• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGELOLAAN KAWASAN HUTAN RAWAN KONFLIK : KASUS HUTAN PENELITIAN BENAKAT, SUMATERA SELATAN

Tahap 7. Membuat perubahan untuk memperbaiki keadaan

4.3. Pola Pemanfaatan Lahan oleh Masyarakat

Kebakaran hutan yang terjadi pada tahun 1994 dan 1997 memusnahkan sebagian besar tanaman program penelitian agroforestri Proyek ATA-186. Sejak itu, masyarakat yang tinggal di Dusun Tumpangsari dan Desa Benakat Minyak mulai memanfaatkan lahan yang telah menjadi semak belukar menjadi areal usahatani. Pola tradisional peladangan berpindah kembali dipraktikkan di kawasan ini.

Pada mulanya, sebagian kecil masyarakat hanya melakukan pengusahaan tanaman semusim saja selama dua tahun, kemudian mencari lahan baru. Setelah beberapa orang di antara mereka dianggap berhasil menanami bekas

5

Menurut Blaikie (1985) dalam Peluso (1992), kemerosotan mutu tanah dan kemiskinan pedesaan kawasan hutan di banyak negara berawal, atau menjadi parah, sebagai akibat dari hasrat pemerintah kolonial atau pemerintah masa kini untuk menguasai tanah, hasil hutan yang tumbuh di sana dan tenaga kerja yang ada untuk mengolahnya.

lateks ini diikuti oleh peladang lainnya dan kini menjadi pola umum (Gambar 7).

Gambar 7 Pola umum pengusahaan lahan oleh masyarakat di Blok Agroforestri Hutan Penelitian Benakat sejak tahun 1994 hingga sekarang.

Usahatani tanaman semusim umumnya hanya dilakukan satu kali dalam setahun (Gambar 8). Selain untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, hasil panen tanaman semusim dibawa petani ke pasar mingguan (setiap hari kamis) yang ada di Desa Benakat Minyak. Namun hasil ladang ini dianggap tidak mencukupi pemenuhan kebutuhan ekonomi rumah tangga. Oleh karena itu, sebagian besar pemanfaat Blok Agroforestri bekerja pula sebagai buruh harian hutan tanaman industri PT. MHP, sebagai sumber penghasilan tunai (cash income) keluarganya. Pekerjaan sebagai buruh pembangunan hutan tanaman telah lama dilakoni oleh sebagian besar masyarakat yang tinggal di sekitar Kawasan Hutan Benakat.

6

Karet telah dibudidayakan secara tradisional oleh masyarakat di luar kawasan Hutan Penelitian Benakat, tetapi tidak pernah menjadi komoditas Proyek ATA-186 atau Dinas Kehutanan setempat, sehingga dikesankan masyarakat sebagai tanaman terlarang untuk kawasan hutan.

Areal terpilih ditandai sebagai calon ladang

Pembukaan lahan dengan cara tebang,

tebas, dan bakar Penanaman dengan tanaman

semusim; padi darat, kacang tanah, sayur mayur, tomat kecil,

cabe, dll

Jenis karet ditanam pada awal tahun

kedua

Jika karet tumbuh dengan baik, dibuat surat keterangan kepemilikan

kebun

a

b

Keterangan:

a : Jika tak memungkinkan menanam karet, kembali mencari areal ladang baru

b : Tanaman karet dibiarkan tanpa perawatan, kembali

mencari areal lainnya ==> : Gradasi pengusahaan lahan semakin menguatkan

hutan tanaman adalah jenis pekerjaan yang telah akrab dengan mereka sejak era Proyek Reboisasi pada tahun 1970-an. Upah sebagai buruh dianggap tidak bisa mengubah nasib keluarga mereka dan telah menciptakan ketergantungan terhadap pihak lain.

Pembudidayaan karet di areal kawasan hutan, termasuk Blok Agroforestri (Gambar 9) dianggap masyarakat sebagai upaya untuk memperbaiki nasib keluarga dan keluar dari garis kemiskinan. Ini didorong pula oleh keinginan untuk mencapai kemewahan gaya hidup yang biasa diperlihatkan oleh karyawan beberapa perusahaan maupun aparat pemerintah. Pernyataan seperti berikut ini menunjukkan besarnya keinginan mereka untuk memperbaiki kesejahteraannya:

Kami ini galak jugo hidup senang macem kamu-kamu ini. Kalu pacak anak cucung kami jadi sarjana jugo, idak lagi jadi kuli perusahaan. Cuman tanah hutan inilah harapan kami, dak katik yang lainnyo lagi mak mano.

