• Tidak ada hasil yang ditemukan

JANUARI JUNI 2022 GKI SINODE WILAYAH JAWA TENGAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "JANUARI JUNI 2022 GKI SINODE WILAYAH JAWA TENGAH"

Copied!
118
0
0

Teks penuh

(1)

1

BAHAN

PEMBINAAN PEMUDA

JANUARI – JUNI 2022

GKI SINODE WILAYAH

JAWA TENGAH

(2)

2

DAFTAR ISI

UNIQUE ... 4

U COMPLETE ME ... 8

EGO EIMI ... 13

UBUNTU ... 17

EKSKLUSIVITAS ... 24

KASIH, DASAR MEMPERSATUKAN ... 29

PENGAMPUNAN TANPA BATAS ... 33

BELAS KASIH TANPA MEMBEDAKAN ... 37

MENCINTA HINGGA TERLUKA ... 41

YOU NEVER WALK ALONE... 45

DISRUPTION ... 49

DARE TO CHANGE ... 53

MENGENAL TUHAN ... 57

AKU PERCAYA ... 61

TURUN KE DALAM KERAJAAN MAUT ... 64

BANGKIT DARI ANTARA ORANG MATI ... 67

KEMENANGAN CINTA ... 69

ALLAH TERLUKA ... 72

DUNIAWI ATAU SURGAWI? ... 76

GEREJA YANG KOTOR ... 80

RUTINITAS ... 85

PENCITRAAN GEREJA ... 90

(3)

3

BUCIN = BUKAN CINTA ... 94

FASHION ... 102

NAFSU ADALAH ANUGERAH ... 108

ON THE BASIS OF SEX ... 113

(4)

4 Bahan Pembinaan Pemuda Minggu Pertama Januari 2022

UNIQUE

Bacaan

Mazmur 139:13-14

Tujuan

1. Pemuda memahami bahwa setiap pribadi diciptakan Tuhan berbeda satu dengan yang lain.

2. Pemuda mampu menghargai sesama manusia lain.

Fokus

Setiap manusia diciptakan oleh Tuhan dengan sangat unik. Keunikan itu tampak dari perbedaan-perbedaan yang ada dalam setiap diri insan manusia. Misalnya secara fisik, tidak ada satu pun sidik jari yang sama antara satu orang dengan orang yang lain. Begitu juga dengan warna iris mata. Tidak hanya itu, secara biologis, karakter, sifat, dan kemampuan, setiap orang pasti unik dan berbeda. Di sinilah letak kompleksitas seorang manusia sekaligus letak keberhargaannya. Kompleks karena kita akan menemukan beragam keunikan di dalam diri setiap orang. Berharga karena kita akan melihat betapa ajaibnya Tuhan menciptakan setiap pribadi secara berbeda-beda. Keberbedaan itulah yang mengajak kita untuk mensyukuri keberadaan diri sekaligus keberadaan orang lain yang ada di sekitar kita. Dengan demikian, setiap pemuda-pemudi dapat menghargai hidupnya sendiri, sekaligus menghargai orang lain, baik itu orangtua, saudara, teman-teman, dan lain sebagainya.

Penjelasan Teks

Mazmur 139:13-14 merupakan bagian dari Doa Daud kepada Tuhan Allah yang mengetahui segalanya. Daud terkesima dengan Allah yang selalu mengetahui segala hal yang dilakukan manusia. Allah yang Mahatahu itu menyelami setiap pikiran, perasaan, dan perkataan manusia, sehingga tidak ada satu pun yang luput dari pada-Nya.

(5)

5 Mengapa hal ini bisa terjadi? Daud menyadari bahwa siapa pun manusia yang ada di dunia ini dibentuk dan diciptakan oleh Allah sendiri. Oleh karena itulah, setiap orang adalah spesial, unik, dan berharga.

Daud mengungkapkan sebuah kalimat yang begitu indah dan dalam pada ayat 13, “Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku.” Frasa “buah pinggang” berasal dari Bahasa Ibrani “Kilyah”, yang arti harfiahnya adalah “ginjal”. Selain itu, secara figuratif “buah pinggang” bermakna sebagai tempat dari emosi dan kasih sayang (batin) dan pikiran (mind). Dari satu frasa tersebut, Daud ingin menjelaskan bagaimana Tuhan membentuk manusia dengan lengkap yang meliputi tubuh, jiwa, dan akal budi. Di situlah yang membedakan manusia dengan ciptaan lainnya.

Keunikan manusia terjadi oleh karena faktor genetis yang diturunalihkan dari orangtua. Dari ibu dan ayah, seorang anak dibentuk sedemikian rupa secara alamiah. Daud pun mengungkapkan hal ini dengan mengatakan bahwa Tuhan menenun manusia dalam kandungan ibu. Menariknya Daud memakai kata “menenun” yang berasal dari kata “sakak”. Arti kata itu ialah merajut menjadi satu dan menyelubungi. Di dalam kandungan ibu, seorang anak seperti ditenun dan dirajut setiap harinya, kurang lebih selama 40 minggu. Di situlah keunikan seorang manusia secara alamiah dirajut dan diberi pertumbuhan oleh Tuhan.

Dengan merefleksikan karya Tuhan yang luar biasa dalam menciptakan manusia, Daud mengungkapkan kebahagiaannya dengan ucapan syukur.

Apa yang terjadi pada diri Daud adalah perbuatan Tuhan yang dahysat dan ajaib. Bahkan, pada ayat-ayat berikutnya, Daud menceritakan lebih banyak kejaiban dan kedahsyatan Tuhan di dalam pengalaman hidup Daud. Pengalaman bersama Tuhan itulah yang juga menciptakan keunikan tersendiri dalam diri Daud. Dengan demikian, keunikan tidak hanya lahir dan hadir secara alamiah dari Tuhan, tetapi juga pengalaman hidup yang turut membentuk dan memberi pertumbuhan dalam diri seseorang.

Pengenaan

(6)

6 Dalam segala ketidaksempurnaan manusia, Pemazmur mengingatkan kita dua hal, yakni tidak ada manusia yang tidak unik dan tidak ada manusia yang tidak berharga. Kondisi fisik yang ada pada diri kita bukanlah hambatan yang harus disesali, apalagi membuat kita merasa insecure.

Sebaliknya, bagaimana pun kondisi dan bentuk fisik kita di situlah karya Allah dinyatakan. Keunikan itu harus dijaga, dipelihara, disyukuri, bahkan diapresiasi. Dengan demikian, kita menghargai diri sebagai ciptaan Tuhan yang spesial dan berharga. Di sisi lain, kita pun diundang untuk menghargai orang lain yang juga spesial dan berharga. Orang lain pun adalah pribadi yang juga dibentuk dan ditenun oleh Allah secara unik.

Selanjutnya, Keunikan seseorang tidak hanya dari segi fisik, kepribadian, karakter, dan kemampuan, tetapi juga dari segi pengalaman hidup. Setiap orang mengalami pembentukan dari pengalaman hidup yang dijalaninya.

Pengalaman di keluarga, rumah, sekolah, tempat bekerja, maupun di lingkungan masyarakat, menjadi proses tersendiri yang membentuk keunikan dalam diri seseorang. Dengan demikian, kita perlu menghargai setiap pengalaman yang membentuk diri kita menjadi unik. Pada sisi lain, kita juga perlu menghargai pengalaman orang lain yang menjadikannya unik.

Penyampaian

1. Awali renungan dengan melakukan bagian Kegiatan.

2. Jelaskanlah mengenai keunikan diri setiap manusia berdasarkan Fokus.

3. Ceritakanlah ungkapan Daud yang begitu dalam tentang karya Allah yang menciptakan manusia secara unik dan spesial, sehingga setiap insan manusia adalah berharga, sebagaimana yang tertulis di bagian Penjelasan Teks.

4. Ajak Pemuda memiliki kesadaran untuk menyadari betapa unik dan berharganya mereka, serta kesediaan untuk menghargai keunikan orang lain, seperti yang ada dalam bagian Pengenaan.

Kegiatan

(7)

7 1. Mintalah peserta untuk mencari gambar suatu barang/benda yang

menggambarkan kepribadiannya.

2. Jika persekutuan masih dilakukan secara online melalui platform live meeting, maka mintalah peserta menjadikan gambar itu sebagai virtual background mereka.

3. Jika persekutuan sudah dilakukan dengan tatap muka, maka mintalah peserta mencarinya di gawai mereka atau dapat menyebutkan nama bendanya.

4. Tanyakanlah kepada peserta mengapa benda/barang itu yang mereka pilih.

5. Ajaklah peserta berefleksi dari gambar mereka tersebut.

(8)

8 Bahan Pembinaan Pemuda Minggu Kedua Januari 2022

U COMPLETE ME

Bacaan

Kisah Para Rasul 9:26-31 Tujuan

1. Pemuda memahami bahwa dirinya membutuhkan kehadiran yang lain.

2. Pemuda mampu menerima kehadiran yang lain dalam hidupnya.

Fokus

Tidak sedikit dari antara kita yang berpikir bahwa dirinya bisa melakukan segala sesuatunya sendirian. Hal itu tidaklah salah dan tidak menjadi masalah jikalau dipahami sebagai bentuk dan upaya kemandirian. Akan tetapi, pemikiran semacam itu bisa menjadi bumerang ketika dipahami secara eksklusif dan egois. Kita berpikiran ekstrim bahwa kita tidak perlu orang lain, dan menanggap orang lain tidak penting untuk hadir dalam kehidupan kita. Belum lagi, ketika kita selalu berpikiran orang lain adalah beban untuk hidup kita. Tidak ada penerimaan, pengakuan, dan perhatian bagi orang lain yang hadir dalam kehidupan kita. Pertanyaannya, manakah yang ada dalam pikiran kita?

