• Tidak ada hasil yang ditemukan

POSISI PENELITIAN

I. Sistematika Pembahasan

2. Tipologi Pemahaman Keberagamaan

101

yang dilakukannya. Bagi mereka, masjid bukan hanya tempat ibadah, tapi juga tempat transformasi masyarakat sebagaimana halnya dengan madrasah.

2. Tipologi Pemahaman Keberagamaan

Dalam penelitian agama-agama, terdapat beragam pengelompokan pandangan atau pemahaman keberagamaan. Ada yang mengelompokkan menjadi tiga tipe; yaitu eksklusivisme, inklusivisme dan pluralisme-paralelisme,161 sebagaimana juga yang dilakukan oleh Nurcholis Majid yang membagi pemahaman keberagamaan ummat Islam dalam tiga golongan besar: beragama secara eksklusif, beragama secara inklusif dan beragama secara pluralis.162 Ada pula yang mengelompokkan menjadi 5 tipe, yaitu eksklusivisme, inklusivisme, pluralisme, elektivisme dan universalisme. Pengelompokan ini berlaku secara umum; artinya tidak hanya berlaku dalam komunitas umat Islam saja tapi juga berlaku dalam komunitas agama-agama lain. Pengelompokan tipologinya tidak berlaku kaku dan saling terputus, tapi hanya merupakan sikap yang paling menonjol. Konteks dari pengelompokan ini adalah dalam konteks umat beragama tertentu vis a vis kelompok pemeluk agama lain yang berbeda. Meski demikian tidak tertutup kemungkinan klasifikasi tersebut diterapkan pula dalam intern agama tertentu yang di dalamnya juga terpecah dalam kelompok-kelompok pemahaman keberagamaan yang beragam. Berikut adalah istilah-istilah yang muncul dalam pengelompokan tipologi pemahaman keberagamaan :

a. Eksklusivisme

161 Alwi Shihab, Islam Inklusif, Menuju Sikap Terbuka dalam Beragama, (Bandung: Mizan, 1997), 41.

162 Nurcholis Madjid, “Dialog Di Antara Ahli Kitab: Sebuah Pengantar “, kata pengantar untuk George B. Grose and Benjamin J Hubbard (Ed), Tiga Agama Satu Tuhan: Sebuah Dialog, terj. Santi Inra Astuti (Bandung: Mizan, 1998 ), XIX.

102

Adalah kelompok yang memandang kelompok agama lain sebagai sesuatu yang salah dan sesat, sedang agamanya adalah satu-satunya jalan keselamatan.163 Tidak ada ajaran yang benar kecuali ajaran agamanya. Oleh karena itu dalam pandangan mereka pemeluk agama lain adalah orang-orang yang dilaknat oleh Tuhan. Sikap ini ditopang oleh pembacaan tekstual terhadap literatur-literatur agama dengan pembacaan yang sempit atas doktrin-doktrin keagamaan yang ada dalam kitab suci. Dalam agama Islam, justifikasi dari sikap ini adalah su>rah al-Ma>idah ayat 3 dan su>rah A>li „Imra>n ayat 85:

َْتَْأَو ْمُكَنيِد ْمُكَل ُتْلَمْكَأ َمْوَ يْلا ِنْوَشْخاَو ْمُىْوَشَْتَ َلََف ْمُكِنيِد ْنِم اوُرَفَك َنيِذالا َسِئَي َمْوَ يْلا

ُتْم

اًنيِد َم َلَْسِْلإا ُمُكَل ُتيِضَرَو ِتَِمْعِن ْمُكْيَلَع

Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.164

َنيِرِساَْلْا َنِم ِةَرِخ ْلآا ِفِ َوُىَو ُوْنِم َلَبْقُ ي ْنَلَ ف اًنيِد ِم َلَْسِْلإا َرْ يَغ ِغَتْبَ ي ْنَمَو

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.165

Dalam agama Kristen sikap eksklusivisme terwujud dari keyakinan bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan keselamatan. Ini juga berakar dari pemahaman ayat-ayat dalam kitab suci mereka, di antaranya adalah:

163

Ibid.

164

Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, 183-184.

103

Kata Yesus kepadanya : “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yohanes: 14:6)166

Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.167

Pembacaan teks kitab suci dengan pembacaan secara tekstual yang cenderung sempit dan kaku pada kelompok eksklusivisme ini pada akhirnya membuat kelompok ini seringkali juga disebut sebagai kaum fundamentalis. Dalam tradisi pemikiran teologi keagamaan, fundamentalisme merupakan gerakan untuk mengembalikan seluruh perilaku dalam tatanan kehidupan umat Islam kepada al-Qur‟an dan al-H}adi>th dengan memaknainya secara harfiah dan sempit. Fundamentalis terkadang juga menunjuk kepada kelompok revialis Islam yang identik dengan sikap statisme, jumud dan menentang penyesuaian dan perkembangan. Sikap ini disebabkan karena mereka terikat dengan tradisi masa lalu yang bagi mereka dianggap sebagai yang terbaik. Berangkat dari keyakinan ini, biasanya kaum fundamentalis bersikap tertutup dan intoleransi kepada kelompok atau umat lain yang berbeda. Namun bagi Karen Amstrong, kaum fundamentalis bukanlah kaum tradisionalis; mereka justru merupakan kaum modernis sejati; hanya saja mereka melakukan pembacaan harfiah atas teks-teks suci akibat adanya dominasi rasional atas kesadaran mistis yang berkembang seiring dengan berkembangnya modernisasi.168 Model keberagamaan ini muncul antara lain disebabkan oleh ketidak mampuan dalam memilah antara agama

166 Lembaga Alkitab Indonesia, “Deuterokanonika (Perjanjian Baru)” dalam Alkitab, Cet. IV (Jakarta: Percetakan Lembaga Alkitab Indonesia, 1997), 141.

