• Tidak ada hasil yang ditemukan

POSISI PENELITIAN

I. Sistematika Pembahasan

4. Pemahaman Keberagamaan dan Ideologi Tafsir

114

Dalam konteks Indonesia, Muhammadiyah dengan gerakan spiritualis anti madhhab dan pembersihan praktek keagamaan umat dari TBC ( takhayyul, bid‟ah dan churafat) sering dianggap sebagai kelompok puritan yang memiliki akar pada Salafisme. Hanya saja sebagaimana dikatakan oleh Azra, Muhammadiyah agak berbeda dengan arus reformisme atau kebangkitan Islam lainnya yang cenderung radikal dan kaku dalam ideologi Salafiyah. Muhammadiyah cenderung bersifat lentur, moderat atau bercorak Salafiyyah Wasat}iyyah yang tidak terlalu kental dengan corak gerakan Timur Tengah.195 Apalagi sebagaimana disinggung sebelumnya bahwa penelitian Mulkan membuktikan jika dalam Muhammadiyah ternyata juga memiliki unsur kelompok yang bisa dikategorikan sebagai kaum tradisionalis, bahkan juga sinkretis.196 Itulah sebabnya, meski puritan warga Muhammadiyah nyaris tidak pernah bentrok secara fisik dengan kelompok-kelompok tradisionalis.

4. Pemahaman Keberagamaan dan Ideologi Tafsir

Pengertian ideologi tafsir di sini adalah manipulasi politis terhadap makna teks atau adanya bias, kepentingan, orientasi dan tujuan-tujuan politis pragmatis serta keagamaan dalam sebuah karya tafsir. Masalah ini biasanya bermuara pada adanya kepentingan tertentu untuk melindungi kelompoknya atau pemahaman keberagamaannya saat berhadapan dengan pemahaman lain. Tafsir sebagai metode pembacaan kitab suci menjadikan teks kitab suci sebagai pusat sekaligus pemegang otoritas yang berkuasa dalam menentukan suatu paradigma. Bahkan juga dalam penyelesaian problem-problem kehidupan masyarakat;

195 Azyumardi Azra, Republika, 3 Oktober 2005, 2.

196 Munir Mulkhan, Islam Murni Dalam Masyarakat Petani (Yogyakarta : Yayasan Bentang Budaya, 2000), 2.

115

problem sosial, politik, ekonomi, kemanusiaan, dan lain-lain. Kerangka berpikirnya bersifat deduktif yang berpangkal pada teks. Realitas haruslah sesuai dan tunduk kepada teks. Inilah yang kemudian oleh Nas}r H}a>mid Abu> Zayd disebut dengan h}ad}arah al-nas}s},197 sedang Muh}ammad „A>bid al-Jabiri menyebutnya dengan al-‘aql al-bayani.198

Dalam atmosfer peradaban teks itulah sejarah perkembangan tafsir secara umum setidaknya berkisar pada dua arah pokok :199 Pertama, nalar tafsir

teosentris, yaitu penafsiran kitab suci yang dominan memusatkan diri pada

tema-tema ketuhanan. Tuhan harus disucikan, diagungkan dan dibela. Maka, ketika berbicara mengenai keadilan, maka keadilan yang dimaksud adalah keadilan Tuhan. Ketika berbicara soal kasih sayang, maka konteksnya selalu ditarik dalam pengertian kasih sayang Tuhan. Begitu pula ketika berbicara soal kekuasaan dan kebebasan, maka yang muncul adalah kekuasaan dan kebebasan Tuhan. Begitu seterusnya. Dalam konteks nalar tafsir yang demikian, Tuhan telah diletakkan sebagai subyek yang tampak dirundung banyak masalah, sehingga harus dibela dan diperjuangkan dalam kehidupan umat manusia. Para mufasir dengan segala

