BAB 5 KENDALA DAN SOLUSI PELAKSANAAN KERJA SAMA
C. Capaian Kerja Sama HAM
Beberapa hasil yang telah dicapai dalam kerja sama dalam dan luar negeri, antara lain:
1. RANHAM Indonesia telah menjadi role model penerapan kebijakan nasional berbasis HAM di negara lain.
2. Terselenggaranya dialog HAM bilateral baik di dalam maupun luar negeri.
3. Diundangnya peraih penghargaan Kabupaten/Kota Peduli HAM untuk berbicara di forum Dewan HAM di markas PBB di Jenewa Swiss selama 2 tahun berturut-turut.
4. Dikirimnya pejabat Ditjen HAM dan instansi lain yang berkecimpung di bidang HAM dalam berbagai pelatihan HAM di luar negeri.
3. Seminar dan Focused Group Discussion terkait Internet Sehat dan Pencegahan Ujaran Kebencian di 6 provinsi
Kegiatan ini mengundang audisi dari kalangan tokoh masyarakat, pemuka agama, mahasiswa, tenaga pendidik, maupun penegak hukum.
Tujuan kegiatan ini adalah memberikan pencerahan kepada masyarakat terkait ujaran kebencian sebagai sesuatu yang melanggar HAM yang banyak sekali ditemui akhir-akhir ini terutama bertepatan dengan tahun politik. Lebih khususnya, bertepatan dengan maraknya internet dan media sosial yang menyebarkan informasi ini sangat mudah dan cepat menyebar.
Manfaat yang diperoleh dari kegiatan ini antara lain:
a. Peningkatan pemahaman di kalangan masyarakat tentang apa itu ujaran kebencian dan hoax
b. Terjaringnya banyak masukan dari kalangan masyarakat tentang mengapa ujaran kebencian masih marak dan malah disukai masyarakat.
c. Meningkatnya kesadaran terkait ujaran kebencian.
4. Study Visit (Kunjungan Belajar) terkait Implementasi Bisnis dan HAM di Berlin, Republik Federal Jerman
Dalam rangka mengimplementasikan prinsip-prinsip Bisnis dan HAM di Indonesia dan mendukung upaya perumusan kebijakan di atas,, Direktorat Jenderal HAM bekerja sama dengan Friedrich Naumann Foundation for Freedom (FNF) untuk melakukan kunjungan belajar dalam rangka mempelajari proses Bisnis dan HAM di Jerman. Kegiatan yang dilakukan di antaranya dengan melakukan kunjungan-kunjungan ke sejumlah perusahaan besar di Jerman dan juga mempelajari peraturan terkait di instansi pemerintah di Jerman. Kunjungan ini dilaksanakan pada tanggal 22-29 Februari 2020.
Walaupun kenyataan menunjukkan bahwa Jerman masih memiliki masalah dalam mengimplementasikan prinsip-prinsip UNGP sebagai bentuk pemenuhan Bisnis dan HAM, sebagai negara maju dalam industri maupun penegakan HAM, Jerman sudah memiliki dasar-dasar hukum yang cukup baik terkait persiapan Bisnis dan HAM dan RAN Bisnis dan HAM yang sudah lebih dahulu diluncurkan.
C. Capaian Kerja Sama HAM
Beberapa hasil yang telah dicapai dalam kerja sama dalam dan luar negeri, antara lain:
1. RANHAM Indonesia telah menjadi role model penerapan kebijakan nasional berbasis HAM di negara lain.
2. Terselenggaranya dialog HAM bilateral baik di dalam maupun luar negeri.
3. Diundangnya peraih penghargaan Kabupaten/Kota Peduli HAM untuk berbicara di forum Dewan HAM di markas PBB di Jenewa Swiss selama 2 tahun berturut-turut.
4. Dikirimnya pejabat Ditjen HAM dan instansi lain yang berkecimpung di bidang HAM dalam berbagai pelatihan HAM di luar negeri.
