Secara konsep, multilateralisme adalah suatu paham yang direalisasikan dalam bentuk upaya kolektif negara-negara (terkadang juga melibatkan non-state) dalam upaya membentuk kestabilan dalam suatu isu (Zartman & Touval, 2010:40). Dalam konteks dinamika internasional melawan pandemi COVID-19, diplomasi inilah yang selalu diupayakan oleh BKSAP. Salah satu bentuk nyata BKSAP dalam upaya menghidupkan kembali multilateralisme dalam menghadapi pandemi ini adalah dengan mendukung kolaborasi Uni Eropa-ASEAN untuk memproduksi vaksin COVID-19 merata bagi semua negara melalui skema produksi bersama dan berbagi biaya. Kolaborasi ini penting untuk penanganan wabah COVID-19 serta meminimalisir dampak sosial-ekonomi yang ditimbulkan (BKSAP, 2020). Berdasarkan hal tersebut, BKSAP sebagai representasi parlemen Indonesia di tingkat internasional menjadi gerbang utama dan berperan sebagai key-leader dalam mengaktualisasi multilateralisme secara aktif sebagai bentuk solidaritas global menghadapi krisis COVID-19. Setidaknya terdapat 3 (tiga) peran utama BKSAP yang dapat dan harus lebih dioptimalkan kedepannya yaitu:
1. BKSAP sebagai penggagas kebijakan (policy initiator)
Dalam konteks pandemi COVID-19, fenomena bencana ini mampu mendorong aktivitas yang saling terkait, yang jika dimanfaatkan secara efektif dapat memberikan sumbangan berharga bagi penanganan masalah. Ini dilakukan melalui sinergi sumber-sumber daya untuk mencapai tujuan yang sama di negara-negara yang berbeda. Dalam tataran forum regional dan internasional BKSAP telah berperan aktif untuk memperjuangkan kepentingan nasional di level global
(pro-30
ELISABETH F SILALAHI
active diplomacy) melalui forum-forum multilateral seperti Inter-Parliamentary Union (IPU), Asian Inter-Parliamentary Assembly (APA), Asia Pacific Parliamentary Forum (APPF), hingga ASEAN Inter-Parliamentary Assembly (AIPA). Selain itu dalam hubungan bilateral, pada awal periode 2014-2019, BKSAP juga membentuk 49 Grup Kerja Sama Bilateral (GKSB) dengan negara-negara sahabat.
Untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan kemampuan tanggap darurat secara global, BKSAP harus bertindak sebagai pemrakarsa kebijakan-kebijakan internasional melalui forum-forum dan jaringan kerja sama baik di tingkat bilateral, regional, dan juga internasional tersebut. Hal ini dapat dilakukan salah satu contohnya adalah dengan mengevaluasi efektivitas dari International Health Regulations (IHR) dan praktik di lapangan sebagai pedoman utama seluruh negara dalam menghadapi pandemi ini serta dengan membangun sinergi dengan WHO guna meningkatkan peran instrumen multilateral dalam menghadapi krisis saat ini dan meningkatkan kesiapsiagaan di masa yang akan datang.
Selain itu, BKSAP dapat menginisiasi perumusan kebijakan krusial yang dibutuhkan saat ini seperti terkait penelitian dan pengembangan vaksin, ketersediaan alat tes dan laboratorium, serta keberlangsungan rantai pasokan kebutuhan global. Melalui upaya tersebut BKSAP juga telah mendorong komitmen para pemangku kepentingan dan negara-negara sahabat dalam pencapaian tujuan SDG dengan semangat “no one left behind.”
