• Tidak ada hasil yang ditemukan

MENGHADAPI TANTANGAN DI ZAMAN SEKARANG

A. Pembinaan Menuju Suatu Hidup Cinta Kasih

1. Cara Hidup Pembinaan Bagi Kongregasi Suster FdCC a. Hidup Rohani

12

lembutan, kerendahan hati, penuh semangat, kekuatan, kemurahan hati, dan kesabaran.

Dalam terjemahan The Canossian Charism Kongregasi FdCC (2002: 23) dikatakan bahwa “Praktek kedua perintah cinta kasih menuntut para Putri-Putri Cinta Kasih (FdCC), untuk mampu menjalankan hidupnya dan melaksanakan karya-karya dalam semangat cinta kasih yang terpancar dari keutamaan-keutamaan Yesus Tersalib demi pengudusan pribadi setiap suster dan menghasilkan buah-buah cinta kasih bagi kemulian Allah yang lebih besar dan bagi kebaikan sesama.”

Dengan demikian cara hidup pembinaan bagi Kongregasi Suster FdCC, menuju pada suatu kepenuhan hidup dalam cinta kasih ditanamkan sejak dari masa pembinaan khususnya dalam masa novisiat sebagai dasar pengolahan, dan pembentukan diri yang akan bersatu dengan spiritualitas kongregasi sehingga dibutuhkan keseriusan dari para pembina atau pendamping dalam mendampingi dan membina para calon menuju suatu arah pembinaan yang jelas agar mereka sungguh-sungguh mengenal dan mengerti arah spiritualitas yang benar sesuai dengan cara hidup Kongregasi Suster FdCC.

1. Cara Hidup Pembinaan Bagi Kongregasi Suster FdCC a. Hidup Rohani

Hidup rohani merupakan dasar bagi hidup panggilan, kerena melalui hidup rohanilah para calon semakin bersatu dengan-Nya dan iman semakin dimurnikan dalam hadirat-Nya. Dalam hal ini Darminta (1993: 7) mengatakan:

13

Hidup rohani adalah suatu perjalanan. Berjalan mengandaikan orang bangun, bangkit dan melangkah. Perjalanan berarti masuk ke dalam ketidakpastian. Satu-satunya kepastian yang dapat kita pegang ialah iman. Iman artinya percaya dan menyerahkan diri kepada Dia, yang kita yakini tetap setia menyertai kita. Kepada kita ditawarkan undangan untuk percaya dan mengikuti Yesus Kristus. Kita membangun hidup rohani di dalam Yesus Kristus. Yesus Kristus tinggal dengan Roh-Nya di dalam diri kita. Itulah yang memberi makna dan daya penggerak hidup kita, bahkan Roh Kudus memberi daya dan kekuatan untuk mengatasi segala rintangan dan cobaan untuk menuju ke tujuan, yaitu memuliakan Allah dengan melakukan kehendak-Nya.

Melalui hidup rohani inilah, para suster dan calon suster FdCC dilatih dan dibimbing untuk terus menerus membangun hidup rohaninya agar bersama Roh Kudus yang berkarya dalam diri mereka mampu membimbing dan membawa mereka dalam perjalanan hidup rohani yang semakin terbuka dalam menjawab panggilan mereka yang dibangun setiap hari. Dalam hal ini Kons. Kongregasi FdCC (1828: no. 11) mengatakan:

Hidup doa menghantar dan mendorong kita untuk semakin mengenal dan mengasihi-Nya, sehingga memampukan kita untuk dapat mempersembahkan diri serta hidup panggilan kita secara total ke dalam tangan kasih-Nya yang Kudus. Hidup doa merupakan dasar dan penopang dalam perjalanan hidup panggilan kita. Doa adalah suatu anugerah dari Allah, suatu pengalaman hadirat-Nya dalam Kristus Yesus yang melalui kuasa Roh-Nya, mewahyukan kepada kita misteri Allah sebagai kasih dan menjadikan kita penyembah-penyembah Bapa yang sejati. Kesetian kepada doa menumbuhkan dalam diri kita suatu rasa rindu akan kemulian Allah, suatu usaha untuk mencari kehendak-Nya, suatu semangat apostolik, dalam hubungan yang senantiasa semakin dalam dengan Yesus Putra-Nya.

