• Tidak ada hasil yang ditemukan

POSISI PENELITIAN

I. Sistematika Pembahasan

3. Pengertian dan Macam-Macam al-As}i>l

55

o Menguasai Bahasa Arab, ilmu Qira>‟a>t, us}u>l fiq, us}u>l tafsi>r, asba>b al-nuzu>l, na>sikh mansu>kh dan lain-lain. o Pemahaman yang dalam dan kuat b. Segi Kepribadian/adab mufassir.

1. Mempunyai niatan baik dan bertujuan benar. 2. Berakhlak baik.

3. Taat dan beramal shaleh.

4. Jujur dan teliti dalam penukilan. 5. Tawa>d}u„.

6. Berjiwa mulia, tidak mencari muka pada para penguasa.

7. Berani menyampaikan kebenaran. 8. Menjaga penampilan dan berwibawa.

9. Bersikap tenang dan setiap kalimat yang diucapkannya senantiasa teratur.

10. Mendahulukan orang yang lebih utama.

Hingga saat ini berbagai persyaratan tersebut masih tetap diperlukan, baik kualifikasi intelektual maupun kualifikasi moral agar para penafsir al-Qur‟an tidak jatuh dalam kesalahan penafsiran serta tidak menafsirkan al-Qur‟an sesuai dengan hawa nafsunya, seperti melakukan manipulasi politis terhadap makna teks, adanya bias dalam penafsiran, kepentingan atau fanatisme madhhab serta adanya orientasi dan tujuan politis pragmatis tertentu dalam sebuah karya tafsir.

3. Pengertian dan Macam-Macam al-As}i>l

Dalam Lisa}n al-‘Arab disebutkan bahwa kata al-as}i>l berakar dari kata

as}l yang berarti bagian bawah dari segala sesuatu ( asfala kulla shay’). Apabila

dikatakan as}i>lu rajulin maka bermakna seseorang yang memiliki pemikiran dan logika yang kuat ( innahu> as}i>l al-ra’y wa al-‘aql ).28 Secara bahasa

al-as}i>l juga berarti apa yang disandarkan keberadaannya kepadanya.29 Dalam

28 Muh}ammad Ibn Mukrim Ibn Manzur al-Misri, Lisa>n al-Arab (Riya>d: MS, t.th.), XI, 16.

29 Ah}mad bin Muh}ammad bin „Ali> al-Fayu>mi> Abu> al-„Abba>s, al-Mis}ba>h} al-Muni>r

56

istilah tafsir, al-as}i>l adalah tafsir yang berlandaskan kepada Kitabullah, Sunnah Rasul, pendapat Sahabat, pendapat Tabi'in atau berdasarkan pemikiran yang sesuai dengan kaidah bahasa Arab dan kaidah shari'ah.30 Pengertian ini menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan al-as}i>l fi> tafsi}r bukan hanya meliputi tafsir bi al-ma’thu}>r atau bi al-manqu}>l saja, tetapi juga mencakup tafsir yang menggunakan metode bi al-ma‘qu}>l>. Dengan demikian al-as}i>l

fi> tafsi>r terdiri atas dua macam, yaitu al-as}l fi> al-naql atau fi> al-ma’thu>r

dan al-as}i>l fi al-ra’y.

Yang termasuk dalam al-as}l fi> al-naql adalah sebagai berikut: a. Menafsirkan al-Qur‟an dengan al-Qur‟an

Kitab suci al-Qur‟an adalah kala>m Alla>h atau firman Allah. Dengan demikian yang paling tahu tentang maksud yang dikehendaki oleh suatu ayat dalam al-Qur‟an adalah Allah sendiri selaku pemilik kala>m. Karena itulah maka sumber pertama dan utama yang menjadi rujukan bagi tafsir Qur‟an adalah al-Qur‟an itu sendiri.31

Jika dalam suatu tempat ayat al-Qur‟an menjelaskan sesuatu secara global, bisa jadi di tempat lain al-Qur‟an menjelaskannya dengan terperinci. Jika di tempat lain terdapat sesuatu yang masih mubham32, bisa jadi di

30 Muh}mmad Sa‟i>d Muh}ammad „At}iyyah „Ira>m (ed.), al-Sabi>l ila> Ma’rifah al-As}i>l wa

al-Dakhi>l fi> al-Tafsi>r, Cet. I (t.t.: t.p, 1998 ), 45; Jama>l Mus}t}afa „Abd al-H}ami>d „Abd

Wahha>b Najja>r, Us}u>l Dakhi>l Fi> Tafsi>r ay Tanzi>l, Cet. I (t.t.: H}uqu>q al-T}ab‟ Mah}fu>d}ah li al-Muallif, 1422 H/2001 M), 24.

