• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kerja Sama Indonesia dalam OKI

Dalam dokumen MEMBANGUN KERJA SAMA HAM (Halaman 48-0)

BAB 4 IMPLEMENTASI KERJA SAMA HAM LUAR NEGERI

F. Kerja Sama Indonesia dalam OKI

Pada 20-24 Pebruari 2012, di Jakarta, Indonesia telah berhasil menyelenggarakan sesi inaugural Komisi HAM OKI. Pertemuan ini telah memainkan peran penting dalam proses pembentukan serta pelaksanaan kinerja dari Independent Permanent Human Rights Commission/IPHRC (Komisi HAM OKI). Selama pertemuan, Indonesia telah berperan penting dalam pemilihan Komisioner dari Indonesia DR. Siti Ruhaini Dzuhayatin sebagai Ketua Komisi.

Pemerintah Indonesia juga berperan aktif dalam pemilihan kembali DR.

Siti Ruhaini Dzuhayatin sebagai chairperson pada Pertemuan ke-3 Komisi HAM OKI, tanggal 26-31 Oktober 2013 di Jeddah, Arab Saudi. Selain itu, juga terpilih menjadi koordinator Working Group on the Rights of Women and of the Child pada Pertemuan ke-4 Komisi HAM OKI pada tanggal 2-6 Februari 2014 di Jeddah, Arab Saudi.

Pemerintah Indonesia juga berkomitmen untuk terus mendorong peningkatan peran perempuan di negara-negara OKI. Dalam kaitan itu, Indonesia telah menyelenggarakan the 4th Ministerial Conference on the Role

komunikasi dan kerja sama lintas kementerian di dalam negeri.

Pembentukan legally binding instrument dimaksud merupakan hal esensial tidak hanya bagi Indonesia tetapi juga ASEAN dengan pertimbangan: sebagai acuan untuk menetapkan minimum standard of treatment terhadap pekerja migran di kawasan;

Standar instrumen perlindungan bagi pekerja migran merupakan landasan normatif perlindungan 6,5 juta pekerja migran di kawasan beserta keluarganya, regardless status keimigrasian; dan sebagai pilar penting dalam mewujudkan ASEAN Rule-based Community. Posisi dasar Indonesia dalam penyusunan draft dimaksud antara lain dengan mengupayakan legally binding instrument perlindungan pekerja migran; perlindungan documented and undocumented pekerja migran, dan perlindungan bagi anggota keluarga pekerja migran.

Indonesia mengambil inisiatif untuk menginisiasi dialog HAM (semacam UPR di bawah Dewan HAM) sebagai upaya untuk memperkuat mandat proteksi dari AICHR. Dalam kaitan ini, Indonesia secara suka rela menempatkan diri sebagai negara untuk dilakukan review oleh AICHR melalui dialog dan terjadi pada tahun 2012. Indonesia mengharapkan dialog ini menjadi standing practice (praktek reguler) di AICHR dan mendorong negara lain untuk mengikuti jejak. Dua negara ASEAN telah menyatakan kesediaan mengikuti jejak Indonesia, yaitu Thailand dan Filipina, dimana Thailand telah melaksanakannya paruh kedua tahun 2014. Prakarsa Indonesia ini mendapat apresiasi dari banyak pihak termasuk negara-negara mitra dari Eropa.

F. Kerja Sama Indonesia dalam OKI

Pada 20-24 Pebruari 2012, di Jakarta, Indonesia telah berhasil menyelenggarakan sesi inaugural Komisi HAM OKI. Pertemuan ini telah memainkan peran penting dalam proses pembentukan serta pelaksanaan kinerja dari Independent Permanent Human Rights Commission/IPHRC (Komisi HAM OKI). Selama pertemuan, Indonesia telah berperan penting dalam pemilihan Komisioner dari Indonesia DR. Siti Ruhaini Dzuhayatin sebagai Ketua Komisi.

Pemerintah Indonesia juga berperan aktif dalam pemilihan kembali DR.

