• Tidak ada hasil yang ditemukan

Biografi Theodor Noldeke

Dalam dokumen PANDANGAN THEODOR NOLDEKE TENTANG AL-QUR`AN (Halaman 71-75)

BAB III RIWAYAT HIDUP THEODOR NOLDEKE

A. Biografi Theodor Noldeke

Tokoh Orientalis yang bermana lengkapnya Theodor Noldeke lahir pada 2 maret 1837 di Kota Harburg, Jerman, sejak 1977 masuk ke dalam wilayah Hamburg, Jerman. Dan Noldeke berasal dari keluarga yang berpendidikan bagi anak-anak beliau. Ayah-Nya adalah seorang wakil kepala sekolah menengah di Hamburg, kemudian diangkat menjadi pengawas sekolah menengah di Kota Lingen sejak tahun 1849-1866 M. Di Kota Lingen inilah pada tahun 1849-1853 M, Theodor Noldeke mempersiapkan diri untuk memasuki pendidikan tinggi di bawah arahan ayahnya, dengan mempelajari sastra klasik, Yunani dan Latin.

Namun akhirnya dia tertarik pada kajian bahasa-bahasa Semit. Di antara alasannya adalah ketika Theodor Noldeke hendak masuk Universitas Gonttingen pada tahun 1853, ayahnya menitipkan kepada sahabatnya, H. Ewald, pakar bahasa-bahasa Semit, terutama bahasa Ibrani. H. Ewald kemudian mengarahkan Theodor Noldeke agar terlebih dahulu menekuni dua bahasa Semit, yaitu Arab dan Persia beserta sastranya.1

Kemudian Theodor Noldeke belajar bahasa Suryani dan Aramiah kepada H. Ewald untuk memahami kitab suci, dan kepada Berteau beliau belajar bahasa Aramiah yang dipelajari Theodor Noldeke di universitas, sedangkan dialek-dialek bahasa Aramiah lainnya dipelajari sendiri. Dan

1 Abdurahman Badawi, Ensiklopedi Tokoh Orientalis (Yogyakarta: PT. LkiS Printing Cemerlang, 2012), h. 297.

belajar bahasa Sansekerta Kepada Benfay yang kemudian di teruskan di Universitas Kiel, saat menjadi profesor di Universitas tersebut (1864-1872). Ketika duduk sebagai mahasiswa, Theodor Noldeke sudah mulai mempelajari bahasa Turki dan Persia. Dia memperoleh gelar sarjana tingkat pertamanya pada tahun 1856 dengan mengajukan risalah judul “Tarikh

al-Qurʻān”, yang kelak digeluti Theodor Noldeke secara total. Dua tahun

kemudian pada tahun 1858, Akademi Paris mengumumkan pemberian hadiah bagi penelitian tentang sejarah al-Qur`an. Kesempatan ini tidak dilewatkan begitu saja oleh Theodor Noldeke, ia segera mengajukan hasil penelitiannya tentang sejarah al-Qur`an. Akhirnya, bersama dengan dua rekan lainnnya, yaitu Sprenger (w. 1893 M) dan Mitchelle Amari (w. 1889 M), masing-masing mendapatkan 1.333 lebih Franc Prancis. Dua tahun setelah itu, tahun 1860 Theodor Noldeke dengan dibantu oleh muridnya Friedrich Schwally (w. 1919 M), menerbitkan karangannya yang ditulis dalam bahasa Latin ke dalam bahasa Jerman, dengan beberapa tambahan yang sangat luar, yang diberi judul “ Geschichte Des Qorans”.2

Theodor Noldeke meraih gelar sarjana tingkat pertama pada usianya yang ke-20 tahun, setelah itu beliau mulai mengadakan berbagai penelitian di luar Jerman. Pertama Theodor Noldeke pergi ke Wina dan menetap disana selama satu tahun (1856-1857 M) untuk mempelajari dan meneliti manuskrip-manuskrip yang tersimpan di perpustakaan Wina. Pada saat itu, Theodor Noldeke juga memperdalam bahasa Persia dan Turki dengan membaca syair-syair sufistik yang ditulis oleh penyair besar Persia, seperti seperti Sa'di dan Fariduddin ath-Thaar.

Hampir setahun di Wina (Austria), Theodor Noldeke pindah ke Leiden (Belanda), dari tahun 1857 di musim dingin sampai tahun 1858 di musim semi. Di sinilah Theodor Noldeke menjumpai manuskrip-manuskrip

53

Arab yang amat banyak, sekaligus para Orientalis yang sangat mumpuni, seperti Anne Dozy (w. 1883 M), T. W. Juynboll (w. 1861 M), Mattys de Vries, dan Kuenen. Kepada mereka-lah Theodor Noldeke menjalin hubungan persahabatan yang amat erat dan belajar membaca manuskrip-manuskrip Arab dan Turki selama satu setengah tahun (hingga 2 September 1860 M) yang sangat bermutu. Beliau belajar dan membaca manuskrip-manuskrip dari mereka (guru). Beliau juga berkenalan dengan tokoh-tokoh Orientalis seperti M. Jan de Goejo (w. 1909 M), de Jong, dan Engelmann. Muridnya yakni Christian Snouck Hurgronje (w. 1936 M), Charles Cutler Torrey (w. 1956 M), dan Friedrich Zacharias Schwally (w. 1919 M).3

