• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tantangan Fiskal pada Sektor Unggulan Daerah

Dalam dokumen KATA PENGANTAR. Ismed Saputra (Halaman 79-0)

BAB IV ANALISIS SEKTOR UNGGULAN DAN POTENSIAL REGIONAL

4.2 Sektor Unggulan Daerah

4.2.5 Tantangan Fiskal pada Sektor Unggulan Daerah

Pemerintah Aceh dalam Rencana Kerja Pemerintah Aceh Tahun 2021 telah menetapkan 4 (empat) Prioritas Pembangunan Aceh Tahun 2021 yaitu:

(a) Mendorong pemulihan agroindustri dan pemberdayaan UMKM (b) Peningkatan Sumber Daya Manusia yang berdaya saing (c) Penguatan Ketahanan dan Kemandirian Pangan

(d) Peningkatan Kualitas Pelayanan Kesahatan

Beberapa hal yang mendorong dilakukannya prioritas untuk mendorong pemulihan agroindustri dan pemberdayaan UMKM antara lain:

(a) Masih kurangnya peran perbankan dalam pembiayaan di sektor real dalam mendukung kegiatan industri pengolahan di Aceh

(b) Belum optimalnya ketahanan pangan dan pengelolaan sumber daya mineral (c) Memfokuskan kepada kegiatan pengolahan dari sumberdaya berbasis industri

rumah tangga maupun UMKM

59

Sementara itu, permasalahan yang mengakibatkan ditetapkannya prioritas penguatan ketahanan dan kemandirian pangan adalah masih banyaknya penduduk miskin dengan kerawan gizi yang tinggi serta rendahnya kemampuan penduduk miskin dan rentan untuk memenuhi kebutuhan pangan.

Prioritas pembangunan Aceh sejalan dengan hasil analisis dengan menggunakan metode tipologi Klassen atas PDRB Aceh per Sektor tahun mulai tahun 2015 hingga tahun 2021 dimana sektor yang berada pada kuadran I dengan nilai DS (+) dan LQ (>1) antara lain Sektor Pertanian, Kehutanan dan Perikanan yang kemudian diikuti dengan sektor Administrasi Pemerintahan Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib, Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial serta Real Estate.

Sektor-sektor tersebut terbukti merupakan sektor yang selama ini mampu menopang pertumbuhan ekonomi di Aceh dengan menyerap banyak tenaga kerja serta menjadi penghubung antar arus modal/barang dari dan ke luar Aceh.

Sepanjang tahun 2021, pengeluaran pemerintah dalam bentuk alokasi APBN untuk Aceh masih menjadi sektor yang memberikan kontribusi untuk pertumbuhan ekonomi Aceh. Alokasi APBN untuk Aceh tahun 2021 sebesar Rp 48,47 triliun yang terdiri dari belanja satuan kerja Kementerian Negara/Lembaga sebesar Rp 14,36 triliun dan dalam bentuk Transfer Ke Daerah dan Dana Desa sebesar Rp 34,11 triliun. Selain dalam bentuk alokasi APBN, kontribusi fiskal pemerintah juga diberikan dalam bentuk Kredit Program seperti Kredit Usaha Rakyat kepada pelaku usaha kecil dan menengah serta Kredit Ultra Mikro (UMi) kepada pelaku usaha mikro.

Sektor Pertanian, Kehutanan dan Perikanan masih menjadi sektor usaha yang banyak menyerap tenaga kerja. Berdasarkan data BPS Aceh per Agustus 2021, penyerapan tenaga kerja di Aceh terbesar masih berada pada sektor pertanian, kehutanan dan perikanan mencapai 36,13 persen yang kemudian diikuti oleh sektor Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi dan Perawatan Mobil dan Sepeda Motor sebesar 16,24 persen. Walaupun kedua sektor ini dapat menyerap 50 persen tenaga kerja di Aceh, hal ini tidak sejalan dengan tingkat kesejahteraan masyarakat di Aceh.