Selain sebagai penanda penguasaan lahan, tanaman karet mempunyai nilai tawar yang cukup baik. Dalam kasus ganti rugi tanam tumbuh akibat aktivitas eksplorasi dan eksploitasi minyak bumi yang dilakukan oleh Pertamina, petani karet akan memperoleh nilai dan posisi tawar yang lebih dibanding jika ia menanam jenis lain. Ini menjadi insentif bagi setiap petani ladang untuk menanam karet di setiap areal yang ia usahakan.

Aktivitas memelihara dan menanam karet kini telah menjadi bagian dari keseharian petani pemanfaat Blok Agroforestri (Tabel 4). Curahan tenaga kerja Gambar 8 Pemanfaatan areal kawasan hutan

untuk pertanian tanaman semusim (Foto: Winarno 2007)

Gambar 9 Hamparan kebun karet

masyarakat di Blok Agroforestri (Foto: Winarno 2007)

kalender musim aktivitas masyarakat. Saat ini, sebagian besar petani karet pemanfaat Blok Agroforestri membudidayakan jenis karet lokal7, karena merasa tidak memiliki kemampuan untuk membeli bibit karet unggul. Pembudidayaan karet lokal merupakan tradisi masyarakat Sumatera Selatan dan dicirikan dengan luasnya belukar karet di wilayah pedesaan yang dekat dengan hutan (Gouyon et al., 1993). Seiring dengan perubahan waktu dan pergeseran tingkat kesejahteraan, pembudidayaan karet unggul juga mulai menjadi tradisi masyarakat.

Beberapa orang petani yang mempunyai modal yang cukup telah menaman jenis karet unggul di Blok Agroforestri. Penanaman karet unggul biasanya selalu dilanjutkan dengan perawatan yang intensif, berupa penebasan jenis tumbuhan lain yang dianggap gulma, sehingga akan membentuk tegakan murni pohon karet.

Umur tanaman karet di areal Blok Agroforestri cukup beragam dan saat ini masih didominasi tanaman muda yang belum siap untuk disadap. Tanaman karet lokal biasanya disadap setelah berumur 8 sampai 10 tahun, sementara karet unggul mulai menghasilkan getah pada umur 5 sampai 6 tahun. Karenanya, pada saat ini sebagian besar masyarakat pemanfaat Blok Agroforestri masih mengandalkan pekerjaan sebagai buruh HTI sebagai sumber nafkah keluarga. Namun mereka menaruh harapan besar terhadap kebun karet, karena beberapa orang petani khususnya dari Desa Benakat Minyak telah menikmati hasil penjualan yang dianggap cukup memuaskan.

Hasil penelitian Wardhana et al. (2006) terhadap beberapa desa sekitar kawasan konsesi PT. MHP menunjukkan bahwa pendapatan dari getah karet berkontribusi rata-rata 49% dari total penghasilan rumah tangga. Selain itu, terungkap pula 77% rumah tangga di desa-desa penelitian memperoleh pendapatan dari aktivitas usahatani kebun karet. Menurut penelitian ini, terdapat korelasi kuat antara pendapatan dan kepemilikan kebun karet. Rumah tangga yang tergolong paling miskin tidak memiliki kebun karet sama sekali, mereka biasanya hanya berprofesi sebagai buruh harian. Sementara rumah tangga kaya merupakan pemilik kebun karet yang luas.

7

Karet lokal adalah sebutan umum masyarakat Sumatera yang mengacu pada jenis karet yang ditumbuhkan dari bibit yang diperoleh secara alami; biasanya cabutan anakan alam pohon karet. Karet unggul merujuk kepada jenis pohon karet yang diperbanyak melalui teknik-teknik pemuliaan yang disediakan (diperjualbelikan) oleh badan usaha atau perorangan tertentu.

