Bacaan
Hakim-Hakim 19:1-30
Tujuan
1. Pemuda diajak untuk terbuka terhadap kasus-kasus kekerasan yang kerap terjadi dalam hubungan antar individu
2. Pemuda diajak untuk memaknai cara mencinta yang benar tanpa harus melalui jalan kekerasan
Fokus
Siapa yang tidak tahu istilah bucin? Sebuah istilah yang sempat menjadi trending topic beberapa waktu silam, bahkan istilah bucin sempat menduduki peringkat nomor satu di google trends tahun 2019. Bucin atau biasa kita kenal sebagai budak cinta biasanya disematkan kepada seseorang yang begitu menghamba kepada kekasihnya (kekasih menurut KBBI : orang yang dicintai, tetapi belum terikat perkawinan). Ia rela melakukan apapun demi menunjukkan rasa cintanya kepada kekasihnya termasuk menunjukkan rasa sayang yang vulgar berupa foto dan kalimat mesra di media sosial. Ia menjadi pribadi yang ingin selalu dicintai oleh kekasihnya, bahkan tak jarang ia menunjukkan beragam perilaku berlebihan, semata-mata agar mendapatkan perhatian yang besar dari kekasihnya. Sebenarnya jika diusut lebih dalam, fenomena bucin cukup erat kaitannya dengan masalah psikologis yang dialami di masa lalu, salah satunya adalah tidak terpenuhinya kasih sayang dari orangtua ataupun anggota keluarga yang berada di dekatnya selama ini.
Bucin memang budak cinta, namun bucin rentan melenyapkan cinta yang sesungguhnya, alias bukan cinta. Mengapa demikian? Perilaku bucin dapat membawa pasangan muda-mudi menuruti apa saja kemauan pasangannya sekalipun tahu kalau yang mereka lakukan berpotensi besar
95 merugikan diri sendiri sampai merugikan orang banyak. Peristiwa yang tidak diharapkan beresiko terjadi, diantaranya kekerasan dalam berpacaran, hubungan seksual di luar pernikahan, bunuh diri, pemerasan keuangan dan hal negatif serta merugikan lainnya. Data yang bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2017 menunjukkan bahwa satu dari tiga perempuan usia 15-64 tahun di Indonesia mengalami kekerasan dalam hubungannya. Dan terkhusus dalam hubungan berpacaran antara muda-mudi, kekerasan yang kerap terjadi bukan hanya kekerasan fisik, namun juga berupa kekerasan emosional yang berdampak pada psikologis pasangannya.
Itu semua adalah fakta-fakta kekerasan dalam hubungan yang terjadi di masa kini. Dan di dalam persekutuan kali ini, kita juga akan diajak untuk melihat kekerasan dalam hubungan cinta yang terjadi di masa Perjanjian Lama; sebuah kekerasan yang paling tragis dan menyayat hati, namun amat jarang dibacakan dan diulas dalam persekutuan bersama. Kendati demikian, kisah ini tetap menawarkan pesan dan peringatan moral kepada setiap kita, terlebih menolong setiap kita untuk memaknai hubungan cinta yang positif dan menjalani hubungan cinta itu dengan penuh kesadaran (mindfulness).
Penjelasan Teks
Untuk mendapatkan gambaran yang utuh, maka pertama-tama, kita disarankan untuk membaca Hakim-Hakim 19 secara menyeluruh dari ayat pertama hingga ayat tiga puluh. Sebenarnya kisah ini diawali dari pertengkaran antara seorang Lewi dan gundiknya. Dalam bahasa Ibrani, gundik diartikan sebagai pilegesh yakni seorang pendamping (sebut saja istri) yang statusnya lebih rendah dari istri sah. Lebih dari satu istri?
Tentu! Sangat wajar pada masa itu seorang laki-laki berpoligami dengan beberapa alasan. Ada yang memang menginginkan keturunan karena istri sahnya tak dapat memiliki anak, namun ada juga yang mencari gundik demi memuaskan hasrat seksual. Kita dapat melihat kisah awal yang ditulis oleh penulis kitab Hakim-Hakim. Hakim-hakim 19:2 dituliskan demikian; “tetapi gundiknya itu berlaku serong terhadap dia dan pergi dari padanya ke rumah ayahnya di Betlehem-Yehuda, lalu tinggal di sana empat bulan lamanya.” Mari kita perhatikan bersama! Gundik yang
96 dikisahkan tanpa nama itu memutuskan untuk kabur dari rumah suaminya dan pulang ke rumah orang tuanya.