Dengan hidup doa yang dibangun baik secara pribadi maupun bersama-sama secara terus-menerus dapat meneguhkan para novis Suster FdCC dalam

14

setiap pergulatan dan perjuangan hidup yang dialaminya. Ekaristi yang dijalankan setiap hari dapat memberi mereka kekuatan dan semangat baru, serta melalui renungan-renungan yang direfleksikan mengenai Sabda Tuhan dan juga nilai-nilai spiritualitas Kongregasi Suster FdCC secara sederhana, mampu menghantar para novis untuk terus-menerus bertumbuh bersama Yesus dalam iman, harapan dan kasih, serta semakin mengenal, menghayati, memperdalam, nilai-nilai spiritualitas sehingga mampu menyerahkan dan menjalani seluruh proses perjuangan hidup panggilan mereka dalam tahap pembinaan. Dengan demikian mereka semakin dimurnikan dan mantap dalam menjawab panggilan, serta dapat melaksanakan perbuatan-perbuatan kasih yang terpancar dari kedalaman hidup rohani yang mereka hayati, yang sesuai dengan nilai-nilai spiritualitas yang dihayati oleh Kongregasi Suster FdCC. Dalam hal ini Kons. Kongregasi FdCC (1828: no.13) mengatakan:

Doa menjadi tempat yang penting dalam hidup kita sebagai Putri-Putri Cinta Kasih Canossian. Doa kita sebagai Putri-Putri Cinta Kasih Canossian menemukan makanan dan kesempurnaan-Nya di dalam hidup liturgis. Sumber dan puncaknya ditemukan di dalam misteri kematian dan kebangkitan Yesus yang dikurbankan kembali dalam Ekaristi. Kita merayakan peringatan kematian dan kebangkitan Kristus setiap hari, dan memberi makan diri kita sendiri dengan tubuh-Nya yang amat suci. Di dalam Dia, bersama dengan hidup kita, kita mempersembahkan kepada Bapa kegembiraan dan harapan, kesedihan dan kekhawatiran dunia dalam ziarahnya menuju kerajaan Allah.

Kedalaman dan perkembangan hidup rohani seseorang akan terpancar dari dalam dirinya sendiri, jika hidup rohaninya terus-menerus dibangun bersama Yesus, sehingga dengan sendirinya hidupnya semakin terarah dan bersatu dalam

15

Yesus. Maka hasil dari kesatuan inilah dapat menghantar dan menggerakan hati para calon untuk melaksanakan perbuatan kasih dengan gembira dalam semangat kasih Kristus sendiri, yang menjadi teladan kasih sejati dalam hidup panggilan yang dijalani. Dalam hal ini Darminta (1993: 11) mengatakan:

Kita diberi kesempatan untuk mengembangkan dan menumbuhkan benih hidup ilahi yang tertanam di dalam hati kita agar menjadi pohon, yang menghasilkan buah kasih dalam tindakan dan perbuatan. Sebagai rasa syukur atas kenyataan rohani, kita akan terus-menerus mengembangkan hidup rohani, yang akan kita dayagunakan di dalam hidup sehari-hari.

