Tingginya ketergantungan antarnegara dalam kancah global dalam penanganan Covid-19 membuat posisi diplomasi memainkan peran yang penting dalam rangka mencapai kepentingan nasional dalam suatu negara dan lebih luas lagi adalah sebagai wadah untuk menghimpun berbagai masukan dan solusi dalam mengatasi berbagai isu internasional yang membutuhkan pemecahan bersama-sama seperti pada kasus pandem Covid-19 saat ini. Semakin kompleksnya isu-isu yang dihadapi dunia, maka parlemen menjadi aktor diplomasi yang menyuarakan aspirasi rakyat. Sebagaimana fungsi DPR RI yakni fungsi pengawasan, penganggaran dan legislasi, DPR RI dapat memberikan rekomendasi pada pemerintah untuk fokus dalam mengarahkan sebuah program dan kegiatan dalam penanganan Covid-19.7
DPR RI memiliki fungsi diplomasi untuk mendukung upaya pemerintah dalam menjalankan Politik Luar Negeri sesuai dengan
7 “Akhiri Reses, DPR Fokus Penanganan dan Dampak Covid-19”, diakses dari http://
www.dpr.go.id/berita/detail/id/28213/t/Akhiri+Reses%2C+DPR+Fokus+Penanganan+dan+
Dampak+Covid-19
118
ANNIZA CAHYA KUSUMA
amanat Pasal 5 Ayat 2 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri. Dalam praktiknya fungsi diplomasi DPR RI dijalankan oleh Alat Kelengkapan Dewan yaitu Badan Kerjasama Antar Parlemen (BKSAP) yang berfungsi untuk membina, mengembangkan, dan meningkatkan hubungan persahabatan dan kerja sama antara DPR RI dan parlemen negara lain.
Parlemen DPR RI diharapkan mampu mengakomodasi kepentingan dalam negeri di kancah internasional. Peran DPR RI untuk turut mewujudkan GGHG dapat diwujudkan melalui beberapa cara berdasar prinsip dasar dari good governance. Terkait hal itu, United Nation Development Program (UNDP) merumuskan prinsip good governance yang harus memperhatikan (1) partisipasi; (2) kepastian hukum; (3) transparansi; (4) tanggungjawab; (5) berorientasi konsensus;
(6) berkeadilan.
Penjabaran dari hal tersebut pada peran diplomasi parlemen adalah memberikan masukan di kancah internasional, berangkat dari suara rakyat yang telah diakomodasi. Partisipasi parlemen itu dapat dilakukan melalui daring yang perlu terus disosilisasikan kepada masyarakat luas melalui open parliament yang memudahkan masyarakat menyampaikan aspirasinya. Upaya ini dilakukan untuk mendukung aksi lintas parlement untuk menjawab tantangan global dan tentunya harus diperkuat melalui regulasi sebagai instrumen penting yang digunakan untuk melindungi semua orang dari bahaya kesehatan.8
DPR RI harus berani memberikan masukan dan arahan kebijakan internasional dalam rangka penanganan Covid-19 sehingga kebijakan yang diambil tidak asimetris. Keberanian mengemukakan pendapat dan memberikan arah kebijakan yang berkeadilan menjadi kunci terwujudnya GGHG yang selama ini dikritik karena adanya lack of leadership dan tekanan-tekanan dari negara dengan pendanaan besar di WHO. Selain itu DPR RI harus menekankan kembali pada WHO terkait pola epidemiologi penyebaran Covid-19 masing-masing negara dengan melakukan pemantauan sehingga membentuk suatu kebijakan yang berdasar pada identifikasi kondisi masing-masing negara.
Selain itu parlemen perlu terus mendukung penelitian dalam rangka penemuan obat atau vaksin corona serta mendorong transparansi data dan keuangan di WHO terkait progress dan hasil penelitian serta keluar- masuknya pendanaan dalam penanganan
8 “Health Promotion : Good Governance”, WHO, 2020, diakses dari https://www.
who.int/healthpromotion/conferences/9gchp/good-governance/en/
119
ESAI PEMENANG KATEGORI UMUM
Covid-19. Terakhir, DPR RI dapat mendorong negara-negara dunia untuk menggalang solidaritas internasional melalui kegiatan-kegiatan sharing session, campaign, solidarity actions melalui digital platform, serta memberikan seruan kepada WHO untuk melakukan optimalisasi akses bantuan penanganan Covid-19 bagi kalangan rentan yaitu korban perang, pengungsi dan negara miskin.