Perempuan tanpa nama itu kabur karena berlaku serong? Sepintas terlihat sang gundik yang bermain serong. Namun jika ditelaah lebih dalam, kata
“berlaku serong” dalam Hakim-Hakim 19:2 lebih tepat ditafsirkan sebagai kemarahan gundik itu terhadap suaminya. Ia merasa tidak tahan dengan perlakuan semena-mena dari suaminya; cinta yang berujung pada kekerasan dalam rumah tangga. Seorang teolog Perjanjian Lama, Barry G. Webb menyebutkan bahwa motif di balik pelarian sang gundik tidak lain karena sang gundik sudah tidak tahan lagi dengan perilaku kasar suaminya. Namun sayangnya hukum yang berlaku di Israel kala itu, seorang istri tidak dapat mengajukan perceraian sehingga ketika ia pergi meninggalkan suaminya, ia malah disebut berzinah.
Mari kita perhatikan Hakim-Hakim 19:3; “berkemaslah suaminya itu, lalu pergi menyusul perempuan itu untuk membujuk dia dan membawanya kembali; bersama-sama dia bujangnya dan sepasang keledai. Ketika perempuan muda itu membawa dia masuk ke rumah ayahnya, dan ketika ayah itu melihat dia, maka bersukacitalah ia mendapatkannya.” Sang suami merasa sedemikian bersalah atas perlakuan terhadap gundiknya. Lewi itu kemudian menyusul gundiknya ke Betlehem untuk berdamai dengannya dan mengajaknya kembali ke Efraim. Setelah disambut oleh mertuanya dan tinggal beberapa hari lamanya, dia bersama gundiknya sepakat melakukan perjalanan pulang.
Hakim-Hakim 19:11-12 dituliskan demikian; “Ketika mereka dekat ke Yebus dan ketika matahari telah sangat rendah, berkatalah bujang itu kepada tuannya: “Marilah kita singgah di kota orang Yebus ini dan bermalam di situ.” Tetapi tuannya menjawabnya: “Kita tidak akan singgah di kota asing yang bukan kepunyaan orang Israel, tetapi kita akan berjalan terus sampai ke Gibea.” Mengapa mereka enggan bermalam di lingkungan penduduk Yebus? Karena penduduk Yebus tidak termasuk suku Israel. Tinggal di wilayah yang tidak dikenal akan sangat beresiko bahkan nyawa bisa saja menjadi taruhannya. Mereka memutuskan untuk bermalam di Gibea. Gibea adalah bagian dari suku Benyamin, masih satu bangsa dengan Lewi. Dapat dibayangkan betapa
97 besarnya harapan mereka untuk mendapatkan perlakuan yang baik di Gibea.
Akan tetapi apa yang mereka dapatkan setelah mereka tiba di Gibea?
Hakim-Hakim 19:18c dituliskan demikian; “Tetapi tidak ada orang yang mengajak aku ke rumahnya.” Tidak ada hospitalitas dari orang-orang Benyamin, padahal menunjukkan hospitalitas merupakan sebuah tradisi keagamaan yang selalu dilakukan di Israel apalagi kepada keluarga Lewi.
(bandingkan dengan Ulangan 16:4; 26:12) Cukup aneh, ajaran Taurat tidak dipahami dengan baik oleh orang-orang Benyamin di Gibea.
Namun, Hakim-Hakim 19:20 merekam dengan jelas bahwa akhirnya ada seorang tua yang menolong mereka. Orang tua ini bukan dari suku Benyamin. Ia adalah pendatang dari Pegunungan Efraim dan kebetulan tinggal di wilayah Benyamin. Karena sama-sama berstatus pendatang di Gibea, tentu orang tua itu sangat mudah bersimpati terhadap orang asing yang berkunjung karena merasa senasib sepenanggungan.
