s. Kesatuan Bangsa dan Politik Dalam Negeri
Peningkatan kesadaran masyarakat dalam berbagai proses pembangunan semakin meningkat semenjak diberlakukanya otonomi daerah. Peningkatan tersebut antara lain dengan meningkatnya jumlah organisasi kemasyarakatan yang tumbuh dan berkembang. Tahun 2010 jumlah ormas yang terdaftar di Kesbangpolinmas Kabupaten Pekalongan sebanyak 63 organisasi, dan LSM berjumlah 16 organisasi. Sedangkan untuk meningkatkan kapasitas organisasi kemasyarakatan tersebut pemerintah secara berkala melakukan kegiatan
pembinaan. Kegiatan pembinaan terhadap ormas tersebut dilakukan antara 2 – 3 kali dalam satu tahun.
Selain peningkatan kebebasan dalam berserikat/berorganisasi, peningkatan juga dalam kegiatan politik masyarakat. Peningkatan partisipasi masyarakat dalam bidang politik ini antara lain adalah kesadaran mereka untuk menggunakan hak suara dalam pelaksanaan pemilu. Untuk menunjang pelaksanaan pemilu legislatif dan pemilihan presiden tahun 2009, pemerintah melalui Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Pekalongan mendirikan sebanyak 1.299 tempat pemungutan suara (TPS) yang tesebar di seluruh wilayah untuk menampung 666.676 pemilik hak suara. Data menunjukkan bahwa dalam pelaksanaan pemilu sejak tahun 2004 dan 2009, baik itu pemilihan legislatif, presiden dan wakil presiden, pilkada gubernur tahun 2008, maupun pilkada bupati tahun 2011, partisipasi masyarakat cenderung mengalami penurunan.
Grafik 2. 8
Tingkat Partisipasi Masyarakat dalam Pelaksanaan Pemilu di Kabupaten Pekalongan
Sumber: Kantor Kesbangpollinmas Kabupaten Pekalongan tahun 2010 Lebih lengkapnya tingkat partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan pemilihan umum sejak tahun 2004 sampai pemilukada tahun 2011 tersaji dalam grafik berikut.
Grafik 2. 9
Persentase Masyarakat dalam Menggunakan Hak Suaranya pada Pelaksanaan Pemilu
Sumber: Kantor Kesbangpollinmas Kabupaten Pekalongan tahun 2010 Dalam rangka meningkatkan keamanan dan kenyamanan di lingkungan masyarakat, salah satu upaya yang dilakukan adalah pengadaan tenaga
perlindungan masyarakat (Linmas). Jumlah anggota Linmas dari tahun ke tahun mengalami penurunan, tahun 2006 perbandingan antara jumlah petugas linmas per 10.000 penduduk adalah 117,38 (1,17%) maka pada tahun 2010 perbandingan tersebut turun menjadi 81,57 per 10.000 penduduk (0,81%). Selain mengandalkan tenaga linmas upaya penegakan ketentraman di lingkungan juga melibatkan masyarakat melalui siskamling dan pengaktifan poskamling. Rasio pos kamling per desa/kelurahan di wilayah Kabupaten Pekalongan sampai tahun 2010 adalah 5,23. Adapun jumlah total poskamling yang ada di seluruh desa/kelurahan yang ada di wilayah Kabupaten Pekalongan adalah sebanyak 5.228 unit, tidak ada tambahan jumlah sejak tahun 2006 sampai tahun 2010.
