e. Kelautan dan Perikanan
4. Cakupan bina kelompok nelayan
(%) 100 100 100 100 100
Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Pekalongan tahun 2010
Tingkat konsumsi ikan di Kabupaten Pekalongan secara umum masih rendah, walaupun mengalami peningkatan. Rata-rata konsumsi ikan pada tahun 2006 hanya sebanyak 12,51 kg/kapita/tahun, pada tahun 2010 capaiannya meningkat menjadi 14,86 kg/kapita/tahun. Perkembangan tingkat konsumsi ikan di Kabupaten Pekalongan dapat dilihat pada tabel berikut:
Grafik 2. 10
Data Konsumsi Ikan per Kapita Kabupaten Pekalongan Tahun 2006 – 2010
Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Pekalongan tahun 2010
Dilihat dari kondisi fisik, pantai di Kabupaten Pekalongan termasuk dalam wilayah rawan abrasi. Hal ini terlihat dari adanya pantai yang terkena abrasi pada tahun 2010 seluas 9,125 ha, sedangkan tanah timbul hanya seluas 3,25 ha. Luas lahan yang terkena abrasi dan akresi dalam kurun waktu lima tahun (2006-2010) tidak mengalami perubahan (tetap). Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya abrasi adalah dengan mengembangkan vegetasi mangrove. Di Kabupaten Pekalongan luas kawasan mangrove hanya seluas 935 ha, tidak mengalami perubahan dalam kurun waktu lima tahun (2006-2010).
f. Perdagangan
Banyaknya pasar tradisional yang menjadi prasarana pendukung utama perekonomian daerah di Kabupaten Pekalongan. Pada tahun 2010 jumlah pasar di Kabupaten Pekalongan sebanyak 54 unit, terdiri dari 23 pasar swalayan, 2 pasar grosir, 10 pasar umum, 6 pasar hewan, 1 pasar buah, 1 pasar sepeda, 3 pasar ikan, dan 8 pasar desa. Jumlah pedagang di Kabupaten Pekalongan pada tahun 2010 sebanyak 7.272 pedagang dengan perincian pedagang di luar pasar sebanyak 1.195 pedagang dan pedagang di dalam pasar atau los sebanyak 6.077 pedagang.
Sektor perdagangan menunjukkan pertumbuhan meningkat pada tahun 2009 sebesar 3,73 persen lebih tinggi daripada tahun 2008 menjadi 2,62 persen. Apabila dilihat dari banyaknya penerbitan surat ijin usaha perdagangan (SIUP), ada kenaikan yang cukup fantastis yaitu sebesar 130,74 persen yaitu dari jumlah 475 perusahaan di tahun 2008 menjadi 1.096 perusahaan di tahun 2009. Penerbitan Tanda Daftar Perusahaan (TDP) pembaharuan pada tahun 2009 sebanyak 342 perusahaan dan TDP baru pada tahun yang sama sebesar 754 perusahaan baru. Kondisi ini menunjukkan bahwa investasi lokal menunjukkan kondisi iklim investasi yang baik.
Dilihat dari bentuk kelembagaan badan hukum, maka usaha perorangan masih tetap menempati jumlah terbesar, yaitu sebanyak 687 unit perusahaan dari total perusahaan sebanyak 1.096 unit, disusul perusahaan berbentuk Commanditer Veronschap (CV) sebanyak 336 unit dan berbentuk Perseroan terbatas (PT), 31 perusahaan, 25 perusahaan berbentuk Firma (Fa), dan sisanya 17 unit usaha berbentuk Koperasi.
Besarnya nilai ekspor daerah dari Kabupaten Pekalongan lima tahun terakhir dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2009 cenderung bersifat fluktuatif yaitu dari US $ 43.12 juta pada tahun 2005 meningkat menjadi US $ 37.48 juta pada tahun 2006 dan menjadi US $ 28,73 juta tahun 2007. Pada tahun 2008
kembali naik menjadi US $ 15,82 juta hingga di 2009 kembali naik menjadi US $ 30,57. Pada tahun 2009 ini nilai ekspor tertinggi terjadi pada bulan September yang mencapai nilai US $ 5,92 juta, sebaliknya ekspor yang terendah terjadi di bulan Desember US $ 0,38 juta.