Secara khusus pada kerja sama HAM dalam negeri, beberapa hasil capaian yang diperoleh yaitu:
1. Partisipasi K/L dan pemerintah Daerah dalam pelaporan Aksi HAM yang terus menigkat dalam hal capaian aksi setiap tahunnya.
2. Partisipasi dan meningkatnya Pemerintah Daerah kab/kota yang mendapat Predikat sebagai Kabupaten/Kota Peduli HAM.
3. Diundangnya Kabupaten Pakpak Barat pada tahun 2017 dalam forum UPR di Dewan HAM PBB Jenewa, Swiss untuk mepresentasikan capaian terkait dengan upaya peningkatan SDM melalui pendidikan.
4. Diundangnya Kota Binjai dan Kabupaten Banggai pada tahun 2019 di Dewan HAM PBB sebagai pelopor smart city di Indonesia dan juga capain Kabupaten/Kota Peduli HAM sebagai contoh bagi negara-negara anggota di Dewan HAM PBB.
D. Tantangan dalam Membangun Kerja Sama ke Depan
Tantangan dalam pelaksanaan kerja sama luar negeri sebagaimana diuraikan di bawah ini, di antaranya:
1. Program prioritas mitra kerja sama asing ada kalanya tidak sesuai dengan program prioritas Pemajuan HAM pada Direktorat Jenderal HAM, begitu juga sebaliknya;
2. Adanya kebijakan dari negara mitra kerja sama asing yang tidak dapat memberikan bantuan dana secara langsung kepada pemerintah;
3. Mitra kerja sama asing tidak dapat memberikan full-funding, sehingga harus ada dukungan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara/APBN (skema co-funding);
4. Beberapa mitra asing menganggap Indonesia sudah masuk ke dalam kategori negara masuk, sehingga tidak lagi memberikan bantuan atau funding kepada Indonesia.
BAB 6 PENUTUP
A. Simpulan
Kegiatan kerja sama HAM sesungguhnya suatu upaya untuk penyebarluasan dan peningkatan partisipasi publik yang dilakukan dalam proses implementasi P-5 HAM. Oleh karena itu, kerja sama HAM tidak hanya untuk memenuhi persyaratan formal prosedural saja, namun harus dilakukan secara benar, tepat sasaran, serta melibatkan pihak-pihak yang secara memadai merepresentasikan dukungan dalam perwujudan tanggung jawab negara atas HAM.
Ketentuan mengenai tata cara kerja sama telah diatur dalam Permenkumham Nomor 65 Tahun 2016 Tentang Penataan Kerja Sama Di Lingkungan Kementerian Hukum dan HAM. Mengenai tata cara pembuatan dan penyusunan perjanjian kerja sama, mengacu pada Permenkumham Nomor 15 Tahun 2016 tentang Tata Naskah Dinas di Lingkungan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Kedua regulasi tersebut sebagai acuan dalam membuat suatu perjanjian kerja sama pada umumnya, dan kerja sama di bidang HAM pada khususnya.
Upaya pemajuan dan perlindungan HAM merupakan mandat UUD 1945, yang harus diwujudkan oleh Pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan di Indonesia. Diplomasi Indonesia di bidang HAM pada dunia internasional, harus didedikasikan sepenuhnya pada kepentingan nasional Indonesia.
Diplomasi HAM mesti berdampak untuk membangun reputasi Indonesia sebagai negara demokrasi dan menjunjung tinggi HAM, serta memberikan sumbangan Indonesia dalam upaya global bagi pemajuan dan perlindungan HAM.
Secara khusus pada kerja sama HAM dalam negeri, beberapa hasil capaian yang diperoleh yaitu:
1. Partisipasi K/L dan pemerintah Daerah dalam pelaporan Aksi HAM yang terus menigkat dalam hal capaian aksi setiap tahunnya.
