TAFSIR AL-QUR’AN MAJLIS TAFSIR AL-QUR’AN (MTA) SOLO
B. Tafsir al-Qur’an MTA Solo
2. Biografi Pengarang
134
terwujudlah catatan Tafsir al-Qur‟an surat al-Baqarah yang sudah genap satu juz ini.23
Dugaan ini diperkuat dengan pernyataan Uwais,24 putra Thufail, yang menyatakan bahwa seluruh kitab maupun buku ayahnya saat ini berada di tangannya, bukan di kantor Yayasan MTA. Dan hingga saat ini, tidak pernah ada dari pihak Yayasan MTA yang menghubungi atau meminta catatan peninggalan ayahnya ataupun minta izin padanya untuk menerbitkan pengajaran tafsir sang ayah.25 Itulah sebabnya hingga kini ia tidak pernah tahu jika karya Abdullah Thufail yang merupakan karya ayahnya telah diterbitkan menjadi buku.
2. Biografi Pengarang
a. Sejarah Hidup Abdullah Thufail Saputro
Nama asli pengarang tafsir yang diterbitkan MTA ini adalah Abdullah Thufail yang kemudian ditambah dengan Saputro sebagai identitas anak laki-laki sehingga menjadi Abdullah Thufail Saputro. Ia lahir di Pacitan, 19 September 1927 dari ayah yang bernama Muhammad Thufail, seorang guru tarekat Naqsabandiyah yang berasal dari daerah Punjabi India. Sedangkan ibunya bernama Fatma, seorang perempuan asli Tegalombo Pacitan. Di masa remajanya, Abdullah Thufail nyantri di Pondok Pesantren Tremas Pacitan dilanjutkan menjadi murid H}abi>b Hu>d asli Yaman yang salaf di Pasar Kliwon Masjid Khoiriyah Solo.26
23 Ibid, Jilid III, 7.
24 Uwais Uwais adalah putra ke-8 dari Abdullah Thufail. Saat ini ia hidup sangat sederhana dengan rumah yang masih mengontrak di desa Mojo Kecamatan Laban Kabupaten Sukoharjo Jawa Tengah.
25 Uwais, Wawancara, Sukoharjo, 13 November 2016.
135
Abdullah Thufail mempunyai dua istri. Istri pertama bernama Salma, perempuan asli Soko Ngawi yang dinikahi saat umur 14 tahun. Dari Salma ia mendapatkan sepuluh orang anak, yaitu Aisyah (alm), Abdul Ghoffar (alm), Sayyidah Asiyah, Munir Ahmad (alm), Zuraidah (alm), Sumayyah, Iid Sayyidah, Uwais, Nasibah al-Yusro dan Rosyidah Zakiyah. Sayyidah Asiyah menikah dengan Bunyan, keponakan mbah Lim (KH. Muslim Imam Puro) Pompongan Klaten yang merupakan tokoh NU (Nahdatul Ulama). Ayah Bunyan merupakan orang Keraton Yogyakarta yang Nahdiyin. Sementara dari istri kedua yang asli Bali, Abdullah Thufail mempunyai tiga orang anak, yaitu Muhammad Shodiq (alm), Muhammad Sholeh, dan Lilik. Dari ketigabelas putra-putri Abdullah Thufail tersebut, yang mengikuti jejaknya dalam hal penguasaan agama hanyalah putranya yang kedelapan yaitu Uwais yang lahir pada tahun 1966. Uwais sempat mengenyam pendidikan hingga semester tiga di Fakultas Ushuluddin Universitas al-Azhar Mesir. Kesulitan ekonomi karena wafatnya sang ayah menyebabkan ia memutuskan untuk berhenti dari al-Azhar kemudian pergi ke Pakistan untuk mengambil program hafalan al-Qur‟an (tah}fidh).
