• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tanaman Pangan

Dalam dokumen BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH (Halaman 74-80)

y. Komunikasi dan Informasi

1) Tanaman Pangan

Jenis tanaman pangan utama Kabupaten Pekalongan yaitu padi, jagung dan ketela pohon. Jumlah produksi padi dalam kurun waktu lima tahun (2006-2010) menunjukkan peningkatan dari sebanyak 224.605 ton menjadi 271.368 ton. Produksi padi yang cukup besar tersebut mampu menjadikan Kabupaten Pekalongan sebagai kabupaten yang surplus beras. Produksi jagung dalam kurun waktu yang sama mengalami fluktuasi, tertinggi pada tahun 2008 sebanyak 29.042 ton, dan terendah ada tahun 2009 sebanyak 14.706 ton. Fluktuasi produksi ini lebih banyak disebabkan perubahan pola tanam palawija yang selalu berganti sesuai dengan keinginan petani dengan memperhatikan tingkat harga masing-masing komoditas, sehingga mempengaruhi luas tanam dan luas panen. Sementara itu produksi ketela pohon cenderung meningkat dari sebanyak 11.979 ton pada tahun 2006 menjadi 16.789 ton pada tahun 2010. Perkembangan produksi padi dan palawija selama tahun 2006 – 2010 dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 2. 63

Produksi Padi dan Palawija Kabupaten Pekalongan Tahun 2006 – 2010 (Ton)

No. Komoditi 2006 2007 2008 2009 2010 1. Padi 224.605 229.377 232.445 216.700 271.368 2. Jagung 16.039 19.188 29.042 14.706 18.734 3. Ketela Pohon 11.979 14.104 11.260 16.529 16.789 4. Ketela Rambat 1.657 1.784 2.480 1.650 1.941 5. Kacang Tanah 605 544 647 617 447 6. Kedele 96 47 304 637 162 7. Kacang Hijau 499 506 580 437 297

Sumber: Dinas Pertanian, Peternakan, Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Pekalongantahun 2010.

2) Hortikultura

Produksi sayur-sayuran di Kabupaten Pekalongan secara umum menunjukkan kecenderungan menurun dalam kurun waktu tahun 2006-2010, kecuali jenis Petsai/Sawi, Wortel, Kacang-kacangan (dipanen >1 kali), dan Semangka. Kondisi ini dipengaruhi oleh penurunan luas panen akibat perubahan pola tanam yang dilakukan oleh petani. Jenis sayur-sayuran yang paling besar produksinya adalah Bawang daun dan Kentang yang banyak dikembangkan di daerah dingin (Kabupaten Pekalongan bagian selatan) yang berbatasan dengan Kabupaten Banjarnegara. Produksi Bawang daun menunjukkan penurunan dari

sebanyak 140.502,00 kuintal (2006) menjadi hanya 76.560,00 kuintal (2010). Produksi kentang juga menurun dari sebanyak 80.700,00 kuintal (2006) menjadi 43.775,00 kuintal (2010). Perkembangan produksi tanaman sayuran di Kabupaten Pekalongan selama kurun waktu lima tahun dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 2. 64

Produksi Tanaman Sayuran Kabupaten Pekalongan Tahun 2006 – 2010 (Kuintal)

