Pendahuluan :
Angulimala artinya untaian kalung jari, ini adalah julukan yg diberikan oleh masyarakat pada seorang pembunuh dengan kemampuan fisik luar biasa. Ia telah membunuh 999 orang. Setiap selesai membunuh, ia memotong jari telunjuk korbannya, lalu dijadikan kalung.
Nama sebenarnya Ahimsaka, ia adalah anak seorang menteri kerajaan. Awalnya Ia adalah orang baik, tetapi dijebak oleh gurunya sehingga terpaksa melakukan pembunuhan.
( Cerita dimulai )
Gagga Brahmana adalah menteri kerajaan Kosala. Istrinya sedang hamil tua dan akan melahirkan. Gagga sedang mengamati bintang di langit untuk meramalkan masa depan anaknya. Ia memang ahli astrologi. Dan karena keahliannya inilah ia mendapatkan jabatan penting di Istana.
Alangkah terkejutnya ia, karena ramalannya menyimpulkan bahwa kelak anaknya akan melakukan kejahatan serius.
Malam hari saat kelahiran anak Gagga, semua senjata pusaka kerajaan Kosala menyala bersinar. Termasuk pedang yang disimpan di kamar tidur Raja. Hal ini menandakan akan terjadi peristiwa luar biasa atau akan adanya ancaman pada kerajaan Kosala.
Keesokan paginya, Raja memanggil Gagga menghadap untuk membicarakan masalah ini. Gagga menjelaskan pada Raja bahwa fenomena ini disebabkan karena anaknya yang baru lahir kelak akan menjadi perampok atau pembunuh yang menggemparkan Kerajaan.
Kemudian Gagga menawarkan pada Raja untuk membunuh anaknya guna menghindari masalah besar di kemudian hari. ( Sungguh seorang negarawan sejati, mengutamakan kepentingan
negara diatas kepentingan pribadi )
Raja bertanya apakah kelak anak itu akan menjadi penjahat tunggal atau akan mendirikan organisasi mafia, menjadi pimpinan penjahat. Gagga menjawab bahwa anaknya kelak akan menjadi penjahat tunggal.
Karena Raja merasa bahwa kerajaannya tidak bisa diguncangkan hanya oleh seorang penjahat, maka Raja mengizinkan agar bayi itu tetap hidup.
Oleh Gagga, anaknya lalu diberi nama Ahimsaka. ( A = tidak, himsaka = menyakiti. Ahimsaka =
ia yang tidak menyakiti siapapun. )
Harapannya agar Ahimsaka terhindar dari takdir menjadi penjahat.
Ahimsaka tumbuh menjadi anak yg tampan, cerdas dan berbudi pekerti luhur. Setelah remaja, ia dikuliahkan di Takasila ( Taxila ). Ini adalah kota pendidikan terkenal di zaman India kuno ( sekarang masuk wilayah Pakistan ). Disana, para siswa belajar berbagai ilmu pengetahuan dan kadang belajar ilmu silat juga.
Ahimsaka menunjukkan bakatnya yg luar biasa dalam segala hal. Ia mendapatkan nilai terbaik, jauh lebih tinggi dibandingkan rata rata siswa yg lain.
Akibatnya Ahimsaka menjadi anak kesayangan gurunya, dan boleh tinggal di rumah gurunya bagaikan keluarga sendiri.
Melihat ini, para siswa yg lain mulai merasa iri. Lama kelamaan menjadi dengki. Akhirnya sebagian siswa sepakat untuk menyingkirkan Ahimsaka dari perguruan.
Mereka berencana untuk memfitnah Ahimsaka. Untuk itu mereka membagi diri menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama memberitahu gurunya bahwa Ahimsaka telah berselingkuh dg istri guru, dan Ahimsaka akan mengambil alih perguruan. Kelompok kedua dan ketiga membenarkan apa yg dikatakan kelompok pertama.
Awalnya si guru tidak percaya, tapi karena banyak yg melapor, akhirnya jadi percaya.