Yang pertama atau yang kedua?

Manusia sejatinya adalah homo homini socius. Lucius Annaeus Seneca, filsuf yang mencetuskan istilah tersebut, mengatakan bahwa manusia adalah teman bagi sesamanya. Manusia adalah makhluk sosial dan hal itu dak dapat dielakkan. Tidak ada manusia yang tidak membutuhkan kehadiran sesamanya. Sekecil apa pun itu, pasti kita membutuhkan orang lain. Kehadiran orang lain amatlah penting dalam kehidupan kita. Maka dari itu, tema pada hari ini ingin menyadarkan kita akan arti dan makna kehadiran orang lain yang menjadi pelengkap bagi kita, tetapi juga melengkapi diri kita yang terbatas ini.

Penjelasan Teks

(9)

9 Kisah Para Rasul 9:26-31 merupakan pasal yang menceritakan babak baru dari kehidupan Paulus setelah ia mengalami pertobatan. Setelah Paulus bertobat, hidupnya berubah tetapi sekaligus penuh ancaman.

Sebelumnya ia mengejar dan memburu orang-orang Kristen, dan setelah bertobat ia memberitakan dan membuktikan bahwa Yesus adalah Mesias.

Akan tetapi, perubahan itu disertai ancaman yang membahayakan.

Sejumlah besar orang Yahudi berniat membunuh Paulus yang sekarang justru berlawanan dengan mereka. Paulus menjadi musuh bagi orang Yahudi.

Keterasingan Paulus tidak berhenti pada kelompok Yahudi. Di dalam kelompok Kristen pun, keterasingan Paulus sangatlah kentara.

Bagaimana tidak? Sosok yang dulu memburu orang-orang Kristen, kini berada dalam kelompok mereka. Tentu bukan hal yang gampang menerima musuh untuk masuk dalam kelompok kita. Pada ayat 26 diceritakan orang-orang takut kepada Paulus. Akan tetapi, seorang murid yang bernama Barnabas justru bertindak lain. Ia justru mendekati, mengajak, dan menerima Paulus yang merasa asing dalam komunitas Kristen. Tak hanya itu, Barnabas pun menjelaskan serta menceritakan pengalaman pertobatan Paulus kepada para murid lainnya.

Penerimaan dan pengakuan pada diri Paulus yang telah bertobat itu menjadi hal penting dalam pelayanan pemberitaan Injil. Penerimaan itu menambah sumber daya dan sukacita para murid agar Injil itu bisa diwartakan. Paulus yang bertobat itu menunjukkan sikap pertobatannya, yakni memberitakan Injil dengan keberanian dan hikmat. Bahkan ia bersoal-jawab dengan orang-orang Yahudi secara hebat. Bagaimana tidak? Paulus seorang cendekiawan Yahudi yang terpelajar. Hal ini tentulah menjadi kelebihan tersendiri bagi Paulus dalam menyampaikan berita Injil, termasuk meluruskan hal-hal yang salah tentang Yesus.

Perjalanan pekabaran Injil Paulus tidak berhenti di Yerusalem.

Perdebatannya dengan orang Yahudi membawanya pergi ke Tarsus.

Tarsus adalah kampung halamannya. Hal yang menarik ialah bahwa yang membawa Paulus ke Tarsus adalah saudara-saudara anggota jemaat.

Artinya kini Paulus diterima bukan hanya oleh para rasul, tetapi juga oleh para pengikut Kristus lainnya.

(10)

10 Pengenaan

Dari kisah Paulus yang bertobat itu, kita diingatkan pentingnya menerima orang lain. Kehadiran Paulus awalnya tidak diterima karena ia punya latar belakang dan rekam jejak yang sangat berlawanan dengan para rasul dan pengikutnya. Adalah hal yang tidak mudah untuk menerima orang lain, apalagi jika orang itu berlawanan dengan kita atau kelompok kita.

Jangankan menerima, melihat kehadirannya pun sulit bagi kita. Kendati demikian, bagaimanapun keadaannya, manusia tidak bisa hidup sendiri.

Kita membutuhkan kehadiran orang lain. Kita diundang untuk belajar seperti Barnabas yang menerima Paulus dan memperkenalkan kepada para murid lainnya sehingga Paulus diterima. Kehadiran Paulus menjadi penting bagi para rasul.

Membuka diri untuk kehadiran orang lain menjadi suatu sikap yang penting. Tentu ada risiko ketika kita menerima dan membuka diri bagi orang lain. Akan tetapi kita tidak boleh lupa bahwa manfaat dan dampak dari menerima kehadiran orang lain sangatlah banyak. Kehadiran orang lain memperlengkapi kita, entah kelemahan atau kelebihan kita. Sikap dan karakter mereka mewarnai kehidupan kita sehingga penuh dengan keragaman. Tak hanya itu, kemampuan dari orang lain di sekitar kita juga menolong kita. Pertanyaannya, siapa yang hadir bersama kita? Di sinilah kita perlu juga makin mengenali lingkaran-lingkaran sosial kita.

Penyampaian

1. Awali renungan dengan menguraikan bagian Fokus.

2. Sampaikanlah pengalaman Barnabas yang menerima Paulus serta hal- hal-hal yang menjadi kekuatan Paulus untuk melengkapi tugas para rasul sebagaimana dalam bagian Penjelasan Teks.

3. Ajak Pemuda untuk menyadari betapa pentingnya kehadiran orang lain dalam kehidupannya dan mengenali kehadiran orang lain tersebut, seperti pada bagian Pengenaan.

4. Ajaklah pemuda untuk mengenali lingkaran sosial mereka yang menjadi pelengkap kehidupan mereka seperti yang ada dalam bagian Kegiatan.

(11)

11 Kegiatan

KNOWING YOUR SOCIAL CIRCLE

“Social Circle”

Penjelasan “Social Circle”

- Family: lingkaran sosial terdekat yang adalah anggota keluarga, baik keluarga inti maupun keluarga besar

- Friend: lingkaran sosial pertemanan atau persahabatan

- Collegue & Classmate: lingkaran sosial di tempat pekerjaan, kantor, sekolah, dst.

Stranger

Acquintance Collegue &

Classmate

Friend

Family

(12)

12 - Acquintance: lingkaran sosial yang sebatas hanya kita kenal, semisal

dokter, tetangga, dst.

- Stranger: orang asing yang kita tahu tapi tidak dekat dan tidak akrab.

Langkah-langkah

1. PF atau pemateri dapat menampilkan gambar di samping, baik itu melalui slide atau menggambarnya sendiri.

2. Mintalah pemuda untuk membuat gambar di samping di atas kertas secara masing-masing

3. Jelaskanlah maksud atau arti dari masing-masing lingkaran.

4. Mintalah pemuda untuk menuliskan nama orang-orang yang hadir dalam kehidupan mereka sesuai kategori masing-masing lingkaran

5. Minta pemuda untuk mengidentifikasi kelemahan dan kekuatan dari nama- nama tersebut menurut penilaian pribadi mereka.

6. Ajaklah pemuda untuk merefleksikan dan menyadari kehadiran orang- orang tersebut sebagai hal indah yang melengkapi kehidupan mereka.

(13)

13 Bahan Pembinaan Pemuda Minggu Ketiga Januari 2022

EGO EIMI

Bacaan

Matius 5:13-16 Tujuan

1. Pemuda memahami keberadaan dirinya berdampak positif bagi orang lain.

2. Pemuda mampu menghadirkan diri yang berdampak positif bagi yang lain.

Fokus

Ego eimi berasal dari bahasa Yunani yang artinya “ini aku” atau “saya”.

Frasa itu pernah diucapkan oleh Yesus pada peristiwa Yesus berjalan di atas air. Ketika itu para murid Yesus ketakutan karena melihat ada yang berjalan di atas air. Lalu Yesus mengatakan kepada mereka, “ini aku, jangan takut” (Mat. 14:27). Frasa ego eimi sejatinya hendak menegaskan suatu kehadiran diri secara esensial dan eksistensial. Aku yang hadir adalah aku yang benar-benar ada (exist) dan memiliki makna.

Pertanyaannya, makna dan kehadiran diri macam apa yang kita berikan?

Pada tema kali ini, kita diajak untuk menyadari bahwa saya adalah pribadi yang bermakna dan berdampak. Saya bukanlah sekadar kata ganti orang pertama. Di sini, kita mau menegaskan bersama bahwa saya adalah pribadi yang berguna bagi orang lain dan berdampak positif. Kehadiran saya selayaknya garam dan terang dari Tuhan bagi dunia.

Penjelasan Teks

Yesus mengajarkan bahwa anak-anak Tuhan adalah garam dan terang dunia. Dunia ini gelap, memerlukan terang untuk menyinarinya. Dunia ini membusuk, memerlukan garam untuk mencegahnya. Sebagai garam, anak Tuhan harus berfungsi untuk mencegah kebusukan dan kebobrokan

(14)

14 moral yang semakin merajalela. Ia harus menghadirkan kehidupan yang menyaksikan Allah sehingga orang lain rindu mengenal Allah.

Sedangkan terang berfungsi menyingkapkan kegelapan dan menuntun orang pada jalan yang benar. Terang tidak boleh ditutupi, apalagi disimpan (ayat 15). Fungsi orang Kristen sebagai terang adalah menyuarakan kebenaran dan keadilan. Anak Tuhan harus berani berkata kepada orang lain bahwa salah adalah salah, dan dosa adalah dosa. Ia harus memberi tuntunan pada orang lain untuk menemukan kebenaran di dalam Kristus.

