• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III. PERANAN ORANG TUA KATOLIK DI STASI SANTO

C. PENELITIAN PERANAN ORANG TUA SEBAGAI PENDIDIK

1. Latar Belakang Penelitian

Hidup berkeluarga merupakan panggilan dari Allah. Seorang laki-laki dan seorang perempuan dipanggil dan dipersatukan oleh Allah melalui perkawinan. Dari situlah suami dan istri akan dijadikan oleh Allah sebagai partner untuk menciptakan manusia baru, dimana dari perkawinan mereka akan lahir seorang anak. Panggilan dari Allah ini merupakan panggilan untuk hidup suci melalui pengabdian dan pelayanan di dalam keluarga. Panggilan suci tersebut menuntut orang tua untuk senantiasa memenuhi segala kebutuhan hidup baik jasmani maupun rohani keluarga terutama anak-anak mereka.

Kesadaran akan hak dan tanggung jawab orang tua sebagai pendidik iman anak yang pertama dan utama inilah yang merupakan hal penting namun kerap kali

terabaikan. Tidak semua orang tua Katolik sadar dan setia menjalankan tugasnya sebagai pendidik iman anak yang utama. Tidak sedikit orang tua yang berpikir dan bekerja keras demi memenuhi kebutuhan anak yang hanya bersifat pemenuhan jasmani saja, baik sandang, pangan dan papan. Mereka berpikir untuk pendidikan iman anak sudah cukup didapatkan dari Gereja dan sekolah saja.

Untuk menjamin pendidikan iman anak yang sungguh benar harus dimulai dari keluarga. Orang tua perlu terus belajar dan mengembangkan diri dalam segi pengetahuan akan imannya sehingga pada akhirnya pengetahuan tersebut dapat digunakan untuk mendidik iman anaknya. Keterbatasan pengetahuan akan ajaran iman merupakan salah satu hambatan bagi orang tua untuk dapat menjalankan hak dan kewajibannya sebagai pendidik iman anak. Menjadi pendidik anak berarti orang tua harus memiliki kesadaran, pengetahuan serta pengalaman yang mencukupi. Tanpa adanya kesadaran, pengetahuan serta pengalaman yang mencukupi rasanya akan sulit bagi orang tua Katolik untuk menjadi pendidik iman anak yang ideal.

Salah satu contoh permasalahan yang dapat penulis angkat misalnya, ada sebuah keluarga dimana ayah seorang pegawai swasta dan ibu sebagai ibu rumah tangga. Ayah setiap saat sibuk bekerja untuk mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Di sisi lain ibu yang sering di rumah yang lebih banyak memiliki waktu bersama anak-anak ternyata kurang dapat menjalankan perannya sebagai pendidik iman anak. Hal tersebut dikarenakan pengetahuan dan pengalaman ibu akan imannya ternyata kurang mencukupi sehingga menjadi hambatan bagi pendidikan iman anak. Pada akhirnya, setelah anak-anak mereka tumbuh menjadi

dewasa dengan mudah kedua anaknya meninggalkan Gereja atau imannya karena melaksanakan perkawinan dengan pasangannya yang berbeda iman dan agama.

Pertumbuhan dan perkembangan iman anak tidak akan pernah terlepas dari peranserta orang tua sebagai pendidiknya. Mau tidak mau, setiap orang tua Katolik harus dapat menumbuhkan kesadarannya serta hak dan tanggung jawabnya sebagai pendidik iman anak yang pertama dan utama. Oleh karena itu, dalam penelitian ini penulis akan menggali dengan mencari data agar dapat mengetahui sejauh mana peran orang tua Katolik di stasi Poncowati telah menjalankan perannya sebagai pendidik iman anak. Dengan demikian penulis akan dapat memberikan sumbangan pemikiran agar para orang tua semakin menyadari serta dapat menjalankan hak dan tanggung jawabnya sebagai pendidik iman anak sesuai dengan apa yang menjadi harapan Gereja.

2. Tujuan Penelitian

a. Mengetahui sejauh mana para orang tua di Stasi Poncowati telah menjalankan perannya sebagai pendidik iman anak.

b. Mengetahui faktor-faktor yang menjadi penghambat atau pendukung bagi para orang tua di Stasi Poncowati untuk menjalankan perannya sebagai pendidik iman anak.

c. Mendapatkan gambaran apa yang menjadi kebutuhan dan harapan umat di Stasi Poncowati agar dapat meningkatkan kesadaran akan peran pentingnya sebagai pendidik iman anak yang pertama dan utama.

