• Tidak ada hasil yang ditemukan

Lunturnya Nilai-Nilai Budaya Tradisi Lokal

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

3. Objek dan Atraksi Wisata ( Obyect and Attraction of the detinations )

4.3 Implikasi Transformasi Seni lukis wayang Kamasan di Desa Kamasan Klungkung Bali. Klungkung Bali

4.3.1 Lunturnya Nilai-Nilai Budaya Tradisi Lokal

Akibat dari tuntutan zaman yang begitu kompleks dimana manusia dalam memenuhi kebutuhan hidup cendrung bersifat konsumerisme dan instan sehingga terjadi profanisasi. Secara tradisi seni lukis wayang Kamasan bersifat simbolik sangat terikat oleh pakem, norma, serta nilai-nilai yang bersifat mengikat dan baku. Dikerjakan secara kolektif dan komunal dengan menggunakan bahan dan peralatan yang diambil dari alam sekitarnya serta diolah dengan teknik-teknik tradisi. Gambar wayang yang divisualkan dalam simbol agama Hindu menggambarkan tokoh para dewa sebagai sarana ritual, seperti kober, payung pagut, umbul-umbul, lelontek, dan

bandrang dapat dapat dijadikan pencerahan dan bayangan dalam kehidupan manusia di dunia dan di akhirat. Gambar wayang juga digunakan untuk menghias tempat-tempat suci, seperti parba, tabing, ider-ider, langse, pedapa, dan leluhur. Menurut Titib, (2003: 27) dalam “Teologi Simbol-Simbol dalam Agama Hindu” menyatakan bahwa dalam mantra-mantra kitab suci Reg Weda ternyata jumlah dewa-dewa tidak hanya 33 (tiga puluh tiga) melainkan sebanyak 3.339 yang merupakan kelipatan dari 101 3/11 (seratus satu tiga persebelas). Simbol-simbol tersebut sangat disakralkan dalam tradisi agama Hindu.

Secara hierarkis para dewa dilukiskan pada bidang gambar semakin keatas kedudukannya semakin tinggi tingkatannya. Secara visual lukisan wayang sering digunakan untuk menggambarkan hubungan antara manusia dengan alam, manusia dengan manusia dan manusia dengan Tuhan. Penghayatan tokoh-tokoh yang divisualkan menjadi lukisan wayang tidak jarang pelukis harus mencari tau realitas sesungguhnya yang terjadi dilapangan, seperti menirukan suara moyet dalam melukis Hanoman atau tokoh-tokoh kera lainnya atau melakukan gerakan-gerakan untuk memberikan ekspresi pada lukisan.

165

Untuk memenuhi kebutuhan konsumen tema-tema lukisan wayang yang menggambarkan alam para dewa diprofanisasi menjadi produk-produk souvenir

seperti kipas, dompet, lukisan kecil-kecil, lukisan telor, tas, poscard, baju, tempat tisu, dan payung sehingga terjadi desakralisasi. Pakem, nilai, dan norma-norma tradisi sudah berubah menjadi nilai, norma yang berorientasikan uang dan target-target untuk memperoleh penghasilan yang lebih besar. Di lain pihak tahapan-tahapan kerja

pakem dikaburkan dengan pertimbangan ekonomi sehingga menghasilkan produk hapal-hapalan yang tidak serius yang semata-mata untuk mendapatkan keuntungan berupa uang. Produksi yang dikerjakan hanya mengejar uang semata tidak memiliki aura berimplikasi lunturnya nilai-nilai tradisi lokal.

