• Tidak ada hasil yang ditemukan

Berakhirnya Perselisihan Bhikku di Kosambi

Dalam dokumen RIWAYAT HIDUP BUDDHA GAUTAMA Jilid 2 (Halaman 58-64)

Setelah beberapa minggu, akhirnya tersebarlah berita bahwa Buddha tinggal di dalam hutan Parileya dengan ditemani seekor gajah.

Setelah retret musim hujan bagi para Bhikku berakhir, para penduduk dan tokoh masyarakat di daerah Savathi [1] mengundang Buddha melalui Bhikku Ananda. Saat itu juga ada sekitar lima ratus Bhikku dari berbagai daerah mau menemui Buddha untuk mendengarkan Khotbah Beliau.

Kemudian Bhikku Ananda mengajak kelima ratus Bhikku itu untuk menghadap Buddha di hutan Parileya, sekalian mau menyampaikan undangan para penduduk Savathi.

Sesampainya di pinggir hutan Parileya, B. Ananda meminta kelima ratus Bhikku yang lain untuk menunggu, sementara Ia sendiri masuk ke dalam hutan guna minta izin pada Buddha untuk menghadap.

Saat B. Ananda berjalan mendekati Buddha, gajah Parileya mengira Ia adalah ancaman. Si gajah langsung menyerbu untuk menyerang dengan batang pohon di belalainya. Buddha mencegahnya dengan berkata : " Parileya, ayo sini. Jangan serang dia. Dia adalah muridKu."

Si gajah langsung meletakkan kayunya, lalu menawarkan ( dengan isyarat belalai ) untuk membawakan mangkuk dan jubah cadangan B. Ananda. B. Ananda menolaknya.

Setelah memberi hormat dengan bersujud, B. Ananda duduk. Buddha lalu bertanya kepadanya : " Apa kamu datang sendirian ?"

" Saya datang bersama sekitar lima ratus Bhikku yang lain, Guru. " jawab B. Ananda. " Dimana mereka sekarang?" Tanya Buddha.

" Saya suruh menunggu di pinggir hutan."

" Aku tidak tahu, bagaimana perasaanmu meninggalkan mereka. Ajak mereka kesini. " kata Buddha.

B. Ananda lalu pergi menjemput kelima ratus rekannya.

Setelah kelima ratus Bhikku itu datang, mereka memberi hormat dengan cara bersujud, kemudian duduk.

Salah seorang Bhikku bertanya pada Buddha : " Apakah Yang Mulia tidak kesulitan hidup sendirian di hutan ini selama tiga bulan? "

Buddha menjawab : " Para Bhikku, gajah Parileya ini yang melayaniKu selama Aku tinggal disini. Jika seseorang bisa mendapatkan teman yang baik dan cocok dengannya, maka ia seharusnya

tinggal bersamanya. Tetapi jika seseorang tidak dapat menemukan sahabat, maka lebih baik ia tinggal sendirian. "

Kemudian Buddha mengucapkan syair berikut ini [2] :

" Apabila dalam pengembaraanmu, engkau dapat menemukan seorang sahabat yang berkelakuan baik, pandai, dan bijaksana, maka hendaknya engkau berjalan bersamanya guna mengatasi semua rintangan kehidupan.

Apabila dalam pengembaraanmu, engkau tidak dapat menemukan seorang sahabat yang berkelakuan baik, pandai, dan bijaksana, maka hendaknya engkau berjalan seorang diri, seperti seekor gajah yang mengembara sendirian di dalam hutan.

Lebih baik mengembara seorang diri dan tidak bergaul dengan orang yang tidak bijaksana. Pergilah seorang diri dan jangan berbuat jahat, hiduplah dengan bebas (tanpa ikatan), seperti seekor gajah yang mengembara sendirian di dalam hutan. "

Setelah Buddha selesai mengucapkan Syair ini, kelima ratus Bhikku yang mendengarnya ( selain

Kemudian B. Ananda menyampaikan undangan para penduduk di Savathi yang meminta Buddha untuk berkunjung ke daerah mereka. Buddha memerima undangan itu lalu mereka semua berangkat.

Saat rombongan Buddha mulai berjalan keluar hutan, gajah Parileya menghalangi jalan. Lalu seorang Bhikku yang berdiri di belakang Buddha bertanya : " Yang Mulia, gajah ini mau apa ?" " Para Bhikku, gajah ini mau memberi persembahan pada kita. Setelah sekian lama melayaniKu, janganlah menyakiti hatinya. Ayo kita kembali." Buddha dan para Bhikku kembali ke hutan. Si gajah lalu pergi mencari buah buahan yang ada didalam hutan. Keesokan paginya, si gajah mempersembahkan buah buahan ini kepada Buddha dan para Bhikku. Buah yang dipersembahkan lebih dari cukup, sampai para Bhikku tidak bisa menghabiskannya.

