• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penghianatan Devadatta (3)

Dalam dokumen RIWAYAT HIDUP BUDDHA GAUTAMA Jilid 2 (Halaman 161-166)

Setelah peristiwa ngamuknya gajah Nalagiri, masyarakat jadi tahu bahwa ini adalah ketiga kalinya Devadatta berusaha membunuh Buddha.

Masyarakat melakukan protes pada Raja Ajatasatu. Mereka mempertanyakan mengapa Raja mau bergaul dengan Devadatta dan menjadikannya guru spiritual.

Raja lalu menghentikan segala bentuk dukungannya pada Devadatta, termasuk tidak lagi memberikan persembahan makanan dan tidak lagi berhubungan dengannya. Masyarakat Rajagaha juga banyak yang tidak mau lagi memberikan persembahan makanan pada Devadatta. Demikianlah, Devadatta dimusuhi masyarakat. Tapi ia masih punya sedikt pengikut, yaitu para bhikku yang bersifat jahat atau bodoh [1].

Setelah rencananya untuk melakukan kudeta terhadap Buddha mengalami kegagalan, Devadatta berencana untuk memecah komunitas Bhikku ( disebut Sangha ) dan membentuk sektenya sendiri. Anggota sektenya sebagian diambil dari Sangha yang akan dipecah itu.

Devadatta mengajak bhikku Kokalika [2] beserta tiga bhikku lainnya yang punya kesamaan visi dengannya untuk menjadi rekanan. Mereka berlima menghadap Buddha untuk mengajukan usulan peraturan kebhikkuan yang baru. Adapun rancangan peraturan itu adalah :

1. Semua Bhikku harus tinggal di hutan.

2. Bhikku tidak boleh menerima undangan makan, melainkan hanya boleh menerima persembahan makanan saat di jalan saja.

3. Bhikku hanya boleh mengenakan jubah dari kain buangan saja dan tidak boleh menerima persembahan jubah.

4. Saat tinggal di hutan, Bhikku tidak boleh tidur di dalam ruangan, melainkan harus tidur di bawah pohon.

5. Bhikku harus vegetarian murni [3].

Buddha membolehkan kalau ada Bhikku yang mau melakukannya, kecuali tidur di bawah pohon selama musim hujan. Tapi Beliau menolak kalau harus dijadikan peraturan [4].

Penolakan ini membuat Devadatta gembira, sebab kini ia punya alasan untuk mengatakan bahwa Buddha dan pengikutnya masih belum sepenuhnya lepas dari keduniawian.

Devadatta lalu pergi ke kota Rajagaha, disana ia mengumumkan bahwa Buddha telah menolak usulan peraturan Devadatta, sedangkan ia dan para pengikutnya melaksanakan peraturan itu.

Di satu kesempatan, Buddha bertanya pada Devadatta, apakah ia bermaksud memecah Sangha. Ketika dijawab iya, Buddha memberitahukan pada Devadatta tentang bahaya yang timbul dari perbuatan itu [5].

Tapi Devadatta tidak peduli, ia tetap melanjutkan rencananya [6]. Keesokan harinya ia bertemu dengan Bhikku Ananda di kota Rajagaha. Saat itu B. Ananda sedang berjalan mengumpulkan persembahan makanan. Devadatta berkata : " Ananda, mulai sekarang aku akan mengadakan upacara Uposatha [7] dan kegiatan sangha sendiri yang terpisah dari Buddha dan SanghaNya."

B. Ananda lalu melaporkan hal ini pada Buddha. Buddha menanggapinya dengan mengucapkan Syair :

" Mudah bagi orang baik untuk melakukan kebaikan. Sulit bagi orang jahat untuk melakukan kebaikan. Mudah bagi orang jahat untuk melakukan kejahatan. Sulit bagi orang baik untuk melakukan kejahatan. "

Pada hari Uposatha [8], Devadatta berbicara di hadapan ratusan Bhikku. Ia menyebutkan lima usulan peraturan baru yang ditolak oleh Buddha. Ia mengatakan bahwa ia melaksanakan peraturan itu dan mengajak para Bhikku untuk bergabung bersamanya.

Kemudian ada sekitar lima ratus Bhikku yang tertarik jadi pengikut Devadatta. Mereka adalah Bhikku dari suku Vajji di Vesali. Mereka masih baru dan lugu, belum tahu banyak tentang Vinaya ( peraturan Kebhikkuan yang dibuat oleh Buddha ). Mereka mengira bahwa lima peraturan itulah yang benar.

Setelah berhasil menarik sekelompok anggota Sangha ( Komunitas Bhikku yang dipimpin oleh

Buddha ), Devadatta pergi ke Gayasika ( nama tempat ) bersama dengan lima ratus Bhikku baru

itu.

Mengetahui hal ini, Buddha mengutus Bhikku Sariputta dan Bhikku Moggalana untuk menarik kembali kelima ratus Bhikku baru itu. Kedua Siswa utama ini pergi menyusul ke Gayasika.

Sesampainya di Gayasika, Devadatta menyambut mereka berdua dengan gembira, sebab ia mengira kedua Siswa utama ini hendak bergabung dengannya. Bhikku Kokalika memperingati Devadatta akan adanya kemungkinan bahwa Sariputta dan Moggalana akan membawa kembali kelima ratus Bhikku baru ini, tapi Devadatta mengabaikan peringatan Kokalika.

Devadatta lalu berkhotbah sampai larut malam. Setelah capek, ia meminta Bhikku Sariputta untuk melanjutkan khotbahnya, sedangkan ia sendiri pergi tidur.