Aceh masih menjadi provinsi dengan tingkat kemiskinan yang tinggi, terutama masyarakat yang ada di pedesaan. Mestinya dengan banyaknya lapangan usaha di sektor Pertanian, Kehutanan dan Perikanan yang banyak dilakukan di pedesaan, maka mestinya tingkat kemiskinan di pedesaan tidak terlalu tinggi. Oleh karena itu perlu perhatian dari pemerintah daerah bagaimana dana APBN yang dikucurkan dapat bermanfaat dalam mengentaskan keminskinan di desa.

60 4.2.6 Dukungan Kebijakan dan Stimulus Fiskal yang Diperlukan

Aceh merupakan salah satu Provinsi yang memiliki tingkat kemiskinan tertinggi di antara Provinsi lain di Sumatera. Hasil perhitungan BPS Aceh per September 2021 menunjukkan kenaikan tingkat kemiskinan Aceh menjadi 15,53 dari sebelumnya 15,43.

Oleh karena itu arah kebijakan Pemerintah perlu difokuskan pada program pengentasan kemiskinan, terutama yang ada di Desa.

Berbagai skema telah dilakukan oleh Pemerintah dalam rangka mengentaskan kemiskinan di desa antara lain dengan Dana Desa dan Dana Otsus Aceh yang sebagian diperuntukkan untuk pengentasan kemiskinan di Aceh. Sebagian alokasi Dana Desa digunakan untuk Bantuan Langsung Tunai (BLT) Desa, dimana bantuan sebesar Rp 300 ribu diberikan kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM).

Namun demikian perlu adanya kebijakan pemerintah yang lebih dapat memberdayakan masyarakat desa dengan memperkuat basis usaha maupun membuka lapangan usaha. Perlu adanya dukungan kepada para pelaku usaha di sektor pertanian, perkebunan dan perikanan dalam bentuk pinjaman kredit program. Pemberian kredit program baik melalui KUR maupun UMi kepada para pelaku UMKM di Aceh pada sektor pertanian, perkebunan dan perikanan belum maksimal. Untuk KUT hingga tahun 2021 baru diberikan kredit sebesar Rp 1,12 triliun kepada sekitar 43 ribu pelaku usaha.

Sementara untuk UMi yang kreditnya diberikan kepada para pelaku usaha ultra mikro, untuk sektor pertanian selama tahun 2021 baru mencapai Rp 16,70 miliar yang disalurkan kepada 4.481 debitur. Bahkan pembiayaan UMi di sektor perikanan cenderung kecil dengan total penyaluran sebesar Rp1,85 juta yang disalurkan kepada 2 debitur.

Oleh karena itu perlu adanya dukungan permodalan kepada para pelaku usaha terutama kepada para petani dan nelayan yang berada di pelosok desa sehingga mereka dapat meningkatkan kapasitas permodalan sehingga dapat meningkatkan hasil pertanian, perkebunan dan perikanan. Dengan demikian diharapkan kemiskinan terutama yang berasal dari sektor pertanian, perkebunan dan perikanan dapat dikurangi.

4.3 Sektor Potensial Daerah

4.3.1 Profil Sektor Potensial Daerah Berdasarkan Lapangan Usaha

Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih berpotensi menjadi penggerak roda perekonomian Aceh melalui komoditas kakao. Komoditas ini sudah lama menjadi sektor unggulan bagi beberapa daerah di Aceh, contohnya Pidie Jaya.

Kakao memiliki karakakteristik

Program KUR dan UMi menjadi salah salah satu kebijakan yang diperlukan mengentaskan kemiskinan

61

Sektor Pertanian dan Perkebunan masih menjadi sektor utama dengan laju pertumbuhan dan kontributor terhadap PDRB yang lebih besar dibandingkan dengan sektor lainnya. Selain kopi, terdapat komoditi yang juga berpotensi untuk memberikan penguatan terhadap sektor pertanian dan perkebunan di Aceh. Komiditi tersebut adalah kakao Aceh.

