• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ketentuan-ketentuan IHR di atas bisa berguna untuk Parlemen dalam menunjukan kekeliruan-kekeliruan yang terjadi pada masa pra-COVID-19 sampai saat ini. Dengan kelangkaan-kelangkaan alat kesehatan yang terjadi di dalam negeri, Parlemen dapat mengevaluasi kinerja eksekutif dan peraturan perundang-undangan terkait. Untuk inovasi kebijakan, ide yang ditawarkan oleh Profesor dari University of Minnesota, Michael T. Osterholm dapat menjadi bahan kajian

6 John Hopkins, “Global Health Security Index” lihat: https://www.ghsindex.org/

wp-content/uploads/2019/10/2019-Global-Health-Security-Index.pdf

7 https://coronavirus.jhu.edu/map.html

8 WHO, “International Health Regulations (2005)”, https://www.who.int/ihr/

publications/9789241580496/en/

100

RANGGA A. AKHLI

legislasi yang penting untuk dibahas. Idenya adalah, negara perlu membuat strategi perencanaan kesehatan layaknya investasi di bidang militer. Maksudnya, model pengadaan alutsista militer tidak pernah ditangguhkan hanya karena tidak ada perang dan terus dilakukan dengan konsisten untuk menunjukan kesiapsiagaan. Model seperti ini harus pula diadopsi dalam perencanaan kesehatan publik di mana negara tidak perlu menunggu sampai muncul suatu wabah lalu memproduksi dan mencari perlengkapan kesehatan secara reaktif, melainkan menyiapkan ketersediaan alat kesehatan dengan konsisten yang berguna pada saat wabah muncul.9 Misalnya, untuk wabah yang menular dengan cara respiratory transmission (menular melalui saluran pernafasan) seperti SARS ataupun COVID-19, maka ketersediaan masker dan alat pelindung diri secara nasional harus siap sedia.

Sisi lain yang perlu mendapat perhatian diplomasi Parlemen adalah membahas secara detail posisi WHO di masa COVID-19. Berbeda dengan kasus pemberantasan smallpox yang ketika itu WHO dengan mengesankan dapat mengatasi penyebarannya dan dibantu oleh dukungan negara-negara, terkhusus kebersediaan Amerika Serikat dan Uni Soviet untuk mendepolitisasi isu kesehatan, kasus COVID-19 tidak memunculkan sinergi seperti itu.10 Selama tujuh bulan terakhir, politisasi pandemi COVID-19 justru dipertontonkan oleh banyak aktor, tanpa terkecuali WHO, Amerika Serikat dan juga Tiongkok.

Publik perlu mengingat kembali bahwa di awal Januari, pada saat virus telah mulai mendapat perhatian luas, muncul pernyataan dari Tiongkok yang mengatakan bila COVID-19 tidak menyebar dari manusia ke manusia. Kemudian, informasi ini disebar oleh WHO. Tak lama berselang, virusnya telah sampai di berbagai negara seperti Italia, Korea Selatan, Jepang, Taiwan, Singapura, Thailand dan Perancis. Di fase menentukan ini, sebagaimana akhirnya diakui oleh WHO setelah terkesan membentengi kritik-kritik terhadap Tiongkok, pembagian informasi-informasi yang relevan dari pemerintah Tiongkok pada WHO tidak terjadi. Mestinya, bila mematuhi IHR, akses informasi itu tidak boleh ditutup-tutupi, bahkan upaya untuk memperlambat pun tidak dibenarkan agar respon yang tanggap dapat dilakukan terutama di berbagai point of entry seperti bandara dan pelabuhan.

Selain tidak memiliki kemampuan untuk mendesak Tiongkok untuk

9 Osterholm dan Olshaker, “Chronicle of A Pandemic Foretold: Learning From the COVID-19 Failure-Before the Next Outbreak Arrives.” Foreign Affairs, July-August 2020 Volume 99 No.44 hal. 10-24

10 Adam Kamradt-Scott, “Managing Global Health Security: the WHO and Disease Outbreak Control” (New York, Palgrave: 2015) hal. 54-65

101

ESAI PEMENANG KATEGORI UMUM

mematuhi ketentuan-ketentuan IHR, WHO sendiri mempertontonkan suatu anomali. Hal ini terjadi saat WHO gagal mencapai kata sepakat untuk menetapkan status PHEIC di tanggal 22 Januari meski pada akhirnya berhasil disepakati pada rapat internal berikutnya di tanggal 30 Januari.

Kegagalan di atas dilatarbelakangi oleh semakin membesarnya pengaruh Tiongkok pada WHO. Tiongkok bukanlah penyumbang dana terbesar, tetapi pengaruhnya berangsur meningkat. Sejak 2014, kontribusinya meningkat sebanyak 52% menyentuh angka 86 juta dollar.