Bhikku Sariputta lalu berkhotbah. Beliau juga mengatakan bahwa Devadatta sudah tidak ada hubungan lagi dengan Buddha dan Sangha.

Setelah itu giliran Bhikku Moggalana yang berkhotbah. Sebelum berkhotbah, B Moggalana terlebih dahulu memperagakan beberapa kesaktiannya.

Di akhir khotbah, kelima ratus Bhikku baru itu semuanya mencapai Pencerahan Spiritual tingkat pertama ( disebut Sotapana ). Mereka lalu mengikuti B. Sariputta dan B. Moggalana kembali pada Sang Buddha [9]

Bhikku Kokalika lalu membangunkan Devadatta [10] dan menceritakan apa yang telah terjadi. Mendengar berita tersebut, Devadatta muntah darah dan sakit keras selama sembilan bulan.

Devadatta mulai menyadari kesalahannya dan mau minta maaf pada Buddha. Ia lalu meminta pada murid muridnya agar mengantarkannya kepada Buddha ( Devadatta sakit, sehingga harus

ditandu ).

Muridnya menolak. Sebab mereka mengetahui gurunya memusuhi Buddha. Setelah meminta sampai tiga kali, barulah para muridnya bersedia mengantarkannya dengan tandu.

Ketika para Bhikku mendengar bahwa Devadatta sedang dalam perjalanan, mereka melaporkan hal ini pada Buddha. Beliau berkata bahwa Devadatta sudah tidak bisa bertemu lagi denganNya.

Sewaktu sudah dekat dengan Wihara Jetavana ( tempat tinggal Buddha ), Devadatta minta berhenti dulu supaya bisa mandi di sebuah telaga. Ketika kakinya menginjak tanah, tanahnya terbelah, ia terperosok masuk. Ketika badannya hampir masuk semua, ia masih sempat menyatakan diri berlindung kepada Buddha.

Catatan :

[1] Sebelumnya Devadatta adalah Bhikku senior yang cukup terpandang. Ia punya sejumlah Bhikku yang jadi pengikutnya. Para pengikutnya ini berwatak mirip dengannya, yaitu jahat.

[2] Tak lama setelah peristiwa ini, bhikku Kokalika juga tewas mengenaskan karena telah memfitnah Bhikku Sariputta dan Moggalana.

[3] Buddha membolehkan Bhikku makan daging dan ikan, asalkan : 1. Bhikku itu tidak melihat pembunuhannya. 2. Bhikku itu tidak mendengar suaranya saat hewan itu disembelih. 3. Hewan itu tidak dibunuh khusus untuk si Bhikku.

[4] Usulan peraturan yang diajukan oleh Devadatta ( kecuali yang vegetarian ) disebut Dhutanga, sebenarnya sudah dilakukan oleh Bhikku tertentu. Contohnya B. Mahakassapa. Peraturan Dhutanga ada tiga belas. Bersifat pilihan, boleh dipraktekkan salah satu atau lebih atau semuanya terserah.

Bhikku boleh mempraktekkan Dhutanga asalkan dianggap bisa mempercepat pencapaian Spiritualnya.

[5] Buddha memperingatkan Devadatta dengan mengucapkan Syair berikut :

" Barang siapa yang menyebabkan perpecahan dalam Sangha yang semula rukun, maka

ia akan menderita di neraka selama satu kalpa.

Sebaliknya, barang siapa yang menyebabkan kerukunan / persatuan dalam Sangha yang semula terpecah, maka ia akan bahagia di Surga selama satu kalpa. "

Lamanya satu kalpa bisa lihat di lampiran 9 di buku jilid 1.

[6] Sekalipun sudah diperingatkan, Devadatta tetap berusaha memecah Sangha, sebab ia sudah gelap mata, pikirannya sudah dibutakan oleh kebencian dan nafsu ingin membalas dendam.

[7] Upocara Uposatha adalah upacara pembacaan peraturan Kebhikkuan yang dibuat oleh Buddha. Ada 227 peraturan yang harus dibaca. Sebelum itu para Bhikku masing masing mengakui kesalahannya karena telah melanggar peraturan diatas ( jika ada ), dan berjanji untuk lebih bisa mentaati peraturan. Upacara ini bersifat tertutup, selain Bhikku dilarang berada di dalam ruangan itu. Samanera juga dilarang masuk. Jika sampai ada yang masuk maka upacara harus diulang dari awal lagi.

[8] Hari Uposatha adalah saat bulan purnama penuh dan bulan gelap total. Jadi setiap tanggal 1 dan tanggal 15 penanggalan lunar.

[9] Rombongan lima ratus Bhikku ini kembali ke Vihara Veluvana dengan cara terbang di udara menggunakan kesaktian Bhikku Moggalana.

[10] Bhikku Kokalika membangunkan Devadatta dengan cara membenturkan dengkulnya ke dada Devadatta.

[11] Neraka Avici adalah neraka ruang bakar dari besi.

Buddha Maha Tahu. Beliau sejak awal sudah tahu bahwa kelak Devadatta akan berhianat dan melakukan karma buruk yang sangat gawat. Tapi Beliau tetap menerima Devadatta menjadi Bhikku.

Sebab Buddha tahu bahwa kelak Devadatta setelah keluar dari neraka akan mencapai Pencerahan Spiritual tertinggi. Ini disebabkan karena Devadatta telah mencapai tingkatan meditasi yang cukup tinggi dan telah menjalani hidup Kebhikkuan dengan baik selama jangka waktu tertentu.

Bagian 98

Dalam dokumen RIWAYAT HIDUP BUDDHA GAUTAMA Jilid 2 (Halaman 161-166)