• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tantangan Daerah

Dalam dokumen KATA PENGANTAR. Ismed Saputra (Halaman 22-28)

BAB I SASARAN PEMBANGUNAN DAN TANTANGAN DAERAH

1.3 Tantangan Daerah

1.3.1 Tantangan Ekonomi Daerah

a. Tantangan dalam mengelola potensi sumber daya alam

Sistem pengelolaan sumber daya alam belum memperhatikan kondisi alam secara optimal sehingga berdampak pada kerusakan lingkungan dan kelangsungan pembangunan daerah. Salah satu kerusakan lingkungan terjadi pada hutan di provinsi Aceh. Penyebab kerusakan antara lain adalah perambahan permukiman liar,

5 perladangan liar, kebakaran hutan dan illegal logging. Provinsi Aceh juga adalah salah satu provinsi dengan kekayaan sumber daya mineral dan batu bara dan dapat berdampak dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat, namun belum semua pengelolaan sumber daya tersebut dilakukan dengan tepat. Masih banyak kegiatan pertambangan (emas) masih bersifat ilegal sehingga mengakibatkan banyak kerugian dan persoalan baik bagi Provinsi Aceh dan masyarakat Aceh apabila dibandingkan manfaat yang dapat diperoleh dari pertambangan.

b. Tantangan dalam menciptakan iklim dan potensi investasi yang kondusif Tantangan dalam menciptakan iklim dan potensi investasi yang kondusif di Provinsi Aceh:

• Insinkronisasi regulasi dan rendahnya kepastian hukum dalam berusaha;

• Rendahnya koordinasi antar lembaga dan lintas sektoral;

• Rendahnya ketersediaan dan kualitas infrastruktur publik;

• Rendahnya kompetensi tenaga kerja lokal;

• Tingginya permasalahan lahan untuk penanaman modal;

• Rendahnya komitmen dan kepatuhan penanam modal;

• Belum terintegrasinya penerapan sistem pelayanan perizinan dan nonperizinan secara daring.

c. Tantangan birokrasi dan pelayanan perizinan

Aceh memiliki tantangan dalam rangka meningkatkan kualitas birokrasi, tata kelola, dan pelayanan publik melalui program Aceh Peumulia. Isu strategis di Aceh adalah bagaimana menempatkan pimpinan Satuan Kerja Perangkat Aceh (SKPA) sesuai dengan latar belakang dan bidang keahlian, serta membentuk aparatur pemerintah sebagai pelayan bagi masyarakat. Apabila Aceh dapat menyelesaikan isu strategis ini, maka sistem kelembagaan dan ketatalaksanaan pemerintahan yang efektif, efisien, transparan, dan akuntabel, serta meningkatkan sistem pengawasan dan penilaian kinerja aparatur pemerintah.

d. Tantangan dukungan permodalan, infrastruktur ekonomi; serta

Kepastian hukum sangat penting dalam upaya menarik minat penanam modal.

Hal tersebut menunjukkan adanya harmonisasi regulasi bidang penanaman modal, baik di tingkat nasional maupun daerah. Produk-produk hukum yang tumpang tindih atau saling bertentangan akan menghambat dan menyulitkan investor dalam menjalankan dan mengembangkan usaha. Perlu adanya pembenahan legislasi bidang penanaman modal secara terus menerus.

e. Kondisi ketenagakerjaan termasuk angkatan kerja dan produktivitasnya Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Ketenagakerjaan Provinsi Aceh tercatat Agustus 2021 tercatat terdapat 3.951.368 jiwa penduduk usia kerja. Dari jumlah

6

tersebut 63,78 persen penduduk termasuk dalam angkatan kerja yaitu sebanyak 2.520.157 jiwa, sedangkan 36,22 persen merupakan penduduk yang termasuk bukan angkatan kerja yaitu sebanyak 1.431.211 jiwa. Komposisi ini menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk usia kerja siap untuk memasuki pasar tenaga kerja terlihat dengan tingginya angkatan kerja yang mencapai 63,78 persen dari total penduduk usia kerja

1.3.2 Tantangan Sosial Kependudukan a. Kondisi demografi;

Hasil Sensus Penduduk (SP) 2020 mencatat, jumlah penduduk Aceh sebanyak 5,27 juta jiwa. Rinciannya, sebanyak 2,65 juta laki-laki dan 2,63 juta perempuan.

