TAFSIR AL-QUR’AN MAJLIS TAFSIR AL-QUR’AN (MTA) SOLO
B. Tafsir al-Qur’an MTA Solo
2) Nuansa Tafsir
170
kumis, mencabut rambut ketiak, memotong rambut kemaluan, khitan dan cebok.69 Untuk menolak teks tersebut Tafsir MTA menulis :70
Syaikh Muhammad Abduh dalam menafsirkan ayat tersebut, setelah meneliti riwayat-riwayat seperti tersebut, beliau menerangkan demikian : Pengarang kitab Jalalin dalam menafsirkan kalimat :”beberpa kalimat” dengan sepuluh macam, sebagaimana tersebut itu, sebenarnya itu dari keberaniannya yang keliru dan tidak mengerti akan isi al-Qur‟an. Tidak diragukan lagi bagi saya, bahwa keterangan yang demikian itu adalah sesuatu yang diselundupkan oleh kaum Yahudi kepada kaum Muslimin agar kaum Muslimin menjadikan agama sebagai permainan.
Proses interteks yang berupa kritik terhadap teks lain dalam tafsir MTA hanya terdapat dalam tiga tempat; pada Jilid III halaman 100 sebagaimana telah dipaparkan di atas, Jilid III halaman 104 serta pada Jilid IV halaman 90.71 Kesemuanya menolak penafsiran pengarang Kitab Tafsi>r al-Jala>lain dengan memakai pendapatnya „Abduh. Di luar tiga tempat ini proses interteks dalam Tafsir MTA muncul dalam bentuk sebagai penguat penafsirannya.
2) Nuansa Tafsir
Nuansa tafsir yang dimaksudkan di sini adalah variabel dominan yang menjadi sudut pandang dalam suatu karya tafsir. Ia bisa berupa kebahasaan, teologi, sains, filsafat, fiqh, sosial kemasyarakatan dan lain-lain. Menelisik corak atau nuansa Tafsir al-Qur’an MTA tidaklah bisa dilepaskan dari latar
69
Lihat: Jala>l Di>n Muh}ammad bin Ah}mad Mah}alli> dan Jala>l Di>n „Abd Rah}ma>n bin Abi> Bakr Suyu>t}i>, Tafsi>r Jala>lain, Juz I, Cet, I (Kairo: Da>r al-H}adi>th, t.th.), 26
70
MTA, Tafsir al-Qur’an, Jilid III 100.
71
Dalam Jilid IV halaman 90 MTA menolak riwayat sabab nuzul surah al-Baqarah ayat 163 oleh al-Suyu>t}i> dengan pernyataan berikut : "asbab al-nuzul hanya perlu untuk ayat-ayat hukum, karena kejadian-kejadian dan peristiwa yang terjadi dapat menjadikan seseorang terang dan faham serta mengerti akan hikmat-hikmat dan rahasia-rahasia ayat hukum itu. Misalnya ayat yang diturunkan mengenai perang Badar, dan kemenangan padanya dan musibah yang menimpa orang mukmin di dalam perang Uhud. Adapun ayat-ayat yang ditetapkan untuk menerangkan tauhid, maka itu adalah yang dituju pertamakali dalam agama sehingga tidak perlu untuk mencari keterangan sebab2 yang membawa ayat itu diturunkan." Lihat: Ibid, Jilid IV, 90.
171
belakang didirikannya MTA termasuk latar belakang penyusunan kitab Tafsir
MTA. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa latar belakang
pendirian MTA adalah untuk memberi pengajaran kepada masyarakat yang telah menjalankan amalan keagamaan tanpa dasar, hanya mengikuti amalan-amalan dari nenek moyang mereka serta bersikap sinkretis, mencampur adukkan antara agama dan tradisi bid‟ah akibat kurangnya pemahaman mereka atas al-Qur‟an. Karena itulah dalam Tafsir MTA, ayat-ayat yang berkaitan dengan terma-terma yang menjadi konsentrasi bidang jihadnya atau terkait dengan upaya untuk menghilangkan praktek kemusyrikan pada masyarakat selalu dikaji secara panjang lebar. Di antaranya adalah saat menafsirkan kalimat
اًداَدْنَأ ِهَّلِل اوُلَعَْتَ َلََف
pada surah al-Baqarah ayat 22 yang pembahasannya sampai 10 lembar, di antaranya adalah keterangan berikut :72Perlu diterangkan dalam uraian ini apa yang dimaksud dengan menyekutukan Allah/menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah atau berbuat musyrik, yaitu sebagai berikut:
a. ةدابعلا ىف كرشلا , mensekutukan Allah dalam ibadah. Maksudnya, merasa dirinya sebagai hamba kepada selain Allah, sehingga mereka yang berkeadaan demikian itu melakukan upacara-upacara yang bersifat keagamaan yang diatur oleh jenis kepercayaan yang dianggap Tuhan selain Allah. Misalnya : seseorang percaya bahwa suatu kuburan itu keramat atau mulia, sehingga apabila ia memasuki kuburan itu harus melakukan gerak langkah atau ucapan-ucapan tertentu sesuai dengan anggapan bahwa kuburan itu keramat/mulia, dan langsung mempengaruhi kehidupan orang yang menziarahinya. Orang semacam itu sangat takut melanggar tata cara ziarah kubur itu, karena akan membawa suatu malapetaka terhadap orang yang melanggarnya. Contoh di atas bisa diqiyaskan dengan yang lain-lain. b. تناعتسلإا ىف كرشلا , menyekutukan Allah dalam memohon pertolongan.
