ANALISIS DAN PEMBAHASAN
3. Objek dan Atraksi Wisata ( Obyect and Attraction of the detinations )
4.3 Implikasi Transformasi Seni lukis wayang Kamasan di Desa Kamasan Klungkung Bali. Klungkung Bali
4.3.3 Terpasungnya Kebebasan Melukis
Terpasungnya aktivitas melukis sesungguhnya mengingatkan pada kejadian masa lalu ketika perempuan dilarang mengambil pekerjaan sebagai pelukis dengan alasan pada diri perempuan terdapat “sebel” (kotor kain) yang datang setiap bulan. Kini fenomena terpasungnya kebebasan melukis disebabkan oleh kapitalisme yang sudah mampu mendominasi pelukis dengan order-order pasar dalam memenuhi kebutuhan konsumen. Order-order pasar merupakan perintah-perintah pemilik modal untuk memproduksi keinginan konsumen yang didistribusikan ke pasar. Setiap order
diikuti oleh target-target yang harus terpenuhi berdasarkan standarisasi yang sudah disepakati. Order pasar merupakan produk kapitalisme yang didukung oleh kemampuan kapital yang besar untuk memproduksi dan reproduksi order-order
pasar. Dapat pula dikatakan order-order pasar merupakan produk penuh dengan perhitungan, pertimbangan-pertimbangan untuk memperoleh keuntungan berupa nilai ekonomi. Semakin banyak produk yang didistribusikan ke pasar semakin besar keuntungan yang diperoleh oleh pemilik modal. Setiap keuntungan dirayakan sebagai bentuk keberhasilan dalam memproduksi produk-produk pasar.
Order-order pasar dapat memberikan lapangan pekerjaan baru bagi pelukis. Di pihak lain juga dapat memasung kebebasan pelukis karena harus menuruti keinginan-keinginan kaum kapitalisme yang sudah berhasil mendominasi pelukis. Charles Jenks (1975) mendefinisikan postmodern sebagai eklektikisme radikal. Sedangkan Sachari (2002:32) mengatakan eklektik berkaitan dengan media seni. Artinya, segala sarana dapat dipadukan, segala alat dapat digunakan menjadi instrumen seni dan berbagai bagian gaya atau subsistem digunakan dalam suatu sintesis yang baru dan kreatif. Postmodern dapat mementaskan parodi, kitch, camp,
dan skizoprenia menjadi produk-produk kreatif untuk didistribusikan ke pasar.
Sedangkan Lyotard dalam Piliang (2010:104) mengatakan bahwa sudah saatnya estetika postmodern keluar dari jalur grand narative, yang mengklaim ada
prinsip-180
prinsip kebenaran, kesejahteraan, makna kehidupan, dan moral yang bersifat universal dan berpencar ke arah narasi kecil dengan segala nilai mitos, spiritual, dan ideologi yang spesifik.
Order yang dilakukan secara berulang-ulang untuk mendapatkan benefit berimplikasi kejenuhan dan kebosanan sehingga dapat mengurangi semangat kerja dan kualitas produk yang didistribusikan di pasar. Penurunan semangat kerja disebabkan oleh kebosanan memproduksi produk-produk yang sama secara berulang-ulang sehingga berimplikasi terpasungnya kreatifvitas melukis. Sebagaimana yang dikatakan oleh Mangku Gina bahwa sesungguhnya ia bosan membuat sket-sket yang mengulang-ulang meskipun ia mendapat bayaran atas pekerjaannya. Karena terdesak atas kebutuhan hidup, order-order pasar ini harus dikerjakan meskipun dalam keadaan terpaksa. Meskipun dikerjakan dengan perasaan sudah jenuh produk yang dihasilkan masih mirip dan sepadan karena sudah hafal terhadap produk-produk yang dipesan oleh pengelola industri. Kalau tidak dikerjakan berarti keluarganya tidak makan karena profesi satu-satunya adalah melukis. Sesungguhnya Mangku Gina bisa membuat lukisan lebih baik, lebih bervariasi, tetapi pasar menghendaki lain. Ia harus melayani pesanan-pesanan pasar untuk memenuhi kebutuhan hidup. Motif-motif produk pasar sangat beraneka ragam sesuai dengan kebutuhan konsumen, seperti alat-alat perlengkapan upacara agama Hindu, barang-barang souvenir dan barang-barang kerajinan.
