SELAMA MASA PEMBINAAN DI NOVISIAT
D. Usaha Penanaman Nilai-Nilai Spiritualitas Kongregasi Suster FdCC Dalam Masa Pembinaan Di Novisiat
1. Pedagogi Penanaman Nilai-Nilai Dalam Masa Pembinaan
Pedagogi nilai dalam masa pembinaan merupakan dasar pembentukan pribadi para calon dalam mematangkan panggilan mereka. Dalam hal ini Darminta (2006: 44) mengatakan Pedagogi menunjukan:
Proses kesinambungan dari pendidikan dan pembentukan dalam panggilan, yang mengikuti hukum pertumbuhan dan perkembangan
114
dalam diri manusia serta hukum perubahan (transformasi) dengan masuk ke hidup sosial, atau komunal, dalam arti ke kongregasi religius atau ke kesatuan hidup imamat tertentu. Secara psikologis dan rohani manusia membentuk dirinya dengan jalan pembatinan (internalisasi) dan inkorporasi, dan pada waktu itu juga dia dibentuk oleh lingkungan di mana dia berada dan oleh orang-orang yang diserahi tugas untuk membentuk dan mendidik.
Pendidikan nilai dalam masa pembinaan bagi para novis untuk dapat memproses diri mereka kearah pertumbuhan dan perkembangan menuju kedewasaan dalam iman. Ini berarti mampu menemukan dan menyatukan nilai manusiawi dan nilai kristiani yang memberi arah dan tujuan yang jelas sehingga dapat menghantar pembentukan kualitas hidup panggilan mereka dengan motivasi yang murni dan mampu mengambil keputusan bagi perkembangan hidup panggilan yang semakin matang.
Maka yang terjadi dalam pendidikan di sini bukanlah pendidik menciptakan dan memberikan atau mengajarkan nilai-nilai kepada para novis. Mendidik berarti membantu seseorang untuk dapat menyadari adanya nilai-nilai itu, memahaminya, mengakuinya, menghayatinya dan melaksanakannya dalam kehidupannya sehari-hari, menuju kepada suatu proses pembentukan hati, dimana para novis dapat menghayati dan melaksanakan nilai-nilai tersebut dengan hati, demi perkembangan hidup panggilannya. Dalam hal ini Darminta (1997: 22-23) mengatakan:
Pendidikan sapiensial atau jalur kebijaksanaan merupakan proses pendewasaan orang yang utuh, baik rohani, cara berpikir, merasa dan cara menghendaki serta dalam pengambilan keputusan-keputusan, dalam perspektif tujuan hidup objektif yang ditawarkan dan digariskan. Dari segi karakter, tujuan pendidikan kebijaksanaan ialah memampukan orang
115
untuk membentuk diri terus-menerus dan mampu meningkatkan daya hidup untuk menuju kepada tujuan hidup.
a. Berpusat Pada Pribadi
Pribadi merupakan pusat dan dasar pembentukan dan perkembangan nilai. Oleh karena itu setiap pribadi diharapkan agar mampu berusaha untuk lebih mendalami nilai tersebut demi pembentukan dan perkembangan pribadinya. Tanpa pemahaman, penghayatan, dan proses pelaksanaan nilai yang baik dan mendalam, maka pembentukan dan perkembangan yang terjadi di dalam diri para calon, tidak akan berkembang dengan baik. Maka dalam tahap pembinaan bagi para novis, sangat ditekankan suatu proses yang lebih terfokus dan mendalam tertuju kepada pembentukan dan perkembangan setiap pribadi, melalui seluruh pergulatan, kekawatiran, ketakutan dan kegelisahan serta seluruh pengalaman hidup yang mereka alami baik dalam suka maupun dalam duka. Semuanya membantu mereka untuk terus berproses demi mencapai tujuan hidup mereka. Dalam hal ini Darminta (1997: 26) mengatakan
Yesus menumbuhkan kekuatan hidup yang ada pada manusia, yaitu iman, keyakinan, dan kemerdekaan. Iman, keyakinan, dan kemerdekaan itulah kekkuatan untuk menghayati hidup dengan segala masalah dan tantangan sehari-hari. Betapa pun kecilnya iman, keyakinan, dan kemerdekaan, bagi Yesus itu sudah cukup untuk mendobrak ketakutan, keraguan, dan kecemasan. Itulah sebabnya Yesus berkata kepada para murid, “Sesungguhnya, sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ke sana, maka gunung ini akan pindah dan takan ada yang mustahil bagimu” (Mat 17:20).