Gurunya memikirkan bagaimana caranya untuk mengusir dan melenyapkan Ahimsaka. Karena jika dibiarkan tetap hidup, Ahimsaka kelak akan menjadi ancaman bagi si guru.
Akhirnya si guru mendapatkan cara. Pada saat yang tepat, Ia memanggil Ahimsaka dan berkata : " Nak, semua ilmu telah habis kamu pelajari. Tapi ada satu ilmu tertinggi yg belum. Ini adalah ilmu terhebat, jauh melebihi semua ilmu yg pernah ku ajarkan padamu."
Gurunya diam sejenak untuk melihat reaksi Ahimsaka. Tentu saja Ahimsaka langsung tampak bersemangat, sebagai murid terhebat yg haus akan pelajaran.
Gurunya melanjutkan :
" Tapi sayang, syarat untuk mempelajari ilmu ini sangatlah berat. Ah sudahlah, lupakan saja. Kamu sudah lulus. Besok kamu boleh pulang ke kampung halamanmu. "
Ahimsaka langsung panik dan berkata :
" Guru, apapun syaratnya, pasti akan saya lakukan ! "
( Ahimsaka berpikir, memangnya selama ini ilmu yg dipelajarinya itu mudah ? Kan susah semua,
makanya dia jauh jauh datang untuk berguru kesini. Kalau gampang mah belajar sendiri aja di rumah. Gak perlu kuliah. )
Guru :
" Jangan Nak. Syaratnya terlalu berat bagi siapapun juga. Sudahlah. Lupakan saja. Pergilah sekarang. Bersiap untuk pulang besok. "
Ahimsaka makin panik dan berteriak : " Saya bersumpah !!
Apapun syaratnya, akan saya lakukan asalkan saya bisa belajar ilmu itu !! "
Guru menatap Ahimsaka dan berkata pelan : " Syaratnya kamu harus membunuh seribu orang. "
Ahimsaka tercengang. Ia tak percaya pada apa yg baru saja didengarnya. Ia diam beberapa saat sebelum gurunya memintanya untuk meninggalkan ruangan.
Ahimsaka melangkah gontai dengan hati yg bergejolak. Ia tidak mau menyakiti orang lain, tapi ia sudah terlanjur bersumpah.
Kemudian dengan membawa pedang dan perbekalan, ia pergi menuju ke suatu hutan. Di sana ia mencegat dan membunuh orang yg lewat.
Setiap kali selesai membunuh, ia memotong jari telunjuk korbannya, lalu dibuat untaian kalung. Gunanya untuk menghitung jumlah korbannya.
Lama kelamaan tidak ada lagi orang yg mau lewat hutan itu. Lalu Ahimsaka mulai pergi ke desa, masuk ke rumah orang dan membunuh penghuninya. Akhirnya masyarakat mulai mengenali penampilannya, dan sejak saat itu ia dijuluki Angulimala, artinya untaian kalung jari.
Angulimala pergi dari satu desa ke desa lain untuk mencari korban. Ia menakutkan. Bergerak secara diam diam. Menyerang malam hari. Korbannya tidak melihatnya, hanya mencium bau amis darah, tahu tahu kepala sudah putus.
Masyarakat melaporkan pembunuhan ini pada Raja. Raja pun menyiapkan pasukannya untuk menangkap Angulimala hidup atau mati.
Berita mengenai Angulimala tersebar luas ke seantero negeri. Termasuk ke orangtua Ahimsaka. Dan orangtua Ahimsaka merasa yakin bahwa Angulimala adalah Ahimsaka, yaitu anak mereka yg sudah bertahun tahun pergi merantau.
Ibu Ahimsaka memutuskan untuk mencari Ahimsaka, sebelum Ahimsaka ditangkap pasukan kerajaan. Ayah Ahimsaka sudah melarang istrinya supaya jangan pergi, karena takut dibunuh juga. Tapi istrinya pergi disaat suaminya sedang tidak ada dirumah.
