• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGAMPUNAN TANPA BATAS

Bacaan

Lukas 15:11-32 Tujuan

Pemuda memahami indahnya sebuah pengampunan, dan dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Fokus

Pernahkah kita merasa disakiti? Pernahkah kita merasa dikhianati?

Pernahkah kita merasa dibohongi? Pernahkah kita merasa dikecewakan?

Apabila kita pernah merasakan itu semua, apakah kita sudah bisa untuk mengampuni orang yang menyakiti, menghianati, membohongi, dan mengecewakan kita? Ataukah saat kita merasa disakiti, dikhianati, dibohongi, dikecewakan ada niatan dalam hati kita untuk membenci atau bahkan melakukan pembalasan terhadap orang yang sudah melakukan itu semua terhadap kita? “Bencilah dia! Balaslah dia! Maka kamu akan puas!”. Ya, bisa saja saat kita membenci dan membalas, kita akan mendapatkan kepuasan. Namun apakah kebencian dan pembalasan itu akan menyembuhkan? Sekali-kali TIDAK! Kebencian dan pembalasan itu tidak menyembuhkan, melainkan dapat semakin menyakiti dan menghancurkan (diri sendiri dan orang tersebut).

Oleh sebab itulah, tema persekutuan kita di hari ini berbicara tentang dampak dari sebuah pengampunan. Melalui perenungan Firman Tuhan hari ini, Pemuda diajak untuk dapat menjadi pribadi yang siap mengampuni tanpa batas.

Penjelasan Teks

Perumpamaan tentang anak yang hilang adalah jawab yang Yesus berikan mengenai pengampunan. Sosok bapa yang ada dikisah ini bisa saja merasakan yang namanya sakit hati karena anaknya yang bungsu

34 tiba-tiba meminta untuk pembagian warisan, padahal pada waktu itu warisan orangtua baru akan didapat oleh sang anak, ketika ayahnya sudah meninggal dunia (12). Tidak hanya itu, sosok bapa dalam kisah ini bisa saja merasakan dihianati oleh anaknya yang bungsu, karena setelah beberapa hari dibagikan warisan si bungsu menjual semuanya dan pergi untuk berfoya-foya (13). Dan sosok bapa dalam kisah ini bisa saja merasakan kekecewaan yang luar biasa terhadap anaknya yang sulung, karena ternyata si sulung yang selama ini dibesarkan dengan cinta kasih, di dalam hatinya bertumbuh rasa dendam dan iri hati (28-29).

Namun apa yang dilakukan oleh sang bapa ini? Ia tidak membiarkan dirinya larut dalam kesakithatian, kesedihan karena dihianati, serta kekecewaan yang dilakukan oleh kedua anaknya. Yang dilakukan dan diperbuat oleh sang bapa adalah menyambut si bungsu yang sudah menyakiti dan menghianatinya, serta menyadarkan si sulung yang sudah mengecewakannya. Sang bapa dapat melakukan itu semua, karena ia mau terus belajar untuk dapat mengampuni dan memiliki pengharapan yang besar terhadap kedua anaknya. Apabila dilihat, yang dilakukan oleh sang bapa dalam kisah ini adalah salah satu bentuk dari pengampunan yang tanpa batas.

Mengapa Tuhan Yesus mengajak setiap kita untuk dapat belajar mengampuni (bahkan tanpa batas)? Karena pengampunan itu sendiri datangnya dari Tuhan. Dikatakan bahwa ketika kita sudah mengenal Tuhan, penilaian kita terhadap orang lain, sudah bukan menurut ukuran manusia biasa. Mengampuni/memaafkan orang lain itu memang tidak mudah, namun tidak mudah bukan berarti tidak bisa sama sekali. Tidak mudah itu, bisa dilakukan namun dengan perjuangan yang cukup besar.

Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita siap untuk belajar mengampuni di dalam kehidupan kita sehari-hari?

Pengenaan

Suatu ketika ada seorang guru yang meminta murid-muridnya untuk membawa satu kantung plastik bening ke sekolah. Lalu, ia meminta setiap anak untuk memasukkan beberapa kentang di dalamnya. Setiap anak, diminta memasukkan sebuah kentang, untuk setiap orang yang tak

35 mau mereka maafkan. Mereka diminta untuk menuliskan nama orang itu.

