sebesar Rp7,78 miliar dengan realisasi mencapai 83,53 persen atau sebesar Rp6,50 miliar. Secara persentase, Bidang Sanitasi menjadi bidang dengan persentase realisasi terbesar, yaitu 99,31 persen dari pagu Rp82,75 miliar.

(c) Cadangan DAK Fisik

Penyaluran Cadangan DAK Fisik Tahun 2021 adalah sebesar Rp3,098 miliar. Alokasi Cadangan DAK Fisik ini hanya diberikan kepada 3 persentase yaitu Kabupaten Aceh Singkil, Kabupaten Aceh Tengah, dan Kota Banda Aceh. Pengalokasian Cadangan DAK Fisik pada tahun 2021 ini dialokasikan untuk daerah-daerah tertentu yang perlu mendapat penanganan limbah medis akibat pandemi Covid-19 dengan total pagu Rp4,377 miliar.

69

Tabel 5. 1 Kertas Kerja Harmonisasi Belanja K/L dengan DAK Fisik

Kategori

miliar Irigasi 88,39 Rp135,12

miliar

Sanitasi 15.460 KK

Rp117,69

miliar Sanitasi 78,29 Rp82,18 miliar Sumber: OMSPAN dan MEBE, 2022 (diolah)

Harmonisasi Belanja K/L dengan DAK Fisik dengan kategori-kategori sebagai berikut:

a) Jalan Nasional

Sistem jaringan jalan yang ada di Aceh, berdasarkan status jalan, meliputi:

1. Sistem jaringan Jalan Nasional sepanjang 2.102,08 km (Kepmen PUPR No.250/KPTS/M/2015 tanggal 31 April 2015).

2. Jaringan Jalan Provinsi sepanjang 1.781,72 km (Keputusan Gubernur Aceh Nomor 620/1243/2015 tanggal 29 Oktober 2015

3. Jaringan Jalan kabupaten/kota sepanjang 19.766,26 km

Pada Tahun 2021, Kementerian Pekerjaan Umum melaksanakan Proyek Prasarana Bidang Konektivitas Darat (Jalan) di Aceh. Berdasarkan Data OM SPAN, Satker Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah II Aceh telah melakukan pencairan atas pekerjaan preservasi jalan Tapak Tuan-Aceh Selatan-Subullusasam dengan nilai realisasi Rp5.148.836.000 dan Preservasi Jalan Batas Aceh Selatan/Subulussalam-Bts.Prov.Sumut dengan nilai realisasi Rp2,06 miliar. Sedangkan, salah satu penggunaan DAK Fisik dilaksanakan oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang di wilayah Aceh adalah Peningkatan Jalan Batas Aceh Selatan - Rundeng (DAK) dengan nilai realisasi Rp10,20 miliar. Berdasarkan data di atas, pembangunan jalan yang dilakukan baik oleh Satker Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah II Aceh dan Dinas Pekerjaan Umum Aceh saling melengkapi dalam pembiayaan suatu proyek dalam pendanaan belanja K/L dan DAK Fisik. Pembangunan jalan penghubung antara kota

70

Subullusal`am-Aceh Selatan via Kecamatan Rundeng mendukung proyek belanja yang dilakukan oleh Kementerian Pekerjaan Umum (K/L), khususnya di wilayah Kabupaten Aceh Selatan. Jadi, proyek pekerjaan jalan konsisten antara Belanja Kementerian Pekerjaan Umum sinkron/konsisten antara Belanja K/L dengan DAK Fisik di Aceh.

b) Irigasi

Pada tahun 2021, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Dinas Pengairan Provinsi Aceh telah melaksanakan proyek perawatan saluran Tahap I D.I.

Jambo Aye Langkahan Panton Labu Ruas dengan nilai kontrak Rp103,18 miliar. Daerah Irigasi terletak di Kabupaten Aceh Utara dan Aceh Timur dengan sumber air dari sungai Arakundo, termasuk ke Wilayah Sungai (WS) Jambo-Aye. Kabupaten Aceh Utara dan Kabupaten Aceh Timur mendukung proyek dari K/L dengan menyiapkan pendanaan dari DAK Fisik Penugasan dari masing-masing Pemerintah Kabupaten. Pada tahun 2021, Kabupaten Aceh Utara menyiapkan pendanaan Belanja Dana Alokasi Khusus Penugasan Irigasi (Ketahanan Pangan) sebanyak 3 tahap dengan total pencairan Rp5,48 miliar. Sedangkan Kabupaten Aceh Timur menyiapkan pendanaan berupa Belanja Dana Alokasi Khusus Penugasan Irigasi (Ketahanan Pangan) sebanyak 3 tahap dengan jumlah pencairan sebesar Rp3,59 miliar. Berdasarkan data di atas, pembangunan jalan yang dilakukan baik oleh Satker Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah II Aceh dan Dinas Pekerjaan Umum Aceh saling melengkapi dan selaras dalam pembiayaan suatu proyek dalam pendanaan belanja K/L dan DAK Fisik. Jadi, proyek pekerjaan Irigasi konsisten antara Belanja Kementerian Pekerjaan Umum sinkron/konsisten antara Belanja K/L dengan DAK Fisik Penugasan di Kabupaten Aceh Utara dan Kabupaten Aceh Timur.

