TAHAP-TAHAP DALAM MASA PEMBINAAN HIDUP RELIGIUS
C. Bidang-Bidang Formatif Di Novisiat 1. Hidup Doa
76
mengatakan bahwa “Tujuan khusus bina lanjut adalah Senantiasa memiliki relasi yang penuh cinta bakti pada Allah dan sesama yang disemangati dan disegarkan oleh kekuatan Allah dalam hidupnya sebagai religius yang bertanggung jawab atas arus keselamatan yang dipercayakan Allah pada kongregasi.”
C. Bidang-Bidang Formatif Di Novisiat 1. Hidup Doa
Hidup doa merupakan dasar dalam tahap pembinaan. Karena melalui hidup doa inilah para calon semakin menjalin relasi yang akrab dengan Tuhan, sehingga dapat menghantar mereka untuk semakin bertumbuh dalam kedewasaan pribadi dan kedalaman iman mereka. Dalam buku Psikologi Hudup Rohani edisi II, Mardi Prasetyo (1992: 334) mengatakan “Doa dapat bermakna bagi pertumbuhan kedewasaan tiap pribadi dalam arti:
a. Mendorong orang untuk benar-benar mencari kehendak Allah yaitu apa yang penting untuk Kerajaan Allah dan bukan orientasi pada nilai-nilai kodrati atau kebutuhan psikologis sesaat.
b. Doa dimotivasi oleh iman, harapan, dan cinta kasih yang secara konkret berupa usaha hidup bersatu dengan Tuhan dan merasa dekat dengan Tuhan dalam tiap perilaku dan tindakan hidup. Ini berarti transendensi diri dan transformasi diri dan bukannya realisasi diri dan sekedar pemenuhan kebutuhan.
c. Membuat pertumbuhan tidak mandeg dan terus-menerus tertuju pada Allah dan membuat diri semakin sempurna.
77
d. Mendatangkan kedamaian sejati, dukungan dan bantuan beserta kekuatan untuk kesaksian hidup.
e. Mengubah pribadi yang berdoa dan menyiapkannya untuk menerima kenyataan dalam hidup.
Dengan demikian dalam Kongregasi FdCC, khususnya dalam tahap pembinaan hidup doa dibagi dalam dua bagian yaitu:
a. Hidup Doa Bersama
Sumber kasih persaudaraan adalah Roh Kristus sendiri yang tinggal di tengah komunitas, dimana Roh ini merupakan buah dari doa hidup bersama. Semangat Roh Kristus inilah yang menghantar para novis untuk semakin bertumbuh dalam Roh Kristus sendiri dalam hidup bersama, sehingga dapat menghantar mereka untuk mampu menerima segala kekurangan, kelemahan, watak, budaya, dan segala latar belakang yang berbeda diantara teman-teman mereka sebagai kekayaan yang unik dalam hidup bersama. Dalam hal ini Darminta (2005: 32-33) mengatakan bahwa “Manusia melalui rohnya dimampukan melihat dan bersentuhan dengan hidup yang abadi dan kudus, yang sedang berproses di dalam jiwa manusia, maka jiwa yang melalui rohnya melalui hidup abadi sebagai masa depan akan membentuk diri menjadi penuh kasih, suka cita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetian, kelemah-lembutan dan penguasaan diri (Gal 5:22-23).”
78
Doa bersama yang dilaksanakan di novisiat FdCC yaitu doa ofisi, kunjungan Sakramen Maha Kudus, Ibadat rekonsiliasi, dan doa Rosario. Doa ofisi dilaksanakan empat kali dalam sehari oleh para novis I dan II yaitu: Ibadat Pagi, Ibadat Siang, Ibadat Sore, Ibadat Penutup. Untuk Kunjungan Sakramen Maha Kudus dilaksanakan setiap hari pada pukul 15.00. Untuk Ibadat Rekonsiliasi dilaksanakan setiap sekali seminggu. Sedangkan doa Rosario dilaksanakan setiap hari sebelum Ibadat Sore.
