• Tidak ada hasil yang ditemukan

5.P.2 Cara Kerja Dinas Malam

Dalam dokumen [ kata pengantar ] [ kata pengantar ] (Halaman 154-161)

Contoh 1

Gambar V.P.1 memperlihatkan daftar mistar di suatu stasiun yang dapat ditutup sebagai setasiun antara dalam dinas malam sistem A. Di sini, untuk mengubah dinas siang menjadi dinas malam, menggunakan kruk tiga kedudukan dalam lajur 7 yang sekaligus untuk memutuskan hubungan pesawat telegraph T yang menyambung kawat T serta menutup atau membuka lubang kunci poros dalamlajur 8 yang disebut “kunci malam”.

a. Dinas Siang

Pada dinas siang, kruk tiga kedudukan berkedudukan merebah ke kanan dan dikunci dengan begel dan gembok. Dalam kedudukan ini, kontak-kontak pada poros 7 ki dan 7 ka berkedudukan seperti yang terlihat dalam gamabr V.P.1 dan poros 8 ki terjerat oleh sentil 14 pada mistar C dan lubang anak kunci malam “HM/X” tertutup oleh pelat besi yang dipasang pada mistar tersebut di atas.

B

V

Hanay di sini, saling penguncian antara kruk 3 dan kruk 10 ialah antara perjalanan kereta api dari A ke sepur II dan dari B ke sepur II tidak menggunakan sentil 14 pada lazimnya, melainkan dengan balans (sentil 63) dan sentil 101 yang dalam kedudukan biasa tidak menjerat poros 3 ki.

Adapun cara kerjanya tidak perlu dijelaskan karena sudah cukup dimengerti.

b. Dinas Malam

1. Apabila hendak menutup ini sebagai stasiun antara, semua sinyal harus berkedudukan “tak aman”. Setelah membuka gembak dan begel kruk 7, kruk ini dibalik ke kedudukan tengah-tengah sehingga poros 7 ki memutar ke kiri dan poros 7 ka terputar ke kanan.Dengan gerakan ini, poros 7 ki tidak mengakibatkan apa-apa sedang porors 7 ka mengunci mistar 24 dan 21 masing-masing untuk perjalanan kereta api dari A dan B ke sepur I dalam kedudukan biasa dengan perantaraan sentil 102 serta mengubah kedudukan kontak-kontak poros yang memmutuskan hubungan ke pesawat telegrap T dan menggerser mistar C ke kanan sehingga poros 8 ki menjadi bebas dapat diputar dan menggeser pelat yang dipasang pada mistar ini. Dengan denikian lubang anak kunci malam HM kini terbuka dan anakmkunci HM dapat dimasukkan ke ibu kuncinya.

2. Apabila anak kunci HM diputar ke kiri, mistar 22 akan tergeser 10 mm ke kiri oleh sentil 19 R yang mengakibatkan bahwa mistar 25 ikut tergeser 20 mm ke kiri pula sehingga suku pengancing sentil 101 pada mistar 25 menjauhi sentilnya. Anak kunci “HM” sekarang tidak dapat di cabut dari ibu kuncinya.

3. Apabila kruk sinyal BII dibalik ke kiri sambil mengancing hendel-hendl wesel sepur lurus, maka mistar 25 tergeser 20 mm ke kanan tanpa mengunci poros 3 ki karena akibat gerakan nomor 2.

Dengan demikian kruk sinyal AII juga dapat dibalik ke kiri dan kedua sinyal A II dan B II dapat ditarik “aman”.

4. Setelah hendel-hendel sinyal A II dan BII berkedudukan “aman” kemudian kruk 7 dibalik terus ke kiri, poros 7 ki mengubah kedudukan kontak poros sehingga kawat T terhubung langsung dan sentil 38 menggeser mistar 19 ke kiri yang mengakibatkan hendel sinyal A II dan B II terkunci dalam kedudukan “aman”.

B

V

c. Mengembalikan ke kedudukan “dinas siang” harus dilakukan dengan urutan sebaliknya.

Contoh 2

Di sinipun, untuk mengubah dinas malam menjadi dinas siang, menggunakan juga kruk tiga kedudukan yang sekaligus memutuskan hubungan pesawat telegrap T dan menyambung langsung kawat T serta membuka lubang anak kunci kunci poros yang disebut “kunci malam”.

