PENGELOLAAN KAWASAN HUTAN RAWAN KONFLIK : KASUS HUTAN PENELITIAN BENAKAT, SUMATERA SELATAN
Tahap 7. Membuat perubahan untuk memperbaiki keadaan
3.2. Rancangan Aplikasi Metodologi Sistem Lunak
Proses utama penelitian ini menggunakan modus operandi penelitian aksi (McNiff 1992; Chambers 1996; Selener 1997) yang diarahkan untuk mendukung berlangsungnya fase Metodologi Sistem Lunak (Checkland 1981 dalam Simonsen 1994 dan Williams 2005) melalui media fasilitasi reflektif (Groot dan Maarleveld 2000; Selener 1997). Menurut Wilson (1984 dalam Rose 1999) upaya melakukan perubahan dari situasi yang dianggap sebagai masalah adalah
aksi, sementara pembelajaran dari proses untuk memperoleh perubahan itu merupakan penelitian.
yang dianggap rawan konflik, sehingga proses penelitian diawali dengan mengobservasi atau memahami situasi masalah, merefleksi pemahaman situasi masalah melalui pemodelan sistem, menetapkan rencana aksi, hingga tercapainya aksi (Gambar 3). Aplikasi tahapan Metodologi Sistem Lunak dari observasi hingga tercapainya aksi tetap efektif dalam menjelaskan pemecahan masalah-masalah rumit (Wiggins 1988 dalam Lea et al. 1998; Dymond 1996; Lea et al. 1998). Luckett et al. (2001) juga menggunakan tahapan seperti ini dalam merancang sebuah sistem pengelolaan bagi organisasi pengembangan masyarakat di Afrika Selatan dan menyebutnya sebagai fase intervensi.
Dunia nyata Pemikiran sistem
Gambar 3 Tahapan penelitian dalam kerangkakerja Metodologi Sistem Lunak (1a sampai 7).
Intervensi merupakan basis penelitian aksi (Midgley 2003), dimana aksi peneliti (agen) pada tahap ini bertujuan untuk menciptakan proses perubahan. Hakikat tujuan penelitian tidak tercapai apabila tidak terjadi langkah-langkah pengelolaan bagi Blok Agroforestri.
Tahapan observasi diawali dengan aktivitas penentuan stakeholder dan pendefinisian isu (sebagaimana disarankan oleh Adelson 1999; Ramírez dan
Observasi Aksi Refleksi Perencanaan 1. Masuki situasi bermasalah 2. Ekspresikan situasi masalah 3. Formulasikan definisi akar dari sistem aksi dengan
tujuan tertentu 4. Bangun model konseptual dari sistem-sistem 5. Bandingkan model dengan dunia nyata 6. Tetapkan perubahan yang layak
dan perlu 7. Lakukan tindakan
untuk memperbaiki situasi 1a. Pra-Observasi
kompleks. Peneliti menyebut tahapan awal ini sebagai pra-observasi.
3.2.1. Pra-observasi (tahap 1a)
Tahap ini berkaitan dengan upaya untuk mendorong para pihak bersedia bertemu dalam satu forum agar dialog tatap muka dapat dimulai. Menetapkan masalah mensyaratkan identifikasi para pihak dan saling menyadari atas isu-isu bersama. Wawancara kelompok (focus group interviews-FGIs) (Brits dan Plessis 2007; Mikkelsen 2005) yang dilakukan pada setiap kelompok para pihak merupakan alat utama dalam tahap ini.
Para pihak (stakeholders) didefinisikan oleh Freeman (1984 dalam Ramirez 1999; Elias dan Cavana tt) sebagai setiap kelompok atau individu yang dapat memengaruhi atau dipengaruhi pencapaian tujuan bersama. Namun, menurut Ramirez (1999), dalam konteks pengelolaan sumberdaya alam, definisi Rolling dan Wagemakers (1998) lebih mengena, yakni kelompok atau individu yang menggunakan dan mengelola sumberdaya alam. Oleh karena itu, dalam penelitian ini para pihak utama adalah mereka yang berasal dari Balai Penelitian Kehutanan Palembang (pengelola), Desa Benakat Minyak (pemanfaat), dan Desa Semangus (pemanfaat).