Selain ancaman berupa gangguan keamanan dan kenyamanan lingkungan, ancaman lain yang ada di wilayah ini adalah bencana alam. Sebagai daerah yang mempunyai area pegunungan dan pantai, ancaman bencana yang ada yaitu longsor, banjir, angin ribut dan kebakaran. Data tahun 2010 menyebutkan bahwa di Kabupaten Pekalongan telah terjadi bencana banjir dua kali yaitu di wilayah Kecamatan Kesesi dan Tirto. Bencana Tanah Longsor terjadi di Kecamatan Paninggaran (12 kali), Kecamatan Lebakbarang (40 kali), Wonopringgo dan Petungkriyono (2 kali), Kesesi (3 kali), Kandangserang (5 kali), Kajen, Karanganyar dan Doro (1 kali). Adapun bencana kebakaran terjadi di Lebakbarang, Wonopringgo, Kesesi, Petungkriyono dan Tirto (masing-masing 1 kali), Kandangserang, Buaran dan Doro (2 kali). Sedangkan bencana angin ribut terjadi di Kedungwuni, Tirto, Bojong, Kesesi, dan Sragi (1 kali), Doro dan Siwalan (3 kali), Paninggaran (4 kali), serta Kajen (5 kali). Untuk mengantisipasi kejadian bencana tersebut, pemerintah Kabupaten Pekalongan pada tahun 2010 telah membentuk sebuah Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
Dalam rangka meningkatkan dan menjaga ketertiban, di Kabupaten Pekalongan juga telah ada Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh Satpol PP diantaranya adalah penertiban terhadap pelanggaran Perda, misalnya penertiban PKL, anak jalanan, dan penyakit masyarakat lainnya. Untuk mendukung kegiatan-kegiatan tersebut, kekuatan personil Satpol PP Kabupaten Pekalongan dari tahun ke tahun mengalami penambahan jumlah walaupun kecil. Tahun 2006 jumlah anggota Satpol PP ada sebanyak 90 personil meningkat pada tahun 2010 menjadi 100 personil.
Salah satu tantangan dalam upaya Satpol PP menegakkan perda adalah masih minimnya informasi yang diterima oleh masyarakat maupun stakeholder lainnya terkait peraturan yang berlaku. Meskipun demikian Satpol PP Kabupaten Pekalongan masih mampu berprestasi dengan menekan jumlah pelanggaran perda yang ada di wilayah tugasnya. Data yang ada menunjukkan bahwa penurunan jumlah kasus pelanggaran perda dari tahun ke tahun cukup signifikan. Pada tahun 2006 kasus pelanggaran perda yang terjadi sebanyak 690 kasus, 2007 ada 685 kasus, 2008 ada 524 kasus, tahun 2009 ada 494 kasus, dan tahun 2010 terjadi pelanggaran perda sebanyak 384 kasus.
Selain itu kegiatan yang telah dilaksanakan oleh satpol PP antara lain adalah pengamanan dan pengawalan pejabat pusat dan daerah yang rutin dilakukan apabila ada kegiatan, pengamanan peringatan hari besar keagamaan, nasional dan daerah, penegakan disiplin pegawai negeri dan pelajar, pemberantasan barang kena cukai illegal, pemantauan dan pengamanan wilayah terpadu pelaksanaan pemilu, penertiban periklanan, dan lain sebagainya.
t. Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan
Daerah, Kepegawaian, dan Persandian
Penyelenggaraan pemerintahan daerah berdasarkan pada UU No. 32 tahun 2004 juncto UU No. 12 tahun 2008 tentang Pemerintahan Daerah, UU No. 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah serta Peraturan Pemerintah (PP) No. 38 tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota. Berdasarkan peraturan tersebut diketahui Kabupaten Pekalongan melaksanakan sebanyak 26 urusan wajib dan 8 urusan pilihan. Penyelenggaraan 34 urusan kewenangan setiap tahun dilaporkan kepada pemerintah provinsi dan pusat serta masyarakat dalam bentuk Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (LPPD), Laporan Keterangan Pertanggungjawaban dan Akhir Masa jabatan (LKPJ dan AMJ) dan Informasi Laporan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (LPPD) sebagaimana diatur dalam PP No. 3 tahun 2007 tentang Pedoman Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah kepada Pemerintah, Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Kepala Daerah kepada DPRD, dan Informasi Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah kepada Masyarakat.
