• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sebagai Identitas Diri: Prinsip yang Berkelanjutan

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

4. Tanggapan Konsumsi Konsumen

4.2 Faktor-Faktor Pendorong Transformasi Seni lukis wayang Kamasan

4.2.2 Sebagai Identitas Diri: Prinsip yang Berkelanjutan

Seni lukis wayang Kamasan diklaim sebagai karya bersifat kolektif dan komunal. Proses pengerjaanya terikat oleh pakem, norma, dan ketentuan yang bersifat mengikat dan baku. H. Te Flierhaar, seorang tokoh pendidik guru H.I.S pada masa pemerintahan kolonial Belanda tahun 1920-an, sangat berjasa dalam

119

mengintegrasikan pendidikan dengan memasukkan mata pelajaran menggambar wayang dalam mata pelajaran yang harus diikuti sebagai bentuk pembinaan (Flierhaar, 1941; Picard, 2004: 26). Masyarakat (tokoh adat) yang pintar menggambar dilibatkan dalam pendidikan untuk memberikan pelajaran menggambar wayang di sekolah pada masa pemerintahan kolonial Belanda.

Gubernur Jenderal De Jonge dalam pemerintahan kolonial Belanda menugaskan Walter Spies dan Rudulf Bonnet untuk memberikan pembinaan kepada pelukis-pelukis di Desa Kamasan untuk menghasilkan karya yang layak dikomersialkan. Dalam pembinaan Spies dan Bonnet memperkenalkan estetika modern, tentang pengungkapan ekspresi, cara-cara menstilir, cara-cara membuat komposisi, proporsi, cara memperoleh kesan harmonis, pewarnaan, persefektif dan penyajian. Identitas tradisi yang unik dan khas tetap dipertahankan seperti persfektif hierarkis, ngedum karang, molokan, neling, ngampad, nyepuk, nyoca, meleti, dan

ngerus tetap dipertahankan sebagai identitas.

Mencermati identitas seni lukis wayang Kamasan yang berkembang di Desa Kamasan, Nengah Muriati dan Wayan Sriwedari dalam wawancara terpisah mengatakan seperti di bawah ini.

“...identitas seni lukis wayang Kamasan dikelompokkan menjadi tiga, yaitu (1) identitasnya Mangku Mura, (2) identitas Nyoman Mandra, dan (3) identitas seni lukis pasar, tetapi secara umum identitas tersebut masih mengacu pada identitas kelompok yaitu seni lukis wayang Kamasan yang diwariskan oleh leluhurnya yang bernama Gede Modara (Wawancara dengan Nengah Muriati dan Wayan Sriwedari, 2013 di Desa Kamasan).

Seperti dikatakan oleh Muriati bahwa identitas pelukis Kamasan masih mengacu pada identitas kelompok yang diwarisi secara turun-temurun. Pandangan yang sama juga dikatakan oleh Sriwedari, bahwa kebiasaan-kebiasaan melukis selain terjadi secara turun-temurun juga diajarkan baik dalam pendidikan formal di sekolah-sekolah maupun nonformal yang dididik di sanggarnya, yaitu “Sanggar Melukis Tradisional Wayang Gaya Kamasan”.

120

Sebagai bentuk kesadaran kritis Bupati Klungkung Nyoman Suwirta membangkitkan semangat keperdulian dari pelukis Kamasan untuk lebih menyemarakkan Desa Wisata Kamasan dari Kertha Gosa. Pada tahun 2015 dibentuk kelompok pelukis yang bernama “Sekar Arum” yang diketuai oleh I Komang Arcana. Tujuan dibentuknya kelompok pelukis ini adalah untuk menunjukan eksistensi pelukis. Kegiatan demontrasi melukis di Balai Kambang yang dilakukan secara bergilir oleh pelukis dapat menunjukan eksistensi pelukis ditengah-tengah masyarakat pendukungnya. Setiap hari Minggu pelukis kelompok “Sekar Arum” mendemontrasikan kebolehannya melukis sambil mempromosikan produk-produknya kepada wisatawan yang berkunjung ke Kertha Gosa dan Balai Kambang.

Pelukis-pelukis yang bergabung dalam kelompok ini berjumlah 30 orang, yaitu Nyoman Kondra, Mangku Muriati, I Wayan Puspa, I Wayan Suartana, Ketut Mandra, I Komang Arcana, Wayan Tarca, Made Diarta, Mangku Wayan Muliarsa, Nyoman Widiarti, Nyoman Arnawa, Nyoman Mastra, Wayan Sueca, Wayan Yudara, Komang Adi Prabawa, Kadek Nata, Made Darmanta, Made Gita, Mangku Gina, Made Sesangka, Puji Laksana, Made Puspa, Ketut Suwendra, Made Suparta, Wayan Jiwa, Made Ripta, Ketut Sukanta, Made Suantara made Sukanta, Pande Sumantra, Ni wayan Wali. Pelukis-pelukis yang terlibat dalam kelompok Sekar Arum sebagian besar berasal dari Banjar Sangging, Banjar Pande Mas, Banjar Pande, dan Banjar Siku.