Kakao Aceh terkenal dengan kakao yang memiliki kualitas lebih unggul atau kualitas premium. Jika dibandingkan dengan kakao pada daerah lain, kakao Aceh unggul dalam segi tekstur maupun rasa. Di provinsi Aceh sendiri terdapat 4 daerah penghasil kakao terbesar yaitu Saree, Gayo Lues, Bireueun, dan Pidie Jaya. Dari keempat daerah tersebut, kakao paling unggul terdapat pada daerah Pidie Jaya.

Pidie Jaya merupakan salah satu kabupaten yang berada di Aceh dan berdiri berdasarkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2007 tanggal 2 Januari 2007, serta merupakan kabupaten pemekaran dari Kabupaten Pidie. Daerah yang berada di ketinggian 2000-2500 di atas permukaan laut dengan dominasi topografi ketinggian <

2000 di atas permukaan laut. Maka sangat wajar jika daerah Pidie Jaya menjadi daerah yang layak ditanami dengan tumbuhan kakao yang tumbuh dengan ketinggian < 800 di atas permukaan laut.

Kakao Pidie Jaya memiliki keunggulan dibandingkan daerah lain, baik dari segi rasa yang kekacang-kacangan, lebih mengkilat, serta lebih berat dibandingkan dengan kualitas di daerah Saree, Gayo Lues, dan Bireueun. Keunggulan kakao Aceh sudah terkenal di kalangan produsen kakao dan penikmat coklat. Sehingga sudah selayaknya komoditi kakao Aceh menjadi komiditi yang berpotensial terutama mendorong sektor pertanian dan perkebunan meningkatkan PDRB di Aceh.

4.3.2 Kontribusi Sektor Potensial Daerah terhadap Ketenagakerjaan Jika dilihat pada grafik

disamping, maka pertanian masih menjadi sektor utama yang menyumbang penyerapan tenaga kerja di Kab. Pidie Jaya. Sektor pertanian memiliki proporsi terbesar yang menyumbang penyerapan tenaga kerja sebesar 36,97 persen.

Sumber: BPS Pidie Jaya 2022 (diolah)

Sumber: BPS Pidie Jaya 2022 (diolah)

Grafik 4. 1 Persentase Penduduk Bekerja Berdasarkan Lapangan Usaha Kabupaten Pidie Jaya

Grafik 4. 2 Persentase Penduduk Bekerja Berdasarkan Lapangan Usaha Kabupaten Pidie Jaya

Sektor pertanian menyerap tenaga kerja terbesar di Pidie Jaya

62 2021 tercatat sebanyak 69.359 orang yang termasuk dalam angkatan kerja (Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja sebanyak 57,77 persen). Dari jumlah tersebut, sekitar 96,43 persen (66.881 orang) merupakan penduduk dengan status bekerja, sisanya sebanyak 2.478 orang masuk dalam kategori pengangguran. Jika dibandingkan dengan penduduk yang berstatus bekerja, maka 24.726 orang yang bekerja bergerak pada sektor pertanian dan perkebunan.

Tabel 4. 6 Sebaran Luas Lahan, Produksi, Petani, dan Tenaga Kerja Kakao

Tahun Luas Lahan (Ha) Produksi (Ton) Petani (KK) Tenaga Kerja (orang)

2017 14.980,00 6.786,40 17.370 16.328

2018 15.070,00 6.990,40 17.838 16.328

2019 15.070,00 6.990,40 17.838 16.328

2020 15.095,00 7.018,40 17.863 16.328

2021 15.123,00 6.998,40 17.863 16.328

Sumber: Dinas Perkebunan Pidie Jaya, 2022 (diolah)

Jika dilihat berdasarkan tabel diatas, bahwa pada tahun 2021 terdapat 17.863 petani kakao yang ada di Pidie Jaya. Angka ini cenderung meningkat sejak tahun 2018.