116
Dengan demikian pembentukan dan perkembangan pendidikan akan berjalan dengan baik. Segala ketakutan, keraguan, dan kecemasan, mengajak para novis untuk tetap tegar dan kuat dalam menajalani semuanya. Karena adanya kesadaran dari setiap pribadi itu sendiri yang mau berproses dan berubah ke arah yang lebih baik demi perkembangan hidup panggilannya, yang sesuai dengan spiritualitas Kongregasi FdCC, di mana dalam tahap pembinaan ini segala ketakutan, keraguan, dan kecemasan, mereka tetap kuat dan bersatu dengan Yesus Tersalib dalam menapaki hidup panggilan mereka. Dalam hal ini Darminta (1997: 23) mengatakan:
Maka yang menjadi pusat perhatian serta sasaran adalah manusia sebagai pribadi, yang mampu beriman, percaya, dan mempercayakan diri, sebagai kekuatan untuk membangun hidup. Kesederhanaan pendekatan pedagogis Yesus ialah mengembangkan kemampuan menusia untuk membangun relasi yang benar dengan Tuhan dan sesama bahkan alam ciptaan. Nilai-nilai relasional yang benar, sebagai wujud dari kasih, itulah yang dibangkitkan untuk menjadi tatapan dalam membangun hidup “religius” dan iman. Maka yang penting dalam cara Yesus mendidik dan membentuk orang-orang-Nya ialah bukan sejumlah pengetahuan atau ilmu, melainkan terjadi transformasi dalam proses dan cara berpikir dengan hati yang bersikap kritis terhadap kepercayaan-kepercayaan serta ajaran-ajaran yang berlaku.
Dengan demikian iman merupakan dasar pembentukan dan perkembangan dari setiap pribadi para novis. Jika ada kekuatan iman meskipun kecil, membantu para novis untuk keluar dari segala yang menjadi penghalang dalam menjalani hidup panggilan. Seperti yang dikatakan Darminta (1997: 30) bahwa: “Itulah kepribadian yang merdeka dan dewasa, tetap memiliki kekuatan iman dari dalam, dalam gelombang kehidupan (Mat 8:26-27).
117
b. Menumbuhkan, Mengembangkan, dan Mengubah Pola Pikir.
Cara menumbuhkan, mengembangkan dan mengubah pola pikir, merupakan suatu proses yang perlu dibangun secara terus-menerus dalam tahap pembinaan bagi setiap pribadi yang mau berkembang, demi membantu proses pembentukan dan perkembangan yang semakin dewasa dalam berpikir dan bertindak. Dalam tahap pembinaan bagi para novis, perlu ditanamkan cara menumbuhkan dan mengembangkan khususnya dalam cara bersikap, berpikir, bertutur kata, dan bertindak, agar dengan demikian membawa suatu perkembangan dan perubahan baru dalam diri seseorang kerah yang lebih baik, dalam arti orang semakin sadar akan segala yang dia lakukan dan semakin membawa dia pada suatu mentalitas perubahan yang membantu dia untuk terus berproses ke arah yang baru dan lebih baik, yang sesuai dengan tujuan spiritualitas Kongregasi FdCC. Dalam hal ini Darminta (1997: 30) mengatakan:
Yesus percaya kepada kekuatan dan daya jiwa manusia sebagai kekuatan untuk tumbuh, berkembang, dan mengubah diri. Kesadaran adalah ciri khas manusia. Namun dalam kenyataannya kesadaran harus diperjuangkan oleh manusia agar tumbuh dan berkembang, mengingat manusia memiliki ketakutan, keraguan, dan kecemasan, yang bersumber pada bawah sadarnya.
Bagi setiap pribadi yang mau berkembang harus terlebih dahulu membangun sikap kesadaran dalam dirinya sendiri terlebih dahulu. Hal ini sangat penting karena dengan kesadaran, dapat menghantar seseorang untuk menemukan dan menerima segala kelemahan atau kekurangan yang dia miliki
118
untuk diperbaiki atau diperbaharui, agar orang dapat menerima diri apa adanya dan terus berkembang ke arah yang lebih baik lagi. Dalam hal ini Darminta (1997: 30) mengatakan:
Kesadaran dalam pengalaman hidup religius keagamaan berada dalam hati manusia, sebab dalam hati itulah Allah menuliskan hukum hidup. Kesadaran dalam hati merupakan pengenalan akan Allah (Yer 31:33). Dengan menanamkan kesadaran dalam hati itu, Allah menanamkan kehendak-Nya. Hati kita dengan demikian merupakan tempat kita berpikir, yang mampu melahirkan kitamenjadi manusia baru dalam Roh Kudus. Kesadaran dalam hati merupakan kesatuan dengan daya hidup Allah, kerena itu orang dapat mengenal Allah dan kebenaran-Nya secara langsung.