c) Sanitasi

Pada tahun 2021, KPPN Banda Aceh telah mencairkan belanja satker Balai Prasarana Permukiman Wilayah Aceh untuk belanja Bidang Sanitasi dengan kegiatan penguatan kelembagaan dan pengaturan penyelenggaraan sanitasi di daerah. Satker tersebut telah mencairkan dana sebesar Rp153,89 juta untuk pembayaran honorarium konsultan individual ahli teknik lingkungan dan honor pembentukan tim pelaksana.

Sedangkan, pada tahun 2021 Pemerintah Kota Banda Aceh telah menyiapkan pendanaan DAK Fisik Penugasan Bidang Sanitasi sebesar Rp1,50 juta. Berdasarkan data di atas, pendanaan bidang sanitasi oleh Satker Balai Prasarana Permukiman Wilayah Aceh saling melengkapi dan selaras dalam pembiayaan suatu proyek dbidang sanitasi dalam pendanaan belanja K/L dan DAK Fisik. Jadi, proyek pekerjaan Irigasi

71 konsisten antara Belanja Kementerian Pekerjaan Umum sinkron/konsisten antara Belanja K/L dengan DAK Fisik Penugasan di Pemerintah Kota Banda Aceh.

d) Pasar

Pada tahun 2021, Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UKM Kota Subulussalam melaksanakan program konstruksi fisik Pasr Rakyat Penang di kota Subulussalam dengan nilai kontrak sebesar Rp3,68 miliar. Dalam rangka meningkatkan konektivitas dan transportasi masyarakat kota Subulussalam, Pemerintah Kota Subulussalam menyediakan pendanaan DAK Fisik regular bidang jalan sebesar Rp1,41 miliar untuk kegiatan rekonstruksi/peningkatan kapasitas struktur jalan pada jalan Lae Souraya. Berdasarkan data di atas, pendanaan bidang jalan oleh Satker Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UKM Kota Subulussalam saling melengkapi dan selaras dalam pembiayaan suatu proyek jalan dalam pendanaan belanja K/L dan DAK Fisik bidang jalan. Jadi, proyek pekerjaan Pasar konsisten antara Belanja Kementerian Koperasi dan UKM sinkron/konsisten antara Belanja K/L dengan DAK Fisik Penugasan bidang Jalan di Pemerintah Kota Subulussalam.

e) UMKM

Dinas Koperasi dan PKM Provinsi Aceh menggunakan Belanja APBN untuk menyalurkan bantuan modal alat kerja kepada 1.260 pengusaha UKM sepanjang tahun 2021. Bantuan alat modal kerja berupa mesin jahit, peralatan kuliner, peralatan pengolahan industri makanan, mesin pembuat kopi dan lain-lain. Sejalan dengan hal itu, Pemerintah Kota Banda Aceh melalui Dinas Tenaga Kerja Kota Banda Aceh menyiapkan pendanaan Pembangunan Sentra IKM (Industri Kecil Menengah) di Kecamatan Meuraksa dengan nilai kegiatan Rp1,30 miliar. Sentra IKM tersebut sebagai bagian dari upaya pendirian pusat promosi produk-produk UMKM di Aceh.