No Jenis sayur-sayuran 2006 2007 2008 2009 2010

1. Bawang merah 999,00 2.518,00 4.835,00 3.230,00 630,00 2. Bawang putih 664,00 1.081,00 3.120,00 60,00 - 3. Bawang daun 140.502,00 125.160,00 118.485,00 84.660,00 76.560,00 4. Kentang 80.700,00 62.036,00 99.760,00 37.995,00 43.775,00 5. Kobis 5.830,00 3.250,00 11.380,00 4.532,00 2.255,00 6. Petsai/Sawi - 661,00 1.944,00 1.058,00 4.087,00 7. Wortel 372,00 1.430,00 1.540,00 1.385,00 1.862,00 8. Lobak 934,00 252,00 205,00 - 163,00 9. Kacang-kacangan dipanen 1 kali 351,00 834,00 42,00 60,00 65,00 10. Kacang-kacangan dipanen > 1 kali 4.226,00 9.379,00 10.151,00 8.918,00 11.152,00 11. Cabe 1.932,00 2.107,00 4.952,00 2.800,00 1.434,00 12. Tomat 678,00 675,00 2.537,00 4.147,00 3.292,00 13. Terung 3.492,00 3.669,00 4.417,00 2.124,00 1.771,00 14. Buncis 1.595,00 1.143,00 928,00 996,00 1.678,00 15. Ketimun 6.627,00 9.329,00 7.121,00 4.750,00 6.685,00 16. Labu siam 166,00 645,00 1.611,00 950,00 17. Kangkung 24.779,00 24.216,00 18.100,00 31.262,00 4.726,00 18. Bayam 856,00 461,00 540,00 293,00 298,00 19. Semangka 1.092,00 3.092,00 140,00 2.365,00 2.797,00 20. Melon 92,00 - 92,00 500,00 165,00 21. Blewah/ Timun suri 816,00 2.830,00 778,00 800,00 Sumber: Dinas Pertanian, Peternakan, Perkebunan dan Kehutanan Kab. Pekalongan tahun 2010

Potensi buah-buahan di Kabupaten Pekalongan sangat banyak, yang ditanam di pekarangan maupun tegalan. Produksi buah-buahan secara umum menunjukkan peningkatan dalam kurun waktu lima tahun (2006-2010), kecuali durian dan rambutan. Jenis buah-buahan dengan produksi terbanyak adalah pisang, mangga, nangka, mlinjo, rambutan, durian, dan alpukat. Perkembangan produksi tanaman buah di Kabupaten Pekalongan selama kurun waktu lima tahun dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 2. 65

Produksi Tanaman Buah Kabupaten Pekalongan Tahun 2006 – 2010 (Kuintal) No Jenis Buah-buahan 2006 2007 2008 2009 2010 1. Alpokat 912,68 1.668,48 2.314,58 5.065,00 15.937,00 2. Belimbing 857,13 1.701,04 1.617,93 1.120,70 4.821,00 3. Duku 81,80 333,85 11.735,00 1.487,00 3.702,00

No Jenis Buah-buahan 2006 2007 2008 2009 2010 4. Durian 62.121,51 34.957,21 56.456,04 130.233,00 16.661,00 5. Jambu Biji 9.102,05 6.876,43 3.638,38 46.038,00 9.870,00 6. Jeruk 707,16 1.414,46 936,15 1.085,00 854,00 7. Mangga 72.178,14 35.393,68 67.084,88 119.371,50 76.888,00 8. Manggis 1.939,80 3.598,70 211,65 8.434,00 4.888,00 9. Nangka 21.928,28 25.440,19 23.867,08 35,03 66.224,00 10. Nanas 328,60 502,63 393,05 281,47 304,00 11. Pepaya 4.371,88 5.084,39 4.554,76 7.040,83 10.471,00 12. Pisang 96.071,04 106.209,77 119.250,82 104,01 149.833,00 13. Rambutan 53.753,14 70.209,14 93.377,92 58.554,60 20.351,00 14. Salak 11.079,28 8.573,63 28.040,84 23.758,00 12.375,00 15. Sawo 133,71 439,90 1.230,38 1.141,00 2.787,00 16. Sirsak 420,00 719,72 488,55 1.520,00 1.411,00 17. Sukun 4.076,09 2.745,56 4.177,11 7.490,00 8.551,00 18. Jengkol 16.678,00 7.503,50 11.344,00 15.357,00 12.639,00 19. Mlinjo 30.915,03 11.177,36 35.662,37 31.940,00 45.724,00 20. Petai 951,75 15.393,69 16.126,62 17.949,00 17.933,00 Sumber: Dinas Pertanian, Peternakan, Perkebunan dan Kehutanan Kab. Pekalongan tahun 2010