Kakao merupakan tumbuhan yang terkenal sebagai tumbuhan dengan masa pembungaan sepanjang tahun, serta dengan masa panen dalam kurun waktu 175 hari sejak berbunga. Untuk itu diperlukan tenaga kerja untuk melakukan panen buah kakao.

Penyerapan tenaga kerja pengolahan tanaman kakao setiap tahunnya stabil, yaitu 16.328 orang. Angka tersebut didapat dengan perhitungan secara kemungkinan tenaga kerja maksimal setiap tahunnya. Selain itu jika dibandingkan dengan tenaga kerja yang bergerak pada sektor pertanian dan perkebunan, maka sebesar 66,04 persen dari tenaga kerja yang bergerak pada sektor tersebut terletak pada komoditi kakao.

4.3.3 Kontribusi Sektor Potensial Daerah terhadap Pendapatan Negara dan Daerah

Berdasarkan tabel 4.7, dapat dilihat bahwa komponen penyumbang PAD terbesar pada Kabupaten Pidie Jaya adalah pada komponen retribusi daerah.

Sedangkan pajak daerah hanya menyumbang sebesar Rp8,78 miliar atau 10,66 persen dari total PAD. Perolehan PAD sebagian besar berasal dari retribusi daerah. Retribusi daerah Kabupaten Pidie Jaya terbesar berasal dari pengolahan limbah sampah dan pelayanan parkir. Hal ini berbanding terbalik dengan sektor pertanian sebagai penyumbang terbesar lapangan usaha di Kabupaten Pidie Jaya.

Tabel 4. 7 Pendapatan Kabupaten Pidie Jaya

Pendapatan Daerah 2019 2020 2021

Pendapatan Asli Daerah 68,83 79,57 82,37

Pendapatan Pajak Daerah 8,88 7,73 8,78

Pendapatan Retribusi Daerah 40,76 53,48 56,05

Pendapatan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan 2,51 2,80 2,53

Lain-lain PAD yang sah 16,68 15,57 15,01

63

Pendapatan Transfer 897,60 879,01 847,83

Lain-lain pendapatan daerah yang sah 81,55 25,66 15,93

Sumber: Kanwil DJPb Provinsi Aceh, 2022 (diolah)

Sedangkan jika dilihat potensi produksi kakao terus meningkat setiap tahunnya, meskipun mengalami penurunan pada tahun 2021. Hal ini dikarenakan telah banyak tumbuhan kakao yang sudah tua, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Namun penurunan produksi pada tahun 2021 tidak terlalu signifikan dibandingkan tahun 2020.

Produksi tahun 2021 sebesar 6.998,4 ton, hanya turun sebesar 0,28 persen dibandingkan tahun lalu yang sebesar 7.018,40 ton.

Komoditi kakao merupakan komoditi dengan jumlah produksi terbesar di Kabupaten Pidie Jaya. Dengan total produksi sebesar 11.063,1 ton pada tahun 2021, sebesar 63,26 persen merupakan hasil produksi komoditi kakao. Untuk itu jika dilihat berdasarkan potensinya, komoditi kakao berpotensi dapat meningkatkan pendapatan negara serta pendapatan daerah.

Kebutuhan kakao dunia sebesar 1,2 juta ton per tahun dan hanya 30-40 persen yang dapat dipenuhi secara nasional. Apabila Aceh saja mampu memenuhi kebutuhan kakao yang kurang tersebut dengan besarnya potensi kualitas kakao Aceh dibandingkan daerah yang lain, maka hal ini akan berpengaruh sangat baik terhadap pendapatan negara.