Melalui hidup doa inilah pembinaan para calon Suster FdCC dipertemukan dengan dasar dan sumber utama dalam hidup rohani, bagi proses perkembangan dan pemurnian panggilan. Oleh karena itu dalam buku Katekese Pembimbingan Novisiat mengatakan “Hidup doa merupakan ungkapan iman, dan iman itu adalah iman kepada Kristus yang bangkit dan yang telah menyelamatkan manusia” (Seri PUSKAT 222, 1975: 12). Di dalam doa inilah para calon Suster FdCC dapat mengungkapkan inti pribadi serta hormat yang dalam kepada Kristus, karena Kristuslah yang menjadi dasar dan pusat hidup mereka dalam tahap pembinaan. Iman dan penghayatan akan Kristus inilah sering diungkapkan dalam bentuk doa, sehingga mampu mengalami persatuan yang mesra dengan Dia sendiri. Doa merupakan unsur mutlak yang perlu menjiwai seluruh hidup dan karya yang mereka laksanakan dalam tahap pembinaan ini, karena kerasulan sendiri merupakan pelaksanaan kehendak Kristus yang dihayati melalui doa itu sendiri. Dalam hal ini Kons. Kongregasi FdCC (1828: no.11) mengatakan:

16

Hidup doa menghantar dan mendorong kita untuk semakin mengenal dan mengasihi-Nya, sehingga memampukan kita untuk dapat mempersembahkan diri serta hidup panggilan kita secara total ke dalam tangan kasih-Nya yang Kudus. Hidup doa merupakan dasar dan penopang dalam perjalanan hidup panggilan kita. Doa adalah suatu anugerah dari Allah, suatu pengalaman hadirat-Nya dalam Kristus Yesus yang melalui kuasa Roh-Nya, mewahyukan kepada kita misteri Allah sebagai kasih dan menjadikan kita penyembah-penyembah Bapa yang sejati. Kesetian kepada doa menumbuhkan dalam diri kita suatu rasa rindu akan kemulian Allah, suatu usaha untuk mencari kehendak-Nya, suatu semangat apostolik, dalam hubungan yang senantiasa semakin dalam dengan Yesus Putra-Nya.

Semangat doa adalah suatu karunia yang lebih besar dari doa itu sendiri. Hal ini merupakan suatu mentalitas iman yang membimbing kita untuk merenungkan kehadiran Tuhan melalui alam ciptaan, sesama saudara/saudari yang dijumpai, dan juga melalui peristiwa-peristiwa hidup yang dialami setiap hari baik dalam suka maupun dalam duka. Melalui semangat doa inilah hidup para suster sebagai orang kontemplatif dalam aksi menemukan kesatuan dengan-Nya. Dalam hal ini Kons. Kongregasi FdCC (1828: no.13) mengatakan:

Doa menjadi tempat yang penting dalam hidup kita sebagai Putri-Putri Cinta Kasih Canossian. Doa kita sebagai Putri-Putri Cinta Kasih Canossian menemukan makanan dan kesempurnaan-Nya di dalam hidup liturgis. Sumber dan puncaknya ditemukan di dalam misteri kematian dan kebangkitan Yesus yang dikurbankan kembali dalam Ekaristi. Kita merayakan peringatan kematian dan kebangkitan Kristus setiap hari, dan memberi makan diri kita sendiri dengan tubuh-Nya yang amat suci. Di dalam Dia, bersama dengan hidup kita, kita mempersembahkan kepada Bapa kegembiraan dan harapan, kesedihan dan kekhawatiran dunia dalam ziarahnya menuju Kerajaan Allah.

Panggilan untuk kekudusan hanya diterima dan dapat dikembangkan dalam keheningan sembah sujud di hadirat Allah. Melalui semangat hidup doa inilah

17

para novis dilatih untuk lebih mengakarkan diri mereka pada Tuhan yang diimaninya, dengan demikian mereka semakin diajak untuk lebih mengenal dan merasakan kesatuan hati yang semakin mendalam dengan Dia yang menjadi dasar dan pusat dalam hidup panggilan mereka. Melalui semangat doa yang ditingkatkan secara terus-menerus inilah mereka semakin terbuka kepada Roh Kudus dan semakin memurnikan hidup panggilan mereka sendiri. Maka hidup doa lebih diutamakan dalam tahap pembinaan, agar dengan pengolahan yang mendalam para novis semakin lebih mengenal dan dimurnikan dalam motivasi hidup panggilan mereka.