Dalam “Masyarakat Konsumsi”, Baudrillard (204) menyatakan, uang sudah dijadikan panglima untuk mendominasi pelukis dalam memproduksi keinginan-keinginan kapitalisme. Baudrillard juga mengatakan, pola-pola konsumsi digunakan sebagai topeng untuk mengambarkan kekuasaan kapitalisme melalui pencitraan yang hanya tampak dipermukaan. Padahal sesungguhnya hanya sebagai kedok untuk meningkatkan nilai jual secara ekonomi dan status sosial. Simbol lukisan wayang yang disakralkan dalam agama Hindu diprofanisasi untuk menghias produk souvenir

sehingga mendapatkan nilai tukar yang lebih besar. Kapitalisme dalam praktik-praktik produksi dan reproduksinya menggunakan kekuasaan uangnya melalui deposit-deposit yang mengikat untuk mengaburkan teknik-teknik produksi dengan cara mendaur-ulang seni lukis wayang Kamasan yang terikat pakem diawali dari membuat sketsa, mewarna, nyawi, dan penyelesaian.

Sketsa pakem yang bersifat simbolik, penuh dengan penjiwaan dan menghayatan terhadap karakter wayang diduplikasi sebagaimana layaknya karya disain. Sedangkan simbol warna dibuat iseng sehingga tidak menunjukan makna sesungguhnya dan terkesan hanya sebagai penutup bidang. Mandra juga mengatakan bahwa kalau membuat sketsa selalu mencari hari yang baik apalagi digunakan untuk

ngayah ketika membuat karya persembahan. Setelah sketsa dipandang jadi diserahkan pada orang lain untuk diwarnai, nyawi, dan diselesaikan. Berbeda dengan

166

produksi pasar setelah sketsa jadi yang dianggap terbaik baru dijadikan model untuk ditiru, di ulang-ulang. Demikian juga pada terjadi pada tahap pewarnaan, nyawi, dan penyelesaian. Kemampuan meniru menjadi sangat penting untuk menentukan standarisasi dan menghasilkan produk-produk yang sesuai dengan model. Oleh sebab itu seni lukis pasar menunjukan kemampuan meniru. Ide-ide yang diperoleh dengan cara meniru merupakan ide pencitraan yang dapat memenuhi kebutuhan konsumen dan mendapatkan meningkatkan nilai jual ketika didistribusikan ke pasar.

Produk pencitraan yang dijual di pasar sebagian besar dikerjakan seperti kerja mesin berupa kerja hapal-hapalan sehingga menghasilkan karya yang tidak serius mengkaburkan pakem dan menyederhanakan tingkat kerumitan. Meskipun demikian masih ada beberapa seniman yang masih bertahan dengan idealisme pakem

tetapi jumlahnya cendrung berkurang. Citra menurut pemikiran Baudrillard diciptakan melalui proses simulasi untuk memproduksi produk-produk yang mencerminkan individualisme semu seperti, produk citra meniru, mengkopi, menduplikasi, atau mereproduksi sebagai model tanpa rujukan realitas (Piliang, 2008: 290). Citra bukan merupakan representasi realitas, melainkan citra yang dikonstruksi melalui mekanisme terjadinya transformasi. Citra merupakan salinan realitas di luar dirinya, yang disebut Baudrillard sebagai simulakra. Produksi yang dikerjakan dengan hafal-hafalan, oleh Jameson (1966) disebut sebagai seni kitcth atau seni sampah (Piliang, 2003: 125; Sackari, 2006: 65). Estetika kitsch berakar dari bahasa Jerman verkitschen (membuat murah) dan kitschen yang berarti yang secara literal ‘memunggut sampah dari jalan’. Oleh sebab itu, istilah kitsch sering ditafsirkan sebagai sampah artistik atau selera rendah (bad taste).

Produk yang diproduksi untuk mengejar target dan nilai tukar berupa uang diasumsikan sebagai imprialisme yang berhasil memprofanisasi lukisan wayang Kamasan menjadi komoditas baru untuk didistribusikan ke pasar. Kekuatan kapital yang dimiliki kaum kapitalisme sudah berhasil mengkapitalisasi para perajin untuk melakukan profanisasi terhadap lukisan wayang Kamasan menjadi produk massa. Perajin sudah didominasi oleh kapitalisme sehingga tidak berdaya menolak

printah-167

printah untuk memprofanisasi. Lukisan wayang Kamasan yang bersifat simbolik ketika diproduksi menjadi produk massa dapat melunturnya nilai-nilai tradisi budaya lokal. Budaya konsumerisme yang hedomistik uang sudah dijadikan panglima oleh kapitalisme untuk memproduksi dan mereproduksi seni sakral menjadi profan sehingga terjadi transformasi yang berimplikasi perubahan atau desakralisasi. Keterampilan melukis yang dimiliki habitus masyarakat Kamasan yang terjadi secara turun-temurun dipertarungkan sebagai modal untuk mengembangkan produk

souvenir dengan identitas seni lukis wayang Kamasan sebagai produk penunjang pariwisata.