Kesadaran dalam membentuk hati melambangkan kesatuan hati dengan Allah sendiri. Hal inilah yang menjadi dasar kekuatan bagi para novis dalam tahap pembinaan agar dapat menemukan suatu proses yang matang bagi pembentukan dan perkembangan hidup panggilannya yang sesuai dengan spiritualitas Kongregagasi FdCC. Dengan demikian Darminta (1997: 34) mengatakan: “Hanya dengan menumbuhkan, mengembangkan, dan mengubah pola pikir, manusia akan memiliki kesadaran yang memerdekakan dan membuat mengalami kemerdekaan anak-anak Allah, bukan kesadaran kekanak-kanakan.”
c. Kemerdekaan dan Tanggung Jawab
Kemerdekaan dan tanggung jawab merupakan sikap yang harus ditanamkan dan dibangun dalam setiap pribadi para novis, dalam tahap pembinaan khususnya di tahap novisiat. Nilai kemerdekaan inilah menghantar
119
mereka untuk menjadi orang yang bebas dan secara sadar serta tanggung jawab dalam memperjuangkan hidup panggilannya yang sesuai tujuan Kongregasi FdCC. Kemerdekaan yang terjadi dalam setiap pribadi para novis merupakan suatu proses yang panjang. Dengan memperoleh kemerdekaan dalam diri para novis, ini berarti dia telah melewati suatu proses perjuangan yang panjang, meskipun belum sempurna tetapi dia berani mau terbuka dan menerima semua yang terjadi dalam proses tersebut demi pembentukan dan perkembangan bagi hidup panggilan yang menuntut suatu tanggung jawab yang besar bagi diri dan hidup panggilannya yang telah dia pilih dan dia putuskan secara bebas dan bertanggung jawab.
Kemerdekaan menuntut suatu sikap tanggung jawab yang besar. Karena dengan demikian kemerdekaan yang diperoleh sungguh-sungguh dipergunakan dan dijalankan dengan baik dan penuh tanggung jawab bagi perkembangan kehidupan para novis selanjutnya. Dalam hal ini kemerdekaan dan tanggung jawab yang diminta oleh Yesus menurut Darminta (1997: 35) mengatakan:
Kemerdekaan dan tanggung jawab yang diminta oleh Yesus ialah kemerdekaan dan tanggung jawab seseorang yang mencari pertama-tama Kerajaan Allah beserta nilai-nilainya, yaitu persaudaraan, perdamaian dan keadilan. Kemerdekaan dan tanggung jawab yang muncul karena mau mencari pertama-tama Kerajaan Allah itulah yang memungkinkan orang-orang mampu berbuat kebaikan tanpa batas. Bahkan kemerdekaan yang diharapkan oleh Yesus ialah memiliki keberanian menghadapi risiko dalam mengusahakan perubahan keadaan dan sesama menjadi lebih baik, keberanian untuk mengusahakan hal-hal yang baru, menyampaikan kritik-kritik terhadap keadaan yang tidak benar. Kemerdekan yang menguasai diri dan nasib sedemikian sehingga dangan sadar dan merdeka memilih
120
untuk menyongsong kematian di Yerusalem demi misi dan pewartaan-Nya, karena yakin bahwa nilai tertinggi hidup yaitu kasih penuh pembelaan, tidak dapat diingkari.