b. Hidup Berkaul

Hidup kaul merupakan persembahan diri secara total kepada Allah yang telah memanggil. Dalam buku Saat Jubah Bikin Gerah I mengatakan “Inti hidup berkaul adalah menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan sehingga dapat digunakan oleh Tuhan ke mana pun dan untuk apa pun Dia menginginkan” (Suparno, 2007: 104). Hidup kaul yang telah diterima dari Allah merupakan suatu perjanjian kasih yang memampukan para suster untuk dapat menerimanya dengan bebas dan dijalankan dengan gembira. Dalam KRKU XV Kongregasi FdCC (2008: 10) dikatakan:

Hidup kaul memelihara jawaban kita atas panggilan Kristus, mengekspresikan keberadaan hidup bakti kita dari Allah. Dari segi pandangan kharismatik, kaul-kaul menuntut perjalanan kita dipimpin oleh Roh, untuk menjadi sama seperti Kristus, (taat, miskin, murni). Semuanya merupakan bentuk kehidupan yang kita akui dalam Gereja. Hidup menurut kaul menuntut kepada kita suatu cara alternatif

18

keberadaan kita dalam berelasi dan dalam hubungannya dengan dunia, membuat kita memiliki suatu posisi “marginalita” yang signifikan dalam sejarah, yang membuat kita asing tetapi bukan musuh seperti cara hidup para nabi. “Marginalita” kita semata-mata demi Kristus untuk menandai bahwa sejarah tidak selalu mengungkapkan kepenuhan kerajaan, ada juga “kekosongan kehadiran Allah” dalam sejarah, oleh karena itu janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini (Rom 12:1-3).

Menanggapi Keputusan Resmi Kapitel Umum (KRKU) XV, pembaharuan nilai hidup kaul dalam masa pembinaan lebih diperjelas dan diperdalam, agar melalui tahap pembinaan ini mereka lebih mengolah motivasi hidup panggilan mereka sendiri. Dengan demikian panggilan yang mereka pilih dan hayati, dapat dipersembahkan secara total kepada Kristus dan demi Kristus sendiri yang telah memanggil mereka. Dalam hal ini Kons. Kongregasi FdCC (1828: no. 23 – 24) mengatakan:

Hidup kaul adalah suatu hadiah dari Allah yang diberikan kepada kita demi kemulian-Nya dan demi kebaikan saudara-saudari kita. Ia mengadakan suatu perjanjian kasih dengan kita dan dengan sebuah ikatan baru dan khusus yaitu pembaktian religius, Ia membuat kita mampu untuk menghayati janji baptis kita secara radikal. Jawaban kita adalah suatu jawaban kasih. Dengan itu kita mewajibkan diri kita secara sukarela untuk mengikuti dengan lebih dekat Tuhan Yesus yang murni, miskin, dan yang taat, dalam penyerahan diri sepenuhnya kepada perutusan Gereja yang menyelamatkan. Kesetian kepada panggilan kita, menyesuaikan kita dengan lebih akrab kepada Kristus yang tersalib, karena karisma kita yang khusus, dan membuat kita ikut ambil bagian dalam misteri Paskah-Nya. Dan Maria Bunda Perawan, hamba Tuhan yang taat, bahkan sampai di kaki salib, kita mempelajari kasih yang memberi dirinya dengan rela dan gembira.