Kesan orang tua yang baik seketika lenyap ketika kita membaca Hakim-Hakim 19:23-24; “Lalu keluarlah pemilik rumah itu menemui mereka (orang-orang dursila: orang-orang jahat yang telah mengepung rumah orang tua itu) dan berkata kepada mereka: “Tidak, saudara-saudaraku, janganlah kiranya berbuat jahat; karena orang ini telah masuk ke rumahku, janganlah kamu berbuat noda. Tetapi ada anakku perempuan, yang masih perawan, dan juga gundik orang itu, baiklah kubawa keduanya ke luar; perkosalah mereka dan perbuatlah dengan mereka apa yang kamu pandang baik, tetapi terhadap orang ini janganlah kamu berbuat noda.” Tawaran orang tua itu terkesan sangat tidak bermoral, apalagi jika dibaca dalam konteks masa kini. Perlu dimengerti, dalam konteks masyarakat patriakal di zaman Israel kuno, perempuan ditempatkan tidak sederajat dengan laki-laki dengan status seperti properti atau harta milik. Sungguh sangat ironi, namun inilah kisah yang terjadi kala itu. Hospitalitas sang pemilik rumah seketika berubah menjadi teror bagi sang gundik tak bernama itu. Ditambah tak ada usaha dari sang laki-laki untuk melindungi istrinya. Hakim-Hakim 19:25b;
“Lalu orang Lewi itu menangkap gundiknya dan membawanya kepada mereka ke luar, kemudian mereka bersetubuh dengan perempuan itu dan
98 semalam-malaman itu mereka mempermainkannya, sampai pagi.
Barulah pada waktu fajar menyingsing mereka melepaskan perempuan itu.”
Perempuan yang tak bernama ini dikorbankan sedangkan anak perempuan orang tua itu tidak. Bisa jadi ia tidak ikut dilemparkan karena orang tuanya berubah pikiran. Lagi di sisi lain, tak ada empati sama sekali dari sang suami perempuan tak bernama ini. Sang suami menjadi orang Lewi yang benar-benar membiarkan identitas, suara dan seksualitas istrinya direnggut oleh orang-orang dursila (jahat). Ia membiarkan istrinya dilecehkan dan diperkosa. Ia membiarkan istrinya berada di titik terendah dalam fase kehidupannya. Ini jelas kekerasan seksual paling sadis yang tidak pernah terlupakan dalam sejarah bangsa Israel. Sampai-sampai Nabi Hosea dalam nubuatnya pun menyinggung kebiadaban orang-orang dursila di Gibea. Hosea 9:9; “Busuk sangat perbuatan mereka seperti pada hari-hari Gibea; Ia akan mengingat kesalahan mereka dan akan menghukum dosa mereka.”
Pagi harinya, Lewi bergegas meninggalkan tempat itu untuk melanjutkan perjalanannya, tanpa empati dan rasa belas kasih pada perempuan itu.
Dengan nada dingin seolah tidak terjadi apa-apa, dia berkata;
“bangunlah, marilah kita pergi.” (Hakim-Hakim 19:28) Entah kala itu istrinya masih bernyawa atau tidak, namun sesungguhnya sang istri benar-benar telah tiada saat tubuhnya dimutilasi suaminya sendiri menjadi dua belas bagian dan dikirimkan kepada suku-suku Israel.
(Hakim-Hakim 19:29). Dalam kitab Samuel, Saul juga melakukan mutilasi. Namun objek mutilasinya bukan manusia, melainkan lembu.
Ketika hendak berperang melawan bangsa Amon, Saul mengambil sepasang lembu, dipotong-potongnya, lalu potongan-potongan itu dikirimkannya ke seluruh daerah Israel dengan perantaraan utusan, pesannya: “Siapa yang tidak maju mengikuti Saul dan mengikuti Samuel, lembu-lembunya akan diperlakukan juga demikian.” (1 Samuel 11:7).
Lantas, mengapa sang suami begitu tega dan kejam sampai-sampai masih memutilasi jasad istrinya sendiri? Hal ini dilakukan untuk mengirimkan pesan bahwa tubuh gundik yang terpotong-potong itu adalah simbol bahwa ikatan kekerabatan di antara suku-suku Israel telah terpecah.
99 Orang-orang Benyamin telah melakukan tindakan paling sadis sehingga sangat perlu suku-suku Israel memerangi suku Benyamin. Potongan tubuh istri seorang Lewi itu digunakan untuk membangkitkan perang saudara. Suku-suku yang menerima potongan tubuh istri Lewi ini harus membantu membalas dendam kepada orang Benyamin jika tidak ingin bernasib serupa dengannya.
