1
i
KATA PENGANTAR
Dalam rangka menjalankan tugas Kementerian Keuangan sebagai Pengelola Fiskal, Kanwil Ditjen Perbendaharaan selaku representasi Kementerian Keuangan di daerah menjalankan fungsi Pembinaan Pelaksanaan Anggaran Daerah. Salah satu pelaksanaan fungsi tersebut, Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Aceh telah menyusun dan menyelesaikan Kajian Fiskal Regional (KFR) Tahun 2021.
KFR ini diarahkan pada analisis fiskal dan ekonomi makro yang dapat digunakan dalam pencapaian tujuan kebijakan fiskal. Kajian ini memaparkan informasi mengenai potret dari profil dan dinamika kondisi fiskal di Provinsi Aceh yang antara lain tentang makroekonomi daerah, perkembangan pelaksanaan anggaran pusat dan daerah, serta perkembangan pengelolaan BLU dan investasi, potensi ekonomi regional dan tantangan fiskal daerah.
Kami menyadari masih terdapat kekurangan dan kelemahan dalam kajian ini, untuk itu masukan dan saran yang konstruktif sangat diharapkan guna perbaikan kajian selanjutnya.
Dalam kesempatan ini, kami mengucapkan terimakasih kepada semua pihak baik Pemerintah Daerah dan SKPD dalam lingkup Kabupaten/Kota/Provinsi Aceh, Kanwil Kemenkeu Satu Aceh, BPS Provinsi Aceh, Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh, dan semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan Kajian Fiskal Regional Tahunan Provinsi Aceh Tahun 2021.
Semoga dengan adanya informasi yang tertuang dalam kajian ini dapat memberikan manfaat kepada para pemangku kepentingan.
Ismed Saputra
ii
TIM PENYUSUN
Penanggungjawab:
Ismed Saputra
(Plt. Kepala Kanwil DJPb Provinsi Aceh)
Ketua Tim:
Mohamad Hadad (Plt. Kepala Bidang PPA II)
Koordinator:
Frenky Dedy Kristinus Situmorang (Kepala Seksi PPA II B)
Editor:
Koordinator:
Frenky Dedy Kristinus Situmorang Wildan Aliefaldi Ghozali
Desain Grafis:
Wildan Aliefaldi Ghozali Sarah Dhiena Fadhila
Kontributor:
Zulfan (Kepala Seksi PPA II A)
Alfa M. H. Simanungkalit (Kepala Seksi PPA II C) Elya Dhama Yanti
Luthfiya Nazla Marpaung Meilano Hardiansyah
iii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
TIM PENYUSUN ... ii
DAFTAR ISI ... iii
DAFTAR TABEL ... vii
DAFTAR GAMBAR ... ix
DAFTAR GRAFIK ... x
DASHBOARD MAKRO FISKAL ... xii
RINGKASAN EKSEKUTIF ... xiv
BAB I SASARAN PEMBANGUNAN DAN TANTANGAN DAERAH ... 1
1.1 Pendahuluan ... 1
1.2 Tujuan dan Sasaran Pembangunan Daerah ... 1
1.2.1 Berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) ... 1
1.2.2 Berdasarkan Rencana Kerja Pemerintah Aceh (RKPA) ... 4
1.3 Tantangan Daerah ... 4
1.3.1 Tantangan Ekonomi Daerah ... 4
1.3.2 Tantangan Sosial Kependudukan ... 6
1.3.3 Tantangan Geografis Wilayah ... 8
1.3.4 Tantangan Daerah sebagai Dampak Covid-19 ... 8
Bab II ANALISIS EKONOMI REGIONAL ... 9
2.1 ANALISIS INDIKATOR MAKRO MAKROEKONOMI ... 9
2.1.1 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) ... 9
2.1.2 Tingkat Suku Bunga ... 12
2.1.3 Tingkat Inflasi ... 13
2.1.4 Nilai Tukar ... 14
2.2 ANALISIS INDIKATOR KESEJAHTERAAN ... 15
iv
2.2.1 Indeks Pembangunan Manusia (IPM) ... 15
2.2.2 Tingkat Kemiskinan ... 15
2.2.3 Tingkat Ketimpangan (Rasio Gini) ... 17
2.2.4 Kondisi Ketenagakerjaan dan Tingkat Pengangguran ... 18
2.2.5 Nilai Tukar Petani (NTP) ... 19
2.2.6 Nilai Tukar Nelayan (NTN) ... 19
2.3 REVIU CAPAIAN KINERJA MAKRO KESRA REGIONAL ... 20
BAB III ANALISIS FISKAL REGIONAL ... 22
3.1 Pelaksanaan APBN tingkat provinsi ... 22
3.1.1 Pendapatan Negara... 23
3.1.2 Belanja Negara ... 26
3.1.3 Surplus/Defisit ... 32
3.1.4 Pengelolaan BLU Pusat ... 32
3.1.5 Pengelolaan Manajemen Investasi Pusat ... 33
3.1.6 Isu Strategis Pelaksanaan APBN ... 36
3.2 Pelaksanaan APBD Tingkat Provinsi (Konsolidasi Pemda) ... 36
3.2.1. Pendapatan Daerah... 38
3.2.2. Belanja Daerah ... 41
3.2.3. Surplus/Defisit ... 44
3.2.4. Pembiayaan Daerah ... 44
Isu Strategis Pelaksanaan APBD ... 45
Pelaksanaan Anggaran Konsolidasian ... 45
3.3.1 Pendapatan Konsolidasian ... 46
3.3.2 Belanja Konsolidasian ... 47
3.3.3 Surplus/Defisit ... 48
3.3.4 Pembiayaan Konsolidasian ... 48
3.3.5 Kontribusi Pengeluaran Pemerintah dalam Konsolidasian ... 49
BAB IV ANALISIS SEKTOR UNGGULAN DAN POTENSIAL REGIONAL ... 50
v
4.1 Pendahuluan ... 50
4.1.1 Analisis Location Quotient (LQ) ... 50
4.1.2 Analisis Shift-Share ... 52
4.1.3 Analisis Tipologi Klassen ... 53
4.2 Sektor Unggulan Daerah ... 54
4.2.1 Profil Sektor Unggulan Daerah Berdasarkan Lapangan Usaha ... 54
4.2.2 Kontribusi Sektor Unggulan Daerah terhadap Ketenagakerjaan ... 54
4.2.3 Kontribusi Sektor Unggulan Daerah terhadap Pendapatan Negara dan Daerah 55 4.2.4 Dukungan Alokasi APBN dan APBD ... 56
4.2.5 Tantangan Fiskal pada Sektor Unggulan Daerah ... 58
4.2.6 Dukungan Kebijakan dan Stimulus Fiskal yang Diperlukan ... 60
4.3 Sektor Potensial Daerah ... 60
4.3.1 Profil Sektor Potensial Daerah Berdasarkan Lapangan Usaha ... 60
4.3.2 Kontribusi Sektor Potensial Daerah terhadap Ketenagakerjaan ... 61
4.3.3 Kontribusi Sektor Potensial Daerah terhadap Pendapatan Negara dan Daerah 62 4.3.4 Dukungan Alokasi Anggaran APBN dan APBD ... 63
4.3.5 Tantangan Fiskal pada Sektor Potensial Daerah ... 64
4.3.6 Dukungan Kebijakan dan Stimulus Fiskal yang Diperlukan ... 65
BAB V ANALISIS HARMONISASI BELANJA PEMERINTAH PUSAT DAN PEMERINTAH DAERAH ... 67
5.1 Pendahuluan ... 67
5.2 Harmonisasi Belanja K/L dengan DAK Fisik DAK Nonfisik, dan Dana Desa . 67 5.2.1 Harmonisasi Belanja K/L dengan DAK Fisik ... 67
5.2.2 Harmonisasi Belanja K/L dengan DAK Nonfisik ... 72
5.2.3 Harmonisasi Belanja K/L dengan Dana Desa ... 74 5.3 Harmonisasi Belanja Pusat-Daerah Berbasis Prioritas Nasional pada RPJMN/D
75
vi
5.3.1 Harmonisasi Belanja Pusat-Daerah pada PN 3 ... 75
5.3.2 Harmonisasi Belanja Pusat-Daerah pada PN 5 ... 77
Bab VI ANALISIS TEMATIK... 78
6.1 Pendahuluan ... 79
6.1.1 Latar Belakang ... 79
6.1.2 Tujuan dan Ruang Lingkup ... 79
6.1.3 Metode Analisis ... 80
6.2 Perkembangan IPM dan Belanja Pemerintah ... 81
6.2.1 Indeks Pembangunan Manusia ... 81
6.2.2 Belanja Pemerintah untuk Meningkatkan IPM... 82
6.3 Analisis dan Pembahasan ... 84
6.1 Perbandingan Belanja Pemerintah dan IPM ... 84
6.2 Analisis dan Pembahasan ... 88
6.4 Kesimpulan dan Rekomendasi ... 89