2. Partisipasi dan meningkatnya Pemerintah Daerah kab/kota yang mendapat Predikat sebagai Kabupaten/Kota Peduli HAM.
3. Diundangnya Kabupaten Pakpak Barat pada tahun 2017 dalam forum UPR di Dewan HAM PBB Jenewa, Swiss untuk mepresentasikan capaian terkait dengan upaya peningkatan SDM melalui pendidikan.
4. Diundangnya Kota Binjai dan Kabupaten Banggai pada tahun 2019 di Dewan HAM PBB sebagai pelopor smart city di Indonesia dan juga capain Kabupaten/Kota Peduli HAM sebagai contoh bagi negara-negara anggota di Dewan HAM PBB.
D. Tantangan dalam Membangun Kerja Sama ke Depan
Tantangan dalam pelaksanaan kerja sama luar negeri sebagaimana diuraikan di bawah ini, di antaranya:
1. Program prioritas mitra kerja sama asing ada kalanya tidak sesuai dengan program prioritas Pemajuan HAM pada Direktorat Jenderal HAM, begitu juga sebaliknya;
2. Adanya kebijakan dari negara mitra kerja sama asing yang tidak dapat memberikan bantuan dana secara langsung kepada pemerintah;
3. Mitra kerja sama asing tidak dapat memberikan full-funding, sehingga harus ada dukungan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara/APBN (skema co-funding);
4. Beberapa mitra asing menganggap Indonesia sudah masuk ke dalam kategori negara masuk, sehingga tidak lagi memberikan bantuan atau funding kepada Indonesia.
BAB 6 PENUTUP
A. Simpulan
Kegiatan kerja sama HAM sesungguhnya suatu upaya untuk penyebarluasan dan peningkatan partisipasi publik yang dilakukan dalam proses implementasi P-5 HAM. Oleh karena itu, kerja sama HAM tidak hanya untuk memenuhi persyaratan formal prosedural saja, namun harus dilakukan secara benar, tepat sasaran, serta melibatkan pihak-pihak yang secara memadai merepresentasikan dukungan dalam perwujudan tanggung jawab negara atas HAM.
Ketentuan mengenai tata cara kerja sama telah diatur dalam Permenkumham Nomor 65 Tahun 2016 Tentang Penataan Kerja Sama Di Lingkungan Kementerian Hukum dan HAM. Mengenai tata cara pembuatan dan penyusunan perjanjian kerja sama, mengacu pada Permenkumham Nomor 15 Tahun 2016 tentang Tata Naskah Dinas di Lingkungan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Kedua regulasi tersebut sebagai acuan dalam membuat suatu perjanjian kerja sama pada umumnya, dan kerja sama di bidang HAM pada khususnya.
Upaya pemajuan dan perlindungan HAM merupakan mandat UUD 1945, yang harus diwujudkan oleh Pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan di Indonesia. Diplomasi Indonesia di bidang HAM pada dunia internasional, harus didedikasikan sepenuhnya pada kepentingan nasional Indonesia.
Diplomasi HAM mesti berdampak untuk membangun reputasi Indonesia sebagai negara demokrasi dan menjunjung tinggi HAM, serta memberikan sumbangan Indonesia dalam upaya global bagi pemajuan dan perlindungan HAM.
B. Penutup
Setelah melakukan pembahasan dan analisis terhadap permasalahan sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya dalam modul ini, sejumlah saran telah disampaikan penulis atas pelaksanaan fungsi kerja sama HAM sebagai strategi implementasi tanggung jawab negara atas HAM.
Dalam melakukan diplomasi di bidang HAM, Indonesia selalu mengedepankan prinsip-prinsip kerja sama dan dialog sebagai upaya untuk meningkatkan kapasitas negara dalam pemajuan dan perlindungan HAM serta mewujudkan komitmen global di bidang HAM. Kerja sama dalam bentuk dialog tersebut telah mencakup berbagai isu pembahasan termasuk yang terkait hukum humaniter, hak anak, hak perempuan, hak penyandang disabilitas, mekanisme HAM regional, transitional justice, dan isu-isu multilateral.
