ANALISIS DAN PEMBAHASAN
6. Penyelesaian dan Penyajian
4.1.3. Perubahan Konsumsi
Secara tradisi dulu seni lukis wayang Kamasan dikonsumsi untuk memberikan pencerahan dan bayangan dalam kehidupan manusia di dunia maupun di akhirat. Menurut Russell (1988), keterjeratan budaya konsumsi berawal pada keinginan manusia yang tidak terbatas dan tidak mungkin terpuaskan sepenuhnya sehingga mereka selalu merasa kekurangan. Petunjuk pelukis terjerat budaya konsumsi dapat dicermati pada diferensiasi dan gaya hidup (Piliang, 2004: 171). Baudrillard, (2004: 90), dalam “Masyarakat Konsumsi”, juga mengatakan sebagai kemunculan kontrol atas kekuatan yang berhubungan dengan mimpi-mimpi, image, dan kesenangan mengkonsumsi. Kini tuntutan hidup semakin komplek dan bersifat konsumerisme dan hedomistik segala sesuatu harus dibeli dengan uang sehingga uang menjadi sangat berkuasa. Untuk memperoleh uang pelukis harus bekerja keras mencari terobosan-terobosan untuk memproduksi produk yang dapat dikonsumsi oleh produsen dan konsumen .
Konsumen dengan kekuatan kapital serta jaringan yang dimiliki untuk mengkonsumsi seni lukis wayang Kamasan menjadi produk pasar sehingga terjadi profanisasi. Produk yang dikonsumsi diproduksi dengan pendekatan bujuk rayu sehingga terjadi duplikasi gaya lukisan Mangku Mura dan Nyoman Mandra menjadi lukisan Mangku Mura-Mangku Muraan dan Mandra-Mandraan dengan menempelkan inovasi-inovasi yang memberikan kesan kebaruan. Pendukung gaya lukisan Mangku Mura memiliki kemampuan untuk menduplikasi lukisan orang tuanya dirayu oleh konsumen sehingga menghasilkan lukisan Mangku-Mura - Mangku Muraan. Karena diduplikasi dengan teknik tradisi memadai lukisan yang asli dengan yang palsu
80
sangat mirip susah dibedakan. Meskipun demikian konsumen selalu diberi tau bahwa lukisan yang dikonsumsi bukan lukisan Mangku Mura tetapi lukisan duplikasi yang dihasilkan oleh anak-anak dari Mangku Mura sendiri.
Pengusung gaya lukisan Mandra lebih banyak mengkonsumsi seni lukis wayang Kamasan menjadi produk souvenir untuk memenuhi kebutuhan pariwisata. Produk pariwisata bersifat sangat touristic sarat dengan permainan kapitalisme dengan hitung-hitungan untung dan rugi. Nilai-nilai tradisi yang biasanya dilekatkan pada seni lukis wayang Kamasan dikaburkan dengan pertimbangan untung dan rugi. Bourdieu (2004); Russell (1988), mengatakan bahwa konsumsi berhubungan dengan gaya hidup dan selera (pastiche). Istilah mengonsumsi, menurut Raymond Williams (1976: 68) dalam Mike Featherstone (2001: 48) mengatakan sebagai berikut.
“...komsumsi adalah merusak (to destroy), memakai (to use up), membuang-buang (to waste), menghabiskan (to exhaust). Konsumsi sebagai pembuang-buangan, perbuatan yang berlebih-lebihan dan pengeluaran menunjukkan suatu kondisi yang paradoksal dalam penekanan produksionis dari masyarakat kapitalis dan sosialis negara yang harus dikontrol dan disalurkan (Featherstone, 2001: 48).
