• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tingkat adopsi penelitian

4.7. Implikasi Kebijakan

Konflik dalam pengelolaan sumberdaya kawasan hutan merupakan fakta tidak terhindarkan. Pembiaran atas buruknya kinerja fungsi kawasan hutan yang dianggap rawan untuk terjadi konflik dengan masyarakat lokal merupakan kerugian negara yang masih jarang diperhitungkan. Pengelola lazimnya mengetahui keruwetan situasi dan kondisi kawasan hutan yang dimandatkan kepadanya (sebagai hasil observasi masalah). Ironisnya, keruwetan tersebut

manajemen yang adaptif. Sehingga, seringkali rencana tindakan manajemen harus diperbaharui setiap tahun untuk mengikuti dinamika sosial politik. Implikasinya, identifikasi masalah menjadi program rutin lembaga-lembaga pemerintah yang dipercaya mengelola kawasan-kawasan hutan

Hasil identifikasi masalah (observasi) terhadap situasi dan kondisi lapangan semestinya dilanjutkan dengan tahap refleksi untuk mengevaluasi taraf kebenaran atas persepsi pemerintah sebagai pemegang mandat pengelolaan kawasan hutan maupun masyarakat lokal. Analisis sistem dan pemodelan kualitatif yang berorientasi aksi sebagaimana dicontohkan dalam penelitian ini, dapat digunakan untuk merefleksi hasil-hasil observasi masalah. Refleksi akan membawa pencapaian konsep perencanaan aksi (action planning). Konsep perencanaan seperti ini menjadi lebih adaptif, dalam arti akan mampu menyesuaikan dengan perubahan yang terjadi. Pengelola-pengelola kawasan hutan tidak perlu setiap tahun melakukan observasi masalah, sehingga terkesan melakukan pemborosan dan tidak berani bertindak apapun. Setiap tindakan manajemen diobservasi kembali manfaat dan dampaknya, kemudian secara iteratif berlanjut lagi pada proses pembelajaran berikutnya.

Intervensi terhadap situasi masalah yang rumit tidak harus melibatkan pihak luar. Fasilitasi reflektif dalam penelitian ini terbukti mampu memecahkan kebekuan komunikasi antarpihak yang berseberangan perspektif dan kepentingan. Pihak pengelola kawasan hutan ―tidak terkelola‖ seharusnya dapat memanfaatkan stafnya sendiri untuk melakukan intervensi melalui fasilitasi. Pemerintah harus mulai bergeser dari cara rutin berpikir yang menganggap dirinya sebagai pelaksana kegiatan saja, menjadi fasilitator proses manajemen bagi kawasan hutannya.

Fasilitator reflektif dapat diperankan oleh semua aktor dari pemerintah maupun masyarakat lokal. Hasil penelitian Kolfschoten et al. (2007) menunjukkan bahwa kinerja dan penggunaan informasi oleh fasilitator baru tidak sangat berbeda dengan fasilitator pada tingkat ahli, namun mereka (fasilitator baru) kurang fleksibel karena pengalamannya masih terbatas. Ini berarti, pihak pengelola kawasan hutan tidak perlu repot mengundang atau menunggu datangnya fasilitator handal untuk memulai intervensi, tetapi cukup memanfaatkan orang-orang mereka sendiri.

5.1. Kesimpulan

a. Prinsip-prinsip Metodologi Sistem Lunak yang dijalankan melalui strategi fasilitasi reflektif mampu mengubah suasana konflik yang disebabkan oleh perbedaan perspektif dan kepentingan, menjadi media pembelajaran sosial saling memahami, sehingga menghasilkan langkah pengelolaan bagi Blok Agroforestry Hutan Penelitian Benakat yang semula ―tidak terkelola‖.

b. Fase intervensi dalam tahapan Metodologi Sistem Lunak ini tidak secara signifikan mengubah sikap para pihak terhadap preferensi tata guna lahan. Ini berarti potensi konflik dalam masa depan tetap ada.