Sungguh kekacauan yang terjadi di Gibea adalah kisah kekerasan paling tragis (extravaganza violence). Kisah cinta antara seorang Lewi dan gundiknya harus berakhir dengan kisah tragis yang dialami oleh gundiknya sendiri. Perempuan tak bernama itu telah menjadi objek kekerasan yang tidak pernah diperdengarkan suaranya, yang tidak pernah diperjuangkan hak-haknya, bahkan oleh suaminya sendiri. Ia ditempatkan sebagai tokoh tanpa nama, tanpa suara, tanpa kuasa bahkan kuasa untuk menolak kekerasan atas tubuhnya sendiri pun tidak ada.
Rekan-rekan pemuda, topik persekutuan ini bukan dimaksudkan untuk menakut-nakuti, namun semata-mata topik ini ingin mengajak kita sebagai generasi muda punya sikap yang terbuka terhadap teks-teks kekerasan sehingga keterbukaan itu dapat menolong kita untuk semakin aktif dalam menyikapi persoalan kemanusiaan karena kasus-kasus kekerasan yang sewaktu-waktu dapat terjadi kapan saja dan dapat dialami oleh siapa saja, termasuk dalam hubungan bersama dengan orang-orang terdekat.
Pengenaan
Hakim-Hakim 19 menyuguhkan kisah kekerasan yang tragis (text of terror), yang telah terjadi di zaman Israel kuno. Kekerasan verbal, kekerasan seksual bahkan sampai matinya keadilan terjadi disana.
Melalui kisah Lewi dan kematian tragis istrinya di Gibea, kita tentu belajar banyak hal, salah satu diantaranya adalah memelihara dan membangun cinta yang benar kepada pasangan kita. Bagaimana caranya?
Semakin dewasa usia kita, berarti kita harusnya semakin sadar bahwa hubungan kasih dijalin bukan untuk bersenang-senang, namun untuk saling membangun hubungan yang sehat dan penuh kasih satu sama lain termasuk sikap saling percaya. Tidak ada strata sosial dalam suatu hubungan; siapa yang lebih berkuasa dan siapa yang harus tunduk. Tidak
100 ada kekerasan apapun; karena kekerasan tidak pernah berujung pada kebahagiaan.
Cinta yang benar selalu mengutamakan kasih sayang, kegembiraan dan kerinduan untuk selalu menjalin interaksi yang sehat satu sama lain.
Cinta yang benar adalah cinta yang dapat membuat seseorang tidak mementingkan dirinya sendiri, bahkan bersedia mengungkapkan kelemahan dan kekuatan di antara keduanya. Saling menghormati kebutuhan dan individualitas bahkan saling menghargai spiritualitas dan seksualitasnya. Cinta yang benar adalah cinta yang dapat menghasilkan harga diri dan penguatan diri yang lebih tinggi bahwa pasangannya adalah sungguh karya Allah yang berharga dan sungguh amat baik.
Penyampaian
1. Pelayan Firman dapat mengawali renungan dengan mengajak pemuda menganalisa kasus-kasus kekerasan yang terjadi dalam sebuah hubungan (contoh kasus toxic relationship di masa kini)
2. Pelayan Firman dapat mengulas Hakim-Hakim 19:1-30 (jika membaca tiga puluh ayat dirasa cukup panjang, maka pelayan Firman dapat mempersingkat ayat bacaan) Sampaikanlah kepada pemuda bahwa Hakim-Hakim 19:1-30 mengisahkan sebuah fakta tentang kekerasan yang terjadi di jaman Perjanjian Lama; kasus kekerasan yang tragis, yang dialami oleh istri seorang Lewi di Gibea.
Tekankan kepada pemuda untuk memiliki sikap dan pemikiran yang terbuka terhadap teks-teks kekerasan dalam Alkitab.
3. Ajaklah pemuda untuk brain storming “Jika Aku Menjadi”. Ajak pemuda untuk berimajinasi, seandainya mereka menjadi orang Lewi dan perempuan tanpa nama (gundik Lewi), apa yang akan mereka lakukan untuk menghindari kekerasan yang tragis itu?
4. Pelayan Firman dapat mengajak pemuda untuk menjalin hubungan kasih bersama dengan pasangan tanpa adanya kekerasan (kekerasan verbal, kekerasan seksual dan kekerasan lainnya), Tekankanlah kepada pemuda bahwa kekerasan sama sekali tidak menyelesaikan persoalan, justru menghadirkan persoalan yang baru. Pelayan Firman dapat mengulas dan memperdalam bagian pengenaan.