Bagi Xi Jinping, upaya ini ditujukan untuk menunjukan status Tiongkok sebagai pemain besar dalam isu kesehatan yang diselaraskan melalui Health Silk Road. Artinya, bagi Tiongkok, WHO dapat dimanfaatkan untuk memperbesar pengaruh geo-politiknya.11

Bagi WHO, peningkatan pendanaan itu sangat penting di tengah jumlah donasi negara anggota yang minim. Bayangkan saja, WHO dimandatkan untuk meningkatkan kesehatan dunia, tetapi anggaran tahunannya hanya berkisar di angka 5.6 miliar dollar. Bila dibandingkan dengan Australia yang anggaran kesehatannya sekitar 120 miliar dollar maka angka itu sangat timpang. Masalahnya, anggaran minim sangat potensial untuk mengganggu independensi WHO saat berhadapan dengan pendonor-pendonor besar.12 Dengan Tiongkok, misalnya, Selain pada COVID-19, sorot misalnya mengenai pemberhentian Taiwan di dalam WHA (World Health Assembly) dan keterpilihan Dr. Tedros, Sekjen WHO saat ini, yang tidak terlepas dari lobi yang dilakukan pihak Tiongkok.

Di sisi lainnya, Amerika Serikat bereaksi dengan sama buruknya.

Di bulan April lalu, Trump bereaksi keras untuk menahan pendanaan Amerika Serikat pada WHO yang dituding telah dalam kontrol Tiongkok.

Kemudian level diplomasi koersifnya ditingkatkan lagi di mana pemerintahan AS telah memutuskan untuk melepaskan keanggotaannya dari WHO dengan ditandai oleh pengiriman notifikasi resmi pada kongres di bulan Juli. Bila tidak ada perubahan, maka AS akan resmi keluar dari WHO per 6 Juli 2021 sesuai dengan peraturan kongres yang ada. Dengan penarikan diri ini, WHO dapat kehilangan 15% dari total anggarannya atau sekitar 400 juta dollar. Artinya, selain harus responsif menghadapi COVID-19, dunia akan menghadapi persoalan lain di mana program-program kesehatan yang selama ini dijalankan oleh WHO akan

11 China’s National Health and Family Planning Commission, “Toward A Health Silk Road” http://en.nhc.gov.cn/Beltandroadforumforhealthcooperation.html

12 Shahar Hameiri, “COVID-19: Why did global health governance fail?” https://

www.lowyinstitute.org/the-interpreter/covid-19-why-did-global-health-governance-fail

102

RANGGA A. AKHLI

terganggu bila hal seperti ini didiamkan. Bila WHO pada akhirnya akan semakin tak berguna, maka pertanyaannya yang harus dijawab adalah akan seperti apa upaya koordinasi internasional dalam menghadapi isu kesehatan dan pandemi berikutnya.

Meski saat ini dunia berada di fase pengembangan vaksin seperti yang sedang dikerjakan oleh Sinovac Ltd dan Bio Farma ataupun institusi-institusi lainnya, catatan-catatan di atas penting untuk dibahas dalam agenda-agenda diplomasi Parlemen di semester kedua 2020. Tiga persoalan internasional: kepatuhan pada rezim kesehatan, pemisahan isu kesehatan dari isu geopolitik akibat rivalitas AS-China, serta penentuan nasib WHO sebagaimana disampaikan di atas adalah fokus yang harus dicarikan solusinya. Untuk menjawab itu, Parlemen harus membangun commonality of interest yang secara konsisten menyuarakan pentingnya penguatan rezim kesehatan, depolitisasi institusi kesehatan internasional, dan menggeser ambisi geopolitik lewat isu COVID-19 kembali ke arah isu kemanusiaan dan kesehatan bersama sebagai langkah jangka panjang dalam mengelola tata kesehatan dan menyiapkan ketahanan global dalam menghadapi pandemi berikutnya.

103

ESAI PEMENANG KATEGORI UMUM

DAFTAR REFERENSI

Buku

Adam Kamradt-Scott, “Managing Global Health Security: the WHO and Disease Outbreak Control” (New York, Palgrave: 2015).

Ilona Kickbush et al., Global Health Diplomacy: Concepts, Issues, Actors, Instruments, Fora and Cases (New York: Springer, 2013).

Stephen D. Krasner, “Structural Causes and Regime Consequences: Regimes as Intervening Variables.” International Organization 36, no. 2 (1982).

Jurnal

Osterholm dan Olshaker, “Chronicle of A Pandemic Foretold: Learning From the COVID-19 Failure-Before the Next Outbreak Arrives.” Foreign Affairs, July-August 2020 Volume 99 No.44.

Internet

CFR, “Major Epidemics of The Modern Era”, https://www.cfr.org/

China’s National Health and Family Planning Commission, “Toward A Health Silk Road” http://en.nhc.gov.cn/

https://coronavirus.jhu.edu/map.html John Hopkins, “Global Health Security Index”

lihat: https://www.ghsindex.org/wp-content/uploads/2019/10/2019-Global Health-Security-Index.pdf

Shahar Hameiri, “COVID-19: Why did global health governance fail?” https://www.

lowyinstitute.org/the-interpreter/covid-19-why-did-global health-governance-fail

WHO, “International Health Regulations (2005)”, https://www.who.int/ihr/

publications/9789241580496/en/

104

ZULFIKAR DILAHWANGSA

ZULFIKAR DILAHWANGSA

Diplomasi Parlemen Dalam