Hasrat meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kamasan direspons oleh kaum kapitalis dalam menciptakan produk-produk komoditas. Di lain pihak, Modal simbolik dan modal kultural yang dimiliki habitus masyarakat Kamasan dapat dipertarungkan dengan keinginan-keinginan kapitalisme dalam memproduksi produk-produk baru sebagai barang dagangan. Produk komoditas merupakan arena untuk mengkomunikasikan keinginan-keinginan dan kesepakatan-kesepakatan konsumen untuk memprofanisasi seni lukis wayang Kamasan menjadi produk pasar sehingga mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Uang memiliki peranan sangat penting tidak ada sesuatu yang dapat diperoleh dengan gratis tanpa menggunakan uang.

Sebagaimana yang dikatakan Pande Sumantra sebagaimana petikan wawancara berikut ini.

“...ia akan merelakan koleksi-koleksinya ditukar dengan uang agar dapat menghidupi keluarga dan menyekolahkan anak. Pelukis juga memiliki keinginan untuk mengikuti perkembangan zaman sebagai layaknya manusia yang lain. “...Ia tidak kuat melihat istrinya sedih sampai menangis karena tidak memiliki uang untuk kebutuhan keluarga” “...dengan keterampilan melukis ia akan mengerjakan lukisan apa saja yang penting menghasilkan uang (Wawancara dengan Sumantra, 2013 di Kamasan).

Pandangan Sumantra, keluarga adalah segala-galanya. Ia sangat sedih ketika melihat keluarganya menderita karena tidak memiliki uang. Bahkan ia rela dicap sebagai melunturkan nilai-nilai tradisi untuk memberikan keluarganya perlindungan

168

atas hidup. Ketika istrinya memerlukan uang untuk menutupi kebutuhan dapur dan mensekolahkan anak, koleksi-koleksi terbaik yang dimiliki direlakan untuk dijual. Hal itu dilakukan karena dia bisa membuatnya lagi. Duchamp dalam Fetherstone (2001: 158) dengan gerakan “dadaisme” dan konsep “ready mades” yang mengatakan bahwa kreativitas dapat terjadi dimana saja, kapan saja, dengan medium apa saja. Duchamp juga menentang posisi terhormat dalam museum dalam lingkup akademik untuk menciptakan karya seni yang kreatif dan inovatif. Pelukis tidak hanya memikirkan bagaimana membuat karya-karya berstandar museum sehingga hanya dapat dinikmati oleh orang-orang tertentu, dapat dikerjakan oleh pelukis tertentu saja, tetapi juga harus memikirkan masyarakat berekonomi lemah yang memerlukan kesejahteraan untuk hidup dan dapat menikmati karya seni.

Produk yang didistribusikan di pasar merupakan produk pertarungan order-order konsumen sebagai pencitraan untuk memproduksi produk yang cepat laku serta mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Pencitraan juga dibangun pada lukisan wayang Kamasan untuk meningkatkan kelas dan status sosial. Keterlibatan konsumen dalam proses produksi dan reproduksi sudah terjadi semenjak ide-ide produksi dicetuskan sampai pada tahap proses produksi dan distribusi. Pelukis pasar tidak lagi memproduksi ide-ide sendiri tetapi sudah dikapilisasi untuk memproduksi keinginan-keinginan pasar dengan standarisasi yang sudah disepakati antara produsen dengan konsumen. Produk pasar dibangun melalui kesepakatan-kesepakatan profanisasi untuk mendistribusikan ide-ide kaum kapitalis menjadi produk-produk ke pasar.

