Bab VI ANALISIS TEMATIK
6.1 Perbandingan Belanja Pemerintah dan IPM
Belanja pemerintah di bidang pendidikan merupakan pengeluaran pemerintah yang sangat mendasar dalam pembangunan manusia. Pendidikan memainkan peranan penting dalam mengembangkan kapasitas dalam rangka mewujudkan pertumbuhan dan pembangunan yang berkesinambungan (sustainable growth). Pendidikan menjadi modal dasar dalam pertumbuhan ekonomi maupun pembangunan bangsa. Alokasi
9.241 9.619 10.654
7.100 7.152 6.879
3.651 2.573 3.503
5.000 10.000 15.000 20.000 25.000
2019 2020 2021
Miliar Rp
Fungsi Pendidikan Fungsi Kesehatan Realisasi F. Ekonomi
85 belanja pada sektor pendidikan akan digunakan untuk membangun sarana dan prasarana pendidikan serta melakukan investasi dalam membentuk modal manusia (human capital).
Dalam konteks pembangunan, pendidikan dan kesehatan memiliki kaitan yang erat. Investasi pemerintah di bidang kesehatan dapat berupa alokasi anggaran untuk membiayai pengadaan dan pemeliharaan sarana fisik dan nonfisik untuk di bidang kesehatan. Pemerintah membangun sarana dan prasarana publik sehingga masyarakat mendapatkan kemudahan akses terhadap pelayanan di sektor kesehatan. Dengan kemudahan masyarakat mendapat akses terhadap layanan kesehatan, maka kebutuhan dasar masyarakat akan kesehatan dapat dipenuhi sehingga kualitas kehidupan masyarakat menjadi meningkat. Dengan mengoptimalkan pengeluaran pemerintah, dalam hal ini khususnya pengeluaran untuk kepentingan kesehatan, maka kualitas kesehatan yang lebih baik dapat dihasilkan sehingga produktivitas yang tinggi akan lebih mudah dicapai.
Mandatory spending adalah belanja atau pengeluaran negara yang sudah diatur oleh Undang-Undang. Tujuan mandatory spending ini adalah untuk mengurangi masalah ketimpangan sosial dan ekonomi daerah. Untuk APBN, alokasi mandatory spending adalah alokasi belanja pendidikan sebesar 20 persen dan belanja kesehatan sebesar 5 persen dari alokasi Belanja APBN.
Tabel 6. 2 Pagu dan Realisasi Mandatory Spending Fungsi Pendidikan (dalam miliar rupiah)
No Satker Output Pagu Realisasi %
1 Kementerian Agama 18 2.682,78 2.789,96 103,99%
2 Kementerian Kelautan Dan Perikanan 5 4,32 4,20 97,18%
3 Kementerian Kesehatan 15 38,86 33,00 84,92%
4 Kementerian Ketenagakerjaan 8 40,76 39,89 97,86%
5 Kementerian Pekerjaan Umum Dan Perumahan Rakyat 3 16,21 16,05 99,01%
6 Kementerian Pemuda Dan Olahraga 1 2,00 1,81 90,24%
7 Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, Dan Teknologi 19 1.311,50 1.222,73 93,23%
8 Kementerian Perhubungan 6 24,09 23,47 97,40%
9 Kementerian Perindustrian 5 15,19 15,06 99,15%
10 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia 1 0,45 0,36 78,41%
81 Capaian Output 4.136,16 4.146,51 100,25%
Sumber: MEBE, 2022 (diolah)
Mandatory spending sektor pendidikan di Aceh dialokasikan pada 10 K/L, dengan total pagu mencapai Rp4,14 triliun dan telah terealisasi sebesar Rp4,15 triliun atau 100,25 persen dari pagu. Dalam alokasi ini terdapat kegiatan satker yang masuk sebagai prioritas nasional Meningkatkan Sumber Daya Manusia Berkualitas dan Berdaya Saing.
Kegiatan ini salah satunya dialokasikan pada Kementerian Agama, berupa kegiatan Peningkatan Akses, Mutu, Relevansi, dan Daya Saing Pendidikan Tinggi
86
Keagamaan Islam serta Peningkatan Kompetensi dan Profesionalitas Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah. Alokasi kegiatan sebagai bagian dari prioritas nasional pada satuan kerja Kementerian Agama di Aceh ini mencapai Rp263,25 miliar dengan realisasi mencapai Rp249,72 miliar atau 94,86 persen dari alokasinya.