Sebagai seorang putra dari guru tarekat Naqsabandi dan juga santri dari Pesantren Tremas Pacitan, Abdullah Thufail muda tentu akrab dengan tradisi-tradisi pesantren yang tradisi-tradisional. Apalagi setelah dari Tremas ia berguru pada Habib Hud Pasar Kliwon Solo yang juga dikenal dengan pengajaran salafnya. Namun kegemarannya membaca berbagai kitab baik klasik maupun modern telah membawa Thufail ke pemahaman yang berbeda dengan ayah maupun gurunya. Ia amat mengidolakan Muhammad Abduh (1849-1905), tokoh Mesir penggagas
136
modernisme dan pemurnian Islam. Pemikiran-pemikiran Abduh tentang ijtihad, taqlid, bid‟ah dan term-term terkait pemurnian Islam lainnya27
begitu membekas dalam hati dan pikirannya; bahkan sangat mempengaruhi pikiran dan metode dakwahnya. Baginya, tradisi adalah tradisi, agama adalah agama. “ Jangan dibilang tradisi itu agama, agama itu tradisi !” begitu kalimat yang sering diucapkannya.28 Menurut kesaksian Dry, Thufail amat keras dalam mengajarkan pemurnian agama kepada murid-muridnya yang mengaji di Yayasan Majlis Tafsir al-Qur‟an (MTA).29 Meski demikian, sikapnya dalam mengajar murid-muridnya tersebut tidak menghalangi Abdullah Thufail untuk berinteraksi dengan kelompok lain yang tidak sejalan dengan pemikiran dan model dakwahnya. Kepada kelompok lain di luar MTA seperti NU ia amat menghargai, meski di kalangan internal MTA ia sangat keras dalam menegakkan apa yang ia yakini sebagai sesuatu yang paling benar. Pernah suatu ketika saat ia berada di rumah gurunya, H}abib Hu>d, seseorang datang membawa buah durian, buah yang menjadi kegemarannya. Ketika ia tahu bahwa H}abib Hu>d tidak menyukai bau dan buah durian, Abdullah Thufail tidak mau makan durian tersebut. Saat ditanyakan alasan tindakannya tersebut, ia menjawab bahwa apa yang dilakukannya tersebut dimaksudkan agar ia bisa beroleh berkah/barokah dari gurunya, H}abib Hu>d.
27
H.A.R. Gibb merangkum ide-ide pembaharuan Abduh dalam empat hal: pembersihan Islam dari bid‟ah, pembaharuan pendidikan al-Azhar, perumusan kembali ajaran Islam dengan pemikiran modern dan pembelaan Islam terhadap pengaruh Eropa dan serangan Kristen. Lihat: H.A.R Gibb,
Modern Trend In Islam, Aliran-aliran Modern Dalam Islam, Terj. Mahnun Husain (Jakarta: PT.
Rajawali Press, 1993), 58. Harun Nasution mendeskripsikan pemikiran Abduh dalam enam masalah pokok, yaitu membongkar kejumudan, perlunya ijtihad, penggunaan akal pikiran, pentingnya ilmu pengetahuan modern, perbaikan pendidikan di al-Azhar serta pemikiran politik. Lihat: Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam Sejarah Pemikiran Dan Gerakan, 58-59.
28
Uwais, Wawancara, Solo, 7 November 2016.
29 Dry adalah murid pengajian MTA gelombang 5. Namun karena murid-murid di gelombang 5 tinggal sedikit, akhirnya murid-murid gelombang 5 disatukan dengan murid-murid gelombang 7. Dry, Wawancara, Solo, 7 November 2016.
137
Sebagaimana diketahui, terma barokah bukanlah terma yang lazim ada dalam kelompok-kelompok puritan seperti Abdullah Thufail. Dengan demikian apa yang dilakukanya merupakan penghormatannya terhadap pemahaman gurunya yang sesungguhnya berbeda dengan pemahaman dirinya sendiri. Itulah sebabnya, di bawah kepemimpinan Abdullah Thufail MTA relatif sepi dari situasi konflik dengan kelompok lain yang tidak sejalan dengan pemikiran dan dakwahnya; berbeda dengan saat MTA di bawah kepemimpinan Sukino, pelanjut kepemimpinan Thufail, yang seringkali diwarnai oleh konfrontasi dengan kelompok lain.
b. Karya-Karya dan Murid-Muridnya
Menurut informasi Uwais, Abdullah Thufail tidak memiliki karya lain selain dari tafsir yang kini diterbitkan oleh MTA. Itupun sebenarnya juga merupakan materi pengajaran tafsir yang disampaikan oleh Abdullah Thufail dalam pengajian tafsir di MTA. Pelaksanaan Pengajian tafsir di MTA dibagi-bagi dalam kelompok-kelompok yang disebut dengan gelombang. Masing-masing gelombang berisi antara 50 hingga 60 orang. Namun sebagaimana juga terjadi pada forum-forum pengajaran non formal dan informal lainnya, anggota atau murid-murid pengajian tafsir MTA juga sering keluar masuk; dalam arti ada yang aktif hadir, sekali-sekali hadir dan ada pula yang sering membolos atau bahkan tidak aktif lagi. Akibatnya jumlah murid dalam satu gelombang terkadang mengalami penyusutan atau pengurangan. Dalam kondisi demikian, dilakukan penyatuan gelombang, seperti gabungan antara gelombang 5 dan gelombang 7.