3) Perkebunan

Perkebunan di Kabupaten Pekalongan mencakup Perkebunan Negara dan Perkebunan Rakyat. Perkebunan Negara dikelola oleh PTPN IX, meliputi Kebun Jalatigo dengan tanaman teh seluas 344,140 ha, dan Kebun Blimbing dengan tanaman karet seluas 2.392,61 ha. Perkebunan Rakyat di Kabupaten Pekalongan tersebar di seluruh wilayah Kecamatan dengan jenis tanaman perkebunan utama berupa kelapa, tebu, teh, dan nilam. Produksi kelapa mengalami peningkatan dalam kurun waktu lima tahun dari sebanyak 11.769.083 butir pada tahun 2006 menjadi 13.483.550 butir pada tahun 2010. Produksi tebu cenderung menurun dari sebanyak 11.672,52 ton (2006) menjadi 8.747,46 ton (2010). Produksi teh juga cenderung menurun dari sebanyak 1.610,47 ton menjadi 1.502,72 ton.

Perkembangan produksi masing-masing jenis komoditas perkebunan di Kabupaten Pekalongan dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 2. 66

Kondisi Produksi Perkebunan Rakyat di Kabupaten Pekalongan Tahun 2006-2010 (ton) No Komoditas 2006 2007 2008 2009 2010 1 Kelapa (butir) 11.769.083 11.571.750 12.477.729 12.052.350 13.483.550 2 Kopi 95,79 96,37 112,17 122,37 176,44 3 Teh 1.610,47 2.086,79 2.083,30 2.201,00 1.502,72 4 Cengkeh 33,18 35,1 42 46,28 69,8 5 Kapuk 46,23 46,70 39,10 43,60 33,51 6 Jambu Mete 19,06 19,20 8,90 20,77 19,35 7 Panili 2,47 2,50 7,84 2,35 2,37 8 Kakao 1,66 1,70 3,21 1,85 1,57 9 Lada 4,92 4,95 5,99 5,40 5,23 10 Aren 79,53 82,50 80,87 89,22 80,75 11 Melati gambir 15,59 16,50 16,50 16,50 15,34 12 Melati putih 54,00 54,50 54,50 54,50 54,25

No Komoditas 2006 2007 2008 2009 2010 13 Nilam 558,08 570,00 615,92 264,00 363,91 14 Tebu 16.058,86 19.921,34 17.180,84 13.775,86 17.069,57 15 Karet 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 16 Glagah Arjuna 24,00 25,00 25,00 15,50 16,30 17 Akar Wangi 0,00 570,00 20,00 20,00 20,00 18 Cincau 0,00 0,00 4,00 4,00 4,00

Sumber: Dinas Pertanian, Peternakan, Perkebunan dan Kehutanan Kab. Pekalongan tahun 2010

4) Peternakan

Dalam upaya pengembangan usaha peternakan maka telah dikeluarkan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan yang mengamanatkan kepada pemerintah kabupaten/kota untuk melakukan pembinaan dan pengembangan usaha peternakan di masing-masing daerah. Peluang pengembangan usaha peternakan di Kabupaten Pekalongan masih terbuka lebar apabila dikaitkan dengan perkiraan (estimasi) peningkatan kebutuhan konsumsi hasil ternak seiring dengan peningkatan pengetahuan dan kesadaran gizi dan taraf hidup masyarakat.

Beberapa jenis komoditas peternakan yang perkembangannya cukup baik di Kabupaten Pekalongan meliputi sapi potong, kambing, domba, ayam ras, ayam buras, dan itik. Jumlah populasi keenam jenis ternak tersebut menunjukkan peningkatan dari tahun 2006 hingga tahun 2010, yaitu dari sebanyak 11.460 ekor menjadi 12.564 ekor (sapi potong); dari sebanyak 49.529 ekor menjadi 51.578 ekor (kambing); dari sebanyak 42.012 ekor menjadi 43.874 ekor (domba); dari sebanyak 302.850 ekor menjadi 307.335 ekor (ayam ras); dari sebanyak 908.810 ekor menjadi 997.455 ekor (ayam buras); dan dari sebanyak 138.490 ekor menjadi 152.830 ekor (itik). Sementara itu jenis ternak kerbau, kuda dan sapi perah menunjukkan kecenderungan penurunan populasi. Perkembangan populasi hewan ternak di Kabupaten Pekalongan dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 2. 67

Jumlah Populasi Ternak di Kabupaten Pekalongan Tahun 2006 – 2010 (ekor)