101 5. Akhiri persekutuan dengan mengajak pemuda berdoa. Kiranya Tuhan berkenan memperlengkapi masing-masing pemuda dengan cinta kasih sehingga hubungan bersama dengan kekasih, ataupun dengan orang-orang yang dikasihi (keluarga maupun sahabat) dipenuhi kegembiraan dan rasa saling menghargai sampai selama-lamanya.
Kegiatan
Ajak pemuda untuk selalu menghargai dirinya dan pasangannya, atau orang-orang yang selama ini dikasihinya dengan memberikan bahasa kasih yang terbaik. Pemuda juga dapat membuat proyek kebaikan bersama dengan pasangan atau orang-orang terkasih sebagai satu bentuk kesadaran bahwa ternyata relasi kasih yang terjalin selama ini dapat menjadi berkat bagi sekeliling mereka. Sederhana namun mengena di hati banyak orang.
102 Bahan Pembinaan Pemuda Minggu Kedua Juni 2022
FASHION
Bacaan 1 Petrus 3:3-4
Tujuan
1. Pemuda memaknai gaya berbusana sebagai etiket dalam hidup keseharian.
2. Pemuda diajak untuk mengingat dan menghidupi kecantikan yang sejati dalam hidup kekristenan.
Fokus
Hampir setiap hari terjadi kasus pelecehan dan kekerasan seksual di Indonesia. Menurut Komnas Perempuan, dalam kurun waktu 24 jam, setidaknya 35 perempuan yang menjadi korban pelecehan seksual. Alih-alih mendapatkan jaminan perlindungan, ternyata korban pelecehan seksual justru adalah pihak yang kerap disalahkan. Tak jarang publik menyalahkan gaya berbusana korban pelecehan seksual yang dirasa mengundang hawa nafsu. Hal ini secara tidak langsung ingin mengatakan bahwa gaya berpakaian sangat menentukan terjadinya pelecehan seksual di ruang publik. Inilah paradigma yang masih terbentuk di masyarakat bahwa mayoritas pelecehan seksual terjadi karena gaya berbusana.
Namun berdasarkan survei Pelecehan Seksual di Ruang Publik pada tahun 2018, ternyata mayoritas korban pelecehan seksual tidak mengenakan baju terbuka saat mengalami hal yang tidak mengenakkan tersebut. Pelecehan terjadi pada mereka yang memakai rok dan celana panjang, hijab bahkan baju berlengan panjang. Jika demikian kita tidak
103 dapat menyimpulkan bahwa gaya berbusana adalah faktor penentu utama terjadinya pelecehan seksual.
Buku Psikologi karangan Aloysius Nicholas Groth yang berjudul Men Who Rape: The Psychology of the Offender (1979) membantu menjawab permasalahan ini. Groth memaparkan bahwa pelaku kekerasan seksual menjalankan aksinya bukan karena nafsu atau hasrat saja, melainkan didorong juga oleh rasa amarah terhadap perempuan dengan tujuan untuk merendahkan objek atau korbannya. Dengan kata lain, pelaku kekerasan seksual sudah sejak awal menganggap perempuan sebagai makhluk yang rendah, makhluk yang layak untuk dipermainkan. Oleh sebab itu, apabila terjadi kasus kekerasan seksual, kejahatan bukan terletak pada busana yang dikenakan korban, namun kejahatan sepenuhnya berada di tangan pelaku. Lantas bagaimana jika kita harus berhadapan dengan pelaku pelecehan seksual di ruang publik? Tentu kita diharapkan untuk tidak berdiam diri. Kita diharapkan punya keberanian bersuara dan membela diri dengan melakukan komunikasi asertif (mengungkapkan apa yang dirasakannya) bahkan juga melawan intimidasi pelaku dengan gerakan-gerakan bela diri. Kita pun dapat segera menceritakan tindakan pelecehan seksual pada orang yang kita percayai atau segera melaporkan pelaku kepada lembaga yang bisa membantu. Beranilah melawan pelaku pelecehan seksual! Juga bagi kita yang menjadi saksi terjadinya kasus pelecehan seksual. Diam bukan pilihan.