Wawancara kelompok fokus dilakukan pada tanggal 30 Juli 2007 terhadap pihak Balai Penelitian kehutanan Palembang (dihadiri 26 orang peserta), tanggal 2 Agustus 2007 terhadap pemanfaat lahan Blok Agroforestri dari Desa Benakat Minyak (dihadiri 19 orang peserta), dan tanggal 4 Agustus 2007 terhadap masyarakat Desa Semangus (dihadiri 25 orang peserta). Masing-masing kelompok diajukan pertanyaan yang sama, yaitu : (1) Apa yang anda cita-citakan, harapkan, impikan, atau inginkan dari kawasan Blok Agroforestri; (2) Apa yang (dapat) menjadi penghambat pencapaian cita-cita, impian dan keinginan anda itu. Wawancara kelompok fokus dijalankan melalui strategi fasilitasi minimal dimana peneliti bertindak sebagai fasilitator pertemuan agar masing-masing kelompok dapat merumuskan jawaban kelompoknya atas pertanyaan yang diajukan, namun fasilitator tidak terlibat dalam proses menemukan jawaban tersebut. Selain itu, setiap kelompok diminta untuk memilih individu-individu sebagai wakil kelompoknya dalam proses pelaksanaan penelitian lanjutan. Peneliti membantu cara pemilihan wakil kelompok berdasarkan kriteria ―who really counts‖ yang dikembangkan oleh Mitchell et al. (1997 dalam Magness 2007), yaitu kekuatan (power), kepentingan (urgency), dan keabsahan
sumberdaya. Kepentingan berarti terdapat ―sesuatu‖ yang harus menjadi perhatian. Keabsahan merujuk kepada perilaku yang secara sosial diterima dan diharapkan. Individu yang terpilih diharapkan paling tidak memiliki 2 dari 3 kriteria tersebut. Berdasarkan kerangka identifikasi “who really counts” ini pula masing-masing kelompok menunjuk pihak lain di luar para pihak utama sebagai para pihak sekunder. Individu yang terpilih disebut sebagai aktor (who own the problems). Mereka adalah subjek utama dalam proses penelitian aksi ini.
Penetapan masalah dilengkapi dengan pengumpulan informasi mengenai sejarah dan situasi terkini pemanfaatan areal Blok Agroforestri, melalui pengumpulan data sekunder, wawancara rumah tangga dan observasi lapangan partisipatif. Kegiatan wawancara rumah tangga dibantu aktor-aktor lokal guna memudahkan penentuan responden dan proses wawancara. Pra-observasi dilaksanakan oleh peneliti dengan cara tinggal di Desa Benakat Minyak dan Semangus selama beberapa waktu.
3.2.2. Observasi, refleksi, perencanaan, aksi (Tahap 1 s.d. 7 dalam MSL)
Hasil dari proses pra-observasi dijadikan pijakan untuk memulai tahapan Metodologi Sistem Lunak melalui forum lokakarya (search conference). Lokakarya dilaksanakan selama 2 hari, tanggal 14 sampai dengan 15 November 2007 bertempat di Wisma Mawar Pertamina Pendopo, Kecamatan Talang Ubi Muara Enim.
Lokakarya multipihak diikuti oleh 18 orang aktor sebagai wakil dari para pihak yang dianggap berkepentingan dengan Blok Agroforestri Hutan Penelitian Benakat. Delapan belas orang tersebut terpilih atas kriteria ―who really count‖ yang ditetapkan masing-masing pihak.
Lokakarya merupakan proses berlanjut dari tahapan pra-observasi, dimana peneliti berperan sebagai fasilitator reflektif (Groot dan Maarleveld 2000). Ini memungkinkan terjadinya komunikasi efektif antaraktor untuk saling menerima rancangan proses penelitian. Proses kegiatan dalam dua hari lokakarya merupakan adaptasi tahapan Metodologi Sistem Lunak (Tabel 2).
Kegiatan Waktu
Pembukaan, Doa, Perkenalan, Kontrak Belajar Hari 1
Pemahaman situasi masalah (Tahap 1 dan 2) Hari 1
Identifikasi solusi atas isu (Tahap 3) Hari 1
Analisis sistem pengelolaan Blok Agroforestri (Tahap 4) Hari 1 Diskusi tentang perbedaan antara model konseptual dengan
faktual (Tahap 5) Hari 2
Perubahan apa yang kita inginkan (Tahap – 6) Hari 2
Skenario aktivitas untuk mencapai perubahan (Tahap 6) Hari 2 Peran masing-masing aktor (pihak) dalam skenario (Tahap 6) Hari 2
Penutupan Hari 2
Implementasi aksi untuk memperbaiki situasi masalah merupakan tahap akhir dari Metodologi Sistem Lunak (tahap 7). Pada tahap ini, peneliti tidak terlibat secara langsung dalam aksi yang dilaksanakan para pihak karena fokus penelitian berada pada fase intervensi. Pada bulan ke-6 setelah ditetapkannya rencana aksi, peneliti mendokumentasikan apakah terjadi langkah-langkah pengelolaan bagi Blok Agroforestri. Pelaksanaan kegiatan yang sesuai dengan rencana yang dibuat dalam lokakarya menjadi indikator tercapainya tujuan penelitian.