Gambaran perusahaan yang memiliki SIUP dan TDP dari tahun ke tahun menunjukkan peningkatan yang cukup berarti. Peningkatan ini menunjukkan bahwa perusahaan di Kabupaten Pekalongan semakin berkembang. Gambaran perkembangan perusahaan yang memiliki SIUP dan TDP serta nilai ekspor terlihat pada tabel berikut:
Tabel 2. 81
Perkembangan Perusahaan yang memiliki SIUP dan TDP, serta Nilai Ekspor Di Kabupaten Pekalongan tahun 2006 – 2010.
Uraian Tahun
2006 2007 2008 2009 2010
Bidang Perdagangan
a. Kepemilikan SIUP (uu) 6.021 6.493 6.922 7.481 8.109
b. Kepemilikan TDP (uu) 6.109 6.283 6.719 7.516 8.109
c. Nilai Ekspor (US$) 37.469.189 28.727.699 15.815.736 30.566.570 50.214.999 Sumber : Dinas Koperasi, UMKM, Industri dan Perdagangan Kab. Pekalongan tahun 2010
Tabel di atas menunjukkan bahwa nilai ekspor dari Kabupaten Pekalongan fluktuatif dengan peningkatan terbesar pada tahun 2010 sebesar US$. 50.214.999. Kondisi ini menunjukkan bahwa pada tahun 2010 seiring dengan membaiknya kondisi perekonomian nasional dan ASEAN, maka nilai ekspor dari Kabupaten Pekalongan mengalami peningkatan yang cukup signifikan.
Kawasan strategis pertumbuhan ekonomi mencakup kawasan unggulan pengembangan ekonomi kabupaten maupun kawasan stimulasi ketertinggalan wilayah. Kawasan strategis pertumbuhan ekonomi ini dapat berupa kawasan andalan/unggulan berkembang. Kawasan andalan/unggulan prospektif berkembang, kawasan ekonomi khusus (KPE), KAPET, kawasan berikat, kawasan perdagangan dan pelabuhan bebas, kawasan pusat perdagangan skala wilayah/kabupaten, kawasan pengembangan potensi khusus, dan kawasan tertinggal di dalam wilayah kabupaten serta kawasan lainnya yang sesuai dengan kepentingan Kabupaten Pekalongan.
Di Kabupaten Pekalongan kawasan yang merupakan kawasan perdagangan adalah kawasan di sepanjang jalur Pantura yang melewati Kecamatan Tirto, Kecamatan Wiradesa dan Kecamatan Siwalan yang berkembang berbagai industri serta perdagangan dan jasa; dan kawasan industri menengah, kecil dan rumah tangga yang tersebar di seluruh wilayah kabupaten, terutama di Kecamatan Siwalan, Kecamatan Buaran, Kecamatan Kedungwuni, Kecamatan Wonopringgo, Kecamatan Wiradesa, Kecamatan Bojong dan Kecamatan Tirto.
g. Industri
Industri dalam pertumbuhan PDRB di Kabupaten Pekalongan dari tahun 2006 sampai 2010 memberikan kontribusi terbesar dari 9 sektor PDRB. Pada tahun 2006 kontribusi PDRB berdasarkan harga berlaku sebesar 28,14% sedikit menurun pada tahun 2010 menjadi 27,95%. Industri di Kabupaten Pekalongan mengalami peningkatan. Jumlah unit usaha industri dari tahun 2006 – 2010 mengalami peningkatan. Pada tahun 2006 jumlah usaha industri sebesar 31.834 unit meningkat pada tahun 2010 menjadi 32.045 unit. Sedangkan penyerapan tenaga kerja terbanyak pada industri logam, mesin, elektronika dan aneka yakni mencapai 85,19 persen dari total penyerapan tenaga kerja sektor industri.