5.2. Saran

a. Model konseptual sebagai representasi hubungan beragam aktivitas bertujuan dalam masa depan dapat dijadikan pedoman interaksi para pihak pada saat melaksanakan aksi menuju perubahan situasi masalah. Resolusi konflik dapat berwujud memperbaiki model konseptual yang ada sebagai refleksi sistem aktivitas yang lebih layak dan diterima.

b. Metodologi Sistem Lunak dapat dijadikan alternatif pendekatan untuk mengintervensi kawasan-kawasan hutan yang dianggap rawan konflik di Indonesia. Aplikasi metodologi ini dalam konteks pengelolaan kawasan hutan yang lebih kompleks (isu lebih luas, para pihak lebih banyak) sebaiknya dikombinasikan dengan metodologi lainnya (multi metodologi).

Adelson B. 1999. Developing strategic alliances: A framework for collaborative negotiation in design. Research in Engineering Design, 11:133-144.

Asanga CA. 2005. Memfasilitasi kemitraan yang layak dalam pengelolaan hutan komunitas di Kamerun: Kasus kawasan hutan pegunungan Kilum-Ijim. Di dalam: Wollenberg E, Edmunds D, Buck L, Fox J, Brodt S, editor. Pembelajaran Sosial dalam Pengelolaan Hutan Komunitas. Bogor: Pustaka Latin. hlm 29-60.

Barron P, Kaiser K, Pradhan P. 2004. Local conflict in Indonesia. Measuring incidence and identifying patterns. World Bank Policy Research Working Paper 3384, August 2004.

Baskerville RL. 1999. Investigating information system with action research. Communications of AIS. Volume 2, Article 19.

Bervall-Kareborn B, Mirijamdotter A, and Basden A. 2003. Basic principles of SSM modelling: An examination of CATWOE from a soft perspective. Systemic Practice and Action Research, Vol. 17. No.2: 55-73.

Braithwaite J, Hindle D, Iedema R, Westbrook JI. 2002. Introducing soft systems methodology plus (SSM+): Why we need it and what it can contribute. Australian Health Review Vol. 25 No. 2.

Braver T, Edwards V, Phan AT. 2007. The gambler, the carrots, and the cook: A critical evaluation of investment potential in the Viatnamese software industry. Asia Pacific Business Review Vol 13 (1):41-58

Brenton K. 2007. Using soft systems methodology to examine communication difficulties. Mental Health Practice Vol 10 (5) : 12-16

Brits H, Plessis L du. 2007. Application of focus group interviews for quality management: An action research project. Syst Pract Act Res 20:117-126. Bunch MJ. 2003. Soft systems methodology and the ecosystem approach: A

system study of the cooum river and environs in Chennai, India. Enviromental Management Vol. 31, No. 2, pp. 182-197.

Chambers R. 1996. Memahami Desa secara Partisipatif. Sukoco, penerjemah; Nugroho PA, penyunting. Yogyakarta: Kanisius. Terjemahan dari: Rural Appraisal: Rapid, Rilex & Participatory.

Champion D, Stowell FA (2003). Validating action research field studies: PEArL. Syst Pract Act Res 16(1):21-36.

Champion D. 2007. Managing action research: the PEArL framework. Syst Pract Act Res. In Press.

differently. London: Demos.

Chilvers A. 2000. Critical issues in the use of soft systems methodology-a case study in the long-term management of digital data objects. Journal of Librarianship and Information Science 32 (4): 167 – 177.

Cox DN, Anderson AS, Lean MEJ, Mela DJ. 1997. UK consumer attitudes, beliefs and barrier to increasing fruit and vegetables consumption. Public Health Nutrition 1 (1) : 61-68.

Daniels S dan Walker G. 1997. Rethinking public participation in natural resource management: concepts from pluralism and five emerging approaches. Paper presented at the FAO Workshop on Pluralism and Sustainable Forestry and Rural Development, 9 – 12 Dec 1997, Rome, Italy.

Davis LS, Johnson KN, Bettinger PS, Howard TE. 2001. Forest Management; To Sustain Ecological, Economic, and Social Values: Fourth Edition. New York: McGraw-Hill.

Direktorat Jenderal Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan Departemen Kehutanan. 1988. Laporan Pengamatan dan Uji Coba Pengembangan Teknologi Reboisasi.

Dymond G. 1996. The evaluation of information systems: a protocol for assembling information auditing packages. International Journal of Information Management, Vol. 16 (5) : 353 – 368.

