Bab II ANALISIS EKONOMI REGIONAL
2.1 ANALISIS INDIKATOR MAKRO MAKROEKONOMI
2.1.4 Nilai Tukar
Pada awal tahun 2021 rupiah dibuka di Rp13.903 per dollar AS. Pemulihan ekonomi AS yang lebih cepat daripada negara lain mendorong pemerintah AS untuk mengeluarkan kebijakan tapering yang bertujuan mengendalikan inflasi. Ekpektasi global terhadap hal tersebut memicu pemindahan modal dari wilayah-wilayah berisiko tinggi. Akibatnya, rupiah sempat melemah beberapa kali dengan puncaknya pada 14 April 2021 sebesar Rp14.648 per dollar AS. Pada akhir tahun 2021 rupiah berada di level 14.265 per dollar AS, melemah 366 poin atau 2,63 persen dibandingkan awal tahun.
Mata uang yuan Cina juga sempat mengalami beberapa penguatan seperti dollar AS. Di akhir tahun, rupiah ditutup pada level Rp2.238 per yuan Cina, melemah 97 poin atau 4,55 persen. Sementara itu, rupiah justru menguat terhadap mata uang euro Eropa dan yen Jepang masing-masing berada di level Rp16.127 per euro Eropa dan 12.389 per Yen Jepang.
Grafik 2. 8 Tren Mata Uang USD, CNY, EUR, dan JPY Sepanjang Tahun 2021
Sumber: BI, 2022 (diolah)
17.038
04-Jan-21 04-Feb-21 04-Mar-21 04-Apr-21 04-Mei-21 04-Jun-21 04-Jul-21 04-Agu-21 04-Sep-21 04-Okt-21 04-Nov-21 04-Des-21
EUR
04-Jan-21 04-Feb-21 04-Mar-21 04-Apr-21 04-Mei-21 04-Jun-21 04-Jul-21 04-Agu-21 04-Sep-21 04-Okt-21 04-Nov-21 04-Des-21
USD
04-Jan-21 04-Feb-21 04-Mar-21 04-Apr-21 04-Mei-21 04-Jun-21 04-Jul-21 04-Agu-21 04-Sep-21 04-Okt-21 04-Nov-21 04-Des-21
CNY
04-Jan-21 04-Feb-21 04-Mar-21 04-Apr-21 04-Mei-21 04-Jun-21 04-Jul-21 04-Agu-21 04-Sep-21 04-Okt-21 04-Nov-21 04-Des-21
JPY
15 2.2 ANALISIS INDIKATOR KESEJAHTERAAN
2.2.1 Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
IPM Aceh pada tahun 2021 mencapai 72,18, meningkat 0,19 dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 71,99. Peningkatan tersebut lebih tinggi dibandingkan peningkatan IPM tahun 2020 terhadap IPM tahun 2019 yang sebesar 0,09. Berdasarkan kabupaten/kota, Kota Banda Aceh menempati posisi pertama dalam perolehan IPM tertinggi se-Aceh sebesar 85,71. Kabupaten Pidie Jaya memiliki IPM tertinggi bila dibandingkan kabupaten lainnya sebesar 73,60. Bila 23 kabupaten/kota dikelompokkan berdasarkan 4 kategori menurut BPS, maka terdapat 12 daerah berkategori sedang, 11 daerah berkategori tinggi, dan 1 daerah berkategori sangat tinggi.
Grafik 2. 9 Perkembangan IPM Provinsi Aceh Tahun 2017-2021
Sumber: BPS Aceh, 2022 (diolah)
2.2.2 Tingkat Kemiskinan
Tingkat kemiskinan tahun 2021 tercatat sebesar 15,53 persen, meningkat dari tahun 2020 sebesar 15,33 persen. Angka tersebut tertinggi selama 3 tahun terakhir. BPS Provinsi Aceh (2022) memperkirakan peningkatan tersebut disebabkan oleh beberapa faktor sebagai berikut:
• Sebagian besar penduduk Aceh bekerja di sektor pertanian. Di sisi lain kondisi sektor pertanian Aceh pada September 2021 belum sepenuhnya pulih. Hal ini tercermin dari laju pertumbuhan ekonomi pertanian, kehutanan, dan perikanan pada Triwulan III masih terkontraksi baik secara q to q (-0,11 persen) secara y on y (-3,25 persen) maupun juga laju pertumuhan Triwulan I s.d. III 2021 terhadap Triwulan I s.d. III 2020 c to c (-1,90 persen)
16
• Hasil data dari Kerangka Sampel Area (KSA) pada periode Maret 2021-September 2021, luas panen di Aceh mengalami penurunan sebesar 40,2 persen yaitu dari 45.230,45 hektar menjadi 27.037,8 hektar. Demikian juga dengan produksi padi yang juga mengalmai penurunan sebesar 39,3 persen dari 250.989,71 Ton-GKG menjadi 152.260,69 Ton-GKG
• Nilai Tukar Petani secara umum terjadi peningkatan namun pada sub sektor tanaman pangan pada September 2021 yang sebesar 96,56, lebih rendah dibandingkat Maret 2021 sebesar 99,31.