BAB VII KESIMPULAN DAN REKOMENDASI ... 91
7.1 Kesimpulan ... 91
7.1.1 Kinerja perekonomian di Aceh masa pandemi ... 91
7.1.2 Indikator kesejahteraan di Aceh ... 91
7.1.3 Kinerja APBN ... 92
7.1.4 Kinerja APBD ... 93
7.2 Rekomendasi ... 94
LAMPIRAN ... 97
vii
DAFTAR TABEL
Tabel 1. 1 Tujuan dan Sasaran Pembangunan Aceh Tahun 2017-2022 ... 2
Tabel 1. 2 Sasaran Indikator Kinerja Pembangunan Daerah... 4
Tabel 2. 1 Dampak COVID-19 terhadap Penduduk Usia Kerja per Agustus 2020 dan 2021 ... 18
Tabel 2. 2 Hasil Reviu Efektivitas Kebijakan Makroekonomi dan Kesejahteraan Provinsi Aceh ... 20
Tabel 3. 1 Realisasi APBN Provinsi Aceh Tahun 2019-2021 ... 22
Tabel 3. 2 Realisasi PNB Lainnya Berdasarkan Jenis ... 26
Tabel 3. 3 Tingkat Penyerapan 15 K/L Pagu Terbesar Tahun Anggaran 2021 ... 27
Tabel 3. 4 Pagu dan Realisasi Dana Transfer Provinsi Aceh Tahun 2019-2021 ... 29
Tabel 3. 5 Perkembangan Jumlah Aset PNBP, Belanja, dan Rasio PNBP terhadap Belanja BLU Pusat di Aceh (Miliar Rp) ... 33
Tabel 3. 6 Nama Debitur dan Jumlah Pinjaman Daerah Per 31 Desember 2021 ... 33
Tabel 3. 7 Penyauran KUR Per Skema Tahun 2019-2021 (dalam miliar Rp) ... 34
Tabel 3. 8 Penyaluran KUR Per Sektor Tahun 2019-2021 (dalam miliar Rp) ... 35
Tabel 3. 9 Penyaluran UMi per Pemerintah Daerah Tahun 2019-2021 (miliar Rp) ... 36
Tabel 3. 10 Realisasi APBD Provinsi + Kabupaten/Kota di Aceh (miliar Rp) ... 37
Tabel 3. 11 Jenis Pendapatan Transfer APBD Provinsi dan Kabupaten/Kota di Aceh (miliar Rp) ... 39
Tabel 3. 12 Jenis Belanja Operasional APBD di Aceh (miliar Rp) ... 41
Tabel 3.13 LRA Konsolidasian Tingkat Wilayah Provinsi Aceh (miliar Rp) ... 46
Tabel 3. 14 Perkembangan Rasio Belanja Konsolidasian terhadap Jumlah Penduduk di Provinsi Aceh ... 48
Tabel 3. 15 Pembiayaan Konsolidasian ... 49
Tabel 4. 1 Keunggulan Kompetitif Aceh Berdasarkan SektorGrafik 3. 28 Rasio Belanja Pemerintah (APBN+APBD) di Provinsi Aceh terhadap PDRB Aceh Tahun 2019-2021 ... 49
Tabel 4. 2 Sektor Basis Provinsi Aceh ... 51 Tabel 4. 3 Keunggulan Kompetitif Aceh Berdasarkan SektorError! Bookmark not defined.
viii Tabel 4. 4 Persentase Penduduk Bekerja Menurut Lapangan Pekerjaan Utama Agustus
2021 ... 54
Tabel 4. 6 Persentase Penduduk Bekerja Menurut Status Pekerjaan Utama ... 55
Tabel 4. 7 Sebaran Luas Lahan, Produksi, Petani, dan Tenaga Kerja Kakao ... 62
Tabel 4. 7 Pendapatan Kabupaten Pidie Jaya ... 62
Tabel 4. 9 Pagu dan Realisasi DAK Fisik Tahun 2021 Kabupaten Pidie Jaya ... 63
Tabel 5. 1 Kertas Kerja Harmonisasi Belanja K/L dengan DAK Fisik ... 69
Tabel 5. 2 Kertas Kerja Harmonisasi Belanja K/L dengan DAK Nonfisik ... 74
Tabel 5. 3 Kertas Kerja Harmonisasi Belanja K/L dengan Dana Desa ... 75
Tabel 6. 1 IPM Kabupaten/Kota di Provinsi Aceh Tahun 2010 dan 2021 ... 81
Tabel 6. 2 Pagu dan Realisasi Mandatory Spending Fungsi Pendidikan (dalam miliar rupiah) ... 85
Tabel 6. 3 Pagu dan Realisasi Mandatory Spending Fungsi Kesehatan (dalam miliar rupiah) ... 86
Tabel 6. 4 Belanja Fungsi Pendidikan terhadap HLS dan RLS (Indeks Pendidikan) ... 86
Tabel 6. 5 Belanja Fungsi Kesehatan terhadap UHH (Indeks Kesehatan) ... 87
Tabel 6. 7 Hasil Analisis Regresi Pengaruh Belanja Fiskal terhadap IPM ... 89
ix
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2. 1 Level Indeks PDRB Aceh Tahun 2020 dan 2021 (2019=100) ... 10
Gambar 4. 1 Tipologi Klassen PDRB Aceh terhadap PDRB Nasional ... 53
x
DAFTAR GRAFIK
Grafik 2. 1 Pertumbuhan Ekonomi Aceh dan Nasional Tahun 2017-2021 ... 9
Grafik 2. 2 Kontribusi Komponen PDRB Menurut Pengeluaran Tahun 2020 dan 2021 11 Grafik 2. 3 Kontribusi Sektor terhadap PDRB Tahun 2019-2021 ... 11
Grafik 2. 4 PDRB Per Kapita Aceh Tahun 2017-2021 ... 12
Grafik 2. 5 Suku Bunga BI Tahun 2017-2021 ... 13
Grafik 2. 7 Perkembangan Inflasi Kota di Aceh ... 13
Grafik 2. 6 Inflasi Aceh dan Nasional Tahun 2019-2021 ... 13
Grafik 2. 8 Tren Mata Uang USD, CNY, EUR, dan JPY Sepanjang Tahun 2021 ... 14
Grafik 2. 9 Perkembangan IPM Provinsi Aceh Tahun 2017-2021 ... 15
Grafik 2. 10 Perkembangan Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Aceh Tahun 2017- 2021 ... 16
Grafik 2. 11 Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Daerah Perkotaan dan Perdesaan Aceh Tahun 2017-2021 ... 17
Grafik 2. 12 Perkembangan Rasio Gini Aceh Tahun 2017-2021 ... 17
Grafik 2. 13 Tingkat Pengangguran Terbuka Aceh dan Nasional Tahun 2019-2021 ... 18
Grafik 2. 14 Perkembangan NTP Aceh Tahun 2019-2021 ... 19
Grafik 2. 15 Perkembangan NTN Aceh Tahun 2019-2021 ... 20
Grafik 3. 1 Realisasi Pajak Dalam Negeri Per Jenis Pajak ... 23
Grafik 3. 2 Penerimaan Pajak Internasional Aceh Tahun 2019-2021 ... 24
Grafik 3. 3 Pendapatan Pajak Sektoral di Aceh ... 25
Grafik 3. 4 Perkembangan Realisasi PNBP di Aceh ... 25
Grafik 3. 5 Perkembangan Realisasi PNBP di Aceh ... 27
Grafik 3. 6 Perbandingan Realisasi Anggaran Berdasarkan Kementerian/Lembaga Tahun 2019-2021 ... 28
Grafik 3. 7 Perbandingan Realisasi Anggaran Berdasarkan Fungsi Tahun 2019-2021 29 Grafik 3. 8 Alokasi dan Realisasi Dana Transfer Umum Tahun 2019-2021 ... 30
Grafik 3. 9 Alokasi dan Realisasi Dana Transfer Khusus Tahun 2019-2021 ... 31
Grafik 3. 10 Alokasi dan Realisasi DID dan Dana OtsusTahun 2019-2021 ... 31
Grafik 3. 11 Alokasi dan Realisasi Dana Desa Tahun 2019-2021 ... 32
Grafik 3. 12 Cash Flow APBN di Provinsi Aceh ... 32
Grafik 3. 13 Realisasi PAD Provinsi dan Kabupaten Kota Tahun 2021 (miliar Rp) ... 38
Grafik 3. 14 Rasio Efektivitas PAD ... 38
Grafik 3. 15 Proporsi Pendapatan Transfer di Aceh ... 39
xi
Grafik 3. 16 Rasio Kemandirian Keuangan Daerah Provinsi Aceh ... 40
Grafik 3. 17 Jenis Pendapatan Lain-lain yang Sah (miliar Rp) ... 40
Grafik 3. 18 Perkembangan Belanja Modal di Aceh Tahun 2019-2021 (miliar Rp) ... 41
Grafik 3. 19 Perkembangan Belanja Tidak Terduga di Aceh Tahun 2019-2021 ... 42
Grafik 3. 20 Proporsi Belanja Tranfer Daerah ... 43
Grafik 3. 21 Belanja APBD Provinsi Aceh Per Fungsi ... 43
Grafik 3. 22 Perbandingan Pertumbuhan Komponen Pendapatan Konsolidasian ... 46
Grafik 3. 23 Perkembangan Tax Ratio di Aceh ... 47
Grafik 3. 24 Perbandingan Pertumbuhan Komponen Pendapatan Konsolidasian ... 47