Elias A dan Cavana RY. tanpa tahun (tt). Stakeholder analysis for systems thinking and modelling. [24 Januari 2008]

Engel A, Korf B. 2005. Negotiation and Mediation Techniques for Natural Resource Management. Rome: Food and Agriculture Organization of United Nations.

Eriyatno. 2003. Ilmu Sistem: Meningkatkan Mutu dan Efektivitas Manajemen. Bogor: IPB Press.

Eriyatno, Sofyar F. 2007. Riset Kebijakan: Metode Penelitian untuk Pascasarjana. Bogor: IPB Press.

Fatmawati DA. 2004. Studi kasus konflik sosial antara masyarakat di sekitar hutan konservasi dengan pemegang HPHTI PT. Musi Hutan Persada (Studi kasus di Hutan Konservasi Supporting II Benakat areal HPHTI PT. Musi Hutan Persada Sumatera Selatan) [Skripsi]. Bogor: Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.

Fisher S, Abdi DI, Ludin J, Smith R, Williams S. 2001. Mengelola Konflik: Keterampilan dan Strategi untuk Bertindak. Kartikasari SN, Lapilatu MD, Maharani R, Rini DN, penerjemah. Jakarta: The British Council.

Participative Inquiry and Practice. London: Sage Publication/

Fuad FH, Maskanah S. 2000. Inovasi Penyelesaian Sengketa Pengelolaan Sumber Daya Hutan. Bogor: Pustaka Latin.

Golar. 2007. Strategi adaptasi masyarakat adat Toro; Kajian kelembagaan lokal dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya hutan di Taman Nasional Lore Lindu [Disertasi]. Bogor: Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.

Gouyon A, de Foresta H and Levang P. 1993. Does ‗Junggle Rubber‘ deserve its name? An analysis of rubber agroforestry system in Southeast Asia. Agroforestry Systems 22:181-206.

Groot A, Maarleveld M. 2000. Demystifying Facilitation in Participatory Development. Gatekeeper Series no.89. London: IIED.

Haklay M. 1999. Soft systems methodology analysis for scoping in environmental impact statement in Israel. CASA University College London. http://www.casa.ucl.ac.uk/publications/workingPaperDetail.asp?ID=13 [27 Pebruari 2007].

Hemmati M. 2002. Multi-stakeholder Processes for Governance and Sustainability: Beyond Deadlock and Conflict. London: Earthscan Publications Ltd.

Hendricks W. 2004. Bagaimana Mengelola Konflik. Arif Santoso, penerjemah:. Jakarta: PT. Bumi Aksara. Terjemahan dari : How to Manage Conflict. Holst M, Nidhall L. 2001. Soft systems methodology and organizational

informatics - a successful partnership [Master Thesis]. Luleå Tekniska Universitet. http://epubl.luth.se/1404-5508/2001/060/index-en [27 Pebruari 2007].

Holwell S. 2000. Soft systems methodology: Other voices. Systemic Practice and Action Research, Vol. 13, No. 6: 773-797.

Hogan PT, Jaska PV, Raja MK. 2003. Combining soft systems methodology techniques and data envelopment analysis in an exploratory analysis of the use of technology consultants for its implementation. International Journal of Computers, Systems, and Signals. Vol 4, No 1.

Jackson MC. 2001. Critical systems thinking and practice. European Journal of Operational Research, 128:233-244.

Jacobs B. 2004. Using soft systems methodology for performance improvement and organisational change in the English National Health Service. Journal of Contingencies and Crisis Management, Vol. 12 (4) : 138 - 149

Kadir A. 2005. Pengembangan sosial forestry di SPUC Borisallo; Analisis sosial ekonomi dan budaya masyarakat. Info Sosial Ekonomi Vol. 5 No. 3.

kehutanan. Di dalam: Resosudarmo IAP, Colfer CJP, penyunting. Ke Mana Harus Melangkah? Masyarakat, Hutan, dan Perumusan Kebijakan di Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. hlm 177-195.

Kartodihardjo H, Jhamtani H, editor. 2006. Politik Lingkungan dan Kekuasaan di Indonesia. Jakarta: Equinox Publishing.