167

Ibid, 157.

168 Lihat: Karen Amstrong, Berperang Demi Tuhan, terj. Rahmani Astuti (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2001), 79.

104

normatif dan agama historis.

b. Inklusivisme

Merupakan tipologi bagi mereka yang mempunyai sikap beragama lebih terbuka serta mengakui dan memahami eksistensi keanekaragaman teologis. Bagi mereka, di luar agamanya ada kebenaran, meski tidak sesempurna agama yang dianutnya. Terdapat dua macam kelompok inklusif; inklusivisme monistik dan inklusivisme pluralisme. Dalam inklusivisme monistik diyakini bahwa kebenaran bukanlah milik agama tertentu secara eksklusif, tapi juga dimiliki oleh agama-agama lain. Hanya saja posisi agama lain di sini adalah anonim. Di antara tokoh yang mendukung eksistensi kelompok ini adalah Diogness Allen dan Karel Rehner.169 Pada tipologi ini, mereka bisa mempertahankan keyakinannya dan menghubungkannya dengan dunia luar tanpa harus mengorbankan prinsip

al-Isla>m ya’lu> wa la> yu’la> ‘alaih dalam Islam atau solus Christus dalam

Kristen. Sementara inklusivisme pluralisme meyakini bahwa ada kebenaran di luar agama yang dianutnya, di mana agama lain tersebut tidaklah berada pada posisi anonim. Salah satu tokoh dari kelompok ini adalah Schubert Ogden.

Dalam Islam, kelompok inklusif inipun mempunyai landasan normatif, yakni dalam al-Baqarah ayat 256, al-Nah}l ayat 36 dan al-Ra‟d ayat 7:

ا ِدَقَ ف ِواللاِب ْنِمْؤُ يَو ِتوُغااطلاِب ْرُفْكَي ْنَمَف ِّيَغْلا َنِم ُدْشُّرلا َاينَ بَ ت ْدَق ِنيِّدلا ِفِ َهاَرْكِإ َلَ

َكَسْمَتْس

َو اََلَ َماَصِفْنا َلَ ىَقْ ثُوْلا ِةَوْرُعْلاِب

ٌميِلَع ٌعيَِسَ ُواللا

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah

169 Munawwiruzzaman, “Inklusivisme Monistik, Sebuah Sikap Keberagamaan” dalam Kompas, 2 Desember 1997

105

jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.170

ُواللا ىَدَى ْنَم ْمُهْ نِمَف َتوُغااطلا اوُبِنَتْجاَو َواللا اوُدُبْعا ِنَأ ًلَوُسَر ٍةامُأ ِّلُك ِفِ اَنْ ثَعَ ب ْدَقَلَو

ْنَم ْمُهْ نِمَو

َع ْتاقَح

َينِبِّذَكُمْلا ُةَبِقاَع َناَك َفْيَك اوُرُظْناَف ِضْرَْلْا ِفِ اوُيرِسَف ُةَل َلَاضلا ِوْيَل

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).171

ِذالا ُلوُقَ يَو

ٍداَى ٍمْوَ ق ِّلُكِلَو ٌرِذْنُم َتْنَأ اَانَِّإ ِوِّبَر ْنِم ٌةَيآ ِوْيَلَع َلِزْنُأ َلَْوَل اوُرَفَك َني

Orang-orang yang kafir berkata: "Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) suatu tanda (kebesaran) dari Tuhannya?" Sesungguhnya kamu hanyalah seorang pemberi peringatan; dan bagi tiap-tiap kaum ada orang yang memberi petunjuk.172

c. Pluralistik

Tipologi pluralistik memandang semua agama adalah jalan yang sama-sama sah untuk menuju Tuhan. Tidak ada agama yang lebih superior dibanding yang lain.173 Agama pada dasarnya merupakan ekspresi terhadap Tuhan yang sama. Jika diibaratkan dengan roda, maka pusat roda itu adalah Tuhan, sementara jari-jarinya adalah jalan dari berbagai agama. Satu agama berbeda

170 Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, 68.

171 Ibid, 478.

172

Ibid, 436.

173 Lihat: Alister E. Mc Grath, Christian Theology: an Introduction, (Oxford: Blackwell Publisher, 1994), 58-459; Daniel B. Clendenin, Many Gods Many Lords: Christianity Enounters World

106

dengan agama lain dalam level eksoterisnya tapi sama dalam level esoterisnya.174 Hanya saja terdapat pandangan yang membedakan antara pluralistik dan pluralisme. Pluralistik yang berasal dari kata plural memberi gambaran pada keanekaragaman, yaitu suatu pengakuan bahwa alam semesta berada dalam keanekaragaman. Dengan demikian komunitas pluralistik adalah komunitas di mana setiap orang bisa secara bebas dan sah mempunyai pandangan beragam yang saling bersaing dan bebas memilih apa yang diyakininya.