• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. ORANG TUA DALAM KELUARGA KRISTIANI

B. PENDIDIKAN IMAN ANAK

1. Pengertian Pendidikan Iman

a. Pendidikan

Setiap manusia untuk dapat berkembang menuju ke arah kematangan dan kedewasaan baik dari segi kognitif maupun afeksinya tidak dapat terlepas dari suatu pendidikan, baik pendidikan formal maupun non-formal. Pendidikan yang terencana sangatlah mutlak diperlukan bagi perkembangan setiap manusia. Dalam UU No. 20 tahun 2003, dikemukakan bahwa:

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara.

Dengan usaha yang sadar dan terencana maka seorang pendidik harus mengusahakan sebaik mungkin agar dapat menciptakan suatu iklim atau suasana

yang kondusif bagi kelancaran proses pembelajaran peserta didiknya. Pendidikan merupakan sesuatu yang dilaksanakan secara sadar dan terencana yang memiliki arah serta tujuan bagi para peserta didiknya agar dapat mengembangkan segala potensi dalam dirinya dalam segala aspek, baik aspek kognitif, afektif serta keterampilan yang diperlukan untuk dapat digunakan dalam hidup bermasyarakat, beragama, berbangsa dan bernegara..

Dalam tulisannya, Setyakarjana menyatakan bahwa pendidikan merupakan suatu usaha bersama dalam proses terpadu-terorganisir untuk membantu manusia mengembangkan dan menyiapkan diri guna mengambil tempat semestinya dalam pengembangan masyarakat dan dirinya di hadapan Sang Pencipta (1997:1). Dengan mendapatkan pengajaran serta terus belajar, maka manusia dapat mengembangkan kecerdasan, keterampilan, akal budi yang sudah dimilikinya. Dengan demikian manusia tersebut ikut serta bertanggung jawab dalam tugas pengembangan masyarakat yang dengan demikian secara otomatis manusia tersebut semakin dapat mengembangkan diri serta dapat menjalin relasi yang harmonis baik dengan sesama manusia maupun Sang Pencipta.

Dari pengertian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah bimbingan atau pertolongan yang diberikan oleh orang orang tua atau pendidik kepada anak untuk mencapai kedewasaannya dengan tujuan agar anak cukup cakap melaksanakan tugas hidupnya sendiri tidak dengan bantuan orang lain.

b. Iman

Iman adalah penyerahan total manusia kepada Allah yang menyatakan diri tidak karena terpaksa, melainkan “dengan sukarela”, (KWI, 1996:128). Dari sini diperlukan adanya kesadaran dari manusia untuk dapat sungguh-sungguh menanggapi panggilan dan sapaan Allah, berusaha untuk terus mencari dan mengikuti kehendak Allah malalui sikap dan tindakan nyata setiap harinya. Dalam iman, manusia menyadari dan mengakui bahwa Allah yang tak-terbatas berkenan memasuki hidup manusia yang serba terbatas, menyapa dan memanggilnya. Iman berarti jawaban atas panggilan Allah, penyerahan pribadi kepada Allah yang menjumpai manusia secara pribadi juga (KWI, 1996:129)

Iman memberikan manusia suatu kesadaran akan cinta kasih Allah yang selalu menyapa, memanggil manusia sekaligus merasuk dalam kehidupannya. Dengan menyadari hal itu, maka manusialah yang bertugas untuk memberikan jawaban atas panggilan Allah, dan melakukan penyerahan diri seutuhnya terhadap Allah yang menjumpai manusia secara pribadi. Iman menjadi suatu jawaban atas panggilan Allah melalui sikap hidup sebagai orang Kristiani yang sejati. Manusia akan menemukan imannya bila dirinya mengalami pengalaman religius yang sungguh memberikan penyadaran akan karya Allah terhadap manusia (KWI, 1996: 129).

Menurut Konstitusi Dogmatis Dei Verbum (DV), dokumen Konsili Vatikan ke II tentang Wahyu Ilahi, iman adalah tanggapan atau keputusan manusia atas wahyu ilahi yang diwujudkan dalam perbuatan dan perkataan yang bertalian satu sama lain (DV. Art 2). Sikap dan tindakan dalam hidup manusia merupakan suatu hal yang

nyata akan imannya dan akan tanggapannya pada sapaan Allah. Ikatan antara pribadi manusia dengan Allah secara utuh merupakan anugerah yang adikodrati dari wahyu Allah untuk manusia. Iman menjadi anugerah yang terindah yang telah Tuhan berikan kepada manusia maka dari itu umat memiliki kewajiban untuk memperkembangkannya (KGK 50).

Setiap orang yang memiliki iman maka di dalam dirinya akan terus terpancar harapan dan kasih. Semangat hidup pun akan terus bernyala sehingga dapat memandang segala sesuatunya baik. “Seseorang yang beriman kepada Allah mempunyai damai sejahtera dan mampu mempercayai orang lain. Suatu perasaan bahwa “semua akan menjadi beres” akan meresap terus dalam dirinya. Tanpa iman seseorang akan takut dan kawatir” (Allen, 1982: 86). Dengan iman yang teguh seseorang akan menjadi merdeka, merdeka dari segala ketakutan dan kecemasan karena ia percaya bahwa segala sesuatunya akan menjadi baik dalam tangan Tuhan. Dalam iman manusia akan menyadari dan mengakui Allah yang tak terbatas selalu melindunginya dan akan menuntunnya setiap saat sehingga segala permasalahan atau tantangan hidup pasti akan dapat terselesaikan seturut dengan kehendak dan rencana Allah. Ia percaya bahwa Allah karena kasih-Nya akan membebaskannya dari belenggu rasa takut dan cemas.

c. Pendidikan Iman Anak

Pendidikan iman merupakan hal utama yang tidak terlepas dari pendidikan secara umum itu sendiri. Pendidikan iman dapat diartikan sebagai suatu usaha yang

berarti atau relevan untuk membantu umat beriman menuju ke kedewasaannya secara paripurna (Adisusanto, 1997:1). Pendidikan iman tidak hanya terbatas untuk menyampaikan hal-hal pengetahuan tentang iman saja, namun lebih dari itu, pendidikan iman juga menyangkut tindakan serta sikap iman secara konkret.

Pendidikan iman anak adalah segala kegiatan apapun, dalam lingkup manapun yang dilakukan demi perkembangan iman anak, baik dalam lingkup keluarga, maupun dalam lingkup paroki (Suhardiyanto, 2008:1) sehingga dapat dikatakan bahwa pendidikan iman anak dapat dilaksanakan dalam lingkup manapun, baik dalam lingkup keluarga maupun dalam lingkup paroki. Akan tetapi perlu diingat kembali bahwa untuk pendidikan iman anak yang pertama adalah dimulai dalam lingkup keluarga karena orang tua sendirilah pelaku dan pemegang hak dan tanggung jawab sebagai pendidik iman yang utama (FC art. 36).