4.3.4 Dukungan Alokasi Anggaran APBN dan APBD

Tabel diatas merupakan sebaran DAK Fisik yang ada di Aceh tahun 2021. Jika dilihat berdasarkan tabel diatas, maka alokasi DAK Fisik yang diperuntukan untuk sektor pertanian hanya Rp2,40 miliar atau 3,29 persen dari total alokasi DAK Fisik Tahun 2021.

Alokasi DAK Fisik pada sektor pertanian ini terlampau kecil jika ditujukan untuk meningkatkan PDRB melalui sektor pertanian dan perkebunan. Untuk itu diharapkan pemerintah daerah dapat mengajukan alokasi penyaluran DAK Fisik dengan proporsi lebih besar untuk bidang pertanian.

Tabel 4. 8 Pagu dan Realisasi DAK Fisik Tahun 2021 Kabupaten Pidie Jaya

Nama Bidang Nama Sub Bidang Pagu Realisasi

Air Minum Air Minum (Penanggulangan Kemiskinan) 4,56 4,54

Irigasi Irigasi (Ketahanan Pangan) 5,50 5,41

Kelautan dan Perikanan Kelautan dan Perikanan (Ketahanan Pangan) 1,30 1,30

Pertanian Pertanian (Ketahanan Pangan) 2,40 2,40

Sanitasi Sanitasi (Penanggulangan Kemiskinan) 2,17 2,17

Jalan Jalan (Reguler) 9,67 9,55

Kesehatan dan Keluarga Berencana

Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi (Reguler) 1,41 1,10

Pelayanan Dasar 6,43 6,37

Pelayanan Kefarmasian dan Bahan Habis Pakai 2,17 2,16

64

Nama Bidang Nama Sub Bidang Pagu Realisasi

Pelayanan Rujukan 7,61 7,60

Pendidikan

Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) 1,41 1,30

Sekolah Dasar (SD) 20,25 20,00

Sekolah Menengah Pertama (SMP) 8,14 8,06

Total 73,03 71,97

Sumber: OMSPAN, 2022 (diolah)

Berdasarkan hasil wawancara tim Kanwil DJPb Provinsi Aceh ke Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya, bahwa Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya turut memberikan bantuan dan dukungan kepada para petani kakao. Adapun bantuan tersebut berupa bantuan bibit maupun dukungan lain yang ditujukan untuk membantu petani dalam melakukan peremajaan kakao. Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya juga sempat membuat kawasan industri coklat sebagai pengolahan coklat dari pemerintah daerah, namun saat ini telah tidak berjalan akibat kurangnya peminat.

4.3.5 Tantangan Fiskal pada Sektor Potensial Daerah

Upaya mendorong komoditi kakao yang potensial di pasar domestik maupun internasional harus dilakukan bukan hanya dari para petani namun juga dukungan pemerintah. Adapun beberapa tantangan fiskal yang terjadi adalah kurangnya dukungan dari pemerintah daerah secara khusus terhadap komoditi kakao. Seperti tidak adanya kebijakan atau kurangnya alokasi anggaran yang ditujukan untuk menangani berbagai permasalahan yang ada pada perkembangan komiditi kakao. Adapun permasalahan yang terdapat pada perkembangan komoditi kakao yaitu hama, peremajaan kakao yang sudah tua, dan pendampingan terhadap para petani.

Hama menjadi tantangan yang wajar dan dapat dirasakan hampir pada seluruh komoditi perkebunan maupun pertanian. Hama menyebabkan buah yang tumbuh dari pohon tidak memiliki kualitas yang baik, sehingga produksi kakao dapat menurun. Untuk itu diperlukan adanya pengendalian hama pada komoditi kakao. Pemerintah daerah maupun pemerintah pusat belum ada yang memberikan bantuan untuk pengendalian hama pada tumbuhan kakao, sehingga ketika terjadinya hama para petani harus mengeluarkan biaya tambahan untuk pemberantasan hama. Selain itu, perlu adanya pengendalian hama yang efektif dan efisien agar petani tidak mengeluarkan biaya yang lebih.