Indonesia memiliki Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM sebagai bentuk tanggung jawab moral dan hukum Indonesia sebagai anggota PBB dalam penghormatan dan pelaksanaan Deklarasi Universal HAM/Universal Declaration on Human Rights (UDHR) tahun 1948 serta berbagai instrumen HAM lainnya mengenai HAM yang telah diterima Indonesia. Jauh sebelumnya, HAM sebagai nilai universal telah dimuat dalam Konstitusi RI, baik dalam pembukaan UUD 1945 alinea ke-4 maupun dalam batang tubuh UUD 1945 dan dipertegas dalam amandemen UUD 1945.
DAFTAR PUSTAKA
PERATURAN
Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM
Permenkumham Nomor 65 Tahun 2016 Tentang Penataan Kerja Sama Di Lingkungan Kementerian Hukum dan HAM
Permenkumham Nomor 15 Tahun 2016 tentang Tata Naskah Dinas di Lingkungan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia
BUKU
Azhary, Tahir. Negara Hukum: Suatu Studi Tentang Prinsip-Prinsipnya Dilihat dari Segi Hukum Islam, Implementasinya Pada Periode Negara Madinah dan Masa Kini, (Jakarta: Kencana, 2004)
Donnely, Jack. Universal Human Rights in Theory and Practice (Ithaca and London: Cornell University Press, 2003)
Kemitraan Partnership. Modul Pelatihan Bagi Petugas Pemasyarakatan Implementasi Sistem Pemasyarakatan dan Standard Minimum Rules for Treatment of Prisoners (Jakarta: Kemitraan, 2008)
Khamdan, Muh. Islam dan HAM Bagi Narapidana atau tahanan (Kudus: Parist, 2012)
Melander, Goran. Kompilasi Instrumen Hak Asasi Manusia Raoul Wallenberg Institute (Jakarta: SIDA-Departemen Hukum dan HAM, 2004)
Muladi. Hak Asasi Manusia, Politik dan Sistem Peradilan Pidana (Semarang:
Badan Penerbit Universitas Diponegoro, 2002)
Smith, Rhona K. M. Hukum Hak Asasi Manusia (Yogyakarta: PUSHAM-UII, 2008)
B. Penutup
Setelah melakukan pembahasan dan analisis terhadap permasalahan sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya dalam modul ini, sejumlah saran telah disampaikan penulis atas pelaksanaan fungsi kerja sama HAM sebagai strategi implementasi tanggung jawab negara atas HAM.
Dalam melakukan diplomasi di bidang HAM, Indonesia selalu mengedepankan prinsip-prinsip kerja sama dan dialog sebagai upaya untuk meningkatkan kapasitas negara dalam pemajuan dan perlindungan HAM serta mewujudkan komitmen global di bidang HAM. Kerja sama dalam bentuk dialog tersebut telah mencakup berbagai isu pembahasan termasuk yang terkait hukum humaniter, hak anak, hak perempuan, hak penyandang disabilitas, mekanisme HAM regional, transitional justice, dan isu-isu multilateral.
Indonesia memiliki Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM sebagai bentuk tanggung jawab moral dan hukum Indonesia sebagai anggota PBB dalam penghormatan dan pelaksanaan Deklarasi Universal HAM/Universal Declaration on Human Rights (UDHR) tahun 1948 serta berbagai instrumen HAM lainnya mengenai HAM yang telah diterima Indonesia. Jauh sebelumnya, HAM sebagai nilai universal telah dimuat dalam Konstitusi RI, baik dalam pembukaan UUD 1945 alinea ke-4 maupun dalam batang tubuh UUD 1945 dan dipertegas dalam amandemen UUD 1945.