Berdasarkan data di atas, pendanaan UMKM oleh Satker Dinas Koperasi dan PKM Provinsi Aceh saling melengkapi dan selaras dalam pembiayaan suatu proyek jalan dalam pendanaan belanja K/L dan DAK Fisik bidang sentra UMKM. Jadi, proyek pekerjaan Pasar konsisten antara Belanja Kementerian Koperasi dan UKM sinkron/konsisten antara Belanja K/L dengan DAK Fisik Penugasan bidang UMKM di Pemerintah Kota Banda Aceh.

f) SPAM (Sistem Penyediaan Air Minum) Air Bersih

Untuk mencapai tujuan/sasaran pembangunan nasional yaitu tersedianya akses air minum dan layak, Balai Prasarana Permukiman Wilayah Aceh melaksanakan workshop peningkatan pengelolaan keuangan dan kelembagaan KP-SPAMS Provinsi Aceh dengan realisasi Rp937,05 juta pada APBN. Sedangkan, Pemerintah Kota Banda

72

Aceh telah menyiapkan pendanaan DAK Fisik Penugasan bidang Air Minum yang bersih. Tujuan penggunaan dana DAK Fisik itu adalah untuk optimalisasi pelayanan air bersih akibat dari pertumbuhan pemukiman baru. Jumlah belanja DAK Fisik Penugasan adalah Rp4,08 miliar. Berdasarkan data di atas, pendanaan UMKM oleh Satker Balai Prasarana Permukiman Wilayah Aceh saling melengkapi dan selaras dalam pembiayaan suatu proyek jalan dalam pendanaan belanja K/L dan DAK Fisik bidang air minum. Jadi, proyek pelaksanaan workshop konsisten antara Belanja Kementerian Pekerjaan Umum sinkron/konsisten antara Belanja K/L dengan DAK Fisik Penugasan bidang air minum di Pemerintah Kota Banda Aceh.

5.2.2 Harmonisasi Belanja K/L dengan DAK Nonfisik

DAK Nonfisik adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah tertentu dengan tujuan untuk membantu mendanai kegiatan khusus nonfisik yang merupakan urusan daerah.. Untuk tahun 2021, DAK Nonfisik digunakan untuk memperkuat penanganan wabah Covid-19 pada aspek medis, pembiayaan jaring pengaman sosial (social safety net dan stimulus pada perekonomian pascabencana di daerah terdampak). DAK Nonfisik merupakan dana transfer yang dialokasikan dalam APBN dengan tujuan untuk membantu mendanai kegiatan khusus non-fisik di daerah dalam rangka meningkatkan aksesibilitas masyarakat terhadap layanan publik yang berkualitas dan terjangkau. Berdasarkan PMK Nomor 119/PMK.07/2021 tentang Pengelolaan Dana Alokasi Khusus Nonfisik, DAK Nonfisik terdiri dari Dana Bantuan Operasional Sekolah, Dana Bantuan Operasional Penyelenggaraan Pendidikan Anak Usia Dini, Dana Bantuan Operasional Penyelenggaraan Kesetaraan, Dana Tambahan Penghasilan Guru Aparatur Sipil Negara Daerah, Dana Tambahan Penghasilan Guru Aparatur Sipil Negara Daerah, Dana Tunjangan Khusus Guru Aparatur Sipil Negara Daerah, dan DAK Nonfisik Jenis Lainnya.

Dana BOS terutama digunakan untuk mendanai belanja nonpersonalia bagi satuan pendidikan dasar dan menengah pelaksana program wajib belajar dan dimungkinkan untuk mendanai beberapa kegiatan lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Dana BOS terbagi menjadi 3 yaitu:

1. Dana BOS Reguler, merupakan BOS Pendidikan Dasar (SD dan SMP) untuk mempercepat pencapaian Program Wajib Belajar pada jenjang pendidikan dasar yang bermutu dan BOS Pendidikan Menengah (SMA dan SMK) diarahkan untuk mewujudkan layanan pendidikan menengah yang terjangkau dan bermutu bagi semua lapisan masyarakat;

73 2. Dana BOS Afirmasi, untuk mendukung operasional rutin sekolah dengan kesulitan geografis yaitu ditujukan bagi sekolah pada daerah 3T yaitu Tertinggal, Terluar, dan Transmigrasi serta sebagai sumber pendanaan tambahan bagi sekolah dalam mengatasi tingginya tingkat kemahalan harga di daerah;

3. Dana BOS Kinerja, diarahkan untuk mendorong sekolah dan daerah meningkatkan kualitas pendidikan dan digunakan untuk pemanfaatan khusus dalam rangka peningkatan mutu.

