BAB II. ORANG TUA DALAM KELUARGA KRISTIANI
A. ORANG TUA KATOLIK DI DALAM KELUARGA KRISTIANI
Setiap anggota keluarga Kristiani menjadi penerima sekaligus pula menjadi pewarta Injil. Para orang tua tidak hanya mewartakan Injil kepada anak-anaknya, tetapi serentak juga diinjili oleh mereka (Yeremias, 2003:18).
Peranan keluarga Kristiani dalam karya kerasulan kaum awam sangatlah besar sehingga dapat dikatakan bahwa di masa depan pewartaan kabar gembira akan sangat bergantung pada keluarga sebagai Gereja domestik. Berkat Permandian dan
diperkaya oleh rahmat sakramen perkawinan, maka keluarga Kristiani menerima segala daya dan kekuatan baru untuk mewartakan iman, menguduskan, dan mentransformasikan dunia seturut rencana Allah. Masa depan umat manusia berada di tangan keluarga yang kuat dan tangguh untuk membekali generasi mendatang dengan kehidupan yang lebih manusiawi dan Kristiani. Oleh karena itu, keluarga Kristiani harus lebih dahulu menghayati jati dirinya sebagai persekutuan kasih dan hidup seturut rencana Allah (Yeremias, 2003:18).
1. Dasar-dasar tugas dan tanggung jawab orang tua sebagai pendidik iman anak
a. Dasar Biblis
Orang tua merupakan wakil Tuhan di dunia ini untuk mendidik, mendampingi, melindungi serta mengarahkan perkembangan iman anak-anaknya, sehingga hidup iman anak tidak menyimpang dari jalan yang benar sesuai dengan ajaran iman Kristiani. Dalam Kitab Suci pun dikatakan bahwa orang tua hendaknya memberikan pendidikan bagi kaum mudanya, “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun tidak akan menyimpang” (Amsal 22:6). Selain dari pada pendidikan yang diberikan orang tua bagi anak-anaknya maka nasehat-nasehat diperlukan juga guna mengarahkan iman anak sesuai dengan yang dikatakan Rasul Paulus “Dan kamu, Bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarahmu di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah di dalam ajaran dan nasehat Tuhan” (Ef 6:4).
b. Dasar Dokumen Gereja
Pendidikan yang pertama dan utama bagi anak adalah berasal dari orang tua di dalam keluarga masing-masing. Orang tua adalah yang pertama-tama memiliki hak dan kewajiban yang tidak dapat diganggu-gugat untuk mendidik anak-anak mereka (GE, art. 6). Tugas mendidik anak berakar dalam panggilan utama suami-istri untuk berperanserta dalam karya penciptaan Allah (FC, art. 36). Konsili Vatikan II juga mengingatkan bahwa “karena orang tua telah menyalurkan kehidupan kepada anak -anak, maka terikat kewajiban amat berat untuk mendidik mereka”.
Hak dan kewajiban orang tua untuk mendidik anak bersifat hakiki karena berkaitan dengan penyaluran hidup manusiawi, asali dan utama karena berkaitan dengan peranserta terhadap orang-orang lain dalam pendidikan dan bersifat tak tergantikan atau tidak dapat diambil alih karena tidak dapat diserahkan sepenuhnya hak dan tanggung jawab orang tua kepada orang lain (FC, art. 36).
Hidup keluarga merupakan panggilan Allah yang khas bagi manusia. Panggilan yang khas tersebut juga ditegaskan dalam Kitab Hukum Kanonik (KHK) kanon 226 “Mereka yang hidup dalam status perkawinan, sesuai dengan panggilan khasnya, terikat kewajiban khusus untuk berusaha membangun umat Allah melalui perkawinan dan keluarga”.
Berdasarkan panggilan yang khas tersebut, maka orang tua wajib membangun keluarganya sebagai umat Allah yakni dengan membina anak-anaknya agar tetap menjadi suatu keluarga yang kudus seperti Keluarga Kudus Nasaret.
2. Orang Tua Katolik
Orang tua adalah individu-individu yang merupakan bagian dari anggota keluarga yang terdiri dari ayah dan ibu kandung yang oleh karena mereka maka terciptalah individu baru yaitu anak. Orang tua dalam kamus besar bahasa Indonesia diartikan sebagai “ayah dan ibu kandung.“ (Poerwadarminta, 1987: 688). Orang tua adalah pria dan wanita yang terikat dalam perkawinan dan siap sedia untuk memikul tanggung jawab sebagai ayah dan ibu dari anak-anak yang dilahirkannya (Kartono, 1982 : 27). Orang tua adalah setiap orang yang bertanggung jawab dalam suatu keluarga atau tugas rumah tangga yang dalam kehidupan sehari-hari disebut sebagai bapak dan ibu.” (Nasution:1986 : 1).