Berdasarkan kelompok umur, mayoritas penduduk di Serambi Mekah berusia produktif.

Rinciannya, ada penduduk usia produktif (15-64 tahun) sebanyak 3,55 juta jiwa atau 56,24 persen dari total penduduk Aceh, penduduk yang usianya sudah tidak produktif (di atas 64 tahun) sebanyak 266,64 ribu jiwa atau 5,1 persen dari total penduduk, dan penduduk usia belum produktif (0-14 tahun) sebanyak 1,64 juta jiwa atau 31,12 persen dari total penduduk. Dominannya jumlah penduduk usia produktif menandakan bahwa Aceh telah memasuki bonus demografi.

b. Struktur dan Jumlah Penduduk

Struktur penduduk Aceh memiliki pola struktur yang relatif mirip dengan struktur penduduk nasional yang terdiri dari 3 (tiga) jenis, yaitu (1) piramida penduduk muda, struktur ini menggambarkan komposisi penduduk dalam pertumbuhan dan sedang berkembang. Struktur penduduk ini menunjukkan jumlah angka kelahiran lebih besar dari angka kematian; (2) piramida stasioner, struktur ini menggambarkan keadaan penduduk yang tetap (statis) karena tingkat kematian rendah dan tingkat kelahiran relatif tidak tinggi; 3) piramida penduduk tua, struktur ini menggambarkan adanya penurunan tingkat kelahiran yang sangat pesat dan tingkat kematian yang relatif kecil.

c. Karakteristik Masyarakat

Budaya Aceh tidak lain adalah norma-norma yang berdasarkan agama Islam.

Budaya dan ajaran agama Islam telah berinteraksi dan berasimilasi secara harmonis dalam masyarakat dan telah berjalan selama ratusan tahun. Bentuk konkrit adat dan budaya dalam kehidupan masyarakat Aceh tidak hanya teraplikasi dalam bidang politik, hukum, dan sosial maupun dalam bidang ekonomi. Pesantren sebagai suatu lembaga pendidikan Islam yang mapan di Aceh dapat juga berperan sebagai pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat. Semakin banyak pesantren yang terlibat dalam aktivitas-aktivitas vokasi dan ekonomi, seperti usaha-usaha agribisnis yang mencakup

Jumlah penduduk Aceh sebanyak 5,27 juta jiwa yang didominasi penduduk usia produktif

7 pertanian tanaman pangan, peternakan, perikanan, kehutanan, pengembangan industri rumah tangga atau industri kecil seperti konveksi, kerajinan tangan, pertokoan, dan koperasi.

d. Adat Istiadat

Dalam masyarakat Aceh, adat istiadat adalah sesuatu yang tertulis maupun tidak tertulis yang menjadi pedoman di dalam bermasyarakat Aceh. Adat yang dilaksanakan merupakan titah dan amanah dari para pemimpin dan pengambil kebijakan guna berjalannya sistem dalam bermasyarakat. Dalam masyarakat Aceh, adat atau hukum adat tidak boleh bertentangan dengan ajaran agama Islam. Hal-hal yang telah diputuskan oleh para pemimpin dan ahli tersebut haruslah seirama dengan para pemimpin dan ahli tersebut harus sefrekuensi dengan ketentuan syariat. Apabila ada adat yang bertentangan dengan ajaran syariat maka hukum adat itu akan dihapuskan.

e. Mata pencaharian;

Aceh memiliki potensi sumber daya alam yang besar seperti cengkeh, batu bara, minyak dan gas, padi, kopi, kelapa sawit, kelapa, lada, nilam, pinang, kakao, atsiri, pala, ikan, dan lain-lain. Mata pencaharian pokok masyarakat Aceh adalah bertani di sawah dan ladang. Sedangkan masyarakat yang bermukim di sepanjang pantai dengan mata pencaharian sebagai nelayan.

f. Pola sosial;

Pola sosial masyarakat Aceh menunjukkan keunikannya yaitu masyarakat Aceh yang menjunjung tinggi nilai-nilai kolektivitas. Hal tersebut terwujud dengan kebiasaan masyarakat Aceh untuk berkumpul di warung kopi, saling mengunjungi ke kerabat dan teman, pelaksanaan kenduri serta upacara-upacara yang melibatkan banyak orang.