• Konsumsi rumah tangga juga masih belum sepenuhnya stabil di mana sisi pertumbuhan pengeluaran konsumsi rumah tangga Triwulan I s.d. III 2020 c to c masih terkontraksi (-0,66 persen)
• Berdasarkan data progress penyaluran Bansos sembako alokasi Juli-September 2021 per 2 Oktober 2021 baru tersalur 70,2 persen dari pagu KPM. Demikian juga yang tergambar melalui Susenas September 2021 di mana terjadi penurunan persentase rumah tangga penerima program sembako pada khususnya pada desil satu.
Grafik 2. 10 Perkembangan Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Aceh Tahun 2017-2021
Sumber: BPS Aceh dan Nasional, 2022 (diolah)
Sementara itu, tingkat kemiskinan nasional turun 0,43 persen dibandingkan Maret 2021 menjadi 9,71 persen yang disebabkan oleh penurunan tingkat kemiskinan seluruh provinsi, kecuali Aceh, Bali, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, dan Papua.
872,61 829,80 839,49 831,50 819,44 809,76 814,91 833,91 834,24 850,26 16,89%
15,92% 15,97% 15,68% 15,32%15,01% 14,99% 15,43% 15,33% 15,53%
10,64% 10,12% 9,82% 9,66% 9,41% 9,22% 9,78% 10,19% 10,14% 9,71%
-1%
1%
3%
5%
7%
9%
11%
13%
15%
17%
760 780 800 820 840 860 880
Mar-17 Sep-17 Mar-18 Sep-18 Mar-19 Sep-19 Mar-20 Sep-20 Mar-21 Sep-21 Ribu orang
Jumlah Penduduk Miskin Aceh Persentase Kemiskinan Aceh Persentase Kemiskinan Nasional
17
Grafik 2. 11 Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Daerah Perkotaan dan Perdesaan Aceh Tahun 2017-2021
Sumber: BPS Aceh, 2022 (diolah)
Sejauh ini tingkat kemiskinan perdesaan di Aceh masih lebih tinggi daripada tingkat kemiskinan perkotaan. Per Maret 2021 tingkat kemiskinan di perdesaaan sebesar 17,78 persen sedangkan di perkotaan sebesar 10,46 persen.
2.2.3 Tingkat Ketimpangan (Rasio Gini)
Rasio gini tahun 2021 berada di angka 0,323, lebih rendah tinggi daripada rasio Gini bulan September 2020 sebesar 0,319. Angka tersebut masih lebih rendah bila dibandingkan rasio Gini nasional. Aceh menempati urutan ke-12 rasio Gini terendah dari seluruh provinsi se-Indonesia. Berdasarkan daerah, rasio Gini di daerah perkotaan lebih tinggi daripada rasio Gini di daerah perdesaan. Hal tersebut menunjukkan ketimpangan di daerah perkotaan lebih tinggi daripada daerah perdesaan.
Grafik 2. 12 Perkembangan Rasio Gini Aceh Tahun 2017-2021
Sumber: BPS Aceh, 2022 (diolah)
172,35 166,77 172,09 163,36 168,11 165,97 173,90 184,89 190,43 700,26 663,03 667,40 668,14 651,33 643,79 641,01 649,02 643,81 11,11% 10,42% 10,44%
9,63% 9,68% 9,47% 9,84% 10,31% 10,46%
19,37%
18,36% 18,49% 18,52% 18,03% 17,68% 17,46% 17,96% 17,78%
0%
Mar-17 Sep-17 Mar-18 Sep-18 Mar-19 Sep-19 Mar-20 Sep-20 Mar-21 Sep-21 Ribu orang
Jumlah Penduduk Miskin di Perkotaan Jumlah Penduduk Miskin di Perdesaan
Persentase Penduduk Miskin di Perkotaan Persentase Penduduk Miskin di Perdesaan
0,329 0,329
0,325
0,318 0,319 0,321 0,323 0,319 0,324 0,323 0,393 0,391 0,389
0,384 0,382 0,380 0,381 0,385 0,384 0,381
0,347
Mar-17 Sep-17 Mar-18 Sep-18 Mar-19 Sep-19 Mar-20 Sep-20 Mar-21 Sep-21
Aceh Nasional Perkotaan (Aceh) Perdesaan (Aceh)
Tahun 2021 rasio Gini tercatat sebesar 0,324.