Orang tua yang sungguh- sungguh menjalankan tugasnya sebagai pendidik utama dalam keluarga telah menjadi bentara pesan injil Tuhan Yesus yang pertama dan utama. Orang tua dapat menjalankan tugas ini jika ia sendiri mengalami keteraturan hidup dan berdisiplin diri dalam kehidupan hariannya. Dengan cara demikian ia dan sikapnya menjadi acuan bagi anak-anak dalam belajar untuk menjadi pribadi yang dewasa (http://yohanesharing.blogspot.com/2012/09/.html).
3. Keluarga Kristiani
Keluarga adalah tempat pembentukan manusia atau tempat memanusiakan manusia (Budyapranata, 1979:6). Keluarga merupakan suatu tempat di mana setiap pribadi memiliki hak dan tanggung jawab untuk saling menghormati, membantu serta saling memperkembangkan antara satu dengan yang lain. Dalam keluarga akan
tercipta suasana yang nyaman serta setiap pribadi yang ada di dalam keluarga dapat sungguh-sungguh merasakan sebagai pribadi yang utuh serta merasakan cinta kasih dari setiap anggota keluarga.
Landasan utama dalam hidup keluarga adalah cinta kasih. Dengan adanya cinta kasih maka setiap anggota keluarga akan dapat mengalami keharmonisan dan kerukunan dalam hidup. Dalam hal ini KWI (2011:10) mengatakan:
Keluarga adalah komunitas pertama dan asal mula keberadaan setiap manusia dan merupakan “persekutuan pribadi-pribadi” (Communio Personarum) yang hidupnya berdasarkan dan bersumber pada cinta kasih. Kasih sejati dalam keluarga adalah kasih yang membuahkan kebaikan bagi semua anggota keluarga.
Keluarga Kristiani dipanggil untuk menjadi suatu komunitas yang terlibat dalam pewartaan Injil. Sudah selayaknya keluarga Kristiani menjadi tempat di mana Injil ditaburkan dan diwartakan. Kebersamaan merupakan salah satu ciri utama keluarga yang harus senantiasa dipupuk dengan komunikasi dan waktu bersama. Berkumpul dalam keluarga dan memberikan waktu untuk bersama merupakan hal yang sangat penting mengingat bahwa keluarga adalah persekutuan pribadi-pribadi. Hal tersebut menjadi peluang dan kesempatan untuk membangun solidaritas dan sosialitas di antara anggota keluarga. Dengan kebiasaan untuk berkumpul bersama dan saling memberikan perhatian maka akan tercipta suasana yang akrab, saling memahami, dan akan menumbuhkan kasih yang sejati dalam keluarga sehingga akan membuahkan kebaikan bagi semua anggota keluarga terutama bagi perkembangan iman dan kepribadian anak.
Keluarga merupakan suatu tempat bagi pendidikan untuk memperkaya kemanusiaan. Supaya keluarga mampu mencapai kepenuhan hidup dan misinya, diperlukan komunikasi hati penuh kebaikan, kesepakatan suami istri, dan kerja sama orang tua yang tekun dalam pendidikan anak-anak. Kehadiran aktif ayah sangat membantu pembinaan mereka, tetapi juga pengurusan rumah tangga oleh ibu, yang terutama dibutuhkan oleh anak-anak yang masih muda perlu dijamin, tanpa maksud supaya pengembangan peranan sosial wanita yang sewajarnya dikesampingkan (GS. art 52).
4. Hak dan Kewajiban sebagai Orang Tua Katolik
Orang tua adalah partner Allah dalam menciptakan manusia baru yang berarti bahwa setiap laki-laki dan perempuan yang telah dipersatukan oleh Allah terbuka bagi kelahiran seorang anak. Dengan kata lain bahwa Allah telah memanggil mereka untuk secara khusus berperanserta dalam cinta kasih dan kekuasaan-Nya sebagai pencipta dan bapa, melalui kerja sama mereka secara bebas dan bertanggung jawab menyalurkan kurnia kehidupan manusiawi (FC, art. 28). Seperti yang tertulis dalam Injil “sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu” (Mrk, 10:7-8). Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka : "Beranak cuculah dan bertambah banyak penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi (Kej 1:28).
Dalam Dokumen Konsili Vatikan II juga dikemukakan bahwa: “Orangtualah yang pertama-tama mempunyai kewajiban dan hak yang pantang diganggu-gugat untuk mendidik anak-anak mereka” (GE, art:6).
Dengan demikian orang tua memiliki hak dan tanggung jawab untuk memelihara anak-anak serta menjamin bagi pendidikan dan pembinaan anak-anak mereka. Tanggung jawab bagi pendidikan dan pembinaan iman anak tersebut tak dapat tergantikan oleh siapa pun.