197

Menurut Nas}r H}a>mid Abu> Zayd, peradaban dunia dapat diandaikan dalam tiga kategori;

h}ad}arah ma> ba‘da al-mawt seperti pada peradaban Mesir kuno, h}ad}arah al-‘aql

sebagaimana pada peradaban Yunani dan h}ad}arah al-nas}s} sebagaimana pada peradaban Arab-Islam. Lihat: Nas}r H}a>mid Abu> Zayd, Mafhu>m al-Nas}s} Dira>sah fi> ‘Ulu>m al-Qur’a>n (Beirut: Markaz al-Thaqafi> al-„Arabi>, 1994), 9. Di sisi lain H}asan H}anafi menyatakan bahwa peradaban Arab-Islam terdahulu adalah peradaban yang cenderung bersifat teosentrique, sedang peradaban Barat cenderung antroposentrique. Lihat: H}asan H}anafi, Dira>sah Isla>miyah (Kairo: Maktab al-Anglo Mis}riyah, t.th.), 279-280.

198

Bayani adalah metode pemikiran yang didasarkan atas otoritas teks atau nas}s}. Lihat: Muh}ammad „A>bid Ja>biry>, Bunyah ‘Aql ‘Araby, (Beirut: Markaz Thaqafi> „Arabi>, 1993), 36; Ja>biry>, Takwi>n ‘Aql ‘Araby, Cet. IV (Beirut: Markaz al-Thaqafi> al-„Arabi>, 1991), 17-29.

199

Masdar F. Mas‟udi, “Rekonstruksi Al-Qur‟an di Indonesia”, Makalah, dipresentasikan dalam acara Semiloka FKMTHI di gedung PUSDIKLAT Muslimat NU, Pondok Cabe, Jakarta Selatan, 2003, 4.

116

kemampuannya tampil untuk membela-Nya. Akibatnya permasalahan

kemanusiaan yang tampak riil dihadapi oleh masyarakat justru menjadi terabaikan karena disibukkan dengan pembicaraan tentang eksistensi Tuhan; Ia bisa dilihat di surga kelak atau tidak, Ia punya tangan atau tidak dan sebagainya. Inilah yang mendominasi pemikiran tafsir pada periode klasik. Kedua, nalar tafsir ideologis,

yaitu nalar tafsir yang berkutat pada problem-problem kemanusiaan yang berkaitan dengan masalah-masalah ideologis, bukan problem-problem kemanusiaan riil. Tafsir ini berkonsentrasi pada pengukuhan atas paham, aliran dan madzhab tertentu baik dalam konteks fikih, teologi maupun tasawuf. Nalar tafsir ini secara tendensius membela aliran dan keyakinan tertentu, sehingga muncullah kemudian yang dinamakan dengan tafsir Sunni, Shi‟iy, Mu‟tazilah, maupun tafsir-tafsir madhhab tertentu.200

Nas}r H}amid Abu> Zaid mengingatkan dan mengkritik keras bentuk-bentuk tafsir ideologis, karena secara epistemologis tidak mempunyai dasar pijak pada teks al-Qur‟an itu sendiri.201 Itulah sebabnya dalam masalah penafsiran, ia tidak menghadapkan objektivitas dengan subjektivitas sebagaimana biasanya, tapi ia justru menghadapkan objektivitas dengan kecenderungan ideologis, yang bisa jadi telah tersusupkan atau disusupkan secara tersembunyi dalam suatu tafsir. Adanya kecenderungan ideologis ini pada akhirnya akan memunculkan otoritarianisme tafsir, karena adanya anggapan bahwa tafsir merekalah yang paling benar. Otoritarianisme adalah istilah yang diberikan oleh

200 Lihat: Fahd Ibn ‟Abd Rahma>n ibn Sulaima>n Ru>m, Ittija>ha>t Tafsi>r f>î Qarn

al-Ra>bi’ ‘Asyr (Riya>d}: Maktabah Rushd, 2002), jilid I; Islah Gusmian, “Metodologi Penafsiran

Emansipatoris: Ilmu Sosial sebagai Alat Analisis Teks Kitab Suci”, Makalah, dipresentasikan dalam acara Annual Conference Kajian Islam 2006 yang diselenggarakan oleh Departemen Agama RI di Lembang Bandung, 26-30 November 2006, 4-5.