Grafik 3. 27 Rasio Belanja Pemerintah (APBN+APBD) di Provinsi Aceh terhadap PDRB Aceh Tahun 2019-2021 ... 49
Tabel 4. 1 Keunggulan Kompetitif Aceh Berdasarkan SektorGrafik 3. 28 Rasio Belanja Pemerintah (APBN+APBD) di Provinsi Aceh terhadap PDRB Aceh Tahun 2019-2021 ... 49
Grafik 4. 1 Persentase Penduduk Bekerja Berdasarkan Lapangan Usaha Kabupaten Pidie Jaya ... 61
Grafik 4. 2 Persentase Penduduk Bekerja Berdasarkan Lapangan Usaha Kabupaten Pidie Jaya ... 61
Grafik 5. 1 Prevalensi Balita Stunting Menurut Provinsi Tahun 2019 dan 2021 ... 76
Grafik 5. 2 Realisasi Belanja Pusat dan Daerah Fungsi Perlindungan Sosial Tahun 2019- 2021 ... 76
Grafik 6. 1 Target dan Realisasi IPM Aceh Tahun 2017-2021IPM sedang: 12 daerah ... Error! Bookmark not defined. Grafik 6. 2 Target dan Realisasi IPM Aceh Tahun 2017-2021 ... 81
Grafik 6. 3 Target dan Realisasi IPM Aceh Tahun 2017-2021 ... 81
Grafik 6. 4 Realisasi Belanja Negara Berdasarkan Fungsi Tahun 2019-2021 ... 83
Grafik 6. 5 Realisasi Belanja Daerah Berdasarkan Fungsi Tahun 2019-2021 ... 84
Grafik 6. 6 Belanja Fungsi Ekonomi terhadap Pengeluaran per Kapita (Indeks Ekonomi) ... 88
xii
DASHBOARD MAKRO FISKAL
xiii
xiv
RINGKASAN EKSEKUTIF
Pertumbuhan ekonomi Aceh pada tahun 2021 berada di level 2,79 persen.
Mengalami pertumbuhan positif atau meningkat dibanding tahun sebelumnya yang mengalami kontraksi sebesar 0,37 persen. Inflasi y-o-y Aceh berada pada level 2,24 persen, lebih tinggi dari inflasi nasional yang sebesar 1,87 persen pada tahun 2020.
Inflasi tahunan Aceh mengalami penurunan sebesar 135 basis poin dari tahun 2020 yang mengalami inflasi sebesar 3,59 persen. IPM Aceh sampai dengan tahun 2021 berada di level 72,18, artinya IPM Aceh telah mencapai kategori IPM tinggi. IPM tertinggi dicapai oleh kota Banda Aceh yaitu sebesar 85,71 yang mana angka ini termasuk kategori IPM sangat tinggi. IPM terendah terdapat di kota Subulussalam sebesar 65,27, yang mana angka ini termasuk dalam kategori IPM sedang.
Tingkat kemiskinan tahun 2021 menurun menjadi 15,53 persen, mengalami penigkatan dari 15,33 pada Maret 2021. Sejauh ini tingkat kemiskinan perdesaan masih lebih tinggi daripada perkotaan. Per Maret 2021 tingkat kemiskinan di perdesaaan sebesar 17,78 persen sedangkan di perkotaan sebesar 10,46 persen. Rasio gini tahun 2021 berada di angka 0,323, lebih tinggi daripada rasio Gini bulan September 2020 sebesar 0,319. Angka tersebut masih lebih rendah bila dibandingkan rasio Gini nasional.
Aceh menempati urutan ke-12 rasio Gini terendah dari seluruh provinsi se-Indonesia.
Berdasarkan daerah, rasio Gini di daerah perkotaan lebih tinggi daripada rasio Gini di daerah perdesaan. Hal tersebut menunjukkan ketimpangan di daerah perkotaan lebih tinggi daripada daerah perdesaan.
Pengangguran di Aceh per Agustus 2021 sebanyak 159 ribu orang, menurun jika dibandingkan jumlah pengangguran pada periode Februari 2021 sebanyak 161 ribu orang. Tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Provinsi Aceh pada Agustus 2021 sebesar 6,30 persen, tidak berubah dibandingkan dengan periode Februari 2021 yang mencapai 6,30 persen.
Realisasi Pendapatan APBN di Aceh pada tahun 2021 sebesar Rp5,60 triliun terdiri dari pendapatan perpajakan sebesar Rp4,47 triliun dan PNBP sebesar Rp1,13 triliun. Total pendapatan tahun 2021 meningkat Rp722 miliar (14,21 persen y-o-y) dari tahun 2020 yang sebesar Rp4,88 triliun. Pendapatan perpajakan masih didominasi oleh PPh sebesar Rp2.265,38 miliar, berkontribusi sebesar 51,23 persen dari total pendapatan perpajakan. Sementara itu, realisasi PNBP mencapai Rp1.125,26 miliar (136,02 persen dari pagu). Realisasi tersebut didominasi oleh komponen pendapatan BLU sebesar Rp601,59 miliar, berkontribusi sebesar 53,46 persen.
xv Realisasi belanja pemerintah pusat di Aceh tahun 2021 mencapai Rp14,11 triliun yang terdiri dari belanja pegawai (Rp6,98 triliun), belanja barang (Rp4,53 triliun), belanja modal (Rp2,56 triliun), dan belanja bansos (Rp38,64 miliar). Belanja pegawai masih mendominasi belanja pemerintah pusat dengan persentase sebesar 48,02 persen.
Sementara itu, realisasi transfer ke daerah dan dana desa (TKDD) sebesar Rp33,86 triliun. Realisasi DAK fisik dan dana desa per 31 Desember 2021 masing-masing sebesar Rp2,39 triliun (94,20 persen dari pagu) dan Rp4,98 triliun (99,92 persen dari pagu).
Dari sisi belanja negara, alokasi anggaran di Provinsi Aceh pada tahun 2021 adalah sebesar Rp48,11 triliun rupiah yang terdiri dari Belanja Pemerintah Pusat (K/L) sebesar Rp14,36 triliun dan Dana Transfer Ke Daerah dan Dana Desa sebesar Rp33,74 triliun. Alokasi belanja tersebut meningkat sebesar Rp1,03 triliun atau 2,1 persen dibandingkan tahun 2020. Realisasi belanja negara pada tahun 2021 sebesar Rp48,05 triliun atau 99,89 persen, meningkat dibandingkan dengan tahun 2020 yang sebesar 98,25 persen. Hal ini menunjukkan penyerapan belanja negara di Aceh semakin baik seiring dengan penanganan penyebaran virus COVID-19.
Bila dilihat dari PDRB menurut lapangan usaha, Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan masih merupakan sektor unggulan di Aceh. Pada tahun 2021 sektor ini berkontribusi sekitar 30,06 persen terhadap PDRB atau senilai Rp55,61 triliun.
Berdasarkan kontribusi sektor unggulan daerah terhadap ketenagakerjaan, Sektor Pertanian, Kehutanan dan Perikanan beserta sektor Perdagangan Besar dan Eceran masih menjadi sektor yang menyerap tenaga kerja dengan porsi terbesar yaitu masing- masing 36,13 persen dan 16,24 persen.
Berdasarkan penerimaan pajak sektoral, sektor pertanian, perikanan, dan kehutanan hanya menyumbangkan pendapatan pajak sebesar Rp204,11 miliar atau sebesar 4,39 persen dari total penerimaan pajak sebesar Rp4,65 triliun. Hal ini bertolak belakang dengan konstribusi sektor pertanian, perikanan, dan kehutanan atas PDRB nominal Aceh yang mencapai sebesar 30,06 persen.
Analisis harmonisasi Belanja Pemerintah Pusat dan Aceh yaitu beberapa Belanja K/L (kategori jalan, irigasi, sanitasi, pasar, UMKM dan pasar bersih) dengan DAK Fisik, Dana Non Fisik, dan Dana Desa sinkron dan saling melengkapi. Selain itu, belanja program Prioritas Nasional (PN) 3 dan 5 dengan Belanja Daerah sinkron dan saling melengkapi.