18
2.2.4 Kondisi Ketenagakerjaan dan Tingkat Pengangguran Pada Agustus 2021 kerja tersebut, penduduk yang bekerja sebanyak 2.261 ribu orang, meningkat 0,04 persen y-o-y. Tiga
sektor yang menyerap tenaga kerja paling banyak, yaitu pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 36,13 persen; perdagangan besar dan eceran sebesar 16,24 persen;
dan industri pengolahan sebesar 8,36 persen.
Dari sisi angka pengangguran tercatat jumlah pengangguran Aceh per Agustus 2021 sebanyak 159 ribu orang, turun bila dibandingkan dengan jumlah pengangguran per Februari 2021 yang sebanyak 161 ribu orang. Meski mengalami penurunan secara jumlah, tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Provinsi Aceh pada Agustus 2021 masih berada pada angka 6,30 persen, tidak mengalami perubahan dibandingkan dengan periode Februari 2021. Hal tersebut disebabkan oleh turunnya angkatan kerja sebanyak 29 ribu orang. Bila dilihat secara y-o-y, TPT telah telah mengalami penurunan yang menandakan penduduk mulai kembali bekerja seiring dengan kebijakan pelonggaran PPKM.
Tabel 2. 1 Dampak COVID-19 terhadap Penduduk Usia Kerja per Agustus 2020 dan 2021
Komponen Agu-2020 Agu-2021 Perubahan Agu-2021 terhadap Agu-2020
Ribu orang Ribu orang Persen
Pengangguran karena COVID-19 18 16 -2 -12,81
Bukan Angkatan Kerja (BAK) karena COVID-19 5 4 -1 -32,36
Sementara tidak bekerja karena COVID-19 21 7 -14 -0,66
Penduduk bekerja yang mengalami penguragan
jam kerja karena COVID-19 344 181 -164 -0,48
Total 388 207 -182 -0,47
Sumber: BPS Aceh dan Nasional, 2022 (diolah)
Dampak COVID-19 dapat terlihat perubahan komponen penduduk usia kerja.
Pada tabel 2.1 terlihat bahwa penduduk usia kerja yang terdampak COVID-19 pada
136 147 138 167 161 159
5,53%
Feb-19 Agu-19 Feb-20 Agu-20 Feb-21 Agu-21
Jumlah Pengangguran Aceh (Ribu Jiwa) TPT Aceh (%) TPT Nasional (%)
Sumber: BPS Aceh dan Nasional, diolah (2022)
Grafik 2. 13 Tingkat Pengangguran Terbuka Aceh dan Nasional Tahun 2019-2021
19 Agustus 2021 sebanyak 207 ribu orang, menurun sebanyak 182 ribu orang atau sebesar 0,47 persen. Dampak yang paling dirasakan yaitu penduduk bekerja yang mengalami pengurangan jam kerja karena COVID-19 yaitu sebanyak 181 ribu orang.
2.2.5 Nilai Tukar Petani (NTP)
Sejak terjadinya pandemi COVID-19 pada bulan Maret 2020 NTP berada di bawah level 100. Hal tersebut terus berlanjut sampai awal tahun 2021. Pada bulan Juni 2021 NTP Aceh dapat melampaui level 100 dan terus bertahan hingga akhir tahun. Per Desember 2021 NTP tercatat sebesar 104,33. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan tutup tahun pada periode sebelumnya dan tertinggi selama tiga tahun terakhir.
Perolehan NTP akhir tahun didorong oleh NTP untuk Subsektor Perkebunan Rakyat (NTPR) sebesar 118,04 dan NTP untuk Subsektor Perikanan (NTPN) sebesar 109,67.
Grafik 2. 14 Perkembangan NTP Aceh Tahun 2019-2021
Sumber: BPS Aceh dan Nasional, 2022 (diolah)
2.2.6 Nilai Tukar Nelayan (NTN)
Sementara itu, NTN tidak jauh berbeda dengan NTP yang nilainya berada di bawah 100 selama pandemi. Namun, NTN lebih cepat meningkat di atas 100 sejak Desember 2020 dan berlanjut hingga akhir tahun 2021. Per Desember 2021 NTN tercatat sebesar 109,67 atau naik sebesar 2,24 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Kenaikan tersebut disebabkan indeks yang diterima (It) naik sebesar 2,43 persen dan indeks yang dibayar petani (Ib) juga naik sebesar 0,19 persen. Kenaikan indeks yang diterima (It) seiring dengan adanya kenaikan harga ikan di laut dan hasil budidaya air payau. Perolehan NTN Desember 2021 telah melampaui NTN secara nasional.