31 Taqy al-Di>n Abu> al-„Abba>s Ah}mad bin „Abd al-H}ali>m bin „Abd al-Sala>m bin „Abd Allah bin Abi> al-Qa>sim bin Muh}ammad Ibn Taymiyyah, Mukaddimah fi> Us}u>l al-Tafsi>r, (Beirut: Da<r Maktabah al-H}aya>h, 1980 M/ 1490 H)), 39.

32

Mubham adalah sesuatu yang sulit ditemukan atau sulit dimengerti karena tidak ada gambaran secara spesifik mengenainya serta tidak mempunyai batasan-batasan tertentu dari apa yang dimaksudkan. Lihat: Ibrahim Mus}t}afa, Ah}mad al-Ziyat, H}a>mid /abd al-Qa>dir dan Muh}ammad al-Najja>r, al-Mu‘jam al-Wasi>t}, Jilid I (Kairo: Da>r al-Da‟wah), 74. Dalam istilah „ulu>m al-Qur‟an, mubham adalah semua lafal dalam al-Qur‟an yang tidak memberi penjelasan spesifik tentang apa, siapa, kapan atau berapa jumlahnya; seperti nama-nama para

57

tempat lain akan dijelaskan secara terang. Begitu juga jika terdapat ayat yang berredaksi umum ( ‘a>mm)33, bisa jadi akan ditakhs}i>s}34 di ayat yang lain, dan

yang mut}laq35 akan dibatasi dengan ayat yang muqayyad.36

Penafsiran al-Qur‟an dengan al-Qur‟an pernah secara langsung dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Saat itu para Sahabat resah setelah mendengar ayat yang menyatakan bahwa orang yang mendapat keamanan dan mendapat petunjuk adalah orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan keimanan dengan z}ulm. Ayat tersebut adalah su}rah al-An‟a>m ayat 82:

﴿ َنوُدَتْهُّم مُىَو ُنْمَلْا ُمَُلَ َكِئ َلْوُأ ٍمْلُظِب مُهَ ناَيمِإ ْاوُسِبْلَ ي َْلََو ْاوُنَمآ َنيِذالا

ٕٛ

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. 37

Lafal z}ulm pada ayat di atas itulah yang menjadi pangkal kebingungan Sahabat. Mereka bertanya kepada Rasulullah SAW. “Wahai Rasulullah, siapa diantara kita yang tidak menzalimi diri sendiri ?”. Nabi SAW menjawab: “Ini

as}ha>b al-Kahfi beserta masa kejadiannya, siapa yang dimaksud dengan Z}ulkarnain dalam surah al-Kahfi, siapa yang dimaksud dengan Luqma>n dalam surah Luqma>n dan lain-lain. Lihat: „Abd al-Rahma>n bin Abi> Bakr Jala>l al-Di>n al-Suyu>t}i>, al-Itqa>n fi> ‘Ulu>m al-Qur’a>n, Muhaqqiq: Muh}ammad Abu> Fad}l Ibra>hi>m, Jilid IV (Mesir: Haiah Mis}riyah al-„A>mah li al-Kita>b, 1974 M / 1394 H), 93-118.

33„A>mm adalah lafadz yang meliputi pengertian umum terhadap semua yang termasuk dalam pengertian lafadh tersebut tanpa batasan tertentu, seperti ayat : “kullu man ‘alaiha> fa>n”. Lihat:al-Suyu>t}i>, Ibid, Jilid 3, 48-50.

34 Takhs}i>s} adalah suatu lafaz} atau kalimat yang membatasi pengertian umum dari satu kalimat. Lihat: Ibid, 51-58.

35

Muthlaq secara etimologi artinya tidak terikat, sedang secara terminologi berarti lafal yang

memberi petunjuk kepada hakikat sesuatu tanpa syarat atau batasan apapun. Lihat: Ibid, 101.

36

Secara bahasa artinya sesuatu yang terikat atau yang diikatkan kepada sesuatu. Sedangkan pengertiannya secara istilah ialah suatu lafal yang menunjukkan hakikat sesuatu yang terikat dengan sesuatu. Lihat: Ibid, 101-103.