Peran fiskal dalam upaya peningkatan kualitas sumber daya peningkatan kualitas sumber daya manusia: analisis indeks pembangunan manusia (IPM). Metode analisis
xvi
menggunakan pendekatan statistika deskriptif dan analisis regresi linear sederhana/ordinary least square (OLS) dengan data panel pada level kabupaten/kota sebagai unit observasi. Peningkatan DAU dapat meningkatkan IPM secara signifikan.
Sedangkan Dana Desa berkorelasi negatif yang menunjukkan bahwa Dana Desa belum memiliki pengaruh yang diharapkan atau perlu dilakukan penelitian lebih lanjut. Indikator PDRB per kapita konsisten berpengaruh positif terhadap pertumbuhan IPM.
xviii
1
BAB I SASARAN PEMBANGUNAN DAN TANTANGAN DAERAH
1.1 Pendahuluan
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh, dan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, merupakan landasan hukum di bidang perencanaan pembangunan. Ketiga peraturan ini merupakan landasan hukum berisi arahan tentang tata cara perencanaan pembangunan untuk merancang rencana pembangunan jangka panjang, jangka menengah, dan tahunan yang dilaksanakan oleh unsur penyelenggaraan pemerintahan di pusat dan daerah dengan melibatkan masyarakat.
1.2 Tujuan dan Sasaran Pembangunan Daerah
1.2.1 Berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) RPJMD merupakan dokumen perencanaan daerah untuk periode 5 (lima) tahunan yang berisi penjabaran dari visi, misi, dan program kepala daerah yang memuat tujuan, sasaran, strategi, arah kebijakan pembangunan daerah dan keuangan daerah, serta program perangkat daerah dan lintas perangkat daerah yang disertai dengan kerangka pendanaan bersifat indikatif untuk jangka waktu 5 (lima) tahun.
RPJM Aceh (RPJMA) merupakan penjabaran visi, misi, dan program Gubernur Aceh hasil pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh pada tahun 2017. RPJMA disusun dengan berpedoman pada Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Aceh, Rencana Tata Ruang Wilayah Aceh dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional. RPJMA tahun 2017-2022 merupakan tahapan pembangunan ketiga dari RPJP Aceh 2005-2025. Pada tahapan ini, RPJM berfokus pada pemantapan basis pengembangan industri manufaktur. Bersamaan dengan hal tersebut, fokus pembangunan juga meningkatkan agroindustri yang belum berkembang secara optimal pada tahap pembangunan sebelumnya.
Tujuan dan sasaran pembangunan Aceh dalam RPJMA Tahun 2017-2022 merupakan upaya pencapaian visi “Terwujudnya Aceh yang Damai dan Sejahtera Melalui Pemerintahan yang Bersih, Adil, dan Melayani” dan 10 (sepuluh) Misi. yang meliputi: (1) Reformasi birokrasi menuju pemerintahan yang adil, bersih, dan melayani;
Terdapat 10 misi di dalam RPJMA Tahun 2017-2022
2
(2) Memperkuat pelaksanaan Syariat Islam beserta nilai-nilai ke-Islaman dan budaya ke- Acehan dalam kehidupan masyarakat dengan iktikad Ahlussunnah Waljamaah yang bersumber hukum Mazhab Syafi’iyah dengan tetap menghormati mazhab yang lain; (3) Menjaga integritas nasionalisme dan keberlanjutan perdamaian berdasarkan MoU Helsinki; (4) Membangun masyarakat yang berkualitas dan berdaya saing di tingkat nasional dan regional; (5) Mewujudkan akses dan pelayanan kesehatan dan kesejahteraan sosial yang mudah, berkualitas dan terintegrasi; (6) Mewujudkan kedaulatan dan ketahanan pangan; (7) Menyediakan sumber energi listrik yang bersih dan terbarukan; (8) Membangun dan mengembangkan sentra-sentra produksi dan industri kreatif yang kompetitif; (9) Revitalisasi fungsi perencanaan daerah dengan prinsip evidence based planning yang efektif, efisien dan berkelanjutan, dan; (10) Pembangunan dan peningkatan kualitas infrastruktur terintegrasi, dan lingkungan yang berkelanjutan.
Untuk mendukung pencapaian visi dan misi yang telah ditetapkan sebagaimana yang terdapat dalam RPJMA Tahun 2017-2022, terdapat 23 (dua puluh tiga) tujuan dan 54 (lima puluh empat) sasaran untuk mendukung percepatan pencapaian prioritas dan sasaran pembangunan nasional. Sasaran pembangunan Aceh tahun 2017-2022 disajikan pada tabel 1.1 berikut ini.
Tabel 1. 1 Tujuan dan Sasaran Pembangunan Aceh Tahun 2017-2022
Misi Tujuan Sasaran
1. Reformasi Birokrasi menuju pemerintahan yang adil, bersih dan melayani
1. Mewujudkan reformasi birokrasi yang berkualitas
1. Birokrasi yang bersih dan akuntabel 2. Birokrasi yang efektif dan efisien 3. Birokrasi yang memiliki pelayanan publik
yang berkualitas
4. Database kepegawaian yang terintegrasi 2. Memperkuat pelaksanaan
Syariat Islam beserta nilai-nilai keislaman dan budaya keacehan dalam kehidupan masyarakat dengan itikad Ahlussunah Waljamaah yang bersumber hukum Mazhab Syafi’iyah dengan tetap menghormati mazhab yang lain
2. Memperkuat pelaksanaan Aqidah, Syariah, dan Akhlak dalam tatanan kehidupan masyarakat
5. Menguatnya kualitas masyarakat berbasis Al-Qur’an dan Al-Hadist, Ijma’ dan Qiyas 6. Meningkatnya kualitas dan kuantitas
pendidikan dayah
7. Menguatnya tatanan Ekonomi Syari’ah 8. Menguatnya penegakan Syariah dalam
bermasyarakat
9. Meningkatnya pengamalan Syariah Islam di daerah perbatasan
10. Meningkatnya sarana dan prasarana kegamaan dan budaya berbasis Islami 11. Menguatnya tatanan budaya, adat istiadat
dan seni ke-Acehan yang Islami 3. Menjaga integritas nasionalisme
dan keberlanjutan perdamaian berdasarkan MoU Helsinki
3. Meningkatnya keberlanjutan perdamaian berdasarkan prinsip-prinsip MoU Helsinki
12. Tuntasnya Aturan Turunan UU-PA 13. Tuntasnya turunan UU-PA yang tidak bisa
diimplementasikan
14. Menguatnya kapasitas SDM dan kelembagaan korban konflik 4. Meningkatkan
pembangunan demokrasi
15. Meningkatnya kebebasan sipil masyarakat 16. Meningkatnya hak-hak politik
17. Meningkatnya peran lembaga demokrasi 4. Membangun masyarakat yang
berkualitas dan berdaya saing di tingkat nasional dan regional
5. Meningkatkan kualitas SDM Aceh yang memiliki daya saing
18. Meningkatnya kualitas pendidikan
19. Meningkatnya akses masyarakat terhadap pendidikan
3
Misi Tujuan Sasaran
20. Meningkatkan kualitas tenaga pendidik dan kependidikan
21. Meningkatnya kualitas pendidikan yang vokasional
6. Meningkatkan prestasi olahraga dan kepemudaan di tingkat nasional dan regional
22. Terwujudnya pemuda yang berkarakter, berkualitas, dan berdaya saing
23. Meningkatnya prestasi olah raga 5. Mewujudkan akses dan
pelayanan Kesehatan dan kesejahteraan social yang mudah, berkualitas dan terintegrasi
7. Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat
24. Meningkatnya kualitas kesehatan masyarakat
25. Meningkatnya Akses Masyarakat terhadap Layanan
8. Meningkatkan
pengarusutamaan gender dalam pembangunan
26. Menurunnya kesenjangan laki-laki dan perempuan dalam pembangunan 27. Meningkatnya peran perempuan dalam
pembangunan 9. Meningkatnya
kesejahteraan social masyarakat
28. Meningkatnya kesejahteraan PMKS 29. Meningkatnya kesejahteraan disabilitas 30. Menurunnya angka kemiskinan 6. Mewujudkan kedaulatan dan
ketahanan pangan
10. Meningkatnya
pertumbuhan ekomomi
31. Meningkatkan pembangunan sektor pertanian
11. Menurunnya angka kemiskinan
32. Meningkatkan ketahanan pangan 33. Meningkatkan kesejahteraan petani dan
nelayan 7. Menyediakan sumber energi
listrik yang bersih dan terbarukan
12. Mewujudkan ketahanan dan kemandirian energi di Aceh
34. Terwujudnya kemandirian energi
13. Meningkatkan pertumbuhan ekonomi
35. Meningkatnya kontribusi subsector pertambangan dan penggalian 8. Membangun dan
mengembangkan sentra sentra produksi dan industry kreatif yang kompetitif
14. Meningkatkan pertumbuhan ekonomi 15. Menurunnya angaka
pengangguran
36. Meningkatnya pembangunan industri 37. Meningkatnya rencana perdaganga 38. Meningkatnya jumlah dan nilai investasi 39. Meningkatnya kontribusi pariwisata 40. Meningkatnya kesempatan kerja pada
sektor industri, pariwisata dan jasa lainnya 9. Revitalisasi fungsi
perencanaan daerah denga prinsip evidence based planning yang efektif, efisien dan berkelanjutan
16. Membangun sistem Informasi Aceh secara terpadu dan terintegrasi
41. Meningkatnya transparansi informasi publik 42. Terintegrasinya dan terpusatnya data
secara elektronik
17. Memperkuat perencanan pembangunan sesuai dengan prinsip Evidence Based Planning
43. Meningkatnya konsistensi antar dokumen perencanaan lintas sektor dan wilayah 44. Membangun Bank Data terintegrasi 10. Pembangunan dan