Siti Ruhaini Dzuhayatin sebagai chairperson pada Pertemuan ke-3 Komisi HAM OKI, tanggal 26-31 Oktober 2013 di Jeddah, Arab Saudi. Selain itu, juga terpilih menjadi koordinator Working Group on the Rights of Women and of the Child pada Pertemuan ke-4 Komisi HAM OKI pada tanggal 2-6 Februari 2014 di Jeddah, Arab Saudi.

Pemerintah Indonesia juga berkomitmen untuk terus mendorong peningkatan peran perempuan di negara-negara OKI. Dalam kaitan itu, Indonesia telah menyelenggarakan the 4th Ministerial Conference on the Role

of Women in Development of OIC Member States (Konferensi Tingkat Menteri ke-4 mengenai Peran Perempuan dalam Pembangunan OKI) di Jakarta pada tanggal 4-6 Desember 2012. Konferensi difokuskan pada pembahasan peran dan partisipasi perempuan dalam pembangunan ekonomi di negara-negara OKI.

Konferensi tersebut menghasilkan Jakarta Declaration yang pada pokoknya memuat seperangkat langkah untuk memperkuat implementasi berbagai komitmen dan rencana aksi yang telah dihasilkan di berbagai KTM OKI untuk Perempuan sebelumnya, misalnya dengan menetapkan indikator untuk pengawasan dan evaluasi implementasi OIC Plan of Action for the Advancement of Women (OPAAW).

Indonesia terus berupaya memperkuat diplomasi HAM internasional, sebagaimana peran aktif dalam menyelenggarakan International Seminar on Human Rights Education. Kegiatan tersebut diadakan dengan kerja sama melalui Independent and Permanent Human Rights Commission of the Organisation of Islamic Cooperation (Komisi HAM OKI) pada 12-13 Oktober 2015. Pertemuan telah mengadopsi IPHRC Jakarta Declaration on Human Rights Education yang pada pokoknya memuat sejumlah rekomendasi terkait upaya pemajuan pendidikan HAM di negara-negara anggota OKI.

BAB 5

KENDALA DAN SOLUSI DALAM PELAKSANAAN KERJA SAMA HAK ASASI MANUSIA

A. Strategi Praktis Pelaksanaan Kerja Sama

Untuk mengidentifikasi kendala pelaksanaan kerja sama HAM, dilakukan identifikasi faktor internal dan eksternal dengan menggunakan teknik analisis SWOT yang terdiri dari Strength, Weaknesses, Opportunity dan Threats.

Keempat faktor di atas dapat dibagi menjadi faktor internal dan eksternal.

1. Strength, merupakan faktor kekuatan, misalnya dapat dilihat dari jumlah SDM yang tersedia maupun regulasi yang mendukung,

2. Weakness bisa merupakan kebalikan dari faktor Strength, mengidentifikasi apa yang menjadi kelemahan.

3. Opportunity, biasanya merupakan faktor eksternal, yaitu adanya kesempatan dan tawaran kerja sama dari luar

4. Threat, biasanya juga merupakan faktor eksternal (misalnya frekuensi kerja sama yang meningkat sementara SDM tidak bertambah), namun hal ini lebih baik disikapi sebagai tantangan daripada ancaman.

Kerja sama dalam dan luar negeri dilakukan dengan memperhatikan prinsip-prinsip hubungan dalam dan luar negeri yang mengacu pada Undang-undang Undang-Undang Nomor 37 tahun 1999 tentang Kerja Sama Luar Negeri. Regulasi ini menegaskan bahwa sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia yang merdeka dan berdaulat, pelaksanaan hubungan luar negeri didasarkan pada asas kesamaan derajat, saling menghormati, saling menguntungkan dan saling tidak mencampuri urusan dalam negeri masing-masing.

Setelah membaca bab ini, para pembelajar diharapkan dapat mengetahui kendala dan solusi dalam pelaksanaan kerja sama HAM baik di dalam negeri maupun luar negeri.

of Women in Development of OIC Member States (Konferensi Tingkat Menteri ke-4 mengenai Peran Perempuan dalam Pembangunan OKI) di Jakarta pada tanggal 4-6 Desember 2012. Konferensi difokuskan pada pembahasan peran dan partisipasi perempuan dalam pembangunan ekonomi di negara-negara OKI.