3. Jenis Penelitian

Dalam penelitian ini penulis menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan metode deskriptif analitis. Penelitian kualitatif merupakan jenis penelitian di mana data yang berupa kalimat atau kata dideskripsikan secara verbal. Metode deskriptis analitis merupakan metode yang menganalisis suatu data yang ditinjau dari dua hal yakni kenyataan dan ketentuan yang ada (Suharsimi Arikunto, 1997:230).

4. Instrumen Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini penulis menggunakan instrumen berupa kuesioner dengan rating scale dan wawancara. Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atau hal-hal yang responden ketahui. Rating scale (skala bertingkat) adalah suatu pernyataan yang diikuti oleh kolom-kolom yang menunjukkan tingkatan-tingkatan misalnya dari sangat setuju sampai ke sangat tidak setuju (Suharsimi Arikunto, 1997:128). Wawancara dilaksanakan dengan cara memilih beberapa responden dari keseluruhan responden yang mengisi kuesioner. Wawancara dilaksanakan untuk mendapatkan data secara langsung mengenai kebutuhan dan harapan para orang tua agar dapat meningkatkan kesadaran akan peran utamanya dalam pendidikan iman anak. Data mengenai kebutuhan dan harapan para orang tua ini tidak bisa didapatkan hanya dengan memberikan kuesioner karena terkadang para orang tua mengisi kuesioner hanya berdasarkan persepsi atau

pengertian saja dan tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Oleh karena itu penulis menggunakan wawancara sebagai alat untuk mengumpulkan data sesuai dengan keadaan yang sesungguhnya. Dalam penelitian ini penulis akan menggunakan kuisioner tertutup dan wawancara. Kuesioner tertutup merupakan kuesioner yang disusun dengan menyediakan pilihan jawaban, sehingga responden hanya tinggal memberi tanda pada jawaban yang dipilih.

5. Responden Penelitian

Responden dalam penelitian adalah keluarga Kristiani khususnya para orang tua yang berada di Stasi Poncowati. Dari jumlah umat Katolik yang terdiri dari 115 kepala keluarga (KK) maka penulis mengambil 30 responden para orang tua. Pemilihan ke 30 responden tersebut berdasarkan berbagai pekerjaan yang dimiliki oleh para orang tua sehingga dengan berbagai pekerjaan dan kesibukan dapat ditemukan mengenai hambatan, kebutuhan dan harapan orang tua Katolik di satasi Poncowati. Dari ke 30 orang responden tersebut akan dipilih 10 orang responden untuk diwawancarai secara langsung. Untuk kriteria responden ditentukan oleh penulis, antara lain: orang tua yang sungguh-sungguh hidup secara Kristiani, orang tua yang memiliki pengalaman tentang bagaimana mendidik iman anak atau yang berpengalaman dalam pendampingan iman anak serta orang tua yang peduli dengan perkembangan iman anak, orang tua yang terlibat aktif atau sebagai aktifis Gereja, sebagai pendamping PIA, serta sebagian responden yang masih memiliki anak kecil.

Untuk menentukan responden penulis menggunakan teknik purposif sampling dimana pengambilan subyek bukan didasarkan atas strata, random atau daerah tetapi didasarkan atas adanya tujuan tertentu (Suharsimi Arikunto, 1997:117). Sedangkan responden yang dipilih berdasarkan rekomendasi dari ketua stasi yang bersangkutan. Hal ini dilakukan dengan harapan bahwa responden yang dipilih sungguh-sungguh dapat merepresentasikan umat katolik seluruhnya di stasi Poncowati.

6. Waktu dan Tempat Pelaksanaan Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan April 2014 yang bertempat di Stasi Poncowati. Angket akan disebarkan pada saat ada doa bersama yang dilaksanakan dalam Kring.

7. Variabel Penelitian

Berkaitan dengan judul skripsi yang penulis ambil, maka dalam penelitian ini penulis mengelompokkan variabel yang tercakup dalam penelitian ke dalam tabel berikut:

Kisi-kisi Kuesioner Penelitian

No. Variabel No Item Jumlah

No. Variabel No Item Jumlah

pendidik iman anak yang utama 10

2. Faktor pendukung dan penghambat 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20

10

3. (Wawancara)

Harapan orang tua untuk meningkatkan perannya sebagai pendidik iman anak melalui usulan katekese keluarga

1, 2, 3, 4, dan 5

5

Jumlah item pernyataan dan pertanyaan

25