peningkatan kualitas infrastruktur terintegrasi dan lingkungan yang
berkelanjutan
18. Mengurangi ketimpangan antar wilayah
45. Meningkatnya konektivitas antar wilayah
19. Menurunnya angka kemiskinan
46. Berkembangnya wilayah pemukiman baru 20. Meningkatnya sarana dan
prasarana pelayanan dasar
47. Meningkatnya pemenuhan infrastruktur dasar masyarakat
48. Meningkatnya pelayanan pertanahan 21. Meningkatnya tata kelola
lingkungan hidup lestari
49. Meningkatnya pelayanan pengendalian lingkungan hidup lestari
50. Bertambahnya luasan Kawasan konservasi laut dan pesisir
22. Meningkatkan pengelolaan hutan secara lestari dan berkelanjutan
51. Luas Kawasan hutan yang lestrai dan berkelanjutan
52. Terjaganya keaneka ragaman hayati
4
Misi Tujuan Sasaran
53. Menguatnya fungsi dan peran KPH 23. Meningkatkan tata kelola
kebencanaan
54. Pengarusutamaan pengurangan risiko bencana dalam pembangunan.
Sumber: RPJMA (2022)
Tabel 1. 2Sasaran Indikator Kinerja Pembangunan Daerah No. Sasaran Makro Kesra Tahun 2017
(Baseline)
Tahun 2018
Tahun 2019
Tahun 2020
Tahun 2021
Tahun 2022
1. Pertumbuhan Ekonomi 4,31 5 5,25 5,5 5,75 6
1. Inflasi 4 3 3 2 2 2
3. IPM 70,60 70,92 71,44 71,96 72,48 73
4. Kemiskinan 15,92 15,43 14,43 13,43 12,43 11,43
5. Pengangguran 6,57 6,45 6,30 6,25 6,22 6,00
6. Rasio Gini 0,329 0,325 0,320 0,317 0,313 0,310
7. NTP 96,26 98 101 103 105 107
8. NTN 97,16 98,5 99,75 101,25 103 106
9. Indeks Pelayanan Publik 40,82/C 60/C 70/C 75/C 80/B 85/A Sumber: RPJMA (2022)
1.2.2 Berdasarkan Rencana Kerja Pemerintah Aceh (RKPA)
RKPA merupakan dokumen perencanaan teknis dengan jangka waktu satu tahun, yang disusun berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 86 Tahun 2017 tentang Tata Cara Perencanaan, Pengendalian dan Evaluasi Pembangunan Daerah, Tata Cara Evaluasi Rancangan Peraturan Daerah tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah, serta Tata Cara Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah, dan Rencana Kerja Pemerintah Daerah. RKPA tahun 2021 memiliki tujuan dan sasaran pembangunan sesuai dengan yang tertuang dalam RPJMA periode RPJMA Tahun 2017-2022, yaitu merupakan penjabaran tahun keempat periode 2017-2022 dan menjadi pedoman dalam penyusunan Kebijakan Umum Anggaran (KUA) dan Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara.
Berdasarkan RPJMA (2017-2022) Pembangunan Aceh pada tahun 2021 dilaksanakan dengan tema yaitu “Mengembangkan industri yang didukung oleh SDM berdaya saing dan pembangunan infrastruktur terintegrasi untuk percepatan pertumbuhan ekonomi inklusif”. Ada target capaian Indikator Makro Aceh dalam RKPA yang harus dicapai pada akhir tahun 2021, antara lain pertumbuhan ekonomi berkisar 5,75 persen. Sasaran tingkat kemiskinan pada kisaran 12,43.
1.3 Tantangan Daerah
1.3.1 Tantangan Ekonomi Daerah
a. Tantangan dalam mengelola potensi sumber daya alam
Sistem pengelolaan sumber daya alam belum memperhatikan kondisi alam secara optimal sehingga berdampak pada kerusakan lingkungan dan kelangsungan pembangunan daerah. Salah satu kerusakan lingkungan terjadi pada hutan di provinsi Aceh. Penyebab kerusakan antara lain adalah perambahan permukiman liar,
5 perladangan liar, kebakaran hutan dan illegal logging. Provinsi Aceh juga adalah salah satu provinsi dengan kekayaan sumber daya mineral dan batu bara dan dapat berdampak dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat, namun belum semua pengelolaan sumber daya tersebut dilakukan dengan tepat. Masih banyak kegiatan pertambangan (emas) masih bersifat ilegal sehingga mengakibatkan banyak kerugian dan persoalan baik bagi Provinsi Aceh dan masyarakat Aceh apabila dibandingkan manfaat yang dapat diperoleh dari pertambangan.
b. Tantangan dalam menciptakan iklim dan potensi investasi yang kondusif Tantangan dalam menciptakan iklim dan potensi investasi yang kondusif di Provinsi Aceh:
• Insinkronisasi regulasi dan rendahnya kepastian hukum dalam berusaha;
• Rendahnya koordinasi antar lembaga dan lintas sektoral;
• Rendahnya ketersediaan dan kualitas infrastruktur publik;
• Rendahnya kompetensi tenaga kerja lokal;
• Tingginya permasalahan lahan untuk penanaman modal;
• Rendahnya komitmen dan kepatuhan penanam modal;
• Belum terintegrasinya penerapan sistem pelayanan perizinan dan nonperizinan secara daring.
c. Tantangan birokrasi dan pelayanan perizinan
Aceh memiliki tantangan dalam rangka meningkatkan kualitas birokrasi, tata kelola, dan pelayanan publik melalui program Aceh Peumulia. Isu strategis di Aceh adalah bagaimana menempatkan pimpinan Satuan Kerja Perangkat Aceh (SKPA) sesuai dengan latar belakang dan bidang keahlian, serta membentuk aparatur pemerintah sebagai pelayan bagi masyarakat. Apabila Aceh dapat menyelesaikan isu strategis ini, maka sistem kelembagaan dan ketatalaksanaan pemerintahan yang efektif, efisien, transparan, dan akuntabel, serta meningkatkan sistem pengawasan dan penilaian kinerja aparatur pemerintah.
d. Tantangan dukungan permodalan, infrastruktur ekonomi; serta
Kepastian hukum sangat penting dalam upaya menarik minat penanam modal.
Hal tersebut menunjukkan adanya harmonisasi regulasi bidang penanaman modal, baik di tingkat nasional maupun daerah. Produk-produk hukum yang tumpang tindih atau saling bertentangan akan menghambat dan menyulitkan investor dalam menjalankan dan mengembangkan usaha. Perlu adanya pembenahan legislasi bidang penanaman modal secara terus menerus.
e. Kondisi ketenagakerjaan termasuk angkatan kerja dan produktivitasnya Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Ketenagakerjaan Provinsi Aceh tercatat Agustus 2021 tercatat terdapat 3.951.368 jiwa penduduk usia kerja. Dari jumlah
6
tersebut 63,78 persen penduduk termasuk dalam angkatan kerja yaitu sebanyak 2.520.157 jiwa, sedangkan 36,22 persen merupakan penduduk yang termasuk bukan angkatan kerja yaitu sebanyak 1.431.211 jiwa. Komposisi ini menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk usia kerja siap untuk memasuki pasar tenaga kerja terlihat dengan tingginya angkatan kerja yang mencapai 63,78 persen dari total penduduk usia kerja
1.3.2 Tantangan Sosial Kependudukan a. Kondisi demografi;
Hasil Sensus Penduduk (SP) 2020 mencatat, jumlah penduduk Aceh sebanyak 5,27 juta jiwa. Rinciannya, sebanyak 2,65 juta laki-laki dan 2,63 juta perempuan.
