• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

1. Bentuk Estetika

Nilai-nilai mitos yang dilekatkan pada lukisan wayang dapat membayangkan hakikat kehidupan. Manusia dibayangkan memiliki karakter seperti dewa, sebagai binatang dengan ekspresi marah, galak, sedih, dan meditasi. Simbol-simbol yang ditangkap melalui penyerahan diri ditransformasikan dalam bentuk lukisan untuk selanjutnya oleh penguasa dipakai sebagai sarana pencerahan kepada umat. Estetika pencerahan memiliki ketentuan sangat mengikat dan baku dimulai dari

ngedum karang, ngereka, pewarnaan/pengawak, nyawi, sesepukan, ngampad, nyoca, dan meletik. Estetika pencerahan menghasilkan karya-karya maksimal dan bersifat simbolik. Pierre Bourdieu mengatakan, simbol memiliki arti penting dalam kehidupan masyarakat global. Piliang (mengacu pemikiran Baudrillard) mengemukakan ada tiga relasi pertandaan dalam wacana seni dari berbagai zaman (1) estetika klasik/pramodern, (2) estetika modern, dan (3) estetika postmodern. (Sachari, 2006: 66). Setiap interaksi sosial, selalu menggunakan simbol yang menyediakan perangkat tanda untuk memudahkan terjadinya kesepahaman atau saling pengertian (Fashri, 2014: 117). Estetika pencerahan (lihat gambar 4.3) dalam lukisan yang terdapat pada dinding bangunan Kertha Gosa dengan tema “Bima Swarga” melukiskan atma orang yang suka berbohong atau suka berbuat jahat akan diuji di “titi ugal agil” di bawah “titi” terdapat jamban api dan dipasangi tombak di bawahnya. Selain itu, juga diawasi oleh makhluk-makhluk yang siap memberikan hukuman. Kalau jatuh, sebagai tanda bahwa semasa hidupnya penuh dengan dosa. Kalau semasa hidupnya lebih banyak berbuat kebajikan, manusia akan dapat melewati titi ugal agil tersebut.

34

Bentuk Estetika Seni lukis wayang Kamasan

Atma Prasangsia “ estetika pencerahan

pramodern

“Wejangan Drona” Bentuk estetika semantik

dan pragmatis era modern

Produk pasar estetika oposisi era postmodern

Gambar 4.3

Perubahan bentuk estetika, pramodern, modern dan postmodern. Dokumen I Wayan Mudana 2014.

Untuk menunjukan identitas diri, Gouda (1995) dalam “Dutch Culture Overseas”, (Praktik Kolonial di Hindia Belanda 1900-1942) Gubernur Jendral De Joeng menunjuk Walter Spies dan R. Bonnet melakukan pembinaan terhadap pelukis Bali. Dalam pembinaan tersebut diperkenalkan estetika barat tentang teknik-teknik melukis modern seperti (1) stilirisasi, (2) komposisi, (3) proporsi, (4) ekpspresi, persfektif dan (5) penyajian. Mengingat sebagian dari warna Bali seperti geluga

sangat dop (kurang cerah) maka didatangkan beberapa warna, seperti kencu, tinta Cina, atal, perada gede, dan ancur dari negeri Cina. Semua teknik dan warna Bali yang sudah baik terus dilanjutkan. Semua teknik dan warna tersebut untuk selanjutnya diintegrasikan sebagai teknik dan warna tradisi yang memiliki identitas sangat khas dan unik. Pelukis juga didorong untuk menunjukan identitas diri.

Estetika Barat yang dikembangkan dalam pembinaan terhadap para pelukis Kamasan adalah estetika semantik dan estetika pragmatis. Piliang (2008: 290) mengatakan ciri-ciri estetika semantik memiliki tipe-tipe tanda dan mode referensi yang rasional. Di pihak lain estetika pragmatis berhubungan dengan hakikat dan kemampuan seni sebagai harmonisasi. Bentuk estetika semantik dan pragmatis yang