201 Nas}rr H}amid Abu> Zaid, Nas}s} S}ult}ah H}aqi>qah, (Beirut: Markaz al-Thaqafi> al-„Arabi>, 1995), 99.

117

Kha}led Abou el-Fad}l202 atas sikap kaku seseorang dalam memahami dan menginterpretasikan teks-teks (al-Qur‟an dan al-H}adi>th) serta melakukan monopoli dan klaim atas makna teks. Lebih dari itu mereka bahkan berbicara, bersikap dan bertindak mengatasnamakan Tuhan, meski mereka tidak ingin dianggap sebagai Tuhan.203

Pemikiran Abou el-Fad}l tentang otoritarianisme di atas dipicu oleh fatwa-fatwa yang dikeluarkan oleh CRLO (Council for Scientific Research and Legal Opinion) khususnya fatwa-fatwa tentang kehidupan kaum Muslimah di Arab Saudi atau fatwa-fatwa bias gender seperti larangan mengemudi bagi wanita, keharusan didampingi mahram saat bepergian dan lain-lain.204 Seorang pembaca yang subyektif bisa dipastikan akan melakukan kesalahan atau kecurangan penafsiran.205 Kondisi ini oleh Abou el-Fad}l digambarkan bahwa ketika seorang pembaca berinteraksi dengan teks dan mengambil sebuah hukum dari teks maka seorang pembaca akan berpeluang berada dalam situasi menyatu dengan teks atau menjadi perwujudan eksklusif dari sebuah teks. Akibatnya teks dan konstruksi pembaca akan menjadi satu dan serupa. Pada proses ini teks akan tunduk kepada pembaca dan secara efektif pembaca akan menjelma sebagai pengganti teks. Jika

202 Khaled Abou el-Fad}l adalah guru besar di UCLA School of Law Amerika Serikat. Ia lahir di Kuwait pada tahun 1963 dan menghabiskan waktu kecil hingga remajanya di Kuwait dan Mesir. Saat remaja ia kental dengan faham puritan (Wahabi) hingga akhirnya bertransformasi menjadi orang yang berfikiran terbuka setelah berguru pada seseorang yang berpengetahuan luas atas rekomendasi ayahnya (ia tidak menyebut namanya). Setelah itu ia melanjutkan pendidikannya di Yale, Universitas Pennsylvania dan Princeton. Lihat:

http://www.voaindonesia.com/content/a-32-a-2002-08-01-11-1-85065932/5883.html;

http://scholarofthehouse.stores.yahoo.net/abdrabelfad.html.

203 Khaled Abou el-Fad}l, Speaking in God’s Name : Islamic, Law, Authority and Women (England: Oneword Publication, 2003), 98.

204

CRLO adalah lembaga resmi di Arab Saudi yang bertugas untuk mengeluarkan fatwa-fatwa yang dianggap merepresentasikan kehendak Tuhan mengenai problem-problem kontemporer yang dihadapi umat Islam. Lihat: Abou el-Fad}l, Ibid.

118

pembaca telah memilih pembacaan tertentu atas sebuah teks sesuai dengan pemahaman keberagamaan yang ia yakini dan menutup cara pembacaan lain maka pembacaan akan menjadi tertutup, tidak efektif, tidak tersentuh, melangit dan otoriter.206 Pada kondisi ini pembaca akan melakukan klaim kebenaran sebagai satu-satunya penafsiran teks yang paling benar.

Penutupan atas interpretasi teks pada dasarnya adalah salah satu bentuk kesombongan intelektual, karena pembaca telah menyandingkan pengetahuannya dengan teks aslinya. Jika teks tersebut adalah al-Qur‟an, maka berarti ia telah menyandingkan pengetahuannya dengan pengetahuan Tuhan. Pada situasi ini maka teks asli menjadi kehilangan otonominya, karena pemaknaannya bergantung kepada pihak lain yang melakukan klaim.207

206 Abou el-Fad}l, Melawan Tentara Tuhan: Yang Berwenang Dan Yang Sewenang-wenang

Dalam Islam, Terj. Kurniawan Abdullah (Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta, 2003), 95-103. 207 Abou el-Fad}l, Speaking, 7.

117

BAB III DESKRIPSI