Kolfschoten GL, Hengst-Bruggeling MD, De Vreede GJ. 2007. Issues in the design of facilitated collaboration processes. Group Decision and Negotiation, 16:347-361

Kotiadis K. 2007. Using soft systems methodology to determine the simulation study objectives. Journal of Simulation, Volume 1, Number 3: 215-222. Lea W. Uttley P, and Vasconceloes AC. 1998. Mistakes, misjudgements and

mischances : Using SSM to understand the Hillsborough disaster. International Journal of Information Management, Vol. 18 (5) : 345 – 357. Li Z, Naim M, Wang Y. 2007. Soft systems of reverse logistics battery recycling in

China. International Journal of Logistics, 10(1):57-70.

Lindayanti R. 2003. Gagasan dan kelembagaan dalam kebijakan perhutanan sosial. Di dalam: Ida APR dan Carol JPC, editor. Ke Mana Harus Melangkah? Masyarakat, Hutan, dan Perumusan Kebijakan di Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Luckett S, Ngubane S, and Memela B. 2001. Desigining a management system for rural community development organization using a systemic action research process. Journal of Systemic Practice and Action Research, Vol. 14, No.4 : 517 – 542.

Mingers J. 2000. An idea ahead of its time: The history and development of soft systems methodology. Systemic Practice and Action Research, Vol 13 (6): 733 – 751.

Magness V. 2007. Who are the stakeholder now? An empirical examination of the Mitchell, Agle, and Wood theory of stakeholder salience. Journal of Business Ethics 2007.

Malik I, Wijardjo B, Fauzi N, Royo A. 2003. Menyeimbangkan Kekuatan: Pilihan Strategi Menyelesaikan Konflik atas Sumber Daya Alam. Pellokila YYK, Prasetyohadi, Trisasongko D, penyunting. Jakarta: Yayasan Kemala. Martins H, Borges JG. 2007. Addressing collaborative planning methods and

tools in forest management. Forest Ecology and Management. In Press. Martin E, Winarno B, Silalahi ATL. 2003. Studi aktivitas perladangan masyarakat

di Hutan Penelitian Benakat sebagai potensi pengembangan sosial forestri. Buletin Hutan Tanaman 1 (1):

KHDTK Benakat. Laporan Penelitian. Palembang: Balai Litbang Hutan Tanaman IBB. Tidak dipublikasikan.

McNiff J. 1992. Action Research: Principles and Practice. London: Routledge. Midgley G. 2003. Science as systemic intervention: Some implications of systems

thinking and complexity for the philosophy of science. Systemic Practice and Action Research, Vol. 16, No. 2: 77-97.

Mikkelsen B. 2005. Methods for Development Work and Research. A New Guide for Practitioners, Second Edition. London: Sage Publications.

Mingers J. 2000. An idea ahead of its time: The history and development of soft systems methodology. Systemic Practice and Action Research, Vol. 13, No.16:733-751.

Mitchell B, Setiawan B, Rahmi DH. 2003. Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Molineux J dan Haslett T. 2007. The use of Soft systems methodology to enhance group creativity. Syst Pract Act Res, 20: 477-496.

Nazir M. 2003. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Nidumolu UB, de Bie CAJM, van Keulen H, Skidmore AK, Harmsen K. 2006. Review of land use planning programme through the soft systems methodology. Land Use Policy 23: 187-203.

[OECD] Organisation for Economic Co-operation and Development. 2005. Forests and violent conflict. United States Agency for International Development. http://www.oecd.org/dac/conflict/themes. [2 Maret 2007]. Pala Ö, Vennix JAM and van Mullekom T. 2003. Validity in SSM: neglected

areas. Journal of the Operational Research Society, 54: 706-712.

Patch C, Tapsell L, William PG. 2005. Over-weight consumers‘ salient belief on omega-3-enriched functional foods in Australia‘s Illawara region. Journal of Nutrition Education and Behavior 37 : 83-89

Peluso NL. 1992. Rich Forest, Poor People. Resource Control and Resistance in Java. Berkeley: University California Press.

Pickering P. 2001. Kiat Menangani Konflik. Masri Maris, penerjemah. Jakarta: Erlangga. Terjemahan dari : How to Manage Conflict.