Sesuai dengan pandangan Featherstone, mengkonsumsi merupakan kondisi yang paradok sehingga terjadi oposisi biner dengan pemilik modal untuk membuat siklus sejarah baru dalam membuat produk-produk kultural yang berorientasikan pasar. Dalam masyarakat konsumsi seni lukis wayang Kamasan direduksi menjadi produk-produk yang cepat laku, tepat sasaran, dan cepat mendatangkan uang. Individualisme mendorong masyarakat tradisi bekerja keras untuk mengekplorasi gagasan, mimpi-mimpi, image dengan memanpaatkan waktu luang dengan kerja-kerja kreatif, inovatif, dan variatif. Produk yang dikonsumsi oleh konsumen ketika didistribusikan ke pasar diproduksi dari ide-ide konsumen sendiri. Konsumen lokal sangat terbatas berasal dari kalangan umat beragama Hindu di Bali. Di lain pihak konsumen global sangat luas tersebar keseluruh pelosok dan bersekala dunia. Konsumen global selain mengkonsumsi produk-produk yang dikonsumsi untuk kebutuhan ritual juga mengkonsumsi produk-produk kreatif yang dikomodifikasi dari
81
ide-ide masa lalu melalui proses daur-ulang. Produk daur-ulang merupakan cerminan dari karya-karya kreatif yang bersifat eklektik yang berupaya untuk menampilkan
pesyen berupa produk souvenir, seperti kipas, tas, dompet, map, gantungan kunci, tempat tisu, lukisan, lukisan telur, kerajinan batok kelapa, benda kerajinan.
Konsumsi berhubungan dengan gaya hidup yang oleh Bourdieu (2004) disebut sebagai selera pastiche sebagai pencitraan untuk meningkatkan kelas dan status sosial. Produk pencitraan merupakan produk yang dihasilkan dari permainan simulasi dengan mengkaburkan identitas tradisi menjadi identitas baru yang semu. William (1976), mengatakan mengkonsumsi adalah sangat merusak yang berimplikasi melunturkan nilai-nilai trasi budaya lokal menjadi budaya hedomistik yang mengagung-agungkan nilai ekonomi semata. Tidak dapat dipungkiri bahwa kapitalisme telah mampu menciptakan lapangan pekerjaan baru sehingga dapat menghidupi banyak orang.
Ketika semangat kebudayaan semakin rasional dengan pandangan dunia yang semakin mekanistis mendorong kapitalisme melakukan transformasi seni lukis wayang Kamasan kearah sekulerisme sehingga terjadi desakralisasi. Louis Althusser (2004) mengatakan mengkonsumsi juga berhubungan dengan prinsip-prinsip kebenaran, kesejahteraan, makna kehidupan, dan moral secara realitas bersifat universal berpencar kearah narasi kecil dengan segala nilai mitos, spiritual, idiologi yang spisifik. Karya seni tidak lagi menggambarkan dan menunjukkan dimensi hidup yang sesungguhnya tetapi sudah dibungkus oleh adanya realitas tuntutan kehidupan yang berkaitan dengan eksistensi sebagai pendukung wacana mapan. Aktivitas berinovasi dan berkreativitas tumbuh lebih bebas dan fleksibel dari berbagai eksperimen untuk kepentingan pasar sehingga dapat memenuhi kebutuhan konsumen. Inovasi dan kreativitas dalam memenuhi kebutuhan konsumen memicu munculnya oposisi seni dalam menciptakan produk-produk pasar. Ruang-ruang komunikasi dibangun dari berbagai arah berbagai strata sosial kehidupan masyarakat untuk menyerap keinginan-keinginan pasar. Konsumen memiliki tingkatan kemampuan daya beli yang berbeda satu dengan yang lain. Dalam ranah kreatif
keinginan-82
keinginan masyarakat merupakan peluang untuk diekplorasi menjadi ide-ide kreatif melalui permainan inovasi untuk menciptakan produk-produk baru sebagai produk penunjang pariwisata. Setiap keinginan menunjukkan kelas, semakin tinggi status kelas sosial masyarakat memiliki keinginan untuk memiliki produk yang “asli” menggunakan proses produksi sesuai dengan pakem berdasarkan atas kepercayaan. Untuk membayangkan mimpi-mimpi dalam memenuhi keinginan, konsumen rela menunggu berlama-lama untuk menyerahkan kepercayaan yang diyakini dapat memuaskan kebutuhan diri mereka terhadap peningkatan status sosial. Bahan dan sistem pengerjaan dikerjakan secara maksimal dengan melibatkan pelukis yang memiliki reputasi tinggi. Pelukis dijadikan komoditas sebagai pencitraan untuk meningkatkan nilai jual. Sedangkan untuk pemenuhan keinginan masyarakat kalangan kelas menengah dan pasar dilakukan berdasarkan kesepakatan-kesepakatan mengacu pada standarisasi. Dalam standarisasi tidak selalu berkonotasi seni rendah, pinggiran, kasar, atau kelas kedua, tetapi seni berdasarkan atas kesepakatan antara pertukaran kualitas barang dengan sejumlah uang yang harus dibayarkan. Semakin tinggi target standar kualitas yang ditetapkan, konsumen harus membayar lebih mahal untuk kualitas-kualitas yang didapatkan. Kebedaraan standar kualitas sudah dapat dibayangkan, ada kepastian produk, ada model, sehingga memudahkan konsumen dalam proses konsumsi.