Pandangan yang hampir sama juga diutarakan oleh Made Puspa teman seangkatan Mangku Gina ketika belajar di sanggar Nyoman Mandra. Meskipun merasa bosan mengerjakan sketsa secara berulang-ulang, ia juga bersyukur memperoleh pekerjaan sehingga dapat menafkahi keluarga. Puspa juga memiliki pandangan yang sama tentang pemahaman terhadap kepentingan pengelola industri terhadap produk-produk yang dijual di pasar. Mengingat jumlah pelukis yang bisa mandiri cukup terbatas dan pekerja-pekerja seni begitu banyak yang hanya bisa dalam pewarnaan, nyawi, atau finising, kalau tidak dibantu dengan membuatkan sket-sket, dikhawatirkan banyak pengangguran. Pekerjaan melukis akan dimonopoli oleh
181
kelompok tertentu saja. Puspe juga mengatakan bahwa sesungguhnya keterampilan membuat sket pelukis-pelukis di Desa Kamasan hampir sama, hanya faktor nasib yang berbeda. Oleh sebab itu ia juga sering membantu membuatkan sket teman-temannya yang sudah dapat mandiri ketika ada pekerjaan yang besar.
Komang Arcana seorang pelukis Desa Kamasan mengatakan order-order
lukisan pasar dapat bersifat positif dan negatif. Sebagaimana yang dikatakan dalam petikan wawancara sebagai berikut.
“...sebagian besar dari pelukis pasar di Desa Kamasan berasal dari kalangan ekonomi lemah yang sangat menggantungkan hidup dari profesi melukis. Sebagai pelukis yang memiliki keluarga saya bertanggung jawab terhadap keberlangsungan hidup keluarga saya...tiap hari saya melukis. Terkadang saya merasa terpaksa melukis karena jenuh melukis yang itu-itu saja. Tetapi kalau tidak melukis keluarga saya tidak makan. Sebagai pelukis saya juga ingin menyalurkan ide-ide saya menjadi sebuah lukisan yang ideal. Tetapi saya harus mengerjakan order-order untuk mendapatkan uang. Kalau saja saya memiliki uang saya pasti tidak mengambil order-order lukisan pasar karena sangat memasung kebebasan saya sebagai pelukis (Wawancara dengan Komang Arcana tahun 2014 di Kamasan Klungkung).
Sesuai dengan pandangan Arcana, terpasungnya kebebasan melukis didorong oleh tuntutan hidup. Pekerjaan yang dilakukan secara mengulang-ulang bagi seorang pelukis sangat memasung ide-ide yang terpendam pada diri pelukis. Di lain pihak ia tidak berani lepas dari order-order pasar yang sudah pasti mendatangkan uang. Dibanding dengan mengedepankan idealisme tetapi mengorbankan keluarga. Sesungguhnya pandangan yang sama juga dialami oleh pelukis-pelukis di Desa Kamasan, seperti Mangku Gina, Wayan Puspa, Made Puspa, Darmanta dan Gita.
Sebagaimana yang dikatakan oleh Sondra pemilik sondra gallery dalam menyoroti order-order pasar mengatakan sebagai berikut.
“...dalam memproduksi order-order pasar tidak sama seperti karya mesin yang gampang diprediksi dan ditarget. Karena produksi menggunakan keterampilan tangan manusia faktor kejenuhan sering menjadi hambatan sehingga target-target tidak terpenuhi.(Wawancara dengan I Made Sondra tahun 2014 di Kamasan Klungkung).