No. Jenis Ternak 2006 2007 2008 2009 2010

1. Kuda 480 470 459 450 436 2. Sapi Perah 120 118 116 112 110 3. Sapi Potong 11.460 11.856 12.180 12.482 12.564 4. Kerbau 11.106 11.073 10.958 10.918 10.884 5. Kambing 49.529 50.342 51.108 51.424 51.578 6. Domba 42.012 42.866 43.525 43.758 43.874 7. Ayam Ras 302.850 304.500 306.750 306.900 307.335 8. Ayam Buras 908.810 981.315 996.525 997.125 997.455 9. Itik 138.490 144.083 149.688 152.275 152.830 Sumber: Dinas Pertanian, Peternakan, Perkebunan dan Kehutanan Kab. Pekalongan tahun 2010

Produksi hasil ternak di Kabupaten Pekalongan meliputi daging, telur, susu dan kulit. Produksi daging menunjukkan peningkatan dari sebanyak 4.521.828 kg pada tahun 2006 menjadi 4.854.520 kg pada tahun 2010. Seiring dengan peningkatan produksi daging, produksi kulit hewan di Kabupaten Pekalongan juga mengalami peningkatan dari sebanyak 32.028 lembar menjadi 37.824 lembar. Produksi telur juga meningkat dari sebanyak 1.678.481 kg pada tahun 2006 menjadi 1.826.815 kg pada tahun 2010. Sementara itu produksi susu menunjukkan kecenderungan menurun, dari sebanyak 299.460 liter (2006) menjadi 277.200 liter

(2010). Penurunan produksi susu ini dipengaruhi oleh penurunan populasi sapi perah yang diternakkan oleh penduduk Kabupaten Pekalongan. Perkembangan produksi hasil ternak selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 2. 68

Data Realisasi Produksi Hasil Ternak Kabupaten Pekalongan Tahun 2006 – 2010 No Komoditi 2006 2007 2008 2009 2010 1. Daging (kg) 4.521.828 4.633.642 4.730.789 4.808.360 4.854.520 2. Telur (kg) 1.678.481 1.734.639 1.769.503 1.804.618 1.826.815 3. Susu (liter) 299.460 297.360 270.870 275.520 277.200 4. Kulit (lembar) 32.028 33.518 34.277 36.648 37.824 Sumber: Dinas Pertanian, Peternakan, Perkebunan dan Kehutanan Kab. Pekalongan tahun 2010

Dibandingkan dengan jumlah penduduk Kabupaten Pekalongan, konsumsi daging per kapita penduduk di Kabupaten Pekalongan menunjukkan peningkatan dari sebanyak 5,54 kg/kapita/tahun pada tahun 2006 menjadi 5,79 kg/kapita/tahun pada tahun 2010. Konsumsi telur juga menunjukkan peningkatan dari sebanyak 2,06 kg/kapita/tahun (2006) menjadi 2,18 kg/kapita/tahun (2010). Konsumsi protein hewani juga meningkat dari sebanyak 2,88 kg/kapita/tahun (2006) menjadi 3,26 kg/kapita/tahun (2010). Sementara itu konsumsi susu mengalami penurunan dari sebanyak 0,37 liter/kapita/tahun (2006) menjadi 0,33 liter/kapita/tahun (2010). Peningkatan konsumsi daging, telur dan protein hewani menunjukkan bahwa taraf hidup dan kesadaran akan gizi pada masyarakat semakin tinggi. Perkembangan jumlah komsumsi protein hewani di Kabupaten Pekalongan dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 2. 69

Jumlah Konsumsi Protein Hewani di Kabupaten Pekalongan Tahun 2006 – 2010

No. Jenis Konsumsi 2006 2007 2008 2009 2010

1. Daging (Kg/Kap/Th) 5,54 5,65 5,77 5,79 5,79 2. Telur (Kg/Kap/Th) 2,06 2,12 2,16 2,17 2,18 3. Susu (Ltr/Kap/Th) 0,37 0,36 0,33 0,33 0,33 4. Protein Hewani (gr/Kap/Hr) 2,88 2,94 3,00 3,00 3,26