Pemilik modal mampu mengatur dan mengendalikan ide-ide produksi dan reproduksi ketika didistribusikan ke pasar. Arnold Toynbee (1947) mengatakan, sebagai tantangan (chalanger) dan peluang (responsibility) yang dapat direspons untuk memenuhi kebutuhan wisatawan (Lubis, 2006: 46). Komoditas yang terjual di pasar dirayakan sebagai bentuk keberhasilan dan keberuntungan. Sedangkan uang yang diperoleh dari hasil penjualan barang dagangan dipuja sebagai bentuk kemurahan dan rahmat dari Tuhan. Pemujaan terhadap nilai uang dalam industri budaya oleh Adorno dalam Strinati (2003: 76) disebut “fitisisme”. Semakin banyak

169

karya yang mampu dijual di pasar (tanda) semakin besar perayaan yang dilakukan oleh perajin (penanda). Semakin banyak produk yang dapat dikomersialkan di pasar akan diperoleh keuntungan berupa uang yang lebih banyak sehingga terjadi perayaan yang lebih besar, lebih megah, dan lebih meriah.

Dengan kedok meningkatkan kesejahteraan masyarakat lukisan wayang Kamasan dijadikan produk industri untuk mendongkrak penjualan komoditas sehingga memperoleh keuntungan lebih besar. Masyarakat komoditas mempersepsikan pariwisata sebagai “tuhan”, karena mampu memberikan pekerjaan yang sangat luas pada masyarakat khususnya pada pelukis dan perajin. Ibu-ibu rumah tangga sehabis memasak di dapur tanpa mengurangi kewajiban sebagai seorang ibu juga terlibat dalam proses produksi dan reproduksi sehingga memperoleh penghasilan berupa uang. Uang yang diperoleh dari pariwisata dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, seperti keperluan di dapur, menyekolahkan anak, membangun rumah, dan kebutuhan sosial di masyarakat.

Fenomena semakin lunturnya minat generasi muda di Desa Kamasan menekuni seni lukis wayang Kamasan merupakan fenomena yang harus dikaji ulang untuk membangkitkan kembali semangat menekuni keterampilan melukis. Seni lukis wayang Kamasan selalu diikut sertakan dalam lomba melukis tradisional wayang Kamasan pada Pesta Kesenian Bali (PKB) yang diadakan setiap tahun dan pemenangnya berasal dari Kamasan. Tetapi kenyataan di lapangan menjadi pertanyaan, ke mana pelukis-pelukis tersebut diarahkan. Hal itu harus dikaji ulang karena realitas dilapangan terjadi penurunan minat generasi muda yang menekuni seni lukis wayang Kamasan dari tahun ke tahun. Jangan-jangan pelukis-pelukis muda tersebut hanya dibutuhkan dalam lomba-lomba saja sehabis itu dilupakan.

Menyoroti melunturnya minat generasi muda terhadap pratik-praktik melukis di Desa Kamasan, Widiadnyana salah seorang pelukis muda yang berasal dari Banjar Siku mengatakan sebagai berikut.

“...pelukis muda seusianya (21 tahun) di Br.Siku hanya dirinya seorang. Teman-teman sebayanya tidak ada yang suka melukis wayang, lebih banyak

170

bermain game dengan sarana computer. “...apalagi yang lebih muda dari saya...menjadi pelukis bagi teman-temannya sangat membelengu, tidak menjanjikan sehingga kurang diminati” (Wawancara dengan Widiatnyana, 2014 di Banjar Siku, Kamasan).