182
Sesuai dengan pandangan Sondra kalau seseorang sudah dijejali dengan pekerjaan menoton akan menimbulkan kejenuhan dan bosan. Perasaan jenuh dan bosan kalau dipaksakan selain menyiksa pelukis juga menghasilkan produk-produk yang ngawur tidak sesuai dengan order dan standarisasi. Pada saat itu perlu ada selingan pekerjaan baru untuk memberikan penyegaran. Pelukis sesungguhnya ingin memproduksi seni lukis wayang Kamasan dengan idealisme tradisi yang maksimal. Di pihak lain, karena terbentur oleh permasalahan ekonomi pelukis tidak berdaya untuk terhindar dari kapitalisasi sehingga harus mengikuti keinginan-keinginannya untuk memproduksi dan mereproduksi ide-ide masa lalu menjadi produk massa.
Mikhailm Bakhtin seorang pemikir Rusia menjelaskan dialogisme bertergantungan dengan ungkapan-ungkapan yang sudah ada. Dua karya dua ungkapan verbal secara bersama-sama memasuki hubungan semantik yang disebut dialogis (Hidayat, 2012: 121). Secara dialogis bentuk estetika oposisi digunakan untuk menentukan daya tawar pelukis dengan kapitalisme untuk memproduksi order-order pasar berdasarkan model-model yang sudah disepakati berdasarkan aturan pasar yaitu standarisasi. Adorno dalam “The Culture Industry”, mengatakan bahwa segala bentuk produksi budaya menjadi komoditas industri yang berhubungan dengan standarisasi dan idealisme semu (Strinati,1992: 69). Produk standarisasi dikatakan produk industri yang rendah karena diproduksi dari order-order yang sudah ditetapkan sebelumnya. Semakin mirip produk standarisasi yang diorder menunjukan suatu keberhasilan karena telah mampu mensetarakan kerja manusia mirip dan sepadan sebagaimana layaknya karya mesin.
Implikasi estetika industri budaya yang dikembangkan menjadi komoditas bersifat sangat pragmatis. Estetika pragmatis menurut Ratna (2011: 235), sarat hitung-hitungan dengan hakekat dan kemampuan komunikasi dalam menciptakan produk pasar. Ide komoditas yang didistribusikan di pasar sesungguhnya tidak berasal dari pelukis tetapi dari order-order konsumen sendiri yang membawa keinginan-keinginan pasar untuk diproduksi secara massa. Dialogis antara pelukis dengan konsumen dalam menciptakan struktur baru yang kreatif dan inovatif menemui jalan
183
buntu sehingga berimplikasi memasung kebebasan melukis untuk memenuhi kebutuhan konsumen yang berorientasi pasar. Produk yang didistribusikan ke pasar mengesampingkan idealisme dan mengkedepankan pertimbangan bagaimana produk tersebut dapat memuaskan kebutuhan konsumen. Produk pasar merupakan produk penuh perhitungan dengan pertimbangan untuk memperoleh keuntungan ekonomi. Semakin banyak produk yang dapat didistribusikan ke pasar semakin besar keuntungan yang diperoleh oleh pemilik modal.
Dialog-dialog yang dikembangkan estetika oposisi dalam praktik-praktik pembentukan order-order pasar merepresentasikan hasrat berkaitan berupa keinginan untuk peningkatan kesejahteran dan eksistensi hidup. Mengerjakan order pasar disepadankan dengan kerja mesin untuk memenuhi target-target yang sudah ditentukan oleh kapitalime. Target-target yang dibebankan pada pelukis bila terlalu menoton dapat memasung kreativitas sehingga menimbulkan rasa terpasung dan kehilangan konsentrasi karena harus mengikuti keinginan-keinginan konsumen.