Dalam buku I Tugas Pembinaan Demi Mutu Hidup Bakti mengatakan bahwa “Hidup menurut nasehat Injil berarti hidup yang diisi oleh cinta Kristus, nasihat Injil untuk mengubah dunia, dan ini merupakan dukungan utama hidup

19

religius. Dengan mengikrarkan ketiga kaul, setiap religius dijadikan bebas untuk Allah dari ikatan afeksi, milik, dan kekuasaan. Maka kaul perlu disetiai agar tidak mudah terjebak dalam godaan zaman” (Mardi Prasetyo 2001: 92). Dalam hal ini Dokumen Gereja: Pedoman-Pedoman Pembinaan dalam Lembaga-Lembaga Religius (PPPDLLR) (1992: no.11- 12) mengatakan:

Iman, harapan, dan cintakasih memungkinkan para religius, berkat kaul-kaul mereka, untuk mengamalkan dan memprofesikan ketiga nasehat Injil, dan dengan demikian memberikan “kesaksian yang cemerlang dan luhur bahwa dunia tidak dapat diubah dan dipersembahkan kepada Allah, tanpa semangat Sabda Bahagia”. Nasihat-nasihat itu sesungguhnya, merupakan dukungan yang utama hidup religius, oleh kerena nasihat-nasihat itu mengungkapkan dengan cara yang penting dan lengkap radikalisme injili yang menjadi ciri khasnya. Sesungguhnya melalui profesi nasihat-nasihat Injil yang dibuat dalam Gereja, para religius menginginkan “supaya dibebaskan dari rintangan-rintangan, yang manjauhkannya dari cinta kasih yang berkobar dan dari kebaktian yang sempurna kepada Allah, supaya membaktikan dirinya secara lebih sempurna kepada pengabdian pada Allah.

Nasihat-nasihat Injil yang dihayati oleh para religus merupakan kebaktian yang sempurna kepada Allah, sehingga dengan demikian membaktikan dirinya secara lebih sempurna kepada pengabdian pada Allah. Maka dalam Kongregasi FdCC, nilai dari ketiga kaul perlu ditanamkan dalam diri para novis sejak dari masa novisiat, karena dalam masa inilah merupakan dasar pembentukan bagi hidup panggilan seseorang. Dalam hal ini sangat diharapkan bagi para team formator benar-benar mengarahkan nilai-nilai dari ketiga hidup kaul ini bagi para calon Suster FdCC secara jelas dan mendalam, sehingga apa yang dipahami dan dihayati secara benar dapat menghantar mereka menjadi seorang suster yang

20

sungguh-sungguh mencintai anugerah hidup panggilan yang mereka terima. Nasihat Injil tersebut antara lain:

1). Kaul Kemurnian

Dalam hal ini Kons. Kongregasi FdCC (1828: no. 28) mengatakan:

Dengan kuasa Roh Kudus, kemurnian yang dibaktikan dalam diri kita mengarahkan kita pada misteri persatuan mempelai dengan Yesus, dan membuat kita mengambil di dalam kasih yang subur, yang mempersatukan Kristus dengan mempelainya, yaitu Gereja. Kemurnian yang dibaktikan menguatkan dan memeriahkan nilai-nilai Injili dari persaudaraan, persahabatan, keibuan rohani dan membawa kita untuk mengintegrasikan setiap afeksi ke dalam kasih Tuhan yang Maha Besar.

Kaul kemurnian merupakan lambang persatuan kasih dengan Kristus sendiri, di mana melalui persatuan inilah menjadi tanda kenabian dan eskatologis bagi dunia. Dengan demikian kaul kemurnian yang dihayati, menghantar para suster sekaliaan dapat mengintegrasikan setiap afeksi ke dalam kasih Tuhan, agar secara bebas dan gembira dalam mencintai Tuhan dan sesama yang dijumpai. Kaul kemurnian merupakan persatuan yang mesra dengan Sang Mempelai, yaitu Kristus sendiri yang telah memanggil untuk mengikuti dan melayani bersama Dia, sehingga dengan rahmat-Nya dapat memampukan para suster, untuk dapat menjalankan segala pergulatan dalam menghayati kaul kemurnian.

