• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. ORANG TUA DALAM KELUARGA KRISTIANI

B. PENDIDIKAN IMAN ANAK

4. Bentuk-bentuk Pendidikan Iman Anak

Keluarga sebagai Gereja Rumah Tangga (Ecclesia Domestica) menjadi tempat penyemaian dan pengembangan iman anak, menjadi tempat untuk mewartakan Injil serta menjadi tempat untuk mendidik anak sehingga anak dapat bertumbuh kembang imannya sesuai dengan harapan Gereja. Di sanalah anak dibimbing dan dihantar ke arah iman dewasa di mana terdapat keseimbangan antara pengetahuan dan penghayatan iman. Orangtua merupakan partner Allah dalam karya penciptaan manusia baru, maka mereka menjadi pendidik utama yang tak tergantikan, melalui kesaksian dan keteladanan hidup Kristiani sejati yang diwujudkan dengan pemberian kasih sayang yang tulus, adil dan arif bijaksana (bdk.LG 11; GE 3; FC 50). Pemberian rasa cinta dan kasih yang tulus, perhatian, kesabaran dan saling mengampuni antara suami istri secara nyata dalam hidup berkeluarga merupakan suatu wujud kesaksian konkret akan kasih Kristus kepada manusia. Perwujudan cinta kasih yang sejati tersebut akan membawa rasa aman, nyaman dan harmonis dalam keluarga. Anak-anak yang hidup dalam keluarga semacam ini akan mengalami

pertumbuhan iman yang baik karena orang tua sendiri selain memberikan kesaksian akan cinta Kristus kepada manusia sekaligus memberikan keteladanan hidup bagi anak-anak mereka dengan hidup penuh rasa cinta, kasih, pengampunan dan pengorbanan.

Sebagai kaum awam yang mengarungi hidup berkeluarga terutama bagi para orang tua, maka mereka memiliki hak dan tanggung jawab yang tak tergantikan untuk memberikan pendidikan iman bagi anak-anak mereka (GE, art. 6). Orang tua dituntut untuk dapat memberikan pendidikan serta teladan hidup bagi anak-anak mereka sesuai dengan ajaran Kristiani. Adapun bentuk-bentuk dari pendidikan iman anak yang dapat diberikan orang tua bagi anak adalah sebagai berikut:

a. Mengajak anak untuk berdoa bersama dalam keluarga

Hal yang mendasari bagi pendidikan iman anak melalui doa adalah perkataan Yesus sendiri yang telah memerintahkan kepada umatNya untuk selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu (Luk 18:1). Para rasul mempunyai kebiasaan-kebiasaan berdoa pada waktu-waktu tertentu, baik bersama-sama di Bait Allah maupun secara pribadi di rumah (Kis 19:9-30). Keluarga beriman merupakan Gereja kecil, Gereja sungguh terwujud di dalam keluarga jika para anggota keluarga selalu berhimpun dalam nama Tuhan “Dimana ada dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka” (Mat 18:20).

b. Mengajak anak untuk membaca Kitab Suci bersama dalam keluarga

Dengan membaca Kitab Suci berarti kita akan mengenal Kristus, pengenalan akan Yesus Kristus ini lebih mulia dari segala sesuatu (DV, art. 25). Banyak orang-orang telah mendapatkan pengalaman serta kekuatan iman yang mengagumkan dengan membaca Kitab Suci. Namun demikian, Kitab Suci bukan saja untuk dibaca namun sudah seharusnya untuk dapat diamalkan dan dilaksanakan secara nyata dalam hidup sehari-hari. Seperti ada tertulis “Tetapi hendaknya kamu menjadi pelaku firman dan bukan pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri” (Yak 1:22)

c. Mengajak anak berhimpun untuk perayaan Ekaristi atau Sabda

Berhimpun untuk merayakan Ekaristi merupakan kewajiban bagi setiap orang Kristiani. Pada hari minggu dan pada hari lain yang diwajibkan oleh Gereja, maka setiap umat beriman sudah seharusnya berhimpun dan ambil bagian dalam Ekaristi atau Misa (KHK, Kan. 1247-1248). Dengan membiasakan dan mengajari anak selalu berhimpun untuk merayakan Ekaristi atau memecahkan roti maka sejak dini anak telah diajarkan untuk menjadi orang Kristiani sejati yang selalu terlibat dalam hidup menggereja untuk bersatu dan berkumpul dalam persekutuan. Kebiasaan ini akan membentuk anak untuk senantiasa berperan aktif dan mau menghidupi imannya melalui persekutuan hidup menggereja pada khususnya dan terlibat aktif dalam hidup bermasyarakat pada umumnya.

d. Mengajak anak untuk melibatkan diri dalam kehidupan jemaat Kristiani khususnya dan dalam masyarakat pada umumnya.

Gereja dalah Tubuh Kristus, setiap anggotanya memiliki peran dan tugas yang khas, yang tak tergantikan (Kor. 12:12-31). Maka setiap anggota jemaat harus sungguh terlibat dalam semua segi kehidupan Gereja baik dalam persekutuan, liturgi, pewartaan dan pelayanan. Keteladanan orang tua untuk terlibat aktif dalam hidup menggereja merupakan guru yang baik bagi anak. Selain terlibat dalam hidup menggereja, umat Kristiani juga dituntut untuk secara aktif terlibat dalam kehidupan bermasyarakat pada umumnya. Dengan keterlibatan secara aktif dalam masyarakat maka dari situ setiap umat Kristiani diharapkan untuk dapat memberikan kontribusi yang positif dalam masyarakat sehingga dapat sungguh-sungguh menjadi garam dan terang dunia.

e. Memberikan bimbingan kepada anak untuk pemeriksaan batin, mengaku dosa di hadapan imam, serta berpantang dan berpuasa.

Pemeriksaan batin akan dapat membantu kita semakin sadar akan kebaikan Allah dan membangkitkan penyesalan yang tulus atas dosa-dosa, yang kemudian bersedia mengaku dosa di hadapan imam. Pemeriksaan batin bersama dalam keluarga ini dapat dilakukan saat menjelang tidur maupun saat-saat tertentu yang telah disepakati. Inti hidup kristiani adalah bertobat secara terus-menerus, meninggalkan dosa dan kegelapan lalu hidup sebagai anak-anak terang (Ef. 5:8). Salah satu ungkapan penyesalan dan pertobatan atas dosa ialah dengan berpuasa dan berpantang. Dengan berpuasa dan berpantang, hal tersebut sekaligus merupakan olah doa yang hangat, guna memperoleh pengampunan dosa.

Adapun bentuk-bentuk lain dari pendidikan iman anak adalah pendidikan sosial, dimana anak sejak dini diajari dan diberikan keteladanan tentang sikap hidup seperti sikap melayani dengan penuh kasih, sikap untuk bergaul dengan orang lain, sikap untuk mau mendengarkan dan memperhatikan, sikap menghargai serta sikap saling tenggang rasa dan berempati kepada orang lain yang sedang menderita dan berkesusahan.