58

bukan seperti yang kalian kira. Kezaliman yang dimaksud dalam ayat ini adalah kemusyrikan. Tidakkah kalian mendengar ucapan Luqma>n kepada anaknya bahwa sesungguhnya kemusyrikan adalah kezaliman yang besar ?“.38 Yang dimaksud oleh Rasul dengan ucapan Luqma>n adalah su>rah Luqma>n ayat 13:39

﴿ ٌميِظَع ٌمْلُظَل َكْرِّشلا انِإ ِواللاِب ْكِرْشُت َلَ اَنَُ ب اَي ُوُظِعَي َوُىَو ِوِنْب ِلَ ُناَمْقُل َلاَق ْذِإَو

ٖٔ

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".40

Riwayat di atas merupakan contoh penerapan tafsir ayat yang berasal dari ayat al-Qur‟an sendiri; su}rah al-An‟a>m ayat 82 yang masih mubham atau tidak jelas diterangkan penjelasan tafsirnya oleh su>rah Luqma>n ayat 13. Metode penafsiran al-Qur‟an dengan al-Qur‟an yang termasuk dalam metode al-tafsi>r bi

al-ma’thu>r atau al-tafsi>r bi al-riwa>yah atau al-tafsi>r bi al-manqu>l.41 Ini

38 Berikut h}adi>th lengkapnya : ْنَع ،َميِىاَرْ بِإ ْنَع ،ِشَمْعَلْا ِنَع ،ٌعيِكَو اَن َ ثادَح ، َيََْيَ اَنَ ثادَحو ح ،ٌعيِكَو اَنَرَ بْخَأ ،َميِىاَرْ بِإ ُنْب ُقاَحْسِإ اَنَ ثادَح ِبْلَ ي َْلََو اوُنَمآ َنيِذالا{ :ُةَيلآا ِهِذَى ْتَلَزَ ن اامَل :َلاَق ،ُوْنَع ُواللا َيِضَر ِواللا ِدْبَع ْنَع ،َةَمَقْلَع :ماعنلْاا اوُس 28 انلا ِباَحْصَأ ىَلَع َكِلَذ اقَش ٍمْلُظِب ْمُهَ ناَيمِإ ] ُللها ىالَص ِِّبِ َل " :َمالَسَو ِوْيَلَع ُللها ىالَص ِواللا ُلوُسَر َلاَقَ ف ؟ُوَسْفَ ن ْمِلْظَي َْلَ اَنُّ يَأ :اوُلاَقَو ،َمالَسَو ِوْيَلَع انِإ ِواللاِب ْكِرْشُت َلَ اَنَُ ب اَي{ :ِوِنْب ِلَ ُناَمْقُل َلاَق اَمَك َوُى اَانَِّإ ،َنوُّنُظَت اَمَك َسْي :نامقلا َكْرِّشلا 31

ٌميِظَع ٌمْلُظَل ] Lihat: Muh}ammad bin Isma>‟i>l Abu> „Abdilla>h al-Bukha>ri> al-Ja‟fi>,

al-Ja>mi’ al-Musnad al-S}ah}i>h} al-Mukhtas}ar min Umu>r al-Rasu>l Alla>h s}alla> Alla>h ‘Alaihi wa Sallama wa Sunanuhu wa Ayya>muhu-S}ah}i>h} al-Bukha>ri>, Muhaqqiq:

Muh}ammad Zuhair bin Na>s}ir Na>s}ir, Jilid 9, No. H}adi>th : 6937 (t.t.: Da>r T}u>q al-Naja>h, 1422 H), 18.

39 Lihat: Abu> Fida>‟ Isma>‟i>l bin „Amr bin Kathi>r Qurashi> Bas}ri Thumma al-Dimashqi>, Tafsi> al-Qur’an al-‘Az}i>m, Muhaqqiq: Sa>mi> bin Muh}ammad Sala>mah, Jilid 3 (t.t.: Da>r Thayyibah li al-Nashr wa al-Tauzi>„, 1999 M/ 1420 H ), 294. Berkaitan dengan ayat ini al-T}abari> menyatakan bahwa di samping riwayat sebagaimana dinukil oleh Ibnu Kathi>r, terdapat riwayat lain tentang ayat 82 su>rah al-An‟a>m tersebut yang menyatakan bahwa ayat itu merupakan khabar dari Allah yang menceritakan dialog antara Ibrahi>m a.s. dengan ummatnya. Lihat: al-T}abari>, 494-503.