Dengan demikian para novis semakin bersatu dengan Yesus sendiri, sehingga mereka dapat bertindak dalam kemerdekaan dan penuh tanggung jawab dalam mewartakan kasih-Nya. Para novis dididik menjadi orang yang merdeka dalam menerima segala kelemahan-kelemahan pribadi mereka dan berusaha untuk bangkit dalam semangat baru dalam memperjuangkan semuanya itu bersama cinta dan semangat Yesus Tersalib, sehingga mereka mampu menghadapi semua rintangan yang terjadi dengan sabar dan setia, demi mengikuti, mencintai dan membagikan semangat cinta Yesus Tersalib kepada sesama. Dalam hal ini Darminta (1997: 38) mengatakan: “Tanggung jawab yang dikehendaki oleh Yesus ialah tanggung jawab seorang yang dekat dengan Allah, karena kedekatan dengan Allah itulah yang memberikan kemerdekaan, keterbukaan, dan kepedulian terhadap sesama.”
d. Dimensi Kebersamaan
Kebersamaan merupakan cara hidup dalam hidup berkomunitas. Tanpa kebersamaan komunitas tidak akan hidup dalam persatuan dan berjalan dalam damai dan bahagia. Hidup bahagia dan damai inilah yang merupakan buah dari satu-kesatuan hati, pikiran dan perasaan dalam setiap anggota melalui hidup bersama. Dalam hal ini Darminta (1997: 39) mengatakan:
121
Para murid dididik dan dibentuk untuk menghayati kesatuan dan persekutuan antar mereka, sebagai kekuatan untuk mewartakan dan membangun komunitas Kerejaan Allah sampai pada kepenuhannya pada akhir zaman. Tujuan kesatuan dan persekutuan para murid ialah untuk merasakan kekuatan kesatuan dan persekutuan dalam membangun komunitas umat manusia tanpa membedakan kaya dan miskin (Luk 14: 16-24).
Dengan demikian dalam tahap pembinaan ini para novis dibimbing untuk menghayati semangat persaudaraan dan persatuan dalam hidup bersama demi terciptanya dan membangun hidup komunitas yang saling mencintai, mendukung, menghargai, melayani, menerima keberadaan saudara/saudarinya dalam hidup bersama sebagai saudara dalam Kristus, sehingga kerukunan dan kedamaian dalam cinta Tuhan dirasakan dalam hidup bersama. Maka dengan sendirinya kedamaian dan cinta Tuhan yang mereka rasakan ini dapat mereka bagikan kepada sesama dalam hidup bersama dan karya kerasulan.
e. Mendidik Lewat Hidupnya
Perkembangan dan pembentukan setiap pribadi seseorang dapat berjalan dengan baik apabila setiap pribadi mau menyadari dan menghayati nilai-nilai yang ada dalam dirinya, menuju kepada pembentukan dan pembaharuan dalam hidup panggilannya. Dalam pembinaan ditahap novisiat inilah para team formator dapat membimbing dan membentuk para novis untuk menggali dan memaknai setiap pengalaman hidupnya, agar mereka lebih mendalami dan memotivasi hidup panggilannya yang lebih merdeka dan bertanggung jawab.
122
Melalui nilai spiritualitas yang mereka hayati khususnya, cinta kasih yang dipraktekkan dalam hidup bersama maupun dalam karya kerasulan, sehingga dengan hati yang penuh cinta mereka mampu menghayati dan melaksanakannya serta mampu menghadapi setiap tantangan yang terjadi, yang semakin mendewasakan hidup panggilan mereka. Dalam hal ini Darminta (1997: 44) mengatakan:
Pendidikan dan pembentukan manusia beriman haruslah dilakukan dengan kualitas hidup yang dimiliki-Nya. Hidup yang ditandai oleh hati lemah lembut, rendah hati dan tenang itulah kekuatan dinamis Yesus dalam menghadapi kenyataan hidup yang penuh beban yang meletihkan. Kekuatan hati lemah lembut, rendah hati, dan tenang itulah daya hidup yang selalu relevan dan berbicara karena ditandai oleh cinta belas kasih, cinta pembelaan, dan cinta pemberdayaan.