Berdasarkan kelompok umur, mayoritas penduduk di Serambi Mekah berusia produktif.
Rinciannya, ada penduduk usia produktif (15-64 tahun) sebanyak 3,55 juta jiwa atau 56,24 persen dari total penduduk Aceh, penduduk yang usianya sudah tidak produktif (di atas 64 tahun) sebanyak 266,64 ribu jiwa atau 5,1 persen dari total penduduk, dan penduduk usia belum produktif (0-14 tahun) sebanyak 1,64 juta jiwa atau 31,12 persen dari total penduduk. Dominannya jumlah penduduk usia produktif menandakan bahwa Aceh telah memasuki bonus demografi.
b. Struktur dan Jumlah Penduduk
Struktur penduduk Aceh memiliki pola struktur yang relatif mirip dengan struktur penduduk nasional yang terdiri dari 3 (tiga) jenis, yaitu (1) piramida penduduk muda, struktur ini menggambarkan komposisi penduduk dalam pertumbuhan dan sedang berkembang. Struktur penduduk ini menunjukkan jumlah angka kelahiran lebih besar dari angka kematian; (2) piramida stasioner, struktur ini menggambarkan keadaan penduduk yang tetap (statis) karena tingkat kematian rendah dan tingkat kelahiran relatif tidak tinggi; 3) piramida penduduk tua, struktur ini menggambarkan adanya penurunan tingkat kelahiran yang sangat pesat dan tingkat kematian yang relatif kecil.
c. Karakteristik Masyarakat
Budaya Aceh tidak lain adalah norma-norma yang berdasarkan agama Islam.
Budaya dan ajaran agama Islam telah berinteraksi dan berasimilasi secara harmonis dalam masyarakat dan telah berjalan selama ratusan tahun. Bentuk konkrit adat dan budaya dalam kehidupan masyarakat Aceh tidak hanya teraplikasi dalam bidang politik, hukum, dan sosial maupun dalam bidang ekonomi. Pesantren sebagai suatu lembaga pendidikan Islam yang mapan di Aceh dapat juga berperan sebagai pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat. Semakin banyak pesantren yang terlibat dalam aktivitas-aktivitas vokasi dan ekonomi, seperti usaha-usaha agribisnis yang mencakup
Jumlah penduduk Aceh sebanyak 5,27 juta jiwa yang didominasi penduduk usia produktif
7 pertanian tanaman pangan, peternakan, perikanan, kehutanan, pengembangan industri rumah tangga atau industri kecil seperti konveksi, kerajinan tangan, pertokoan, dan koperasi.
d. Adat Istiadat
Dalam masyarakat Aceh, adat istiadat adalah sesuatu yang tertulis maupun tidak tertulis yang menjadi pedoman di dalam bermasyarakat Aceh. Adat yang dilaksanakan merupakan titah dan amanah dari para pemimpin dan pengambil kebijakan guna berjalannya sistem dalam bermasyarakat. Dalam masyarakat Aceh, adat atau hukum adat tidak boleh bertentangan dengan ajaran agama Islam. Hal-hal yang telah diputuskan oleh para pemimpin dan ahli tersebut haruslah seirama dengan para pemimpin dan ahli tersebut harus sefrekuensi dengan ketentuan syariat. Apabila ada adat yang bertentangan dengan ajaran syariat maka hukum adat itu akan dihapuskan.
e. Mata pencaharian;
Aceh memiliki potensi sumber daya alam yang besar seperti cengkeh, batu bara, minyak dan gas, padi, kopi, kelapa sawit, kelapa, lada, nilam, pinang, kakao, atsiri, pala, ikan, dan lain-lain. Mata pencaharian pokok masyarakat Aceh adalah bertani di sawah dan ladang. Sedangkan masyarakat yang bermukim di sepanjang pantai dengan mata pencaharian sebagai nelayan.
f. Pola sosial;
Pola sosial masyarakat Aceh menunjukkan keunikannya yaitu masyarakat Aceh yang menjunjung tinggi nilai-nilai kolektivitas. Hal tersebut terwujud dengan kebiasaan masyarakat Aceh untuk berkumpul di warung kopi, saling mengunjungi ke kerabat dan teman, pelaksanaan kenduri serta upacara-upacara yang melibatkan banyak orang.
g. Tingkat Pendidikan;
Program pendidikan dasar sembilan tahun di provinsi Aceh sudah tercapai, yaitu pada tahun 2020 nilai Angka Partisipasi Sekolah (APS) kelompok umur 7-12 tahun sebesar 99,84 persen dari target 95 persen dan kelompok umur 13-15 tahun sebesar 98,49 tahun dari target 70 persen. Berdasarkan nilai rata-rata lama sekolah yang sudah mencapai 9,33 tahun. Angka tersebut menunjukkan bahwa penduduk Aceh telah menjalani pendidikan rata-rata sampai kelas 9 atau kelas 3 SMP. Berdasarkan ijazah tertinggi yang dimiliki, lebih dari separuh penduduk Aceh memiliki tingkat pendidikan SLTP ke atas. Pada tahun 2020, data menunjukkan bahwa terdapat sekitar 39,39 persen penduduk 10 tahun ke atas di Provinsi Aceh berpendidikan SD ke bawah, yaitu penduduk yang tidak tamat SD 13,34 persen dan tamat SD 22,96 persen. Sedangkan penduduk yang berhasil menamatkan jenjang SLTP sebanyak 60,63 persen.
Masyarakat Aceh menjunjung tinggi nilai-nilai kolektivitas
8
h. Pola kesehatan masyarakat, dan lain-lain.
Selama periode 2019 s.d. 2021, penduduk Aceh yang mengalami keluhan atau gangguan kesehatan cenderung lebih memilih tempat pelayanan kesehatan yang relatif lengkap dan modern sebagai tujuan memeriksakan diri dan mendapatkan pengobatan.
Berdasarkan urutan, 3 (tiga) tempat/fasilitas pelayanan kesehatan yang paling banyak digunakan oleh Penduduk Aceh adalah puskesmas/pustu (49,74 persen), praktik dokter/bidan (30,48 persen), dan rumah sakit pemerintah (14,94 persen).
1.3.3 Tantangan Geografis Wilayah
Aceh mempunyai posisi terletak di ujung barat laut Pulau Sumatera dengan ibukota provinsi berada di Banda Aceh. Aceh memiliki posisi strategis sebagai pintu gerbang lalu lintas perdagangan nasional dan internasional. Aceh menghubungkan belahan dunia timur dan barat yang secara astronomis terletak pada 01⁰58’37,2’’- 06⁰04’33,6” Lintang Utara dan 94⁰57’57,6”-98⁰17’13,2” Bujur Timur. Berdasarkan letak geografis, batas wilayah Aceh berbatasan dengan Selat Malaka dan Laut Andaman di sebelah utara. Di sebelah selatan dan sebelah barat, Aceh berbatasan dengan Samudera Hindia. Di sebelah timur, Aceh berbatasan dengan Sumatera Utara.
1.3.4 Tantangan Daerah sebagai Dampak Covid-19
Tantangan perekonomian Aceh ke depan adalah mengatasi dampak berlanjutnya upaya pemulihan ekpnomi Aceh sebagai dampak dari virus Covid-19.
Kondisi pembangunan ekonomi Aceh relatif rendah apabila dibandingkan dengan beberapa provinsi di Sumatera dan Nasional. Hal ini ditandai dengan pertumbuhan ekonomi yang masih rendah, tingkat kemiskinan dan pengangguran yang masih tinggi, terjadi permintaan ekspor luar negeri yang melambat sejalan dengan perlambatan World Trade Volume (WTV). Pada tahun 2016 s.d. 2019 tingkat pengangguran terbuka mengalami tren penurunan kemudian meningkat pada tahun 2020 karena banyaknya penduduk yang kehilangan pekerjaan ketika pandemi. Tingkat kemiskinan mengalami peningkatan ketika pandemi karena disebabkan menurunnya mobilitas masyarakat dan peningkatan pengangguran. Tren peningkatan Indeks Pembangunan Manusia menjadi lebih landai sejak terjadinya pandemi. Pada tahun 2020 pengeluaran per kapita disesuaikan mengalami penurunan memengaruhi pertumbuhan IPM yang rendah.
Aceh memiliki posisi strategis dalam lalu lintas perdagangan nasional dan internasional
9
9
Bab II ANALISIS EKONOMI REGIONAL
2.1 ANALISIS INDIKATOR MAKRO MAKROEKONOMI 2.1.1 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) adalah penjumlahan nilai output bersih perekonomian yang ditimbulkan oleh suatu kegiatan ekonomi di suatu wilayah tertentu (provinsi dan kabupaten/kota), dan dalam kurun waktu tertentu (satu tahun kalender).