Perubahan konsumsi menurut I Wayan Puspa seorang pelukis tradisi anak didik dari Nyoman Mandra mengatakan sebagai berikut.
“...konsumen dimanjakan dalam persaingan di pasar antara sesama pelukis dengan pola menjemput bola. Untuk memenuhi kebutuhan hidup tidak lagi bersifat menunggu. Oleh sebab itu ia berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi konsumen. Sekecil apapun pekerjaannya ia akan berusaha memberikan yang terbaik untuk kepuasan konsumen” (Wawancara dengan I Wayan Puspa tahun 2013 tempat di Kamasan).
Sesuai dengan pandangan Puspa, lukisan pasar berkonotasi sangat luas dan sangat dinamis. Konsumen tidak selalu memiliki kemampuan keuangan yang tinggi untuk mengonsumsi seni lukis wayang Kamasan yang didistribusikan di pasar tetapi
83
ada juga yang kemampuan ekonominya sangat sedang bahkan rendah. Mengkonsumsi seni lukis wayang Kamasan dapat meningkatkan kelas dan status sosial. Puspa dalam menawarkan produk-produknya dengan cara menjemput bola. Konsumen dimanjakan dengan pelayanan prima dengan menanyakan dan menawarkan secara langsung produk-produknya kepada konsumen. Untuk memuaskan konsumen seringkali ia harus mengerjakan sendiri lukisan yang didistribusikan dari menyiapkan bahan, mensket, pewarnaan, hingga penyelesaian. Menurut puspa kita akan selalu menjadi pekerja-pekerja idealisme yang tidak dapat berbuat apa-apa untuk meningkatkan kesejahteraan. Produk-produk lukisan yang ditawarkan pada konsumen, yaitu parba, ider-ider, kober, tabing, menghias hotel. Di lain pihak lukisan telurnya sangat dikagumi oleh gurunya (Mandra) karena mampu menampilkan berbagai adegan wayang dalam bidang yang sangat kecil, sehingga banyak dikonsumsi oleh wisatawan.
Persaingan produk pasar di Desa Kamasan sangat ketat, kebersamaan hanya tampak dipermukaan padahal masing-masing individu ingin bersaing untuk memperebutkan peluang pasar. Menurut Karlk Polanyi (2003: 59), persaingan menghasilkan konsep “manusia sebagai mahluk ekonomi”. Manusia cenderung melakukan barter atas satu benda dengan benda yang lain. Komoditas yang dibarter merupakan realitas dari keinginan-keinginan konsumen sendiri melalui order-order
yang dibarter di pasar untuk memperoleh keuntungan berupa uang. Oleh sebab itu konsumen dikatakan mengkonsumsi ide-idenya sendiri.
Dalam buku “Budaya Konsumen Terlahir Kembali”, Haug (1986: 54) dalam Martn Lee (2006: 34) mengatakan budaya konsumen sebagai berikut.
“...mempercepat angka tukar komoditas dan perubahan nilai. Ini meliputi perubahan yang semakin cepat dari tampilan estetis dan perubahan gaya, dan penerapan usia produk yang lebih pendek (ketentuan produk secara material dan secara estetis). Ini adalah proses yang niscaya mengakibatkan kondisi ideal nyata dari estetika komoditas akan melahirkan minimalisasi nilai guna secara absolut yang ditutupi dan ditampilkan dengan ilusi penuh rayuan, strategi yang sangat efektif karena selaras dengan dambaan dan hasrat orang (Lee, 2006: 34).