Kemudian, peremajaan kakao perlu dilakukan. Tumbuhan kakao tumbuh sekitar 20-30 tahun, setelah itu diperlukan peremajaan atas tumbuhan kakao tersebut. Hal ini juga yang menjadi permasalahan bagi para petani. Peremajaan kakao memerlukan biaya yang besar serta waktu yang lama dalam kurun waktu 3 tahun. Tidak banyak

Perlunya dukungan pemerintah untuk mendorong perkembangan komoditas kakao

65

petani yang mampu mengeluarkan biaya besar untuk melakukan peremajaan kakao, akibatnya banyak petani yang berganti dan beralih komoditi menjadi komoditi yang lebih mudah penanamannya dan lebih cepat menghasilkan. Hal ini tentunya akan mengurangi jumlah petani maupun produksi kakao. Untuk itu pemerintah juga perlu memberikan atensi terhadap peremajaan kakao ini, baik dukungan secara anggaran maupun dukungan secara pendampingan.

Perlunya pendampingan dari pemerintah daerah tidak hanya untuk memberikan ajaran kepada para petani untuk melakukan peremajaan kakao, namun juga untuk mengembangkan sumber daya masyarakat khususnya di komoditi kakao ini. Sampai dengan saat ini, baru terdapat satu orang pengusaha yang mampu melakukan pengolahan kakao secara home industry. Dari sekian banyak petani yang ada di Pidie Jaya, seharusnya pemerintah daerah mampu memberikan pendampingan kepada para petani berupa pemikiran untuk berwiraswasta. Tidak hanya biji kakao yang dapat dimanfaatkan pada tumbuhan kakao, namun kulitnya juga dapat dimanfaatkan. Kulit kakao dapat diolah menjadi pakan ternak. Seharusnya dengan meningkatnya pengembangan sumber daya manusia dalam pengolahan kakao, dapat meningkatkan sektor industri pengolahan dan dapat memberikan multiplier effect terhadap pembangunan perekonomian khususnya di Pidie Jaya.

4.3.6 Dukungan Kebijakan dan Stimulus Fiskal yang Diperlukan

Pemerintah daerah maupun pemerintah pusat perlu memberikan dukungan berupa kebijakan maupun stimulus fiskal untuk komoditi kakao. Dari tantangan yang ada diatas, maka diperlukan dukungan kebijakan maupun stimulus fiskal terhadap beberapa permasalahan diatas, yaitu pengendalian hama, peremajaan kakao yang sudah tua, dan pendampingan terhadap para petani.

Saat ini, Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya lebih berfokus terhadap peningkatan komoditi sawit. Hal ini karena saat ini harga komoditi sawit melonjak cukup tinggi, sejak harga sawit dunia meningkat. Namun jika diperhatikan, harga komoditi sawit lebih stabil dibandingkan dengan harga sawit, terutama ketika harga kakao tidak berdampak akibat pandemi Covid-19 sedangkan harga sawit sebaliknya. d. Harga kakao cenderung stabil seperti Rp28 ribu pada 2018, Rp13 ribu pada 2020, dan saat ini mencapai Rp32 ribu dan Rp50 ribu untuk biji fermentasi.

Selain itu, dukungan pemasaran dari pemerintah juga diperlukan untuk meningkatkan peluang penjualan kakao baik secara domestik maupun internasional.

Iklim investasi yang kurang baik juga seharusnya menjadi perhatian khususnya bagi pemerintah daerah untuk melakukan pembenahan. Tidak adanya infrastruktur yang

66 memadai dan tidak adanya kemudahan yang diberikan daerah untuk investor membuat kurangnya peminat investasi pada kakao tersebut. Untuk itu perlu adanya perbaikan berupa kebijakan dari pemerintah daerah yang dapat menciptakan iklim investasi yang baik.