Ada beberapa anak yang memiliki kantung yang ringan, walau banyak juga yang memiliki plastik kelebihan beban. Mereka diminta untuk membawa kantung bening itu setiap saat, siang dan malam. Kemana saja, harus mereka bawa, selama satu minggu penuh. Kantung itu, harus ada di sisi mereka kala mereka sedang tidur, diletakkan di meja saat mereka belajar, dan ditenteng saat mereka berjalan.

Lama-kelamaan kondisi kentang itu makin tak menentu. Banyak dari kentang itu yang membusuk dan mengeluarkan bau yang tak sedap.

Hampir semua anak mengeluh dengan pekerjaan ini. Akhirnya, waktu satu minggu itu selesai. Dan apa yang terjadi? Agaknya banyak yang memilih untuk membuangnya daripada menyimpannya terus menerus.

Ini adalah sebuah perumpamaan yang baik tentang harga yang harus kita bayar untuk sebuah kepahitan atau kebencian yang terus kita simpan, dan dendam yang selalu kita genggam terus menerus. Apabila kebencian dan dendam selalu kita bawa-bawa kemanapun kita berada, dan selalu kita simpan dalam hati kita, berhati-hatilah! Jangan-jangan kebencian dan dendam itu dapat mengeluarkan aroma bau busuk dari dalam diri kita.

Mungkin kita masih sering berpikir, mengampuni adalah hadiah bagi orang yang kita beri ampunan. Namun, kita juga harus menyadari, bahwa memberi pengampunan adalah juga hadiah buat diri kita sendiri. Hadiah, untuk sebuah kebebasan. Kebebasan dari rasa tertekan, rasa dendam, rasa amarah, sakit hati, dll.

Lalu kapan kita mulai belajar dan mempraktikkan pengampunan yang tanpa batas? Bukan besok atau nanti, tetapi sekarang juga, hari ini! Mari setiap kita mau belajar untuk mulai mengampuni siapa saja orang yang mungkin pernah melukai hati kita.

Penyampaian

1. Awali renungan dengan membahas perasaan yang pernah dialami oleh Pemuda (terkhusus disakiti, dikecewakan, dikhianati, dibohongi).

Setelah itu uraikan bagian Fokus.

36 2. Tegaskan bahwa pengampunan yang tanpa batas itu sangat memulihkan, seperti dalam kisah perumpamaan tentang anak yang hilang sebagaimana yang terdapat di dalam Penjelasan Teks.

3. Ajak Pemuda memiliki kesadaran untuk belajar menjadi pribadi yang mau mengampuni tanpa batas, seperti yang ada dalam bagian Pengenaan.

4. Ajak Pemuda untuk melakukan “Healing Ministry” perihal pengampunan, seperti yang ada dalam bagian Kegiatan.

Kegiatan

Mengajak Pemuda untuk masuk ke dalam saat teduh dengan diiringi lagu

“Mengampuni, mengampuni lebih sungguh”.

Mengampuni, mengampuni lebih sungguh Mengampuni, mengampuni lebih sungguh Tuhan lebih dulu, telah mengampuni aku Mengampuni, mengampuni lebih sungguh

Setelah menyanyikan 1 bait, ajak Pemuda untuk menundukkan kepala, merenungkan nama orang yang pernah melukai hati mereka. Sebutkanlah nama itu saat ini di dalam hati mereka. Munculkanlah wajahnya dipikiran mereka saat ini. Ingatlah setiap perbuatannya yang melukai hati mereka.

(berikan waktu beberapa saat dengan diiringi instrumen lagu

“Mengampuni, mengampuni lebih sungguh”)

Lalu ajaklah mereka juga untuk dapat melihat, jalan yang Tuhan Yesus tempuh untuk mengampuni mereka, saat Ia mau berkorban untuk mereka. Dengan kekuatan dari Tuhan, ajaklah mereka untuk mengatakan,

“Tuhan aku mau belajar untuk mengampuni orang-orang yang pernah menyakitiku. Pimpinanlah aku Tuhan untuk mengampuni mereka”.

Setelah itu, tutuplah saat teduh dengan kembali mengajak Pemuda untuk menyanyikan lagu “Mengampuni, mengampuni lebih sungguh”.

37 Bahan Pembinaan Pemuda Minggu Ketiga Februari 2022