Sumber: Dinas Pertanian, Peternakan, Perkebunan dan Kehutanan Kab. Pekalongan tahun 2010

b. Kehutanan

Pengelolaan Sumber Daya Hutan di Kabupaten Pekalongan dilaksanakan di kawasan hutan dan di luar kawasan hutan. Pengelolaan di dalam kawasan hutan Negara dilaksanakan oleh Perum Perhutani KPH Pekalongan Timur. Luas hutan di Kabupaten Pekalongan pada tahun 2010 adalah 28.501,24 Ha. Berdasarkan fungsinya, hutan di Kabupaten Pekalongan terbagi menjadi hutan lindung seluas 15.655,20 ha, hutan produksi seluas 11.869,19 ha, hutan produksi terbatas 966,75 ha, dan hutan wisata seluas 10,10 ha.

Luas hutan rakyat di Kabupaten Pekalongan menunjukkan peningkatan dari seluas 8.174,31 ha pada tahun 2006 menjadi 17.992,655 ha pada tahun 2010. Peningkatan luas hutan rakyat ini menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi dalam pelestarian sumberdaya hutan semakin meningkat, walaupun didalamnya mengandung aspek peningkatan kesejahteraan melalui pembudidayaan tanaman (pohon) tahunan. Penambahan luas hutan rakyat ini terjadi di 16 kecamatan di Kabupaten Pekalongan. Peningkatan terbesar terdapat di Kecamatan Paninggaran, Doro, Talun, dan Karanganyar. Perkembangan luas areal hutan rakyat per kecamatan dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 2. 70

Kondisi Luas areal Hutan Rakyat di Kabupaten Pekalongan Tahun 2006 – 2010 NO KECAMATAN 2006 2007 2008 2009 2010 1 Kandangserang 1.600,00 1.950,00 1.968,00 1.732,08 1.737,05 2 Paninggaran 1.225,10 1.313,00 1.313,00 3.510,47 3.503,99 3 Lebakbarang 655,00 660,00 680,00 422,62 423,62 4 Petungkriyono 670,00 717,00 765,00 457,55 477,57 5 Talun 550,00 567,35 573,00 2.167,13 2.166,13 6 Doro 425,01 527,00 542,00 2.622,61 2.622,58 7 Karanganyar 457,20 607,02 627,00 2.027,27 2.026,23 8 Kajen 1.062,24 1.162,24 1.192,00 2.152,92 2.150,73 9 Kesesi 372,88 411,01 435,00 782,85 783,75 10 Sragi 180,09 180,09 190,00 190,94 188,44 11 Siwalan *) 13,00 113,00 113,00 45,19 46,16 12 Bojong 369,47 508,60 538,00 603,44 604,05 13 Wonopringgo 95,75 105,25 108,00 133,13 134,11 14 Kedungwuni 38,32 70,32 79,00 255,49 253,97 15 Karangdadap 188,00 197,00 213,00 634,78 635,75 16 Buaran 8,00 12,00 12,00 19,71 19,82 17 Tirto *) 5,25 30,25 35,00 147,57 146,66 18 Wiradesa 9,00 9,5 9,50 56,14 57,12 19 Wonokerto *) 250,00 500,00 505,00 12,79 20,25 JUMLAH 8.174,31 9.640,63 9.898,00 17.992,66 17.998,00 *) Tanaman Bakau

Sumber: Dinas Pertanian, Peternakan, Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Pekalongan tahun 2010

Dilihat dari tingkat kerapatannya, pada tahun 2010 hutan rakyat di Kabupaten Pekalongan memiliki rata-rata kerapatan sebanyak 479 pohon dengan kisaran antara 300-850 pohon/ha. Untuk tanaman mangrove diketahui kerapatannya berkisar antara 1.200-2.000 pohon/ha terdapat di Kecamatan Siwalan, Tirto, dan Wonokerto. Kerapatan pohon tersebut perlu dipertahankan melalui pengelolaan yang baik oleh masyarakat, sehingga dapat berfungsi dengan baik, baik dari segi ekonomi maupun ekologis.