Saat itu, Sang Buddha sedang berada di Vihara Jetavana. Beliau melihat dg mata batin siapa saja yg bisa ditolong pada hari itu. Yaitu mahluk mahluk yg karma baiknya memungkinkan untuk ditolong. ( Ini sudah menjadi agenda harian Buddha, setiap subuh ) Kemudian tampaklah Angulimala dg seluruh persoalannya.
Angulimala tampak sudah membunuh 999 orang. Calon korbannya yg ke-1000 adalah ibunya sendiri yg sedang pergi mencarinya.
Buddha melihat bahwa Angulimala dan ibunya bisa ditolong. Bahkan ia bisa mencapai pencerahan spiritual tertinggi di kehidupannya sekarang.
Buddha harus bertindak sebelum Angulimala membunuh ibunya, karena kalau telat, ibunya akan mati dan Angulimala masuk neraka. ( Ia tidak akan bisa mencapai pencerahan spiritual apapun
di kehidupannya yg sekarang sebab karma buruk yg berat menutupi kejernihan pikirannya ).
Kemudian setelah makan pagi. Buddha berjalan kaki menuju hutan tempat mangkal Angulimala. Di perjalanan beberapa orang memperingatkan Buddha agar tidak ke hutan Kosala, sebab ada Angulimala. Buddha mengucapkan terima kasih atas perbuatan baik mereka, dan tetap melanjutkan perjalanan.
( Mereka telah melakukan kebajikan besar, kelak hidup mereka akan selalu mendapat petunjuk
agar terhindar dari bahaya. )
Saat itu, ibu Angulimala juga telah sampai di hutan Kosala, sambil sesekali memanggil nama anaknya. Angulimala melihat ibunya, tapi sudah gak kenal lagi.
Melihat ada wanita tua berjalan di hutan, Angulimala pun merasa senang. Ia gak menyangka kalo calon korbannya yg terakhir akan begitu mudah untuk dibunuh. Berarti sebentar lagi tugas selesai.
Angulimala berjalan santai sambil menenteng pedangnya. Ia berada beberapa belas meter dari ibunya. Tahu tahu Buddha muncul di antara Angulima dan ibunya. Di persimpangan jalan, Buddha belok kanan, sementara ibunya belok kiri.
Karena lebih dekat, Angulimala memutuskan untuk membunuh Buddha. Ia mempercepat langkahnya, tapi koq jarak antara ia dan Buddha tetap sama. Lalu ia mulai berlari dg kecepatan penuh. Tetap saja jarak antara ia dg Buddha tidak berubah. Padahal Buddha berjalan perlahan selangkah demi selangkah.
( Rupanya Buddha mulai menggunakan kesaktianNya. Beliau mengkerutkan tanah di sekitar
kaki Angulimala. Jadi seperti lari diatas treadmill )
Kemudian Buddha menciptakan sungai yg berarus deras sedalam kepala orang dewasa. Saat Beliau melintasi sungai, air sungai terbelah. Saat Angulimala lewat, airnya menutup kembali, sehingga Angulimala harus berjuang supaya tidak terseret arus.
( Kalau tadi baru gerak pemanasan, setelah itu dimandikan. Sebab Angulimala bau amis darah
dan uda lama gak mandi. )
Setelah Angulimala keluar dari sungai, Buddha lalu menciptakan semak berlukar. Saat Beliau lewat, semak itu terbelah, saat Angulimala lewat, semak itu tertutup kembali, sehingga Angulimala harus mengayunkan pedangnya kiri - kanan supaya bisa lewat.
Keluar dari semak, Buddha kembali menciptakan sungai berarus deras.
Keluar dari sungai, Angulimala lari lagi sampai habis tenaganya. Ia jatuh bersimpuh. Lalu ia berteriak : " Berhentilah Petapa !! "
Sambil tetap berjalan Buddha menjawab :
" Saya sudah berhenti. Sedangkan Anda masih bergerak. Hentikanlah dirimu sendiri. "
Angulimala :
" Apa maksudmu !? "
Buddha lalu berhenti melangkah, Beliau membalikkan badanNya dan berkata :
" Saya sudah berhenti menyakiti mahluk lain. Sedangkan Anda masih menyakiti mahluk lain. "
Kesadaran spiritual Angulimala mulai muncul. Selama ini pikirannya menderita karena banyak membunuh dan hidup tidak layak. Setelah mendengar perkataan Buddha pikirannya menjadi tenang dan bahagia. Ia mendapatkan pencerahan spiritual awal, wajahnya cerah bagaikan habis beristirahat setelah kecapekan.