Reviu Pagu dan Realisasi Penyaluran Dana BOS Reguler, BOS Kinerja, dan BOS Afirmasi

Pada Tahun 2021, Aceh menerima alokasi dana BOS sebesar Rp1,03 triliun atau 1,93 persen dari pagu nasional sebesar Rp53,46 triliun. Alokasi BOS Tahun 2021 turun sebesar Rp90,31 miliar atau 8,05 persen dibandingkan Tahun 2020 yang sebesar Rp1,12 triliun. Alokasi Dana BOS terdiri dari Dana BOS Reguler sebesar Rp1,016 triliun atau 98,48 persen dari total pagu, Dana BOS Afirmasi sebesar Rp2,22 miliar atau 0,22 persen dari total pagu dan Dana BOS Kinerja sebesar Rp13,44 miliar atau 1,30 persen dari total pagu Dana BOS. Penyaluran Dana BOS di Provinsi Aceh dilakukan melalui KPPN Banda Aceh. Adapun realisasi Dana BOS secara total sebesar Rp1.018,71 miliar atau sebesar 98,69 persen dari total pagu.

a. Dana BOS Reguler

Alokasi Dana BOS Reguler sebesar Rp1,016 triliun atau 98,48 persen dari total pagu. Alokasi ini mengalami kenaikan sebesar Rp57,48 miliar atau 5,99 persen dari alokasi Dana BOS Reguler Tahun 2020 sebesar Rp959,11 miliar. Secara total, realisasi Dana BOS Reguler Aceh tahun 2021 sebesar Rp1.009,54 miliar atau sebesar 99,31 persen dari pagu Dana BOS Reguler.

Dana BOS Reguler telah disalurkan kepada 5.598 sekolah yang tersebar di 23 Persentase di Provinsi Aceh. Penyaluran tertinggi sebesar Rp117,54 miliar disalurkan kepada 593 sekolah di Kab. Aceh Utara. Sedangkan nilai penyaluran terendah sebesar Rp8,95 miliar disalurkan kepada 40 sekolah di Sabang.

b. Dana BOS Afirmasi

Alokasi Dana BOS Afirmasi sebesar Rp2,22 miliar atau 0,22 persen dari total pagu Dana BOS. Alokasi ini mengalami penurunan sebesar Rp124,70 miliar atau 98,25 persen dari alokasi Dana BOS Afirmasi Tahun 2020 yang sebesar Rp126,92 miliar.

Sampai dengan akhir tahun 2021 Dana BOS Afirmasi terealisasi sebesar Rp2,22 miliar atau 100 persen dari total pagu.

74

Dana BOS Afirmasi telah disalurkan kepada 55 sekolah yang tersebar di 17 Kab/Kota di Aceh. Penyaluran tertinggi sebesar Rp490 juta disalurkan kepada 12 sekolah di Kabupaten Aceh Utara, sedangkan penyaluran terendah sebesar Rp40 juta disalurkan ke masing-masing 1 sekolah di Kabupaten Aceh Gayo Lues dan Nagan Raya.

c. Dana BOS Kinerja

Alokasi Dana BOS Kinerja di Provinsi Aceh sebesar Rp13,44 miliar atau 1,30 persen dari total pagu Dana BOS. Alokasi ini mengalami penurunan sebesar Rp23,09 miliar atau 63,21 persen dari alokasi Dana BOS Kinerja tahun 2020. Sampai dengan akhir tahun 2021 terealisasi sebesar Rp6,95 miliar atau 51,71 persen dari total pagu.

Dana BOS Kinerja telah disalurkan kepada 92 sekolah yang tersebar di 21 Kab/Kota di Provinsi Aceh. Penyaluran tertinggi sebesar Rp1,42 miliar disalurkan kepada 18 sekolah di Kabupaten Bireun. Sedangkan nilai penyaluran terendah sebesar Rp60 juta disalurkan ke masing-masing 1 sekolah di 9 Kab/Kota yaitu Kota Lhokseumawe, Kota Subulussalam, Kab. Aceh Singkil, Kab. Bener Meriah, Kab. Aceh Tengah, Kab. Aceh Selatan, Kab. Aceh Barat, Kab. Simeleu, dan Kab. Aceh Tamiang.

Tabel 5. 2 Kertas Kerja Harmonisasi Belanja K/L dengan DAK Nonfisik

Kategori

Sumber: Monev PA, 2022 (diolah)

5.2.3 Harmonisasi Belanja K/L dengan Dana Desa

Dana Desa adalah dana yang dialokasikan dalam APBN yang diperuntukkan bagi desa yang ditransfer melalui APBD kabupaten/kota dan digunakan sejalan dengan PN dan prioritas daerah sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.