Pengembangan hutan rakyat perlu terus dilakukan untuk mengurangi luasan lahan kritis di Kabupaten Pekalongan. Dari berbagai kegiatan Kehutanan yang telah dilaksanakan kondisi lahan kritis telah mengalami perubahan sebagai berikut :

Tabel 2. 71

Tingkat Kekritisan Lahan di Kabupaten Pekalongan Tahun 2006-2010 No Kekritisan Tingkat 2006 2007 Luas (Ha) 2008 2009 2010

1 Sangat Kritis 0 0 0 733 503

2 Kritis 2.256 1.869 1.838 2.316 2.002

3 Agak Kritis 8.115 7.756 7.648 4.148 3.857

4 Potensial Kritis 11.668 10.943 10.861 8.329 8.045 5 Tidak Kritis 35.884 37.355 37.576 45.691 46.839 Sumber: Dinas Pertanian, Peternakan, Perkebunan dan Kehutanan Kab. Pekalongan tahun 2010

Produksi Kehutanan di Kabupaten Pekalongan, baik dari hutan negara yang dikelola oleh Perum Perhutani maupun hutan rakyat yang dikelola masyarakat cukup banyak. Produk hasil hutan yang dikelola Perum Perhutani meliputi kayu, Gandarukem, terpentin, rotan, getah pinus, dan getah damar. Namun demikian produksi hasil hutan tersebut cenderung menurun dalam kurun waktu 5 tahun (2006-2010). Produk hutan rakyat di Kabupaten Pekalongan lebih banyak adalah Kayu sengon, dengan produksi semakin meningkat dari sebanyak 10.170,63 m3 pada tahun 2006 menjadi 21.376,28 m3 pada tahun 2010. Sementara itu jenis kayu lainnya seperti pinus, mahoni dan rimba campur produksinya semakin menurun. Kondisi ini menunjukkan bahwa terdapat kecenderungan penambahan masyarakat yang menanam kayu sengon karena jenis ini dari segi pemeliharaan lebih cepat untuk dipanen dan dari segi ekonomi lebih menguntungkan dibandingkan jenis kayu lainnya. Produksi jati rakyat juga meningkat dari sebanyak 209,10 m3 (2006) menjadi 507,56 m3 (2010). Secara rinci perkembangan produksi hasil hutan di Kabupaten Pekalongan dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 2. 72

Produksi Hasil Hutan di Kabupaten Pekalongan Tahun 2006 – 2010

No Jenis 2006 2007 2008 2009 2010

Produk Perum Perhutani 1 Kayu Pertukangan

(m3) 4.944,84 9.860,010 2.156,080 4.201,70 1.161,09 2 Gandarukem (kg) * 4.882.080 5.725.000 5.515.480 4.261.842 4.519.280 3 Terpentin (kg) * 939.930 1.054.000 968.250 822.040 896.790 4 Getah Pinus (ton) 2.976,84 3.025,00 2.586,74 4.254,16 2.598,13

5 Getah Damar (ton) 9,23 11,06 9,61 11,81 11,20

6 Rotan (btng) 19.000 21.000 94.000 58.500 12.000

Produk Hutan Rakyat

1 Jati (m3) 209,10 168,58 371,88 385,14 507,56 2 Pinus (m3) 762,81 98,09 190,21 178,08 517,70

3 Mahoni (m3) 90,43 515,33 53,58 22,85 24,84

4 Sengon (m3) 10.170,63 11.026,83 6.759,31 16.925,55 21.376,28 5 Rimba campur (m3) 21.851,74 59,81 2,593,48 87,46 195,07 *) hasil industri di PGT Paninggaran bahan bakunya ada yang dari luar Kab. Pekalongan

Sumber: Dinas Pertanian, Peternakan, Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Pekalongan tahun 2010 Kasus Illegal Logging (pencurian kayu) di Kabupaten Pekalongan masih ditemui, walaupun telah dilakukan berbagai upaya pencegahan dan penegakan hukum. Pada tahun 2010 tingkat kehilangan pohon/pencurian kayu di Hutan Negara sebanyak 61 pohon dengan taksiran sebanyak 26,53 m3. Tindak lanjut dari upaya menekan tingkat pencurian kayu adalah dengan pemberdayaan masyarakat desa sekitar hutan, dan penertiban Izin Usaha Industri Primer Hasil Hutan.

Dalam dokumen BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH (Halaman 74-80)