67

67

BAB V ANALISIS HARMONISASI BELANJA PEMERINTAH PUSAT DAN PEMERINTAH DAERAH

5.1 Pendahuluan

Pemerintah harus mampu mewujudkan tujuan nasional melalui pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah pusat (K/L) dan daerah sebagai satu kesatuan dalam perencanaan pembangunan nasional. Sesuai PP No. 17 Tahun 2017 tentang Sinkronisasi Proses Perencanaan Dan Penganggaran Pembangunan Nasional dinyatakan bahwa Sinkronisasi Proses Perencanaan dan Penganggaran Pembangunan Nasional adalah suatu proses memadukan dan memperkuat penyusunan rencana dan anggaran pembangunan nasional serta pengendalian pencapaian sasaran pembangunan.

5.2 Harmonisasi Belanja K/L dengan DAK Fisik DAK Nonfisik, dan Dana Desa 5.2.1 Harmonisasi Belanja K/L dengan DAK Fisik

DAK Fisik adalah dana yang dialokasikan dalam APBN kepada daerah tertentu dengan tujuan untuk mendanai kegiatan khusus fisik yang merupakan urusan daerah dan sesuai dengan prioritas nasional. DAK Fisik bertujuan untuk mendorong penyediaan sarana dan prasarana pelayanan dasar publik, pemenuhan SPM, pencapaian Prioritas Nasional RKP tahun 2021, serta percepatan pembangunan daerah dan kawasan. Pagu DAK Fisik awal untuk wilayah Provinsi Aceh Tahun 2021 adalah sebesar Rp2.567,62 miliar, kemudian mengalami beberapa revisi anggaran sampai akhir tahun 2021 menjadi Rp2.530,64 miliar. Adapun realisasi selama Tahun 2021 telah terealisasi sebesar Rp2.387,89 miliar atau 94,36 persen.

Secara persentase, penyaluran tertinggi terdapat pada Kab. Pidie Jaya yang mencapai Rp71,97 miliar atau 98,55 persen dari pagu Rp74,03 miliar. Sedangkan penyaluran terendah terdapat pada Kab. Aceh Barat Daya yang hanya menyalurkan sebesar Rp57,91 miliar atau 84,40 persen dari pagu Rp68,67 miliar. Hal ini dikarenakan terdapat empat kontrak yang tidak dapat disalurkan. Satu kontrak pada Subbidang Pelayanan Rujukan sebesar Rp420,49 juta karena adanya perekaman ganda data kontrak, dan tiga kontrak pada Subbidang Pelayanan Kefarmasian dan Bahan Habis Pakai senilai Rp56,44 juta karena pihak ketiga tidak dapat memenuhi barang yang dipesan (gagal BAST).

Jika dilihat realisasi per bidang, Bidang Pendidikan menjadi bidang dengan pagu terbesar yaitu Rp819,80 miliar diikuti oleh Bidang Kesehatan dan Keluarga Berencana

68

dengan pagu sebesar Rp619,80 miliar. Sedangkan Bidang Lingkungan Hidup dan Kehutanan menjadi bidang dengan pagu terkecil. Jika dilihat berdasarkan persentase, penyaluran terbesar pada Bidang Sanitasi yang telah terealisasi sebesar 99,13 persen dari pagu Rp82,75 miliar. Adapun persentase terkecil yaitu pada Bidang Transportasi dan Pedesaan terealisasi sebesar 81,72 persen dari pagu Rp31,71 miliar.

(a) DAK Fisik Reguler

Penyaluran DAK Fisik Reguler Tahun 2021 secara total sudah terealisasi sebesar Rp1.575,21 miliar atau 93,43 persen dari total pagu Rp1.685,90 miliar.

Berdasarkan Data OMSPAN pada Desember 2021, data menunjukkan persentase penyaluran DAK Fisik Reguler tertinggi terdapat pada Kab. Aceh Utara yaitu sebesar 98,49 persen. Sedangkan persentase penyaluran terendah terdapat pada Kab. Aceh Barat Daya hanya sebesar 81,06 persen.