Konferensi tersebut menghasilkan Jakarta Declaration yang pada pokoknya memuat seperangkat langkah untuk memperkuat implementasi berbagai komitmen dan rencana aksi yang telah dihasilkan di berbagai KTM OKI untuk Perempuan sebelumnya, misalnya dengan menetapkan indikator untuk pengawasan dan evaluasi implementasi OIC Plan of Action for the Advancement of Women (OPAAW).

Indonesia terus berupaya memperkuat diplomasi HAM internasional, sebagaimana peran aktif dalam menyelenggarakan International Seminar on Human Rights Education. Kegiatan tersebut diadakan dengan kerja sama melalui Independent and Permanent Human Rights Commission of the Organisation of Islamic Cooperation (Komisi HAM OKI) pada 12-13 Oktober 2015. Pertemuan telah mengadopsi IPHRC Jakarta Declaration on Human Rights Education yang pada pokoknya memuat sejumlah rekomendasi terkait upaya pemajuan pendidikan HAM di negara-negara anggota OKI.

BAB 5

KENDALA DAN SOLUSI DALAM PELAKSANAAN KERJA SAMA HAK ASASI MANUSIA

A. Strategi Praktis Pelaksanaan Kerja Sama

Untuk mengidentifikasi kendala pelaksanaan kerja sama HAM, dilakukan identifikasi faktor internal dan eksternal dengan menggunakan teknik analisis SWOT yang terdiri dari Strength, Weaknesses, Opportunity dan Threats.

Keempat faktor di atas dapat dibagi menjadi faktor internal dan eksternal.

1. Strength, merupakan faktor kekuatan, misalnya dapat dilihat dari jumlah SDM yang tersedia maupun regulasi yang mendukung,

2. Weakness bisa merupakan kebalikan dari faktor Strength, mengidentifikasi apa yang menjadi kelemahan.

3. Opportunity, biasanya merupakan faktor eksternal, yaitu adanya kesempatan dan tawaran kerja sama dari luar

4. Threat, biasanya juga merupakan faktor eksternal (misalnya frekuensi kerja sama yang meningkat sementara SDM tidak bertambah), namun hal ini lebih baik disikapi sebagai tantangan daripada ancaman.

Kerja sama dalam dan luar negeri dilakukan dengan memperhatikan prinsip-prinsip hubungan dalam dan luar negeri yang mengacu pada Undang-undang Undang-Undang Nomor 37 tahun 1999 tentang Kerja Sama Luar Negeri. Regulasi ini menegaskan bahwa sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia yang merdeka dan berdaulat, pelaksanaan hubungan luar negeri didasarkan pada asas kesamaan derajat, saling menghormati, saling menguntungkan dan saling tidak mencampuri urusan dalam negeri masing-masing.

Setelah membaca bab ini, para pembelajar diharapkan dapat mengetahui kendala dan solusi dalam pelaksanaan kerja sama HAM baik di dalam negeri maupun luar negeri.

Dengan demikian, kerja sama yang dilakukan dengan pihak asing dilakukan dalam rangka kepentingan nasional.

Contoh kasus:

Salah satu organisasi internasional yang menjalin kerja sama adalah Friedrich Naumann Foundation for Freedom (FNF) dari Jerman. Pada Maret 2015 FNF Indonesia serta Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia telah menandatangani Memorandum Saling Pengertian (MSP), yang meresmikan kerja sama antara FNF Indonesia serta Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia hingga tahun 2017.

Dalam Memorandum Saling Pengertian (MSP) antara FNF Indonesia serta Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, lingkup program banyak terkait dengan mempromosikan Demokrasi, Rule of Law dan Hak Asasi Manusia.

Penandatangan MSP tersebut memiliki arti penting dan menjadi tonggak baru dalam sejarah keterlibatan FNF di Indonesia.

Sebelumnya pada tahun 1971, FNF Indonesia menandatangani MoU dengan Kementerian Perdagangan, dan pada tahun 1998, FNF Indonesia menandatangani MoU dengan Sekretariat Negara. Indonesia adalah negara demokrasi terbesar ketiga di dunia dan memiliki populasi muslim terbesar. FNF telah bekerja di Indonesia sejak tahun 1969, menobatkan Jakarta sebagai kantor terlama FNF di luar negeri.