DAFTAR PUSTAKA
PERATURAN
Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM
Permenkumham Nomor 65 Tahun 2016 Tentang Penataan Kerja Sama Di Lingkungan Kementerian Hukum dan HAM
Permenkumham Nomor 15 Tahun 2016 tentang Tata Naskah Dinas di Lingkungan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia
BUKU
Azhary, Tahir. Negara Hukum: Suatu Studi Tentang Prinsip-Prinsipnya Dilihat dari Segi Hukum Islam, Implementasinya Pada Periode Negara Madinah dan Masa Kini, (Jakarta: Kencana, 2004)
Donnely, Jack. Universal Human Rights in Theory and Practice (Ithaca and London: Cornell University Press, 2003)
Kemitraan Partnership. Modul Pelatihan Bagi Petugas Pemasyarakatan Implementasi Sistem Pemasyarakatan dan Standard Minimum Rules for Treatment of Prisoners (Jakarta: Kemitraan, 2008)
Khamdan, Muh. Islam dan HAM Bagi Narapidana atau tahanan (Kudus: Parist, 2012)
Melander, Goran. Kompilasi Instrumen Hak Asasi Manusia Raoul Wallenberg Institute (Jakarta: SIDA-Departemen Hukum dan HAM, 2004)
Muladi. Hak Asasi Manusia, Politik dan Sistem Peradilan Pidana (Semarang:
Badan Penerbit Universitas Diponegoro, 2002)
Smith, Rhona K. M. Hukum Hak Asasi Manusia (Yogyakarta: PUSHAM-UII, 2008)
MODUL BEST PRACTICE
MEMBANGUN KERJA SAMA HAM
KEWAJIBAN NEGARA DALAM IMPLEMENTASI PEMENUHAN DAN PERLINDUNGAN HAM DI INDONESIA
Teknis Substantif
Bidang Kerja Sama Hak Asasi Manusia
Ruth Marshinta Muh. Khamdan
BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA
MEMBANGUN KERJA SAMA HAM
KEWAJIBAN NEGARA DALAM IMPLEMENTASI PEMENUHAN DAN PERLINDUNGAN HAM DI INDONESIA
Teknis Substantif
Bidang Kerja Sama Hak Asasi Manusia
Kegiatan kerja sama HAM sesungguhnya suatu upaya untuk penyebar-luas an dan peningkatan partisipasi publik yang dilakukan dalam proses implementasi P-5 HAM. Maka kerja sama HAM tidak hanya memenuhi persyaratan formal prosedural, namun harus dilakukan secara benar, tepat sasaran, serta melibatkan pihak-pihak yang merepresentasikan dukungan dalam perwujudan tanggung jawab negara atas HAM.
Ketentuan mengenai tata cara kerja sama telah diatur dalam Permenkumham Nomor 65 Tahun 2016 Tentang Penataan Kerja Sama Di Lingkungan Kementerian Hukum dan HAM. Mengenai tata cara pembuatan dan penyusunan perjanjian kerja sama, mengacu pada Permenkumham Nomor 15 Tahun 2016 tentang Tata Naskah Dinas di Lingkungan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Kedua regulasi tersebut sebagai acuan dalam membuat suatu perjanjian kerja sama pada umumnya, dan kerja sama di bidang HAM pada khususnya.
Upaya pemajuan dan perlindungan HAM merupakan mandat UUD 1945, yang harus diwujudkan oleh Pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan di Indonesia. Diplomasi Indonesia di bidang HAM pada dunia internasional, harus didedikasikan sepenuhnya pada kepentingan nasional Indonesia. Diplomasi HAM mesti berdampak untuk membangun reputasi Indonesia sebagai negara demokrasi dan menjunjung tinggi HAM, serta memberikan sumbangan Indonesia dalam upaya global bagi pemajuan dan perlindungan HAM.
ISBN 978-623-6869-18-5
BPSDM KUMHAM Press