• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGELOLAAN KAWASAN HUTAN RAWAN KONFLIK : KASUS HUTAN PENELITIAN BENAKAT, SUMATERA SELATAN

2.3. Berpikir Sistem (lunak) dalam Mengelola Kawasan Hutan

Kawasan hutan disebut rawan konflik apabila terdapat kepentingan berbeda yang sulit dikompromikan antarpihak-pihak pengguna kawasan hutan, karena dianggap mengganggu atau dapat menghilangkan kepentingan yang lain. Bagi pengelola kawasan hutan, situasi ini menimbulkan kompleksitas masalah dan ketidakpastian. Cara yang diusulkan banyak ahli untuk memfasilitasi proses-proses yang kompleks dan dinamis adalah dengan berpikir sistem lunak (soft system thinking) (Groot dan Maarleveld 2000).

2.3.1. Pemikiran Sistem

Berpikir sistem adalah berpikir secara holistik dengan melihat obyek yang dikaji dalam kaitannya dengan komponen-komponen lainnya. Mengapa harus berpikir sistem dalam pengelolaan sumberdaya alam. Karena sumberdaya alam didefinisikan sebagai sebuah sistem, maka pengelolaan sumberdaya alam haruslah dipandang sebagai pengelolaan sistem. Secara definitif sistem adalah suatu gugus dari elemen yang saling berhubungan dan terorganisasi untuk mencapai suatu tujuan atau suatu suatu gugus dari tujuan-tujuan (Manetsch dan Park 1979 dalam Eriyatno 2003).

Checkland and Scholes (1990 dalam Lucket et al. 2001) mengartikan berpikir sistem lebih sederhana lagi. Menurut mereka berpikir sistem adalah suatu cara memandang dan memahami dunia. Sistem didefinisikan sebagai suatu kumpulan ―benda‖ dan beragam aktivitas yang saling berhubungan kemudian membentuk keseluruhan yang adaptif, untuk mencapai satu tujuan. Ini

namun ada saling keterkaitan antara elemen-elemen itu.

Satu cara untuk memahami berpikir sistem adalah dengan membandingkannya dengan pendekatan reduksionis dalam menangani kompleksitas (Chapman 2004). Aspek penting pendekatan reduksionis adalah bahwa kompleksitas disederhanakan dengan membagi sebuah masalah ke dalam sub masalah atau menjadi komponen-komponen sedemikian rupa sehingga cukup sederhana untuk dianalisis dan dipahami. Operasi terhadap kompleksitas direkonstruksi dari operasi-operasi pada taraf sub masalah atau komponen-komponen. Cara ini memiliki potensi masalah. Bisa jadi fitur penting dari entitas kompleksitas justru terletak pada hubungan antarkomponen. Kompleksitas muncul ketika masing-masing komponen berkoneksi satu sama lain. Sehingga tindakan menyederhanakan dengan menghilangkan interkoneksi antarkomponen tidak akan dapat mengatasi kompleksitas.

Berpikir sistem memiliki sebuah strategi alternatif untuk menyederhanakan kompleksitas, yaitu dengan meningkatkan taraf abstraksi. Taraf tertinggi dari abstraksi mampu menghilangkan detil masalah, dan ini berarti penyederhanaan. Ketika orang berbicara tentang organisasi maka ia mengeliminasi fungsi individu-individu atau kelompok. Organisasi berada pada taraf abstraksi yang lebih tinggi dari individu-individu di dalamnya. Namun, interkoneksi antarkomponen tetap dipertahankan meski taraf abstraksinya meningkat. Abstraksi atau penyederhanaan dari dunia nyata yang mampu menggambarkan struktur dan interaksi elemen serta perilaku keseluruhannya sesuai dengan sudut pandang dan tujuan yang diinginkan didefinisikan sebagai model (Purnomo 2005).