Penggunaan Dana Desa oleh desa berdasarkan pada hasil keputusan musyawarah desa yang ditetapkan melalui peraturan desa tentang RKP Desa sesuai dengan kewenangan desa. Penggunaan Dana Desa mengacu pada Peraturan Prioritas Penggunaan Dana Desa dan Peraturan Kewenangan Desa. Dana Desa ditetapkan sebesar 10 persen dari dan di luar dana Transfer ke Daerah (on top) secara bertahap sesuai peraturan perundangan yang berlaku dan sesuai dengan kemampuan negara.

75 Alokasi Dana Desa yang tersebar di 23 pemerintah daerah di Aceh dengan total Rp4,98 triliun. Alokasi ini meningkat 0,13 persen dibandingkan dengan Tahun 2020.

Pagu per tahap disesuaikan dengan penyaluran per tahap Dana Desa yaitu Tahap I sebesar 40 persen, Tahap II sebesar 40 persen, dan Tahap III sebesar 20 persen. Untuk itu, pagu Dana Desa per tahap di Aceh adalah Tahap I dan Tahap II sebesar Rp1,99 triliun, sedangkan pada Tahap III sebesar Rp997,32 miliar. Penyaluran Dana Desa yang telah disalurkan oleh 7 KPPN yang ada di Aceh Tahun 2021 adalah sebesar Rp4,98 triliun atau sebesar 99,92 persen dari pagu yang ada. Rinciannya adalah pada Tahap I sebesar Rp2,79 triliun, Tahap II sebesar Rp1,43 triliun, dan Tahap III sebesar Rp764,88 miliar.

Tabel 5. 3 Kertas Kerja Harmonisasi Belanja K/L dengan Dana Desa

Kategori

K/L Bidang DAK Fisik Hasil Reviu

Capaian Output

Realisasi Anggaran

(dalam miliar)

Capaian Output (dalam persentase)

Realisasi Anggaran

(dalam miliar) Jalan

Nasional 53,8 km Rp106,80

miliar Jalan 107.000 km

Irigasi 3 km Rp64,81

miliar Irigasi 14.787 unit

Sanitasi 15.460 KK Rp117,69

miliar Sanitasi 290.036.022 SPAM Air

Bersih 1.880 SR Rp9,23 miliar Air Minum 33.468.688 unit

5.3 Harmonisasi Belanja Pusat-Daerah Berbasis Prioritas Nasional pada RPJMN/D

5.3.1 Harmonisasi Belanja Pusat-Daerah pada PN 3

Berdasarkan Perpres No 86 tahun 2020 tentang Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2021, Pemerintah Pusat mempunyai target major project pada tahun 2021 ini adalah prevalensi stunting pada balita menurun menjadi 21 persen. Sedangkan, berdasarkan Peraturan Gubernur no 42 tahun 2020 tentang Rencana Kerja Pemerintah Aceh, target prevalensi balita stunting di Aceh adalah 24 persen. Artinya ada perbedaan 3 persen dalam penurunan prevalensi balita antara pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.

76

Grafik 5. 1 Prevalensi Balita Stunting Menurut Provinsi Tahun 2019 dan 2021

Sumber: SSGI Kemenkes, 2022 (diolah)

Berdasarkan SSGI tahun 2021, angka prevalensi penurunan stunting pada balita di Aceh berada pada angka 33,2 persen. Capaian tersebut masih jauh di bawah angka yang ditargetkan pemerintah pusat (21 persen) dan daerah (24 persen). Kementerian Dalam Negeri dan Bappenas telah melakukan 8 aksi konvergensi di tingkat Kabupaten/Kota dalam mendorong konvergensi Pencegahan Stunting di Kabupaten/Kota. Kementerian Dalam Negeri telah menyusun panduan 8 Aksi Integrasi, dan secara paralel dilakukan pendampingan Kemendagri kepada Pemda.Berdasarkan RKPA (Rencana Kerja Pemerintah Aceh) tahun 2021, Pemerintah Aceh memiliki program yaitu Program Perbaikan Giji Masyarakat yang terdiri atas Program Pemberdayaan masyarakat untuk pencapaian keluarga sadar gizi dan Penyusunan peta informasi masyarakat kurang gizi. Program tesebut memiliki indikator Kinerja program berupa Persentase Stunting dan dijabarkan dalam kegiatan/output Jumlah Masyarakat yang mencapai gizi bak dan menurunnya prevalensi Balita Kurus (wasting).