Pakaian bukan tanda persetujuan terjadinya pelecehan seksual, namun ketika berada di ruang publik. kita juga diharapkan untuk memperhatikan gaya berbusana. Jangan sampai gaya berbusana kita justru menjadi batu sandungan bagi orang lain yang berada di sekitar kita. Rekan-rekan pemuda, gaya berbusana memang bukan menjadi ukuran iman kita. Kita percaya bahwa keimanan kita tidak dipengaruhi oleh pakaian yang kita kenakan. Namun gaya berbusana sesungguhnya bicara soal etiket dalam hidup. Apa maksudnya? Etiket adalah tindakan yang kita lakukan agar
104 ikatan relasional kita dengan orang lain berjalan dengan baik, misal berbicara maupun berpakaian yang baik. Lantas bagaimana gaya berbusana dari sudut pandang kekristenan? Dalam kekristenan, fashion atau gaya berbusana tergolong etiket. Tuhan Yesus memang tidak pernah menekankan ajaran tentang pakaian yang harus kita pakai, namun sebagai pengikut Kristus, kita perlu juga memperhatikan etika di sekitar kita. Segala sesuatu yang menjadi kebebasan kita harusnya tidak menjadi batu sandungan bagi orang-orang di sekitar kita. Dalam persekutuan kali ini, kita diajak untuk melihat paradigma Rasul Petrus tentang gaya berbusana. Tidak hanya itu, Rasul Petrus menekankan bahwa ada
“busana” yang paling penting yang sesungguhnya dapat kita kenakan untuk menghadirkan kecantikan sejati pada diri kita.
Penjelasan Teks
Nasihat Rasul Petrus begitu menarik teristimewa di dalam 1 Petrus 3:3;
“Perhiasanmu janganlah secara lahiriah, yaitu dengan mengepang-ngepang rambut, memakai perhiasan emas atau dengan mengenakan pakaian yang indah-indah.” Mengapa Petrus dapat sedemikian menyoroti gaya berbusana orang Kristen di jaman itu? Perlu diketahui bahwa ayat tersebut termasuk salah satu nasihat Petrus bagi orang Kristen berlatar budaya Yunani tentang berperilaku dalam kehidupan berumah tangga.
Pada masa itu, tidak sedikit perempuan terpikat oleh model berpakaian dan model rambut yang sedang berkembang. Dan tidak aneh bagi seorang perempuan di masa itu untuk mengikuti tren berbusana dan berparas. Mereka saling berlomba memakai pakaian yang mahal dan indah, menata rambut mereka sesuai dengan model yang berkembang saat itu (mengepang-ngepang rambut), lengkap dengan memakai segala aksesoris berlapis emas, perak bahkan permata.
Tren berbusana yang dilakukan oleh orang-orang Kristen yang tersebar di Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil dan Bitnia ini sangat disoroti
105 oleh Rasul Petrus. Rasul Petrus menegaskan bahwa segala yang bersifat lahiriah itu sewaktu-waktu dapat binasa. Kecantikan lahiriah bukan penentu keimanan seseorang! Rekan pemuda yang terkasih, Rasul Petrus memang tidak serta merta menolak gaya berbusana yang sedang berkembang di masanya, sah-sah saja. Namun bagi Rasul Petrus, ada yang lebih penting dari sekadar mengikuti tren berbusana, mengenakan perhiasan emas dan menambah kencantikan lahiriah, yaitu mengenakan perhiasan batiniah. 1 Petrus 3:4; “tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah.” Lantas, apakah yang dimaksud dengan perhiasan batiniah? Perhiasan batiniah berarti segala sesuatu yang datang dari roh;
kelemahlembutan, ketenteraman hati dan ketenangan menjalani langkah kehidupan. Dari nasihat Rasul Petrus ini, kita menjadi kian mengerti bahwa hidup ternyata bukan sekadar bios (kebutuhan biologis) namun juga zoe (kebutuhan rohani). Meskipun perhiasan lahiriah akan rusak dan akhirnya lenyap, namun perhiasan batiniah akan tetap menjaga persekutuan manusia dengan Kristus bahkan memampukan manusia untuk menampilkan citra Kristus di tengah dunia.
Pengenaan
Rekan pemuda yang terkasih, fashion memang kebutuhan primer yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Fashion yang memadukan unsur estetika dan unsur kreatif juga dapat menentukan penampilan bahkan status sosial seseorang. Akan tetapi semuanya juga harus dibarengi dengan sebuah kesadaran bahwa penampilan kita merupakan cermin bagaimana kita menempatkan Kristus dalam diri kita.
Sah-sah saja kita berdandan dan berpenampilan mengikuti perkembangan masa kini, namun pastikan juga bahwa batin kita selalu didandani dengan