Fungsi garam dan terang Kristen ialah harus menjadi manusia yang berdampak oleh setiap orang. Kalau tidak lagi ada beda antara pengikut Kristus dan dunia ini, maka kita menjadi tak berguna, akan dilecehkan, diacuhkan, atau disingkirkan. Kehadiran Kristen di tengah dunia adalah juga kehadiran Kristus. Wajarlah bila dimana pun Kristen berada, seharusnya lingkungan sekitarnya merasakan dampaknya. Dampak itu harus terpancar baik melalui pewartaan Injil maupun melalui sikap hidup dan perbuatan baik kita. Bersaksi dan berbuat baik adalah sarana untuk membahagiakan sesama kita.

Perintah Yesus ini harus diterapkan dengan berani dan sungguh-sungguh karena akan ada banyak tantangan yang berusaha meredupkan terang kita dan menggagalkan fungsi kita sebagai garam. Kita harus masuk dan terlibat dalam kehidupan masyarakat dan memberikan pengaruh positif.

Firman Tuhan harus nyata dalam hidup kita. Pertahankan nilai-nilai, tolok ukur, dan gaya hidup kristiani. Jadilah peka dan tolaklah segala tindakan yang tidak sesuai dengan kebenaran firman Tuhan. Bila kita setia mengikuti jalan-Nya, kita akan memberikan pengaruh yang menyehatkan bagi orang-orang di sekitar kita.

Pengenaan

Hidup yang berdampak positif bagi orang lain bukanlah perkara mampu atau tidak mampu, melainkan soal kemauan diri. Pasalnya, setiap orang beriman menerima panggilan Yesus untuk menjadi garam dan terang dalam kehidupannya. Artinya, setiap orang punya tanggungjawab melakukan hal yang Tuhan Yesus kehendaki. Akan tetapi, penghalang

(15)

15 terbesar dari panggilan dan tanggungjawab menjadi terang dan garam itu ialah egoisme dan egosentrisme diri kita sendiri.

Hidup yang berdampak positif bagi sesama dapat diwujudkan dengan tidak melakukan hal-hal yang merugikan orang lain, baik dalam kehidupan nyata sehari-hari maupun dalam perselancaran kita di dunia maya. Hidup berdampak positif juga berarti menghargai dan bertoleransi terhadap sesama manusia. Tak hanya itu, hidup yang menjadi garam dan terang Kristus dapat kita nyatakan melalui tindakan, perkataan, dan pikiran kita yang mengedepankan nilai-nilai Kekristenan, antara lain:

kejujuran, kelemahlembutan, kesabaran, saling menolong, peduli, berempati, dan ketaatan.

Penyampaian

1. Awali dengan menjelaskan arti dari kata “ego eimi” sebagaimana dalam Fokus.

2. Tegaskan bahwa ego eimi menggugah kita untuk menjadi pribadi yang bermakna dan berguna

3. Sampaikanlah kepada pemuda dasar panggilan untuk menjadi pribadi yang bermakna dan berguna seperti yang diajarkan Yesus mengenai garam dan terang, yang terdapat dalam bagian Penjelasan Teks.

4. Refleksikanlah seperti yang ada dalam bagian Pengenaan.

5. Sharinglah bersama pemuda untuk mengimplementasikan tema “ego eimi” dengan melakukan bagian Kegiatan.

Kegiatan

1. Ajak pemuda untuk mengidentifikasi sikap atau tindakan sederhana yang merupakan suatu tindakan positif dan berdampak buat orang lain.

- Di rumah - Di tempat studi

- Di lingkungan tempat tinggal - Di gereja

- Di lingkaran pertemanan

(16)

16 2. Ajak pemuda berdiskusi untuk menemukan kiat-kiat agar seseorang tidak terjebak pada egosentrisme dan egoisme ketika ia sedang melakukan tindakan-tindakan yang berguna bagi orang lain.

(17)

17 Bahan Pembinaan Pemuda Minggu Keempat Januari 2022

UBUNTU

Bacaan

Yohanes 15:9-17 Tujuan

1. Pemuda mengenal arti ubuntu yang digagas oleh Desmond Mpilo Tutu.

2. Pemuda mengimplimentasikan ubuntu dengan menghidupi perintah Yesus untuk saling mengasihi dan peduli.

Fokus

Apa jadinya jika kehidupan kita tidak dilandasi dengan kasih kepada sesama? Tentulah kehidupan itu menjadi amat kering dan mengerikan.

Kering karena tidak ada kepedulian dan kasih sayang. Mengerikan karena kita terus dibayang-bayangi permusuhan, kompetisi, penindasan, dan lain sebagainya. Hidup tanpa kasih akan membawa kita pada penderitaan dan mimpi buruk yang tak terlupakan. Sebaliknya, hidup dengan kasih akan menciptakan kedamaian, keadilan, dan ketulusan.

Untuk itulah pada tema kali ini kita akan membahas suatu konsep kehidupan masyarakat Afrika Selatan yang dikembangkan oleh seorang uskup bernama Desmon Mpilo Tutu, yakni Ubuntu. Ubuntu berarti kemanusiaan. Hidup dalam kasih ialah hidup yang memanusiakan manusia dan sesamanya. Dan untuk mewujudkannya kasih persahabatan yang tidak mencari keuntungan dan pementingan diri sendiri menjadi suatu panggilan iman yang sejati.

Penjelasan Teks

Pada perikop ini, panggilan untuk menghasilkan buah (ayat 16b) diungkapkan Yesus dengan cara yang berbeda.Setelah menggunakan ilustrasi Pokok Anggur yang benar, yang menekankan perlunya orang percaya memelihara persekutuan hidup di dalam Yesus melalui firman-

(18)

18 Nya, Yesus kini menggunakan ilustrasi kasih persahabatan untuk menunjukkan bagaimana bisa menghasilkan buah. Kasih terbesar dari seorang sahabat adalah ketika ia memberikan nyawanya untuk sahabat- sahabatnya (ayat 13).

Yesus membuktikan diri-Nya penuh dengan kasih. Ia mengasihi Bapa dengan taat kepada perintah-Nya (ayat 9) dan Ia mengasihi para murid- Nya dengan rela mati demi keselamatan mereka (ayat 13). Sekarang Yesus menantang para murid untuk membuktikan kasih mereka kepada- Nya, yaitu dengan taat perintah Yesus untuk saling mengasihi di antara mereka (ayat 12). Hanya dengan tinggal terus di dalam Yesus, mereka sanggup untuk saling mengasihi (ayat 10). Pada waktu mereka saling mengasihi, mereka bukan lagi hamba-hamba Allah, tetapi sahabat- sahabat Kristus (ayat 14-15). Kepada sahabat-sahabat Kristus, Allah menyatakan isi hati-Nya, yaitu kerinduan-Nya untuk menyelamatkan isi dunia. Allah ingin memakai dan mengutus gereja agar pergi ke tengah- tengah dunia, untuk menjadi alat anugerah Allah memperkenalkan Kristus sebagai satu-satunya Juruselamat bagi dunia ini. Itulah buah yang harus dihasilkan para murid/gereja (ayat 16).

Apakah buktinya kita adalah murid-murid Tuhan atau gereja sejati?

Yaitu, saat kita menunjukkan kasih kepada Allah dengan taat kepada- Nya dan mempraktikkan hidup saling mengasihi di antara sesama umat Tuhan. Saat kita taat kepada firman-Nya dan hidup saling mengasihi, banyak orang akan dimenangkan kepada Kristus oleh kesaksian kita ini.

Itulah buah-buah yang kita hasilkan sesuai dengan kehendak-Nya.

Semakin kita diam dalam Kristus semakin orientasi hidup kita adalah bagi Allah dan sesama, bukan untuk diri sendiri.

Pengenaan

Kasih menjadi identitas utama sebagai pengikut Kristus. Setiap orang percaya yang mengutamakan kasih kepada Tuhan dan kepada sesama disebut sebagai sahabat oleh Yesus. Artinya, kasih itu mematahkan belenggu ketimpangan dan ketidakadilan yang membuahkan penindasan.

Kasih itu menjadi jembatan penghubung agar semua orang punya kehidupan yang diperhatikan dan dipedulikan antarsesamanya. Dengan

(19)

19 begitu, setiap orang merasakan dan menjalani hidup serta hubungan yang berkualitas.

Dari Ubuntu dan Perintah Yesus untuk saling mengasihi kita akan menemukan tiga pesan penting. Pertama, setiap kita disadarkan bahwa tidak ada manusia yang tidak membutuhkan kasih dalam kehidupannya.

Kedua, kita diajak untuk hidup saling mengasihi sebagai upaya memanusiakan sesama kita karena dengannya setiap orang terbebas dari diskriminasi dan penindasan. Ketiga, kita diminta untuk mengupayakan hadirnya sikap peduli antarsesama manusia sebagai bentuk nyata dari perintah saling mengasihi.

Penyampaian

1. Awali renungan dengan membahas latar belakang Desmond Mpilo Tutu dan pemikiran Ubuntu yang digagasnya, seperti yang diuraikan pada bagian Kegiatan.

2. Sampaikanlah bahwa Desmon Mpilo Tutu mendasari pemikirannya pada Yohanes 15:9-15, yakni perinta untuk saling mengasihi, seperti dalam bagian Penjelasan Teks.

3. Ajaklah pemuda untuk membandingkan antara kehidupan yang tidak ada kasih terhadap sesama dengan kehidupan yang dipenuhi kasih, seperti hal yang ditulis dalam bagian Fokus.

4. Tegaskanlah kepada Pemuda bahwa mereka dapat menjadi manusia bagi sesamanya dengan hidup saling mengasihi, seperti yang ada dalam bagian Pengenaan.