40 Depag RI, al-Qur‟an dan Terjemahnya, 654.

41

Penafsiran al-Qur‟an dengan al-Qur‟an berpedoman pada beberapa prinsip, yaitu menjelaskan ayat yang penjelasannya ringkas dengan ayat yang diuraikan secara terperinci, menjelaskan ayat yang masih belum jelas maksudnya (mubham) dengan ayat yang lebih terang maksudnya, memberikan batasan (taqyi>d) terhadap ayat atau lafad yang masih umum dan memberikan pengkhususan (takhs}i>s}) kepada ayat yang bersifat mutlak. Muh}ammad „Abd „Az}i>m

59

menurut Ibn Taymiyah (w. 728 H) merupakan metode yang paling baik.42

Di antara ayat-ayat al-Qur‟an yang dipandang menjadi tafsir bagi ayat yang lain adalah ayat-ayat berikut :

1) Su>rah al-Fa>tih}ah (QS:1) ayat 6 dengan su>rah al-Fa>tih}ah (QS:1) ayat 7 :

﴿ َميِقَتسُلما َطاَرِّصلا ا َنِدىا

ٙ

Tunjukilah kami jalan yang lurus.(QS: 1:6)43

َطاَرِص

َنيِذالا

َتمَعنَأ

ْمِهيَلَع

ِيرَغ

ِبوُضغَلما

ْمِهيَلَع

َلََو

َينِّلااضلا

﴿

ٚ

(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni`mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.44

Ibnu Kathi>r dalam tafsirnya menyatakan bahwa ayat 7 dari surah al-Fa>tih}ah tersebut merupakan penjelas bagi ayat sebelumnya, yakni ayat 6 yang berkedudukan sebagai ‘at}af baya>n ataupun sebagai badal.45

Zarqa>ni>, Mana>hil al-‘Irfa>n fi> ‘Ulu>m al-Qur’a>n, Jilid 2, Cet. III (t.t.: Mat}ba„ah „I>sa> Ba>bi> H}alabi> wa Shirka>h, t.th.), 11; Muh}ammad Sayyid H}usain Dhahabi>, al-Tafsi>r wa al-Mufassiru>n, Jilid I (Kairo: Maktabah Wahbah ), 112; Muh}ammad bin Muh}ammad bin Suwailim Abu> Shuhbah, Isra>iliyya>t wa Maud}u>’a>t fi> Kutub

al-Tafsi>r, Cet. IV, Jilid I (t.t.: Maktabah al-Sunnah), 43; al-Qat}t}a>n, Maba>h}ith, 358; Fahd bin

„Abd Rah}ma>n bin Sulaima>n Ru>mi> (ed), Dira>sa>t fi> ‘Ulu>m Qur’a>n

al-Kari>m (t.t.p: H}uqu>q al-T}ab„i Mah}fu>z}ah li al-Muallif, 2003 M/1424 H), 151; Muh}ammad

„Ali> al-Sa>yis, Tafsi>r A>ya>t al-Ah}ka>m, Muhaqqiq: Na>ji> Suwaida>n (t.t.: al-Maktabah „As}riyyah li T}aba„ah wa Nashr, 2002 M), 5; Musa>„id bin Sulaima>n bin Na>s}ir al-T}ayya>r, Mafhu>m al-Tafsi>r wa al-Ta’wi>l wa al-Istinba>t} wa al-Tadabbur wa al-Mufassir, (Saudi Arabia: Da>r Ibnu Jauzi> li al-Nashr wa al-Tauzi„, 1427 H), 19.

42 Taqi>y al-Di>n Abu> al-„Abba>s Ah}mad bin „Abd al-H}ali>m bin „Abd al-Sala>m bin „Abd Alla>h bin Abi> Qa>sim bin Muh}ammad Ibn Taymiyah H}ara>ni> H}anbali> al-Dimashqi>, Muqaddimah fi> Us}u>l al-Tafsi>r (Beirut: Da>r Maktabah al-H}aya>h, 1980 M/1490 H), 39.