Dalam mempelajari tentang berpikir sistem adalah sangat membantu untuk membedakan dua kelas masalah, yaitu antara masalah yang rumit dan masalah yang sulit (Chapman 2004). Sebuah kesulitan dikarakterisasi oleh kesepakatan atas sebuah masalah dan oleh pemahaman tentang solusi apa yang mungkin, dan pemecahannya dibatasi oleh waktu dan sumberdaya. Sementara kerumitan dikarakterisasi oleh kesepakatan yang tidak jelas tentang apa sebenarnya masalah dan oleh ketidakpastian dan ambiguitas bagaimana memperbaiki masalah tersebut, dan ia tidak dibatasi oleh waktu dan sumberdaya. Perbedaan lainnya adalah jika seseorang mempunyai solusi atas suatu masalah yang sulit maka ia adalah aset, tetapi jika seseorang ingin menyelesaikan masalah yang rumit maka ia sendiri adalah bagian dari masalah tersebut.

sulit, tetapi kurang ampuh dalam menyelesaikan masalah yang rumit. Berpikir sistem dengan pendekatan sistem lunak menyediakan kerangkakerja yang terbukti berhasil menangani masalah rumit (Chapman 2004). Namun demikian, hal ini tidak berarti bahwa pendekatan sistem berkontradiksi dengan pendekatan analitik. Pemikiran sistem tidak menyisikan pemikiran analitis, justru ia suplemen bagi pemikiran analitis (Winardi 2005). Winardi (2005) mengutip karya Blaise Pascal yang menyebutkan bahwa adalah aneh untuk mengira bahwa kita akan memahami keseluruhan tanpa secara khusus mengenal bagian-bagiannya.

Aplikasi berpikir sistem dalam manajemen organisasi telah menghasilkan beberapa metodologi, seperti perekayasaan sistem, analisis sistem, dinamika sistem, riset operasi, dan manajemen sibernetik. Kumpulan metodologi ini dikenal sebagai pemikiran sistem keras.

Checkland (1981) dalam Simonsen (1994) membedakan antara sistem keras (hard system) dengan sistem lunak (soft system) sebagai upaya menggunakan konsep sistem dalam memecahkan masalah. Berpikir sistem keras diidentifikasi dalam perekayasaan sistem dan analisis sistem. Ini dimulai dari masalah-masalah yang terstruktur dan tujuan sistem tersebut dapat dibatasi dan konsisten. Berpikir sistem lunak dimulai dari masalah-masalah tidak terstruktur di dalam sistem-sistem aktifitas sosial yang dirasakan sebagai situasi masalah yang tidak jelas. Checkland menyebut berpikir sistem keras sebagai ‗paradigma optimisasi‘ dan berpikir sistem lunak sebagai ‗paradigma pembelajaran‘.

Pemikiran sistem yang dibedahkan menjadi sistem keras dan sistem lunak dianalogikan oleh Flood (2001) sebagai pemikiran sistem (systems thinking) dan pemikiran sistemik (systemic thinking). Pemikiran sistem mengacu kepada cara berpikir tentang sistem sosial riil karena memang sistem tersebut ada. Sementara pemikiran sistemik muncul dari anggapan bahwa konstruksi sosial itu bersifat sistemik. Pemikiran sistem didasarkan pada prinsip objektif, sementara pemikiran sistemik mengandalkan posisi subjektifitas.

Pemikiran sistem lunak adalah bentuk pemikiran sistemik yang memahami realitas sebagai konstruksi kreatif umat manusia (Jackson 1991 diacu dalam Flood 2001). Pemikiran ini melihat realitas sosial sebagai konstruksi dari penafsiran orang-orang terhadap pengalamannya. Ini berarti, cara ini berhubungan erat dengan teori interpretatif (interpretative theory). Oleh karena

pandang dan maksud orang-orang.

Menurut Sinn (1998) keragaman metodologi dalam ilmu sistem sebetulnya tidak saling berkompetisi, namun menempati relung kontekstual yang berbeda. Sebagaimana ditunjukkan dalam Tabel 1, sistem metodologi-metodologi sistem adalah berupa matriks 2 x 3 yang menggambarkan konteks masalah yang dibentuk oleh dimensi kompleksitas teknis dan keragaman sudut pandang partisipan. Metode-metode pemecahan masalah dikategorikan ke dalam enam sel. Misalnya, Metodologi Sistem Lunak adalah paling cocok untuk menangani masalah pada sistem kompleks dimana situasi masalah melibatkan banyak pihak. Sementara, apabila situasi masalah dianggap kompleks namun tidak melibatkan interaksi manusia maka Teori Sistem Umum layak digunakan.