( Orang yg banyak melakukan kebajikan pikirannya akan jernih dan bahagia, sebaliknya banyak
melakukan kejahatan menyebabkan pikiran jadi keruh dan menderita )
Angulimala berpikir, apakah yang berdiri didepannya ini adalah Petapa Gotama ( Buddha ) yg terkenal itu.
Ia melihat Tubuh Buddha dari ujung kepala sampai ujung kaki. Melihat keindahan Tubuh Buddha dan mendengar AjaranNya, akhirnya Angulimala sadar, bahwa Petapa Agung ini adalah Buddha yg memang datang khusus untuk menolongnya.
Angulima meletakkan pedangnya, ia bersujud minta dijadikan murid. Buddha mengangkat tangan kanan Beliau seraya berkata :
" Mari Bhikku, Dhamma telah diajarkan. Sekarang tempuhlah hidup suci menuju lenyapnya seluruh penderitaan. "
Seketika itu juga Angulimala langsung gundul, kumis dan jenggotnya tercukur licin, pakai jubah bhikku, dan peralatan bhikkunya sudah lengkap.
( Hal ini dimungkinkan karena di kehidupannya yg lalu Angulimala pernah memberikan
persembahan perlengkapan bhikku dan mencukur rambut bhikku. Buddha hanya sebagai perantara saja bagi terlaksananya hukum sebab akibat. )
Bagian 87
Angulimala (2)
Angulimala berjalan bersama Buddha menuju Vihara Jetavana.
Pada saat itu rakyat Kosala berunjuk rasa si depan istana Raja. Mereka menuntut agar Angulimala ditumpas.
Tuntutan mereka dipenuhi. Tengah hari Raja Pasenadi beserta 500 pasukan berkuda berangkat untuk menangkap Angulimala hidup atau mati. ( Kalaupun hidup nanti bakalan dihukum mati
juga. 😈)
Sebelum pergi bertempur, Raja dan pasukannya menghadap Buddha untuk meminta restu, supaya bisa menang. Rombongan Raja mampir dulu ke Vihara Jetavana.
Sebelum masuk Vihara, rombongan Raja meletakkan senjata mereka diluar, baru kemudian masuk. Setelah memberi hormat pada Buddha, mereka duduk.
Buddha membuka percakapan dg bertanya :
" Ada apa Baginda ? Anda mau perang lawan siapa ?
Apa mau lawan Raja Seniya Bimbisara dari Magadha, atau para bangsawan Lichawi, atau mungkin Raja yg lain ? "
Raja Pasenadi :
" Bukan Guru, bukan melawan kerajaan lain. Tapi mau menumpas penjahat. Di wilayahku ada seorang pembunuh ganas yg bernama Angulimala. "
Buddha :
" Baginda, jika seandainya Angulimala telah beralih profesi menjadi Bhikku, jika ia tidak lagi membunuh, melainkan menempuh hidup suci sebagai Petapa, apa yg akan Anda lakukan terhadapnya ? "
Raja Pasenadi :
" Kami akan memberi hormat dan memberikan persembahan padanya. Kami juga akan melindunginya.
Tapi Guru, mana bisa dia menjadi Bhikku ? "
Kemudian Buddha mengulurkan tangan kananNya, menunjuk ke arah seorang Bhikku berbadan tegap yg sedang duduk tidak jauh dari Beliau, dan berkata : " Baginda, inilah Angulimala. "
Sontak rombongan Raja tercengang. Lalu para tentara kerajaan semuanya pada berdiri dan lari keluar mengambil senjata mereka. Sementara Raja Pasenadi tidak bisa bergerak karena ketakutan.