Tabel 2. 82
Banyaknya Perusahaan dan Penyerapan Tenaga Kerja di Kabupaten Pekalongan Tahun 2006-2010
No Uraian Tahun
2006 2007 2008 2009 2010
A Banyaknya
Perusahaan :
1 Industri Logam, Mesin, Elektronika dan Aneka (unit)
20.006 20.048 20.075 20.098 20.110
2 Industri Kimia, Agro dan
Hasil Hutan (unit) 11.828 11.894 11.906 11.921 11.935 Jumlah 31.834 31.942 31.981 32.019 32.045
B Penyerapan Tenaga
Kerja :
1 Industri Logam, Mesin, Elektronika dan Aneka (orang)
151.199 150.705 151.426 151.984 153.417
2 Industri Kimia, Agro dan
Hasil Hutan (orang) 26.126 26.240 26.375 26.517 26.669
Jumlah 177.325 176.945 177.801 178.501 180.086
Sumber : Dinas Koperasi, UMKM, Industri dan Perdagangan Kab. Pekalongan tahun 2010
Jenis industri yang berkembang di Kabupaten Pekalongan adalah industri TPT (Tekstil dan Produk Tekstil) danindustri makanan dan minuman. Pada tahun 2006 sampai dengan 2010, industri-industri tersebut mengalami peningkatan. Pada tahun 2010, jumlah industri TPT sebanyak 19.007 unit usaha, atau meningkat sebesar 0,57 prosen dibandingkan dengan jumlah industri TPT pada tahun 2006 yakni sebesar 18.900 unit usaha. Industri TPT ini tersebar hampir di seluruh kecamatan di Kabupaten Pekalongan, antara lain di Kecamatan Buaran, Kedungwuni, Tirto, Wonokerto, Wiradesa, Bojong, Kesesi dan Doro. Industri Makanan dan Minuman pada tahun 2010 juga meningkat sebanyak 56 unit usaha, atau naik 1,60 persen dibandingkan dengan kondisi tahun 2006 (3.490 unit usaha). Sedangkan industri kimia naik sebesar 25 persen menjadi 80 unit usaha, jika dibandingkan dengan kondisi tahun 2006 (64 unit usaha).
Produk unggulan Kabupaten Pekalongan adalah pertenunan, batik, jeans, konveksi, bordir dan kerajinan akar wangi (ATBM). Pertenunan memiliki kapasitas per tahun sebanyak 75.246.597 meter dengan daerah pemasaran dalam negeri dan ekspor (Timur Tengah dan Malaysia). Industri Batik memiliki kapasitas per tahun sebanyak 36.900.999 meter dengan daerah pemasaran Jakarta, Surabaya, Medan, Jogja, dan Solo. Industri Jeans memiliki kapasitas pertahun sebanyak 1.143.141 potong dengan daerah pemasaran di Jakarta, Surabaya, Solo, Kudus, Kalimantan, Papua dan Sumatera. Industri konveksi memiliki kapasitas pertahun sebesar 26.945.636 potong dengan daerah pemasaran di Jakarta, Surabaya, Kudus, Kalimantan, Papua dan Sumatera. Industri Bordir memiliki kapasitas per tahun sebesar 4.268.153 potong dengan daearah pemasaran di Jakarta dan Bandung. Sedangkan industri Kerajinan Akar Wangi memiliki kapasitas per tahun 1.344.960 meter dengan daerah pemasaran di Jogja dan Bali.
h. Ketransmigrasian
Rendahnya minat dan partisipasi masyarakat untuk bertransmigrasi merupakan masalah yang selama ini dihadapi oleh Pemerintah Kabupaten Pekalongan, hal ini dapat dilihat upaya pelaksanaan transmigrasi yang dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Pekalongan masih banyak terkendala oleh rendahnya minat dan partisipasi masyarakat untuk berpartisipasi. Hal ini dapat dilihat pada tahun 2006 sampai dengan 2008 tiap tahunnya jumlah transmigrasi yang berangkat sebanyak 10 KK ke Provinsi Bengkulu dan pada tahun pada tahun 2009 sebanyak 15 KK dan pada 2010 jumlah transmigran yang diberangkatkan meningkat sebanyak 50 KK dengan perincian daerah tujuan Provinsi Sulawesi Selatan sebanyak 15 KK dan 20 KK ke Provinsi Bengkulu.
Jumlah transmigran yang diberangkatkan tersebut masih jauh dari harapan, hal ini menunjukkan upaya untuk mensosialisasikan program transmigrasi kepada masyarakat luas belum dapat terwujud secara optimal dan pelayanan dibidang ketransmigrasian belum sesuai tuntutan dan kebutuhan masyarakat. Bentuk atau cermin dari belum optimalnya pelayanan tersebut dapat dilihat dari kapasitas dan ketrampilan calon transmigran masih rendah sehingga transmigran mengalami kesulitan dalam mengembangkan usaha khususnya disektor pertanian dalam mengolah lahan mengalami tidak optimal.