Perubahan dialogis ditandai dengan munculkan gaya-gaya lukisan untuk menunjukan idealisme semu karena diperoleh tidak berdasarkan rancangan awal atau bersifat kebetulan. Tiap-tiap pelukis memiliki argumentasi untuk menyatakan ciri khas karya-karya mereka dan itu boleh dan sah. Pendukung gaya Mangku Mura berbeda dengan gayanya Nyoman Mandra, demikian pula dengan gaya Ni Made Suciarmi. Kalau ditelisik lebih dalam, identitas mereka masih meniru identitas kelompok dalam tradisi lama. Kapitalisme yang memiliki jaringan sangat luas dan kekuasaan modal mampu memasung gaya-gaya tersebut menjadi produk pasar dengan memberikan pengayaan, tambahan, dan tempelan-tempelan terhadap identitas tradisi lama sehingga mencerminkan kesan dialogis antara tradisi lama dengan produk-produk baru. Estetika simulasi diasumsikan sebagai kapitalisme yang mampu memasung order-order pasar dengan mementaskan parodi, kitch, camp, dan
skizoprenia untuk memproduksi ide-ide masa lalu melalui permainan simulasi yang merepresentasikan seni lukis wayang Kamasan. Produk-produk yang dihasilkan dalam permainan simulasi memasung kebebasan pelukis dalam memproduksi
order-184
order pasar. Representasi menurut Baudrillard merupakan produk dari dunia simulasi. Di pihak lain simulasi merupakan dunia yang terbentuk dari hubungan berbagai tanda dan kode secara acak tanpa referensi rasional yang jelas. Hubungan ini melibatkan tanda real (fakta) yang tercipta melalui proses produksi dan tanda semu (citra) yang tercipta melalui proses reproduksi.
Estetika simulasi dan hiperealitas merupakan penjabaran dari pemikiran Baudrillard tentang karakteristik budaya postmodern dalam perkembangan kapitalisme. Teknologi informasi dan komunikasi estetika simulasi berkembang menjadi budaya massa dan budaya populer yang dapat memasung kebebasan melukis kearah postmodern. Fenomena simulasi, simulakra, hiperealitas, dominasi nilai tanda, nilai simbol, dan prinsip komunikasi bujuk rayu (seduction) dibangun oleh model-model produksi dan reproduksi dari pelbagai macam tanda, citra, dan kode seni. Sementara hiperialitas adalah kondisi atau pengalaman kebendaan merupakan kosekuensi logis prinsip-prinsip simulasi yang ditandai dengan bangkrutnya makna, pertanda, dan realitas, yang diambil oleh permainan bebas petanda. Dunia hiperealitas adalah dunia yang disarati oleh silih bergantinya reproduksi sebagai simulakra objek-objek yang tidak memiliki refrensi sosial, objek-objek-objek-objek yang dibuat di atas kerangka meleburnya realitas dengan fantasi, fiksi, halusinasi, dan nostalgia sehingga perbedaan antara estetika yang satu dan yang lain sulit diketahui. Reproduksi nostalgia mencerminkan kepanikan era postmodern disebabkan oleh tanda dan realitas yang hilang sebagai akibat dari kondisi modernitas yang menjadikan manusia teralienasi dari akar kebudayaannya sendiri.
Dari uraian tersebut di atas maka dapat dirangkum dan dinyatakan bahwa
order-order pasar dapat memasung kreativitas melukis untuk memenuhi keinginan-keinginan pemilik modal. Order-order pasar dipersepsikan sangat subjektif tidak terikat oleh ruang dan waktu. Pemaknaan ruang dan waktu terhadap order-order yang didistribusikan ke pasar ketika difungsikan untuk sarana upakara dimaknai sebagai persembahan. Akan tetapi ketika ditumpuk di artshop didistribusikan untuk memenuhi kebutukan wisatawan dipersepsikan sebagai produk sebagai produk
185
komoditas dengan makna ekonomi. Di pihak lain ketika digunakan untuk menghias produk souvenir dan menghias dinding-dinding bangunan rumah tinggal agar menjadi indah serta menarik maka lukisan tersebut dimaknai sebagai makna estetis sebagai produk pencitraan.