• Tidak ada hasil yang ditemukan

h. Lingkungan Hidup

Dalam dokumen BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH (Halaman 42-45)

Kegiatan industri batik, garment dan jeans merupakan kegiatan industi unggulan Kabupaten Pekalongan, keberadaannya memberikan dampak positif dan juga dampak negatif. Dampak positif keberadaan industri tersebut adalah meningkatnya kondisi perekonomian masyarakat, sedangkan dampak negatifnya adalah berpotensi menghasilkan limbah, terutama limbah cair. Apabila kondisi tersebut tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan pencemaran yang dapat berkembang menjadi penyebab timbulnya persoalan dan keresahan masyarakat.

Dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2007 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup disebutkan bahwa pengelolaan lingkungan hidup diselenggarakan dengan asas tanggung jawab negara, asas berkelanjutan, dan asas manfaat bertujuan untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan masyarakat Indonesia seluruhnya yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sesuai dengan pasal 3 ayat 1 Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 19 Tahun 2008 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Lingkungan Hidup Daerah Provinsi dan Daerah Kabupaten/Kota menyebutkan bahwa Pemerintah Kabupaten/Kota

menyelenggarakan pelayanan dibidang lingkungan hidup sesuai dengan SPM bidang lingkungan hidup yang terdiri atas : a) pelayanan pencegahan pencemaran air, b) pelayanan pencegahan pencemaran udara dari sumber tidak bergerak. c) pelayanan informasi status kerusakan lahan dan/atau tanah untuk produksi biomassa dan d) pelayanan tindak lanjut pengaduan masyarakat akibat adanya dugaan pencemaran dan /atau perusakan lingkungan hidup.

Berdasarkan data dari BPS Kabupaten Pekalongan Tahun 2009, jumlah perusahaan Industri besar sedang tercatat 410 unit perusahaan sedangkan tahun 2008 hanya 456 unit atau turun 10,09 persen, tenaga kerja yang terserap pada tahun 2009 sebanyak 27.594 orang lebih tinggi dari pada tahun 2008 yang dapat menyerap 27.254 orang atau naik sebesar 1,25 persen. Penurunan ini banyak terjadi pada industri tekstil dan industri makanan, yaitu pada tahun 2009 industri tekstil dapat menyerap tenaga kerja sebanyak 23.656 orang, sedangkan pada tahun 2008 hanya sebanyak 22.893 orang. Sementara untuk industri makanan pada tahun 2007 mampu menyerap 2.932 tenaga kerja, pada tahun 2008 hanya mampu menyerap 2.918 tenaga kerja.

Perusahaan/usaha konveksi dan batik masih mendominasi kegiatan perindustrian dan menjadi produk unggulan di Kabupaten Pekalongan karena mampu menyerap tenaga kerja cukup banyak. Perusahaan konveksi sebanyak 10.040 unit mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 27.007 orang, sedangkan perusahaan batik yang berjumlah 5.837 perusahaan mampu mempekerjakan tenaga sebanyak 22.656 orang. Konsentrasi sentra industri terbesar berada di Kabupaten Pekalongan berada di Kecamatan Kedungwuni dan Buaran.

Jumlah kegiatan industri tekstil di Kabupaten Pekalongan tersebut yang berpotensi menghasilkan air limbah adalah  30 untuk industri menengah dan  12.400 Home Industri/ Industri Kecil (meliputi Industri Batik, Printing/Sablon, Jeans Wash, Pertenunan dan Pewarnaan Benang). Sebagian industri di Kabupaten Pekalongan mulai beralih menggunakan bahan bakar batubara (terdapat  25 industri pemakai batubara di Kabupaten Pekalongan).

Selain itu di Kabupaten Pekalongan terdapat 6 (enam) sungai yang berpotensi tercemar oleh limbah industri, yaitu : Sungai Sragi Lama (Rembun), Sungai Kapidodo (Kangkung), Sungai Slempeng, Sungai Mrican, Sungai Meduri, Sungai Sengkarang (Pencongan) dengan kondisi kualitas air di atas ambang batas baku mutu yang diperbolehkan.

Pada umumnya para pelaku bisnis berusaha mengurangi biaya pengelolaan limbah dan pengendalian pencemaran. Meskipun demikian semua pihak tetap berharap lingkungan harus tetap terjaga dengan baik. Dengan terbatasnya kemampuan pembiayaan yang ada pada Pemerintah, maka partisipasi dan peran serta semua pihak sangat diperlukan dalam penanganan pencemaran limbah dari aktivitas industri tersebut.

Selanjutnya apabila exploitasi sumber daya alam tidak diikuti penerapan teknologi yang ramah lingkungan, penegakan aturan-aturan yang ada dan tanggungjawab semua pihak, maka akan menimbulkan masalah kerusakan lingkungan.

Masalah lain yang dihadapi oleh Kabupaten Pekalongan yaitu masalah kerusakan sumberdaya hutan dan lahan kritis, meskipun secara umum jumlah lahan kritis selama lima tahun terakhir mengalami penurunan. Pada tahun 2006 lahan kritis seluas 22.039 ha dan kurang lebih kurun waktu lima tahun yaitu pada tahun 2010 luasan lahan kritis berkurang menjadi 14,407 ha dengan perincian 503.02 ha sangat kritis, 2.001,63 kritis, dan 3,857,52 agak kritis.

Gambaran lengkap luasan lahan kritis selama tahun 2006 – 2010 disajikan dalam tabel berikut ini.