Pelukis didorong untuk menunjukkan identitas diri sehingga menghasilkan karya-karya maksimal melalui narasi-narasi baru, berupa tambahan, sisipan yang mencerminkan kebaruan. Menurut kedua pelukis perempuan tersebut sampai saat ini di Desa Kamasan berkembang tiga gaya lukisan yang memiliki identitas menonjol dan memiliki pengikut-pengikutnya yaitu; identitas Mangku Mura, identitas Nyoman Mandra, dan identitas lukisan pasar.

121 1. Gaya Lukisan Mangku Mura

Pengikut-pengikut Mangku Mura, berasal dari Banjar Siku dari lingkungan keluarganya sendiri. Selain sebagai pelukis Mura juga merupakan sangging yang sangat disegani oleh lingkungannya. Mangku Mura sangat percaya terhadap suratan takdir. Baginya melukis merupakan anugrah yang turun dari atas harus dilakoni. Oleh karenanya ia tidak pernah mengajarkan orang-orang melukis atau menyiapkan kader-kader pengganti. Termasuk dari lingkungan keluarganya sendiri.

Identitas lukisan Mangku Mura dapat dilihat dari sketsa-sketsanya yang sangat tegas, linier dengan tampilan garis yang memiliki ritme menyatu dengan bentuk lukisan. Tarikan garis yang berkesinambungan tidak terputus-putus mencerminkan napas yang dilekatkan pada sketsanya sehingga membuat seolah-olah sketsa itu hidup dan memiliki karakter yang kuat. Garis-garis yang tersusun menyatu dengan cerita dan tema-tema lukisan. Pendukung gaya lukisan Mangku Mura kini seolah-olah menurun pada anaknya Nyoman Kondra dan cucunya Widiadnya yang sedang menempa kuliah di FSRD, Seni Murni, Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar (lihat gambar 4.4).

Gambar 4.4 Gaya Lukisan Mangku Mura Dokumen: I Wayan Mudana, 2014

122

Tarikan garisnya Mura sangat kuat, apalagi ketika melukiskan sosok raksasa atau tokoh-tokoh yang berkarakter aeng atau menyeramkan. Tema-tema lukisan kesukaannya adalah suasana peperangan yang diangkat dari cerita pewayangan yang menampilkan adegan kolosal terutama menampilkan tokoh-tokoh raksasa yang banyak sehingga pembagian ruang dan bidang lukisan terkesan padat mengingatkan pada pembagian ruang pada seni lukis Batuan. Untuk menunjang karakter lukisan, Mura menggunakan warna Bali yang lebih didominasi oleh warna oker (warnapere), merah (kencu) dan ditunjang dengan warna blau. Sebagaimana penuturan Mura semasa hidup kepada anak-anaknya, yaitu Muriati dan Darmi ketika membeli batu

pere sangat banyak (akampil) dari orang Serangan dan warna atal, kencu di toko warna di Denpasar ia mengatakan seperti di bawah ini.

“...yi pang nawang, ne warna bin pidan anak lakar keweh ngalih melahan jani tambunan....”, artinya anda (sebutan untuk anak perempuan) harus tau, nanti warna ini sangat sulit untuk mendapatkan sebaiknya sekarang dikumpulkan (Wawancara dengan Darmi dan Muriati, 2014 di Banjar Siku Kamasan).

Sadar akan bahan-bahan warna yang diperoleh dari alam akan sulit diperoleh maka Mangku Mura sedari awal menimbun bahan-bahan tersebut di rumahnya sehingga diwarisi sampai sekarang. Mura juga sangat piawai dalam membuat karakter punakawan, seperti Sangut, Delem, Wredah dan Twalen. Menurut Nurdjanti (2006), karakter punakawan ini dulu dilekatkan pada Ketut Kute/Ketut Lui yang dilanjutkan pada muridnya Ngales. Menurut Muriati (anaknya) Mura selain belajar melukis pada Ketut Lui (melalui karya-karyanya) juga belajar pada Kayun, Ngales, Lenged, dan Dogol. Oleh sebab itu, kelima tokoh sangging tersebut dianggap sebagai gurunya yang dijadikan panutan dalam menjalankan tugas-tugasnya sebagai pelukis. Mura dapat mewarisi keterampilan yang dimiliki oleh Lui dan Ngales dalam membuat karakter raksasa, dan punakawan, seperti Sangut, Delem, Wredah dan Twalen. Mura tidak pernah mengajarkan ilmu yang dimiliki secara khusus kepada anak-anaknya maupun kepada orang lain karena ia sangat memercayai garis keturunan atau takdir..

123

Dari uraian tersebut di atas dapat dikatakan bahwa identitas gaya lukisan Mangku Mura yang percaya terhadap suratan takdir mengantarkan semua anak-anaknya menjadi pengikut-pengikutnya sebagai pelukis, seperti I Nyoman Kondra, Nengah Muriati, Darmi, dan Widiadnyana. Stail lukisan putra dan putrinya mirip dengan karya-karya Mangku Mura, mungkin ini yang disebut sebagai suratan takdir yang terjadi secara turun-temurun.