Penyelenggaraan urusan otonomi daerah tidak terlepas dari kemampuan daerah dalam menyelenggarakan 34 urusan tersebut, baik dari sumberdaya aparatur, kemampuan pendanaan, kelembagaan dan organisasi serta dukungan kalangan dunia usaha dan swadaya masyarakat. Selain itu, secara nasional maka pemerintah daerah melaksanakan pula urusan dekonsentrasi dan tugas pembantuan dari Pemerintah Pusat dengan penuh tanggungjawab.
Program penataan peraturan perundangan di Kabupaten Pekalongan dilaksanakan melalui penetapan Peraturan Daerah (Perda) dan Peraturan Bupati (Perbup) baru, adalah dalam rangka meningkatkan pelayanan publik, menjamin kepastian hukum dari tahun 2006 – 2010 telah diterbitkan Perda dan Perbup sebagai berikut :
Tabel 2. 55
Jumlah Peraturan Perundangan yang Diterbitkan Tahun 2006-2010
No Uraian 2006 2007 Tahun 2008 2009 2010
1. Peraturan Daerah 17 7 18 20 10
2. Peraturan Bupati 45 69 38 50 60
3. Keputusan Bupati 257 575 314 326 317
4 Evaluasi Peraturan Daerah 10 9 18 20 8 Sumberdata : Bag Hukum Setda Kab. Pekalongan, 2006 - 2010
Pada tahun 2006 diterbitkan Perda sebanyak 17 buah, tahun 2007 menurun menjadi 7 buah, dan selanjutnya 2008 sebanyak 18 buah, tahun 2009 sebanyak 20 buah dan tahun 2010 sebanyak 10 Perda baru telah diterbitkan. Semakin lengkapnya Perda akan lebih memperbaiki peraturan perundangan daerah dan jaminan kepastian hukum dalam masyarakat dan dunia usaha.
Peraturan Bupati (Perbup) sebagai peraturan pelaksanaan di daerah telah diterbitkan sebanyak 45 buah tahun 2006 meningkat menjadi 69 buah dan tahun 2010 meningkat menjadi 60 buah tahun 2010. Banyaknya Keputusan Bupati tahun 2009 sebanyak 331 buah dan tahun 2010 meningkat menjadi 320 buah.
Pembaruan Perda dan Perbub dalam rangka peningkatan kinerja pemerintahan, pelayanan publik dan jaminan kepastian hukum masyarakat. Program legislasi daerah ditujukan untuk meningkatkan kelengkapan peraturan perundangan, kepastian hukum dan peningkatan pelayanan umum serta promosi penanaman modal di daerah
Untuk meningkatkan pelayanan publik dan standar kinerja dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah, baik dengan penerapan Standar Pelayanan Minimal (SPM) bagi urusan kewenangan wajib dan standar kinerja bagi urusan pilihan. Kepada pemerintah pemerintah provinsi dan kabupaten/kota telah ditetapkan empat belas (14) urusan wajib yang telah disahkan oleh kementerian teknis di Jakarta, antara lain sebagai berikut : a) Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 741 tahun 2008 tentang SPM Bidang
Kesehatan.
b) Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 19 tahun 2008 tentang SPM Bidang Lingkungan Hidup Daerah Provinsi dan Daerah Kabupaten/Kota. c) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 62 tahun 2008 tentang SPM Bidang
Pemerintahan Dalam Negeri di Kabupaten/Kota.
d) Peraturan Menteri Sosial Nomor 129 tahun 2008 tentang SPM Bidang Sosial Daerah Provinsi dan Daerah Kabupaten/Kota.
e) Peraturan Menteri Perumahan Rakyat Nomor 22 tahun 2008 tentang SPM Bidang Perumahan Rakyat.
