• Tidak ada hasil yang ditemukan

5.B.1 Cara Kerja Hendel Wesel

Dalam dokumen [ kata pengantar ] [ kata pengantar ] (Halaman 111-114)

Menurut gambar V.B.1 dan V.B.2 roda hendel berputar pada poros 1 dalam rumah hendel yang dibuat dari besi tuang. Rumah hendel ini

B

V

yang dilengkapi dengan semat pengantar, dipasang pada perkakas hendel dengan dua buah baut.

Batang hendel dittambatkan pada dua besi gepeng 2 yang mengapit roda hendelnya. Pada batang hendel ini dipasang hendel aret 3 yang berputar pada porosnya. Hendel aret dapat menggerakkan penggeser 4 dalam cowakannya a dengan perantaraan pegas spiral 5 (gambar V.B.2). Pada penggeser ini dipasang pasak gerak 6. pada hendel berkedudukan akhir, kedua ujung pasak gerak ini masuk ke cowakan b pada rumah hendel. Dua buah pegas spiral 7 selalu menarik kedua pegas gerak, sehingga ujung hendel aret memegas menjauhi batang hendelnya.

Pada kedua sisi roda hendel ada galur g sepanjang kurang lebil separuh keliling. Kedua galur ini berkedudukan diametral. Pada tiap galur terdapat cowakan C yang berhadapan dengan sentil s1 pada pasak gerak 6.

1. Apabila hendel aret ke arah batang hendel, pasak gerak 6 bergerak dengan perantaraan pegas 5 dan penggeser 4 sehingga sentil s1 masuk ke cowakan c pada galur g. dengan demikian terdapatlah hubungan mati antara batang hendel dan roda hendel. Kedudukan ini terjadi sewaktu pembalikan hendel, karena hendel aret harus dirapatkan pada batang hendel agar ujung pasak gerak 6 keluar dari cowakan b pada rumah hendel. Sudah barang tentu dalam kedudukan ini hendel tidak bisa dilanggar.

2. Pada sisi dalam kedua besi gepeng 2 dipasang tuas langgar 8 yang dapat berputar pada porosnya. Ujung tuas yang melengkung menekan pada ujung galur g, karena tegangan pegas spiral 9 yang ujung satunya dikaitkan pada ujung tuas yang panjang, sedangkan ujung lainnya pada pelat hendel. Gerakan tuas ini dibatasi oleh semat pembatas yang dipasang disebelah dalam pada kedua besi gepeng batang hendel. Apabila keseimbangan tegangan antara kedua kawat tarik terganggu, seperti halnya pada pelanggaranwesel, maka salah satu tuas akan terangkat karena terputarnya roda hendel. Pada gerakan roda hendel berikutnya, ujung tuan yang melengkung menggeser pada dinding dalam galur g. penempatan tuas ini disesuaikan dengan kedudukan galur, sehingga tiap tuas bekerja pada salah satu arah putaran roda hendel. Sewaktu hendel dilanggar, galur g bergerak disamping sentil s1 dan s2. ujung pegas 0 yang dikaitkan pada tuas 8, mempunyai ujung panjang dan kait pendek agar sentil s3 tidak menyangkut pada pegas ini sewaktu wesel dilanggar.

3. Pada roda hendel sebelah luar, ada dua buah cowakan d. cowakan yang kanan untuk mengunci hendel dalam kedudukan biada

B

V

menggunakan semat kunci yang digerakkan ke bawah oleh sentil di dalam lemari mistar. Perlu diperhatikan bahwa sebetulnya yang mengunci hendel itu bukan semat kuncinya, melainkan batang hendel dikunci oleh pasak gerak yang masuk ke cowakannya pada rumah hendel. Jadi, semat kunci hanya menghalangi gerakan pasak gerak 6 ini. (lihat juga gambar V.B.4). Cara Kerjanya sebagai berikut:

Apabila hendel aret ditekan, pasak gerak 6 bergerak dan membawa sentil s3 berbentuk martil yang ada di antara sentil s1 dan s2, sehingga kedua balans pengangkat semat kunci yang porosnya ada pada roda hendel yang dihubungkan dengan sentil s3 turut bergerak. Pada ujung kedua balans ini dipasang sekitar yang dapat bergerak di dalam pengantarnya pada roda hendel. Jika hendel aret ditekan sepenuhnya, maka kepala kedua sekitar ini bergerak sampai setinggi pinggiran roda hendel.