Tabel 6. 3 Pagu dan Realisasi Mandatory Spending Fungsi Kesehatan (dalam miliar rupiah)
No Satker Output Pagu Realisasi %
1 Badan Kependudukan Dan Keluarga Berencana Nasional (Bkkbn) 12 96,92 95,26 98,29%
2 Badan Pengawas Obat Dan Makanan 12 34,78 34,60 99,48%
3 Kementerian Kesehatan 31 119,81 111,15 92,76%
55 Capaian Output 251,52 241,01 95,82%
Sumber: MEBE, 2022 (diolah)
Mandatory Spending sektor Kesehatan di Aceh dialokasikan pada tiga K/L, dengan total pagu mencapai Rp251,52 miliar dan telah terealisasi sebesar Rp241,01 miliar atau 95,82 persen dari pagu. Sama halnya dengan sektor pendidikan, untuk alokasi sektor kesehatan di Aceh ini juga terdapat program Prioritas Nasional. Program Meningkatkan Sumber Daya Manusia Berkualitas dan Berdaya Saing sebesar Rp31,42 miliar dengan realisasi sebesar Rp21,87 miliar atau 88,68 persen.
Kegiatan-kegiatan yang masuk sebagai prioritas ini terdapat pada ketiga K/L di atas. Satker BKKBN dengan kegiatan Pengelolaan Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana dengan alokasi sebesar Rp95,26 miliar, Satker BPOM berupa kegiatan Pengawasan Obat dan Makanan di seluruh Indonesia sebesar Rp34,60 miliar serta Satker Kementerian Kesehatan sebesar Rp111,15 milar.
Tabel 6. 4 Belanja Fungsi Pendidikan terhadap HLS dan RLS (Indeks Pendidikan)
Sumber: MEBE, Kanwil DJPb Provinsi Aceh, dan BPS, 2022 (diolah)
Jika dilihat pada grafik diatas, antara belanja fungsi pendidikan baik pusat maupun daerah dengan Angka Harapan Lama Sekolah (HLS) dan Rata-Rata Lama Sekolah (RLS) memiliki korelasi yang positif. Semakin besar belanja yang diberikan pemerintah pada fungsi pendidikan setiap tahunnya, semakin meningkat nilai HLS dan RLS. Pada tahun 2021 total belanja pada fungsi pendidikan adalah sebesar Rp14,8 triliun, meningkat dibandingkan tahun 2020 yang sebesar 9,25 persen dibandingkan tahun 2020 yang sebesar Rp13,55 triliun. Berbanding lurus dengan angka HLS yang
B. Pusat Pendidikan B. Daerah Pendidikan HLS RLS
87 sebesar 14,36 dan RLS yang sebesar 9,37, masing-masing meningkat dibandingkan tahun 2020 yang sebesar 14,31 dan 9,33.
Belanja daerah lebih memiliki pengaruh terhadap HLS dan RLS dibandingkan dengan belanja pusat. Jika dilihat pada tahun 2020, belanja pusat mengalami penurunan dari Rp4,35 triliun pada tahun 2019 menjadi Rp3,98 triliun pada tahun 2020. Namun hal ini tidak berpengaruh negatif terhadap angka HLS dan RLS. Hal ini karena belanja daerah tetap meningkat dari Rp8,32 triliun pada tahun 2019 menjadi Rp9,62 triliun pada tahun 2020.
Tabel 6. 5 Belanja Fungsi Kesehatan terhadap UHH (Indeks Kesehatan)
Sumber: MEBE, Kanwil DJPb Provinsi Aceh, dan BPS, 2022 (diolah)
Jika dilihat pada grafik diatas, antara belanja fungsi kesehatan baik pusat maupun daerah dengan Umur Harapan Hidup saat Lahir (UHH) memiliki korelasi yang positif. Semakin besar belanja yang diberikan pemerintah pada fungsi kesehatan setiap tahunnya, semakin meningkat nilai UHH. Total belanja pemerintah pada fungsi kesehatan tahun 2021 sebesar Rp7,12 triliun, angka ini menurun dibandingkan tahun 2020 yang sebesar Rp7,37 triliun.