Tujuan analisis PDRB yaitu untuk mengetahui tingkat pertumbuhan ekonomi suatu daerah termasuk di dalamnya tingkat kesejahteraan penduduk dan gambaran perekonomian di daerah tersebut secara umum.
Terdapat 2 metode penghitungan PDRB, yaitu atas dasar harga konstan (ADHK) dan atas dasar harga berlaku (ADHB). PDRB ADHK dihitung berdasarkan harga pada tahun dasar (saat ini menggunakan tahun dasar 2010), yang mana digunakan untuk mengetahui prestasi pertumbuhan ekonomi tiap tahun. PDRB ADHB menghitung nilai tambah barang dan jasa menggunakan harga tahun bersangkutan, yang mana digunakan untuk melihat pergeseran dan struktur ekonomi.
a. Laju Pertumbuhan Ekonomi
Laju pertumbuhan ekonomi Aceh pada tahun 2021 sebesar 2,79 persen. Angka tersebut meningkat dari pertumbuhan ekonomi tahun sebelumnya yang mengalami kontraksi sebesar 0,37
persen. Pertumbuhan ekonomi yang kembali positif menandakan terjadinya pemulihan akibat dampak Pandemi COVID-19.
Pertumbuhan selama satu tahun didorong oleh sektor yang tumbuh tinggi, seperti sektor transportasi dan
pergudangan sebesar 19,51 persen, sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial sebesar 9,71 persen, dan sektor informasi dan komunikasi sebesar 7,57 persen. Adanya kebijakan pelonggaran pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) berperan penting dalam mendorong pertumbuhan positif di beberapa sektor. Di samping
Analisis PDRB digunakan untuk mengetahui gambaran perekonomian di daerah
Pertumbuhan ekonomi Aceh tahun 2021 sebesar 2,16%.
4,19 4,61
4,14
-0,37
2,79
4,14 4,49 4,19
-0,74 3,59
5,07 5,17 5,02
-2,07
3,69
-3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6
2017 2018 2019 2020 2021
Persen
Aceh (dengan migas) Aceh (tanpa migas) Nasional
Sumber: BPS Aceh dan Nasional, diolah (2022)
Grafik 2. 1 Pertumbuhan Ekonomi Aceh dan Nasional Tahun 2017- 2021
10
itu, terdapat sektor yang pertumbuhannya yang mengalami kontraksi. seperti sektor penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar 6,11 persen dan jasa keuangan sebesar 5,08 persen.
Gambar 2. 1 Level Indeks PDRB Aceh Tahun 2020 dan 2021 (2019=100) Sumber: BPS Aceh, 2022 (diolah)
Sumber: BPS Aceh, 2022 (diolah)
Pertumbuhan sektor juga dapat dilihat berdasarkan perbandingan antara PDRB konstan tahun 2020 dan 2021 dengan PDRB konstan tahun 2019. Terlihat pada gambar 2.1, meskipun sektor transportasi dan pergudangan tumbuh tinggi pada tahun 2021, ternyata belum sebelumnya pulih dari tahun 2019. Sektor lainnya yang belum pulih yaitu sektor administasi pemerintahan, konstruksi, jasa lainnya, jasa perusahaan, penyediaan akomodasi dan makanan minuman. Lambatnya pertumbuhan sektor-sektor tersebut disebabkan oleh aktivitas masyarakat yang belum masif dan sektor pariwisata di Aceh belum terbuka sepenuhnya. Sementara itu, tingginya indeks sektor jasa kesehatan dan informasi dan komunikasi disebabkan oleh meningkatnya kegiatan jasa dalam penanganan COVID-19 serta pemberlakuan work from home (WFH) dan pembelajaran jarak jauh (PJJ).
b. Nominal PDRB
PDRB ADHB Aceh dengan migas tahun 2021 tercatat sebesar Rp184,98 triliun sedangkan PDRB ADHB tanpa migas sebesar Rp177,14 triliun.
• PDRB Berdasarkan Pengeluaran
Nilai PDRB nominal/ADHB Aceh tahun 2021 sebesar Rp184,98 triliun. Dari angka tersebut didominasi oleh pengeluaran konsumsi rumah tangga sebesar Rp106,39
11 triliun (57,52 persen dari total PDRB).
Kemudian disusul pembentukan modal tetap bruto (PMTB) sebesar Rp65,25 triliun dan pengeluaran konsumsi rumah pemerintah sebesar Rp38,69 triliun.
Kontribusi konsumsi rumah tangga ternyata turun dari tahun sebelumnya.
Bersamaan dengan itu, kontribusi ekspor meningkat menjadi 4,11 persen.
Peningkatan kontribusi ekspor didorong oleh peningkatan total ekspor dari tahun 2020. Ekspor tahun 2021 tercatat sebesar USD502,96 juta, meningkat 67,42
persen. Kelompok bahan bakar mineral terutama batubara menyumbangkan nilai ekspor sebesar USD345,17 juta. Kemudiaan disusul kelompok kopi, teh, dan rempah-rempah sebesaar USD72,39 juta dan kelompok buah-buahan sebesar USD25,16 juta.
Peningkatan permintaan batubara seiring dengan berjalannya pemulihan ekonomi global membuat harganya melonjak tajam. Harganya dimulai sebesar USD75,84/ton pada Januari 2021 dan harganya ditutup sebesar USD159,79/ton. Harga tertinggi selama satu tahun mencapai USD215,01/ton.
• PDRB Berdasarkan Per Sektor Lapangan Usaha
Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan menjadi kontributor terbesar di Aceh selama tiga tahun terakhir. Faktor geografis yang cocok untuk tanaman perkebunan dan tanaman pangan membuat banyak penduduk bermata pencahariaan sebagai petani. Pada tahun 2020 masing-masing kontribusi dari kedua subsektor tersebut yaitu sebesar 25,51
persen dan 19,68 persen dari PDRB sektor pertanian.
Besarnya kontribusi perkebunan didorong oleh komoditas yang telah menjangkau pasar luar negeri seperti kopi dan buah-buahan.
Setelah sektor pertanian, kontributor terbesar
Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan menjadi kontributor terbesar dalam PDRB Aceh
-26,75
0,53 3,05 -0,04
38,08 21,22 2,21
62,77
-19,34
0,48 4,11 0,09
35,28 20,92 1,92
57,52
-40 -20 0 20 40 60 80
Net Ekspor Antar Daerah Impor Luar Negeri Ekspor Luar Negeri Perubahan Inventori PMTB Konsumsi Pemerintah Konsumsi LNPRT Konsumsi Rumahtangga
Persen
2020 2021
Grafik 2. 2 Kontribusi Komponen PDRB Menurut Pengeluaran Tahun 2020 dan 2021
Sumber: BPS Aceh, diolah (2022)
Sumber: BPS Aceh, diolah (2022)
Grafik 2. 3 Kontribusi Sektor terhadap PDRB Tahun 2019-2021
29,50% 30,98% 30,06%
15,51% 14,79% 14,30%
10,25% 10,27% 10,30%
9,62% 10,67% 9,90%
4,81% 4,45% 6,65%
6,45% 4,60% 5,13%
23,85% 24,24% 23,66%
0%
20%
40%
60%
80%
100%
2019 2020 2021
Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Adm. Pemerintahan, Pertahanan, dan Jamsos Konstruksi
Pertambangan dan Penggalian Transportasi dan Pergudangan Sektor Lainnya
Sumber: BPS Aceh, diolah (2022)
12
selanjutnya yaitu sektor perdagangan besar, eceran, dan reparasi sebesar 19,24 triliun atau dengan persentase sebesar 14,62 persen. Serta Sektor Konstruksi sebesar Rp13,90 triliun dengan persentase sebesar 10,56 persen.
• PDRB Per Kapita
PDRB per Kapita menunjukan pendapatan rata-rata penduduk di suatu daerah yang diperoleh dari hasil pembagian pendapatan penduduk suatu daerah (PDRB) dengan jumlah penduduk. PDRB per kapita tahun 2020 mengalami penurunan yang disebabkan oleh penurunan PDRB ADHB akibat dampak pandemi COVID-19. Pada tahun 2021 PDRB per kapita meningkat menjadi Rp34,68 juta seiring meningkatnya aktivitas perekonomian. Nilai tersebut masih berada di bawah PDRB per kapita secara nasional. PDRB per kapita Aceh menduduki posisi ke-31 secara nasional dan urutan terbawah secara regional Sumatera.