Dalam hal ini Dokumen KRKU XV Kongregasi FdCC (2008: 11) mengatakan:

21

Kaul-kaul yang dihayati demi Kristus akan menjadi sebuah proses transformasi paskah (dari Kematian ke kehidupan), kesempatan khusus untuk bertumbuh dalam kebebasan dan dalam kegembiraan melalui pertobatan (transformasi diri) dalam ketiga kebutuhan orang (hasrat untuk berkuasa, kebutuhan untuk memiliki, efektifitas). Hal ini merupakan sebuah cara untuk menjadi manusiawi seperti Yesus Putra hamba, untuk menjadi siap sedia dalam Gereja dan dunia demi mengembangkan nilai-nilai kerajaan, untuk memberi kesempatan bagi mereka yang terpinggirkan, supaya menjadi tanda kenabian dan radikal. Pengertian dan penghayatan kaul berbeda dalam tahap-tahap kehidupan. Kehidupan memunculkan pertanyaan baru, kondisi sejarah, dan keberadaan menimbulkan tantangan-tantangan baru. Cara yang dimaksud untuk dapat menghidupi hidup bakti yang dapat diintegrasikan dengan tantangan-tantangan dan jawaban-jawaban atas pertanyaan, dalam suatu perspektif yang utuh untuk menumbuh kembangkan sejarah baru, mencegah kebekuan kaul-kaul ke dalam formalitas dan menghidupi pemuridan yang dibaharui terus menerus.

Dalam pembinaan bagi para calon Suster FdCC, hidup kaul kemurnian sangat diutamakan, karena hal ini merupakan dasar bagi mereka untuk mampu mengerti dan menghayati akan hidup yang sudah mereka pilih dan mereka jalani sebagai suatu persembahan hidup secara total dalam kekudusan dan kemulian di hadirat kasih Allah. Hidup kaul kemurnian diberi pengertian yang jelas dan arahan yang baik, agar mereka dapat mengucapkan dan menghayati kaul kemurnian ini menjadi pilihan yang bebas dan dijalani dengan penuh kegembiraan, sebagai tujuan utama dalam hidup panggilan mereka.

2). Kaul Kemiskinan

Dalam hal ini Kons. Kongregasi FdCC (1828: no. 32) mengatakan:

Teladan Yesus yang tersalib, yang ditanggalkan dari segala-galanya kecuali kasih-Nya, mendorong kita kepada penghayatan kemiskinan “yang paling sempurna”. Bersatu dengan Allah, kita mengasihi dan mencari hanya Dia sendiri di dalam setiap pekerjaan dan pelayanan cinta kasih, dan tidak menginginkan apapun kecuali kemulian-Nya.

22

Dibaktikan kepada pelayanan orang miskin kita menganggap perlu sekali bahwa segala perhatian, karya, keprihatinan dan pikiran-pikiran kita, adalah untuk mereka.

Dengan semangat Yesus yang tersalib, penghayatan hidup kaul kemiskinan yang dihayati oleh Suster FdCC, merupakan kemiskinan yang paling sempurna. Maksudnya adalah kemiskinan yang terbakti, yang dipilih secara bebas, dan menyesuaikan diri para Suster FdCC secara lebih sempurna kepada Yesus Kristus yang tersalib, yang telah menjadi miskin karena kasih-Nya kepada semua orang. Maka menghantar para Suster FdCC mampu memberi kesaksian tentang keunggulan hal-hal dari nilai hidup kaul kemiskinan, sambil mewartakan kepada orang-orang miskin sabda bahagia. Dalam hal ini buku I Mardi Prasetyo (2001: 94) mengatakan:

Kriteria penghayatan kemiskinan kita adalah sebagaimana Kristus miskin: dalam kenyataan dan semangat, hidup kerja keras sebagaimana orang kecil, tergantung dan terbatas dalam penggunaan barang-barang. Kepekaan terhadap suasana kemiskinan di sekitar, entah dialami perorangan maupun kelompok, mestinya menumbuhkan keprihatinan dan pemilihan gaya hidup orang sederhana dengan sikap lepas bebas dari dalam batinnya, tidak mau terikat pada aliran atau golongan tertentu, terlebih kelas sosial tersebut.