g. Tingkat Pendidikan;

Program pendidikan dasar sembilan tahun di provinsi Aceh sudah tercapai, yaitu pada tahun 2020 nilai Angka Partisipasi Sekolah (APS) kelompok umur 7-12 tahun sebesar 99,84 persen dari target 95 persen dan kelompok umur 13-15 tahun sebesar 98,49 tahun dari target 70 persen. Berdasarkan nilai rata-rata lama sekolah yang sudah mencapai 9,33 tahun. Angka tersebut menunjukkan bahwa penduduk Aceh telah menjalani pendidikan rata-rata sampai kelas 9 atau kelas 3 SMP. Berdasarkan ijazah tertinggi yang dimiliki, lebih dari separuh penduduk Aceh memiliki tingkat pendidikan SLTP ke atas. Pada tahun 2020, data menunjukkan bahwa terdapat sekitar 39,39 persen penduduk 10 tahun ke atas di Provinsi Aceh berpendidikan SD ke bawah, yaitu penduduk yang tidak tamat SD 13,34 persen dan tamat SD 22,96 persen. Sedangkan penduduk yang berhasil menamatkan jenjang SLTP sebanyak 60,63 persen.

Masyarakat Aceh menjunjung tinggi nilai-nilai kolektivitas

8

h. Pola kesehatan masyarakat, dan lain-lain.

Selama periode 2019 s.d. 2021, penduduk Aceh yang mengalami keluhan atau gangguan kesehatan cenderung lebih memilih tempat pelayanan kesehatan yang relatif lengkap dan modern sebagai tujuan memeriksakan diri dan mendapatkan pengobatan.

Berdasarkan urutan, 3 (tiga) tempat/fasilitas pelayanan kesehatan yang paling banyak digunakan oleh Penduduk Aceh adalah puskesmas/pustu (49,74 persen), praktik dokter/bidan (30,48 persen), dan rumah sakit pemerintah (14,94 persen).

1.3.3 Tantangan Geografis Wilayah

Aceh mempunyai posisi terletak di ujung barat laut Pulau Sumatera dengan ibukota provinsi berada di Banda Aceh. Aceh memiliki posisi strategis sebagai pintu gerbang lalu lintas perdagangan nasional dan internasional. Aceh menghubungkan belahan dunia timur dan barat yang secara astronomis terletak pada 01⁰58’37,2’’-06⁰04’33,6” Lintang Utara dan 94⁰57’57,6”-98⁰17’13,2” Bujur Timur. Berdasarkan letak geografis, batas wilayah Aceh berbatasan dengan Selat Malaka dan Laut Andaman di sebelah utara. Di sebelah selatan dan sebelah barat, Aceh berbatasan dengan Samudera Hindia. Di sebelah timur, Aceh berbatasan dengan Sumatera Utara.

1.3.4 Tantangan Daerah sebagai Dampak Covid-19

Tantangan perekonomian Aceh ke depan adalah mengatasi dampak berlanjutnya upaya pemulihan ekpnomi Aceh sebagai dampak dari virus Covid-19.

Kondisi pembangunan ekonomi Aceh relatif rendah apabila dibandingkan dengan beberapa provinsi di Sumatera dan Nasional. Hal ini ditandai dengan pertumbuhan ekonomi yang masih rendah, tingkat kemiskinan dan pengangguran yang masih tinggi, terjadi permintaan ekspor luar negeri yang melambat sejalan dengan perlambatan World Trade Volume (WTV). Pada tahun 2016 s.d. 2019 tingkat pengangguran terbuka mengalami tren penurunan kemudian meningkat pada tahun 2020 karena banyaknya penduduk yang kehilangan pekerjaan ketika pandemi. Tingkat kemiskinan mengalami peningkatan ketika pandemi karena disebabkan menurunnya mobilitas masyarakat dan peningkatan pengangguran. Tren peningkatan Indeks Pembangunan Manusia menjadi lebih landai sejak terjadinya pandemi. Pada tahun 2020 pengeluaran per kapita disesuaikan mengalami penurunan memengaruhi pertumbuhan IPM yang rendah.

Aceh memiliki posisi strategis dalam lalu lintas perdagangan nasional dan internasional

9

9

Dalam dokumen KATA PENGANTAR. Ismed Saputra (Halaman 22-28)