Grafik 2. 4 PDRB Per Kapita Aceh Tahun 2017-2021
Sumber: BPS Aceh, 2022 (diolah)
2.1.2 Tingkat Suku Bunga
Sepanjang tahun 2021 terjadi satu kali penurunan tingkat suku bunga yaitu sebesar 2,5 basis poin menjadi 3,5 persen pada bulan Februari yang sebelumnya sebesar 3.75 persen pada bulan Januari. Angka 3,5 persen merupakan terendah selama 5 tahun terakhir. Bank Indonesia mempertahankan suku bunga 3,5 persen hingga akhir tahun. Penetapan tingkat bunga tersebut sebagai langkah lanjutan untuk mendorong momentum pemulihan ekonomi nasional.
28,10 29,52 30,88 31,63 34,68
51,89 55,99 59,32 57,27
62,24
0 10 20 30 40 50 60 70
2017 2018 2019 2020 2021
Juta Rp
Aceh Nasional PDRB per
kapita tahun 2021 senilai Rp34,68 juta.
Suka bunga BI berada di 3,5 persen per 31 Desember 2021.
13
Grafik 2. 5 Suku Bunga BI Tahun 2017-2021
Sumber: BI, 2022 (diolah)
2.1.3 Tingkat Inflasi
Pada Februari 2021 Aceh sempat mengalami deflasi tertinggi sebesar 0,65.
Deflasi tersebut dipicu oleh penurunan harga ikan tongkol, ikan kembung, dan ikan dencis. Inflasi kembali terjadi pada bulan April-Mei dengan adanya momentum bulan Ramadhan dan perayaan hari raya Idul Fitri. Di akhir tahun inflasi tercatat sebesar 0,71 yang didorong oleh kenaikan harga ikan tongkol, angkutan udara, dan ikan dencis.
Angka tersebut berada di atas inflasi nasional sebesar 0,57. Tingkat inflasi Aceh dan nasional tahun kalender (Januari-Desember) 2021 tercatat sebesar 2,24 persen dan 1,87 persen.
4,75%
6,00%
3,50%
0%
1%
2%
3%
4%
5%
6%
7%
Inflasi per 31 Desember 2021:
Bulanan : 0,71 persen Tahunan : 2,24 persen
1,02 0,81
0,85 0,74
1,27
0,59
-2 -1 1 2
J F M A M J J A S O N D J F M A M J J A S O N D J F M A M J J A S O N D
2019 2020 2021
Persen
Meulaboh Banda Aceh Lhokseumawe
0,4 0,79
0,71
0,32 0,57
-2 -1 0 1 2
J F M A M J J A S O N D J F M A M J J A S O N D J F M A M J J A S O N D
2019 2020 2021
Persen
Aceh Nasional
Sumber: BPS Aceh dan Nasional, diolah (2022) Sumber: BPS Nasional, diolah (2022)
Grafik 2. 6 Perkembangan Inflasi Kota di Aceh Grafik 2. 7 Inflasi Aceh dan Nasional Tahun 2019-2021
14
Terdapat tiga kota yang dijadikan sampel untuk perhitungan inflasi Provinsi Aceh, yaitu Kota Meulaboh, Banda Aceh, dan Lhokseumawe. Inflasi tahun kalender tertinggi dimiliki Banda Aceh sebesar 2,41 persen diikuti Meulaboh sebesar 2,07 dan Lhokseumawe sebesar 1,97 persen.
2.1.4 Nilai Tukar
Pada awal tahun 2021 rupiah dibuka di Rp13.903 per dollar AS. Pemulihan ekonomi AS yang lebih cepat daripada negara lain mendorong pemerintah AS untuk mengeluarkan kebijakan tapering yang bertujuan mengendalikan inflasi. Ekpektasi global terhadap hal tersebut memicu pemindahan modal dari wilayah-wilayah berisiko tinggi. Akibatnya, rupiah sempat melemah beberapa kali dengan puncaknya pada 14 April 2021 sebesar Rp14.648 per dollar AS. Pada akhir tahun 2021 rupiah berada di level 14.265 per dollar AS, melemah 366 poin atau 2,63 persen dibandingkan awal tahun.
Mata uang yuan Cina juga sempat mengalami beberapa penguatan seperti dollar AS. Di akhir tahun, rupiah ditutup pada level Rp2.238 per yuan Cina, melemah 97 poin atau 4,55 persen. Sementara itu, rupiah justru menguat terhadap mata uang euro Eropa dan yen Jepang masing-masing berada di level Rp16.127 per euro Eropa dan 12.389 per Yen Jepang.
Grafik 2. 8 Tren Mata Uang USD, CNY, EUR, dan JPY Sepanjang Tahun 2021
Sumber: BI, 2022 (diolah)
17.038
17.572
16.028 16.127
15.000 16.000 17.000 18.000
04-Jan-21 04-Feb-21 04-Mar-21 04-Apr-21 04-Mei-21 04-Jun-21 04-Jul-21 04-Agu-21 04-Sep-21 04-Okt-21 04-Nov-21 04-Des-21
EUR
13.903
13.875 14.648
14.265
13.200 13.600 14.000 14.400 14.800
04-Jan-21 04-Feb-21 04-Mar-21 04-Apr-21 04-Mei-21 04-Jun-21 04-Jul-21 04-Agu-21 04-Sep-21 04-Okt-21 04-Nov-21 04-Des-21
USD
2.141
2.266 2.238
2.000 2.080 2.160 2.240 2.320
04-Jan-21 04-Feb-21 04-Mar-21 04-Apr-21 04-Mei-21 04-Jun-21 04-Jul-21 04-Agu-21 04-Sep-21 04-Okt-21 04-Nov-21 04-Des-21
CNY
13.496 13.622
12.327
12.389
11.000 12.000 13.000 14.000
04-Jan-21 04-Feb-21 04-Mar-21 04-Apr-21 04-Mei-21 04-Jun-21 04-Jul-21 04-Agu-21 04-Sep-21 04-Okt-21 04-Nov-21 04-Des-21
JPY
Kurs per 31 Desember 2021:
USD 1 : Rp14.265 CNY 1 : Rp2.240 EUR 1 : Rp16.127 JPY 1 : Rp12.389
15 2.2 ANALISIS INDIKATOR KESEJAHTERAAN
2.2.1 Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
IPM Aceh pada tahun 2021 mencapai 72,18, meningkat 0,19 dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 71,99. Peningkatan tersebut lebih tinggi dibandingkan peningkatan IPM tahun 2020 terhadap IPM tahun 2019 yang sebesar 0,09. Berdasarkan kabupaten/kota, Kota Banda Aceh menempati posisi pertama dalam perolehan IPM tertinggi se-Aceh sebesar 85,71. Kabupaten Pidie Jaya memiliki IPM tertinggi bila dibandingkan kabupaten lainnya sebesar 73,60. Bila 23 kabupaten/kota dikelompokkan berdasarkan 4 kategori menurut BPS, maka terdapat 12 daerah berkategori sedang, 11 daerah berkategori tinggi, dan 1 daerah berkategori sangat tinggi.
Grafik 2. 9 Perkembangan IPM Provinsi Aceh Tahun 2017-2021
Sumber: BPS Aceh, 2022 (diolah)
2.2.2 Tingkat Kemiskinan
Tingkat kemiskinan tahun 2021 tercatat sebesar 15,53 persen, meningkat dari tahun 2020 sebesar 15,33 persen. Angka tersebut tertinggi selama 3 tahun terakhir. BPS Provinsi Aceh (2022) memperkirakan peningkatan tersebut disebabkan oleh beberapa faktor sebagai berikut:
• Sebagian besar penduduk Aceh bekerja di sektor pertanian. Di sisi lain kondisi sektor pertanian Aceh pada September 2021 belum sepenuhnya pulih. Hal ini tercermin dari laju pertumbuhan ekonomi pertanian, kehutanan, dan perikanan pada Triwulan III masih terkontraksi baik secara q to q (-0,11 persen) secara y on y (-3,25 persen) maupun juga laju pertumuhan Triwulan I s.d. III 2021 terhadap Triwulan I s.d. III 2020 c to c (-1,90 persen)
70,6
71,19
71,9 71,99 72,18
70,81
71,39
71,92 71,94
72,29
68 69 70 71 72 73
2017 2018 2019 2020 2021
Aceh Nasional 65,2766,41
66,99 67,44 67,56 67,83 69,22 69,31 69,44 69,46 69,46 69,84 70,7
71,67 72,18 72,33 73,27 73,37 73,58 73,6
76,11 77,44 77,57
85,71
Subulussalam Simeulue Aceh Barat Daya Aceh Selatan Gayo Lues Aceh Timur Aceh Singkil Nagan Raya Aceh Tenggara Aceh Tamiang Aceh Utara Aceh Jaya Pidie Aceh Barat Aceh Bireuen Bener Meriah Aceh Tengah Aceh Besar Pidie Jaya Sabang Langsa Lhokseumawe Banda Aceh
IPM Aceh tahun 2021 sebesar 72,18.
Tingkat kemiskinan tahun 2021 sebesar 15,53 persen.