• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGELOLAAN KAWASAN HUTAN RAWAN KONFLIK : KASUS HUTAN PENELITIAN BENAKAT, SUMATERA SELATAN

Tahap 7. Membuat perubahan untuk memperbaiki keadaan

4.2. Desa-desa pemanfaat lahan Blok Agroforestri 1. Desa Benakat Minyak

Desa Benakat Minyak merupakan pengembangan dari Desa Sungai Baung. Desa yang berpenduduk 387 kk dengan 1.837 jiwa ini ditetapkan secara definitif sejak 1 Agustus 2002, dengan luas administrasi 4.851 ha. Letak desa persis di sebelah timur Blok Agroforestri.

Mayoritas penduduk desa bekerja sebagai petani/peladang dengan pekerjaan sampingan sebagai buruh PT. MHP dan atau buruh eksplorasi minyak (80%), pedagang (10%), kontraktor atau subkontraktor PT. MHP atau Pertamina (5%), PNS dan karyawan PT. MHP (5%). Sebagian besar masyarakat Desa Benakat Minyak (80 %) berasal dari suku Jawa dan hanya sekitar 20 % merupakan penduduk asli dari Marga Benakat.

Perkembangan Desa Benakat Minyak cukup pesat dalam lima tahun terakhir. Selain telah memiliki Sekolah Dasar Negeri dan Sekolah Menengah Pertama Negeri, desa ini telah dilengkapi pula dengan sarana kantor desa permanen, masjid, dan pasar tradisional (Gambar 5). Pesatnya pembangunan desa tidak terlepas dari keberadaan usaha pengeboran minyak yang dilakukan Pertamina dan hutan tanaman industri oleh PT. MHP. Namun aksesibilitas di dalam dan menuju desa masih berupa jalan tanah yang diperkeras (Gambar 6), sehingga sulit dilalui pada saat musim hujan.

Cikal bakal Desa Benakat Minyak adalah Dusun Benakat Minyak yang pada dekade 1980-an dianggap sebagai pemukiman liar, karena kawasan ini dikenal masyarakat sebagai Register 32. Pengesahan pemukiman penduduk menjadi sebuah desa menjadi pertanyaan bagi masyarakat: ‖Mengapa di dalam kawasan hutan dapat ditetapkan menjadi desa?‖. Padahal, syarat mutlak untuk pembentukan desa selain ada masyarakat adalah harus ada wilayah. Legitimasi

2

Menurut Schlager & Ostrom (1992) hak-hak penguasaan sumberdaya terdiri atas hak akses, pemanfaatan, pengelolaan, pembatasan, dan pelepasan. Secara faktual sekumpulan hak-hak tersebut telah dikuasai masyarakat, namun secara hukum aktivitas mereka masih dianggap illegal.

atas tindakan mereka memanfaatkan kawasan hutan untuk keperluan hidup, dimana pada masa lalu hal tersebut dianggap terlarang.

Berdasarkan informasi dari beberapa tokoh masyarakat, pada saat acara peresmian desa, tim terpadu dari Pemerintah Daerah dan DPRD Kabupaten Muara Enim menyatakan bahwa masyarakat diperkenankan memanfaatkan lahan sampai radius 500 meter dari batas luar pemukiman desa untuk kepentingan usahatani. Padahal areal tersebut merupakan konsesi PT. MHP3

dan Blok Agroforestri Hutan Penelitian Benakat.

Sejak menjadi desa definitif, masyarakat Benakat Minyak secara aktif memperjuangkan kepastian penguasaan lahan yang umumnya telah mereka tanami dengan karet. Tawaran PT. Musi Hutan Persada untuk melibatkan masyarakat dalam program perhutanan sosial, Membangun Hutan Bersama Masyarakat (MHBM) dan Mengelola Hutan Rakyat (MHR), mereka tolak. Hal ini disebabkan program MHBM dan MHR dipandang hanya memprioritaskan tanaman Acacia mangium yang tidak sesuai dengan keinginan masyarakat (Suardi Salam, Kepala Desa Benakat Minyak).

Akibat dari perbedaan keinginan antara masyarakat dengan PT. Musi Hutan Persada, tercatat terjadi beberapa kali kejadian konflik terbuka. Pada saat penelitian ini dilaksanakan misalnya, terjadi demonstrasi massa yang menuntut pembebasan lahan-lahan yang telah dikuasai masyarakat (Harian Sumatera

3

Pada tahun 2002, masyarakat mengambil alih areal pascapanen Acacia mangium di sekitar Desa Benakat Minyak dan menjadikannya sebagai areal usahatani, khususnya karet. Ini menjadi pemicu konflik terbuka antara PT. MHP dengan masyarakat hingga sekarang.