Kegiatan

Biografi dan Pemikiran Desmond Tutu, Tokoh Kemanusiaan Afrika

Desmond Mpilo Tutu adalah seorang teolog yang berasal dari Afrika Selatan. Ia juga seorang aktivis yang dikenal luas pada era 1980- an, sebagai penentang apartheid. Tutu dipilih dan ditahbiskan menjadi uskup berkulit hitam pertama di Gereja Anglikan. Ia ditahbiskan di kota Cape Town.Presiden Afrika Selatan, Nelson Mandela, juga memberikan

(20)

20 pandangan yang baik tentang Tutu. Ia berkata bahwa Tutu adalah seorang yang tidak pernah takut untuk menyuarakan suara "mereka yang tidak dapat bersuara".

Desmond Mpilo Tutu lahir di Klerksdorp, Transvaal, pada 7 Oktober 1931. Ayahnya seorang guru sekolah, namun ibunya tidak menempuh pendidikan. Tutu melanjutkkan pendidikannya ke sekolah tingkat atas terkenal, bernama Johannesburg, sekolah milik kaum Bantu, pada 1945-1950, dan memulai karir pertama dengan mengajar di Pretoria Bantu Norm College.

Konteks Apartheid

Setelah jatuhnya rezim apartheid di tahun 1994 dan berkuasanya Kongres Nasional Afrika atau ANC (African National Congress), Tutu sering menggunakan frasa Rainbow Nation (Bangsa Pelangi). Ia menggunakannya sebagai sebuah metafora untuk menggambarkan keragaman di Afrika Selatan.

Meskipun apartheid resmi dihapus pada 1990, situasi di Afrika Selatan masih belum lepas dari masalah kemanusiaan. Menurut Tutu, masih ada dosa dan juga benih berkelanjutan yang dapat menghasilkan kemungkinan terjadinya penindasan kembali. Ia berpendapat bahwa,

"Orang yang ditindas kelak dapat menjadi penindas karena dosa membuat kemungkinan ini menjadi ada".

Menurut Tutu, berkembangnya diskriminasi ras, utamanya disebabkan oleh teori yang disebut fisiognomi. Teori ini adalah hasil analisa psikologis yang menyimpulkan bahwa karakter ditentukan oleh karakteristik fisik.

Hendrik Verwoerd menyatakan bahwa karena ciri-ciri fisik manusia berdasarkan ras berbeda, maka mereka seharusnya dipisahkan.

Situasi politik di Afrika Selatan pada saat itu juga mencegah terjadinya kesetaraan di antara ras yang berbeda.

Pada konteks ini, Tutu adalah tokoh yang paling berpengaruh dalam menyuarakan pandangannya menentang apartheid. PerananTutu nyata di bidang politik dengan terlibat langsung dalam organisasi pemerintah untuk menentang apartheid. Ia melakukan hal ini berdasarkan pendiriannya sebagai seorang kristen.

(21)

21 Tutu menolak pandangan yang menilai keberadaan seseorang berdasarkan warna kulit. Sebagai seorang berkebangsaan Afrika Selatan, Tutu mendasarkan teologinya berdasarkan bahasa dan budaya Afrika Selatan, dan tentu saja berdasarkan sudut pandang seorang Anglikan.

Menurut Michael Battle, pemikiran Tutu dapat disebut sebagai

“komunitarian yang spiritual”, karena ia menyatakan kemanusiaan manusia berada di dalam relasi dengan Allah dan manusia lain.

Dalam tulisan Tutu yang berbicara tentang "diabolical policy", ia mengkritik kebijakan pemerintah dengan menyatakan bahwa orang kulit hitam tidak diberi kesempatan untuk memilih dalam hidup mereka sendiri, malahan mereka menderita di tanah sendiri.

Selama ia mengepalai Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi, ia merangkul seluruh orang Afrika Selatan dan mengikutsertakan mereka dalam karya komisi ini. Komisi ini mengkampanyekan slogan

"Kebenaran itu menyakitkan, tapi diam itu membunuh", untuk mengajak seluruh pihak terlibat dalam upaya mengungkap kebenaran dan rekonsiliasi.

Teologi Ubuntu

Ubuntu merupakan konsep Afrika Selatan mengenai komunitas yang dipinjam oleh Tutu. Ubuntu berarti "kemanusiaan". Konsep ini dikemukakan oleh Tutu sebagai tafsiran yang mengoreksi teologi keselamatan Barat yang bersifat individualistik.

Tutu berargumen bahwa setiap manusia terkait dengan yang lain.

Keselamatan adalah sebuah pemberian, bukan hasil dari usaha kita sendiri, melainkan diberikan secara cuma-cuma oleh Allah. Integritas ciptaan dan panggilan untuk hidup serupa dengan gambar Allah (Imago Dei).

Oleh karena itu, kondisi ini mensyaratkan hubungan yang mutualis seperti yang diajarkan oleh Yesus dalam Yohanes 15:15. Jika dihubungkan dengan realita yang terjadi akibat apartheid di Afrika Selatan, maka sebenarnya baik penindas maupun yang ditindas tidak dapat memperoleh kepenuhannya sebagai manusia. Kondisi saat itu membuat manusia berada di dalam hubungan yang rusak dengan sesamanya.

(22)

22 Teologi Ubuntu yang diusung oleh Tutu dimulai dengan pandangan mengenai ciptaan Allah. Identitas kemanusiaan diceritakan sebagai gambar Allah. Tutu percaya bahwa Allah menciptakan manusia sebagai ciptaan terbatas, yang diciptakan oleh yang tidak terbatas.

Pandangan materialistik yang menganggap nilai manusia berdasarkan barang-barang yang dihasilkan, membuat adanya pembedaan nilai yang terdapat di dalam manusia. Perbedaan dilihat menjadi ancaman, dan hal ini menjadi pemacu munculnya apartheid.

Apartheid sebenarnya menjauhkan manusia dari keserupaan dengan Allah. Ideologi rasis ini mengarah pada penggunaan kekuasaan untuk menindas, sehingga "penindas yang memiliki kuasa untuk dapat menentukan keberadaan yang lain".

Kondisi yang rusak ini dapat dipulihkan dengan lensa Ubuntu yang melihat manusia dapat hidup dalam kepenuhannya di dalam suatu komunitas, di dalam persekutuan, dan di dalam damai. Menurut Tutu, hanya Allah yang mengetahui penderitaan itu dan mengatasinya bukan dengan cara yang ajaib, melainkan melalui proses pemusnahan, penghancuran, dan kesakitan. Yesus juga menjalani hal ini melalui penyaliban. Melalui Yesus, kita dapat mengetahui bahwa Allah adalah milik kita, baik secara partikular maupun secara kosmikal.

Peran Gereja

Tutu menyatakan bahwa Gereja memiliki peran sebagai model dalam menyaksikan keadilan dan kedamaian. Gereja memiliki peran profetis, yaitu menyuarakan kebenaran dan keadilan, pada saat itu berfungsi untuk mengkritik kebijakan pemerintah yang dianggap tidak adil.

Ia mengajukan tantangan bagi Gereja untuk hidup sebagaimana Gereja di tengah pergumulan dunia, yaitu menjadi contoh yang baik bagi masyarakat. Dalam mewujudkan Kerajaan Allah di dunia, umat memiliki tugas untuk berekonsiliasi demi menyembuhkan dan memulihkan keadaan setiap pribadi, kehidupan sosial, ekonomi, dan politik, sesuai dengan kehendak Allah terhadap manusia, yaitu kedamaian.

(https://www.naviri.org/2019/10/biografi-dan-pemikiran-desmond-tutu.html)

(23)

23

(24)

24 Bahan Pembinaan Pemuda Minggu Kelima Januari 2022

EKSKLUSIVITAS

Bacaan

Markus 9:38-41 Tujuan

1. Pemuda menyadari bahwa hidup bukan saja tentang diriku, kepunyaanku, dan duniaku.

2. Pemuda mampu keluar dari zona nyamannya dengan membuka diri terhadap keberagaman dan perbedaan

Fokus

Mengapa perpecahan gereja atau organisasi Kristen mudah terjadi?

Mengapa perseteruan di tengah kehidupan bermasyarakat amat mudah tersulut? Memang, ketika visi-misi gereja diselewengkan dari kebenaran Alkitabiah, perpecahan sering tidak bisa dihindari. Akan tetapi, banyak kali perpecahan terjadi karena sikap egosentris yang tinggi? Ini kelompok kita, bukan kelompok dia.? Perbedaan yang menyebabkan perpecahan bukan pada hal yang fundamental melainkan pada perbedaan-perbedaan dan batas-batas yang dibuat oleh manusia.

Perbedaan warna kulit, suku, bahasa, dan status sosial adalah dijadikan dasar untuk berbeda. Alhasil tak jarang perasaan atau hasrat ekslusivisme menjadi mencuat dari diri kita.

Haruslah kita akui bahwa berbicara mengenai perbedaan tidak lepas persoalan batas atau batasan. Batasan-batasan itu ada dalam kehidupan kita mulai dari yang prinsip dan esensial sampai yang mengada-ada atau diada-adakan. Kendati demikian, hal yang terpenting menghadapi itu semua ialah mengenai sikap dan cara pandang kita terhadap segala batasan yang ada. Eksklusivitas tentu bukanlah suatu sikap yang tepat.

Kita bisa terjebak pada kejumawaan dan juga relasi yang berhierarki.

Maka dari itu, pada tema kali ini, kita mau mengambil sikap bersama untuk membuka diri serta bertoleransi pada keberagaman dan perbedaan.

(25)

25 Kita pun ditolong untuk tidak terjebak pada pemikiran yang sempit, bahwa segala sesuatunya adalah tentang diriku, kepunyaanku, dan duniaku.