PENUTUP
Melalui wadah Inter-Parliamentary Union (IPU) hubungan diplomasi antarlembaga legislatif sangat diperlukan untuk terwujudnya GGHG dalam penanganan pandemi Covid-19. Dibutuhkan strategi yang komprehensif guna mewujudkan GGHG khususnya dalam rangka mengendalikan laju Covid-19 dengan memperhatikan aspek kesehatan, sosial, ekonomi suatu negara.
Fungsi diplomasi DPR RI dalam praktiknya dijalankan oleh Alat Kelengkapan Dewan yaitu Badan Kerjasama Antar Parlemen (BKSAP). Partisipasi DPR RI dapat dilakukan dengan memberikan arah kebijakan berkaitan dengan penanganan Covid-19 dan memperhatikan prinsip good governance yang berfokus terhadap sinergi antarbangsa.
Sinergi diperlukan dalam penanganan Covid-19 untuk menghasilkan arah kebijakan yang tentunya dilengkapi dengan tata cara pelaksanaan sehingga tidak ada keselahpahaman dalam menyelesaikan pandemi ini. 9
Sinergi antar bangsa menunjukkan adanya koordinasi yang berorientasi pada konsensus dan pada akhirnya menghasilkan sebuah kebijakan yang memaksa (coercive power) oleh karena semakin banyak yang terlibat dalam proses pengambilan keputusan secara partisipasi, maka akan semakin banyak aspirasi dan kebutuhan masyarakat yang terwakili.10
9 “Review Kebijakan Penanganan Covid-19”, diakses dari https://today.line.me/id/
pc/article/Review+Kebijakan+Penanganan+COVID+19-eYrExD
10 “Berorientasi pada Konsensus (Consensus”), diakses dari https://baliactivities.
co.id/berorientasi-pada-konsensus-consensus/
120
ANNIZA CAHYA KUSUMA
DAFTAR PUSTAKA
“Ada Krisis Global Health Governance dalam Situasi Pandemi Covid-19”, diakses dari http://kagama.co/ada-krisis-global-health-governance- dalam-situasi-pandemi-covid-19/2
“Akhiri Reses, DPR Fokus Penanganan dan Dampak Covid-19, diakses dari http://www.dpr.go.id/berita/detail/id/28213/t/Akhiri+Reses%2C+DPR+
Fokus+Penanganan+dan+Dampak+Covid-19
“Berorientasi pada Konsensus (Consensus”), diakses dari https://baliactivities.
co.id/berorientasi-pada-konsensus-consensus/
Gostin, Lawrence O. and Emily A.Mok. Grand Challenges in Global Health Governance. The O’Neill Institute for National and Global Health Law,Georgetown University Center, Washington. British Medical Bulletin. DOI : 10.1093/bmb/ldp014. hal.10
“Kontroversi Respons WHO Atas Pandemi Corona yang Dinilai Terlambat”, diakses dari https://news.detik.com/internasional/d-4987825/kontroversi- respons-who-atas-pandemi-corona-yang-dinilai-terlambat
“Review Kebijakan Penanganan Covid-19”, diakses dari https://today.line.me/id/
pc/article/Review+Kebijakan+Penanganan+COVI D+19-eYrExD
Suri,Shoba,“Covid19 and Implications on Global Health Governance”, diakses dari https://www.orfonline.org/expert-speak/covid19-and-implications-on- global-health-governance-66174/
WHO, “Health Promotion: Good Governancece”, diakses dari https://www.who.int/
healthpromotion/conferences/9gchp/good- governance/en/
“WHO Dikritik, Bagaimana Kinerjanya Menangani Pandemi-Pandemi Sebelum Covid-19”, diakses dari https://www.asumsi.co/post/who-dikritik- bagaimana-kinerjanya-menangani-pandemi-pandemi-sebelum-covid-19
Widhiyoga, Ganjar. Peran Indonesia dalam Membangun Global Health Governance yang Berkeadilan. Forum Kajian Kebijakan Luar Negeri (FKKLN) Kementerian Luar Negeri.
Solo, 21 Juni 2012. hal.3
121
ESAI PEMENANG KATEGORI UMUM
122
ANNIZA CAHYA KUSUMA
123
ESAI FINALIS KATEGORI MUDA
E S A I F I N A L I S
K A T E G O R I M U D A
124
DWI WULAN ISRO’TULLAILA
DWI WULAN ISRO’TULLAILA