Penguncian antar kruk-kruk perjalanan kereta api ke sepur yang sama tetap menggunakan sentil 14.

Pembebasan hendel-hendel sinyal masuk tidak langsung oleh kruk, melainkan dengan perantaraan sentil 101. Konstruksi semacam ini dibuat demikian agar pada perubahan dari dinas siang ke dinas malam cukup dengan membalik satu kruk saja.

Untuk ini memakai mistar penggunaan bersama, mistar 4 dan 5. a. Dinas Siang.

1. Dalam kedudukan biasa ialah dinas siang, kruk tiga kedudukan merebah ke kanan yang dikunci dengan begel dan gembok (gambar V.P.2).

2. Dalam kedudukan ini, kontak-kontak poros pada poros 7 ki dan 7 ka berkedudukan seperti yang terlihat dalam gambar sehingga pesawat T dapat digunakan seperti biasa. Lubang anak kunci malam “HM/X” tertutup oleh pelat besi yang dipasang pada mistar 2.

3. Hubungan antara hendel sinyal masuk dan hendel-hendel sinyal muka, menggunakan rangkaian sentil 49, 50, 51 dan cara kerjanya tidak perlu dijelaskan karena sudah cukup dimengerti.

4. Apabila kruk 2 untuk kereta api dari R ke sepur I dibalik ke kiri, akan menggeser mistar 25 dan mistar 4 ke kiri sambil membebaskan hendel sinyal A I.

mengancing : hendel-hendel wesel yang bersangkutan, kruk dan hendel sinyal B I. (sentil 101 di mistar 4 yang mengancing hendel sinyal A II dibebaskan, tetapi sentil 14 di mistar 25 mengancingnya).

Demikian pula mengenai pembalikan kruk 3 untuk kereta api dari R ke sepur II, kruk 14 untuk kereta api dari S ke sepur II dan keuk 15 untuk kereta api dari S ke sepur I.

B

V

b. Dinas malam

1. Apabila hendak menutup stasiun sebagai stasiun antara, semua sinyal harus berkedudukan “tak aman”. Setelah membuka gembok dan begel kruk 7 ini dibalik ke kedudukan tengan-tengah sehingga poros 7 ki memutar ke kiri dan poros 7 ka terputar ke kanan.

Dalam gerakan ini (gambar V.P.2) poros 7 ka menutup hubungan pesawat telegrap T sedangkan poros 7 ki dengan perantaraan sentil 38 G dan kedua sentil 38 E akan menggeser mistar 11, mistar 9 dan mistar 2 ke kiri sambil,

mempersiapkan : penguncian hendel sinyal A II dan B II dalam kedudukan “aman”.

mengunci : hendel-hendel wesel jurusan sepur lurus, kruk 2 karena kedudukan wesel, hendel sinyal A I, kruk 14 karena kedudukan wesel dan hendel sinyal B I.

membuka : lubang anak kunci “HM/X”.

Sekarang anak kunci “HM/X” dapat dimasukkan ke ibukuncinya.

2. Setelah anak kunci HM/X dimasukkan ke ibu kuncinya dan diputar ke kiri sehingga tidak dapat dicabut kembali, maka poros 8 ki terputar ke kiri dan menggeser mistar 4 dan mistar 5 ke kiri sambil,

membebaskan : kruk I, hendel sinyal masuk A II, hendel sinyal B II, kruk 16

mengunci : kruk 2, kruk 3, kruk 14, kruk 15

Dengan demikian hendel-hendel sinyal masuk A II dan B II dapat dibalik “aman” kemudian hendel-hendel sinyal muka Am dan Bm dapat dibalik “aman” pula.

3. Setelah hendel-hendel sinyal AII, BII Am dan Bm berkedudukan “aman’ dan kruk 7 dibalik terus ke kiri, poros 7 ki menggeser mistar 3 ke kiri sambil mengancing hendel sinyal muka Am dan Bm dalam keadaan “aman” dan merubah kedudukan konatk-kontak poros sehingga kawat T tersambung langsung.