93,92 93,35
20
Grafik 2. 15 Perkembangan NTN Aceh Tahun 2019-2021
Sumber: BPS Aceh dan Nasional, 2022 (diolah)
2.3 REVIU CAPAIAN KINERJA MAKRO KESRA REGIONAL
Pada bagian ini terdapat reviu target target tahun 2021 yang tertuang dokumen RPJMA tahun 2017-2022 dengan capaian pada tahun tersebut. Sasaran terbagi menjadi dua, yaitu sasaran makroekonomi dan kesejahteraan. Berikut di bawah ini target dan realisasi masing-masing indikator:
Tabel 2. 2 Hasil Reviu Efektivitas Kebijakan Makroekonomi dan Kesejahteraan Provinsi Aceh
No. Sasaran Makro
Target tidak tercapai disebabkan oleh terjadinya proses pemulihan
perekonomian pasca pandemi COVID-19 sejak awal Maret 2020
2 Laju Inflasi (%) 4 2,24 4
Target tidak tercapai karena sepanjang tahun terjadi 5 kali deflasi dan deflasi tertinggi terjadi pada bulan Februari sebesar 0,65
3 PDRB per kapita
ADHB (Juta Rp) 32,94 34,68 34,28
Target tercapai disebabkan oleh nilai PDRB yang meningkat seiring dengan adanya pemulihan
4 IPM 72,48 72,18 73
Target tidak tercapai karena pertumbuhan IPM menurun sejak terjadinya Pandemi COVID-19
5 Kemiskinan (%) 12,43 15,53 11,43
Target tidak tercapai karena tingkat kemiskinan tahun 2021 sektor pertanian dan konsumsi rumah tangga yang belum sepenuhnya pulih
6 Pengangguran (%) 6,22 6,3 6
Target tidak tercapai karena TPT tahun 2021 baru saja turun dari TPT tahun 2020 sebesar 6,59 persen
7 Rasio Gini 0,313 0,323 0,31
Target tidak tercapai karena sedang terjadi tren peningkatan ketimpangan di wilayah perkotaan
21 No. Sasaran Makro
Kesra
Target 2021
Realisasi 2021
Target
2022 Hasil Reviu
8 NTP 105 104,33 107
Target tidak tercapai karena NTP subsektor tanaman pangan, hortilkultura, dan peternakan masih di bawah 100
9 NTN 103 109,67 106
Target tercapai disebabkan oleh konsistensi nilai NTN di atas 100 sepanjang tahun
Sumber: BPS Aceh Nasional dan RPJMA, 2022 (diolah)
Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa banyak target yang tidak tercapai baik sasaran makroekonomi maupun kesra. Hanya indikator PDRB per kapita dan NTN yang mampu melampaui target. PDRB per kapita dapat tercapai disebabkan oleh peningkatan PDRB ADHB pada momentum pemulihan dan terkendalinya jumlah penduduk. Tercapainya perolehan NTN karena sepanjang tahun 2021 nilainya berada di atas ambang batas 100. Produksi dan perdagangan khususnya ekspor ikan cakalang dan tuna menjadi faktor pendorong perolehan NTN tersebut.
Sementara itu, tidak tercapainya sasaran disebabkan oleh 2 faktor utama yaitu terjadinya pandemi COVID-19 yang membuat perekonomian sempat mengalami resesi serta tidak adanya revisi dokumen RPJMD untuk merespon kejadian tersebut. Pandemi COVID-19 tidak hanya membuat pertumbuhan ekonomi mengalami kontraksi tetapi juga berdampak pada sosial masyarakat. Tahun 2020 dapat menjadi basis untuk penyusunan target RPJMA tahun 2023-2028 agar target realistis untuk dicapai. Diproyeksikan pada tahun 2022 perekonomian akan melanjutkan momentum rebound sehingga lebih banyak target yang dapat dicapai.
22
22
BAB III ANALISIS FISKAL REGIONAL
3.1 Pelaksanaan APBN tingkat provinsi
Pada tahun anggaran 2021, pendapatan negara tingkat Provinsi Aceh ditargetkan sebesar Rp5,75 triliun dan terealisasi sebesar Rp5,60 triliun atau 97,30 persen. Target pendapatan negara di Provinsi Aceh lebih kecil dalam tiga tahun terakhir, sebagai bentuk penyesuaian pendapatan negara pada masa new normal pandemi Covid-19. Namun dari sisi realisasi, pendapatan Aceh terealisasi lebih tinggi dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya yang mencapai angka Rp4,88 triliun atau sebesar 75,73 persen pada tahun 2020 dan Rp5,53 triliun atau sebesar 93,23 persen pada tahun 2019.