Purnomo H et al. 2003. Collaborative modelling to support forest management: Qualitative systems analysis at Lumut Mountain, Indonesia. Small-scale Forest Economics, Management and Policy 2(2): 259-275.

Purnomo H. 2005. Teori Sistem Komplek, Pemodelan dan Simulasi untuk Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan. Bogor: Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.

Buckles D, editor. Cultivating Peace : Conflict and Collaboration in Natural Resource Management. New York: IDRC/World Bank.

Rámirez R, Fernándes M. 2005. Facilitation of collaborative management: Reflection from practice. Systemic Practice and Action Research, Vol. 18 No.1.

Reed J, Inglis P, Cook G, Clarke C, Cook M. 2007. Specialist nurses for older people: Implications from UK development sites. Journal of Advanced Nursing 58 (2) : 1-9

Rimbawanto A. 2004. Hutan Tanaman Benakat; Sejarah Perkembangan dan Dampaknya bagi Pembangunan HTI di Indonesia (Pelajaran dari Proyek ATA-186). Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Kehutanan.

Rist S, Chiddambaranathan M, Escobar C, Wiesmann U. 2006. ―it was Hard to Come to Mutual Understanding…‖—The Multidimensionality of social learning processes concerned with sustainable natural resource in India, Africa and Latin Amerika. Syst Pract Act Res 19:219-237.

Robbins SP. 2006. Perilaku Organisasi, Edisi kesepuluh. Molan B, penerjemah. Jakarta: Indeks. Terjemahan dari: Organizational Behavior, Tenth Edition. Rose J. 1999. SSM as social science research tools. Systems Research and

Behavioral Science, Volume 14 issue 2: 107-112.

Rustiadi E, Saefulhakim S, Panuju DR. 2007. Perencanaan dan Pengembangan Wilayah. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

Sajogyo. 2002. Keswadayaan dan saling memberdayakan. Makalah disampaikan dalam Seminar Pendalaman Ekonomi Rakyat, Jakarta 18 Juni 2002. http://www.ekonomirakyat.org/edisi_5/artikel_2.htm [12 Oktober 2006]. Sanginga PC, Kamugisha RN, Martin AM. 2006. Conflicts management, social

capital and adoption of agroforestry technologies: empirical findings from the highlands of southwestern Uganda. Agroforestry Systems 69:67-76. Sardjono MA. 2004. Mosaik Sosiologis Kehutanan: Masyarakat Lokal, Politik dan

Kelestarian Sumberdaya. Jogjakarta: Debut Press. Sarwono, SW. 1992. Psikologi Lingkungan. Jakarta: Grasindo.

Schlager, E. dan Ostrom E. 1992. Property rights regimes and natural resources: a conceptual analysis. Land Economics 68: 249-262.

Selener D. 1997. Participatory Action Research and Social Change. New York: Cornell University.

Siegel S. 1992. Statistik Nonparametrik untuk Ilmu-Ilmu Sosial. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

University. www.jespersimonsen.dk/Downloads/SSM-IntroductionJS [27 Pebruari 2007].

Sinn JS. 1998. A comparison of interactive planning and soft systems methodology: Enhancing the complementarist position. Systemic Practice and Action Research, Vol. 11 No. 4: 435-453.

Standa-Gunda W et al. 2003. Participatory modelling to enhance social learning, collective action and mobilization among users of the Mafungautsi Forest, Zimbabwe. Small-scale Forest Economics, Management and Policy, 2(2): 313-326.

Staker RJ. 1999. An application of Checkland‘s soft systems methodology to the development of a military information operations capability for the

Australian Defence Force. www.dsto.defence.gov.au/

corporate/reports/DSTO-TN-0183 [27 Pebruari 2007].

Suarez-Balcazar Y, Redmond L, Kouba J, Hellwig M, Davis R, Martinez L, Jones L. 2007. Introducing systems change in the school: The case of school luncheons and vending machines. American Journal of Community Psychology 39 (3-4): 335 – 345.

Suharti S, Rostiwati T, Mindawati N. 2005. Pola kolaboratif dalam pengelolaan kawasan hutan dengan tujuan khusus (KHDTK) Haurbentes. Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol. II No. 5 : 527-537.