43 Depag RI, al-Qur‟an dan Terjemahnya, 6.

44 Ibid.

45 Ibnu Kathi>r,Tafsi>r al-Qur’a>n al-Az}i>m, Jilid I, 140.‘At}af baya>n adalah Isim Ta>bi‘ yg

60

Zamakhshari (1070-1143 M) dalam al-Kashsha>fnya juga berpendapat demikian.46 Begitu juga dengan al-Thabari.>47

2) Su>rah al-Fa>tih}ah (QS:1:7) dengan su>rah al-Nisa>‟ (QS:4 : 68-69)

َطاَرِص

َنيِذالا

َتمَعنَأ

ْمِهيَلَع

ِيرَغ

ِبوُضغَلما

ْمِهيَلَع

َلََو

َينِّلااضلا

﴿

ٚ

(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni`mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.48

﴿ ًاميِقَتْسُّم ًاطاَرِص ْمُىاَنْ يَدََلََو

ٙٛ

ِّم مِهْيَلَع ُوّللا َمَعْ نَأ َنيِذالا َعَم َكِئ َلْوُأَف َلوُسارلاَو َوّللا ِعِطُي نَمَو ﴾

َينِّيِبانلا َن

﴿ ًاقيِفَر َكِئ َلوُأ َنُسَحَو َينِِلْااصلاَو ءاَدَهُّشلاَو َينِقيِّدِّصلاَو

ٜٙ

dan pasti Kami tunjuki mereka kepada jalan yang lurus. Dan barangsiapa yang menta`ati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni`mat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.49

Dalam ayat 7 su>rah al-Fa>tih}ah yang menjadi penjelas dari ayat 6 su>rah al-Fa>tih}ah, terdapat permintaan untuk ditunjukkan jalan yang lurus. Maka dalam ayat ini Allah menjawab bahwa Dia pasti akan menunjukkan jalan yang lurus ( ًاميِقَتْسُّم ًاطاَرِص ْمُىاَنْ يَدََلََو ).50 Menurut Shihab, sebagaimana dalam

Muh}ammad bin Ah}mad al-Afghani>, al-Mu>jaz fi> Qawa>‘id al-Lughat al-‘Arabiyyah, Bab „Atf al-Baya>n (Damaskus: Da>r al-Fikr), http://www.islamguiden.com/arabi/m_a_r_55.htm. Tanggal pengambilan: 5 Pebruari 2016.

46

Abu> al-Qa>sim Mah}mu>d bin „Amr bin Ahmad al-Zamakhshai>, al-Kashsha>f ‘An

H}aqa>iq ghawa>mid} al-Tanzi>l, Jilid I (Beirut: Da>r al-Kita>b al-„Arabi>, 1407 H), 15. 47 al-T}abari>, Ja>mi‘ al-Baya>n, 177.

48 Depag RI, al-Qur‟an dan Terjemahnya, 6.

49 Ibid, 130.

50

Lihat: Muh}ammad Rashi>d bin „Ali> Rid}a> bin Muh}ammad Shams al-Di>n bin Muh}ammad Baha>‟ al-Di>n bin „Ali> Khali>fah al-Qalmu>ni> al-H}usaini, Tafsi>r al-Qur’a>n

al-H}aki>m (Tafsi>r al-Mana>r), Jilid 5 (Mesir: al-Haiah al-Mis}riyyah al-„A>mah li al-Kita>b,

61

Fa>tih}ah, pemberian petunjuk dalam ayat 68 su>rah al-Nisa>‟ ini juga tidak disertai lafal ila>, karena pemberian petunjuk ini bukan sekedar memberitahu tapi juga mengantar manusia masuk ke dalam s}ira>t} al-mustaqi>m.51

3) Su>rah al-Baqarah (QS: 2:37) dengan su>rah al-„A‟ra>f (QS: 7:23)

﴿ ُميِحارلا ُبااوا تلا َوُى ُوانِإ ِوْيَلَع َباَتَ ف ٍتاَمِلَك ِوِّبار نِم ُمَدآ ىاقَلَ تَ ف

ٖٚ

Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.52

﴿ َنيِرِساَْلْا َنِم انَنوُكَنَل اَنَْحَْرَ تَو اَنَل ْرِفْغَ ت ْالَ نِإَو اَنَسُفنَأ اَنْمَلَظ اَنا بَر َلَاَق

ٕٖ

Keduanya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi".53

Yang dimaksud dengan “beberapa kalimat dari Tuhannya” yang diterima oleh Adam dan Hawa dalam su>rah Baqarah ayat 37 menurut al-Baid}a>wi> adalah kalimat rabbana z}alamna anfusana> wa in lam taghfir

lana> wa tarh}amna> lanaku>nanna min al-kha>siri>n sebagaimana yang

ada dalam su>rah al-A‟ra>f ayat 23.54 Ini seperti dikatakan oleh Ibn Kathi>r (1301-1373 M)