Dalam hal ini proses pembinaan pembentukan pribadi merupakan dasar yang sangat penting, karena melalui proses inilah para novis dibimbing, untuk mengolah seluruh perjalanan hidupnya baik dari segi rohani maupun manusiawi, di mana melalui pengalaman-pengalaman yang mereka alami inilah dapat membentuk pribadi yang berkualitas, merdeka dan bertanggung jawab, serta semakin dewasa dalam menanggapi hidup panggilannya. Semakin banyak mereka mengalami pengalaman-pengalaman hidup mereka baik suka maupun duka, dapat menghantar mereka untuk terus berefleksi hingga menemukan makna dan jalan keluarnya. Semakin banyak mereka mengalami proses itu, semakin membantu mereka untuk mendidik mereka menjadi orang yang dewasa dan bertanggung jawab, serta sadar akan makna hidupnya. Pengalaman merupakan pengalaman yang sangat berharga bagi perkembangan
123
hidup seseorang. Dari pengalaman orang semakin bertumbuh dan berkembang menjadi lebih baik. Dalam hal ini Darminta (1997: 44) mengatakan:
Ikutlah Aku (Mat 4:19) dan Marilah dan kamu akan melihatnya (Yoh 1:39) merupakan undangan untuk merelakan dan menyerahkan diri dibentuk dan pengaruhi oleh hidup dan pribadi Yesus. Melalui hidup bersama dan melihat Yesus, kita diajak untuk mengalami hidup Yesus, seperti digambarkan dalam Sabda di Bukti. Dengan hidup bersama dan melihat dari dekat Yesus dalam kegiatan dan hidup-Nya, kita diajak untuk mengenal, menyerap, dan memiliki hidup Sabda di Bukit.
Dengan mencontohi cinta yang terpancar dari Yesus Tersalib sebagai teladan hidup bagi Kongregasi Suster FdCC, para Suster maupun para calon diajak untuk selalu menyatukan dan mempersembahkan seluruh hidup dan karya mereka dalam semangat Yesus Tersalib, yang disalibkan demi cinta-Nya kepada Bapa dan kepada sesama demi keselamatan dunia.
f. Pembentukan Terus-menerus
Proses pembentukan pribadi para novis tidak berhenti pada satu tahap, melainkan secara terus-menerus. Dalam proses ini orang membutuhkan waktu yang lama, dalam membentuk dirinya, demi mencapai tujuan hidup panggilannya dalam mencintai dan mempersembahkan seluruh hidup dan karya demi kemuliaan nama-Nya dan kebaikan sesama. Dalam hal ini Darminta (1997: 41) mengatakan:
124
Murid harus terus membentuk diri menjadi kekuatan untuk pelayanan Kerajaan Allah yang memiliki komitmen terhadap tugas misi dan kebijaksanaan menghadapi keadaan yang tidak serba jelas dan samar-samar. Yang Yesus inginkan dalam murid dan kelompok adalah para murid yang tidak diperbudak keinginan mencari sukses, tetapi terlebih dan terutama dididik terutama menjadi seperti diri-Nya, pembawa Kabar Baik.
Dalam proses pembinaan para novis, pembentukan secara terus-menerus perlu ditanamkan dari awal agar pembentukan diri para novis, agar benar-benar diuji dan dimurnikan menuju kesatuan hidupnya denganYesus Tersalib sendiri sebagai teladan dalam perjalanan hidup mereka yang semakin matang, merdeka dan bertanggung jawab. Kesatuan hati mereka dengan Yesus inilah yang memberi kekuatan dalam mewartakan cinta kasih-Nya kepada sesama.
Dalam hal ini Darminta (1997: 41) mengatakan untuk memiliki kemampuan membangun diri terus-menerus, Yesus mengajarkan ketujuh kemampuan sebagai pilar bangunan hidup, antara lain sebagai berikut:
Melatih menjalankan tugas dalam ketengan tanpa banyak kekhawatiran karena percaya bahwa Firman Allah memiliki kekuatan untuk tumbuh dari dirinya sendiri (Mat 13:31-32), dengan tetap berfokus pada mereka yang paling hina (Mat 25:40). Lewat itu pula kesatuan dan persekutuan hidup para murid dan kita sekarang harus dibangun secara terus-menerus agar menjadi kekuatan efektif bagi pelaksanaan misi, tanpa terperangkap struktur kebersamaan (Mat 23:1-12), tanpa terperangkap legalisme keagamaan (Mat 23:13-14), tanpa terperangkap sistem keagamaan sendiri (Mat 23:15), tanpa terperangkap pembenaran diri untuk menutupi dusta (Mat 23:16-22), tanpa terperangkap kekacauan hierarki nilai (Mat: 23:23-25), dan akhirnya tanpa terperangkap moralitas ganda (Mat 23:27-33), serta penumpahan darah (Mat23:34-36).
125
Pembentukan terus-menerus dibangun dari diri sendiri. Tanpa adanya usaha dan kemauan dari diri sendiri, pembentukan dan perkembangan tidak akan terjadi. Usaha para team formator dalam proses pembinaan di tahap