Setelah selesai makan, Buddha mengajak para Bhikku pergi meninggalkan hutan. Gajah Parileya lalu berjalan cepat mendahului para Bhikku dan menghadang Buddha lagi.

Salah seorang Bhikku bertanya pada Buddha : " Yang Mulia, sekarang gajah ini mau apa lagi?" Buddha menjawab : " Setelah mencoba menunda kepergianKu, kini ia mau Aku kembali kedalam hutan."

Buddha lalu berkata pada si gajah : " Parileya, Aku harus pergi sekarang, tidak akan kembali lagi. Dalam kehidupan yang sekarang ini ( sebagai binatang ) kamu tidak akan bisa mencapai Pencerahan Spiritual. Berhentilah menghalangiKu."

Si gajah lalu memasukkan belalainya ke dalam mulutnya, mundur dengan perlahan sambil menangis. Ia ingin tinggal bersama Buddha untuk melayaniNya seumur hidup.

Ia berjalan mengikuti Buddha di belakangNya.

Saat mencapai perbatasan suatu desa, Buddha membalikkan badanNya dan berkata pada si gajah : " Parileya, cukup sampai disini kamu ikut. Tempat tinggal manusia tidak cocok buatmu. " Si gajah diam di tempat dan menangis. Setelah Buddha menghilang dari pandangannya, ia mati karena sedih. Spontan ia muncul di Alam Tavatimsa ( Surga tingkat 2 ), disana ia dikenal sebagai Dewa Parileya.

Sementara itu di daerah Kosambi, masyarakat disana mulai tahu bahwa Buddha pergi menyendiri di hutan Parileya dikarenakan para Bhikku yang bertikai dan tidak mau didamaikan oleh Buddha.

Masyarakat marah, mereka tidak mau lagi memberikan persembahan makanan kepada para Bhikku yang bertikai itu. Akibatnya para Bhikku di Kosambi pada kelaparan.

Karena tidak tahan kelaparan, akhirnya para Bhikku ini terpaksa berdamai. Mereka lalu minta maaf pada masyarakat ( supaya dapat makan lagi ). Masyarakat menyuruh para Bhikku ini untuk minta maaf pada Buddha. Akhirnya para Bhikku pergi menyusul Buddha ke Savathi.

Ketika Raja Pasenadi (penguasa Savathi) mendengar bahwa para Bhikku dari Kosambi telah tiba, ia menghadap Buddha dan berkata : " Yang Mulia, saya tidak akan membiarkan mereka memasuki Kerajaan saya. "

Buddha menjawab : " Baginda, mereka sebenarnya orang baik, hanya karena pertengkaran saja mereka jadi tidak mematuhi Saya. Sekarang mereka datang untuk minta maaf. Biarkan saja."

Setelah Raja pergi, ganti Anathapindika datang menghadap Buddha, dia juga bilang begini : " Saya tidak akan membiarkan mereka memasuki Vihara Jetavana ( yang dibangun oleh

Anathapindika )."

Buddha menjawab sama seperti jawaban Beliau pada Raja Pasenadi.

Buddha menyuruh agar para Bhikku dari Kosambi tinggal sementara di tempat khusus. Bhikku lain tidak boleh berada di dekat mereka.

Saat orang orang datang menghadap Buddha, mereka bertanya : "Dimana para Bhikku dari Kosambi yang suka bertikai itu?" Buddha menunjukkan jariNya ke arah para Bhikku dari Kosambi sambil berkata : " Itu mereka."

Orang orang pada melihat ke arah yang ditunjuk Buddha sambil berkata : " Ooo yang itu." Para Bhikku dari Kosambi semuanya pada menunduk malu. [3]

Buddha menasehati mereka dan menceritakan salah satu kisah nyata di masa lampau ( Kosambika Jataka ).

Sebagai penutup, Buddha mengucapkan Syair berikut [4] : " Banyak orang yang tidak menyadari

Bahwa dalam pertengkaran mereka akan binasa. Tetapi bagi mereka yang dapat menyadari akan hal ini Akan segera mengakhiri semua pertengkaran."

Semua Bhikku dari Kosambi mencapai Pencerahan Spiritual tingkat pertama ( disebut Sotapana ) setelah mendengar Syair ini.

____________________________________________________________________________

Catatan :

[1] Savathi terkenal akan Vihara Jetavana yang dibangun oleh Anathapindika, seorang saudagar dan dermawan besar.

Yang mengundang Buddha untuk datang ke Savathi adalah Anathapindika dan Visakha.

[3] Para Bhikku dari Kosambi ini pernah bilang kalau mereka ingin terkenal karena pertikaiannya. Keinginan mereka terpenuhi.

Bagian 70

Dalam dokumen RIWAYAT HIDUP BUDDHA GAUTAMA Jilid 2 (Halaman 58-64)