Adapun ruang lingkup program dalam Memorandum Saling Pengertian (MSP) terkait HAM meliputi:

1) Penguatan Pemahaman Masyarakat terkait Pelayanan Publik di Bidang Hukum dan HAM

2) Penguatan Institusi Pelaksana Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia Pemerintah Republik Indonesia (RANHAM), untuk memperbaiki efektivitas pelaksanaannya dan untuk meningkatkan pemahaman aparatur negara dan warga negara terhadap hak asasi manusia.

Dengan lingkup program yang ada serta tujuan dari program, kelompok sasaran atau penerima manfaat dari program adalah:

1) Untuk penguatan pemahaman masyarakat terkait pelayanan publik di bidang Hukum dan HAM penerima manfaatnya adalah petugas penyuluh hukum dan masyarakat di lokasi kegiatan.

2) Penguatan Institusi Pelaksana Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia Pemerintah Republik Indonesia penerima manfaatnya adalah pemerintah daerah dan Kanwil Kemenkumham.

B. Strategi Peningkatan Kerja Sama HAM

Beberapa langkah strategis yang telah dilaksanakan sebagai tindak lanjut hasil kerja sama, sebagaimana gambaran yang dilakukan bersama FNF (Friedrich Naumann Foundation for Freedom) antara lain:

1. Sosialisasi Capaian Daerah dalam Pelaksanaan Aksi HAM dan Penilaian Kabupaten/Kota Peduli HAM di 14 provinsi

Kegiatan dilaksanakan dengan mengundang perwakilan Kabupaten dan Kota di provinsi terkait, dengan tujuan menyampaikan status pelaporan Aksi HAM dan capaian Kabupaten/Kota di provinsi tersebut.

Langkah ini dimaksudkan untuk menjaring masukan dan bersama-sama mencari solusi terkait pencapaian yang lebih baik di masa mendatang.

Dengan demikian, kerja sama yang dilakukan dengan pihak asing dilakukan dalam rangka kepentingan nasional.

Contoh kasus:

Salah satu organisasi internasional yang menjalin kerja sama adalah Friedrich Naumann Foundation for Freedom (FNF) dari Jerman. Pada Maret 2015 FNF Indonesia serta Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia telah menandatangani Memorandum Saling Pengertian (MSP), yang meresmikan kerja sama antara FNF Indonesia serta Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia hingga tahun 2017.

Dalam Memorandum Saling Pengertian (MSP) antara FNF Indonesia serta Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, lingkup program banyak terkait dengan mempromosikan Demokrasi, Rule of Law dan Hak Asasi Manusia.

Penandatangan MSP tersebut memiliki arti penting dan menjadi tonggak baru dalam sejarah keterlibatan FNF di Indonesia.

Sebelumnya pada tahun 1971, FNF Indonesia menandatangani MoU dengan Kementerian Perdagangan, dan pada tahun 1998, FNF Indonesia menandatangani MoU dengan Sekretariat Negara. Indonesia adalah negara demokrasi terbesar ketiga di dunia dan memiliki populasi muslim terbesar. FNF telah bekerja di Indonesia sejak tahun 1969, menobatkan Jakarta sebagai kantor terlama FNF di luar negeri.

Adapun ruang lingkup program dalam Memorandum Saling Pengertian (MSP) terkait HAM meliputi:

1) Penguatan Pemahaman Masyarakat terkait Pelayanan Publik di Bidang Hukum dan HAM

2) Penguatan Institusi Pelaksana Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia Pemerintah Republik Indonesia (RANHAM), untuk memperbaiki efektivitas pelaksanaannya dan untuk meningkatkan pemahaman aparatur negara dan warga negara terhadap hak asasi manusia.

Dengan lingkup program yang ada serta tujuan dari program, kelompok sasaran atau penerima manfaat dari program adalah:

1) Untuk penguatan pemahaman masyarakat terkait pelayanan publik di bidang Hukum dan HAM penerima manfaatnya adalah petugas penyuluh hukum dan masyarakat di lokasi kegiatan.

