Bacaan
2 Korintus 8:7-15 Tujuan
1. Pemuda dapat memahami makna kasih yang sesungguhnya.
2. Pemuda mau belajar menghadirkan kasih di tengah kehidupan, sebagai dasar untuk mempersatukan.
Fokus
Siapa yang tidak ingin hidupnya bahagia? Siapa yang ingin membahagiakan keluarganya, temannya, gerejanya, diri sendiri, orang yang kasihinya, dan Tuhan? Hampir semua manusia menginginkan hal itu. Baik tidak? Ya pastinya hal itu sangat baik. Namun seringkali untuk membahagiakan semuanya itu, sasarannya kurang tepat. Membahagiakan
= senang-senang, keadaan berlimpah ruah, kekayaan, memberikan sesuatu yang enak-enak (tidak pernah dimarahi, kasih makanan yang enak-enak tapi tidak sehat), dll. Sekali lagi yang perlu ditekankan, maksudnya baik, namun seringkali salah sasaran. Ternyata dasar yang dapat mempersatukan bukanlah uang, materi, harta, kedudukan yang tinggi, kepintaran, dll, melainkan KASIH. Kasih itu adalah dasar untuk mempersatukan suatu hubungan (hubungan kekeluargaan, pertemanan, persaudaraan, dll).
Melalui perenungan Firman Tuhan hari ini, Pemuda diajak untuk dapat memahami makna kasih yang sesungguhnya. Pemuda juga diharapkan mau belajar untuk menghadirkan kasih di tengah kehidupan mereka, sebagai dasar untuk saling mempersatukan.
Penjelasan Teks
Rasul Paulus mengingatkan kita tentang pelayanan kasih dalam bacaan hari ini. Jemaat Korintus diingatkan pentingnya pelayanan kasih yang
30 dilakukan dengan tulus, rela hati, tidak membedakan, dan tidak boleh ditunda-tunda. Pelayanan kasih yang mendorong jemaat Korintus bertumbuh dalam kekayaan, pengetahuan, karunia-karunia, dan terlebih lagi kaya dalam tindakan kasih.
Kekayaan kasih yang akhirnya menjembatani dan mempersatukan perbedaan antara umat Kristen berlatar belakang Yahudi dan non Yahudi yang sempat terpecah karena perbedaan pandangan tentang tradisi.
Tindakan kasih kita tidak bertujuan untuk memindahkan beban orang lain kepada diri kita supaya orang lain mendapat keringanan (maksudnya baik, namun salah sasaran), melainkan untuk membagikan berkat Tuhan yang ada pada kita, agar orang lain dapat turut merasakan berkat yang sama dari Tuhan (maksudnya baik, dan tepat sasaran).
Untuk dapat membahagiakan keluarga kita, teman kita, gereja kita, diri sendiri, orang yang kita kasihi, dan Tuhan, dengan tepat sasaran, maka dibutuhkan yang namanya kacamata kasih untuk dapat melihatnya.
Tanpa kacamata kasih, maksud baik, mungkin akan salah sasaran. Salah satu contohnya, untuk menggugah hati jemaat Korintus yang cukup berada, Rasul Paulus tidak langsung marah-marah begitu saja, melainkan menggunakan contoh nyata dari jemaat Makedonia yang miskin, tapi mau berbagi kasih.
Rasul Paulus menggunakan kacamata kasih, untuk menekankan pelayanan kasih kepada sesama. Apa yang dilakukan oleh Rasul Paulus memperlihatkan bahwa Kasih itu = kekayaan yang mempersatukan. Ia tidak marah-marah tanpa alasan. Namun membangun suasana kekeluargaan yang begitu indah dengan jemaat Korintus.
Pengenaan
Bagaimana dengan kita? Siapa yang tidak mau dibahagiakan dan membahagiakan? Anak-anak mau dibahagiakan dan membahagiakan.