Tabel 1 Tipologi metodologi pemecahan masalah berbasis sistem menurut Flood dan Jackson (1991)

Kompleksitas sistem

Keragaman perspektif diantara partisipan potensial

Seragam Jamak Saling memaksakan

Sederhana Riset operasi

Analisis sistem Perekayasaan sistem Dinamika sistem

Desain sistem sosial Pengujian dan Penyingkapan Asumsi strategis

Sistem kritis Heuristik

Kompleks Model sistem aktif

Teori sistem umum Sistem sosioteknis Teori kontingensi Perencanaan interaktif Metodologi sistem lunak ?

Sumber : dalam Sinn (1998)

Interaksi manusia dengan manusia jika memiliki sasaran yang sama akan membentuk sistem aktivitas manusia (Human Activity System). Aktivitas manusia yang berhubungan dengan pengelolaan sumberdaya alam yang terbatas seringkali menciptakan situasi masalah yang kompleks. Pada saat keragaman perspektif manusia dan kompleksitas situasi masalah menempati ruang yang sama maka Metodologi Sistem Lunak merupakan pilihan pendekatan analisis berbasis sistem yang kini diakui dan digunakan secara luas.

2.3.2. Metodologi Sistem Lunak (MSL)

Metodologi Sistem Lunak dikembangkan pada tahun 1970-an oleh Peter Checkland dan rekan-rekannya dari Universitas Lancaster. Pendekatan MSL

sebagai usaha untuk memberi pendekatan yang holistik terhadap masalah, dimana secara tradisional pendekatan reduksionis gagal untuk menyelesaikannya.

MSL dikembangkan dari program riset aksi yang bertujuan untuk mencari cara mengatasi masalah dunia nyata yang tidak terstruktur. Riset aksi atau penelitian partisipatif adalah proses dimana anggota kelompok atau masyarakat melakukan identifikasi masalah, mengumpulkan dan menganalisis informasi, dan melakukan tindakan atas masalah tersebut dengan maksud untuk menemukan solusi dan mendukung transformasi sosial dan politik (Selener 1997). Proses seperti tersebut akan mampu mengatasi kendala bounded rationality yang dihadapi para pengelola ketika berhadapan masalah yang tidak terstruktur. Sebuah masalah yang tidak terstruktur atau situasi masalah kompleks adalah situasi dimana orang-orang merasa dapat memperbaikinya, tetapi mereka tidak tahu apa masalah sebenarnya (Checkland, 2000 dalam Holst dan Nidhall 2001).

Masalah yang tidak terstruktur dan sukar untuk didefinisikan dianalisis melalui metode kualitatif, yaitu dengan memodelkan perspektif para pihak, tanpa mereka harus mencapai konsensus terhadap perbedaan pandangan tersebut. Semua asumsi yang mendasari pandangan orang-orang harus disampaikan secara eksplisit agar analisis ini berguna. Asumsi-asumsi tersebut merupakan ―cara pandang‖ (Dalam bahasa Jerman: Weltanschauung) yang seringkali diabaikan. Pendekatan holistik yang disokong oleh MSL berusaha untuk mendorong pencarian skenario masa depan melalui penyesuaian antara ―sistem baru‖ dengan kebutuhan aktual. Checkland (1999) menegaskan tentang analisis sistem dalam MSL sebagai berikut:

So this takes the view that conflict deriving from different world views is endemic in human affair but these systems ideas based on the concept of a purposeful activity system as a device for structuring debate, can lead you into learning process for finding the accomodations which enable action to be taken to improve things. And that is the fundamental nature of the learning cycle which is SSM

Inti Metodologi Sistem Lunak adalah membangun model dari sistem-sistem yang berkaitan dengan situasi masalah. Model-model ini digunakan sebagai

membolehkan partisipan untuk berdebat dan saling bertanya sedemikian rupa sehingga keragaman perspektif dapat terungkapkan. Metodologi Sistem Lunak dilaksanakan secara klasik melalui 7 (tujuh) tahap, sebagai suatu proses (Checkland 1981 dalam berbagai referensi yang relevan).