Bulan Kegiatan utama sektor pertanian Januari

 Menanam padi sawah (tadah hujan)

 Membersihkan gulma (merumput) di lahan padi darat

 Menyadap getah pohon karet

Februari

 Membersihkan gulma (merumput) di lahan padi lahan kering

 Aplikasi pupuk dan pestisida untuk padi sawah

 Menyadap getah pohon karet Maret Menyadap getah pohon karet Panen padi lahan kering April Menyadap getah pohon karet Panen padi sawah

M e i

 Menyadap getah pohon karet

 Masa istirahat/bera lahan padi lahan kering

 Pengolahan lahan padi sawah Juni Menyadap getah pohon karet Pemeliharaan padi sawah

Juli  Penyiapan lahan padi lahan kering dengan cara tebas bakar Agustus Penyiapan lahan padi lahan kering dengan cara tebas bakar Panen padi sawah September  Pembersihan lahan padi lahan kering / manduk

Oktober Awal masa penanaman padi lahan kering Menyadap getah pohon karet

Nopember

 Penanaman padi lahan kering

 Pemeliharan lahan padi lahan kering; membersihkan gulma

 Menyadap getah pohon karet

Desember Pemeliharan lahan padi lahan kering; membersihkan gulma

 Menyadap getah pohon karet Sumber : Martin dan Winarno (2005)

Pada saat penelitian ini berlangsung, harga getah karet pada tingkat pedagang pengumpul berkisar antara Rp. 9000,- sampai dengan Rp. 10.000,- per kilogram. Berdasarkan pengalaman petani di sekitar Hutan Penelitian Benakat, 1 (satu) hektar (ha) karet lokal mampu menghasilkan getah sebanyak rata-rata 35 kilogram (kg) setiap (lima) hari atau 140 kg dalam sebulan. Ini berarti seorang petani karet lokal akan memperoleh pendapatan kurang lebih Rp. 1.400.000 setiap bulannya. Lain halnya dengan kebun karet unggul, produktivitas rata-rata getah karetnya mencapai rata-rata 100 kg per 5 hari, atau 400 kg setiap bulannya. Sehingga pendapatan pemilik 1 (satu) ha kebun karet unggul saat ini

lokal maupun unggul akan menurun produktivitasnya pada bulan-bulan kering, seperti Juli, Agustus, dan September. Produktivitas getah karet pada bulan-bulan itu hanya mencapai seperempat sampai setengah jumlah produksi pada bulan normal.

Harga getah karet yang dianggap cukup memuaskan dalam tiga tahun terakhir memicu makin tingginya keinginan masyarakat untuk memiliki kebun karet, terutama dari jenis karet unggul. Ini mendorong penguatan perjuangan masyarakat untuk memperoleh pengakuan atas lahan kawasan hutan yang telah mereka tanami pohon karet. Kepemilikan kebun karet dianggap sebagai cara terbaik untuk memperbaiki masa depan keluarga.

Perubahan situasi sosial ekonomi akibat mulai banyaknya masyarakat yang menjadi petani karet cukup terasa di Desa Benakat Minyak. Kendaraan roda dua dan empat produksi baru saat ini telah terparkir di beberapa rumah warga. Bangunan rumah permanen dan aksesorisnya cukup menyemarakkan desa yang sepuluh tahun yang lalu masih dianggap perkampungan kumuh dan sangat tertinggal ini.

Berbeda dengan pemanfaat Blok Agroforestri asal Desa Benakat Minyak, pemanfaat asal Desa Semangus belum merasakan perubahan berarti kondisi kesejahteraannya. Menurut mereka, ini disebabkan kepemilikan kebun karetnya lebih sedikit dibanding warga Desa Benakat Minyak (Tabel 5). Selain itu, pemanfaat asal Desa Semangus masih belum banyak yang mengusahakan karet unggul. Pemanfaat asal Desa Semangus mulai mencoba menanam karet setelah makin meluasnya areal kebun karet masyarakat Desa Benakat Minyak dalam areal Blok Agroforestri.

Hasil observasi mengungkapkan pula bahwa terdapat kecenderungan penguasaan kebun karet oleh beberapa orang saja. Sejak tiga tahun terakhir, transaksi jual beli kebun karet cukup sering dilakukan. Pembeli tidak hanya petani lain yang telah menikmati hasil karet, tetapi juga dari masyarakat yang berprofesi bukan petani (pedagang atau kontraktor).

Hutan Penelitian Benakat

Peubah Desa asal pemanfaat

Benakat Minyak Semangus

Jumlah pemanfaat yang menanam karet 27 orang (kk) 26 orang (kk)

Luas total kebun karet 108,5 ha 55 ha

Rata-rata luas penguasaan setiap kk 4,02 ha 2.12 ha

Luas maksimal kebun karet kk 16 ha 14,5 ha

Luas minimal kebun karet kk 1 ha 1 ha

Modus luas kebun karet kk 2 ha 1 ha

Jumlah kk yang menguasai > 5 ha 8 kk 1 kk

Sumber: Data primer hasil wawancara rumah tangga, diolah.

4.4. Intervensi melalui aplikasi Metodologi Sistem Lunak