138
Metode pengajian tafsir yang dilakukannya adalah dengan jalan ceramah tentang tafsir ayat. Terkadang Abdullah Thufail juga mendiktiken hal-hal yang dirasa penting kepada murid-muridnya tanpa memberitahu rujukan tafsir yang ia gunakan; apakah penafsiran sendiri ataukah penafsiran dari seorang mufassir. Dalam pengajian tafsir tersebut, menurut Dry, tidak pernah terjadi dialektika antara murid dan guru. Murid tidak diperkenankan mempunyai pemahaman lain; apalagi menggugat apa yang disampaikan oleh sang guru yang dalam hal ini adalah Abdullah Thufail. Apa yang disampaikan oleh sang guru adalah kebenaran tunggal yang harus diyakini kebenarannya. Kalaupun ada yang bertanya, itu hanyalah untuk meminta keterangan; bukan mempertanyakan.30 Akibatnya murid-murid Abdullah tidak mempunyai pandangan lain selain dari apa yang disampaikan oleh gurunya; atau lebih tepatnya takut mencari kebenaran lain di luar pengajaran MTA yang disampaikan oleh Abdullah Thufail.
Sebagaimana dikatakan oleh Uwais, Dry juga menyatakan bahwa Abdullah Thufail amat concern dan keras terhadap permasalahan yang berkaitan dengan pemurnian agama. Terma-terma seperti bid‟ah, takhayyul, khurafat, syirik, dan taqlid amat sering disinggung dalam pengajaran tafsirnya. Tema-tema inilah yang kini menjadi perhatian dan pengajaran utama dalam pengajian tafsir di MTA; bahkan menjadi sebuah dogma. Sepeninggal Abdullah Thufail, MTA mengalami guncangan, khususnya yang berkaitan dengan management dan pemilihan pucuk pimpinan MTA pengganti Abdullah Thufail. Hal ini tentu bisa difahami, mengingat masa kepemimpinan Thufail yang sudah begitu lama, sekitar
139
20 tahun. Tidak mudah bagi MTA yang saat itu sudah mulai besar untuk beralih pada kepemimpinan orang lain; dari Thufail Centris menjadi Sukino Centris. Sukino adalah murid Abdullah Thufail di pengajian tafsir MTA yang terpilih untuk menggantikan kepemimpinan Abdullah Thufail di MTA.
Keguncangan dalam MTA pasca Thufail wafat membawa pengaruh pada konsistensi murid-muridnya; baik konsistensi terhadap ajaran-ajaran dan pemahaman atas tafsir al-Qur‟an maupun atas kesetiaan terhadap organisasi dan pucuk pimpinan. Ini bisa dilihat dari banyaknya murid-murid Abdullah Thufail yang kemudian memutuskan untuk tidak lagi menjadi warga MTA meski mereka telah dibaiat untuk selalu setia selamanya; bahkan keluarga besar dan putra-putri Thufailpun juga tidak lagi aktif di MTA kecuali Nasibah yang kinipun juga memutuskan untuk tidak lagi aktif.
Terdapat dua motif yang melatarbelakangi keluarnya seorang warga MTA, yakni alasan managerial dan alasan ideologi. Pada awalnya mereka memutuskan untuk keluar dari MTA karena alasan managerial, di mana mereka merasa tidak nyaman atau tidak cocok dengan managemen yang diterapkan oleh kepemimpinan yang baru. Namun seiring dengan terbukanya wawasan mereka yang awalnya tertutup atau terlarang dari informasi-informasi dan ilmu-ilmu yang datang dari luar, akhirnya alasan ideologi juga menjadi latarbelakang kuat bagi mereka untuk meninggalkan MTA. Wly, salah seorang mantan warga/murid MTA juga berkata senada. Ia baru menyadari bahwa ada begitu banyak ilmu yang harus dipelajari untuk memahami al-Qur‟an setelah dirinya keluar dari MTA. Saat ini baik Dry maupun Wly secara ideologi mereka berseberangan dengan MTA.
140
Dry, salah seorang murid Thufail menyatakan bahwa setelah keluar dari MTA ia baru menyadari bahwa untuk bisa memahami makna al-Qur‟an secara benar atau melakukan tafsir terhadap al-Qur‟an, haruslah menguasai berbagai ilmu lain sebagai penuntun.31 Ilmu hadis, ilmu-ilmu alat seperti nahwu s}araf, penguasaan bahasa Arab, ilmu Qira>a>t, ilmu us}u>l al-fiqh, us}u>l al-tafsi>r,
ilmu asba>b al-nuzu>l, na>sikh mansu>kh dan lain-lain haruslah terlebih dahulu
dipelajari dan dikuasai sebelum melakukan tafsir terhadap ayat-ayat al-Qur‟an. Jika tidak, maka peluang melakukan kesalahan penafsiran atau kesalahan pemahaman pasti akan besar.Wly, salah seorang mantan warga/murid MTA juga berkata senada. Ia baru menyadari bahwa ada begitu banyak ilmu yang harus dipelajari untuk memahami al-Qur‟an setelah dirinya keluar dari MTA.32 Saat ini baik Dry maupun Wly secara ideologi mereka berseberangan dengan MTA.