Sebagaimana dikatakan Widiadnyana yang mempertanyakan kemana arah pembinaan dilakukan negara sehingga dapat melestarikan dan memperdayakan generasi muda sebagai generasi penerus bangsa. Pola-pola lama harus dikaji-ulang karena fakta dilapangan menunjukan generasi muda sudah semakin jauh terhadap kecintaan terhadap tradisi melukis wayang Kamasan. Kalau tidak segera dilakukan pengkajian ulang terhadap sistem pembinaan dikawatirkan tradisi melukis wayang Kamasan ditinggalkan oleh masyarakat pendukungnya. Mandra juga sangat khawatir terhadap kecendrungan seni lukis wayang Kamasan ditinggalkan oleh generasi penerusnya. Pendidikan dalam Sanggar Melukis Tradisional Wayang Kamasan yang ia kelola sendiri dari tahun 1971 sampai sekarang masih secara rutin membina anak-anak belajar melukis tetapi jumlahnya dari tahun ke tahun cendrung menurun. Di sekolah-sekolah dilingkungan Kabupaten Klungkung melukis tradisi wayang Kamasan dimasukkan dalam pelajaran muatan warna lokal. Sriwedari selain sebagai pelukis juga sebagai guru yang mengajar muatan warna lokal di SMA N 2 Klungkung. Sebagai guru ia sudah mengajarkan teknik-teknik melukis tradisi wayang gaya Kamasan pada anak didiknya. Tampaknya keterampilan anak didiknya hanya diperlukan ketika ada lomba-lomba saja sehingga tidak berkembang. Mandra juga merasakan semangat anak-anak muda sekarang sangat menurun semangatnya untuk melukis.

Sriwedari dalam menanggapi menurunnya semangat anak-anak muda mendalami seni lukis wayang Kamasan sebagai berikut.

“....dalam era pasar banyak lukisan yang dibuat asal-asalan tidak sesuai dengan pakem. “...ide-ide lukisan yang dikerjakan oleh pekerja-pekerja seni

deriki (di sini) sebagian besar dari pemilik order yang segalanya sudah ditentukan”....pelukis deriki hanya mengikuti (Wawancara dengan Sriwedari tahun 2014 di Kamasan).

171

Sebagaimana yang dikatakan Sriwedari tentang menurunnya semangat muda mendalami seni lukis wayang Kamasan disebabkan oleh keinginan-keinginan yang bersifat instan dan konsumeristik. Segala susuatu dapat diperoleh dengan cepat dan praktis ditempuh dengan cara-cara pintas dalam waktu yang sangat cepat dan mendapatkan hasil yang besar. Di lain pihak order-order yang dibawa oleh kapitalisme dianggap sebagai berkah. Standarisasi yang ditetapkan berhubungan dengan kesepadanan upah yang diterima oleh pengrajin. Untuk mendapatkan upah yang lebih tinggi pengrajin menetapkan target-target sehingga menghasilkan produk hapal-hapalan. Produk yang diproduksi dengan target upah dikaburkan, disederhanakan dan dikurangi kerumitannya dengan inovasi-inovasi yang mencerminkan kebaruan dan kemiripan.

Kemiripan dan kebaruan merupakan ciri dari standarisasi industri budaya yang didistribusikan di pasar. Semakin mirip produk-produk yang didistribusikan di pasar menunjukan tingkat keberhasilan dari proses produksi dan reproduksi. Untuk memperoleh produk-produk yang mirip dan baru dilakukan dengan mendaur-ulang teks-teks tradisi dengan memberikan narasi-narasi baru, variasi, sisipan, tambahan serta tempelan-tempelan sehingga mencerminkan adanya kebaruan. Kemiripan dan kesepadanan diperoleh melalui suatu perjuangan yang penuh dengan pertimbangan komersial dengan cara menyederhanakan bentuk serta mengurangi tingkat kerumitan. Sedangkan tambahan dan sisipan merupakan permainan gaya untuk merangsang kreativitas.

Semakin mirip produk yang diproduksi akan memperoleh imbalan yang sepadan dengan standarisasi yang ingin dikonsumsi oleh pasar. Produk pasar lebih menekankan nilai jual yang penting laku. Semakin banyak produk-produk yang laku terjual di pasar dirayakan sebagai bentuk keberhasilan dari proses produksi. Setiap uang yang diperoleh dari hasil penjualan produk yang didistribusikan di pasar dirayakan sebagai karunia dari pariwisata. Perayaan-perayaan dilakukan ketika pekerja seni mendapatkan banyak pekerjaan untuk memproduksi order-order pasar.