Penjelasan Teks

Murid-murid yang diwakili oleh Yohanes menyatakan keheranan karena ada orang, di luar kedua belas murid, yang berhasil mengusir setan dengan memakai nama Yesus. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Bukankah para murid memiliki hak monopoli dalam hubungan mereka dengan Sang Guru? Bukankah Yesus tidak menyuruh orang itu melakukannya sebagaimana Ia telah menyuruh kedua belas murid-Nya (Mrk. 3:14-15)?

Atau mungkin keberhasilan orang itu dan kegagalan kesembilan murid yang lain yang justru mengganggu perasaan murid-murid Yesus (Mrk.

9:18)?

Yohanes menunjukkan sikap egosentris seperti itu. Bagi dia, "bukan pengikut kita" (dua kali disebut oleh Yohanes) adalah kata kuncinya.

Padahal Tuhan Yesus melihat hal yang esensial, yaitu berasal dari Roh yang sama. Hanya orang yang memiliki Roh Kudus yang bisa mengadakan mukjizat dalam nama Yesus dan mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan. Maka, tidak peduli apakah orang tersebut berwarna kulit yang berbeda dari kita, atau lulusan sekolah teologi yang bukan dari denominasi kita, atau memiliki tradisi gerejani yang lain, asalkan ia memiliki Kristus di hati, dialah saudara kita.

Meski demikian Yesus tidak ikut gusar. Yesus tidak keberatan bila orang itu memakai nama-Nya untuk mengusir setan. Dapat dipastikan bahwa orang tersebut adalah orang yang percaya pada Yesus walau ia tidak termasuk murid. Yesus pun memaparkan prinsip lain yang lebih umum,

"Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita." Dalam iman Kristen hanya ada dua pilihan. Percaya Yesus atau menolak Yesus. Tidak ada pilihan ketiga. Orang yang percaya Yesus adalah saudara kita. Yang menolak Yesus, dia bukan saudara seiman kita. Hal ini tidak berarti yang menolak Yesus menjadi musuh kita. Sebaliknya, mereka menjadi sasaran pelayanan kita karena Yesus mengasihinya. Akan tetapi, sayangnya sering kali orang yang di pihak kita justru kita jadikan lawan kita karena

(26)

26 berbeda hanya dalam aspek-aspek sekunder, misalnya beda penafsiran akan cara baptisan, penggunaan karunia roh, dst. Bukankah hal ini justru menjadi batu sandungan bagi orang yang belum mengenal Kristus?

Yesus tidak mau para murid melihat pengusiran setan sebagai tindakan yang salah hanya karena orang itu tidak termasuk kedua belas murid.

Karena dengan menolong orang lain, sesungguhnya orang itu telah melakukan perintah Allah. Malah ia akan menerima upah karena kebaikan yang telah dilakukan (ayat 41).

Pengenaan

Kita hendaknya jangan pernah berpikir bahwa hanya kita saja yang dapat melakukan yang baik. Atau kita berpikir bahwa lebih baik bila orang lain bergabung dengan kita karena akan lebih banyak yang bisa dilakukan. Ini adalah pikiran yang sempit. Sebaiknya kita bersyukur atas pelayanan dan pekerjaan baik yang dilakukan orang lain. Hati-hatilah terhadap kecenderungan mencela pelayanan orang lain hanya karena mereka tidak termasuk aliran gereja kita. Mungkin saja mereka melakukan kesalahan dalam beberapa hal. Namun ingatlah bahwa lebih baik jika suatu pelayanan dilakukan oleh orang lain daripada tidak sama sekali. Yesus mengingatkan umat- Nya senantiasa memberitakan Kabar Baik Allah, meski kita tidak berada dalam satu gereja atau lembaga.

Kita juga harus menerima dan bersyukur atas orang-orang yang memperhatikan dan menolong hamba-hamba Tuhan di manapun.

Sebaliknya, kita harus menolak mereka yang mengajarkan kesesatan.

Artinya, kita harus menjauhkan diri dari pengaruh dan ajaran palsu yang menyesatkan. Karena ajaran palsu tersebut dapat menjauhkan kita dari kebenaran Allah yang sejati.

Penyampaian

1. Ajaklah pemuda untuk merefleksikan kata “batas”, seperti yang ada dalam bagian Kegiatan.

2. Sampaikanlah bahwa batas itu punya urgensi tersendiri bagi hidup kita, tetapi juga bisa menjadi sumber masalah, ketika manusia

(27)

27 menciptakan batas-batas tertentu yang mengarah pada terbentuknya sikap ekslusivisme, sebagaimana ada dalam Fokus.

3. Jelaskanlah sikap Yesus yang mendapatkan protes dari para murid, ketika mereka tahu bahwa ada orang lain yang memakai nama Yesus untuk mengusir roh jahat, sebagaimana dalam Penjelasan Teks.

4. Ajak pemuda untuk menyadari kehidupannya untuk senantiasa bertoleransi, terbuka pada yang lain, dan menerima perbedaan, sebagaimana ditekankan dalam Pengenaan.

Kegiatan

Tanyakan dan ajak pemuda berefleksi terkait pertanyaan dan gambar berikut:

1. Apa yang ada dibenakmu ketika mendengar kata batas atau melihat gambar berikut?

2. Apakah batas itu adalah sesuatu yang penting dalam kehidupan kita?

Mengapa?

3. Apa saja hal positif atau negatif dari adanya suatu batas dalam kehidupan kita?

(28)

28

(29)

29 Bahan Pembinaan Pemuda Minggu Pertama Februari 2022

KASIH, DASAR MEMPERSATUKAN

Bacaan

2 Korintus 8:7-15 Tujuan

1. Pemuda dapat memahami makna kasih yang sesungguhnya.

2. Pemuda mau belajar menghadirkan kasih di tengah kehidupan, sebagai dasar untuk mempersatukan.

Fokus

Siapa yang tidak ingin hidupnya bahagia? Siapa yang ingin membahagiakan keluarganya, temannya, gerejanya, diri sendiri, orang yang kasihinya, dan Tuhan? Hampir semua manusia menginginkan hal itu. Baik tidak? Ya pastinya hal itu sangat baik. Namun seringkali untuk membahagiakan semuanya itu, sasarannya kurang tepat. Membahagiakan

= senang-senang, keadaan berlimpah ruah, kekayaan, memberikan sesuatu yang enak-enak (tidak pernah dimarahi, kasih makanan yang enak-enak tapi tidak sehat), dll. Sekali lagi yang perlu ditekankan, maksudnya baik, namun seringkali salah sasaran. Ternyata dasar yang dapat mempersatukan bukanlah uang, materi, harta, kedudukan yang tinggi, kepintaran, dll, melainkan KASIH. Kasih itu adalah dasar untuk mempersatukan suatu hubungan (hubungan kekeluargaan, pertemanan, persaudaraan, dll).

Melalui perenungan Firman Tuhan hari ini, Pemuda diajak untuk dapat memahami makna kasih yang sesungguhnya. Pemuda juga diharapkan mau belajar untuk menghadirkan kasih di tengah kehidupan mereka, sebagai dasar untuk saling mempersatukan.

Penjelasan Teks

Rasul Paulus mengingatkan kita tentang pelayanan kasih dalam bacaan hari ini. Jemaat Korintus diingatkan pentingnya pelayanan kasih yang

(30)

30 dilakukan dengan tulus, rela hati, tidak membedakan, dan tidak boleh ditunda-tunda. Pelayanan kasih yang mendorong jemaat Korintus bertumbuh dalam kekayaan, pengetahuan, karunia-karunia, dan terlebih lagi kaya dalam tindakan kasih.

Kekayaan kasih yang akhirnya menjembatani dan mempersatukan perbedaan antara umat Kristen berlatar belakang Yahudi dan non Yahudi yang sempat terpecah karena perbedaan pandangan tentang tradisi.

Tindakan kasih kita tidak bertujuan untuk memindahkan beban orang lain kepada diri kita supaya orang lain mendapat keringanan (maksudnya baik, namun salah sasaran), melainkan untuk membagikan berkat Tuhan yang ada pada kita, agar orang lain dapat turut merasakan berkat yang sama dari Tuhan (maksudnya baik, dan tepat sasaran).

Untuk dapat membahagiakan keluarga kita, teman kita, gereja kita, diri sendiri, orang yang kita kasihi, dan Tuhan, dengan tepat sasaran, maka dibutuhkan yang namanya kacamata kasih untuk dapat melihatnya.

Tanpa kacamata kasih, maksud baik, mungkin akan salah sasaran. Salah satu contohnya, untuk menggugah hati jemaat Korintus yang cukup berada, Rasul Paulus tidak langsung marah-marah begitu saja, melainkan menggunakan contoh nyata dari jemaat Makedonia yang miskin, tapi mau berbagi kasih.

Rasul Paulus menggunakan kacamata kasih, untuk menekankan pelayanan kasih kepada sesama. Apa yang dilakukan oleh Rasul Paulus memperlihatkan bahwa Kasih itu = kekayaan yang mempersatukan. Ia tidak marah-marah tanpa alasan. Namun membangun suasana kekeluargaan yang begitu indah dengan jemaat Korintus.

Pengenaan

Bagaimana dengan kita? Siapa yang tidak mau dibahagiakan dan membahagiakan? Anak-anak mau dibahagiakan dan membahagiakan.