Tabel 3. 1 Realisasi APBN Provinsi Aceh Tahun 2019-2021
Uraian 2019 2020 2021
Pagu Realisasi %Realisasi Pagu Realisasi %Realisasi Pagu Realisasi %Realisasi PENDAPATAN NEGARA DAN
HIBAH 5.928,26 5.526,85 93,23% 6.439,27 4.876,24 75,73% 5.753,74 5.598,24 97,30%
Pendapatan Perpajakan 5.261,06 4.591,95 87,28% 5.816,28 3.971,46 68,28% 4.926,44 4.472,98 90,80%
Pendapatan Negara Bukan Pajak 667,20 934,90 140,12% 622,99 904,79 145,23% 827,30 1.125,26 136,02%
BELANJA NEGARA 52.093,94 50.706,39 97,34% 47.083,87 46.254,51 98,24% 48.471,30 47.976,92 98,98%
Belanja Pemerintah Pusat (BPP) 15.574,57 14.762,05 94,78% 13.176,58 12.586,83 95,52% 14.360,88 14.112,43 98,27%
Belanja Pegawai 6.653,63 6.543,47 98,34% 6.805,39 6.595,20 96,91% 6.896,37 6.982,63 101,25%
Belanja Barang 5.720,38 5.338,89 93,33% 4.123,30 3.893,98 94,44% 4.796,01 4.533,65 94,53%
Belanja Modal 3.158,51 2.841,09 89,95% 2.204,82 2.055,48 93,23% 2.629,86 2.557,52 97,25%
Belanja Sosial 42,06 38,60 91,79% 43,07 42,18 97,92% 38,64 38,64 99,99%
Transfer ke Daerah dan Dana
Desa (TKDD) 36.519,37 35.944,34 98,43% 33.907,29 33.667,67 99,29% 34.110,41 33.864,49 99,28%
Dana Transfer Umum (DTU) 16.844,02 16.720,67 99,27% 15.455,85 15.375,21 99,48% 15.083,24 15.082,34 99,99%
Dana Alokasi Umum 15.438,16 15.438,16 100,00% 14.315,42 14.236,29 99,45% 14.051,12 14.051,12 100,00%
Dana Bagi Hasil 1.405,86 1.282,51 91,23% 1.140,42 1.138,92 99,87% 1.032,11 1.031,22 99,91%
Dana Transfer Khusus (DTK) 6.231,32 5.784,21 92,82% 5.343,30 5.186,70 97,07% 5.965,57 5.724,62 95,96%
Dana Alokasi Khusus Fisik 2.742,87 2.608,12 95,09% 1.953,86 1.816,05 92,95% 2.535,02 2.387,89 94,20%
Dana Alokasi Khusus Non Fisik 3.488,45 3.176,09 91,05% 3.389,45 3.370,66 99,45% 3.430,55 3.336,73 97,27%
Dana Otsus dan DID 8.488,54 8.488,54 100,00% 8.128,05 8.128,05 100,00% 8.074,99 8.074,99 100,00%
Dana Otsus 8.357,47 8.357,47 100,00% 7.555,28 7.555,28 100,00% 7.555,83 7.555,83 100,00%
DID 131,06 131,06 100,00% 572,77 572,77 100,00% 519,16 519,16 100,00%
Dana Desa 4.955,50 4.950,92 99,91% 4.980,09 4.977,71 99,95% 4.986,62 4.982,54 99,92%
SURPLUS/DEFISIT (46.165,68) (45.179,54) 97,86% (40.644,60) (41.378,26) 101,81% (42.717,56) (42.378,69) 99,21%
Sumber: OMSPAN dan Simtrada DJPK, 2022 (diolah)
Pendapatan perpajakan masih menjadi sumber utama pendapatan negara yang berkontribusi sebesar 79,90 persen dari total pendapatan negara pada tahun 2021.
Sementara itu PNBP menyumbang kontribusi sebesar 20,10 persen, dengan nominal realisasi sebesar Rp1,13 triliun. Realisasi pendapatan Aceh dari perpajakan maupun PNBP pada tahun 2021, mengalami peningkatan dibandingkan realisasi tahun 2020. Hal ini menjadi sinyal positif mulai bangkitnya pertumbuhan ekonomi di Aceh, setelah terpuruknya perekonomian di tahun 2020 baik di Aceh maupun secara nasional.
Dari sisi belanja negara, alokasi anggaran di Provinsi Aceh pada tahun 2021 adalah sebesar Rp48,47 triliun rupiah yang terdiri dari Belanja Pemerintah Pusat (BPP) sebesar Rp14,36 triliun dan Dana Transfer Ke Daerah dan Dana Desa (TKDD) sebesar Rp34,11 triliun. Alokasi belanja tersebut meningkat sebesar Rp1,39 triliun atau 2,95
Pendapatan
23
persen dibandingkan tahun 2020. Hal ini juga seiring dengan persentase realisasi belanja negara yang meningkat dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.