172

Order-order yang bersifat touristic lebih menonjolkan budaya pamer dengan pertimbangan nilai ekonomi dengan menyampingkan nilai-nilai estetik sehingga menghasilkan karya yang tidak utuh dan semu (psoudo art). Di lain pihak kreativtas yang lebih mementingkan nilai ekonomi berimplikasi terjadi pelemahan budaya menjadi budaya uang dibudak oleh kapitalisme sehingga menghasilkan karya-karya dengan nilai rendah, kasar, Baudrillard menyebut dengan seni sampah (kitch). Profanisasi simbol-simbol sakral menjadi karya-karya komersial mengakibatkan nilai-nilai seni lukis wayang Kamasan yang bersifat simbolik dan simbol yang sudah melekat secara tradisi menjadi karya parodi dipeleset-pelesetkan sehingga mengaburkan makna yang sesungguhnya diganti dengan makna-makna ekonomi.

Karya-karya tradisi yang awalnya dipersembahan kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa untuk memohon keselamatan, kedamaian, dan kesejahteraan bermetamorfosis menjadi karya-karya komoditas dipersembahkan kepada pariwisata untuk memperoleh order yang lebih besar dari industri pariwisata dan mendapatkan keuntungan uang yang lebih besar. Kualitas produk industri yang distandarisasi dengan uang dikerjakan dengan pola hitung-hitungan (profit) dan target

Perayaan atas order-order yang dipersembahkan kepada pariwisata bersifat pamer berhubungan dengan gaya hidup (life style) berdasarkan hitung-hitungan ekonomi. Ketika mendapat keuntungan yang melimpah perayaan dilakukan sangat besar dengan penampilan yang berubah menjadi necis dan mewah. Pariwisata dipersepsikan sebagai “Tuhan” sangat sensitif ditandai dengan ketika terjadi pristiwa “Bom Bali 1” 2 Oktober 2002. Pada waktu itu pariwisata meninggalkan Bali karena tidak merasa aman dan nyaman. Implikasinya banyak hotel yang tutup, pengangguran meningkat tajam, dan produksi kerajinan tidak terjual sehingga terjadi kebangkrutan ekonomi. Seni lukis pasar berupa produk souvenir dan barang kerajinan yang awalnya dianggap sebagai sesuatu yang remeh-temah, yang tidak penting, terpinggirkan berubah menjadi sangat penting karena order-order souvenir yang menumpuk saat itu mampu menyelamatkan masyarakat Kamasan dari keterpurukan.

173

Kekuasaan kapital yang dimiliki kapitalisme mampu mendominasi pelukis untuk memproduksi dan mereproduksi seni lukis wayang Kamasan yang bersifat simbolik menjadi produk massa untuk didistribusikan ke pasar. Profanisasi merupakan ciri dari kapitalisme untuk mengubah seni lukis wayang Kamasan menjadi produk-produk massa dalam memenuhi kebutuhan konsumen. Produk yang didistribusikan di pasar merupakan produk komodifikasi yang didaur-ulang dari ide-ide masa lalu menjadi komoditas baru. Komodifikasi juga merupakan produk pencitraan yang semata-mata bertjuan untuk memperoleh keuntungan berupa uang. seni lukis wayang Kamasan yang bersifat simbolik ketika diproduksi semata-mata mempertimbangkan uang dapat melunturkan nilai-nilai tradisi lokal.

Dari uraian tersebut diatas dapat dikatakan bahwa lunturnya nilai-nilai budaya lokal didorong oleh motivasi ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sehingga terjadi profanisasi. Uang yang dimiliki kapitalisme dijadikan panglima untuk mendominasi pelukis dalam memproduksi keinginan-keinginan kapitalisme memprofanisasi seni lukis wayang Kamasan sehingga terjadi desakralisasi. Produksi yang semata-mata untuk mengejar uang diasumsikan sebagai imprialisme yang mampu menggunakan segala cara untuk meraih keuntungan.