( Mereka sudah kehilangan akal sehat, sakit berbahayanya Angulimala, 500 orang pada kabur,
padahal Angulimala tidak bersenjata, dan ada Buddha disana. )
Untuk menenangkan Raja, Buddha berkata :
" Jangan takut Baginda. Angulimala sudah tidak berbahaya. "
Setelah rasa takutnya hilang, Raja mendekati Bhikku Angulima dan bertanya : " Guru, apakah Anda benar Angulimala ? "
" Ya Baginda, "
" Guru, siapa nama ayah dan ibu Anda ? "
" Ayahku bernama Gagga, ibuku bernama Mantani. "
" Semoga Tuan Gagga Mantaniputta ( nama lain Angulimala, berdasarkan nama orangtuanya ) beristirahat dg tenang. Saya akan memenuhi semua kebutuhan Tuan. "
" Tidak perlu Baginda. " jawab Angulimala. Sebab Angulimala sedang mempraktekkan latihan pertapaan ekstra berat, yaitu makan sehari sekali, itupun hanya dari persembahan orang yg rumahnya Beliau lewati, jubahnya bikin sendiri dari kain yg dibuang orang. Jadi gak mungkin menerima persembahan Raja.
( Latihan pertapaan ekstra berat ini disebut Dhutangga, boleh dilakukan jika yg bersangkutan
sanggup, dan merasa bahwa latihan ini akan bisa mempercepat kemajuan spiritualnya. )
Raja Pasenadi kembali ke tempat duduknya semula, dan berkata pada Buddha :
" Sungguh luar biasa, Guru. Bagaimana Guru bisa menjinakkan yg tidak-terjinakkan. Membawa kedamaian bagi yg tidak-damai. Dan membimbing menuju Nibbana ( Kebahagiaan spiritual
tertinggi ).
Kami sendiri belum tentu bisa menjinakkan ( Angulimala ) dengan kekerasan senjata, tapi Guru bisa menjinakkannya tanpa menggunakan kekerasan.
Sekarang kami mohon pamit, sebab masih ada hal lain yg harus kami lakukan. "
Buddha :
" Silakan Baginda, untuk melakukan apa yg menurut Anda tepat. "
Bagian 88
Angulimala ( 3 )
Setelah menjadi Bhikku, Angulimala dengan seksama memperhatikan perbuatan dan pikirannya, agar tidak sampai merugikan mahluk lain.
Suatu pagi, Bhikku Angulimala pergi ke desa untuk mengumpulkan persembahan makanan. Ketika berjalan dari rumah ke rumah, Ia melihat ( ?? atau mendengar suara kesakitan ) wanita yg kesulitan melahirkan.
Lalu Ia berpikir betapa menderitanya kehidupan.
( Bayangkan, kalau sebelumnya uda pernah bunuh 999 orang tanpa ampun, sekarang bisa
berpikir tentang penderitaan mahluk lain. )
Setelah pulang dan makan. Ia lalu menghadap Buddha dan menceritakan pengalamannya.
Buddha berkata :
" Kalau begitu, Angulimala, kembalilah kesana dan katakan pada wanita itu : " Saudari,
sejak Saya menjadi Bhikku, Saya belum pernah dengan sengaja menyakiti mahluk lain. Semoga dengan kebenaran perkataan Saya ini, Anda dan bayi dalam kandungan Anda selamat. ""
B. Angulimala lalu pergi dan melakukan apa yg disuruh. Dengan dibatasi oleh tirai kain, B. Angulimala mengucapkan pernyataan itu kepada si wanita yg kesulitan melahirkan.
Setelah itu si wanita bisa melahirkan anaknya dg selamat.
( Entah siapa yg memulai, perkataan B. Angulimala ini akhirnya dijadikan mantra untuk
mempermudah proses persalinan. Ampuh tidaknya tergantung siapa yg ngomong. Kalau yg ngomong memang benar gak pernah menyakiti mahluk lain, mungkin bisa )
Setelah beberapa lama berlatih meditasi ( tidak disebutkan berapa lama ), B. Angulimala akhirnya bisa mencapai pencerahan spiritual tertinggi.