Pemuda remaja mau dibahagiakan dan membahagiakan. Orang dewasa juga mau dibahagiakan dan membahagiakan. Orang Usia lanjut pun mau dibahagiakan dan membahagiakan. Namun yang menjadi pertanyaan untuk setiap kita saat ini adalah sudahkah kita menggunakan kacamata kasih dalam menembak sasaran kita untuk dapat membahagiakan semua

(31)

31 pihak? Membahagiakan = mempersatukan semuanya di dalam Kasih Tuhan.

Penyampaian

1. Awali renungan dengan membahas apa yang dapat mempersatukan dalam hidup ini, seperti yang ada dalam bagian Fokus.

2. Tegaskan bahwa kasih adalah dasar mempersatukan, sebagaimana yang terdapat di dalam Penjelasan Teks.

3. Ajak Pemuda memiliki kesadaran sudahkah selama ini menggunakan kacamata kasih dalam memperlakukan sesama, seperti yang ada dalam bagian Pengenaan.

4. Ajaklah Pemuda untuk mendengarkan cerita ilustrasi dan membahas beberapa hal, seperti yang ada dalam bagian Kegiatan.

Kegiatan

Menceritakan sebuah ilutrasi dan membahasnya

Ada sebuah tradisi di negara Jepang pada zaman dahulu. Tradisinya adalah “membuang” orang yang sudah tua ke dalam hutan. Mereka yang

“dibuang” adalah orangtua yang sudah tidak berdaya lagi, yang dianggap hanya menjadi beban yang akan memberatkan anak-anaknya.

Pada suatu hari ada seorang pemuda yang berniat untuk “membuang”

ibunya ke hutan, karena si ibu telah terkena penyakit dan menjadi lumpuh. Si pemuda ini dengan pergumulan yang berat akhirnya memutuskan membawa ibunya ke dalam hutan. Ia menggendong sendiri ibunya, dan dibawa ke dalam hutan. Ibu yang kelihatan tidak berdaya, berusaha untuk menggapai setiap ranting pohon yang dapat diraihnya, lalu mematahkannya dan menaburkannya di sepanjang jalan yang mereka lalui.

Sesampainya di dalam hutan yang sangat lebat, si pemuda ini menurunkan ibunya di suatu tempat yang terlihat aman, dan mengucapkan kata perpisahan, sambil berusaha untuk menahan perasaan sedihnya. Pemuda ini pun tidak menyangka tega melakukan perbuatan seperti itu terhadap ibunya. Namun justru sang ibu nampak tegar, dan dengan senyuman sang ibu berkata, “Anakku, ibu sangat menyayangimu.

(32)

32 Sejak kau kecil sampai dewasa, ibu selalu merawatmu dengan segenap cintaku. Bahkan sampai hari ini, rasa sayang ibu kepadamu tidak berkurang sedikitpun. Tadi ibu sudah menandai sepanjang jalan yang kita lalui dengan ranting-ranting kayu. Ibu takut kamu tersesat. Ikutilah tanda itu, agar kamu selamat sampai di rumah”.

Setelah mendengar kata-kata tersebut, pemuda ini menangis dengan sangat kerasnya. Ia langsung memeluk ibunya, dan kembali menggendongnya untuk membawa sang ibu pulang ke rumah. Pemuda ini akhirnya merawat ibunya yang sangat mengasihinya, sampai ibunya menutup usia. Sang ibu berhasil “menaklukkan” hati sang anak dengan cintanya yang tidak pernah berubah, dahulu – sekarang – selamanya.

1. Apa hal menarik yang dapat kita pelajari dari ilustrasi ini?

2. Menurut kita, seperti apa ciri-ciri kasih yang sesungguhnya?

3. Adakah yang memiliki cerita nyata tentang kasih yang mempersatukan? Bisa dibagikan ceritanya!

Kasih takkan pernah habis saat kita membagikannya, melainkan kasih akan semakin kuat saat kita membagikannya.

(33)

33 Bahan Pembinaan Pemuda Minggu Kedua Februari 2022

PENGAMPUNAN TANPA BATAS

Bacaan

Lukas 15:11-32 Tujuan

Pemuda memahami indahnya sebuah pengampunan, dan dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Fokus

Pernahkah kita merasa disakiti? Pernahkah kita merasa dikhianati?

Pernahkah kita merasa dibohongi? Pernahkah kita merasa dikecewakan?

Apabila kita pernah merasakan itu semua, apakah kita sudah bisa untuk mengampuni orang yang menyakiti, menghianati, membohongi, dan mengecewakan kita? Ataukah saat kita merasa disakiti, dikhianati, dibohongi, dikecewakan ada niatan dalam hati kita untuk membenci atau bahkan melakukan pembalasan terhadap orang yang sudah melakukan itu semua terhadap kita? “Bencilah dia! Balaslah dia! Maka kamu akan puas!”. Ya, bisa saja saat kita membenci dan membalas, kita akan mendapatkan kepuasan. Namun apakah kebencian dan pembalasan itu akan menyembuhkan? Sekali-kali TIDAK! Kebencian dan pembalasan itu tidak menyembuhkan, melainkan dapat semakin menyakiti dan menghancurkan (diri sendiri dan orang tersebut).

Oleh sebab itulah, tema persekutuan kita di hari ini berbicara tentang dampak dari sebuah pengampunan. Melalui perenungan Firman Tuhan hari ini, Pemuda diajak untuk dapat menjadi pribadi yang siap mengampuni tanpa batas.

Penjelasan Teks

Perumpamaan tentang anak yang hilang adalah jawab yang Yesus berikan mengenai pengampunan. Sosok bapa yang ada dikisah ini bisa saja merasakan yang namanya sakit hati karena anaknya yang bungsu

(34)

34 tiba-tiba meminta untuk pembagian warisan, padahal pada waktu itu warisan orangtua baru akan didapat oleh sang anak, ketika ayahnya sudah meninggal dunia (12). Tidak hanya itu, sosok bapa dalam kisah ini bisa saja merasakan dihianati oleh anaknya yang bungsu, karena setelah beberapa hari dibagikan warisan si bungsu menjual semuanya dan pergi untuk berfoya-foya (13). Dan sosok bapa dalam kisah ini bisa saja merasakan kekecewaan yang luar biasa terhadap anaknya yang sulung, karena ternyata si sulung yang selama ini dibesarkan dengan cinta kasih, di dalam hatinya bertumbuh rasa dendam dan iri hati (28-29).

Namun apa yang dilakukan oleh sang bapa ini? Ia tidak membiarkan dirinya larut dalam kesakithatian, kesedihan karena dihianati, serta kekecewaan yang dilakukan oleh kedua anaknya. Yang dilakukan dan diperbuat oleh sang bapa adalah menyambut si bungsu yang sudah menyakiti dan menghianatinya, serta menyadarkan si sulung yang sudah mengecewakannya. Sang bapa dapat melakukan itu semua, karena ia mau terus belajar untuk dapat mengampuni dan memiliki pengharapan yang besar terhadap kedua anaknya. Apabila dilihat, yang dilakukan oleh sang bapa dalam kisah ini adalah salah satu bentuk dari pengampunan yang tanpa batas.

Mengapa Tuhan Yesus mengajak setiap kita untuk dapat belajar mengampuni (bahkan tanpa batas)? Karena pengampunan itu sendiri datangnya dari Tuhan. Dikatakan bahwa ketika kita sudah mengenal Tuhan, penilaian kita terhadap orang lain, sudah bukan menurut ukuran manusia biasa. Mengampuni/memaafkan orang lain itu memang tidak mudah, namun tidak mudah bukan berarti tidak bisa sama sekali. Tidak mudah itu, bisa dilakukan namun dengan perjuangan yang cukup besar.

Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita siap untuk belajar mengampuni di dalam kehidupan kita sehari-hari?

Pengenaan

Suatu ketika ada seorang guru yang meminta murid-muridnya untuk membawa satu kantung plastik bening ke sekolah. Lalu, ia meminta setiap anak untuk memasukkan beberapa kentang di dalamnya. Setiap anak, diminta memasukkan sebuah kentang, untuk setiap orang yang tak

(35)

35 mau mereka maafkan. Mereka diminta untuk menuliskan nama orang itu.

Ada beberapa anak yang memiliki kantung yang ringan, walau banyak juga yang memiliki plastik kelebihan beban. Mereka diminta untuk membawa kantung bening itu setiap saat, siang dan malam. Kemana saja, harus mereka bawa, selama satu minggu penuh. Kantung itu, harus ada di sisi mereka kala mereka sedang tidur, diletakkan di meja saat mereka belajar, dan ditenteng saat mereka berjalan.

Lama-kelamaan kondisi kentang itu makin tak menentu. Banyak dari kentang itu yang membusuk dan mengeluarkan bau yang tak sedap.

Hampir semua anak mengeluh dengan pekerjaan ini. Akhirnya, waktu satu minggu itu selesai. Dan apa yang terjadi? Agaknya banyak yang memilih untuk membuangnya daripada menyimpannya terus menerus.

Ini adalah sebuah perumpamaan yang baik tentang harga yang harus kita bayar untuk sebuah kepahitan atau kebencian yang terus kita simpan, dan dendam yang selalu kita genggam terus menerus. Apabila kebencian dan dendam selalu kita bawa-bawa kemanapun kita berada, dan selalu kita simpan dalam hati kita, berhati-hatilah! Jangan-jangan kebencian dan dendam itu dapat mengeluarkan aroma bau busuk dari dalam diri kita.

Mungkin kita masih sering berpikir, mengampuni adalah hadiah bagi orang yang kita beri ampunan. Namun, kita juga harus menyadari, bahwa memberi pengampunan adalah juga hadiah buat diri kita sendiri. Hadiah, untuk sebuah kebebasan. Kebebasan dari rasa tertekan, rasa dendam, rasa amarah, sakit hati, dll.