_

dalam tafsirnya berdasar atas riwayat yang berasal dari Muja>hid (21 H/642 M-104 H/722 M), Sa‟i>d bin Jubayr (w. 95 H), Abi> al-„Aliyah (w. 90 H), al-Rabi>‟ bin Anas (w. 139 H), al-H}asan (w. 121 H), Qata>dah (w. 117 H), Muh}ammad bin Ka‟ab al-Quraz}i (w. 117 H), Kha>lid

51 M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, Vol. 2 (Jakarta: Lentera Hati, 2002), 500.

52 Depag RI, al-Qur’an dan Terjemahnya, 15.

53

Ibid, 234.

54 Na>s}ir al-Di>n Abu> Sa‟i>d „Abd Allah bin „Umar bin Muh}ammad al-Shi>ra>zi>al-Baid}a>wi, Anwa>r al-Tanzi>l wa Asra>r al-Ta’wi>l, Jilid I, Cet. I, Muhaqqiq: Muh}ammad „Abd al-Rahma>n al-Mur‟ashili> (Beirut: Da>r Ih}ya>‟ al-Tura>th al-„Arabi>, 1418 H), 73.

62

bin Ma‟da>n (w. 104 H), „Atha‟ Khura>sa>ni> (w. 135 H) dan „Abd al-Rah}ma>n bin Zaid bin Aslam (182 H).55

4) Su>rah al-Ma>idah (QS: 5: 1) dengan su>rah al-Ma>idah (QS:5 :3)

َغ ْمُكْيَلَع ىَلْ تُ ي اَم الَِإ ِماَعْ نَلْا ُةَميَِبه مُكَل ْتالِحُأ ِدوُقُعْلاِب ْاوُفْوَأ ْاوُنَمآ َنيِذالا اَهُّ يَأ اَي

َرْ ي

ْمُتنَأَو ِدْياصلا يِّلُِمُ

﴿ ُديِرُي اَم ُمُكَْيَ َوّللا انِإ ٌمُرُح

ٔ

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu. Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu. (Yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya.56

َمْلاَو ُةَقِنَخْنُمْلاَو ِوِب ِوّللا ِْيرَغِل الِىُأ اَمَو ِريِزْنِْلْا ُمَْلَْو ُمادْلاَو ُةَتْيَمْلا ُمُكْيَلَع ْتَمِّرُح

َ تُمْلاَو ُةَذوُقْو

ُةَحيِطانلاَو ُةَيِّدَر

ٌقْسِف ْمُكِلَذ ِمَلَْزَلْاِب ْاوُمِسْقَ تْسَت نَأَو ِبُصُّنلا ىَلَع َحِبُذ اَمَو ْمُتْياكَذ اَم الَِإ ُعُباسلا َلَكَأ اَمَو

َنيِذالا َسِئَي َمْوَ يْلا

ُتْلَمْكَأ َمْوَ يْلا ِنْوَشْخاَو ْمُىْوَشَْتَ َلََف ْمُكِنيِد نِم ْاوُرَفَك

ُمُكَل ُتيِضَرَو ِتَِمْعِن ْمُكْيَلَع ُتْمَْتَْأَو ْمُكَنيِد ْمُكَل

﴿ ٌميِحار ٌروُفَغ َوّللا انِإَف ٍْثِِّْلإ ٍفِناَجَتُم َرْ يَغ ٍةَصَمَْمَ ِفِ ارُطْضا ِنَمَف ًانيِد َمَلَْسِلإا

ٖ

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha

55 Ibnu Kathi>r, Tafsi>r al-Qur’a>n al-Az}i>m, Jilid I, 238.

63

Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS:5:3)57

Rincian berbagai hal yang diharamkan sebagaimana dalam surat al-Ma>idah ayat 3 sesungguhnya merupakan penjelasan dan penjabaran dari kalimat