Dalam hal penghayatan kaul kemiskinan Kristuslah yang menjadi model dan teladan dalam Kongregasi Suster FdCC, di mana dengan meneladan semangat Yesus yang miskin yang mau solider dengan semua yang ada di sekitar-Nya, khususnya kaum miskin, baik yang miskin secara jasmani maupun miskin secara rohani. Dengan semangat inilah pendiri kami St. Magdalena dari Canossa pada waktu itu terinspirasi untuk mendirikan Kongregasi Suster

23

FdCC. Dalam hal ini dalam buku Memoir St. Magdalena Dari Canossa, Pollonara (1988: 426) mengatakan:

Dalam tahun 1808, setelah mengatasi kesulitan-kesulitan terakhir keluarganya, Magdalena meninggalkan istana kediamannya. Dia pergi hidup dilingkungan kota Verona yang paling miskin dan paling terkenal nama buruknya supaya mengikuti panggilan yang dirasakannya di dalam lubuk hatinya, menjadi apa yang dikehendaki Allah atas dirinya: “Melayani Kristus dalam diri kaum miskin”.

3). Kaul Ketaatan

Dalam hal ini Kons. Kongregasi FdCC (1828: no. 38) mengatakan:

Ketaatan Yesus yang karena kasih telah memenuhi kehendak Bapa-Nya sampai menjadi kurban di salib. Mengilhami dan memotivasi kita untuk mempersembahkan secara bebas dan menyeluruh kehendak kita sendiri kepada Allah bagi suatu pengabdian yang tak bersyarat kepada rencana penyelamatan-Nya yang universal. Dari kontemplasi Yesus yang Tersalib, kita menarik semangat Paskah ketaatan kita sendiri, siap untuk menerima tanggung jawab yang dibawanya, sambil menyadari bahwa seluruh hidup kita di dalam diri-Nya sendiri adalah “Suatu pengorbanan yang sempurna”.

Dalam penghayatan kaul ketaatan, menuntut para Suster FdCC suatu mentalitas iman yang kokoh, yang dapat menghantar para Suster FdCC melihat kehendak Allah, tidak hanya melalui firman-Nya, melainkan juga dalam berbagai mediasi seperti: Ajaran Gereja, peraturan hidup, para pimpinan, setiap pribadi para Suster FdCC sendiri, dan melalui peristiwa-peristiwa hidup mereka setiap hari. Para Suster FdCC menyadari bahwa dalam menghayati kaul ketaatan tidak mengurangi derajat mereka sebagai pribadi, melainkan memberikan kebebasan sejati anak-anak Allah. Oleh karena itu dalam

24

menghayati kaul ketaatan Suster FdCC mempercayakan diri mereka kepada bimbingan Roh Kudus, sambil memilih secara bebas untuk menyerahkan kehendak mereka kepada pimpinan yang sah, sebagai wakil Allah dalam segala yang dituntut oleh peraturan hidup. Dalam hal ini buku I Mardi Prasetyo (2001: 96) mengatakan:

Ketaatan sebagaimana Kristus dituntut dari pihak kita adalah suatu penyerahan kehendak pada pembesar yang syah sebagai wakil Allah, taat pada Gereja dan taat pada Paus karena kaul ketaatan. Ini tidak merendahkan martabat manusia, tetapi kematangan pribadi yang mampu menggunakan martabat dan kebebasannya sebagai anak-anak Allah. Ketaatan kemudian menjadi sarana mengikuti jejak Kristus dan ambil bagian dalam tugas perutusan-Nya.

c. Hidup Komunitas

Tuhan telah memanggil kita untuk tinggal dan hidup dalam suatu komunitas, karena bukan kita yang memilih komunitas tetapi kita dipilih untuk