b. Hidup Doa Pribadi
Doa merupakan dasar dalam membina hidup rohani seseorang. Melalui doa seseorang menjalin suatu relasi yang semakin akrab dan satu dengan Tuhan sendiri. Dalam doa pribadi inilah para novis dilatih untuk menjalin suatu relasi yang semakin mendalam dan semakin berserah dalam tangan Tuhan, sehingga membantu dia sendiri semakin berkembang dalam kedewasaan pribadi dan kedalaman iman. Melalui doa pribadi para novis semakin menghayati nilai-nilai dari doa itu sendiri sehingga mereka dibantu untuk semakin menghayati nilai-nilai dari doa itu sendiri dalam kehidupan mereka sehari-hari. Dalam doa mereka diajar untuk selalu terbuka kepada cinta Allah yang selalu memberi semangat dan kekuatan untuk terus berjuang dalam perjalanan hidup panggilan mereka. Dalam Kons. Kongregasi FdCC (1828: no. 20) dikatakan bahwa “Dalam menjalin suatu hubungan yang erat dengan Dia dan dalam persatuan dengan umat manusia yang menderita, kita terima dengan hati yang teguh dan tenang, kesempatan-kesempatan setiap peristiwa yang
79
tidak mengenakan dalam hidup kita, tanggung jawab pembaktian kita, cobaan dan tantangan yang hadir dalam perjalanan kita.” Semuanya itu kita persatukan bersama Tuhan agar Dia senantiasa setia mendampingi perjalanan hidup panggilan kita.
Dalam tahap ini para novis diwajibkan untuk mencari waktu sendiri, untuk doa pribadinya. Karena melalui waktu khusus inilah dia semakin mencari, menyerahkan, dan mengandalkan Tuhan sendiri dalam perjalanan hidup panggilan yang sedang dia jalani. Melalui doa pribadi ini juga menghantar dia semakin dewasa dalam menerima dan menjalani seluruh peistiwa hidupnya baik dalam suka maupun dalam duka.
2. Hidup Bersama Dalam Komunitas
Komunitas dibangun berdasarkan iman dan cinta kasih, sehingga mampu mengantar setiap anggotanya untuk saling menghormati dan mencintai setiap perbedaan yang ada. Dalam hal ini Panitia Spiritualitas KOPTARI volume 5 (2008: 14) mengatakan bahwa:
Komunitas yang formatif adalah komunitas yang saling mengembangkan, baik antaranggota maupun pimpinan komunitas dengan anggota, dan sebaliknya. Dengan demikian komunitas akan menjadi tanda kehadiran Tuhan, melalui hidup yang dipancarkan sebagai buah penghayatan nilai-nilai hidup religius yang dihayati dalam hidup persaudaraan.”
Persatuan yang mendalam diantara para anggota komunitas menyebabkan mereka merasa “at home” sehingga dalam semangat inilah dapat menghantar para anggota
80
komunitas untuk bersatu baik dalam doa maupun karya yang mereka laksanakan dalam hidup sehari-hari.
Dalam tahap novisiat, para novis dibimbing dan diarahkan untuk mulai mengenal, mengerti dan mengalami makna nilai hidup berkomunitas. Mereka diajak untuk bagaimana menerima satu sama lain dengan penuh cinta, saling menghargai, saling terbuka menerima perbedaan, budaya, suku dan segala latar belakang teman-teman mereka, sehingga mereka semakin kuat dan semakin menghayati panggilan yang telah mereka pilih dan mereka jalani. Dari komunitas kecil inilah mereka dilatih dan dipersiapkan untuk masuk bergabung bersama-sama para suster dalam komunitas Kongregasi FdCC. Dengan demikian nilai-nilai hidup berkomunitas inilah dapat membantu mereka, untuk menjadi kekuatan dalam hidup berkomunitas.
3. Penghayatan Nilai Injil
Berkat bimbingan Roh Kudus dapat menghantar kita untuk semakin menghayati nilai-nilai Injil dalam hidup bakti, yang merupakan tanda kesatuan kita dengan Allah Tritunggal Maha Kudus sendiri dalam tugas perutusan dan pewartaan cinta kasih Tuhan kepada sesama demi membangun Kerajaan Allah. Semangat cinta Tuhan inilah yang menjadi tanda kehadiran Tuhan sendiri yang ikut ambil bagian dalam proses perjalanan hidup bakti kita. Teladan Cinta Tuhan inilah yang menjadi penggerak bagi para hidup bakti melalui penghayatan ketiga kaulnya. Dengan demikian melalui ketiga kaul inilah bukti cinta yang terbesar
81
yang dipersembahkan untuk Kristus oleh para pengikut-pengikutnya. Dalam hal ini VC (1996: no. 20) mengatakan bahwa:
Demikianlah nesehat-nasehat Injili itu pertama-tama karunia Tritunggal Maha Kudus. Hidup bakti mewartakan apa yang oleh Bapa, dengan perantaraan Putera dan dalam Roh, dilaksanakan dalam cinta kasih-Nya, kebaikan-Nya, dan keindahan-Nya. Kenyataannya “status religius juga secara istimewa menampilkan keunggulan Kerajaan Allah melampaui segalanya yang serba duniawi, dan menampakan betapa pentingnya kerajaan itu. Selain itu juga memperlihatkan kepada semua orang keagungan maha besar kekuatan Kristus yang meraja dan daya Roh Kudus yang tak terbatas”.