2) Penguatan Institusi Pelaksana Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia Pemerintah Republik Indonesia penerima manfaatnya adalah pemerintah daerah dan Kanwil Kemenkumham.

B. Strategi Peningkatan Kerja Sama HAM

Beberapa langkah strategis yang telah dilaksanakan sebagai tindak lanjut hasil kerja sama, sebagaimana gambaran yang dilakukan bersama FNF (Friedrich Naumann Foundation for Freedom) antara lain:

1. Sosialisasi Capaian Daerah dalam Pelaksanaan Aksi HAM dan Penilaian Kabupaten/Kota Peduli HAM di 14 provinsi

Kegiatan dilaksanakan dengan mengundang perwakilan Kabupaten dan Kota di provinsi terkait, dengan tujuan menyampaikan status pelaporan Aksi HAM dan capaian Kabupaten/Kota di provinsi tersebut.

Langkah ini dimaksudkan untuk menjaring masukan dan bersama-sama mencari solusi terkait pencapaian yang lebih baik di masa mendatang.

Gambaran hasil yang dicapai dalam beberapa langkah sosialisasi yaitu:

a. Peningkatan pelaporan triwulan aksi HAM maupun partisipasi Kabupaten/Kota dalam pelaksanaan penilaian Kabupaten/Kota Peduli HAM dibanding tahun sebelumnya

b. Teridentifikasinya kendala-kendala terkait pelaporan aksi HAM maupun penilaian Kabupaten/Kota Peduli HAM

c. Saran-saran untuk perbaikan pelaporan aksi HAM dan indikator penilaian Kabupaten/Kota Peduli HAM

d. Meningkatnya keinginan daerah untuk berlomba-lomba melakukan inovasi program pemenuhan HAM di daerah.

2. Focus Group Discussion Penggunaan Aplikasi SIMASHAM

Kegiatan FGD mengundang Unit Pelaksana Teknis (UPT) sebagai Pelaksana Yankomas UPT di Kanwil Kemenkumham guna meningkatkan

pemahaman penggunaan aplikasi Sistem Informasi Pelayanan Komunikasi Masyarakat HAM (SIMASHAM) sebagai sarana pengaduan masyarakat.

Manfaat dari kegiatan tersebut antara lain:

a. Meningkatnya pemahaman Pelaksana Yankomas UPT terhadap penggunaan aplikasi SIMASHAM.

b. Terbentuknya Pos Yankomas baru di 5 (lima) provinsi yang mengikuti kegiatan Focus Group Discussion Penggunaan Aplikasi SIMASHAM sejumlah 31 (tiga puluh satu) Unit Pelaksana Teknis.

c. Sebelum dilaksanakannya, dari permasalahan yang telah ditindaklanjuti oleh Pelaksana Yankomas terdapat 26 kasus yang telah ditanggapi oleh instansi terkait. Kemudian, setelah dilaksanakannya kegiatan tersebut terdapat peningkatan jumlah tanggapan instansi terkait sebanyak 37 kasus yang ditanggapi.

Dalam hal ini telah terjadi peningkatan persentase jumlah tanggapan instansi terkait sebesar 58,73%.

Gambaran hasil yang dicapai dalam beberapa langkah sosialisasi yaitu:

a. Peningkatan pelaporan triwulan aksi HAM maupun partisipasi Kabupaten/Kota dalam pelaksanaan penilaian Kabupaten/Kota Peduli HAM dibanding tahun sebelumnya

b. Teridentifikasinya kendala-kendala terkait pelaporan aksi HAM maupun penilaian Kabupaten/Kota Peduli HAM

c. Saran-saran untuk perbaikan pelaporan aksi HAM dan indikator penilaian Kabupaten/Kota Peduli HAM

d. Meningkatnya keinginan daerah untuk berlomba-lomba melakukan inovasi program pemenuhan HAM di daerah.

2. Focus Group Discussion Penggunaan Aplikasi SIMASHAM

Kegiatan FGD mengundang Unit Pelaksana Teknis (UPT) sebagai Pelaksana Yankomas UPT di Kanwil Kemenkumham guna meningkatkan

pemahaman penggunaan aplikasi Sistem Informasi Pelayanan Komunikasi Masyarakat HAM (SIMASHAM) sebagai sarana pengaduan masyarakat.