4. Akhirnya, kruk 7 yang berkedudukan “dinas malam’ dikunci dengan begel dan gembok.

c. Mengembalikan ke kedudukan “dinas siang” harus dilakukan dengan sebaliknya.

B

V

Contoh 3.

Pada prinsipnya, susunan sentil-sentil nama dengan contoh 2 (gambar V.P.4). Di sisi hanya ditambah dengan dua buah sinyal keluar masing-masing untuk kedua jurusan dan kruk-kruk khusus untuk kereta api yang harus langsung.

Untuk kereta api yang harus masuk ke sepur lurus, langsung atau sebelum dinas malam, hendel sinyal masuk B II dan A II harus di kancing dalam kedudukan “aman” oleh masing-masing kruk sinyal mukanya. Sebagai penghematan maka mistar 9 dibagi atas tiga bagian (lihat gambar hubungan mistar 9).

Apabila kruk 2 untuk kereta api dari R ke sepur I dibalik ke kiri, akan menggeser mistar 25 dan mistar 4 ke kiri sambil membebaskan hendel sinyal A I dan mengenai hendel-hendel wesel yang bersangkutan dan aret hendel sinyal A II.

(Sentil 101 di mistar 4 yang mengenai hendel sinyal A II dibebaskan, tetapi sentil 14 di mistar 25 mengancingnya kembali dalam kedudukan biasa)

Bagian kiri dapat digerakkan tanap mempengaruhi bagaian lainnya, demikian juga bagian kanan. Tetapi jika bagian tengah digerakkan, seluruh mistar 9 ikut bergerak. Pengucilan antara api datang dan berangkat, memakai mistar penggunaan bersama ialah mistar 10 dengan sentil 14.

a. Dinas Siang

1. Dalam kedudukan biasa, dinas siang, kruk tiga kedudukan merebah ke kanan yang dikunci dengan begel dan gembok. Dalam kedudukan ini, kontak-kontak poros pada 13 ki berkedudukan seperti terlihat dalam gambar sehingga pesawat telegraph T dapat digunakan seperti biasa. Lubang anak kunci kunci malam “HM/Tnk” tertutup oleh pelat besi yang dipasang pada mistar 2.

2. Hubungan antara hendel sinyal muka dan hendel sinyal masuk antara hendel sinyla masuk lengan atas dan hendel sinyal keluar untuk langsung, menggunakan rangkaian sentil 49, 50, 51 dan cara kerjanya tidak perlu dijelaskan karena sudah cuckup dimengerti.

3. Apabila kruk 2 untuk kereta api dari R ke sepur Idibalik ke kiri, poros 2 ki akan menggeser mistar 25, mistar 10 dan mistar 4 ke kiri sambil :

membebaskan : hendel sinyal A I.

B

V

kruk 5 dan kruk 6 (hendel sinyal keluar C dibebaskan dengan kruk 5 dan kruk 6) dengan perantaraan sentil 14 pada poros 7 ka, kruk 23 dan kruk 24 dan hendel sinyal keluar D dengan perantaraan sentil 14 pada poros kanan di sebelah kiri lajur 15, kruk 25, kruk 26 dan hendel sinyal B II karena kedudukan hendel-hendel wesel, kruk 27 dan hendel sinyal B I dan kruk 28.

Demikian pula mengenai pembalikan kruk 4 untuk kereta api dari B ke sepur II, kruk 25 untuk kereta api dari A ke sepur II, kruk 27 untuk kereta api A ke sepur I.

4. Apabila keuk 3 untuk kereta api dari S langsung ke R dibalik ke kiri, poros 3 ki akan menggeser mistar 11, mistar 10 mistar 9, mistar 4, mistar 1 ke kiri yang mengakibatkan :

membebaskan : hendel sinyal D, hendel sinyal A II dan kruk 1 sehingga sinyal D, kemudian sinyal A II dan akhirnya sinyal Am dapat ditarik “aman”.

mengunci : Semua hendel wesel ke jurusan sepur lurus, hendel sinyal A I, kruk 4 dan kruk 6 (hendel sinyal C dibebaskan dengan kruk 5 dan kruk 6) dengan perantaraan sentil 14 pada poros 7 ka, kruk 23 dan kruk 24 dengan perantaraan sentil 14 pada poros kanan di sebelah kiri lajur 15, kruk 25 dengan sentil 14 pada poros 25 ki, kruk 26 dengan sentil 14 pada poros sinyal B II, hendel sinyan B I, kruk 28.