Persentase realisasi belanja pada tahun 2021 merupakan yang terbesar dibandingkan tahun 2020 yang sebesar 98,24 persen dan pada 2019 hanya terealisasi sebesar 97,34 persen. Pemerintah daerah turut serta melakukan sinergi dengan pemerintah pusat dalam melakukan penyerapan belanja negara di Aceh, diharapkan dengan tingginya persentase realisasi belanja dapat memberikan dampak pada peningkatan pertumbuhan perekonomian masyarakat di Aceh.
3.1.1 Pendapatan Negara a. Pendapatan Perpajakan
Dari total realisasi pendapatan perpajakan di Aceh tahun 2021 sebesar Rp4,47 triliun, sebagian besar merupakan Pajak Dalam Negeri yang mencapai Rp4,42 triliun atau sebesar 98,86 persen dari total pendapatan perpajakan. Sedangkan Pajak Perdagangan Internasional hanya memberikan kontribusi sebesar Rp51,18 miliar atau 1,14 persen dari total penerimaan pajak di Aceh. Pendapatan dari pajak dalam negeri maupun pajak perdagangan internasional mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya.
Untuk Pajak Dalam Negeri, total realisasi penerimaan 2021 masih didominasi PPh Non Migas dan PPN. PPh Non Migas memiliki kontribusi terbesar sebesar yaitu 51,23 persen dengan total realisasi sebesar Rp2,27 triliun. Diikuti PPN yang memiliki kontribusi sebesar 44,04 persen dengan total realisasi Rp1,95 triliun. Cukai memiliki kontribusi paling kecil yaitu sebesar 0,01 persen dengan total realisasi sebesar Rp0,50 miliar. Sedangkan dari Pajak Perdagangan Internasional bersumber dari penerimaan Bea Masuk dan Bea Keluar sebagai kontributor terbesar pajak perdagangan internasional. Realisasi Bea Keluar pada tahun 2021 sebesar Rp49,82 miliar, sedangkan penerimaan Bea Masuk hanya sebesar Rp1,37 miliar.
Grafik 3. 1 Realisasi Pajak Dalam Negeri Per Jenis Pajak
Sumber: OMSPAN, 2022 (diolah)
PPh Migas Pajak Lainnya PPh Non Migas PPN PBB Cukai Miliar Rp
24 Berdasarkan grafik 3.1, peningkatan realisasi terjadi pada PPh Migas, PPh Non Migas, PPN serta Pajak Lainnya. PPh Migas mengalami peningkatan terbesar secara persentase pada tahun 2021 yang sebesar 114025,55 persen atau Rp60,13 miliar dibandingkan tahun sebelumnya. Diikuti oleh Pajak Lainnya yang mengalami peningkatan sebesar 23,81 persen dibanding realisasi tahun lalu sebesar Rp74,52 miliar. Kemudian realisasi PPh Non Migas sebagai kontributor terbesar pada penerimaan pajak dalam negeri tahun 2021 sebesar Rp2,27 triliun juga mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2020 yang sebesar Rp2,05 triliun. PPN yang mengalami peningkatan sebesar 8,89 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp1,79 triliun. Hal ini seiring dengan aktivitas perekonomian yang mengalami penguatan di Aceh, terutama sejak penanganan Covid-19 varian delta.
Sementara itu dari 6 jenis Pajak Dalam Negeri, realisasi PBB dan Cukai mengalami penurunan jika dibandingkan tahun sebelumnya. Realisasi penerimaan PBB pada tahun 2021 yang sebesar Rp56,32 miliar mengalami penurunan sebesar Rp0,64 miliar atau 1,13 persen dari tahun sebelumnya.
Sedangkan Cukai pada tahun 2021 terealisasi sebesar Rp0,50 miliar mengalami penurunan terbesar yaitu 61,98 persen dibandingkan realisasi pada tahun 2020 yang sebesar Rp1,31 miliar.
Total pendapatan pajak perdagangan internasional pada tahun 2021 sebesar Rp51,18 miliar yang terdiri dari pendapatan Bea Keluar dan pendapatan Bea Masuk.
Bea Keluar merupakan kontributor terbesar yang menyumbang 97,33 persen total pendapatan pajak perdagangan internasional, sementara Bea Masuk hanya menyumbang sebesar 2,67 persen atau Rp1,37 miliar. Bea Masuk dan Bea Keluar mengalami peningkatan yang sangat signifikan yaitu melebihi 100 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Lonjakan pada Bea Keluar di Aceh dipengaruhi oleh kegiatan ekspor dan harga komoditas khususnya produk kelapa sawit.