Lalu kapan kita mulai belajar dan mempraktikkan pengampunan yang tanpa batas? Bukan besok atau nanti, tetapi sekarang juga, hari ini! Mari setiap kita mau belajar untuk mulai mengampuni siapa saja orang yang mungkin pernah melukai hati kita.

Penyampaian

1. Awali renungan dengan membahas perasaan yang pernah dialami oleh Pemuda (terkhusus disakiti, dikecewakan, dikhianati, dibohongi).

Setelah itu uraikan bagian Fokus.

(36)

36 2. Tegaskan bahwa pengampunan yang tanpa batas itu sangat memulihkan, seperti dalam kisah perumpamaan tentang anak yang hilang sebagaimana yang terdapat di dalam Penjelasan Teks.

3. Ajak Pemuda memiliki kesadaran untuk belajar menjadi pribadi yang mau mengampuni tanpa batas, seperti yang ada dalam bagian Pengenaan.

4. Ajak Pemuda untuk melakukan “Healing Ministry” perihal pengampunan, seperti yang ada dalam bagian Kegiatan.

Kegiatan

Mengajak Pemuda untuk masuk ke dalam saat teduh dengan diiringi lagu

“Mengampuni, mengampuni lebih sungguh”.

Mengampuni, mengampuni lebih sungguh Mengampuni, mengampuni lebih sungguh Tuhan lebih dulu, telah mengampuni aku Mengampuni, mengampuni lebih sungguh

Setelah menyanyikan 1 bait, ajak Pemuda untuk menundukkan kepala, merenungkan nama orang yang pernah melukai hati mereka. Sebutkanlah nama itu saat ini di dalam hati mereka. Munculkanlah wajahnya dipikiran mereka saat ini. Ingatlah setiap perbuatannya yang melukai hati mereka.

(berikan waktu beberapa saat dengan diiringi instrumen lagu

“Mengampuni, mengampuni lebih sungguh”)

Lalu ajaklah mereka juga untuk dapat melihat, jalan yang Tuhan Yesus tempuh untuk mengampuni mereka, saat Ia mau berkorban untuk mereka. Dengan kekuatan dari Tuhan, ajaklah mereka untuk mengatakan,

“Tuhan aku mau belajar untuk mengampuni orang-orang yang pernah menyakitiku. Pimpinanlah aku Tuhan untuk mengampuni mereka”.

Setelah itu, tutuplah saat teduh dengan kembali mengajak Pemuda untuk menyanyikan lagu “Mengampuni, mengampuni lebih sungguh”.

(37)

37 Bahan Pembinaan Pemuda Minggu Ketiga Februari 2022

BELAS KASIH TANPA MEMBEDAKAN

Bacaan

Lukas 10:25-37 Tujuan

1. Pemuda memahami bahwa belas kasih adalah salah satu bentuk dari kepedulian.

2. Pemuda belajar untuk dapat menumbuhkan belas kasih kepada sesama, tanpa membedakan.

Fokus

Orang Kristen pada dasarnya memiliki sebuah kekuatan dalam menjalani kehidupan ini, yaitu adanya KASIH. Kasih itu sangat lekat hubungannya dengan perbuatan. Tanpa perbuatan, kasih itu tidaklah berarti. Kasih itu adalah sesuatu hal yang aktif, bukannya pasif. Mengapa Allah Bapa mengutus Anak-Nya ke dalam dunia? Karena kasih-Nya kepada manusia. Mengapa Yesus rela menderita dan mati di tempat yang hina?

Karena kasih-Nya kepada setiap orang berdosa.

Kata kasih, bukanlah sebuah kata yang baru dalam kehidupan orang percaya. Hampir setiap minggu kita mendengar atau bahkan mengucapkan kata kasih itu sendiri, baik dalam lagu pujian, dalam doa yang dinaikkan, dalam renungan atau kotbah, dalam kesaksian-kesaksian, dll. Namun apakah kita sudah menjadikan kasih itu, menjadi kasih yang aktif di dalam kehidupan kita saat berelasi dengan sesama kita (belas kasih)? Firman Tuhan hari ini ingin mengajak kepada setiap kita untuk menyadari akan pentingnya mewujudnyatakan Firman Tuhan di dalam kehidupan umat Tuhan hari lepas hari.

Oleh sebab itulah, tema persekutuan kita hari ini hendak mengajak Pemuda untuk dapat memahami bahwa belas kasih adalah salah satu bentuk dari kepedulian. Pemuda juga diajak belajar untuk dapat menumbuhkan belas kasih kepada sesama, tanpa membedakan.

(38)

38 Penjelasan Teks

Lukas 10:25-37, menceritakan dialog antara Yesus dengan ahli Taurat.

Dari awal nampaknya Yesus sudah mengerti maksud dari pertanyaan ahli Taurat ini. Ahli Taurat hanya sekedar mau untuk mencobai Yesus dengan pertanyaannya itu. Namun Yesus tidak terjebak dengan pertanyaannya itu, melainkan mengajarkan tentang tugas umat Tuhan melalui jawaban- Nya itu. Bagi Yesus, untuk memperoleh hidup yang kekal, tidak cukup hanya dengan mengerti dan mendalami Firman Tuhan saja, melainkan mau dan siap untuk jadi pelaksana Firman Tuhan. Yesus menggunakan perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati. Inti dari perumpamaan ini bukan ingin memperlihatkan secara keseluruhan bahwa semua orang Samaria baik hati sedangkan semua Imam dan semua orang Lewi jahat. Tidak! Melainkan ingin mengajak umat Tuhan untuk mau mewujudnyatakan belas kasihan, walaupun banyak tantangannya.

Setidaknya melalui bahan bacaan Injil kita pada hari ini, ada 3 tantangan utama saat kita hendak berbelas kasih:

1. Tantangan Pribadi

Perihal: Waktu dan Tenaga.

Contoh: Imam dan Orang Lewi yang "turun gunung", biasanya sudah habis selesai melakukan kegiatan/pelayanan, dan mau cepat-cepat pulang untuk beristirahat.

2. Tantangan Financial Perihal: Materi.

Contoh: Untuk membantu orang yang keadaannya sedang sekarat, tidak bisa sekali diobati langsung sembuh, dan tidak bisa dibawa kerumahnya karena jarak yang masih jauh. Sehingga harus dititipkan ditempat terdekat untuk mendapatkan perawatan, yang berarti bagi yang hendak menolong harus siap dana karena dana yang dibutuhkan pastinya cukup banyak untuk membantu. Bagi Imam dan Orang Lewi yang ada pada saat itu, nampaknya tidak berani melewati tantangan ini.

3. Tantangan Profesional Perihal: Status dan Pekerjaan

(39)

39 Contoh: Kisah orang yang sekarat ini nampaknya hampir mirip dengan orang yang sudah meninggal, sehingga apabila Imam dan Orang Lewi bersentuhan dengan orang yang sudah meninggal, mereka harus menyucikan diri mereka beberapa waktu lamanya agar kembali suci dan boleh untuk melayani lagi. Sehingga dari sisi status Imam dan Orang Lewi yang ada dicerita ini akan dipandang tidak baik, dan dari sisi pekerjaan akan sangat menghambat mereka, apabila mereka menolongnya.

Pengenaan

Di tengah kemajuan zaman saat ini yang membuat segala sesuatunya terasa semakin mudah, nampaknya ada hal yang perlu diperhatikan, salah satunya tingkat individualistik manusia semakin meningkat. Hal ini membuat banyak manusia yang lebih fokus terhadap dirinya sendiri dan lupa akan sekitarnya. Salah satu dampaknya adalah melemahnya rasa belas kasih kita terhadap persoalan yang terjadi kepada sesama kita, karena kita hanya berfokus pada diri kita sendiri.

Saat kita melihat keadaan sesama yang sedang menderita, terkadang kita hanya berhenti sampai pada tahap “kasihan” saja, tanpa ada perbuatan kasih yang nyata. Karena salah satu kendala untuk menumbuhkan belas kasih kepada sesama adalah banyaknya tantangan demi tantangan yang harus dihadapi. Rasa kasihan akan penderitaan orang lain, tidaklah cukup. Belas kasih bukan sebatas rasa kasihan saja, tetapi hendaknya menjadi aksi nyata dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang dapat merasa kasihan kepada orang lain, tetapi tidak semua orang mampu untuk mewujud nyatakan belas kasih tersebut.

Sesama kita adalah pancaran Tuhan, sehingga kita bisa saja mengalami perjumpaan dengan Tuhan melalui belas kasih yang kita wujudnyatakan kepada sesama dan tidak ada tembok pembatas. Belas kasih kepada sesama tanpa membedakan adalah bukti nyata dari cinta kita kepada Tuhan. Belas kasih dapat kita tunjukkan dengan mau memberi waktu untuk mendengarkan, membantu dengan tenaga, materil dan sebagainya.

Bagaimana kita dapat berkata, “Aku mengasihi Tuhan!”, jika kita saja masih seringkali mengabaikan sesama yang ada di sekitar kita?

(40)

40 Penyampaian

5. Awali renungan dengan membahas kekuatan yang dimiliki oleh orang Kristen, yaitu kasih. Setelah itu uraikan bagian Fokus.

6. Tegaskan bahwa Tuhan Yesus mengingatkan kepada setiap orang untuk dapat menghadirkan belas kasih kepada sesama tanpa membedakan, sebagaimana yang terdapat di dalam Penjelasan Teks.

7. Ajak Pemuda memiliki kesadaran akan tantangan dalam menghadirkan belas kasih di tengah-tengah kehidupan ini, seperti yang ada dalam bagian Pengenaan.

8. Diskusikan tantangan-tantangan dalam menghadirkan belas kasih di tengah keadaan pandemi saat ini, seperti yang ada dalam bagian Kegiatan.