ْمُكْيَلَع ىَلْ تُ ي اَم الَِإ (

apa yang akan dibacakan) yang tercantum pada ayat 1 su>rah al-Ma>idah.58 Dengan demikian berarti semua binatang ternak halal dimakan sebagaimana disampaikan dalam ayat yang pertama kecuali apa yang secara rinci dipaparkan dalam ayat 3; yaitu bangkai, darah, daging babi, daging hewan yang disembelih atas nama selain Allah, hewan yang mati karena tercekik, dipukul, jatuh, ditanduk atau mati akibat diterkam binatang buas kecuali sempat disembelih serta binatang yang disembelih untuk berhala. Diharamkan juga dalam ayat tersebut mengundi nasib dengan anak panah. 5) Su>rah al-Dukha>n (QS: 44: 3) dengan su>rah al-Qadr (QS: 97: 1-5)

﴿ َنيِرِذنُم اانُك اانِإ ٍةَكَراَبُّم ٍةَلْ يَل ِفِ ُهاَنْلَزنَأ اانِإ

ٖ

Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.59

اانِإ

﴿ ِرْدَقْلا ِةَلْ يَل ِفِ ُهاَنْلَزنَأ

ٔ

﴿ ِرْدَقْلا ُةَلْ يَل اَم َكاَرْدَأ اَمَو ﴾

ٕ

﴿ ٍرْهَش ِفْلَأ ْنِّم ٌرْ يَخ ِرْدَقْلا ُةَلْ يَل ﴾

ٖ

ُلازَ نَ ت ﴾

﴿ ٍرْمَأ ِّلُك نِّم مِِّبهَر ِنْذِإِب اَهيِف ُحوُّرلاَو ُةَكِئ َلََمْلا

ٗ

﴿ ِرْجَفْلا ِعَلْطَم اتََّح َيِى ٌم َلََس ﴾

٘

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat-malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala

57 Ibid, 157.

58

Majd Di>n Abu> T}a>hir Muh}ammad bin Ya‟qu>b Fairuza>ba>di>, Tanwi>r

al-Miqba>s min Tafsi>r Ibn ‘Abba>s, (Libanon: Da>r Kutub al-„Ilmiyah, t.t.), 88. 59 Depag RI, al-Qur’an dan Terjemahnya, 808.

64

urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.60

Yang dimaksud dengan lailatin muba>rokatin pada ayat 3 su>rah al-Dukha>n adalah turunnya al-Qur‟an pada malam lailah al-Qadr sebagaimana dijelaskan dalam su>rah al-Qadr ayat 1-5. Malam lailat al-Qadr tersebut berada di bulan Ramad}a>n seperti yang diterangkan dalam su>rah al-Baqarah ayat 185.61 Menurut al-Qurt}u>bi (1214-1273 M) turunnya al-Qur‟an pada malam lailah al-Qadr tersebut adalah turunnya al-Qur‟an Lauh al-Mah}fu>z} ke Bait al-‘Izzah di langit dunia secara sekaligus. Barulah setelah itu turun malam demi malam kepada Rasulullah SAW secara berangsur-angsur selama 23 tahun.62

b. Menafsirkan al-Qur‟an dengan al Sunnah

Tafsir al-Qur‟an dengan al-Sunnah menempati martabat kedua setelah tafsir al-Qur‟an dengan al-Qur‟an dalam hierarkhi metode penafsiran.63 Ini didasarkan atas firman Allah dan hadis berikut ini :

1) Su>rah al-Nisa>‟ (QS:4 :105)

َْينَ ب َمُكْحَتِل ِّقَْلْاِب َباَتِكْلا َكْيَلِإ اَنْلَزنَأ اانِإ

﴿ ًاميِصَخ َينِنِئآَخْلِّل نُكَت َلََو ُوّللا َكاَرَأ اَِبِ ِساانلا

ٔٓ٘

Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang

60 Ibid, 1082.

61 Ibnu Kathi>r, Tafsi>r al-Qur’a>n al-Az}i>m, Jilid 7, 246; Abu> „Abd Alla>h Muh}ammad bin „Umar bin H}asan bin H}usain Taymi> Ra>zi> Mulaqqab bi Fakhr Di>n Ra>zi> Kat}i>b Ray, Tafsi>r Kabi>r; Jilid 27 (Beirut: Da>r Ih}ya>‟ Tura>th al-„Arabi>, 1420 H), 652; Abu> „Abd Alla>h Muh}ammad bin Abi> Bakr bin Farh} al-Ans}a>ri> al-Khuzraji> Shams al-Di>n al-Qurt}u>bi>, al-Ja>mi‘ li Ah}ka>m al-Qur’a>n, Jilid 16 (Tafsi>r