Isti‟anah (memohon pertolongan) yang dimaksud ialah memohon pertolongan kepada selain Allah, padahal pertolongan itu hanya dapat diberikan oleh Allah. Misalnya: mohon dipanjangkan umurnya,
172
mohon diberi keselamatan, mohon mendapat kelancaran rezqi, mohon terhindar dari malapetaka dan sebagainya. Menyekutukan Allah dalam isti‟anah ialah orang yang memohon pertolongan kepada selain Allah. Dijelaskan lagi dalam tafsir MTA tersebut bahwa yang termasuk
al-shirk fi> al-isti‘a>nah adalah apabila ada seseorang yang ingin laris
dagangannya, maju dan banyak keuntungannya, lalu pergi ke suatu gunung atau ke suatu kuburan atau ke tempat-tempat lain dengan tujuan agar cita-citanya tersebut berhasil. Semua contoh yang dipaparkan ini sesungguhnya adalah praktek-praktek yang menurut MTA harus diberantas dan selalu didengung-dengungkan dalam setiap pengajiannya; sebagaimana juga saat memberikan contoh perbuatan yang termasuk dalam al-shirk fi> al-‘iba>dah di atas dengan praktek memasuki kuburan menggunakan ritual bacaan atau
laku (perbuatan) tertentu.
Lebih lanjut dijelaskan lagi bahwa al-shirk fi> al-isti‘a>nah ini juga meliputi ماكحلأا ىف كرشلا , ثاذلا ىف كرشلا dan ثافصلا ىف كرشلا . Al-shirk fi>
al-ah}ka>m terjadi ketika seseorang menganggap bahwa hukum ciptaan manusia
(hukum wad}‘i>) lebih baik atau lebih sempurna daripada hukum-hukum Allah, karena tindakan itu berarti menyekutukan Allah dalam hukum. Al-shirk
fi> al-dha>t adalah keadaan di mana seseorang menganggap bahwa Allah itu
tidak tunggal atau menganggap selain Allah ada Tuhan lagi. Al-shirk fi>
al-s}ifa>t adalah apabila seseorang menganggap adanya makhluk yang
mempunyai sifat seperti sifat Allah sepenuhnya, karena tidak ada satupun yang menyamaiNya.73 Terma-terma yang berkaitan dengan shirk adalah terma yang
73 Lihat: Ibid, 127-129.
173
amat lekat dengan MTA, karena salah satu missi pendiriannya adalah memberantas praktek syirik di masyarakat.
Hal lain yang menjadi perhatian MTA adalah kepercayaan umat Islam tentang adanya syafaat Rasu>l Alla>h SAW. Dalam masalah syafaat yang ada dalam surah al-Baqarah ayat 48 ini Tafsir MTA Jilid II menguraikannya secara panjang lebar hingga 29 halaman; mulai dari halaman 50 hingga halaman 79. Dinyatakan dalam tafsirnya, mereka sepakat tentang adanya syafaat Nabi, hanya tidak seperti yang banyak diyakini oleh masyarakat kebanyakan. Menurut MTA, menyampaikan perintah dan hidayah itulah syafaat Nabi Muhammad, karena pokok syafaat adalah ilmu, pertengahannya adalah amalan, hingga akhirnya akan beroleh kemenangan dan pangkat yang tinggi di akhirat.74 Pernyataan ini, menurut Tafsir MTA, menolak keyakinan Ahlus Sunnah sebagaimana dinyatakan T}ant}awi dalam tafsirnya yang juga disitir oleh Tafsir MTA.75 Dikatakan oleh T}ant}awi> bahwa menurut Ahl al-Sunnah (al-Sha>fi‟i>n), orang-orang yang sepatutnya akan disiksa bisa terlepas dari siksaan dengan jalan diberi shafaat saat hari kiamat di padang mahsyar nanti, sehingga mereka tidak masuk neraka. Kalaupun mereka masuk neraka, mereka bisa mendapat shafaat hingga keluar darinya dan akhirnya masuk surga.