Sumber: OMSPAN, 2022 (diolah)
Grafik 3. 2 Penerimaan Pajak Internasional Aceh Tahun 2019-2021
3,45 0,00 0,64 3,03 1,37 49,82
0 20 40 60
2019 2020 2021
Miliar Rp
Bea Masuk Bea Keluar
25
Jika dilihat pendapatan pajak secara sektoral, pendapatan pajak di Aceh masih didominasi oleh Sektor Administrasi Pemerintahan yang sebesar Rp1,10 triliun atau menyumbang 23,74 persen dari total pendapatan pajak. Diikuti oleh Sektor Perdagangan Besar dan Eceran yang sebesar Rp859,75 miliar atau menyumbang 18,48 persen. Sektor Pengadaan Air menjadi sektor
terkecil penyumbang pendapatan pajak yang hanya Rp5,29 miliar.
b. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Realisasi PNBP di Aceh
tahun 2021 sebesar Rp1,13 triliun, meningkat jika dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp904,79 miliar. Realisasi PNBP terdiri dari pendapatan layanan BLU dan PNBP Lainnya.
Pendapatan BLU pada tahun 2021 terealisasi sebesar Rp601,59 miliar, meningkat jika dibandingkan
dengan realisasi tahun sebelumnya yang sebesar Rp401,99 miliar. Pendapatan BLU terus mengalami kenaikan dalam tiga tahun terakhir.
Setelah sejak tahun 2019 PNBP Lainnya menjadi jenis PNBP dengan kontribusi penerimaan terbesar, namun pada tahun 2021 Pendapatan BLU menjadi kontributor terbesar pada PNBP sebesar 53,46 dari total PNBP. Meskipun demikian, penerimaan PNBP Lainnya mengalami peningkatan sebesar 4,15 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp502,80 miliar. Berdasarkan tabel di bawah terlihat bahwa penerimaan dalam rangka peningkatan kualitas layanan umum memiliki kontribusi terbesar dalam PNBP Lainnya. Pada tahun 2021, Pendapatan Pendidikan, Budaya, Riset dan Teknologi berkontribusi sebesar Rp217,51 miliar. Pendapatan Pendidikan, Budaya, Riset dan Teknologi sebagai kontributor terbesar meningkat dibandingkan tahun 2020 yang sebesar Rp198,73 miliar. Peningkatan kualitas pendidikan juga
Grafik 3. 3 Pendapatan Pajak Sektoral di Aceh
Sumber: Kanwil DJP Provinsi Aceh, 2022 (diolah)
Sumber: OMSPAN, 2022 (diolah)
Grafik 3. 4 Perkembangan Realisasi PNBP di Aceh 23,74%
26 menjadi fokus Pemerintah Aceh untuk meningkatkan taraf hidup di Aceh, hal ini selaras dengan peningkatan nilai IPM Aceh setiap tahunnya. Selanjutnya diikuti oleh Pendapatan Administrasi dan Penegakan Hukum dengan realisasi pada tahun 2021 sebesar Rp161,76 miliar. Sedangkan kontribusi terkecil diperoleh dari Pendapatan Jasa Lainnya yaitu Rp655,28 juta pada tahun 2021.
Tabel 3. 2 Realisasi PNB Lainnya Berdasarkan Jenis
No Uraian 2019 2020 2021
1 Pendapatan Dari Penjualan, Pengelolaan Bmn, Dan Iuran Badan Usaha 19,18 12,61 16,83
2 Pendapatan Administrasi Dan Penegakan Hukum 168,78 157,02 161,76
3 Pendapatan Kesehatan, Perlindungan Sosial, Dan Keagamaan 101,61 95,83 69,82 4 Pendapatan Pendidikan, Budaya, Riset, Dan Teknologi 186,64 198,73 217,51 5 Pendapatan Jasa Transportasi, Komunikasi Dan Informatika 17,53 17,79 42,57
6 Pendapatan Jasa Lainnya 0,43 0,31 0,66
7 Pendapatan Bunga, Pengelolaan Rekening Perbankan, Dan Pengelolaan Keuangan 3,52 2,89 4,02
8 Pendapatan Denda 6,41 1,92 4,03
9 Pendapatan Lain-Lain 52,79 15,68 6,49
TOTAL 556,90 502,80 523,67
Sumber: OMSPAN, 2022 (diolah)
3.1.2 Belanja Negara
Pemerintah menggunakan kebijakan counter cyclical sebagai upaya menjaga belanja negara untuk bisa meminimalkan kerusakan akibat Covid-19. Counter cyclical artinya mengambil pendekatan sebaliknya, yaitu mengurangi pengeluaran dan menaikkan pajak selama ekonomi sedang meningkat, serta meningkatkan pengeluaran dan memangkas pemungutan pajak ketika sedang dalam masa resesi. Hal ini dilakukan untuk melaksanakan fungsi stabilitas pada APBN yang bertujuan untuk menjaga konsumsi dan daya beli masyarakat di masa krisis.
a. Belanja Pemerintah Pusat
• Berdasarkan Jenis Belanja
Secara total keseluruhan pagu belanja BPP di Provinsi Aceh mengalami peningkatan sebesar Rp1,18 triliun atau 8,99 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp13,18 triliun. Porsi anggaran terbesar dialokasikan pada belanja pegawai yaitu sebesar Rp6,98 triliun atau 48,02 persen dari total BPP di wilayah Aceh.