35

dikembangkan selain ingin menunjukkan aktualisasi diri dengan mempertahankan teknik-teknik melukis tradisi yang terjadi secara turun-temurun juga dikomersialkan menjadi produk penunjang pariwisata. Untuk mengembangkan estetika yang efektif, efisien, dan ekonomis digunakan bahan dan peralatan pabrikan. Ratna (2011: 235) dalam “Estetika sastra dan Budaya”, mengatakan, pemikiran manusia modern sangat dinamis, universal dan individualisme menyebabkan imajinasi penciptaan bergeser dari yang berorientsi memohon, menunggu, pasrah berubah menjadi lebih aktif dan memberikan penjiwaan berupa ekspresi. Sebagaimana dengan lukisan yang berjudul “wejangan Drona” yang dilukis oleh Wayan Puspa diangkat dari cerita Mahabharata. Kepekaan intuisinya mengantarkan ia berhasil memberikan jiwa seolah-olah lukisan yang dibuatnya tampak hidup. Menurut Crose (1866-152) dalam Ratna (20011: 83), intuisi dianggap sebagai pengetahuan yang diperoleh melalui daya khayal. Itu berarti bahwa Puspa sudah mampu mentransformasikan karakter diri berupa daya khayal ke dalam bentuk lukisan. Kemampuan mengekspresikan daya khayal ke dalam satu bentuk lukisan merupakan identitas modern yang bersifat subjektif.

Pencitraan menurut Baudrillard dalam Piliang (2008: 290) merupakan permainan simulasi yang bertujuan untuk meningkatkan nilai jual. Sedangkan simulasi merupakan permainan produksi massa untuk meningkatkan nilai guna dan nilai tukar. Simulasi tidak dapat dipisahkan dari narasi-narasi baru, sisipan, tambahan sehingga menghasilkan produk baru yang semu. Untuk memproduksi struktur baru dalam permainan simulasi. Piliang (1998: 151), estetika oposisi bertujuan untuk mendapatkan nilai guna dan nilai tukar yang lebih tinggi. Konsumen estetika oposisi berusaha menghapus batas-batas antara seni dan kerajinan, sakral dan profan, oleh Featherstone (2008 : 158) disebut sebagai gerakan “ganda”.

36

Gambar 4.4 Estetika Oposisi Seni lukis wayang Kamasan dalam bentuk payung, angklung, tas dll. Dokumen: I Wayan Mudana, 2014)

Estetika oposisi (lihat gambar 4.4) dapat memberikan dukungan positif terhadap perubahan iklim berinovasi dan berkreativitas antara seni dan kerajinan, sakral dan profan sehingga melahirkan produk baru yang mampu mendatangkan nilai tambah, dapat meningkatkan nilai jual dan mampu menampung tenaga kerja. Dalam konteks budaya visual produk kreatif menjadi bagian dari penyelenggaraan pembangunan untuk menumbuhkan penyadaran masyarakat meniru dan mengembangkan karya-karya yang mirip dan sepadan dalam lingkup hampir tidak terbatas. Produk pasar sarat hitung-hitungan untung dan rugi dengan harapan produknya cepat laku. Estetika yang dihasilkan dengan cara meniru oleh Baudrillard dikatakan sebagai selera rendah, seni kasar, atau sampah artistik. Sesungguhnya pelukis pasar ingin memberikan karya-karya yang terbaik kepada konsumen. Konsumen yang brani membayar mahal mendapatkan produk yang baik sesuai dengan jumlah uang yang dibayarkan. Sebaliknya konsumen yang memiliki uang sedikit juga memiliki kesempatan yang sama tetapi kualitasnya dibedakan. Oleh sebab itu Sumantra mengatakan, produk pasar merupakan produk kesepakatan yang dibuat kedua belah pihak. Produk pasar penuh dengan perhitungan ekonomi (modal) mempertarungkan persepsi-persepsi, kepercayaan terhadap kecendrungan masyarakat. Produk pasar yang dipertarungkan penuh dengan perhitungan untung dan rugi, sehingga terjadi standarisasi dan idealisme semu.

37

Karena uang aktivitas transformasi tumbuh lebih bebas dan fleksibel sarat dengan kepentingan sehingga memicu munculnya produk-produk kreatif berupa produk baru dengan cara meniru. Kemampuan meniru yang dimiliki perajin-perajin Desa Kamasan dimanfaatkan sebagai modal oleh kapitalisme untuk memproduksi keinginan-keinginannya melalui permainan simulasi untuk memproduksi produk baru. Kemampuan kapital yang dimiliki oleh kapitalisme secara halus mampu mendominasi pelukis dengan deposit-depositnya sehingga pelukis tidak berdaya menolak keinginan-keinginan pemilik modal untuk melakukan profanisasi lukisan wayang menjadi produk pasar.

Dari uraian tersebut di atas dapat dikatakan bentuk estetika seni lukis wayang Kamasan dalam era postmodern sudah berubah dari estetika pencerahan menjadi pencitraan untuk menggambarkan dimensi hidup yang mapan dan bersifat hedonistik. Dalam perubahan tersebut idealisme pakem cenderung dipinggirkan dengan kepentingan ekonomi yang mengakibatkan uang menjadi sangat berkuasa sehingga terjadi pemujaan terhadap “uang”.