Gambar 5 Kondisi jalan dan pemukiman

masyarakat Desa Benakat

Minyak (Foto: Martin 2007)

Gambar 6 Pasar tradisional (kalangan) setiap Hari Kamis di Desa Benakat Minyak (Foto: Martin 2007)

akan mempertahankan tanaman karet di areal yang juga menjadi konsesi PT. Musi Hutan Persada. Sampai saat ini, harapan terbesar masyarakat adalah diberi kepastian hak kepemilikan lahan (Pernyataan Suardi Salam, Kepala Desa Benakat Minyak pada Seminar Pengelolaan KHDTK Benakat, Januari 2007).

Status kepemilikan lahan merupakan isu sensitif di Desa Benakat Minyak. Isu ini merupakan topik utama kampanye pemilihan kepala desa Bulan Oktober 2007 lalu. Aspirasi pengakuan hak-hak masyarakat atas lahan selalu disampaikan masyarakat dalam pertemuan dengan aparat pemerintah. Selain itu, sebagian masyarakat juga seringkali menunjukkan perlawanannya atas status wilayahnya sebagai kawasan hutan saat bertemu dengan aparat pemerintah sektor kehutanan.

4.2.2. Desa Semangus

Desa Semangus yang dikenal juga sebagai Desa Suban Ulu merupakan desa yang pada awalnya diperuntukkan bagi pemukiman suku terasing4. Kini desa yang dihuni 427 kk (1.593 jiwa) ini berkembang menjadi sebuah desa yang sebagian besar warganya justru berasal dari Suku Jawa (85%). Hanya 15% dari total penduduk merupakan masyarakat asli. Pekerjaan utama masyarakat adalah sebagai petani ladang (95%) dengan pekerjaan sampingan sebagai buruh PT. MHP, sisanya 5% berprofesi sebagai pedagang atau sub-kontraktor pada HTI PT. MHP. Pekerjaan sebagai buruh HTI dilakukan sebagai sumber penghasilan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Desa Semangus lebih terpencil dari Desa Benakat Minyak namun menjadi perlintasan kendaraan operasional Pertamina dan PT. MHP. Desa Semangus terdiri dari beberapa dusun, diantaranya Dusun Tumpangsari yang merupakan pengembangan dari pemukiman yang dibangun oleh Proyek ATA-186. Posisi dusun ini berada di dalam Blok Agroforestri.

Sebagian besar warga Dusun Tumpangsari merupakan mantan peserta program agroforestri Proyek ATA-186 atau anak keturunannya. Meskipun tinggal di dalam kawasan hutan dan menggantungkan kehidupannya terhadap lahan itu, masyarakatnya tetap mengakui bahwa sumberdaya tersebut adalah milik negara dan selayaknya diatur oleh pemerintah (Martin et al., 2003). Namun demikian,

4

Pada tahun 1980-an, pemerintah membuat kebijakan memukimkan (resettlement) suku-suku terasing yang dianggap melakukan peladangan berpindah (Lihat Lindayanti 2003), termasuk Suku Anak Dalam Rawas yang wilayah hidupnya berada di kawasan hutan antara Kabupaten Muara Enim dan Musi Rawas.

masyarakat selalu mempertanyakan mengapa negara tidak adil dalam mengalokasikan sumberdaya hutan. Penguasaan semua kawasan hutan sekitar desa oleh PT. MHP dianggap masyarakat sebagai penyebab kemiskinan mereka saat ini5.

Sebagian besar masyarakat Desa Semangus tidak menamatkan jenjang Sekolah Dasar (SD) atau bahkan tidak bersekolah sama sekali. Meskipun terdapat SD di desa ini, namun penyelenggaraannya terkendala oleh minimnya tenaga guru dan murid yang turut berperan sebagai tenaga kerja bagi keluarganya. Setelah tamat SD atau putus sekolah mereka umumnya menjadi penggembala sapi atau ikut membantu orangtua di ladang.

Menikah pada usia muda adalah fenomena yang lumrah terjadi. Setelah menikah, pasangan muda biasanya membuka ladang sendiri secara berpindah. Hal ini menyebabkan terus meningkatnya kebutuhan terhadap lahan baru untuk praktik perladangan, padahal wilayah di luar desa merupakan konsesi PT. MHP. Mereka memanfaatkan lahan pascatebang PT. MHP atau belukar muda di kawasan hutan yang menjadi areal konservasi PT. MHP. Konflik antara masyarakat Desa Semangus dengan PT. MHP telah cukup lama berlangsung (Fatmawati, 2004).