Pemuda remaja mau dibahagiakan dan membahagiakan. Orang dewasa juga mau dibahagiakan dan membahagiakan. Orang Usia lanjut pun mau dibahagiakan dan membahagiakan. Namun yang menjadi pertanyaan untuk setiap kita saat ini adalah sudahkah kita menggunakan kacamata kasih dalam menembak sasaran kita untuk dapat membahagiakan semua
31 pihak? Membahagiakan = mempersatukan semuanya di dalam Kasih Tuhan.
Penyampaian
1. Awali renungan dengan membahas apa yang dapat mempersatukan dalam hidup ini, seperti yang ada dalam bagian Fokus.
2. Tegaskan bahwa kasih adalah dasar mempersatukan, sebagaimana yang terdapat di dalam Penjelasan Teks.
3. Ajak Pemuda memiliki kesadaran sudahkah selama ini menggunakan kacamata kasih dalam memperlakukan sesama, seperti yang ada dalam bagian Pengenaan.
4. Ajaklah Pemuda untuk mendengarkan cerita ilustrasi dan membahas beberapa hal, seperti yang ada dalam bagian Kegiatan.
Kegiatan
Menceritakan sebuah ilutrasi dan membahasnya
Ada sebuah tradisi di negara Jepang pada zaman dahulu. Tradisinya adalah “membuang” orang yang sudah tua ke dalam hutan. Mereka yang
“dibuang” adalah orangtua yang sudah tidak berdaya lagi, yang dianggap hanya menjadi beban yang akan memberatkan anak-anaknya.
Pada suatu hari ada seorang pemuda yang berniat untuk “membuang”
ibunya ke hutan, karena si ibu telah terkena penyakit dan menjadi lumpuh. Si pemuda ini dengan pergumulan yang berat akhirnya memutuskan membawa ibunya ke dalam hutan. Ia menggendong sendiri ibunya, dan dibawa ke dalam hutan. Ibu yang kelihatan tidak berdaya, berusaha untuk menggapai setiap ranting pohon yang dapat diraihnya, lalu mematahkannya dan menaburkannya di sepanjang jalan yang mereka lalui.
Sesampainya di dalam hutan yang sangat lebat, si pemuda ini menurunkan ibunya di suatu tempat yang terlihat aman, dan mengucapkan kata perpisahan, sambil berusaha untuk menahan perasaan sedihnya. Pemuda ini pun tidak menyangka tega melakukan perbuatan seperti itu terhadap ibunya. Namun justru sang ibu nampak tegar, dan dengan senyuman sang ibu berkata, “Anakku, ibu sangat menyayangimu.
32 Sejak kau kecil sampai dewasa, ibu selalu merawatmu dengan segenap cintaku. Bahkan sampai hari ini, rasa sayang ibu kepadamu tidak berkurang sedikitpun. Tadi ibu sudah menandai sepanjang jalan yang kita lalui dengan ranting-ranting kayu. Ibu takut kamu tersesat. Ikutilah tanda itu, agar kamu selamat sampai di rumah”.
Setelah mendengar kata-kata tersebut, pemuda ini menangis dengan sangat kerasnya. Ia langsung memeluk ibunya, dan kembali menggendongnya untuk membawa sang ibu pulang ke rumah. Pemuda ini akhirnya merawat ibunya yang sangat mengasihinya, sampai ibunya menutup usia. Sang ibu berhasil “menaklukkan” hati sang anak dengan cintanya yang tidak pernah berubah, dahulu – sekarang – selamanya.
1. Apa hal menarik yang dapat kita pelajari dari ilustrasi ini?
2. Menurut kita, seperti apa ciri-ciri kasih yang sesungguhnya?
3. Adakah yang memiliki cerita nyata tentang kasih yang mempersatukan? Bisa dibagikan ceritanya!
Kasih takkan pernah habis saat kita membagikannya, melainkan kasih akan semakin kuat saat kita membagikannya.
33 Bahan Pembinaan Pemuda Minggu Kedua Februari 2022