Selama di dalam cowakan d ada semat kunci yang menghalangi naiknya ujung sekitar maka pasak gerak tidak dapat digerakkan yang berarti hendel terkunci.

1. Apabila hendel dalam kedudukan terkunci dan hendel aret ditekan sekuat tenaga, maka untuk mencegah agar gaya sekuat ini dapat diteruskan ke suku-suku bagian di dalam lemari mistar melalui semat kunci, perlu dipasang spiral 5 untuk memperlunak kejutan gaya. Agar pegas ini tidak merupakan pegas tekan pada pelepasan hendel aret, di dalam pegas dipasang batang 10 yang ujung satunya ditambatkan pada penggeser 4 dan ujung lainnya menekan pada semat di hendel aret.

2. Apabila wesel yang bersangkutan dilanggar, roda hendel memutar dan sentil s3 yang berbentuk martil meninggalkan tempatnya, ialah diantara sentil s1 dan s2. dengan demikian sentil s3 bebas dan dan dapat bergerak bebas kea rah pinggir roda, sejauh sampai lehernya yang lebar mentok pada suku penghantarnya.

Sewaktu roda hendel dikembalikan kedudukannya, sentil ini harus dapat kembali ke tempat semula. Untuk memenuhi syarat ini, maka bentuk sentil ini dibuat seperti martil dan sisi sentil s1 dan s2 dibuat serongan agar mudah menyesuaikan kembali. Pada pelanggaran wesel dapat diketahui pada roda hendelnya, karena tanda merah di roda hendel yang pada kedudukan biasa ada diantara kedua besi gepeng, kini menggesr keluar.

3. Untuk mengembalikan kedudukan roda hendel, menggunakan tuas pengumpil hendel (gambar V.B.3). Tuas ini ditempatkan pada roda hendel dengan sematnya 11 masuk ke cowakan e dan kepalanya k di belakang galur. Cowakan e terdapat pada kedua sisi roda hendel. Mengenai penempatannya tuas pengumpil, baik

B

V

di kiri ataupun di kanan tergantung pada kedudukan roda hendel setelah wesel dilanggar.

Dengan menggunakan tuas pengumpil ini, dapat juga mengubah kedudukan wesel walaupun hendelnya terkunci. Untuk mencegah penyalahgunaan dan mengontrol pelanggaran, maka roda hendel dan batang hendel diikat dengan kawat yang diplombir. Sudah barang tentu kawat plombir akan putus jika wesel yang bersangkutan dilanggar.

4. Semat kunci hendel wesel, berpenampang persegi. Kedua semat ini masing-masing dibengkokkan sebesar 5 mm. segingga jarak antara semat kunci menjadi 55 mm. pada kedua sisi dalam, diadakan cowakan (akan dijelaskan dalam halaman semat kunci hendel)

Apabila semat kunci berkedudukan mengunci, cowakan ini berkedudukan cocok dengan galur luar pada roda hendel. Jika roda hendel memutar karena pelanggaran wesel, galur ini dapat melalui cowakan yang dimaksud. Pada waktu mengunci hendel, ada kemungkinan masuknya semat kunci ke dalam cowakan roda hendel, tidak selalu tepat.

Sehubungan dengan itu, maka sebelah bawah ujung galur pada roda hendel di tempat cowakan semat kunci diserongkan. Demikian pula sisi bawah cowakan semat kuncinya.

Agar kunci semat dapat bergerak tepat lurus, terdapatlah suku penghantar h pada rumah hendel.

Pada tiap hendel wesel dipasang dua buah pelat petunjuk 12 dan 13 yang ditulisi nomor wesel dengan cat hitam diatas dasar putih sehingga dalam kedua kedudukan, nomor wesel tersebut terlihat.

Dalam dokumen [ kata pengantar ] [ kata pengantar ] (Halaman 111-114)