Belanja Bantuan Sosial mendapatkan porsi alokasi anggaran terkecil sebesar Rp38,64 miliar.
Belanja pemerintah pusat meningkat sebesar Rp1,18 triliun
27
Hampir seluruh jenis belanja mengalami peningkatan pagu. Peningkatan pagu tertinggi secara persentase
terdapat pada Belanja Modal yang sebesar
pagu dibandingkan tahun sebelumnya, hal ini dikarenakan pemerintah menambahkan kebijakan yang digunakan untuk bantuan sosial yang berasal dari dana TKDD maupun APBD. Jika dilihat secara persentase realisasi, tahun 2021 mengalami peningkatan persentase realisasi dibandingkan tahun 2020. Hal ini mengindikasikan kinerja pemerintah di Aceh meningkat di tahun 2021 dengan melakukan penyerapan belanja negara yang maksimal.
• Berdasarkan Kementerian Negara/Lembaga
Alokasi APBN Tahun Anggaran 2021 untuk Belanja Pemerintah Pusat di Provinsi Aceh sebesar Rp14,36 triliun untuk membiayai 45 Kementerian Negara/Lembaga (K/L).
Realisasi hingga berakhirnya TA 2021 mencapai Rp14,11 triliun atau sebesar 98,27 persen. Dilihat dari Pagunya, 15 K/L dengan Pagu Besar, penyumbang 88,40 persen APBN di Provinsi Aceh, telah memenuhi target penyerapan di atas 90 persen. Secara keseluruhan terdapat 40 K/L yang memenuhi target penyerapan. Sisa alokasi yang tidak terserap mencapai Rp248,45 miliar
atau sebesar 1,73 persen dari seluruh alokasi.
Terdapat pagu minus yang berada pada Kementerian Agama (Kemenag) sebesar Rp99,96 miliar. Hal ini dikarenakan realisasi pada belanja pegawai pada K/L Kemenag lebih tinggi dibandingkan dengan alokasi anggarannya. Terdapat K/L yang mempunyai pengaruh besar dengan
98,34%
Belanja Pegawai Belanja Barang Belanja Modal Belanja Sosial
Pagu 2019 Pagu 2020 Pagu 2021
% Realisasi 2019 % Realisasi 2020 % Realisasi 2021
Grafik 3. 5 Perkembangan Realisasi PNBP di Aceh
Sumber: OMSPAN, 2022 (diolah)
Sumber: OMSPAN, 2022 (diolah)
Tabel 3. 3 Tingkat Penyerapan 15 K/L Pagu Terbesar Tahun Anggaran 2021
Pagu Realisasi Sisa Blokir Juta Rp
1 Kementerian Agama 3101,86 3201,82 -99,96 7,53
2
Kementerian Pekerjaan Umum dan
Perumahan Rakyat 2957,28 2852,55 104,73 196,83
3 Kementerian Pertahanan 2267,21 2222,52 44,69 0,00
4 Kepolisian Negara Republik Indonesia 1712,43 1705,85 6,58 0,00 5
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan,
Riset, dan Teknologi 1311,50 1222,73 88,77 0,00
6 Mahkamah Agung 333,21 328,43 4,78 0,00
7 Kementerian Perhubungan 323,78 314,67 9,11 0,00
8
Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia
RI 264,90 253,39 11,51 0,00
9 Kementerian Agraria dan Tata Ruang/BPN 211,91 201,79 10,13 0,00
10 'Kementerian Keuangan 192,01 187,35 4,66 0,00
11 'Kejaksaan Republik Indonesia 173,19 171,89 1,30 0,00
12 'Kementerian Kesehatan 158,67 144,14 14,53 0,00
13 'Badan Pusat Statistik 112,75 109,59 3,16 0,00
14
Kementerian Lingkungan Hidup dan
Kehutanan 106,68 99,07 7,61 0,00
15
Badan Kependudukan dan Keluarga
Berencana Nasional (BKKBN) 96,92 95,26 1,66 0,00
16 30 K/L Lainnya 824,93 794,66 30,27 0,00
No. Nama Kementerian/Lembaga Miliar Rp