Kegiatan

Mengajak Pemuda untuk berdiskusi tentang tantangan-tantangan yang pernah atau mungkin akan dihadapi saat hendak menghadirkan belas kasih kepada sesama, di tengah keadaan pandemi saat ini!

(41)

41 Bahan Pembinaan Pemuda Minggu Keempat Februari 2022

MENCINTA HINGGA TERLUKA

Bacaan Lukas 6:27-36 Tujuan

1. Pemuda memahami bahwa mencinta adalah sebuah sebuah seni kehidupan yang membutuhkan keterampilan untuk menggapainya.

2. Pemuda diajak meneladani Tuhan Yesus, yang tetap semangat mencinta hingga terluka.

Fokus

Berbicara tentang cinta di bulan ini nampaknya tepat, karena bulan Februari seringkali dikatakan sebagai bulan penuh cinta. Cinta seperti apa yang selama ini kita pahami? Cinta bukanlah sekedar berbicara tentang perasaan, keinginan atau pikiran semata. Cinta juga bukan sekedar berbicara tentang harapan atau cita-cita dalam diri kita. Namun cinta juga berbicara tentang keterampilan. Cinta sejati adalah cinta yang dihidupi dan dimiliki melalui berbagai macam ujian, bahkan yang melukai sekalipun. Oleh sebab itulah, berbicara tentang cinta jangan hanya sekedar berfokus pada hasil, namun yang terpenting adalah prosesnya. Saat berproses dalam mencinta, mungkin saja kita akan terluka. Namun ingatlah Tuhan juga dapat membentuk jiwa kita, melalui setiap luka-luka yang ada.

Oleh sebab itulah, tema persekutuan kita di minggu keempat bulan Februari ini adalah mencintai hingga terluka. Melalui perenungan Firman Tuhan hari ini, Pemuda diajak untuk memahami seni mencinta di dalam kehidupan ini, seperti yang diajarkan oleh Tuhan Yesus Kristus..

Penjelasan Teks

Lukas 6:27-36 merupakan pengajaran yang Yesus berikan kepada murid- murid-Nya. Apabila dibaca, nampaknya ajaran ini adalah sesuatu yang

(42)

42

“aneh” di tengah kebiasaan hidup manusia. Yesus mengajarkan hal yang pada saat itu dianggap “tidak wajar” dilakukan oleh seseorang terhadap orang yang melukainya. Karena pada saat itu konteksnya banyak orang yang masih menerapkan hukum “mata ganti mata, gigi ganti gigi”.

Sehingga kebiasaan yang terjadi adalah saat ada orang yang melukai sesamanya, ia pun harus siap mendapat luka yang sama. Apa dampaknya saat hukum ini tetap berlaku? Pastinya tidak akan ada damai, baik di dalam kehidupan orang yang terluka, maupun orang yang dilukai, bahkan juga orang-orang yang ada di sekitarnya.

Oleh sebab itulah, di tengah kebiasaan hidup yang seperti ini, Yesus memberikan pengajaran tentang kasih yang tulus, bahkan harus siap mencintai hingga terluka. Hal ini bukan hanya diajarkan oleh Yesus melalui teori saja, melainkan jg Yesus meneladankannya di dalam kehidupan-Nya, bahkan sampai Ia rela mati, bangkit, dan naik ke Surga.

Salah satu tugas yang Yesus bawa saat datang ke dunia ini adalah menghadirkan damai sejahtera. Bagi Yesus damai sejahtera itu akan benar-benar hadir di dunia, saat kasih yang tulus itu benar-benar turwujud nyata. Kasih kepada orang yang pernah melukai, bukan hanya berupa kasih di dalam hati saja, tetapi harus ada wujud nyatanya.

Pengenaan

Suatu ketika Bunda Teresa dikisahkan sedang berkeliling dari gang ke gang yang ada di daerah Calcuta. Bermaksud apabila ia menemukan seseorang yang memerlukan bantuan, akan dibantunya, atau di bawa ke tempat perawatan yang dimilikinya. Calcuta pada saat itu (mungkin hingga saat ini) terkenal sebagai salah satu kota yang amat memperihatinkan di daerah India. Sehingga tidak jarang Bunda Teresa menjumpai para pengemis, gelandangan, dari setiap gang yang ia lewati.

Namun saat ia sedang melewati salah satu gang, ia disapa oleh salah seorang pengemis perempuan, “Bunda Teresa!”. Namun pengemis ini tidak hanya berteriak memanggilnya, melainkan saat Bunda Teresa menengok, pengemis ini sedang berusaha menggelesotkan kakinya untuk mendekat kepadanya. Setelah mendekat, pengemis ini berkata “Ini untukmu. Aku mau memberikannya kepadamu”, kata pengemis itu sambil memberikan semangkuk uang receh rupee hasil jerih payahnya

(43)

43 mengemis pada hari itu. Seketika itu juga Bunda Teresa menolaknya secara halus dan berkata, “Mengapa, bu? Bukankah ini untuk makan ibu hari ini? Tidak usah, bu”. Namun pengemis perempuan itu memandang Bunda Teresa dengan mata berkaca-kaca. Dia memang belum makan dari pagi. Bahkan saat Bunda Teresa memperhatikannya, pengemis ini hanya menggunakan baju yang sangat lusuh, dan tubuh yang hanya tulang berbalutkan kulit yang pada saat itu sedang berlutut di depannya. Bunda Teresa pun mendekat kepadanya, dan pengemis perempuan ini berkata sambil dengan nada membujuk, “Tapi bunda, ada yang jauh lebih menderita dari pada aku. Terimalah, Bunda. Berikanlah uang ini kepadanya”, kata si pengemis dengan penuh harapan. Bunda Teresa akhirnya menerimanya, “Baik, baiklah aku terima. Terimakasih ibu”.

Bunda Teresa mengucapkannya dengan menepuk haru bahu pengemis perempuan itu, sebagai tanda untuk menghargai jerih payahnya itu.

Dengan kejadian yang dialaminya itulah, Bunda Teresa menuliskan pengalamannya itu di dalam sebuah buku. Ia merasakan bahwa betapa pengemis perempuan itu memberikan seluruh hartanya dengan segala cinta demi membahagiakan orang lain yang lebih membutuhkan. Inilah bentuk dari mencintai hingga terluka. Pengemis perempuan itu tidak menghitung-hitung keringat yang sudah menetes, keletihan dari jalanan yang berdebu dan panas yang dialaminya saat itu. Ia memberikan dengan cintanya.

Penyampaian

1. Awali renungan dengan membahas mencinta membutuhkan keterampilan, seperti yang diuraikan dalam bagian Fokus.

2. Tegaskan bahwa Tuhan Yesus sendiri hendak meneladankan kepada setiap kita untuk siap mencinta hingga terluka sebagai bentuk dari cinta yang tulus, seperti yang terdapat di dalam Penjelasan Teks.

3. Ajak Pemuda memiliki kesadaran untuk belajar mencintai hingga terluka dari kisah Bunda Teresa bersama pengemis perempuan, seperti yang ada dalam bagian Pengenaan.

4. Diskusikan beberapa pertanyaan dan juga menonton film pendek, seperti yang ada dalam bagian Kegiatan.

(44)

44 Kegiatan

1. Mendiskusikan sebuah lagu D‟Masiv yang berjudul “Cinta Ini Membunuhku”

Kau membuatku berantakan Kau membuatku tak karuan Kau membuatku tak berdaya Kau menolakku, acuhkan diriku

Bagaimana caranya untuk Meruntuhkan kerasnya hatimu?

Kusadari, ku tak sempurna Ku tak seperti yang kau inginkan Kau hancurkan aku dengan sikapmu Tak sadarkah kau telah menyakitiku?

Lelah hati ini meyakinkanmu Cinta ini membunuhku

a) Apa maksud dari lagu yang berjudul Cinta Ini Membunuhku?

b) Mengapa cinta bisa membunuh?

c) Adakah yang pernah memiliki pengalaman seperti lagu ini? Bisa dibagikan!

d) Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk dapat tetap “mencinta”

walaupun pernah terluka?

2. Mengajak Pemuda menonton film pendek “Broken”

https://www.youtube.com/watch?v=WOL5TKNWxsk

Referensi

Dokumen terkait

Bahan humat dari ekstrak batubara muda (subbituminus) pada takaran 800 ppm diikuti dengan pemberian SP-36 takaran 75% rekomendasi merupakan takaran optimum dan dapat digunakan

Program utama pengembangan agribisnis komoditas unggas sangat terkait dengan tujuan dan sasaran yang akan dicapai. Guna menjamin penyediaan pasokan d.o.c. ayam ras yang

Dalam simulasi ini, tiga variasi muatan LNG dalam tangki yang meliputi: kondisi muatan kosong yaitu muatan LNG 10% dari ketinggian tangki (h), kondisi muatan setengah penuh,

Secara khusus, pelatihan ini menyediakan berbagai pengetahuan khusus dan konsep dasar pembukuan keuangan kelompok, meliputi : Unsur-unsur didalam manajemen, fungsi manajemen;

Pada Tabel 1 di atas dapat dilihat bahwa Nepenthes yang dijumpai di semua lokasi penelitian adalah Nepenthes gracilis dan Nepenthes rafflesiana, dimana jumlah

Berdasakan hasil pembahasan yang telah dipaparkan, dapat disimpulkan bahwa analisis instrumen penilaian pembelajaran tematik pada Buku Guru Kelas V Tema 8

bola agak teguh, dapat dibentuk gulungan yang agak mudah hancur. Lempung liat berpasir : rasa halus dengan sedikit bagian agak