Demikian pula mengenai pembalikan keuk 26 untuk kereta api dari S langsung ke R.

5. Apabila kruk 5 untuk kereta api berangkat ke R dari sepur I dibalik ke kiri poros 5 ki menggeser mistar 22 dan mistar 6 ke kiri yang mengakibatkan :

Membebaskan : hendel sinyal C

Mengunci : semua hendel wesel yang bersangkutan dan kruk 1, kruk 2, hendel sinyal A I, kruk 3, kruk 4, hendel sinyal A II, kruk 25, hendel sinyal B II, kruk 26, kruk 27, hendel sinyal B I, kruk 28 dengan sentil 14 pada poros 7 ka.

B

V

kereta api ke S dari sepur II, kruk 24 untuk kereta api ke S dari sepur I.

b. Dinas malam.

1. Apabila setasiun hendak ditutup sebagai stasiun antara, semua sinyal harus berkedudukan “tak aman”. Setelah membuka gembok dan begel kruk 13, kruk ini dibalik ke kedudukan tengah-tengah sehingga poros 13 ki memutar ke kiri dan poros 13 ka terputar ke kanan. Dalam gerakan ini, poros 13 ka memutus hubungan pesawat telegrap T sedangkan poros 13 ki dengan perantaraan sentil 38 G dan kedua sentil 38 E akan menggeser mistar 11, mistar 3 dan mistar 2 ke kiri yang mengakibatkan :

mempersiapkan : penguncian hendel sinyal keluar D dan C, hendel sinyal masuk B II dan A II dalam kedudukan “aman”,

mengunci : semua hendel wesel untuk jurusan sepur lurus, kruk 2 karena kedudukan wesel, hendel sinyal A I dengan sentiul 14, kruk 3 dengan sentil 14, kruk 4 dengan sentil 14, kruk 5 dengan karena kedudukan wesel, kruk 6 dengan sentil 14, kruk 23 dengan sentil 14, kruk 24 karena kedudukan wesel, kruk 25 dengan sentil 14, kruk 26 dengan sentil 14 kruk 27 karena kedudukan wesel, membukan lubang anak kunci HM/X. 2. Setelah anak kunci HM/X dimasukkan ke ibu kuncinya dan

diputar ke kirisehingga poros 14 ki terputar ke kiri dan dengan perantaraan kedua sentil 17e akan menggeser mistar 4 dan mistar 5 ke kiri mengakibatkan :

Membebaskan : kruk 1 dengan sentil 101, hendel sinyal C dengan sentil 101, hendel sinyal D dengan sentil 101 hendel sinyal B II dengan sentil 101, kruk 28 dengan sentil 101.

Dengan demikian kedua sinyal berangkat C dan D dapat ditarik “aman”, kemudian kedua sinyal masuk AII dan B II dapat ditarik “aman”sambil mengunci hendel sinyal D dan C dalam kedudukan “aman” dan akhirnya kedua sinyal muka Am dan Bm dapat ditarik “aman” juga sambil mengunci hendel sinyal A II dan B II dalam kedudukan “aman”.

3. Setelah sinyal-sinyal C, D, B II, A II, Bm, Am diatrik “aman” dan kruk 13 dibalik terus ke kiri, poros 13 ki dengan perantaraan sentil 38 akan menggeser mistar 3 ke kiri dan

B

V

“aman” dan mengubah kedudukan kontak poros sehingga kawat T tersambung langsung.

4. Akhirnya, kruk 13 yang berkedudukan “dinas malam” dikunci dengan begel dan gembok.

c. Mengembalikan ke kedudukan “dinas malam” harus dilakukan dengan urutan sebaliknya.

Contoh 4.

Contoh ini, sama dengan contoh 3 hanya di sini semua kontak ditempatkan pada poros kruk “dinas malam” dengan maksud agar kontak-kontak tetap bekerja dengan baik walaupun ada speling antara sentil 37 A dan 37.

Dalam dokumen [ kata pengantar ] [ kata pengantar ] (Halaman 154-161)