Tabel 2. 40

Luasan Lahan Kritis di Wilayah Kabupaten Pekalongan Tahun 2006 – 2010

Tahun Jumlah (Ha) Sangat Kritis Kritis Agak Kritis 2006 22.039,00 - 2.256,00 8.115,00 2007 20.568,00 - 1.869,00 7.756,00 2008 20.347,00 - 1.838,00 7.648,00 2009 15.563,77 733,02 2.316,67 4.184,88 2010 14.407,38 503,02 2.001,63 3.857.52

Sumber : BPS Kabupaten Pekalongan tahun 2010

Kondisi lahan kritis tersebut apabila tidak segera disikapi dan ditangani akan berdampak lebih luas lagi dan kecenderungan adanya peningkatan dari kondisi potensial kritis dan agak kritis menjadi lahan kritis dan sangat kritis.

Persoalan pencemaran udara yang berasal dari emisi bahan bakar kendaraan bermotor maupun dari sektor industri cenderung mengalami peningkatan sejalan dengan peningkatan volume kendaraan bermotor dan pengembangan industri. Jumlah kendaran bermotor umum dan pribadi di Kabupaten Pekalongan selama lima tahun terakhir dapat disajikan dalam tabel berikut ini.

Tabel 2. 41

Jumlah Kendaraan Bermotor Wajib Uji Menurut Kategori Kendaraan di Kabupaten Pekalongan Tahun 2006 – 2010

Tahun

Kategori

Jumlah (unit) Umum

(unit) Pribadi (unit)

2006 795 2.896 3.691

2007 759 3.405 4.164

2008 716 3.957 4.673

2009 765 3.987 4.752

2010 816 4.303 5.119

Sumber : BPS Kabupaten Pekalongan tahun 2010

Data pada tabel diatas menunjukkan bahwa selama lima tahun jumlah kendaraan bermotor mengalami peningkatan tiap tahunnya, pada tahun 2006 jumlah kendaraan bermotor sebanyak 3.691 yang terdiri dari kendaraan umum sebanyak 789 unit dan kendaraan pribadi sebanyak 2.896 unit dan pada tahun 2010 meningkat lebih dari 80% jika dibandingkan dengan tahun 2006, jumlah kendaraan bermotor pada tahun 2010 sebanyak 5.119 unit yang terdiri dari kendaraan umum sebanyak 816 unit dan kendaraan pribadi sebanyak 4.303 unit. Dari kondisi tersebut dapat dipastikan akan memberikan dampak peningkatan polusi udara dari emisi kendaraan bermotor.

i. Pertanahan

Bidang pertanahan dalam pembangunan daerah memiliki fungsi ekonomis dan sosial. Karena adanya fungsi ekonomis dan sosial maka kepemilikan tanah perlu dibuktikan melalui sertifikat kepemilikan tanah dengan status yang jelas, status tanah tersebut mempunyai kekuatan hukum, bentuk kepemilikan tanah yang mempunyai kekuatan hukum antara lain sertifikat tanah dengan status Hak Milik (HM), Hak Guna Bangunan (HGB), Hak Guna Usaha (HGU) dan Hak Pakai (HP). Berdasarkan data BPS Kabupaten Pekalongan tahun 2010 jumlah pemohon sertifikat tanah pada tahun 2010 sebanyak 11.488 pemohon sedangkan jumlah sertifikat yang diselesaikan sebanyak 10.278 sertifikat, dengan perincian Hak Milik (HM) sebanyak 3.164 sertifikat, Hak Guna Bangunan sebanyak 4.18 sertifikat dan

Hak Pakai sebanyak 49 sertifikat, Hak Tanggungan sebanyak 2.113 sertifikat, Peralihan Hak sebanyak 3.291 sertifikat, pengakuan penegasan melalui Program Nasional Agraria (Prona) sebanyak 1.000 sertifikat dan pemberian hak melalui Program Pembaharuan Agraria Nasional sebanyak 94 sertifikat dan sertifikat tanah yang diterbitkan melalui Program Konsolidasi Tanah sebanyak 149 sertifikat.

Gambaran secara rinci jumlah pemohon dan sertifikat yang dapat diselesaikan pada tahun 2010 dapat disajikan dalam tabel berikut ini.

Tabel 2. 42

Banyaknya Pemohon Sertifikat Umum dan Prona Di Kabupaten Pekalongan Tahun 2010 S

Sumber : BPS Kabupaten Pekalongan tahun 2010

Berdasarkan data tersebut, maka dapat diketahui bahwa jumlah petak tanah yang bersertifikat masih sangat kecil apabila dibandingkan dengan luas dan penggunaan lahan di Kabupaten Pekalongan, sedangkan apabila dilihat dari kinerja dalam penyelesaian sertifikat tanah belum optimal, hal ini terbukti dari 11.488 pemohon yang dapat diselesaikan sebanyak 10.278 pemohon. Kondisi ini menggambarkan bahwa upaya untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat arti pentingnya status hukum tanah melalui kegiatan penyuluhan maupun peningkatan pelayanan administrasi pertanahan di Kabupaten Pekalongan belum maksimal dan perlu secara terus menerus ditingkatkan.

Pemerintah Kabupaten/Kota mempunyai sejumlah kewenangan dalam penyelenggaraan bidang pertanahan, hal ini sesuai dengan Keputusan Presiden Nomor 34 Tahun 2003 tentang Kebijakan Nasional Bidang Pertanahan. Dalam pasal 2 ayat (2) disebutkan bahwa kewenangan Pemerintah Kabupaten/Kota dalam bidang pertanahan adalah 1) pemberian ijin lokasi; 2) penyelenggaraan pengadaan tanah untuk kepentingan pembangunan; 3) penyelesaian sengketa tanah garapan; 4) penyelesaian masalah ganti kerugian dan santunan tanah untuk pembangunan; 5) penetapan subyek dan obyek redistribusi tanah, serta ganti kerugian tanah kelebihan maksimum dan tanah absentee; 6) penetapan dan

Dalam dokumen BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH (Halaman 42-45)