f) Peraturan Menteri Pemberdayaan Perempuan Nomor 1 tahun 2009 tentang SPM Pusat Pelayanan Terpadu Bagi saksi dan/ Korban Tindak Pidana Perdagangan Orang di Kabupaten/Kota dan Peraturan Menteri Pemberdayaan Perempuan Nomor 1 tahun 2010 tentang SPM Bidang Pelayanan Terpadu Bagi Perempuan dan Anak Korban Kekerasan di Kabupaten/Kota.
g) Peraturan Kepala BKKBN Nomor 55 tahun 2010 tentang SPM Bidang Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera di Kabupaten/Kota.
h) Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 15 tahun 2010 tentang SPM Pendidikan Dasar di Kabupaten/Kota.
i) Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor Per 15/Men/X/2010 tentang SPM Bidang Ketenagakerjaan.
j) Peraturan Menteri Pertanian Nomor 55/Permentan/OT 140/12/2010 tentang SPM Bidang Ketahanan Pangan Provinsi dan Kabupaten/Kota.
k) Peraturan Menteri PU Nomor 14/PRT/M/2010 tentang SPM Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang.
l) Peraturan Menteri Kominfo Nomor 22 tahun 2010 tentang SPM Bidang Kominfo di Kabupaten/Kota.
m) Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor PM 106/HK.501/MKP/2010 tentang SPM Bidang Kesenian.
n) Peraturan Menteri Perhubungan No. PM 81 tahun 2011 tentang SPM Bidang Perhubungan Daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota.
Dalam upaya meningkatkan pelayanan publik maka segenap warga masyarakat dapat berpartisipasi dalam penilaian kinerja penyelenggaraan urusan melalui monitoring capaian SPM dan pengukuran Indek Kepuasan Masyarakat (IKM) yang diterima masyarakat. Evaluasi IKM dapat dilakukan secara berkala maka akan meningkatkan transparansi dan kinerja pelayanan publik.
2) Pemerintahan Umum
Penyelenggaraan pemerintahan umum dalam era otonomi daerah berdasarkan pada prinsip-prinsip kepemerintahan yang baik (good governance) yang mengacu pada UU Nomor 28 tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara Yang Bersih Bebas KKN dan UU Nomor 25 tahun 2009 tentang Pelayanan Publik. dimaksudkan agar penyelenggaraan pelayanan publik yang lebih akuntabel, transparan dan partisipatif berdasar pada prinsip−prinsip penyelenggaraan kepemerintahan yang baik (good governance). Pelayanan publik yang berkualitas mencerminkan profesionalisme aparatur dan citra kelembagaan SKPD yang baik.
Peningkatan pelayanan publik yang telah dilaksanakan antara lain meningkatkan pelayanan perijinan melalui Kantor Pelayanan Perijinan Terpadu telah melayani lebih kurang 5 jenis perijinan, dalam rangka peningkatan pelayanan kepada dunia usaha. Peningkatan pelayanan lainnya yaitu pengelolaan persampahan, pelayanan kesehatan, pendidikan, pelayanan air bersih dari PDAM diharapkan akan semakin baik di tahun-tahun mendatang. Dalam rangka peningkatan penyertaan modal dan profesionalisme BUMD maka semakin ditingkatkan kinerja PDAM, peningkatan BPR-BKK dan Apotik Sehat.
Peningkatan kerjasama antar daerah (KAD), baik antara pemerintah daerah (kabupaten/kota) dalam Sapta Mitra Pantura (Sampan), kerjasama dengan pihak ketiga lainya baik dengan perguruan tinggi, kalangan dunia usaha maupun pihak asing semakin ditingkatkan. Kerjasama Kabupaten Pekalongan dengan pihak lain terutama terkait dengan promosi daerah, penanaman modal, pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan hidup agar lebih efektif dan efisien.
3) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD)
Berdasarkan hasil Pemilihan Umum Legislatif yang dilaksanakan secara langsung pada tahun 2009 terpilih sebanyak 45 orang anggota DPRD Kabupaten Pekalongan untuk masa bakti tahun 2009 – 2014. Berdasarkan jenis kelamin diketahui sebagian besar adalah laki-laki sebanyak 41 orang (91,11%) dan perempuan sebanyak 4 orang (8,99%).
Pengelompokkan anggota berdasarkan pengelompokkan fraksi diketahui Fraksi Kebangkitan Bangsa (F.KB) sebanyak 11 orang, Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (F. PDI-P) sebanyak 11 orang, Fraksi Partai Amanat Nasional (F. PAN) sebanyak 6 orang, Fraksi Partai Golkar (F.PG) sebanyak 6 orang, Fraksi Persatuan Pembangunan Demokrat (F.PPD) sebanyak 6 orang dan Fraksi Hati Nurani Umah (F. Harum) dengan jumlah anggota sebanyak 5 orang. Data anggota DPRD berdasarkan tingkat pendidikan diketahui berpendidikan, diketahui sebagian besar berpendidikan Sarjana (S-1) sebanyak 28 orang, SLTA sebanyak 13 orang, dan Pasca Sarjana (S-2) sebanyak 4 orang.
Pelaksanaan Pemilu Legislatif tahun 2009 merupakan pemilihan umum legislatif yang ketiga sejak masa reformasi tahun 1998, namun peran partai politik dan lembaga legislatif daerah dalam pembangunan daerah masih perlu terus ditingkatkan terutama dalam menjaring aspirasi dan kepentingan rakyat, meningkatkan pengawasan terhadap penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah, penganggaran dan legislasi serta peningkatan partisipasi masyarakat dalam pembangunan daerah.
4) Aparatur Daerah
Dalam upaya peningkatan disiplin aparatur pemerintah daerah telah diberlakukan PP Nomor 53 tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil. Penyelenggaraan pemerintahan daerah di Kabupaten Pekalongan dilaksanakan oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) sebanyak 12 dinas, 5 badan, 6 unit kantor, 1 Sekretariat Daerah dan 1 Sekreratiat DPRD, 2 unit RSUD dan 1 unit Inspektorat serta 19 kecamatan dan 13 kelurahan. Jumlah aparatur pemerintah daerah di Kabupaten Pekalongan tahun 2009 sebanyak 12.205 orang. Berdasarkan tingkat pendidikan diketahui berpendidikan SD/sederajat sebanyak 323 orang (2,64%), berpendidikan SLTP/sederajat sebanyak 734 orang (6,02%), SLTA/sederajat sebanyak 3.098 orang (25,38%), berpendidikan D1/D2/D3 sebanyak 4.348 orang (35,62%), berpendidikan D4/Sarjana (S-1) sebanyak 3.463 orang (28,37%) dan berpendidikan Pasca Sarjana (S2) sebanyak 239 orang (2%). Dengan demikian diketahui tingkat
pendidikan PNS sangat baik, mengingat lebih dari 65% berpendidikan tinggi baik Ahli Madya, Sarjana dan Pasca Sarjana (S-2).
Untuk dapat meningkatkan pelayanan umum dan efektivitas pemerintahan secara administratif Kabupaten Pekalongan terbagi menjadi 19 kecamatan, 272 desa dan 13 kelurahan. Peningkatan aparatur pemerintah desa/kelurahan terutama terkait dalam peningkatan pelayanan umum, keamanan dan ketertiban masyarakat serta pembangunan desa/kelurahan. 5) Persandian
Penyelenggaraan urusan persandian untuk pelayanan komunikasi vertikal dengan pemerintah pusat dan pemerintah provinsi dan komunikasi vertikal dengan kabupaten/kota lainnya. Penyelenggaraan pelayanan persandian dilaksanakan oleh Bagian Umum Setda. Pengelolaan persandian belum optimal karena belum sepenuhnya ditangani tenaga ahli khusus yang berkompeten di bidang persandian.