(b) DAK Fisik Penugasan

Penyaluran DAK Fisik Penugasan Tahun 2021 secara total adalah sebesar Rp812,68 miliar atau 95,71 persen dari total pagu yang sebesar Rp849,12 miliar. Kab.

Aceh Singkil memiliki persentase penyaluran terbesar yaitu sebesar 99,36 persen.

Sedangkan persentase penyaluran terendah terdapat pada Kab. Aceh Besar sebesar 86,24 persen. Terdapat 11 bidang pada DAK Fisik Penugasan Tahun 2021 di Aceh.

Bidang Irigasi menjadi bidang dengan pagu yang paling besar yaitu Rp141,41 miliar dengan realisasi mencapai 95,55 persen atau sebesar Rp7,78 miliar, dan Bidang Lingkungan Hidup menjadi bidang dengan pagu paling kecil yaitu sebesar Rp7,78 miliar dengan realisasi mencapai 83,53 persen atau sebesar Rp6,50 miliar. Secara persentase, Bidang Sanitasi menjadi bidang dengan persentase realisasi terbesar, yaitu 99,31 persen dari pagu Rp82,75 miliar.

(c) Cadangan DAK Fisik

Penyaluran Cadangan DAK Fisik Tahun 2021 adalah sebesar Rp3,098 miliar. Alokasi Cadangan DAK Fisik ini hanya diberikan kepada 3 persentase yaitu Kabupaten Aceh Singkil, Kabupaten Aceh Tengah, dan Kota Banda Aceh. Pengalokasian Cadangan DAK Fisik pada tahun 2021 ini dialokasikan untuk daerah-daerah tertentu yang perlu mendapat penanganan limbah medis akibat pandemi Covid-19 dengan total pagu Rp4,377 miliar.

69

Tabel 5. 1 Kertas Kerja Harmonisasi Belanja K/L dengan DAK Fisik

Kategori

miliar Irigasi 88,39 Rp135,12

miliar

Sanitasi 15.460 KK

Rp117,69

miliar Sanitasi 78,29 Rp82,18 miliar Sumber: OMSPAN dan MEBE, 2022 (diolah)

Harmonisasi Belanja K/L dengan DAK Fisik dengan kategori-kategori sebagai berikut:

a) Jalan Nasional

Sistem jaringan jalan yang ada di Aceh, berdasarkan status jalan, meliputi:

1. Sistem jaringan Jalan Nasional sepanjang 2.102,08 km (Kepmen PUPR No.250/KPTS/M/2015 tanggal 31 April 2015).

2. Jaringan Jalan Provinsi sepanjang 1.781,72 km (Keputusan Gubernur Aceh Nomor 620/1243/2015 tanggal 29 Oktober 2015

3. Jaringan Jalan kabupaten/kota sepanjang 19.766,26 km

Pada Tahun 2021, Kementerian Pekerjaan Umum melaksanakan Proyek Prasarana Bidang Konektivitas Darat (Jalan) di Aceh. Berdasarkan Data OM SPAN, Satker Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah II Aceh telah melakukan pencairan atas pekerjaan preservasi jalan Tapak Tuan-Aceh Selatan-Subullusasam dengan nilai realisasi Rp5.148.836.000 dan Preservasi Jalan Batas Aceh

Pada Tahun 2021, Kementerian Pekerjaan Umum melaksanakan Proyek Prasarana Bidang Konektivitas Darat (Jalan) di Aceh. Berdasarkan Data OM SPAN, Satker Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah II Aceh telah melakukan pencairan atas pekerjaan preservasi jalan Tapak Tuan-Aceh Selatan-Subullusasam dengan nilai realisasi Rp5.148.836.000 dan Preservasi Jalan Batas Aceh

Dalam dokumen KATA PENGANTAR. Ismed Saputra (Halaman 79-0)