Syahyuti. 2006. 30 Konsep Penting dalam Pembangunan Pedesaan dan Pertanian. Jakarta: Bina Rena Pariwara.

Tadjudin D. 2000. Manajemen Kolaborasi. Bogor: Pustaka Latin.

Wardhana W, Awang SA, Purnomo H, Guizol P, Levang P, Sitorus E. 2006. Collaboration and tenurial problems in plantation forest South Sumatera, Indonesia. Makalah dalam the 11th Biennial Congress of the International Association for the Study of Common Property, Bali, Indonesia, 19-23 June 2006.

Wiati CB. 2005. Apakah setelah desentralisasi hutan penelitian lebih bermanfaat untuk masyarakat lokal. CIFOR Governance Brief No 13.

Williams B. 2005. Soft systems methodology. The Kellogg Foundation. users.actrix.co.nz/bobwill/ssm [4 Pebruari 2007].

Winardi J. 2005. Pemikiran Sistemik dalam Bidang Organisasi dan Manajemen. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Wulan YC, Yasmi Y, Purba C, Wollenberg E. 2004. Analisis konflik sektor kehutanan di Indonesia. Laporan Hasil Penelitian CIFOR-FWI Research Report. Bogor: CIFOR.

Zubair M, Garforth C. 2006. Farm level tree planting in Pakistan: the role of farmers‘ perceptions and attitudes. Agroforestry Systems 66:217-229.

Agroforestry

Hasil Pertemuan warga Desa SEMANGUS-Pemanfaat areal Tumpang Sari, tanggal 04 Agustus 2007 (dihadiri 25 orang warga)

Terhadap Blok Agroforestry (Tumpang Sari), APA YANG KAMI HARAPKAN 1. Kebun karet yang telah ditanami jangan diganggu agar kami bisa hidup

makmur Lahan yang kosong agar ditanami karet

2. Kebun karet yang ada di areal tumpang menjadi kebun yang produktif 3. Menjadi areal tumpang sari kebun karet

4. Kebun karet di areal tumpang sari menjadi sumber kemakmuran bagi anak cucu kami

5. Kebun karet jangan digusur

6. Sebagian areal tumpang sari menjadi kebun buah-buahan 7. Areal tumpang sari menjadi tempat hidup selamanya 8. Jalan yang ada diperbaiki agar mudah transportasi

9. Areal yang kosong agar bisa ditanami padi dan palawija dan karet sebagai sumber kemakmuran

10. Lahan kosong di tumpang sari agar dijadikan kebun karet, durian, dan kopi

APA MASALAH YANG KAMI HADAPI 1. Kurang modal dalam berusaha tani

2. Lahan yang sudah ditebas tidak boleh dibakar 3. Lahan masih numpang

4. Merasa takut berusaha tani di lahan tumpang sari (Takut ditangkap) 5. Tidak punya alternatif lahan lainnya

Hasil Pertemuan warga Desa Benakat Minyak tanggal 05 Agustus 2007 (dihadiri 18 orang warga)

Terhadap Blok Agroforestry (Tumpang Sari), APA YANG KAMI HARAPKAN 1. Ingin hidup tenang dan damai, tidak diusik lagi oleh pihak kehutanan 2. Lahan karet yang telah ada jangan ditanami dengan tanaman lain 3. Kebun karet yang ada menjadi produktif demi kelangsungan hidup. 4. Lahan karet yang dibuka bisa menanggulangi kemiskinan kami dan

anak cucu

5. Lahan karet yang telah dibuka menjadi kebun milik sendiri (hak milik sampai anak cucu).

1. Tidak merasakan ada hak mengelola lahan.

2. Merasa terganggu oleh pihak kehutanan dalam mengolah lahan. 3. Merasa sering ditakut-takuti .

4. Merasa terombang-ambing mengenai status lahan.

5. Tidak punya lahan lain kecuali yang dibuka di areal tumpangsari. 6. Tidak mempunyai modal untuk menjadikan kebun karet produktif.

Hasil pertemuan unsur staf dan pimpinan Balai Penelitian Kehutanan, tanggal 30 Juli 2007 (Dihadiri 26 orang peserta).

Terhadap Blok Agroforestry (Tumpang Sari), APA YANG KAMI HARAPKAN