2. BKSAP sebagai pengawas pemerintah (Government Overseer/
Watchdog)
Salah satu kunci keberhasilan negara demokrasi adalah perwujudan good government governance (tata kelola pemerintahan yang baik), yang mensyaratkan adanya akuntabilitas dan transparansi dalam setiap penentuan kebijakan publik. Tidak terkecuali bagi kebijakan yang menjadi respon terhadap wabah pandemi COVID-19 saat ini. Seperti diketahui, pada masa krisis seperti sekarang, pemerintah mengalihkan dan memfokuskan seluruh dana publik untuk didistribusikan ke sektor-sektor terdampak, terutama kesehatan, bisnis dan ekonomi, serta keamanan sosial. Hal ini berpotensi menciptakan peluang kesalahan alokasi bahkan membuka potensi penyalahgunaan dan korupsi (BKSAP, 2020). Dalam hal ini, parlemen memainkan peran penting untuk memastikan tidak terdapat kesalahan dalam kebijakan dan dana yang dikeluarkan negara selama masa krisis. Hal ini juga
31
PEMENANG ESAI KATEGORI MUDA
merupakan bagian dari pelaksanaan mekanisme check and balances antarlembaga negara dalam kerangka demokrasi.
BKSAP dapat memaksimalkan peran parlemen baik di tingkat nasional dan internasional. Dalam tingkat nasional, BKSAP dapat mendorong parlemen untuk membangun kerja sama yang progresif dengan pihak-pihak terkait manajemen keuangan negara, seperti Menteri Keuangan, Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan sebagainya untuk memantau dengan cermat situasi keuangan serta mengantisipasi ketidakpastian pasar di masa depan. Kemudian, parlemen dapat mengintensifkan pengawasan terhadap kebijakan-kebijakan yang dilakukan oleh lembaga-lembaga pemerintah baik di tingkat pusat maupun daerah yang berkaitan dengan penanggulangan COVID-19.
Adapun pada tingkat internasional, BKSAP selaku representasi Indonesia yang telah tergabung dalam komunitas multilateral yakni Open Government Partnership (OGP) yang beranggotakan 78 negara, dapat mendorong dan menjadi penggerak bagi keterbukaan parlemen di level global. Hal ini penting untuk dilakukan agar terbentuk suatu komitmen global yang konkret dari pemerintah negara-negara yang tergabung untuk mempromosikan transparansi serta akuntabilitas dalam penanganan pandemi ini. Dengan kerja sama ini maka negara-negara dapat saling berbagi beragam mekanisme, informasi, maupun pilihan kebijakan yang relevan mengenai praktik cerdas (best practices) untuk menangani pandemi.
3. BKSAP sebagai pelopor kesadaran publik (public-awareness pioneer)
Peran BKSAP dalam hal visibilitas dan partisipasi publik selama ini cenderung masih kurang terbuka. Padahal sejatinya, dalam konteks upaya parlemen mengaktualisasi multilateralisme guna mempercepat pengendalian dan pemulihan dunia dari COVID-19, isu internasional merupakan jembatan penghubung dan penguat perspektif parlemen dalam isu-isu domestik. BKSAP dalam membawa agenda internasional, seyogianya perlu lebih mendengar aspirasi masyarakat luas terutama dari kalangan yang paling terdampak langsung dari pandemi.
BKSAP perlu menggiatkan platform baik di tingkat nasional maupun daerah dalam hal penanganan COVID-19, baik dengan pemangku kepentingan, sektor swasta, filantropi, kalangan akademik, tokoh masyarakat, serta perwakilan dari berbagai kalangan dalam suatu mekanisme kemitraan yang strategis. Pendekatan akar rumput ini sangat
32
ELISABETH F SILALAHI
penting karena masing-masing pemangku kepentingan memiliki peranan dan kontribusi setara terhadap tercapainya kesuksesan negara dalam menghentikan laju penyebaran virus. Kerja sama yang dibangun dapat menjadi resources pool untuk riset, kajian, pertukaran informasi, hingga advokasi. Sehingga BKSAP dapat mendengar berbagai aspirasi publik yang dapat diperjuangkan pada tingkat internasional. Sebaliknya, ini juga dapat menjadi bagian upaya parlemen untuk mendorong masyarakat agar lebih waspada terhadap berbagai bentuk disinformasi terkait COVID-19 yang saat ini marak beredar. Perwujudan multilateralisme sebagai elemen kunci dari demokrasi ini akan mampu membangun partisipasi inklusif yang bermanfaat untuk semua elemen.