Dengan demikian para novis diajak untuk mengambil semangat Injil menjadi semangat perutusan dan pewartaan cinta Tuhan sendiri dalam hidup yang mereka jalani sehari-hari. Dengan semangat Injil mereka berani untuk menjadi saksi Tuhan yang penuh gembira dalam menjalani segala tugas dan karya mereka. Mereka diajak pula untuk menjadi tanda kehadiran cinta Tuhan diantara sesama, sehingga mengajak banyak orang semakin mengenal dan mencintai Tuhan.
4. Pengolahan Diri
Pengolahan diri seseorang merupakan suatu proses perkembangan dalam pribadi seseorang, menuju pengenalan dan penerimaan diri yang baik sehingga adanya integralitas antara psikis dan rohaninya dan mampu melihat dan menerima segala kebaikan dan kekurangan dalam dirinya. Dengan adanya pengolahan diri yang baik dapat membantu para formandi untuk bertumbuh secara sehat dalam perkembangan pembinaannya baik dari segi psikis maupun rohaninya.Dalam hal ini buku I TugasPembinaan Demi Mutu Hidup Bakti Mardi Prasetyo (2001: 146)
82
mengatakan bahwa “Tujuan dari pengolahan hidup adalah untuk mengenal diposisi real dari diri anak bina sampai dapat membuat peta perjalanan batin dan disposisi dinamis pembatinan nilai-nilai panggilan.”
Pengolahan diri selama masa pembinaan membantu para formandi mencapai kedewasaan pribadi maupun dalam iman, yang tidak hanya setia kepada Allah tetapi juga setia kepada manusia. Demi perkembangan yang utuh perlu adanya kesadaran dalam diri setiap formandi untuk mampu mengenal, menyadari, dan mengatur diri demi perkembangan yang lebih baik. Kemampuan ini perlu dibina secara terus-menerus, sehingga mereka mampu menjawab tawaran Allah. Melalui pengolahan hidup ini, dapat diketahui taraf kedewasaan setiap pribadi formandi, sehingga para pendamping dapat mengarahkan para formandi ke arah yang lebih jelas dan mendalam yang dapat membantu mereka untuk lebih berkembang secara pribadi yang dewasa dan iman yang mendalam sehingga semakin dewasa dan bertanggung jawab dalam menanggapi panggilannya untuk bergabung bersama Kongregasi FdCC.
5. Hidup Kerasulan
Melalui karya kerasulan para biarawan/biarawati akan semakin mampu menjadi saksi Kristus di tengah masyarakat, yang menjadi pusat dan tujuan segala cinta dan pengabdiannya. Dalam Kons. Kongregasi FdCC (1828: no. 52) dikatakan bahwa “ Kita adalah rasul-rasul setiap saat hidup kita melalui kesaksian dan pewartaan kita melalui pelayanan cinta kasih Injil yang sederhana. Secara khusus kita adalah sebagai rasul.”
83
Dasar hidup kerasulan adalah semangat doa dan cinta kasih terhadap Tuhan dan sesama, yang dinyatakan melalui praktek hidup setiap hari kepada sesama. Jika para biarawan/biarawati tidak menjalin kesatuan yang akrab dengan Kristus sendiri, maka akan sia-sialah segala karya yang dijalani. Tetapi jika berusaha secara terus-menerus untuk semakin bersatu dengan Kristus, maka pelayanan yang dijalankan sungguh menjadi bermakna karena dijiwai oleh Kristus sendiri. Seperti yang dikatakan dalam Injil Yoh 15:5 bahwa “ Barang siapa tinggal dalam Daku, dan Aku dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku, kamu tidak dapat berbuat apa-apa.
Maka dengan demikian dalam tahap novisiat ini, para formandi diajak untuk lebih menjalin relasi yang akrab dengan Tuhan terlebih dahulu, sehingga dari semangat kesatuan inilah mereka semakin didorong oleh semangat Roh Tuhan sendiri, untuk berani menjadi saksi dan pewarta kasih Tuahn bagi sesama, sehingga kasih Tuhan semakin dikenal dan dicintai oleh banyak orang. Mereka diajak untuk mengambil semangat pelayanan dalam misi FdCC sendiri, sehingga mereka semakin mengenal, memahami dan menghayatinya dalam karya pelayanan yang mereka jalani, sabagai bagian dari persembahan hidup panggilan mereka kepada Tuhan, sesama dan Kongregasi FdCC.
84 BAB IV