Grafik 5. 2 Realisasi Belanja Pusat dan Daerah Fungsi Perlindungan Sosial Tahun 2019-2021

Sumber: MEBE, 2022 (diolah)

43,80 40,40 34,20 37,90 31,40 31,70 31,50 31,30 29,40 34,90 30,40 29,10 26,20 30,60 32,30 24,60 30,10 29,00 26,20 24,10 26,90 27,50 28,10 21,00 24,00 26,90 21,20 27,70 19,90 26,30 16,80 21,00 20,00 14,40 27,70

37,80 33,80 33,20 31,40 30,20 30,00 29,80 29,70 29,50 29,00 28,70 27,50 27,50 27,40 27,40 26,20 25,80 24,80 24,50 24,50 23,50 23,30 22,80 22,40 22,30 22,10 21,60 20,90 18,60 18,50 17,60 17,30 16,80 10,90 24,40

NTT Sulawesi Barat Aceh NTB Sulawesi Tenggara Kalimantan Selatan Kalimantan Barat Sulawesi Tengah Papua Gorontalo Maluku Maluku Utara Kalimantan Utara Sulawesi Utara Kalimantan Tengah Papua Barat Sumatera Utara Sumatera Selatan Jawa Barat Banten Jawa Timur Sumatera Barat Kalimantan Timur Jambi Riau Bengkulu Sulawesi Selatan Jawa Tengah Bangka Belitung Lampung Kepulauan Riau DIY DKI Jakarta Bali Indonesia

Persen

2019 2021

225

135

188

30 17 26

50 100 150 200 250

2019 2020 2021

Miliar Rp

Realisasi APBD Perlinsos Realisasi APBN Perlinsos Angka

prevalensi stunting Aceh tahun 2021 sebesar 33,2 persen

77 Pada Prioritas Nasional 3 (Meningkatkan Sumber Daya Manusia Berkualitas dan Berdaya Saing), terdapat major project yang diterapkan di Aceh yaitu Project Percepatan Penurunan Stunting. Project ini dilakukan dalam rangka meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia melalui peningkatan akses dan mutu pelayanan Kesehatan.

Indeks Target Pembangunan Manusia di 2021 adalah 72,78-72,95 akan lebih mudah terpenuhi apabila target penurunan prevalensi stunting pada balita tercapai. Stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kurang gizi kronis dan infeksi berulang yang ditandai dengan panjang atau tinggi badannya berada di bawah standar.

5.3.2 Harmonisasi Belanja Pusat-Daerah pada PN 5

Biro Administrasi Pembangunan Setda Aceh, mewakili Pemerintah Aceh, terus berkomitmen dalam pendampingan pelaksanaan pekerjaan pembangunan khususnya proyek prioritas nasional yang menggunakan sumber dana APBN sesuai dengan arahan dari Gubernur Aceh. Hal tersebut diwujudkan melalui melaksanakan pendampingan terhadap pelaksanaan pekerjaan Proyek Strategis Nasional (PSN) 5 yaitu Proyek Strategis dalam proyek proyek infrasruktur ekonomi melalui pembangunan tol Sigli dan banda Aceh sepanjang 74,21 km. Pendampingan diwujudkan melalui kegiatan kunjungan ke lapangan yang dilakukan oleh Biro Administrasi Pembangunan. Kegiatan kunjungan lapangan tersebut dimulai sejak 20 Oktober hingga 6 November 2021 yang terbagi menjadi 8 (delapan) tim. Adapun tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memberikan pendampingan kepada Unit Pelaksanan Teknis Kementerian (UPT Kementerian) baik Balai maupun Satker terkait serta melihat perkembangan kondisi pelaksanaan kegiatan di lapangan saat ini. Kegiatan pendampingan ini dapat mewujudkan kolaborasi pembangunan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah sehingga terhadap kendala dan permasalahan yang dihadapi di lokasi pekerjaan dapat segera dituntaskan sehingga pekerjaan dapat diselesaikan tepat waktu. Adapun jumlah paket PSN dan Proyek APBN Strategis lainnya yang dikunjungi oleh tim berjumlah 50 paket pekerjaan yang dilaksanakan oleh BPJN-I, BTP-SBU, BWSS-I, BPPP Sumatera I dan tersebar di seluruh kabupaten/kota di Aceh. Berdasarkan pendanaan dalam pendampingan yang disediakan oleh pemerintah Aceh, dapat disimpulkan bahwa Pemerintah Aceh telah melakukan sinkronisasi belanja daerah dengan belanja pusat berbasis prioritas nasional yang dilaksakan di Aceh.

78

79

Dalam dokumen KATA PENGANTAR. Ismed Saputra (Halaman 89-101)