Suatu pagi, saat sedang berjalan mengumpulkan persembahan makanan, B. Angulimala terkena lemparan benda keras. ( Tidak disebutkan sebabnya, ada yg bilang gak sengaja kena lemparan,
ada yg bilang kalau itu balas dendam dari keluarga korban yg pernah dibunuh Angulimala. )
Karena terluka cukup parah, kepalaNya bocor, mangkukNya juga pecah, dan jubahNya sobek, akhirnya Angulimala membatalkan perjalanan, dan pulang menghadap Buddha.
Dari jauh Buddha melihatnya dan berkata :
" Tanggunglah itu Brahmana. ( Brahmana = julukan lain bagi Orang Suci. )
Engkau sedang merasakan akibat dari perbuatan burukmu, yg semestinya bisa membuatmu disiksa di neraka selama ribuan tahun."
( Karena Angulimala telah mencapai pencerahan spiritual tertinggi, maka akibat karma buruk yg
pernah dilakukannya banyak berkurang. Dan setelah mati urusan selesai. Siklus hidup-mati terputus.)
Setelah sampai di hadapan Buddha, Angulimala memberi hormat dengan bersujud, setelah itu Ia wafat.
Setelah Jenazahnya diperabukan, para Bhikku bertanya pada Buddha, Angulimala sedang berada di alam mana sekarang. Buddha menjawab bahwa Angulimala sudah memutuskan siklus hidup mati. Tidak muncul di alam manapun juga. Mencapai Nirwana penuh.
Para Bhikku merasa sangat heran, bagaimana mungkin seseorang yg sudah sangat banyak melakukan pembunuhan manusia, tapi bisa mencapai Nirwana penuh.
Menanggapi keheranan mereka, Buddha berkata bahwa karena pengaruh buruk dimasa lalu, maka Angulimala melakukan kejahatan. Sekarang dengan pengaruh dan bimbingan yg baik, maka Angulimala telah melaksanakan Dhamma, sehingga perbuatan jahatnya telah ditanggulangi dg kebajikan.
Kemudian Buddha mengucapkan Syair Dhammapada ayat 173 sebagai berikut : " Barangsiapa menebus kejahatan yg pernah dilakukannya,
dengan melakukan kebajikan, Maka Ia telah menerangi dunia ini,
bagaikan rembulan yg terbebas dari awan. "
____________________________________________________________________________
Catatan :
[1] Buddha memiliki kemampuan yg disebut KAMMAVIPAKA-NYANA, yaitu kesaktian pikiran guna mengetahui akibat yang muncul dari suatu perbuatan. Bukan secara teori, tapi Beliau melihat sendiri dengan mata batin, apa yang akan terjadi. Atau bila ada suatu peristiwa, Beliau bisa me ngetahui apa penyebabnya.
Dalam kasus ini Buddha mengetahui bahwa cedera yg dialami oleh B. Angulimala disebabkan oleh pembunuhan yg pernah dilakukannya, bukan oleh sebab lain.
Dan Buddha juga melihat bahwa akibat yg seharusnya dialami adalah masuk neraka.
[2] Untuk bagian wanita melahirkan, ada versi cerita kedua, tapi BUKAN berdasarkan Kitab Majjhima Nikaya. Ceritanya begini : Saat B. Angulimala berjalan mengumpulkan persembahan makanan, ada wanita yang hamil tua yang mengenali wajahnya sewaktu ia menjadi pembunuh. Rupanya wanita ini adalah bekas calon korbannya yang berhasil lolos karena beruntung.