Manfaat dari kegiatan tersebut antara lain:

a. Meningkatnya pemahaman Pelaksana Yankomas UPT terhadap penggunaan aplikasi SIMASHAM.

b. Terbentuknya Pos Yankomas baru di 5 (lima) provinsi yang mengikuti kegiatan Focus Group Discussion Penggunaan Aplikasi SIMASHAM sejumlah 31 (tiga puluh satu) Unit Pelaksana Teknis.

c. Sebelum dilaksanakannya, dari permasalahan yang telah ditindaklanjuti oleh Pelaksana Yankomas terdapat 26 kasus yang telah ditanggapi oleh instansi terkait. Kemudian, setelah dilaksanakannya kegiatan tersebut terdapat peningkatan jumlah tanggapan instansi terkait sebanyak 37 kasus yang ditanggapi.

Dalam hal ini telah terjadi peningkatan persentase jumlah tanggapan instansi terkait sebesar 58,73%.

3. Seminar dan Focused Group Discussion terkait Internet Sehat dan Pencegahan Ujaran Kebencian di 6 provinsi

Kegiatan ini mengundang audisi dari kalangan tokoh masyarakat, pemuka agama, mahasiswa, tenaga pendidik, maupun penegak hukum.

Tujuan kegiatan ini adalah memberikan pencerahan kepada masyarakat terkait ujaran kebencian sebagai sesuatu yang melanggar HAM yang banyak sekali ditemui akhir-akhir ini terutama bertepatan dengan tahun politik. Lebih khususnya, bertepatan dengan maraknya internet dan media sosial yang menyebarkan informasi ini sangat mudah dan cepat menyebar.

Manfaat yang diperoleh dari kegiatan ini antara lain:

a. Peningkatan pemahaman di kalangan masyarakat tentang apa itu ujaran kebencian dan hoax

b. Terjaringnya banyak masukan dari kalangan masyarakat tentang mengapa ujaran kebencian masih marak dan malah disukai masyarakat.

c. Meningkatnya kesadaran terkait ujaran kebencian.

4. Study Visit (Kunjungan Belajar) terkait Implementasi Bisnis dan HAM di Berlin, Republik Federal Jerman

Dalam rangka mengimplementasikan prinsip-prinsip Bisnis dan HAM di Indonesia dan mendukung upaya perumusan kebijakan di atas,, Direktorat Jenderal HAM bekerja sama dengan Friedrich Naumann Foundation for Freedom (FNF) untuk melakukan kunjungan belajar dalam rangka mempelajari proses Bisnis dan HAM di Jerman. Kegiatan yang dilakukan di antaranya dengan melakukan kunjungan-kunjungan ke sejumlah perusahaan besar di Jerman dan juga mempelajari peraturan terkait di instansi pemerintah di Jerman. Kunjungan ini dilaksanakan pada tanggal 22-29 Februari 2020.

Walaupun kenyataan menunjukkan bahwa Jerman masih memiliki masalah dalam mengimplementasikan prinsip-prinsip UNGP sebagai bentuk pemenuhan Bisnis dan HAM, sebagai negara maju dalam industri maupun penegakan HAM, Jerman sudah memiliki dasar-dasar hukum yang cukup baik terkait persiapan Bisnis dan HAM dan RAN Bisnis dan HAM yang sudah lebih dahulu diluncurkan.

C. Capaian Kerja Sama HAM

Beberapa hasil yang telah dicapai dalam kerja sama dalam dan luar negeri, antara lain:

1. RANHAM Indonesia telah menjadi role model penerapan kebijakan nasional berbasis HAM di negara lain.

2. Terselenggaranya dialog HAM bilateral baik di dalam maupun luar negeri.

3. Diundangnya peraih penghargaan Kabupaten/Kota Peduli HAM untuk berbicara di forum Dewan HAM di markas PBB di Jenewa Swiss selama 2 tahun berturut-turut.

4. Dikirimnya pejabat Ditjen HAM dan instansi lain yang berkecimpung di bidang HAM dalam berbagai pelatihan HAM di luar negeri.