Belanja daerah lebih memiliki pengaruh terhadap UHH dibandingkan dengan belanja pusat. Jika dilihat pada tahun 2020, belanja pusat mengalami penurunan dari Rp271 miliar pada tahun 2019 menjadi Rp220 miliar pada tahun 2020. Namun hal ini tidak berpengaruh negatif terhadap angka UHH. Hal ini karena belanja daerah tetap meningkat dari Rp5,99 triliun pada tahun 2019 menjadi Rp7,15 triliun pada tahun 2020.
Belanja daerah pada fungsi kesehatan mengalami penurunan sebesar Rp272,84 miliar pada tahun 2021, namun hal ini tidak mempengaruhi penurunan pada UHH.
Artinya penurunan yang tidak terlalu signifikan pada belanja daerah tidak menyebabkan penurunan pada UHH dan tetap mengalami peningkatan meskipun tidak setinggi peningkatan pada tahun sebelumnya.
271 220 241
B. Pusat Kesehatan B. Daerah Kesehatan UHH
88
Grafik 6. 5 Belanja Fungsi Ekonomi terhadap Pengeluaran per Kapita (Indeks Ekonomi)
Sumber: MEBE, Kanwil DJPb Provinsi Aceh, dan BPS, 2022 (diolah)
Jika dilihat pada grafik diatas, antara belanja fungsi ekonomi baik pusat maupun daerah dengan pengeluaran per kapita memiliki korelasi yang positif. Apabila belanja fungsi ekonomi mengalami penurunan, maka pengeluaran per kapita pun mengalami penurunan, dan sebaliknya. Pada tahun 2021 total belanja pada fungsi ekonomi adalah sebesar Rp6,47 triliun, meningkat dibandingkan tahun 2020 yang sebesar 34,32 persen dibandingkan tahun 2020 yang sebesar Rp4,82 triliun. Berbanding lurus dengan angka pengeluaran per kapita yang sebesar Rp9.572, meningkat dibandingkan tahun 2020 yang sebesar Rp9.492.
Berbeda dengan fungsi pendikan dan ekonomi, belanja daerah maupun belanja pusat memiliki proporsi dan pengaruh yang hampir sama terhadap pengeluaran per kapita. Jika dilihat pada tahun 2020, belanja fungsi ekonomi mengalami penurunan baik pada belanja pusat maupun daerah. Sehingga mengakibatkan terjadinya penurunan pada pendapatan per kapita. Begitu juga dengan tahun 2021 yang mana belanja pusat maupun belanja daerah pada fungsi ekonomi mengalami kenaikan, maka pendapatan per kapita juga mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya.
6.2 Analisis dan Pembahasan
Dalam analisis regresi diuji beberapa model yang terdiri dari beberapa variabel dependen. Berdasarkan hasil estimasi regresi OLS diperoleh hasil sebagai berikut:
2.916,87
B. Pusat Ekonomi B. Daerah Ekonomi Pengeluaran
89
Tabel 6. 6 Hasil Analisis Regresi Pengaruh Belanja Fiskal terhadap IPM
Variabel Independen Variabel Dependen: IPM
(1) (2) (3)
lDBH_lag1 -0,005 -0,011 -
lDAU_lag1 0,010 0,090 0,093*
lDAK_lag1 0,043 0,017 -
lDID_lag1 0,010 - -
lDD_lag1 -0,027 0,037 -0,035*
lPDRBperkap_lag1 0,13*** 0,132*** 0,124***
R squared 60,88 60,12 58,68
Adjusted R squared 55,29 56,96 56,77
*signifikan pada level 0,05 **signifikan pada level 0,01 **signifikan pada level 0,001
Sumber: Olahan Penulis (2022)
Model yang memiliki lebih banyak variabel yang signifikan yaitu model (3). Belanja yang berpengaruh secaera signifikan yaitu DAU dan dana desa. DAU memiliki koefisien sebesar 0,093, artinya setiap kenaikan belanja DAU sebesar 1 persen akan meningkatkan 0,093 persen IPM. Menariknya, dana desa memiliki korelasi negatif dengan IPM sebesar -0,035. Hal tersebut dapat terjadi disebabkan oleh limitasi series data. Selama ini dana desa memiliki formula tersendiri untuk pembagian lebih adil di setiap daerah dan tidak mempertimbangkan indikator IPM. PDRB per kapita secara konsisten berpegaruh positif terhadap IPM. Koefisiennya sebesar 0,124, artinya peningkatan PDRB per kapita sebesar 1 persen akan meningkat IPM sebesar 0,124 persen.