84
Komoditas yang didistribusikan di pasar berhubungan dengan hasrat mengonsumsi dengan model pendekatan penuh rayu serta keinginan untuk melakukan dominasi dalam proses produksi dan reproduksi. Althusser melihat bahwa relasi dominasi didalam sebuah negara bukanlah sebagai akibat dari adanya pertentagan kelas, akan tetapi disebabkan adanya dua kelompok idiologi yang membentuk sebuah negara(Piliang, 2005: 111- 107). Dominasi yang dilakukan kaum kapitalime terhadap pelukis tidak saja menciptakan kebodohan tetapi juga mendorong terpasungnya inovasi dan kreativitas melukis karena harus mengikuti keinginan untuk mengkonsumsi inovasi-inovasi baru yang semu. Karena inovasi yang dihasilkan hanya berupa pengulangan-pengulangan, tempelan-tempelan dari teks-teks tradisi lama sehingga terkesan adanya kebaruan yang semu. Pada perubahan konsumsi pelukis lebih banyak memposisikan dirinya sebagai pelayan bagi kaum kapitalisme untuk mengkonsmsi ide-idenya sendiri untuk didistribusikan ke pasar. Kaum kapitalis merasa terpuaskan ketika ide-ide yang dituangkan dapat laku di pasar dan mendapatkan keuntungan berupa nilai ekonomi.
Produk pasar cenderung dipandang sebagai sesuatu yang positif oleh karena dapat menciptakan iklim yang dinamis pada kebudayaan. Kedinamisan kebudayaan dilakukan dengan bertransformasi menciptakan inovasi baru tanpa pernah diam terpaku pada satu titik kemapanan. Sigmentasi pemenuhan kebutuhan konsumen lokal masih berupa produk-produk pastiche untuk menghias tempat-tempat suci, menghias rumah tinggal, menghias bangunan perkantoran, dan menghias bangunan hotel. Dalam era global seni lukis wayang Kamasan selain dikonsumsi oleh konsumen lokal dalam perubahan ruang dan waktu juga dikonsumsi oleh pariwisata sebagai industri global dalam memproduksi produk-produk souvenir.
Seni lukis wayang Kamasan yang dikonsumsi oleh konsumen lokal sebagian besar berupa sarana ritual seperti kober, umbul-umbul, payung pagut, ider-ider,
praba, tabing, langse, pedapa, leluhur dan keben. Sarana ritual yang dikonsumsi oleh konsumen lokal proses produksinya dikaburkan diganti dengan ritual uang yang dirayakan di arshop, atau tempat-tempat yang menjual sarana ritual. Simbol-simbol
85
uang dipuja sebagai bentuk perayaan yang menyatakan sebagai bentuk keberhasilan konsumsi. Apa lagi produk tersebut terjual mengawali dari proses perdagangan yang sering disebut “pengarus” dengan mengucapkan kata “ngarus-ngari”, artinya pemujaan atas terjualnya barang-barang dagangan agar menjadi lebih laris. Tema-tema produk yang dijadikan sarana persembahan disesuaikan dengan kondisi pemahaman masyarakat setempat.
Produk yang dikonsumsi oleh konsumen merupakan produk pastiche yang dapat meningkatkan status dan pencitraan dalam pergaulan masyarakat sosial. Nilai-nilai estetika pastiche pada produk souvenir yang dijual di pasar merupakan pencitrakan yang dikonsumsi oleh konsumen sehingga dapat meningkatkan kelas dan status sosial di masyarakat. Souvenir yang dikonsumsi oleh konsumen bersifat
touristict lebih menonjolkan budaya pamer dan menyampingkan nilai-nilai seni. Oleh sebab itu produk-produk yang bersifat touristict cenderung melakukan barter untuk memperoleh pendapatan berupa uang yang lebih banyak dari wisatawan.
Perubahan-perubahan konsumsi dalam memenuhi kebutuhan pasar menurut Douglas & Isherwood dalam (Kebayantini, 2013:71), disebut sebagai penanda identitas yang berkaitan dengan (1) perubahan konsumsi pelukis, bahan kain, bahan dari kerajinan, bahan warna, perekat warna, Peralatan melukis, (2) karakteristik konsumsi konsumen, bisa dilihat dari negara asal, pendidikan, pekerjaan yang menjelaskan status sosial ekonomi, status sosial tradisional, (2) pola-pola konsumsi konsumen, terkait dengan waktu, tempat, dan keterlibatan konsumen, (3) tanggapan konsumsi konsumen, berkaitan dengan identitas baru yang mencerminkan adanya pencitraan.