Wanita ini ketakutan dan lari, tapi terpeleset jatuh. Darah mengalir dari selangkangannya. Janinnya terancam keguguran. Melihat ini B. Angulimala mundur sejauh mungkin. Setelah itu Ia berkata dengan suara yang bisa terdengar jelas oleh si wamil ini : " Saudari, sejak Saya menjadi
Bhikku, Saya belum pernah dengan sengaja menyakiti mahluk lain. Semoga dengan kebenaran perkataan Saya ini, Anda dan bayi dalam kandungan Anda selamat. "
Bagian 89
Sundari
Semenjak Buddha mulai terkenal, saat itulah para petapa dari agama lain mulai berkurang pengikutnya, dan berkurang pendapatannya. Lama kelamaan mereka jadi iri dan dengki sama Buddha. Mereka mau agar pengikut Buddha pada kembali jadi pengikut mereka lagi.
Untuk itu ada sekelompok petapa yang memfitnah Buddha dengan memperalat wanita yang bernama Cinca, ini terjadi di tahun ke tujuh Siddharta menjadi Buddha.
Di tahun ke dua puluh Siddharta menjadi Buddha, ada sekelompok petapa lainnya yang mencoba memfitnah Buddha dengan cara yang sama. Mereka memperalat seorang wanita yang bernama Sundari.
Saat itu Buddha sedang tinggal di daerah Savathi, di Vihara Jetavana. Banyak Dewa dan manusia yang memberi hormat pada Buddha dan para Bhikku. Mereka mempersembahkan empat kebutuhan pokok, yaitu makanan, jubah, tempat tinggal ( kamar tidur atau Vihara ), dan obat dalam jumlah yang melimpah ruah.
Sebaliknya, para petapa dari agama lain kekurangan empat kebutuhan pokok. Ini disebabkan oleh kurangnya kebajikan yang pernah mereka lakukan di kehidupan yang lampau, dan mereka mempraktekkan cara hidup pertapaan yang salah di masa kini.
Saat itu di Savathi, ada seorang gadis bernama Sundari. Ia sangat cantik, tapi sifatnya jelek. Para petapa ini sepakat untuk memperalat Sundari. Sundari akan membuat kesan pada masyarakat seolah olah dirinya berhubungan gelap dengan Buddha.
Diaturlah skenario, setiap kali orang orang pada pulang dari Vihara ( setelah mendengarkan
Khotbah Buddha ), Sundari malah pergi ke Vihara. Kala ditanya mau kemana, ia menjawab : "
Saya mau ke kamar Petapa Gotama ( maksudnya Buddha ). "
Tapi ia tidak sampai masuk ke Vihara, melainkan berbelok menuju tempat tinggal petapa yang menyuruhnya.
Keesokan harinya, saat orang orang pada pergi ke Vihara untuk mempersembahkan makanan, ia berjalan ke arah yang sebaliknya. Kala ditanya habis darimana, ia menjawab : " Saya habis kencan dengan Petapa Gotama. "
Demikianlah, setiap hari Sundari bolak balik memberikan kesan pada masyarakat bahwa dirinya punya hubungan seks dengan Buddha.
Setelah beberapa hari Sundari bersandiwara, komplotan petapa ini menyewa sekelompok preman untuk membunuh Sundari dan meletakkan mayatnya dalam lingkungan Vihara. Kemudian komplotan petapa ini menyebarkan berita tentang hilangnya Sundari.
Mereka menghadap Raja Pasenadi ( penguasa daerah setempat ) untuk melaporkan kasus ini dan minta tolong. Raja bertanya apakah ada tempat yang dicurigai. Mereka menjawab Sundari terakhir terlihat berada di sekitar Vihara Jetavana. Raja lalu menyuruh dilakukan pencarian di Vihara Jetavana dan sekitarnya.
Komplotan petapa ini pergi bersama para pengikut mereka ke Vihara Jetavana untuk membantu mencari Sundari. Sesuai skenario yang mereka buat sendiri, mayat Sundari ditemukan di dalam lingkungan Vihara. Mereka lalu membawa mayat Sundari ke hadapan Raja Pasenadi.
Komplotan petapa ini mengarang cerita bahwa Sundari dibunuh oleh para Bhikku untuk menutupi aib Sang Buddha. Tanpa melakukan penyelidikan lebih jauh, Raja percaya pada tuduhan palsu ini. Raja lalu memerintahkan agar jenazah diarak ke seluruh kota dan diumumkan kasusnya.