3. Seminar dan Focused Group Discussion terkait Internet Sehat dan Pencegahan Ujaran Kebencian di 6 provinsi

Kegiatan ini mengundang audisi dari kalangan tokoh masyarakat, pemuka agama, mahasiswa, tenaga pendidik, maupun penegak hukum.

Tujuan kegiatan ini adalah memberikan pencerahan kepada masyarakat terkait ujaran kebencian sebagai sesuatu yang melanggar HAM yang banyak sekali ditemui akhir-akhir ini terutama bertepatan dengan tahun politik. Lebih khususnya, bertepatan dengan maraknya internet dan media sosial yang menyebarkan informasi ini sangat mudah dan cepat menyebar.

Manfaat yang diperoleh dari kegiatan ini antara lain:

a. Peningkatan pemahaman di kalangan masyarakat tentang apa itu ujaran kebencian dan hoax

b. Terjaringnya banyak masukan dari kalangan masyarakat tentang mengapa ujaran kebencian masih marak dan malah disukai masyarakat.

c. Meningkatnya kesadaran terkait ujaran kebencian.

4. Study Visit (Kunjungan Belajar) terkait Implementasi Bisnis dan HAM di Berlin, Republik Federal Jerman

Dalam rangka mengimplementasikan prinsip-prinsip Bisnis dan HAM di Indonesia dan mendukung upaya perumusan kebijakan di atas,, Direktorat Jenderal HAM bekerja sama dengan Friedrich Naumann Foundation for Freedom (FNF) untuk melakukan kunjungan belajar dalam rangka mempelajari proses Bisnis dan HAM di Jerman. Kegiatan yang dilakukan di antaranya dengan melakukan kunjungan-kunjungan ke sejumlah perusahaan besar di Jerman dan juga mempelajari peraturan terkait di instansi pemerintah di Jerman. Kunjungan ini dilaksanakan pada tanggal 22-29 Februari 2020.

Walaupun kenyataan menunjukkan bahwa Jerman masih memiliki masalah dalam mengimplementasikan prinsip-prinsip UNGP sebagai bentuk pemenuhan Bisnis dan HAM, sebagai negara maju dalam industri maupun penegakan HAM, Jerman sudah memiliki dasar-dasar hukum yang cukup baik terkait persiapan Bisnis dan HAM dan RAN Bisnis dan HAM yang sudah lebih dahulu diluncurkan.

C. Capaian Kerja Sama HAM

Beberapa hasil yang telah dicapai dalam kerja sama dalam dan luar negeri, antara lain:

1. RANHAM Indonesia telah menjadi role model penerapan kebijakan nasional berbasis HAM di negara lain.

2. Terselenggaranya dialog HAM bilateral baik di dalam maupun luar negeri.

3. Diundangnya peraih penghargaan Kabupaten/Kota Peduli HAM untuk berbicara di forum Dewan HAM di markas PBB di Jenewa Swiss selama 2 tahun berturut-turut.

4. Dikirimnya pejabat Ditjen HAM dan instansi lain yang berkecimpung di bidang HAM dalam berbagai pelatihan HAM di luar negeri.

Secara khusus pada kerja sama HAM dalam negeri, beberapa hasil capaian yang diperoleh yaitu:

1. Partisipasi K/L dan pemerintah Daerah dalam pelaporan Aksi HAM yang terus menigkat dalam hal capaian aksi setiap tahunnya.

2. Partisipasi dan meningkatnya Pemerintah Daerah kab/kota yang mendapat Predikat sebagai Kabupaten/Kota Peduli HAM.

3. Diundangnya Kabupaten Pakpak Barat pada tahun 2017 dalam forum UPR di Dewan HAM PBB Jenewa, Swiss untuk mepresentasikan capaian terkait dengan upaya peningkatan SDM melalui pendidikan.

3. Diundangnya Kabupaten Pakpak Barat pada tahun 2017 dalam forum UPR di Dewan HAM PBB Jenewa, Swiss untuk mepresentasikan capaian terkait dengan upaya peningkatan SDM melalui pendidikan.

Dalam dokumen MEMBANGUN KERJA SAMA HAM (Halaman 48-0)

Dokumen terkait