Keterangan tentang shafa‟at juga dikemukakan dalam uraian tafsir surah al-Baqarah ayat 80-82, meski dalam ayat tersebut tidak secara tersurat menyebut lafaz} shafa>at:
74 Ibid, Jilid II, 58; 61.
75 Lihat: Muh}ammad Sayyid T}ant}a>wi>, al-Tafsi>r al-Wasi>t} li al-Qur’a>n al-Kari>m, Jilid I, Cet. I (Kairo:Da>r Nahd}ah Mis}r li al-T}aba>„ah wa al-Nashr wa al-Tauzi>„, 1997), 119 ; MTA, Tafsir al-Qur‟an, 53.
174
Kita kaum Muslimin jangan sama mempunyai kepercayaan seperti kaum Yahudi, yaitu tidak akan masuk dalam neraka untuk menerima siksaan Allah kecuali hanya beberapa hari saja atau dalam waktu yang sebentar saja. Kaum Yahudi sama takabur, merasa dirinya tergolong umat yang dicintai oleh Allah atau membangga-banggakan bahwa akan mendapat syafaat dari leluhurnya yang sama mempunyai pangkat di hadapan Allah (seperti Rasul-Rasul dan Nabi-Nabi). Jika ada yang mempunyai kepercayaan yang demikian itu, meskipun mengaku Muslimin, sebenarnya tidak berbeda keadaannya dengan kaum Yahudi, meniru sifat dan perbuatan kaum Yahudi yang sudah tersesat dari jalan yang lurus. Jika kita kaum Muslimin benar-benar ingin terhindar dari siksa neraka dan ingin menjadi golongan orang yang bertempat di surga jangan sampai membohongi diri kita sendiri sebab terkecoh oleh ucapan kosong akan memperoleh syafaat si fulan dan si fulan.... Kita harus iman sungguh-sungguh dan melakukan amal perbuatan yang menjadi kehendak Allah (yang diridloiNya).76
Dari pemaparan di atas tampak bahwa Tafsir MTA berusaha untuk mengaitkan penafsiran ayat-ayat al-Qur‟an dengan terma-terma yang menjadi fokus perjuangannya, sehingga pembahasannya selalu panjang lebar dalam masalah-masalah tersebut. Sementara ayat-ayat yang tidak terkait secara langsung maupun tidak langsung dengan missinya hanya ditafsirkan secukupnya bahkan cenderung pendek penjelasannya. Dalam tafsir yang lain seperti tafsir al-Misbah hanya menguraikannya sebanyak tiga lembar.77 Begitu juga dengan al-Kashsha>f;78 apalagi dalam al-Ibri>z karya Bishri Mus}t}afa>
76 MTA, Tafsir al-Qur’an, Jilid II, 187-188.
77
Lihat: Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, Vol. I, Cet IV (Jakarta: Lentera Hati, 2005), 122-125; 186-189.
78 Lihat: Mah}mu>d bin „Umar bin Muh}ammad al-Zamakhshari>, al-Kashsha>f, Juz I, Cet. I (Beirut: Da>r al-Kutub al-„Ilmiyyah, 1995 M/1415 H), 99-102; 134.
175
yang cuma ditafsiri dengan beberapa kalimat.79 Bahkan di al-Mana>r sendiripun juga tidak sampai lima lembar penjelasannya.80
Dari uraian di atas bisa disimpulkan bahwa Tafsir MTA bercorak teologis ideologis, di mana nalar tafsirnya berkutat pada problem kemanusiaan yang berkaitan dengan masalah-masalah ideologis, bukan problem-problem kemanusiaan riil. Tafsir ideologis berkonsentrasi pada pengukuhan atas paham, aliran dan madzhab tertentu baik dalam konteks fikih, teologi maupun tasawuf dan secara tendensius membela aliran dan keyakinan tertentu. Pada Tafsir
MTA, ia berusaha untuk mengukuhkan faham yang menolak pengertian shafaat
sebagai pertolongan yang bisa membebaskan seseorang dari neraka atau meringankan hukuman seseorang di hari kiamat kelak. Juga faham yang menolak berbagai praktek keagamaan di masyarakat yang dianggap sebagai bid‟ah bahkan dianggap syirik. Nuansa atau corak ideologis ini akan semakin tampak pada saat menjabarkan ayat-ayat hukum yang akan dipaparkan lebih lanjut pada sub bab pendekatan tafsir.