Tidak berhenti belajar beliau di Leiden, Noldeke kembali pulang ke Jerman, tetapi beliau tidak pulang kampung, melainkan melanjutkan penelitian di Goeta (Jerman) dan menetap disana selama satu bulan. Pada 26 April 1858, Noldeke kembali melanjutkan perlawatan-Nya ke Berlin untuk kembali bersentuhan dengan manuskrip-manuskrip.4

Dari Berlin, Jerman, pada 2 September 1860, Theodor Noldeke meneruskan lawatannya ke Roma, Italia dan berada disana selama tiga bulan. Lawatannya ke Roma merupakan satu-satunya tujuan perjalanan Theodor Noldeke ke Iura, Jerman, selain ke Wina, Leiden dan Inggris. Yang amat mengherankan, Theodor Noldeke justru tidak pernah mengunjungi negeri-negeri Arab dan Islam, meskipun hampir seluruh kajian ilmiah

3 Wan Mohammad Ubaidillah bin Wan Abas & M. Y. Zulkifli bin Mohd Yusoff, “Wahyu menurut Noldeke: Analisis Terhadap Isu Kenabian Muhammmad dalam karya Geschichte des Qorans”. Jurnal International Journal on Quranic Research, Vol. 2, No.2 (2012): h. 5.

4 Kurdi Fadal, “Pandangan Orientalis terhadap Qur`an Teori Pengaruh al-Qur`an Theodore Noldeke”. Jurnal Religia, Vol 14, No.2 (Jurusan Ushuluddin STAIN Pekalongan, Oktober 2011): h. 192.

berkisar tentang bahasa, sastra, sejarah dan geografi negara-negara Arab dan Islam.5

Sekembalinya dari Italia, Theodor Noldeke ditunjuk sebagi asisten pengelola perpustakaan Gottingen, Desember 1860 hingga Januari 1862. Sejak tahun 1861, Noldeke sudah ditugaskan menjadi asisten dosen di Universitas Gottingen. Oleh H. Ewald, Theodor Noldeke dibebani tugas untuk mengajarkan tafsir dan tata bahasa Arab, setelah itu Theodor Noldeke diberi tugas mengajarkan tafsir-tafsir Kitab Suci Perjanjian Lama.6

Pada tahun 1861, beliau menyampaikan kuliah di universitas di Göttingen dan diangkat diangkat menjadi asisten dosen. Selain itu, H. Ewald gurunya juga memberikan kepercayaan kepadanya untuk mengajarkan tafsir dan tata bahasa Arab. Pada saat itu, beliau juga mengajarkan kajian syair-syair klasik kepada para mahasiswanya dengan menggunakan bahan-bahan yang pernah disalinnya dahulu dari beberapa manuskrip di Kota Wina, Leiden, Goeta, dan Berlin. Setelah itu, Noldeke pun mulai menulis dan mengumpulkan kajian tersebut dalam sebuah karya yang berjudul "Beitrage Zur Kanntnis der Poesie der Alten Araber".

Setelah itu Noldeke melakukan penelitian mengenai tata bahasa Arab, perbandingan tata bahasa, dan bahasa-bahasa Semit yang terdapat dalam dua bukunya dengan judul Zur Grammatik des Klassichen Arabish (1897) dan Neue Beitrage zur Semitischen Sprachkunde (1911).

Tiga tahun kemudian, beliau dilantik menjadi extraordinary

professor. Pada tahun 1868 beliau menjadi profesor di Universitas Kiel dan

pada tahun 1872 dipilih untuk menyandang kursi bahasa-bahasa timur atau Semitik (the Chair of Oriental languages) di Universitas Strassburg. Beliau menjadi profesor Jerman pertama setelah Alsace-Lorraine berjaya diambil

5 Bisri Musthofa, “Serangan Noldeka Terhadap Autentisitas Al-Qur’an”. Jurnal el-Harakah Vol. 8 No.1 (Januari-April 2006): h. 100.

55

semula dari Perancis.7 Pada tahun 1906 setelah berkhidmat lebih daripada 30 tahun.8

Pada tahun 1864-1872, Theodor Noldeke ditunjuk sebagai guru besar bahasa-bahasa Semit di Universitas Kiel. Pada musim semi tahun 1872, dia diangkat menjadi Guru Besar di Universitas Strassburg hingga tahun 1920. Pada musim bunga tahun 1920, Theodor Noldeke pindah ke Kota Karlsruhe, kawasan Rien, Jerman atas, tinggal di rumah anaknya yang Theodor Noldeke dikaruniai sepuluh anak putra putra-putri.9 Pada 25 Desember 1930, Theodor Noldeke meninggal dunia di Karlsruhe, Jerman dengan berusia 94 tahun.

B. Karya-Karya dan Pemikiran Theodor Noldeke

Dalam dokumen PANDANGAN THEODOR NOLDEKE TENTANG AL-QUR`AN (Halaman 71-75)